Kritik Adz-Dzahabi terhadap Ibnu Taimiyah

Al-Hafizh adz-Dzahabi adalah murid Ibnu Taimiyah, dalam banyak masalah adz-Dzahabi mengikuti faham Ibnu Taimiyah, terutama dalam masalah akidah. Beliau menulis surat kepada Ibnu Taimiyah agar ia berhenti dari menyerukan faham-faham ekstremnya serta berhenti dari kebiasaan mencaci maki para ulama saleh terdahulu.

Berikut dinukilkan dua risalah adz-Dzahabi yang berjudul Bayan Zaghl al-‘Ilm wa al-Thalab dan al-Nashihah adz-Dzahabi li Ibn Taimiyyah:

Hindarkan olehmu rasa takabur dan sombong dengan ilmumu. Alangkah bahagianya dirimu jika engkau selamat dari ilmumu sendiri. Demi Allah, kedua mataku ini tidak pernah mendapati orang yang lebih luas ilmunya dan yang lebih kuat kecerdasannya dari seorang yang bernama Ibnu Taimiyyah. Keistimewaannya ini ditambah lagi dengan sikap zuhudnya dalam makanan, dalam pakaian dan terhadap perempuan. Kemudian ditambah lagi dengan konsistensinya dalam membela kebenaran dan berjihad sedapat mungkin walau dalam keadaan apapun.

Sungguh, aku telah lelah dalam menimbang dan mengamati sifat-sifat Ibnu Taimiyyah. Aku merasa bosan dalam waktu yang sangat panjang. Dan ternyata aku mendapatinya sebagai seorang yang dikucilkan oleh penduduk Mesir dan Syam. Mereka membencinya, menghinanya, mendustakannya dan bahkan mengafirkannya. Ini semua terjadi tidak lain karena dia adalah seorang yang takabur, sombong, rakus terhadap kehormatan dalam derajat keilmuan. Ini muncul karena sikap dengkinya terhadap para ulama terkemuka.

Alangkah beruntungnya seorang yang disibukkan dengan memperbaiki aibnya sendiri daripada ia mencari-cari aib orang lain. Dan alangkah celakanya seorang yang disibukkan dengan mencari-cari aib orang lain daripada ia memperbaiki aibnya sendiri.

Sampai kapan engkau wahai Ibnu Taimiyyah akan terus memerhatikan kotoran kecil di mata saudara-saudaramu. Sementara engkau melupakan cacat besar yang nyata-nyata berada di dalam matamu sendiri? Sampai kapan engkau akan selalu memuji dirimu sendiri, memuji pikiran-pikiranmu sendiri atau hanya memuji ungkapan-ungkapanmu sendiri?

Engkau selalu mencaci maki para ulama dan mencari aib orang lain. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sangat mengerti terhadap segala macam kebaikan. Sungguh, mereka itu adalah orang-orang yang tidak mengerjakan kebodohan-kebodohan (kesesatan-kesesatan).

Wahai Ibnu Taimiyyah, demi Allah, berhentilah, janganlah terus mencaci maki kami. Benar, engkau adalah seorang yang pandai memutar argumen. Lidahmu sedemikian tajam. Waspadalah engkau, jangan sampai engkau terjerumus ke dalam berbagai kesesatan dalam agama. Sungguh, Nabimu sangat membenci dan mencaci perkara-perkara (yang ekstrem).

Jika banyak bicara tanpa dalil dalam masalah hukum halal dan haram adalah perkara yang akan menjadikan hati itu sangat keras. Terlebih lagi jika banyak bicara dengan nada menvonis, mengafirkan kelompok lain. Demi Allah, kita ini telah menjadi bahan tertawaan di hadapan banyak makhluk Allah. Maka sampai kapan engkau akan mengafirkan kelompok lain?

Oh … alangkah rindunya kepada majelis yang didalamnya disebutkan tentang orang-orang saleh, karena sesungguhnya ketika orang-orang saleh tersebut disebut-sebut namanya, akan turun rahmat Allah, bukan sebaliknya, jika orang-orang saleh itu dihinakan, dilecehkan dan dilaknat. Aku rindu kepada majelis yang didalamnya diisi dengan tilawah dan taddabur.

(Engkau berkata): “Bahwa apa yang kita bicarakan adalah murni sebagai bagian dari sunnah dan merupakan dasar tauhid. Barang siapa tidak mengetahuinya maka dia orang yang kafir atau seperti keledai. Dan siapa yang tidak mengafirkan orang semacam itu maka ia juga telah kafir, bahkan kekufurannya lebih buruk dari kekufuran Fir’aun.”

(Engkau berkata): “Bahwa orang-orang Nasrani sama seperti kita.” Demi Allah (ajaran engkau ini) telah menjadi banyak hati dalam keraguan. Seandainya engkau menyelamatkan imanmu dengan dua kalimat syahadat maka engkau adalah orang yang akan mendapat kebahagian di akhirat.

Oh … alangkah sialnya orang yang menjadi pengikutmu, karena ia telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk masuk dalam kesesatan (al-Zandaqah) dan kekufuran. Terlebih lagi jika yang menjadi pengikutmu tersebut adalah orang yang lemah dalam ilmu dan agamanya, pemalas dan bersyahwat besar, namun ia membelamu mati-matian dengan tangan dan lidahnya. Padahal hakikatnya orang semacam ini, dengan segala apa yang ia perbuat dan apa yang ada di hatinya, adalah musuhmu sendiri. Dan tahukah engkau (wahai Ibnu Taimiyyah) bahwa mayoritas pengikutmu tidak lain kecuali orang-orang yang ‘terikat’ dan lemah akal! Atau kalau tidak demikian, dia adalah orang pendusta yang berakal tolol! Atau kalau tidak demikian, dia adalah aneh yang serampangan dan tukang membuat makar! Atau kalau tidak demikian dia seorang yang terlihat ahli ibadah dan saleh namun dia sebenarnya tidak paham apapun! Kalau engkau tidak percaya kepadaku, periksalah orang-orang yang menjadi pengikutmu tersebut, timbanglah mereka dengan adil…!

Wahai Ibnu Taimiyyah, berapa banyak lagi orang-orang saleh yang akan engkau musuhi, berapa banyak lagi orang-orang baik yang akan engkau lecehkan, berapa banyak lagi orang-orang yang akan engkau kecilkan (hinakan), berapa banyak lagi orang-orang zuhud yang akan engkau perangi? Sampai kapan engkau akan tetap hanya membenarkan sifatmu itu dan akan terus bersahabat dengan sifatmu itu? Demi Allah, engkau sendiri tidak pernah memuji hadis-hadis dalam dua kitab sahih (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dengan caramu tersebut.

Mungkin engkau tidak akan menerima ucapanku dan mendengarkan nasihatku ini. Sebaliknya engkau akan membantah lembaran ini dengan tulisan berjilid-jilid dan engkau akan memerinci bagiku berbagai perincian bahasan. Engkau akan tetap selalu membela diri dan merasa menang. Ungkapanku ini adalah karena aku sangat menyayangi dan mencintaimu. Para musuhmu itu, demi Allah, mereka adalah orang-orang yang saleh, orang-orang cerdas, orang-orang terkemuka. Sementara para pembelamu adalah orang-orang fasik, para pendusta, orang-orang tolol dan para pengangguran yang tidak berilmu.

Aku sangat ridha (rela) jika engkau mencaci-maki diriku dengan terang-terangan, namun diam-diam engkau mengambil manfaat dari nasihatku ini. Memang aku adalah manusia banyak dosa. Alangkah celakanya aku, jika tidak bertobat. Alangkah celaka aku, jika aib-aibku dibukakan oleh Allah Yang Maha Mengetahui segala hal yang ghaib. Obatnya bagiku tiada lain, kecuali ampunan dari Allah, taufik-Nya dan hidayah-Nya. Segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah atas tuan kita Muhammad, penutup para nabi, atas keluarganya dan para sahabatnya sekalian.

Sumber:
Buku “Membongkar Kejumudan” karya A. Shihabuddin hal. 46-49, penerbit Noura Books, 2013.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: