Archive for July, 2013

Pendeta dan Khalid bin Yazid

Ada seorang pendeta di Syam yang merupakan guru besar dimana dalam satu tahun, pendeta ini satu kali turun gunung. Lantas pendeta-pendeta lain berkumpul kepadanya. Ia pun mengajari mereka terkait kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi dalam ajaran agama. Maka Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah termasuk orang yang mendatanginya.

Pendeta itu bertanya kepadanya, “Apakah engkau termasuk ulama mereka (kaum muslimin)?”

Khalid menjawab, “Di antara mereka ada yang lebih alim dariku.”

Pendeta berkata, “Bukankah kalian mengatakan bahwa kalian nanti makan dan minum di surga, kemudian tidak ada kotoran yang keluar dari kalian?”

“Ya benar,” jawab Khalid

“Apakah untuk hal ini terdapat contohnya di dunia yang kalian ketahui?” tanya si Pendeta.

Kalid menjawab, “Ya, ada. Janin di perut ibunya makan dari makanan dan minuman ibunya, namun tidak ada kotoran yang keluar dari tubuhnya.”

Pendeta berkata, “Bukankah engkau mengatakan bahwa dirimu termasuk ulama mereka (kaum muslimin)?”

Khalid menjawab, “Di tengah-tengah mereka ada yang lebih alim dariku.”

Pendeta bertanya, “Bukankah kalian mengatakan bahwa di surga terdapat buah-buahan yang tidak sedikit pun pernah berkurang?”

“Ya benar” jawabnya.

“Apakah hal ini ada contohnya di dunia yang kalian ketahui?” tanya pendeta itu lagi.

Khalid menjawab, “Ya ada: Kitab (buku). Setiap orang menulis darinya, namun ternyata tidak sedikitpun isinya berkurang.”

Sumber:

Buku “Barometer Sunnah Bid’ah” karya Dr. M. Abdullah Darraz hal. 128-129, penerbit Wacana Ilmiah Press, 2011.

Advertisements

Leave a comment

Menimbang Perbuatan Nabi SAW

Terkait dengan perbuatan Nabi SAW, telah dinyatakan dalam ilmu Ushul Fiqh hal-hal itu terklasifikasi menjadi beberapa macam.

Pertama, perbuatan yang khusus disyari’atkan pada beliau, tidak untuk umat mukminin

Seperti memasuki kota Mekah tanpa ihram dan menikah dengan lebih dari 4 wanita dalam satu masa. Orang yang meninggalkan beliau seperti ini tidak dikatakan meninggalkan sunnah, sebaliknya ia menjalankan sunnah. Sebab, sudah menjadi ijma’ bahwa tidak seorang pun dari umat ini boleh menyertai Nabi SAW dalam hal-hal yang bersifat khusus bagi beliau, selagi dalil kekhususan tersebut telah terbukti shahih.

Kedua, perbuatan yang menjadi syari’at umum bagi beliau dan umat beliau, namun tidak dalam konteks perintah dan tuntutan, tapi berupa pilihan dan pembolehan.

Yang demikian itu bila ada dalil naql maupun ‘aql yang menyatakan bahwa perbuatan tersebut tidak dimaksudkan sisi pewajibannya saja, tapi lebih ditujukan memberi izin dan menghilangkan kesulitan dari sisi pewajiban dan larangan. Contohnya, Nabi SAW menikahi janda Zaid, anak angkat beliau, bukan agar kaum mukminin menikahi janda istri anak-anak angkatnya sebagai kewajiban atau sunnah. Namun tujuannya sebagaimana difirmankan Allah,”… supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka …” (Al-Ahzab [33]: 37). Termasuk jenis ini, semua perbuatan naluriah beliau. Yakni perbuatan yang muncul sebagai tuntutan tabiat manusiawi beliau sesuai kebutuhan-kebutuhan temporal beliau. Seperti berpindah di waktu ini ke tempat ini, makanan yang beliau makan dan lama waktu tidur beliau. Perbuatan-perbuatan semacam ini ¬†andai ada syari’at perintahnya , pasti dituntutkan pada para sahabat agar mereka bergerak seperti pergerakan Rasulullah diam dengan diamnya beliau. Dan pasti kita dituntut menetapi perbuatan seperti itu, di waktu dan tempat yang sama. Jelas ini nyata-nyata batil. Pensyari’atan dalam hal-hal seperti ini hanya merupakan izin dan pemberian kelonggaran dalam batas-batas yang dibolehkan. Sehingga orang yang tidak menjalankan sesuatu dari perbuatan-perbuatan ini juga tidak disebut meninggalkan sunnah, apabila sikapnya ini dilakukan berdasarkan kebolehan tidak didasarkan keyakinan keharusan meninggalkan. Bila tidak, berarti ia merubah ketetapan syari’at. Terkait orang seperti ini, disebutkan hadits: “Siapa membenci sunnahku maka ia bukan dari golonganku.”

Ketiga, Perbuatan yang menjadi syari’at umum bagi beliau dan bagi kita (kaum muslimin), sedangkan kita dituntut untuk mengikuti beliau dalam perbuatan ini sebagai kewajiban atau anjuran. Demikian apabila perbuatan ini diiringi perintah mengikutinya seperti sabda beliau, “Shalatlah seperti kalian melihatku shalat!” dan , “Ambillah manasik kalian dariku!”. Atau telah disebutkan perintah secara verbal yang belum dijelaskan teknisnya, kemudian muncul perbuatan disertai indikasi-indikasi bahwa perbuatan ini sebagai penjelasan perintah tersebut. Seperti pemotongan tangan pencuri sampai pergelangan tangan paska adanya perintah untuk memotong tangan pencuri tanpa batasan sampai pergelangan tangan , siku maupun lainnya. Berkenaan dengan jenis perbuatan Rasulullah SAW seperti ini, maka orang yang meninggalkannya secara pasti disebut meninggalkan sunnah. Sebab, perbuatan itu nyata-nyata dituntut untuk dilakukan, baik sebagai kewajiban atau anjuran sesuai jenis perintah. Pasalnya, penjelasan itu mengikuti hukum yang dijelaskan.

Ketiga macam perbuatan Rasulullah SAW ini tidak ada perbedaan pandangan di antara ulama. Mereka hanya berbeda pendapat tentang perbuatan-perbuatan Rasulullah SAW yang tidak ada dalil kekhususannya bagi beliau maupun bukti berlakunya pada umat beliau, pun tidak ditemukan dalil perintah atau pilihan. Ulama-ulama peneliti berpendapat bahwa segala hal yang tidak ada dalil kekhususan bagi Nabi SAW, maka hal itu juga berlaku bagi umat beliau. Sebab, tujuan dasar pengangkatan kenabian adalah untuk diteladani dan diikuti. Maka tidak boleh bergeser dari tujuan ini terkecuali karena dalil yang khusus.

Adapun tentang peneladanan ini apakah harus selalu melakukan perbuatan tersebut, atau lebih sering melakukannya, atau boleh memilih, maka menurut hasil penelitian, perlu melihat ujud perbuatan itu sendiri. Jika tampak bahwa beliau bermaksud mendekatkan diri kepada Allah (beribadah) dengan perbuatan itu berarti ia diperintahkan; dan bila tujuan ini tidak nampak, berarti perbuatan itu mubah. Siapa yang berkenan boleh mengikuti beliau secara pribadi untuk menyempurnakan peneladanannya pada sang kekasih, walaupun dalam kebiasaan-kebiasaan yang mubah. Dari melakukan hal ini, ia mendapat pahala seperti niatnya. Seperti inilah yang dulu dilakukan Abdullah bin Umar. Sampai-sampai di tengah perjalanannya menunaikan haji, ia turun di tempat Rasulullah SAW dulu turun dan membenarkan letak pelana kendaraannya di tempat beliau dahulu melakukannya. Sebaliknya, siapa saja juga boleh meninggalkannya sesuai konsekuensi hukum mubah. Bahkan bila ia seorang figur panutan, meninggalkan perbuatan itu lebih dianjurkan bagi dirinya manakala ia khawatir jika masyarakat tidak dapat memilah mana perkara adat yang dibolehkan dan mana perkara ibadah yang diperintahkan. Demikian inilah yang pernah dipraktekan Umar. Beliau melarang kaum muslimin untu turun di tempat-tempat singgah Rasulullah SAW dan beliau shalat di tempat itu, sementara turun di lokasi tersebut bukan termasuk syi’ar haji. Beliau berkata kepada kaum muslimin, “Siapa yang mendapati shalat di masjid-masjid ini, silahkan ia mengerjakannya, dan siapa yang tidak maka jangan menetapinya.”

Sedangkan apa yang ditinggalkan Rasulullah SAW juga terbagi beberapa macam.

Pertama, terkadang Rasulullah SAW meninggalkan sesuatu sebagai kekhususan beliau, seperti kengganan beliau menerima sedekah karena sedekah diharamkan bagi beliau dan keluarga beliau.

Kedua, terkadang beliau meninggalkan sesuatu yang dibolehkan hanya karena didorong perangai dan rasa jijik beliau. Sebagaimana beliau enggan makan daging biawak karena binatang ini tidak ada di wilayah kaum beliau.

Ketiga, adakalanya juga beliau meninggalkan hal-hal yang dituntutkan karena ada faktor penghalang. Contohnya beliau tidak mengembalikan Ka’bah ke pondasi-pondasi bangunan Ibrahim dikarenakan bangsa Arab masih belum lama meninggalkan kejahilian (kekafiran). Seperti pula keputusan beliau untuk tidak menunaikan shalat tarawih berjamaah di masjid secara terus menerus karena memang adakalnya beliau meninggalkan amal yang beliau senang melakukannya lantaran takut diwajibkan pada umat.

Keempat, adakalanya beliau meninggalkan sesuatu yang dituntut karena tidak adanya kosekuensi yang mendesak untuk melakukannya di zaman beliau. Seperti pembukuan mushaf yang tidak beliau lakukan, dan masalah-masalah serupa yang sebab-sebabnya baru muncul paska masa kenabian.

Dalam keempat jenis ini, meninggalkannya tidak menjadi sunnah yang diharuskan sehingga orang yang melakukan apa yang beliau tinggalkan, terhitung pembuat bid’ah. Hal ini berlaku pada perkara yang larangannya telah terbukti melalui sabda beliau atau perkara yang sebab-sebab pensyari’atannya sudah terpenuhi di masa Nabi SAW dan tidak ada faktor yang menghalangi beliau untuk melakukannya, kemudian beliau tidak mengerjakannya. Misalnya tidak disyari’atkannya adzan untuk shalat hari raya dan tidak ada isyarat dipensasi pernikahan muhallil, padahal mantan istri Rifa’ah membutuhkan pernikahan ini. Meninggalkan dalam dua kasus seperti ini merupakan pensyari’atan yang diwajibkan, sebagaimana perbuatan yang menuntut diikuti atau nampak tujuan ibadah padanya, juga merupakan pensyari’atan yang diwajibkan.

Sumber:

Buku “Barometer Sunnah Bid’ah” karya Dr. Muhammad Abdullah Darraz hal 73-75, penerbit Wacana Ilmiah Press, 2011

Leave a comment

Kritik Adz-Dzahabi terhadap Ibnu Taimiyah

Al-Hafizh adz-Dzahabi adalah murid Ibnu Taimiyah, dalam banyak masalah adz-Dzahabi mengikuti faham Ibnu Taimiyah, terutama dalam masalah akidah. Beliau menulis surat kepada Ibnu Taimiyah agar ia berhenti dari menyerukan faham-faham ekstremnya serta berhenti dari kebiasaan mencaci maki para ulama saleh terdahulu.

Berikut dinukilkan dua risalah adz-Dzahabi yang berjudul Bayan Zaghl al-‘Ilm wa al-Thalab dan al-Nashihah adz-Dzahabi li Ibn Taimiyyah:

Hindarkan olehmu rasa takabur dan sombong dengan ilmumu. Alangkah bahagianya dirimu jika engkau selamat dari ilmumu sendiri. Demi Allah, kedua mataku ini tidak pernah mendapati orang yang lebih luas ilmunya dan yang lebih kuat kecerdasannya dari seorang yang bernama Ibnu Taimiyyah. Keistimewaannya ini ditambah lagi dengan sikap zuhudnya dalam makanan, dalam pakaian dan terhadap perempuan. Kemudian ditambah lagi dengan konsistensinya dalam membela kebenaran dan berjihad sedapat mungkin walau dalam keadaan apapun.

Sungguh, aku telah lelah dalam menimbang dan mengamati sifat-sifat Ibnu Taimiyyah. Aku merasa bosan dalam waktu yang sangat panjang. Dan ternyata aku mendapatinya sebagai seorang yang dikucilkan oleh penduduk Mesir dan Syam. Mereka membencinya, menghinanya, mendustakannya dan bahkan mengafirkannya. Ini semua terjadi tidak lain karena dia adalah seorang yang takabur, sombong, rakus terhadap kehormatan dalam derajat keilmuan. Ini muncul karena sikap dengkinya terhadap para ulama terkemuka.

Alangkah beruntungnya seorang yang disibukkan dengan memperbaiki aibnya sendiri daripada ia mencari-cari aib orang lain. Dan alangkah celakanya seorang yang disibukkan dengan mencari-cari aib orang lain daripada ia memperbaiki aibnya sendiri.

Sampai kapan engkau wahai Ibnu Taimiyyah akan terus memerhatikan kotoran kecil di mata saudara-saudaramu. Sementara engkau melupakan cacat besar yang nyata-nyata berada di dalam matamu sendiri? Sampai kapan engkau akan selalu memuji dirimu sendiri, memuji pikiran-pikiranmu sendiri atau hanya memuji ungkapan-ungkapanmu sendiri?

Engkau selalu mencaci maki para ulama dan mencari aib orang lain. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sangat mengerti terhadap segala macam kebaikan. Sungguh, mereka itu adalah orang-orang yang tidak mengerjakan kebodohan-kebodohan (kesesatan-kesesatan).

Wahai Ibnu Taimiyyah, demi Allah, berhentilah, janganlah terus mencaci maki kami. Benar, engkau adalah seorang yang pandai memutar argumen. Lidahmu sedemikian tajam. Waspadalah engkau, jangan sampai engkau terjerumus ke dalam berbagai kesesatan dalam agama. Sungguh, Nabimu sangat membenci dan mencaci perkara-perkara (yang ekstrem).

Jika banyak bicara tanpa dalil dalam masalah hukum halal dan haram adalah perkara yang akan menjadikan hati itu sangat keras. Terlebih lagi jika banyak bicara dengan nada menvonis, mengafirkan kelompok lain. Demi Allah, kita ini telah menjadi bahan tertawaan di hadapan banyak makhluk Allah. Maka sampai kapan engkau akan mengafirkan kelompok lain?

Oh … alangkah rindunya kepada majelis yang didalamnya disebutkan tentang orang-orang saleh, karena sesungguhnya ketika orang-orang saleh tersebut disebut-sebut namanya, akan turun rahmat Allah, bukan sebaliknya, jika orang-orang saleh itu dihinakan, dilecehkan dan dilaknat. Aku rindu kepada majelis yang didalamnya diisi dengan tilawah dan taddabur.

(Engkau berkata): “Bahwa apa yang kita bicarakan adalah murni sebagai bagian dari sunnah dan merupakan dasar tauhid. Barang siapa tidak mengetahuinya maka dia orang yang kafir atau seperti keledai. Dan siapa yang tidak mengafirkan orang semacam itu maka ia juga telah kafir, bahkan kekufurannya lebih buruk dari kekufuran Fir’aun.”

(Engkau berkata): “Bahwa orang-orang Nasrani sama seperti kita.” Demi Allah (ajaran engkau ini) telah menjadi banyak hati dalam keraguan. Seandainya engkau menyelamatkan imanmu dengan dua kalimat syahadat maka engkau adalah orang yang akan mendapat kebahagian di akhirat.

Oh … alangkah sialnya orang yang menjadi pengikutmu, karena ia telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk masuk dalam kesesatan (al-Zandaqah) dan kekufuran. Terlebih lagi jika yang menjadi pengikutmu tersebut adalah orang yang lemah dalam ilmu dan agamanya, pemalas dan bersyahwat besar, namun ia membelamu mati-matian dengan tangan dan lidahnya. Padahal hakikatnya orang semacam ini, dengan segala apa yang ia perbuat dan apa yang ada di hatinya, adalah musuhmu sendiri. Dan tahukah engkau (wahai Ibnu Taimiyyah) bahwa mayoritas pengikutmu tidak lain kecuali orang-orang yang ‘terikat’ dan lemah akal! Atau kalau tidak demikian, dia adalah orang pendusta yang berakal tolol! Atau kalau tidak demikian, dia adalah aneh yang serampangan dan tukang membuat makar! Atau kalau tidak demikian dia seorang yang terlihat ahli ibadah dan saleh namun dia sebenarnya tidak paham apapun! Kalau engkau tidak percaya kepadaku, periksalah orang-orang yang menjadi pengikutmu tersebut, timbanglah mereka dengan adil…!

Wahai Ibnu Taimiyyah, berapa banyak lagi orang-orang saleh yang akan engkau musuhi, berapa banyak lagi orang-orang baik yang akan engkau lecehkan, berapa banyak lagi orang-orang yang akan engkau kecilkan (hinakan), berapa banyak lagi orang-orang zuhud yang akan engkau perangi? Sampai kapan engkau akan tetap hanya membenarkan sifatmu itu dan akan terus bersahabat dengan sifatmu itu? Demi Allah, engkau sendiri tidak pernah memuji hadis-hadis dalam dua kitab sahih (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dengan caramu tersebut.

Mungkin engkau tidak akan menerima ucapanku dan mendengarkan nasihatku ini. Sebaliknya engkau akan membantah lembaran ini dengan tulisan berjilid-jilid dan engkau akan memerinci bagiku berbagai perincian bahasan. Engkau akan tetap selalu membela diri dan merasa menang. Ungkapanku ini adalah karena aku sangat menyayangi dan mencintaimu. Para musuhmu itu, demi Allah, mereka adalah orang-orang yang saleh, orang-orang cerdas, orang-orang terkemuka. Sementara para pembelamu adalah orang-orang fasik, para pendusta, orang-orang tolol dan para pengangguran yang tidak berilmu.

Aku sangat ridha (rela) jika engkau mencaci-maki diriku dengan terang-terangan, namun diam-diam engkau mengambil manfaat dari nasihatku ini. Memang aku adalah manusia banyak dosa. Alangkah celakanya aku, jika tidak bertobat. Alangkah celaka aku, jika aib-aibku dibukakan oleh Allah Yang Maha Mengetahui segala hal yang ghaib. Obatnya bagiku tiada lain, kecuali ampunan dari Allah, taufik-Nya dan hidayah-Nya. Segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah atas tuan kita Muhammad, penutup para nabi, atas keluarganya dan para sahabatnya sekalian.

Sumber:
Buku “Membongkar Kejumudan” karya A. Shihabuddin hal. 46-49, penerbit Noura Books, 2013.

Leave a comment