3 Prinsip dalam Menilai Peninggalan Ulama Salaf

Pertama:
Menafikan kemaksumam (ishmah) dari setiap individu yang ada dalam umat, kecuali Rasulullah SAW meskipun ia telah mencapai taraf yang tinggi dalam pengetahuan dan kesalehan, semisal para sahabat, tabi’in ataupun ahlul bait. Dan ishmah yang dimiliki Rasulullah itupun hanya berkaitan dengan apa yang disampaikannya dari Tuhan, berupa wahyu yang dibaca yaitu sunnah beliau yang menjelaskan al-Qur’an serta ishmahnya dari perbuatan maksiat terutama yang tergolong dosa besar.

Kedua:
Menimbang apa yang berasal dari salaf, baik itu perkataan, pendapat ataupun tindakan-tindakan mereka dengan timbangan yang tidak mungkin salah yaitu al-Qur’an dan sunnah. Apa yang sesuai dengan keduanya kita ikuti. Dengan bahasa lain, hal ini bisa disebut sebagai syar’iyyah naqd at-turats (legalisasi kritik turats).

Ketiga:
Kita tidak boleh berlebihan dalam memberikan kritikan terhadap pendapat para salaf dalam hal-hal yang masih boleh diperdebatkan, hingga menjatuhkan kedudukan mereka. Akan tetapi kita cukup untuk menyerahkan permasalahan tersebut kepada niat mereka. Bagaimanapun juga mereka telah mengeluarkan jerih payahnya dalam usaha berijtihad.

Sumber:
Buku “Bagaimana Berinteraksi dengan Peninggalan Ulama Salaf” karya Dr. Yusuf al-Qaradhawi, hal. 11-12, penerbit Pustaka al-Kautsar, 2003.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: