Menimbang Perbuatan Nabi SAW

Terkait dengan perbuatan Nabi SAW, telah dinyatakan dalam ilmu Ushul Fiqh hal-hal itu terklasifikasi menjadi beberapa macam.

Pertama, perbuatan yang khusus disyari’atkan pada beliau, tidak untuk umat mukminin

Seperti memasuki kota Mekah tanpa ihram dan menikah dengan lebih dari 4 wanita dalam satu masa. Orang yang meninggalkan beliau seperti ini tidak dikatakan meninggalkan sunnah, sebaliknya ia menjalankan sunnah. Sebab, sudah menjadi ijma’ bahwa tidak seorang pun dari umat ini boleh menyertai Nabi SAW dalam hal-hal yang bersifat khusus bagi beliau, selagi dalil kekhususan tersebut telah terbukti shahih.

Kedua, perbuatan yang menjadi syari’at umum bagi beliau dan umat beliau, namun tidak dalam konteks perintah dan tuntutan, tapi berupa pilihan dan pembolehan.

Yang demikian itu bila ada dalil naql maupun ‘aql yang menyatakan bahwa perbuatan tersebut tidak dimaksudkan sisi pewajibannya saja, tapi lebih ditujukan memberi izin dan menghilangkan kesulitan dari sisi pewajiban dan larangan. Contohnya, Nabi SAW menikahi janda Zaid, anak angkat beliau, bukan agar kaum mukminin menikahi janda istri anak-anak angkatnya sebagai kewajiban atau sunnah. Namun tujuannya sebagaimana difirmankan Allah,”… supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka …” (Al-Ahzab [33]: 37). Termasuk jenis ini, semua perbuatan naluriah beliau. Yakni perbuatan yang muncul sebagai tuntutan tabiat manusiawi beliau sesuai kebutuhan-kebutuhan temporal beliau. Seperti berpindah di waktu ini ke tempat ini, makanan yang beliau makan dan lama waktu tidur beliau. Perbuatan-perbuatan semacam ini  andai ada syari’at perintahnya , pasti dituntutkan pada para sahabat agar mereka bergerak seperti pergerakan Rasulullah diam dengan diamnya beliau. Dan pasti kita dituntut menetapi perbuatan seperti itu, di waktu dan tempat yang sama. Jelas ini nyata-nyata batil. Pensyari’atan dalam hal-hal seperti ini hanya merupakan izin dan pemberian kelonggaran dalam batas-batas yang dibolehkan. Sehingga orang yang tidak menjalankan sesuatu dari perbuatan-perbuatan ini juga tidak disebut meninggalkan sunnah, apabila sikapnya ini dilakukan berdasarkan kebolehan tidak didasarkan keyakinan keharusan meninggalkan. Bila tidak, berarti ia merubah ketetapan syari’at. Terkait orang seperti ini, disebutkan hadits: “Siapa membenci sunnahku maka ia bukan dari golonganku.”

Ketiga, Perbuatan yang menjadi syari’at umum bagi beliau dan bagi kita (kaum muslimin), sedangkan kita dituntut untuk mengikuti beliau dalam perbuatan ini sebagai kewajiban atau anjuran. Demikian apabila perbuatan ini diiringi perintah mengikutinya seperti sabda beliau, “Shalatlah seperti kalian melihatku shalat!” dan , “Ambillah manasik kalian dariku!”. Atau telah disebutkan perintah secara verbal yang belum dijelaskan teknisnya, kemudian muncul perbuatan disertai indikasi-indikasi bahwa perbuatan ini sebagai penjelasan perintah tersebut. Seperti pemotongan tangan pencuri sampai pergelangan tangan paska adanya perintah untuk memotong tangan pencuri tanpa batasan sampai pergelangan tangan , siku maupun lainnya. Berkenaan dengan jenis perbuatan Rasulullah SAW seperti ini, maka orang yang meninggalkannya secara pasti disebut meninggalkan sunnah. Sebab, perbuatan itu nyata-nyata dituntut untuk dilakukan, baik sebagai kewajiban atau anjuran sesuai jenis perintah. Pasalnya, penjelasan itu mengikuti hukum yang dijelaskan.

Ketiga macam perbuatan Rasulullah SAW ini tidak ada perbedaan pandangan di antara ulama. Mereka hanya berbeda pendapat tentang perbuatan-perbuatan Rasulullah SAW yang tidak ada dalil kekhususannya bagi beliau maupun bukti berlakunya pada umat beliau, pun tidak ditemukan dalil perintah atau pilihan. Ulama-ulama peneliti berpendapat bahwa segala hal yang tidak ada dalil kekhususan bagi Nabi SAW, maka hal itu juga berlaku bagi umat beliau. Sebab, tujuan dasar pengangkatan kenabian adalah untuk diteladani dan diikuti. Maka tidak boleh bergeser dari tujuan ini terkecuali karena dalil yang khusus.

Adapun tentang peneladanan ini apakah harus selalu melakukan perbuatan tersebut, atau lebih sering melakukannya, atau boleh memilih, maka menurut hasil penelitian, perlu melihat ujud perbuatan itu sendiri. Jika tampak bahwa beliau bermaksud mendekatkan diri kepada Allah (beribadah) dengan perbuatan itu berarti ia diperintahkan; dan bila tujuan ini tidak nampak, berarti perbuatan itu mubah. Siapa yang berkenan boleh mengikuti beliau secara pribadi untuk menyempurnakan peneladanannya pada sang kekasih, walaupun dalam kebiasaan-kebiasaan yang mubah. Dari melakukan hal ini, ia mendapat pahala seperti niatnya. Seperti inilah yang dulu dilakukan Abdullah bin Umar. Sampai-sampai di tengah perjalanannya menunaikan haji, ia turun di tempat Rasulullah SAW dulu turun dan membenarkan letak pelana kendaraannya di tempat beliau dahulu melakukannya. Sebaliknya, siapa saja juga boleh meninggalkannya sesuai konsekuensi hukum mubah. Bahkan bila ia seorang figur panutan, meninggalkan perbuatan itu lebih dianjurkan bagi dirinya manakala ia khawatir jika masyarakat tidak dapat memilah mana perkara adat yang dibolehkan dan mana perkara ibadah yang diperintahkan. Demikian inilah yang pernah dipraktekan Umar. Beliau melarang kaum muslimin untu turun di tempat-tempat singgah Rasulullah SAW dan beliau shalat di tempat itu, sementara turun di lokasi tersebut bukan termasuk syi’ar haji. Beliau berkata kepada kaum muslimin, “Siapa yang mendapati shalat di masjid-masjid ini, silahkan ia mengerjakannya, dan siapa yang tidak maka jangan menetapinya.”

Sedangkan apa yang ditinggalkan Rasulullah SAW juga terbagi beberapa macam.

Pertama, terkadang Rasulullah SAW meninggalkan sesuatu sebagai kekhususan beliau, seperti kengganan beliau menerima sedekah karena sedekah diharamkan bagi beliau dan keluarga beliau.

Kedua, terkadang beliau meninggalkan sesuatu yang dibolehkan hanya karena didorong perangai dan rasa jijik beliau. Sebagaimana beliau enggan makan daging biawak karena binatang ini tidak ada di wilayah kaum beliau.

Ketiga, adakalanya juga beliau meninggalkan hal-hal yang dituntutkan karena ada faktor penghalang. Contohnya beliau tidak mengembalikan Ka’bah ke pondasi-pondasi bangunan Ibrahim dikarenakan bangsa Arab masih belum lama meninggalkan kejahilian (kekafiran). Seperti pula keputusan beliau untuk tidak menunaikan shalat tarawih berjamaah di masjid secara terus menerus karena memang adakalnya beliau meninggalkan amal yang beliau senang melakukannya lantaran takut diwajibkan pada umat.

Keempat, adakalanya beliau meninggalkan sesuatu yang dituntut karena tidak adanya kosekuensi yang mendesak untuk melakukannya di zaman beliau. Seperti pembukuan mushaf yang tidak beliau lakukan, dan masalah-masalah serupa yang sebab-sebabnya baru muncul paska masa kenabian.

Dalam keempat jenis ini, meninggalkannya tidak menjadi sunnah yang diharuskan sehingga orang yang melakukan apa yang beliau tinggalkan, terhitung pembuat bid’ah. Hal ini berlaku pada perkara yang larangannya telah terbukti melalui sabda beliau atau perkara yang sebab-sebab pensyari’atannya sudah terpenuhi di masa Nabi SAW dan tidak ada faktor yang menghalangi beliau untuk melakukannya, kemudian beliau tidak mengerjakannya. Misalnya tidak disyari’atkannya adzan untuk shalat hari raya dan tidak ada isyarat dipensasi pernikahan muhallil, padahal mantan istri Rifa’ah membutuhkan pernikahan ini. Meninggalkan dalam dua kasus seperti ini merupakan pensyari’atan yang diwajibkan, sebagaimana perbuatan yang menuntut diikuti atau nampak tujuan ibadah padanya, juga merupakan pensyari’atan yang diwajibkan.

Sumber:

Buku “Barometer Sunnah Bid’ah” karya Dr. Muhammad Abdullah Darraz hal 73-75, penerbit Wacana Ilmiah Press, 2011

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: