Archive for February, 2014

Penghuni Surga

Suatu ketika Nabi Muhammad saw. duduk di masjid dan berbincang-bincang dengan sahabatnya. Tiba-tiba beliau bersabda: “Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk kemari.” Semua mata pun tertuju ke pintu masjid dan pikiran para hadirin membayangkan seorang yang luar biasa. “Penghuni surga, penghuni surga,” demikian gumam mereka.

Beberapa saat kemudian masuklah seorang dengan air wudhu yang masih membasahi wajahnya dan dengan tangan menjinjing sepasang alas kaki. Apa gerangan keistimewaan orang itu sehingga mendapat jaminan surga? Tidak seorang pun yang berani bertanya walau seluruh hadirin merindukan jawabannya.

Keesokan harinya peristiwa di atas terulang kembali. Ucapan Nabi dan “si penghuni” surga dengan keadaan yang sama semuanya terulang, bahkan pada hari ketiga pun terjadi hal yang demikian.

Abdullah Ibnu ‘Amr tidak tahan lagi, meskipun ia tidak berani bertanya dan khawatir jangan sampai ia mendapat jawaban yang tidak memuaskannya. Maka timbullah sesuatu dalam benaknya. Dia mendatangi si penghuni surga sambil berkata: “Saudara, telah terjadi kesalahpahaman antara aku
dan orangtuaku, dapatkah aku menumpang di rumah Anda selama tiga hari?”

“Tentu, tentu …,” jawab si penghuni surga.

Rupanya, Abdullah bermaksud melihat secara langsung “amalan” si penghuni surga.

Tiga hari tiga malam ia memerhatikan, mengamati bahkan mengintip si penghuni surga, tetapi tidak ada sesuatu pun yang istimewa. Tidak ada ibadah khusus yang dilakukan si penghuni surga. Tidak ada shalat malam, tidak pula puasa sunnah. Ia bahkan tidur dengan nyenyaknya hingga beberapa saat sebelum fajar. Memang sesekali ia terbangun dan ketika itu terdengar ia menyebut nama Allah di pembaringannya, tetapi sejenak saja dan tidurnya pun berlanjut.

Pada siang hari si penghuni surga bekerja dengan tekun. Ia ke pasar, sebagaimana halnya semua orang yang ke pasar. “Pasti ada sesuatu yang disembunyikan atau yang tak kulihat. Aku harus berterus terang kepadanya,” demikian pikir Abdullah.

“Apakah yang Anda perbuat sehingga Anda mendapat jaminan surga?” tanya Abdullah.

“Apa yang Anda lihat itulah!” jawab si penghuni surga.

Dengan kecewa Abdullah bermaksud kembali saja ke rumah, tetapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh si penghuni surga seraya berkata: “Apa yang Anda lihat itulah yang saya lakukan, ditambah sedikit lagi, yaitu saya tidak pemah merasa iri hati terhadap seseorang yang dianugerahi nikmat oleh Tuhan. Tidak pernah pula saya melakukan penipuan dalam segala aktivitas saya.”

Dengan menundukkan kepala, Abdullah meninggalkan si penghuni surga sambil berkata: “Rupanya, yang demikian itulah yang menjadikan Anda mendapat jaminan surga.”

Kisah di atas disadur dari buku Faidh Al-Nubuwah petunjuknya demikian jelas, sehingga tidak perlu rasanya diberi komentar guna menjadi pelita hati. Saya hanya berkata: “Astaghfirullah, mampukah kita mengikuti jejaknya? Wallahu A’lam.

Sumber:
Buku “Lentera Al-Quran” Kisah dan Hikmah Kehidupan” karya M. Quraish Shihab hal. 55-56.

Advertisements

Leave a comment

Panglima Byzantium Masuk Islam

Saat perang berkecamuk, salah seorang panglima Byzantium bernama Jarjah keluar dari barisan pasukannya. Jarjah memanggil nama Khalid. Khalid keluar mendatanginya hingga leher mereka bersentuhan. Jarjah berkata, “Hai Khalid! Bicaralah, tapi jangan bohong karena orang merdeka takkan berbohong, jangan pula menipuku karena orang mulia takkan menipu. Katakan kepadaku; apakah Tuhanmu menurunkan pedang dari langit kepada Nabimu, lalu Nabimu memberikannya kepadamu sehingga setiap kali engkau menghunusnya pada suatu kaum engkau pasti mengalahkan mereka?” “Tidak,” jawab Khalid singkat.
“Lalu, mengapa engkau disebut “Pedang Allah?” tanya Jarjah.
Khalid menjawab, “Allah mengutus Nabi kami, lalu Nabi menyeru kami, tapi kami semua lari dan menjauh darinya.
Sebagian dari kami membenarkannya dan sebagian lagi mendustakan dan memusuhinya. Dan, aku termasuk orang yang mendustakannya dan memusuhinya. Allah kemudian menerangi hati kami dan memberi kami petunjuk sehingga kami mengikutinya dan membaiatnya. Saat itulah beliau bersabda padaku, ‘Engkau salah satu pedang Allah yang dihunus untuk kaum musyrik dan munafik.’ Beliau lalu mendoakanku. Setelah itu, aku pun disebut dengan nama itu. Aku muslim yang paling keras memusuhi orang-orang musyrik.”

Jarjah bertanya lagi, “Lalu, engkau menyeru kami untuk apa?” Khalid menjawab, “Untuk bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya; kemudian membenarkan semua wahyu yang diturunkan-Nya.” Jarjah bertanya, “Bagaimana bila ada orang yang menolak seruanmu itu?”

Khalid menjawab, “Mereka harus membayar  jizyah. Jika itu dilakukan, mereka dalam perlindungan kami.” Jarjah bertanya lagi, “Bagaimana bila mereka tetap menolak jizyah?”
“Kami akan izinkan mereka berperang dan kami pasti akan menumpasnya,” jawab Khalid tegas.

“Bagaimana kedudukan orang yang hari ini menerima seruanmu dan memeluk agama Nabimu?” tanya Jariah lagi. Khalid menjawab, “Kami semua sama di hadapan apa yang sudah diwajibkan Allah kepada kami. Tak ada beda antara orang mulia dan orang hina, atau yang pertama dan terakhir. Semuanya sama di hadapan-Nya.”

Jarjah bertanya lagi, “Apakah orang yang masuk Islam hari ini akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mendahuluinya masuk Islam?” “Ya, bahkan pahalanya lebih besar,” jawab Khalid. Jarjah mencoba membantah, “Bagaimana mungkin pahala mereka sama dengan pahala kalian, sedangkan kalian lebih dahulu masuk Islam daripada mereka?”

Khalid menjawab, “Kami memeluk Islam dan membaiat Nabi ketika beliau masih hidup di tengah-tengah kami. Wahyu dari langit juga masih turun, dan beliau mengajarkan kami Al-Quran dan menunjukkan tanda-tanda kenabiannya. Jadi, sangat pantas bila orang yang melihat dan mendengar apa yang pernah kami lihat dan dengar itu memeluk Islam dan berbaiat. Tapi, kalian tidak melihat apa yang pernah kami lihat atau mendengar apa yang pernah kami dengar perihal bukti-bukti dan mukjizat-mukjizat kenabiannya. Jadi, siapa pun dari kalian yang memeluk Islam dengan niat tulus dan sungguh-sungguh maka ia tentu lebih utama daripada kami.”

Jarjah berkata, “Demi Allah, apakah engkau berkata jujur dan tidak menipuku?” Khalid menjawab, “Demi Allah, aku telah mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Allah menjadi saksi atas semua pertanyaanmu.”

Jarjah membalikkan sisi perisainya dan menghampiri Khalid seraya berkata, “Ajarkan aku Islam.” Khalid segera membawanya ke tenda, lalu menyiramnya dengan air se-qirbah (kantong air) dan mengajaknya shalat dua rakaat. Pasukan Byzantium mengira Jarjah sedang memperdayai Khalid. Saat melihat kedekatan keduanya, mereka kian bersemangat karena menyangka tipu daya Jarjah berhasil. Mereka langsung menyerbu barisan pasukan muslim hingga membuat pasukan muslim kehilangan posisinya. Tetapi, tiba-tiba terlihat Khalid dan Jarjah keluar dari tenda. Keduanya sama-sama berperang di barisan pasukan muslim. Ini tentu menyuntikkan semangat pasukan muslim. Mereka terus menggempur hingga pasukan Byzantium kalah dan mundur dari medan pertempuran. Khalid dan Jarjah berjuang di barisan pasukan muslim. Jarjah akhirnya mati syahid dalam peperangan ini dan dirinya tidak pernah shalat kecuali hanya dua rakaat tadi! Perang Yarmuk berakhir dengan kemenangan umat Islam. Perang ini menelan korban sebanyak 3.000 orang di pihak muslim dan 12.000 orang di pihak musuh.

Sumber:
Buku “Buku Pintar Sejarah Islam” karya Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh hal. 134 sd 136.

Leave a comment

Pahala Bersabar

SABAR dan puasa itu dahsyat. Pahala keduanya membentang tanpa batas. Sabar dan puasa membina tekad kuat, merupakan pembuktian akan kesahihan iman dan ketulusan berpasrah kepada Allah Azza wa Jalla sesuai ketetapan dan kehendak-Nya. Tentang pahala puasa, Nabi Saw. bersabda — sebagaimana diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Abu Al-Syaikh, dan Ibnu Hibban dari Salman: “(Ramadhan) adalah bulan sabar, dan pahala sabar adalah surga.”

Bukhari dan Muslim meriwayatkan (sebuah hadis qudsi) dari Abu Hurairah r.a.,”Semua amal anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku-lah yang membalasnya langsung. Puasa adalah perisai.” Yakni, menjaga dan membentengi diri dari jerumus maksiat.

Sebagaimana puasa, pahala sabar terbuka luas. Allah Azza wa Jalla berfirman, Kami benar-benar akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan gembirakanlah orang-orang yang bersabar (QS Al-Baqarah [2]: 155); Sesungguhnya pahala orang-orang yang bersabar dilimpah dengan tanpa hitungan (QS Al-Zumar [39]: 10 ); Siapa bersabar dan memaafkan, yang demikian benar-benar termasuk perbuatan mulia (QS Al-Syura [42]: 43); Wahai orang-orang beriman, mintalah pertolongan dengan bersabar dan bershalat. Sesungguhnya Allah bersama para penyabar (QS Al-Baqarah [2]: 153); dan Maka bersabarlah dengan kesabaran indah QS Al-Ma’arij [70]: 5),

Kesabaran indah, artinya tidak ada kegusaran, tidak ada kepanikan, tidak ada kemarahan; ridha dan menerima penuh segala kehendak Allah. Simpul sabar adalah ketika musibah terjadi, sebagaimana diriwayatkan Muslim dari Anas, “Sesungguhnya kesabaran (sejati) adalah pada saat kali pertama (musibah) menimpa.”

Di antara nilai istimewa sabar adalah kesabaran melepas orang-orang terkasih. Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “AIlah Swt. berfirman,
Tidaklah bagi hamba-Ku yang beriman ketika Ku-ambil kekasihnya di dunia, kemudian ia berharap pahala, melainkan adalah surga.‘” Dalam hadis lain dari Anas bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman, “Apabila Aku uji hamba-Ku dengan Ku-ambil penglihatan pada kedua matanya, lalu ia bersabar, Kugantikan untuknya surga.” (HR Bukhari).

Demikian pula kesabaran di kala sakit atau saat menghadapi kesulitan. Bukhari meriwayatkan dari  Aisyah r.a. bahwa ia bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang tha’un. Beliau menjelaskan bahwa tha’un adalah penyakit menular yang Allah Swt. kirim sebagai azab terhadap siapa pun yang Dia kehendaki. Lalu Allah Swt menjadikannya sebagai rahmat bagi kaum mukmin. Maka, tidaklah seorang hamba yang ditimpa tha’un, dan ia tinggal di tanah negerinya dengan bersabar dan penuh pengharapan; meyakini bahwa apa yang menimpa
dirinya tidak lain adalah ketetapan Allah untuknya maka pahala baginya setara pahala syahid.

Adalah karunia Allah Swt. bahwa bersabar terhadap berbagai kesulitan dunia bisa menjadi faktor penebus kesalahan dan dosa. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Tidaklah apa yang menimpa seorang Muslim berupa kepenatan, penyakit, kegalauan, kesedihan, ketersiksaan, dan penderitaan, hingga duri yang melukainya, melainkan Allah menjadikannya sebagai penebus dari kesalahan-kesalahannya.” Dalam riwayat Bukhari dari Abu Hurairah r.a. dinyatakan, “Siapa yang Allah kehendaki meraih kebaikan, Dia uji dengan suatu musibah.”

Apabila seseorang dihadapkan pada kesempitan dunia, dihadang bahaya atau musibah apa pun, pantang baginya berharap kematian. Ia mesti bersabar, karena inilah jalan keluar baginya di dunia, dan akan menambah pahala untuknya di akhirat. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas r. a. Ia menuturkan, “Rasulullah Saw. bersabda, ‘Jangan pernah seseorang di antara kalian berharap mati karena ditimpa suatu musibah. Jika hal itu terjadi, ucapkanlah doa:
Ya Allah, biarkanlah aku hidup selama kehidupan adalah yang terbaik bagiku, dan wafatkanlah aku jika itu yang terbaik bagiku.'”

Berdoa dan merendah kepada Allah Swt. demi lepasnya impitan disertai kesabaran tidak akan mengurangi pahala. Tirmidzi meriwayatkan dari Anas r.a.- dan ia menilai hadis ini hasan, Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap hamba-Nya, Dia segerakan hukuman untuknya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap hamba-Nya, Dia tahan dosanya sehingga dibalas di Hari Kiamat.” Dalam hadis lain, Nabi Saw. bersabda, “Besarnya balasan menyertai besarnya cobaan. Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia beri mereka cobaan. Siapa ridha (menerima cobaan itu) maka Allah meridhainya. Dan siapa marah (menerimanya) maka Allah murka padanya.”

Rumus sabar adalah menahan emosi dan tidak terbawa amarah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Orang kuat bukan dengan jago gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” Jago gulat (aI-shur’ah) dalam konteks Arab berarti menundukkan banyak orang.

Tirmidzi dan Abu Daud meriwayatkan dari Mu’adz ibn Anas r.a. — Tirmidzi menilai hadis ini hasan – bahwa Nabi Saw. bersabda, “Siapa menahan emosi, padahal ia mampu meluapkannya, Allah Swt. memanggilnya pada Hari Kiamat mendahului seluruh makhluk sehingga ia diberi kebebasan memilih bidadari sesuai kebendaknya.

Nas ayat-ayat Al-Quran serta Hadis Nabi tersebut menunjukkan betapa besarnya keutamaan dan pahala bagi kaum penyabar, laki-laki maupun perempuan; surga-surga abadi disediakan untuk mereka.

Sumber:
Buku “Ensiklopedia Akhlak Muslim: Berakhlak terhadap Sang Pencipta” karya Wahbah az-Zuhaili, hal. 22-24.

Leave a comment

Cobaan Imam Hanbali

Melalui riwayat Abdullah ibn Imam Ahmad, Imam Ahmad mengisahkan peristiwa inkuisisi yang pernah dia alami sendiri pada masa al-Mu’tashim. Berikut ini penuturannya:

Saat aku dikeluarkan dari penjara dan hendak dihadapkan ke al-Mu’tashim, rantai yang membelengguku ditambah. Aku sulit berjalan karena banyak dan beratnya rantai itu sehingga aku harus memegangnya dengan dua tangan. Seekor hewan tunggangan didatangkan dan aku dinaikkan ke atasnya. Aku hampir saja jatuh tersungkur karena beratnya rantai, selain tak ada seorang pun yang memegangiku. Berkat bantuan Allah, kami selamat sampai tujuan. Aku dimasukkan ke kamar sebuah rumah, lalu dikunci dari luar. Kamar itu sangat gelap, tidak ada lampu minyak di sana. Saat ingin berwudu, aku menjulurkan kedua tanganku secara acak. Tiba-tiba tanganku menyentuh sebuah wadah berisi air. Aku pun berwudu, lalu berdiri shalat, tanpa tahu arah kiblat. Keesokan harinya, aku mendapati diriku menghadap kiblat. Segala puji hanya milik Allah semata.

Aku dipanggil dan dihadapkan ke al-Mu’tashim yang tengah duduk bersama menterinya, Abu Du’ad. Saat melihatku, ia bertanya kepada Abu Du’ad, “Bukankah kamu pernah mengatakan jika ia masih muda, ternyata ia sudah tua?” Sesudah aku mengucap salam, ia berkata kepada Abu Du’ad, “Dekatkan dirinya kepadaku.” Setelah aku mendekat, ia berkata padaku, “Duduklah.” Aku pun duduk dengan menahan beratnya rantai besi yang membelengguku, lalu bertanya, “Amirul Mukminin, ada keperluan apa Tuan memanggilku?”

“Untuk bersaksi bawah tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah,” jawabnya. Aku menyahut, “Aku telah bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah.” Setelah membicarakan sesuatu dengan Abu Du’ad, al-Mu’tashim berkata lagi padaku, “Andai saja engkau menyetujui pendapat khalifah sebelumku, aku pasti tak akan bertanya lagi kepadamu.”

Al-Mu’tashim berkata kepada pejabatnya, “Wahai Abdurrahman, bukankah aku sudah memerintahkanmu supaya mengemukakan mihnah?” Aku langsung menyahut, “Allah Mahabesar. ltu sebuah kesedihan bagi umat lslam.” la berkata lagi, “Wahai Abdurrahman, ajaklah ia berdebat.”

Abdurrahman mulai bertanya, “Apa pendapatmu tentang Al-Quran?” Aku diam dan tidak menjawab, “Jawablah pertanyaannya!” kata al-Mu’tashim kepadaku. Aku malah bertanya, “Apa pendapatmu tentang llmu Allah?” la diam. Aku lalu berkata, “Al-Quran itu termasuk ilmu Allah. Barang siapa menganggap ilmu Allah itu makhluk berarti telah kafir.” Al-Mu’tashim diam. Setelah itu, semua yang bersamanya berkata, “Amirul Mukminin, ia telah mengkafirkan tuan dan kami.” Kata-kata mereka ini tidak mendapat tanggapan dari al-Mu’tashim. Abdurrahman berkata, “Allah itu bersifat azali, tapi Al-Quran tidak.” Aku pun menyahut, “Allah itu bersifat azali, tetapi ilmu-Nya tidak.”

Mereka berbicara ini dan itu hingga aku berkata, “Amirul Mukminin, suruhlah mereka menyebutkan satu ayat atau satu hadis yang membuatku bisa menyetujui pendapat Tuan (Al-Quran itu makhluk).” Ibnu Abi Du’ad menyahut,  “Apakah engkau takkan menyetujuinya tanpa dalil dari keduanya?” Aku pun berkata, “Apakah Islam tegak tanpa keduanya?” Terjadi debat panjang hingga lbnu Abi Du’ad berkata, “Demi Allah, Amirul Mukminin. Ahmad ini orang sesat menyesatkan, dan mengumbar bid’ah. Keputusan ada di tanganmu. Tanyailah para ulama dan fukaha.” Al-Mu’tashim bertanya kepada beberapa ulama yang hadir, “Bagaimana pendapat kalian mengenai dirinya (Ahmad ibn Hanbal)?” Mereka menjawab seperti perkataan lbnu Abi Du’ad tadi. Aku dihadirkan dan diajak berdebat lagi pada hari kedua dan ketiga. Tapi, aku dapat mengalahkan semua argumentasi mereka.

Jika mereka diam tidak bisa menjawab, lbnu Abi Du’ad pasti akan mencairkan suasana dan membuka pembicaraan. Dibandingkan dengan mereka semua, ia paling tidak mengerti perihal ilmu kalam. Perdebatan melebar ke berbagai persoalan. Sayangnya, pengetahuan mereka tentang dalil naqli sangat minim. Mereka mengingkari atsar dan menolak berhujjah dengannya. Aku juga mendapati mereka mengemukakan pernyataan-pemyataan yang tak pernah kusangka akan dikatakan seorang pun. lbnu Ghawts, lawan dialogku, berbicara panjang lebar soal jism dan sebagainya yang tak ada gunanya. Aku berkata, “Aku tidak mengerti apa yang engkau katakan. Setahuku, Allah itu Maha Esa, tak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” lbnu Ghawts diam.

Aku menyebutkan kepada mereka hadis ru’yah (melihat Allah dengan mata telanjang) di negeri akhirat. Mereka mencoba men-dha’if-kan sanad-sanad hadis tersebut dengan bersandar pada pernyataan sejumlah ahli hadis. Betapa jauhnya hujjah mereka. Di tengah-tengah dialog dan debat, Khalifah tiba-tiba berkata membujukku, “Hai Ahmad, dukunglah aku dalam masalah ini (kemakhlukan Al-Quran). Aku pasti akan menjadikanmu orang yang aku istimewakan dan aku hamparkan permadani buatmu.”

Aku berkata, “Amirul Mukminin, suruhlah mereka menyebutkan satu ayat atau satu hadis yang membuatku bisa menyetujui pendapat tuan (Al-Quran itu makhluk).” Ketika semua hujjah mereka dapat kupatahkan, Ishaq ibn Ibrahim, Gubernur Bagdad, tiba-tiba berkata, “Amirul Mukminin, bukan langkah kekhalifahan bila engkau sampai melepaskan dirinya dan ia dapat mengalahkan dua khalifah (al-Ma’mun dan al-Mu’tashim).” Wajah al-Mu’tashim seketika merah dan marah. Ia membentak ke arahku, “Allah melaknatmu! Aku sangat berharap engkau mau mendukungku, tapi engkau menolaknya!

“Tangkap ia! Telanjangi dan seret ia!” Aku dicokok, ditahan, dan pakaianku dilucuti, termasuk beberapa helai rambut Rasulullah yang aku selipkan di sela-sela pakaianku. Kini aku berdiri di hadapan tukang-tukang siksa. Aku berkata, “Amirul Mukminin, aku pasti akan mengingat bagaimana engkau berdiri di hadapan Allah kelak seperti aku berdiri di hadapanmu sekarang.”

Para hadirin terus berkata, “Amirul Mukminin, ia benar-benar sesat dan menyesatkan.” Aku disuruh berdiri di hadapan para tukang siksa dan tukang cambuk. Sebuah kursi diletakkan di depanku dan aku disuruh berdiri di atasnya. Beberapa dari mereka menyuruhku mengambil kayu sesukaku, tapi aku tidak mengerti maksud mereka. Kedua tanganku diborgol. Seorang tukang cambuk diperintahkan untuk memukulku. Tubuhku dipukul, “Lebih keras lagi! Atau Allah akan memotong kedua tanganmu,” bentak al-Mu’tashim kepada tukang cambuk tadi. Tukang cambuk yang lain datang, lalu mencambukku. Demikian seterusnya secara bergantian. Mereka mencambuk hingga membuatku jatuh pingsan berkali-kali. Bila cambukan dihentikan, kesadaranku kembali.

AI-Mu’tashim terus menyuruhku mendukung pendapatnya (kemakhlukan Al-Quran), tapi aku menolak. Mereka berkata:
“Celakalah engkau! Khalifah ada di depanmu!” Aku tetap tidak mau menghadapkan mukaku ke arah Khalifah. Al-Mu’tashim menyuruhku lagi, tapi aku tetap menolak. Tukang-tukang cambuk mencambukku lagi hingga sampai ke algojo ketiga. Waktu itu, aku sudah tidak sadarkan diri karena saking kerasnya cambukan. Mereka kembali mencambukku hingga aku pingsan lagi. Setelah itu, aku tidak bisa merasakan apa-apa, tidak bisa merasakan cambukan lagi. Ini membuat al-Mu’tashim khawatir atas keadaanku, khawatir aku mati. Aku pun dibebaskan, tapi aku tidak sadar. Seingatku, aku mendapati diriku sudah berada di kamar sebuah rumah dalam keadaan sudah tidak dirantai. Hari itu adalah 25 Ramadan 221 H. Khalifah memerintahkan supaya aku dibebaskan dan diantarkan ke keluargaku.

ltulah penuturan Imam Ahmad.
Jumlah cambukan yang diterima Imam Ahmad sekitar 30-an lebih. Ada pula yang mengatakan sampai 80 kali cambukan. Semuanya dilakukan dengan keras.

Ketika dibawa dari rumah Khalifah ke rumah Ishaq ibn Ibrahim, Imam Ahmad dalam keadaan puasa. Ia pernah diberi makanan suwayq untuk membatalkan puasanya, tapi ia menolak memakannya dan memilih menyempurnakan puasanya. Konon, ketika dipaksa berdiri untuk disiksa, ikatan sarung Imam Ahmad terlepas. Ia pun khawatir sarungnya melorot ke bawah sehingga auratnya terbuka. Ia langsung mengucap doa, “Ya Allah, Maha pemberi pertolongan kepada orang-orang yang meminta pertolongan. Ya Allah, Tuhan semesta alam. Jika Engkau tahu bahwa aku berdiri di sini demi membela kebenaran, janganlah Engkau merusak kehormatanku lewat auratku.” Ikatan sarungnya tiba-tiba menjadi kencang sendiri seperti sediakala.

Ketika sudah dipulangkan ke rumahnya, Ahmad ibn Hanbal didatangi tukang bedah yang langsung memotong daging matinya akibat siksaan, lalu mengobatinya sampai sembuh. Atas perintah aI-Mu”tashim, Ishaq ibn Ibrahim, terus memantau perkembangan kesehatan Imam Ahmad. Al-Mu’tashim sangat menyesali semua perbuatannya terhadap sang Imam. Saat sang imam sudah benar-benar sembuh dan sehat, al-Mu’tashim
merasa gembira, begitu pula semua umat Islam. la  memaafkan semua orang yang pernah menyiksanya kecuali pembuat bid’ah.

Imam Ahmad berkata, “Apa untungnya bagimu bila saudara muslimmu disiksa karena mencacimu?”

Khalifah al-Mu’tashim meninggal dunia pada 17 Rabiul Awal 227 H. la digantikan oleh anaknya.

Sumber:
Buku “Buku Pintar Sejarah Islam” karya Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh hal. 387-392.

Leave a comment

Menyimak al-Qur’an

MANUSIA merasa senang dan dapat menikmati sesuatu yang digemari sekaligus berguna  bagi dirinya, menyegarkan pikiran dan enak didengar. Semua kelebihan ini hanya terdapat pada Al-Quran. Al-Quran membuat jiwa senang ketika kita mendengarkan ayat-ayat Al-Quran tentang surga dibacakan, tentang apa yang Allah siapkan buat orang-orang beriman. Al-Quran juga bisa memancing rasa takut dan ngeri pembacanya manakala membaca ayat-ayat tentang neraka dan berbagai bentuk sanksi di Neraka Jahanam. Imajinasi pendengar Al-Quran juga dapat melayang begitu diberikan ayat tentang kisah-kisah. Pendengar juga akan bersiap mempraktekkan tuntutannya begitu, misalnya mendengar, perintah tentang kewarisan (faraidh) dan bersiap meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh ayat-ayatnya.

Keserasian ayat-ayat Al-Quran, emosi yang ditimbulkannya pengaruh dalam nurani yang digerakkannya, rasa takut dari azab Allah, dan sebagainya. Semua ini timbul karena Al-Quran adalah jamuan Tuhan. Isi jamuan itu semuanya baik, lezat, mendorong kepada kebaikan, melarang kejahatan.

Hadis Nabi Saw. mendukung ini semua. Syariat Islam sangat menganjurkan untuk memperbaiki suara pada waktu membaca Al-Quran. Hadis muttafaq’alaih dari Abu Hurairah r.a., ia menuturkan,”Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu seperti halnya menyimak kepada seorang nabi yang bagus suaranya. Ia mengeraskan bacaan Al-Quran.”

Allah menyimak dengan baik. Artinya, dikabulkan. Allah Swt. hanya menyimak nabi atau selain nabi yang bagus suaranya melantunkan ayat-ayat Al-Quran. Membaca Al-Quran dan melembutkan cara pembacanya. Dalam sebuah hadis lain diriwayatkan Hakim dari Al-Barra’ ibn ‘Azib r.a.: “Hiasilah AI- Quran dengan suara indahmu, karena suara bagus makin menambah keindahan Al-Quran.” Yakni membaca Al-Quran dengan memiliki prinsip-prinsip tajwid yang ada, tidak ditambah-tambah, tidak juga dilagu-lagukan sehingga mirip nyanyian, tidak juga dikurangi dari proporsi tajwidnya.

Abu Daud meriwayatkan — dengan sanad baik — dari Abu Lubabah Basyir ibn Abdul Mundzir r.a., Nabi Saw. bersabda, “Siapa tidak membaguskan suaranya saat membaca AI-Quran, ia bukan golongan kita.” Yakni, tidak termasuk dalam golongan yang sejalan dengan petunjuk kami, orang yang tidak mau melagukan Al-Quran, membaguskan suara dalam membaca Al-Quran, karena suara yang bagus terdengar dapat menambah daya pikat serta pesona Al-Quran. Sejumlah nabi pada masa lalu membaca ayat-ayat yang turun pada mereka dengan suara bagus.

Bukhari dan Muslim (muttafaq’aIaih) meriwayatkan dari Abu Musa .Al-Asy’ari r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Sungguh, engkau mendapat karunia (dari Allah) berupa suara merdu dari perbendaharaan suara-suara indah keluarga Daud.” Maksudnya, suara pembacaan ayat-ayat Al-Quran oleh Abu Musa r.a. amat indah dan enak sekali terdengar. Kata mizmar atau seruling dijadikan sebagai perumpamaan untuk bagusnya suara dan kemanisan iramanya. Jadi, diserupakan dengan suara seruling. Daud a.s. adalah seorang nabi yang dikenal sebagai tokoh puncak dari segi kebagusan suaranya di dalam membaca kitab. Disebutkan dalam hadis riwayat Muslim: “Betapa akan gembira hatimu kalau kamu melihat bahwa saya menyimak bacaanmu semalam.”

Nabi Saw. mengumpamakan indahnya suara Abu Musa dengan irama seruling. Adapun yang dimaksud keluarga Daud ialah Nabi Daud a.s. sendiri, sebab tidak diketahui ada yang bersuara luar biasa indahnya selain beliau.

Ini juga merupakan dalil tentang disunnahkannya menampilkan suara bagus dalam membaca Al-Quran dalam koridor kaidah tajwid, tanpa melanggar prinsip-prinsip tajwid dengan menambah-nambahi lagu yang berlebihan dan memakai irama berlebihan.

Selanjutnya, Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Al-Barra’ ibn ‘Azib r.a., ia menuturkan, “Aku mendengar Nabi Saw. membaca surah Al-Tin pada shalat isya’ dengan suara jahar. Aku tidak pernah mendengar seorang pun yang melebihi keindahan bacaan beliau. Suara Nabi Saw. sangat bagus dalam membaca Al-Quran.”

Nabi Saw. juga mendengar Al-Quran dibacakan oleh sahabatnya bernama Ibnu Mas’ud r.a. di samping Abu Musa r.a. Disebutkan dalam hadis riwayat Muslim bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Bacakanlah Al-Quran padaku. “lbnu Mas’ud berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku akan membaca Al-Quran untuk Anda, sedang Al-Quran itu turunnya kepada Anda?” Beliau bersabda, “Aku senang mendengar Al-Quran itu dari orang lain.” Kata Ibnu Mas’ud, “Aku lalu membacakan untuk beliau surah Al-Nisa’ sampai pada ayat: Bagaimanakah
kala Kami datangkan kepada setiap umat seorang saksi dan kamu Kami jadikan saksi atas umat ini (QS Al-Nisa'[4]: 42). Setelah itu, beliau bersabda, ‘Cukuplah sekian bacaanmu untuk saat ini.’ Aku lihat wajah beliau, dan dua matanya mengucurkan air.”

Hadis ini menunjukkan sunnah meminta orang lain buat membacakan ayat-ayat Al-Quran, yaitu dari orang yang bagus suaranya. Sunnah pula menikmati dalam menyimak pembacaan itu disertai usaha memahami dan merenungkan isi kandungannya. Hadis-hadis dan ayat di atas bermuara pada poin tentang pentingnya membaca serta merenungkan isi kandungan Al-Quran. Di antara faktor penting yang dapat membantu kegiatan tadabur
itu adalah tajwid yang pas, ditambah suara dan irama yang bagus. Allah Swt. berfirman, “Apa mereka tidak sebaiknya merenungkan Al-Quran atau hati (mereka) terkunci rapat? (QS Muhammad [47]: 24); Maka, tidakkah mereka menghayati firman (AIlah), atau adakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka terdahulu? (QS AI-Mu’minun [22]: 68); Sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, berkah, agar mereka merenung-renung ayat-ayatnya dan agar orang-orang berakal-bagus dapat menarik pelajaran (QS Shad [38]: 29).

Sumber:
Buku “Ensiklopedia Akhlak Muslim: Berakhlak terhadap Sang Pencipta” karya Wahbah Az-Zuhaili hal. 232-234.

Leave a comment

ABDUL QADIR AL-JAILANI

ABDUL QADIR AL-JAILANI

Jilan, 470 H/1077 M – Baghdad, 561 H/1166 M

Abdul Qadir al-Jailani adalah seorang teolog, ulama yang ahli di bidang usul dan fikih Mazhab Hanbali, sufi besar di zamannya, dan pendiri Tarekat Kadiriyah. Ia juga disebut Abdul Qadir al-Jili, dan di Baghdad dikenal dengan panggilan al-Ajami. Ia terkenal sangat saleh, dan menulis beberapa buku, khususnya tentang tasawuf.

Nama lengkapnya adalah Muhiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Salih Zangi Dost al-Jailani. Ada pula yang mengatakan bahwa nama lengkapnya adalah Muhiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Salih Zangi Dost Musa bin Abi Abdillah bin Yahya az-Zahid Muhammad bin Daud bin Musa bin Abdillah bin Musa al-Jun bin Abdul Muhsin bin Hasan al-Musanna bin Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA. Menurut garis keturunan ini, ia termasuk cucu Nabi Muhammad SAW.

Abdul Qadir al-Jailani lahir dan dididik dalam lingkungan keluarga sufi, la tumbuh di bawah tempaan ibu (Fatimah binti Abdullah as-Sauma’i) dan kakeknya (Syekh Abdilllah as-Sauma’i). yang keduanya wali. Sejak kecil Abdul Qadir al-Jailani telah tampak berbeda dari anak-anak lainnya. la tidak suka bermain. Sejak usia dini ia terus mematangkan kekuatan batin yang dimilikinya. Ia mulai belajar mengaji sejak berusia 10 tahun.

Dalam usia 18 tahun ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu (433 H/1095 M). Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizamiyah yang pada waktu itu dipimpin oleh seorang sufi besar, yakni Ahmad al-Ghazali. Abdul Qadir mengikuti pelajaran fikih Mazhab Hanbali dari Abu Sa’d Mubarak al-Mukharrimi (pemimpin sekolah hukum Hanbali) sampai ia mendapat ijazah dari gurunya tersebut. Mulai tahun 521 H/1127 M, Abdul Qadir al-Jailani mengajar dan berfatwa dalam mazhab tersebut kepada masyarakat luas sampai akhir hidupnya. Untuk itu, ia mendapat restu dari seorang sufi besar, Yusuf al-Hamadani (440 H/1048 M – 535 H/1140 M). Pada tahun 528 H/1134 M untuk Abdul Qadir al-Jailani didirikan sebuah madrasah dan ribat di Baghdad dijadikan sebagai tempat tinggal bersama keluarganya dan sekaligus tempat mengajar muridnya yang tinggal bersamanya.

Ribat ketika itu lebih penting dari zawiat, suatu tempat untuk melakukan suluk dan latihan spiritual para sufi. Sesudah ia wafat, madrasahnya itu diteruskan oleh anaknya, Abdul Wahhab (552 H/1151 M-595 H/1197 M), kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang lain, Abdus Salam (548 H/1153 M – 611 H/1213 M). Diceritakan bahwa ada lagi seorang putra Abdul Qadir al-Jailani bernama Abdur Razzak (548 H/1134 M – 603 H/1207 M), seorang zahid dan saleh.

Abdul Qadir al-Jailani meninggalkan beberapa karya tulis yang berisikan ajaran agama, terutama tasawuf. Karyanya itu antara lain: al-Gunya li Talibi Tariq al-Haqq (Bekal yang Cukup bagi Pencari Jalan yang Benar) yang terbit di Cairo pada tahun 1288; al-Fath ar-Rabbani (Pembuka Ketuhanan) atau Sittin Majalis (Enam Puluh Majelis), berisikan 62 khotbah yang disampaikan antara tahun 545 H/1150 M-546 H/1152 M, terbit di Cairo pada tahun 1302 dan Futuh al-Gaib (Terbukanya Hal yang Gaib), berisikan 78 khotbah dalam berbagai masalah yang dikumpulkan oleh putranya, Abdur Razzaq, terbit di Cairo pada tahun 1304. Biografi lengkapnya tertulis dalam manakib Abdul Qadir al-Jailani. Di Indonesia manakib tersebut banyak dibaca banyak orang, terutama pada hari tertentu dan penting, seperti Asyura (tanggal 10 Muharram), tgl 27 Rajab, Nisfu Syakban (pertengahan bulan Syakban, yaitu terjadinya perubahan kiblat dari Baitimakdis ke Ka’bah) dan hari pertama bulan Safar.

Abdul Qadir al-Jailani adalah salah seorang tokoh yang keras berpegang teguh pada kebenaran dan prinsip perjuangannya. Dia tak segan-segan memberi nasehat kepada penguasa, bahkan kepada khalifah sekalipun.

Abdul Qadir al-Jailani menyeru muridnya untuk bekerja keras dalam kehidupan. Tarekat tidak berarti membelakangi kehidupan. Ia berkata,

“Sembahlah olehmu Allah Azza Wajalla (Allah Yang Maha Baik dan Maha Mulia). Mintalah pertolongan agar diberikan kerja yang halal untuk memperkuat ibadah kepada-Nya.”

Dengan ketinggian ilmu dan kepribadiannya, Abdul Qadir al-Jailani mendapat sanjungan dari berbagai pihak. lbnu Arabi menganggap Abdul Qadir al-Jailani sebagai seorang yang pantas menjadi wali qutub (pemimpin para wali) pada masanya. Abu Hasan an-Nadwi, seorang ahli sejarah berkata.

“Abdul Qadir al-Jailani telah menyaksikan apa yang telah menimpa umat islam pada masanya. Mereka hidup terpecah-belah dan saling bermusuhan, Cinta dunia telah mendominasi mereka di samping berebut kehormatan di sisi raja dan sultan. Manusia sudah berpaling pada materi, jabatan, dan kekuasaan. Mereka berkeliling di sekitar penguasa dan mengkultuskannya. Syekh Abdul Qadir al-Jailani hidup di tengah-tengah mereka. Akan tetapi, dia menjauhkan diri dari semua itu dengan fisik dan mentalnya. Dia bahkan menghadapinya dengan memberikan nasihat,
bimbingan, dakwah, dan pendidikan untuk memperbaiki jiwa kaum muslimin dan membersihkannya,”

Tarekat Kadiriyah yang dirintis Abdul Qadir al-Jailani berpusat di Baghdad. Cabang-cabangnya tersebar di mana-mana, termasuk di Indonesia, sehingga tarekat ini merupakan suatu organisasi atau pergerakan yang jumlah pengikut yang besar.

Abdul Qadir al-Jailani terkenal sangat saleh dan mempunyai sifat warak. Makamnya di Baghdad masih ramai dikunjungi orang. Dikatakan bahwa salah satu sifatnya yang unik adalah ia dapat membedakan sufi yang palsu dan yang asli hanya  dengan mencium baunya.

Sumber:
Buku “Ensiklopedi Islam”

Leave a comment

Bid’ah

Bid’ah

Secara kebahasaan, bid’ah berarti “segala yang diada-adakan, yang belum pemah ada contohnya”. Para ulama mendefinisikannya secara berbeda-beda, pada intinya semua mengacu pada pengertian sama, yaitu hal baru yang tidak ada dalam ajaran Islam yang dibawa Rasulullah SAW, baik akidah maupun syariat, yang aturannya dijelaskan dalam Al-Qur’an dan sunah.

Dilihat dari usul fikih, bid’ah dapat dibedakan atas dua jenis. Pertama, bid’ah meliputi segala sesuatu yang
diada-adakan dalam soal ibadah saja. Bid’ah dalam pengertian ini adalah urusan yang sengaja diada-adakan dalam agama, yang dipandang menyamai syariat sendiri, dan mengerjakannya secara berlebihan dalam soal ibadah kepada Allah SWT. Kedua, bid’ah meliputi segala urusan yang sengaja diada-adakan dalam agama, baik yang berkaitan dengan urusan ibadah maupun dengan urusan adat. Perbuatan bid’ah seakan-akan berkaitan dengan urusan agama, yang dipandang menyamai syariat sendiri, sehingga mengerjakannya sama dengan mengerjakan agama itu sendiri.

Dari segi fikih, bid’ah juga dapat dibedakan atas dua jenis. Pertama, bid’ah adalah perbuatan tercela yang diada-adakan serta bertentangan dengan Al-Qur’an, sunah Rasulullah  SAW, atau ijmak. Inilah bid’ah yang sama sekali tidak diijinkan agama, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik secara tegas maupun isyarat saja. Urusan keduniaan tidak termasuk ke dalam pengertian ini. Kedua bid’ah meliputi segala yang diada-adakan sesudah Nabi SAW, baik berupa kebaikan maupun kejahatan, baik mengenai ibadah maupun adat, yaitu yang berkaitan dengan urusan keduniaan.

Dilihat secara umum, sebenarnya bid’ah ini ada dua macam, yaitu bid’ah hasanah (yang baik), dan bid’ah
qabihah atau sayyi’ah (yang jelek). Bid’ah hasanah dibagi lagi menjadi bid’ah wajibah (yang wajib), bid’ah mandubah (yang sunah atau yang disukai Allah SWT), dan bid’ah mubahah (yang dibolehkan). Adapun bid’ah qabihah dibagi menjadi bid’ah makruhah (yang makruh atau yang tidak disenangi Allah SWT) dan bid’ah muharramah (yang diharamkan).

Bid’ah wajibah adalah pekerjaan yang masuk ke dalam kaidah wajib, dan masuk ke dalam kehendak dalil agama, misalnya mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an dalam satu mushaf (lembaran naskah Al-Qur’an yang bertulis tangan), membukukan ilmu, mempelajarinya dengan jalan memahami Al-Qur’an, dan menetapkan kaidah yang digunakan sebagai alat untuk menggali hukum dari dalilnya. Hal ini dianggap bid’ah karena tidak ada dalam praktek pada masa Rasulullah SAW.

Bid’ah mandubah adalah pekerjaan yang diwujudkan oleh kaidah nadb (sunat) dan dalilnya, misalnya mengerjakan tarawih berjemaah tiap malam bulan puasa dengan dipimpin oleh seorang imam tertentu. Perbuatan ini tidak pemah terjadi pada masa Rasulullah SAW, Abu Bakar RA, dan permulaan masa Umar RA. Setelah melihat jemaah masjid salat sendiri-sendiri, atau berkelompok, Umar RA menyuruh seseorang untuk mengimami salat tarawih tersebut.

Bid’ah mubahah adalah pekerjaan yang diterima dalil, misalnya menggunakan pengeras suara untuk azan.

Bid’ah makruhah adalah pekerjaan yang masuk ke dalam kaidah dan dalil makruh, misalnya menentukan hari utama dengan suatu macam ibadah, menambah-nambah amalan sunat yang telah ada batasnya.

Bid’ah muharramah adalah pekerjaan yang masuk ke dalam kaidah dan dalil haram, misalnya perbuatan yang bertentangan dengan hukum agama, seperti mengangkat orang yang tidak ahli untuk mengendalikan urusan penting atas dasar keturunan dengan mengabaikan keahlian.

Berkaitan dengan bid’ah ini, Rasulullah SAW pernah memperingatkan: “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan (urusan agama) tanpa ada dasar dariku (Nabi), maka amalannya itu sia-sia (ditolak)” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadis lain yang diriwayatkan Muslim ditegaskan bahwa setiap bid’ah itu dianggap sesat, dan nerakalah yang pantas bagi setiap pelaku kesesatan itu.
Menurut Imam Nawawi, yang dimaksud dengan kata-kata “setiap bid`ah itu sesat” adalah pekerjaan yang tergolong ke dalam bid’ah sayyi’ah, yaitu bid’ah muharramah dan bid’ah makruhah. Perbuatan yang dilakukan sesuai dengan tuntutan agama Islam disebut al-‘amal as-sunni. Adapun perbuatan yang pelaksanaannya tidak menurut tuntutan agama disebut aI-‘amal al-bid’i.

Sumber:
Buku “Ensiklopedi Islam”

Leave a comment