Niat

Makna amal perbuatan bergantung kepada niatnya menunjukkan beberapa perkara:

1. Suatu amalan tidak diakui oleh syara’ sehingga ada hubungan dengan masalah dosa dan pahala, kecuali apabila disertai dengan niat.

2. Menentukan amalan yang diniati secara tepat dan menjelaskan perbedaannya dengan amalan-amalan lain, merupakan syarat dalam niat. Oleh sebab itu, tidaklah cukup niat melakukan shalat secara umum, melainkan harus ada penentuan shalat Zhuhur, Ashar atau Subuh misalnya. Ini adalah kesepakatan semua ulama.

3. Barangsiapa berniat melakukan amal saleh, kemudian ada sesuatu yang menghalanginya untuk merealisasikan niatnya itu seperti sakit atau mati, maka dia tetap mendapatkan pahala. Karena orang yang mempunyai kehendak untuk melakukan kebajikan kemudian dia tidak bisa melakukannya diberi pahala satu kebajikan. Dan barangsiapa berkehendak melakukan kejelekan namun dia tidak jadi melakukannya maka dosa tersebut tidak dicatat. Imam as-Suyuthi berkata, “Barangsiapa bertekad melakukan kemaksiatan, kemudian dia tidak melakukannya atau tidak mengucapkannya, maka dia tidak berdosa.” Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh imam hadits yang enam dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

Sesungguhnya Allah SWT mengampuni umatku dari apa saja yang terbetik dalam hatinya, selagi belum terucap atau belum terlaksana.

4. Keikhlasan dalam beribadah dan dalam melakukan amalan-amalan syara’ adalah asas bagi mendapatkan pahala di akhirat, kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia. Dalilnya adalah sebagaimana ditegaskan oleh Imam az-Zaila’i bahwa orang yang melakukan shalat membutuhkan niat yang ikhlas.

5. Semua amal yang bermanfaat atau pekerjaan yang mubah atau meninggalkan sesuatu yang dilarang apabila disertai dengan niat yang baik dan dimaksudkan untuk melaksanakan perintah Allah, dianggap ibadah dan akan mendapatkan pahala dari Allah.

6. Apabila tujuan ketika mengerjakan sesuatu adalah untuk disenangi orang, supaya terkenal atau untuk mendapatkan kemanfaatan duniawi, maka orang yang melakukannya tidak akan mendapat pahala di akhirat.

Sumber:
Buku “Fiqih Islam wa Adillatuhu” jilid 1 karya  Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili hal. 135, penerbit Gema Insani dan DarulFikir, 2010.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: