Contoh Penggunaan Takwil

“Apa yang datang kepada mereka dari pada al-Dzikr (al-Qur’an) adalah sesuatu yang baru” (QS. Al-Anbiya’: 2)

Aku katakan kepada mereka bahwa yang dimaksud baru dari al-Qur’an tersebut adalah proses turunnya kepada kita, bukan al-Qur’an itu sendiri yang baru.
Saya (al-Bayhaqi) berkata: “Takwil aI-Imam Ahmad ini benar. Di antara bukti kebenaran takwil beliau terhadap
ayat QS. aI-Anbiya’: 2 tersebut adalah sebuah riwayat yang telah mengkabarkannya kepadaku oleh Abu Bakar Muhammad ibn aI-Hasan ibn Furak, berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah ibn Ja’far, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami Yunus ibn Habib, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami Abu Dawud berkata: Telah mengkabarkan kepada kami Syu’bah dari ‘Ashim dari Abi Wa’il dari sahabat Abdullah ibn Mas’ud berkata:”Suatu saat aku datang kepada Rasulullah, aku mengucapkan salam kepadanya, namun ia tidak
menjawab salamku. Maka aku mencari-cari perkara apa yang telah terjadi pada diriku. Kemudian aku berkata kapada Rasulullah: Wahai Rasulullah adakah sesuatu telah terjadi pada diriku? Rasulullah berkata:
“Sesungguhnya Allah “membuat sesuatu yang baru” dari segala urusan-Nya bagi nabi-Nya terhadap apapun yang Dia kehendaki, Dan sesungguhnya di antara “yang baru” — artinya yang Dia wahyukan kepadaku — adalah ”Janganlah kalian mengajak berbicara dalam keadaan shalat.

(Pengertian “yang baru” di sini adalah kejadiannya kepada makhluk-Nya, bukan dalam pengertian bahwa Allah
memiliki kehendak yang baru)

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam kitab Syarh Shahih al-Bukhari berkata:

“Ibn al-Arabi berkata: Diriwayatkan bahwa orang-orang ahli bid’ah menolak hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah tersebut, sementara para ulama Salaf memakainya, dan sebagian ulama lainnya menerima hadits tersebut dengan adanya takwil. Pendapat terakhir inilah yang aku pegang.
Dalam teks hadits disebutkan “Yanzilu”, an-Nuzul di sini maknanya kembali kepada perbuatan (Af’al) Allah, bukan dalam pengertian -sifat- Dzat-Nya. Dan makna yang dimaksud dari hadits ini adalah bahwa Allah memerintah beberapa Malaikat-Nya untuk turun dengan membawa perintah dan larangan-Nya. Makna an-Nuzul dapat bermakna dalam pengertian indrawi; yaitu yang terjadi pada tubuh atau benda-benda, tapi juga dapat bermakna dalam pengertian maknawi. Jika engkau memaknai an-Nuzul tersebut dalam pengertian indrawi maka yang dimaksud adalah para Malaikat yang turun dengan perintah Allah. Dan jika engkau memaknai an-Nuzul dalam pengertian maknawi maka artinya ialah bahwa Allah telah berkehendak akan suatu kejadian pada makhluk, yang kejadian perkara tersebut pada mereka itu baru, artinya proses kejadian perkara dari kehendak Allah yang terjadi pada makhluk tersebut dinamakan dengan an-Nuzul dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain. Pengertian semacam ini adalah termasuk penggunaan bahasa Arab yang benar.”

Kesimpulannya, dari pernyataan ini, Ibn al-Arabi telah melakukan takwil terhadap hadits tersebut dari dua segi.
Pertama; mentakwil makna ”Yanzilu” dalam pengertian bahwa itu adalah Malaikat vang turun karena perintah
Allah. Kedua; mentakwil dengan menjadikannya sebagai bentuk majaz isti’arah, yang artinya bahwa Allah mengabulkan segala segala doa pada waktu tersebut (sepertiga akhir malam) dan mengampuni setiap orang yang meminta ampun kepada-Nya”.

Sumber:
Buku “Mengungkap Kebenaran Aqidah Asy’-Ariyyah” karya Kholil Abu Fateh, hal. 223-225.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: