Cobaan Imam Hanbali

Melalui riwayat Abdullah ibn Imam Ahmad, Imam Ahmad mengisahkan peristiwa inkuisisi yang pernah dia alami sendiri pada masa al-Mu’tashim. Berikut ini penuturannya:

Saat aku dikeluarkan dari penjara dan hendak dihadapkan ke al-Mu’tashim, rantai yang membelengguku ditambah. Aku sulit berjalan karena banyak dan beratnya rantai itu sehingga aku harus memegangnya dengan dua tangan. Seekor hewan tunggangan didatangkan dan aku dinaikkan ke atasnya. Aku hampir saja jatuh tersungkur karena beratnya rantai, selain tak ada seorang pun yang memegangiku. Berkat bantuan Allah, kami selamat sampai tujuan. Aku dimasukkan ke kamar sebuah rumah, lalu dikunci dari luar. Kamar itu sangat gelap, tidak ada lampu minyak di sana. Saat ingin berwudu, aku menjulurkan kedua tanganku secara acak. Tiba-tiba tanganku menyentuh sebuah wadah berisi air. Aku pun berwudu, lalu berdiri shalat, tanpa tahu arah kiblat. Keesokan harinya, aku mendapati diriku menghadap kiblat. Segala puji hanya milik Allah semata.

Aku dipanggil dan dihadapkan ke al-Mu’tashim yang tengah duduk bersama menterinya, Abu Du’ad. Saat melihatku, ia bertanya kepada Abu Du’ad, “Bukankah kamu pernah mengatakan jika ia masih muda, ternyata ia sudah tua?” Sesudah aku mengucap salam, ia berkata kepada Abu Du’ad, “Dekatkan dirinya kepadaku.” Setelah aku mendekat, ia berkata padaku, “Duduklah.” Aku pun duduk dengan menahan beratnya rantai besi yang membelengguku, lalu bertanya, “Amirul Mukminin, ada keperluan apa Tuan memanggilku?”

“Untuk bersaksi bawah tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah,” jawabnya. Aku menyahut, “Aku telah bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah.” Setelah membicarakan sesuatu dengan Abu Du’ad, al-Mu’tashim berkata lagi padaku, “Andai saja engkau menyetujui pendapat khalifah sebelumku, aku pasti tak akan bertanya lagi kepadamu.”

Al-Mu’tashim berkata kepada pejabatnya, “Wahai Abdurrahman, bukankah aku sudah memerintahkanmu supaya mengemukakan mihnah?” Aku langsung menyahut, “Allah Mahabesar. ltu sebuah kesedihan bagi umat lslam.” la berkata lagi, “Wahai Abdurrahman, ajaklah ia berdebat.”

Abdurrahman mulai bertanya, “Apa pendapatmu tentang Al-Quran?” Aku diam dan tidak menjawab, “Jawablah pertanyaannya!” kata al-Mu’tashim kepadaku. Aku malah bertanya, “Apa pendapatmu tentang llmu Allah?” la diam. Aku lalu berkata, “Al-Quran itu termasuk ilmu Allah. Barang siapa menganggap ilmu Allah itu makhluk berarti telah kafir.” Al-Mu’tashim diam. Setelah itu, semua yang bersamanya berkata, “Amirul Mukminin, ia telah mengkafirkan tuan dan kami.” Kata-kata mereka ini tidak mendapat tanggapan dari al-Mu’tashim. Abdurrahman berkata, “Allah itu bersifat azali, tapi Al-Quran tidak.” Aku pun menyahut, “Allah itu bersifat azali, tetapi ilmu-Nya tidak.”

Mereka berbicara ini dan itu hingga aku berkata, “Amirul Mukminin, suruhlah mereka menyebutkan satu ayat atau satu hadis yang membuatku bisa menyetujui pendapat Tuan (Al-Quran itu makhluk).” Ibnu Abi Du’ad menyahut,  “Apakah engkau takkan menyetujuinya tanpa dalil dari keduanya?” Aku pun berkata, “Apakah Islam tegak tanpa keduanya?” Terjadi debat panjang hingga lbnu Abi Du’ad berkata, “Demi Allah, Amirul Mukminin. Ahmad ini orang sesat menyesatkan, dan mengumbar bid’ah. Keputusan ada di tanganmu. Tanyailah para ulama dan fukaha.” Al-Mu’tashim bertanya kepada beberapa ulama yang hadir, “Bagaimana pendapat kalian mengenai dirinya (Ahmad ibn Hanbal)?” Mereka menjawab seperti perkataan lbnu Abi Du’ad tadi. Aku dihadirkan dan diajak berdebat lagi pada hari kedua dan ketiga. Tapi, aku dapat mengalahkan semua argumentasi mereka.

Jika mereka diam tidak bisa menjawab, lbnu Abi Du’ad pasti akan mencairkan suasana dan membuka pembicaraan. Dibandingkan dengan mereka semua, ia paling tidak mengerti perihal ilmu kalam. Perdebatan melebar ke berbagai persoalan. Sayangnya, pengetahuan mereka tentang dalil naqli sangat minim. Mereka mengingkari atsar dan menolak berhujjah dengannya. Aku juga mendapati mereka mengemukakan pernyataan-pemyataan yang tak pernah kusangka akan dikatakan seorang pun. lbnu Ghawts, lawan dialogku, berbicara panjang lebar soal jism dan sebagainya yang tak ada gunanya. Aku berkata, “Aku tidak mengerti apa yang engkau katakan. Setahuku, Allah itu Maha Esa, tak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” lbnu Ghawts diam.

Aku menyebutkan kepada mereka hadis ru’yah (melihat Allah dengan mata telanjang) di negeri akhirat. Mereka mencoba men-dha’if-kan sanad-sanad hadis tersebut dengan bersandar pada pernyataan sejumlah ahli hadis. Betapa jauhnya hujjah mereka. Di tengah-tengah dialog dan debat, Khalifah tiba-tiba berkata membujukku, “Hai Ahmad, dukunglah aku dalam masalah ini (kemakhlukan Al-Quran). Aku pasti akan menjadikanmu orang yang aku istimewakan dan aku hamparkan permadani buatmu.”

Aku berkata, “Amirul Mukminin, suruhlah mereka menyebutkan satu ayat atau satu hadis yang membuatku bisa menyetujui pendapat tuan (Al-Quran itu makhluk).” Ketika semua hujjah mereka dapat kupatahkan, Ishaq ibn Ibrahim, Gubernur Bagdad, tiba-tiba berkata, “Amirul Mukminin, bukan langkah kekhalifahan bila engkau sampai melepaskan dirinya dan ia dapat mengalahkan dua khalifah (al-Ma’mun dan al-Mu’tashim).” Wajah al-Mu’tashim seketika merah dan marah. Ia membentak ke arahku, “Allah melaknatmu! Aku sangat berharap engkau mau mendukungku, tapi engkau menolaknya!

“Tangkap ia! Telanjangi dan seret ia!” Aku dicokok, ditahan, dan pakaianku dilucuti, termasuk beberapa helai rambut Rasulullah yang aku selipkan di sela-sela pakaianku. Kini aku berdiri di hadapan tukang-tukang siksa. Aku berkata, “Amirul Mukminin, aku pasti akan mengingat bagaimana engkau berdiri di hadapan Allah kelak seperti aku berdiri di hadapanmu sekarang.”

Para hadirin terus berkata, “Amirul Mukminin, ia benar-benar sesat dan menyesatkan.” Aku disuruh berdiri di hadapan para tukang siksa dan tukang cambuk. Sebuah kursi diletakkan di depanku dan aku disuruh berdiri di atasnya. Beberapa dari mereka menyuruhku mengambil kayu sesukaku, tapi aku tidak mengerti maksud mereka. Kedua tanganku diborgol. Seorang tukang cambuk diperintahkan untuk memukulku. Tubuhku dipukul, “Lebih keras lagi! Atau Allah akan memotong kedua tanganmu,” bentak al-Mu’tashim kepada tukang cambuk tadi. Tukang cambuk yang lain datang, lalu mencambukku. Demikian seterusnya secara bergantian. Mereka mencambuk hingga membuatku jatuh pingsan berkali-kali. Bila cambukan dihentikan, kesadaranku kembali.

AI-Mu’tashim terus menyuruhku mendukung pendapatnya (kemakhlukan Al-Quran), tapi aku menolak. Mereka berkata:
“Celakalah engkau! Khalifah ada di depanmu!” Aku tetap tidak mau menghadapkan mukaku ke arah Khalifah. Al-Mu’tashim menyuruhku lagi, tapi aku tetap menolak. Tukang-tukang cambuk mencambukku lagi hingga sampai ke algojo ketiga. Waktu itu, aku sudah tidak sadarkan diri karena saking kerasnya cambukan. Mereka kembali mencambukku hingga aku pingsan lagi. Setelah itu, aku tidak bisa merasakan apa-apa, tidak bisa merasakan cambukan lagi. Ini membuat al-Mu’tashim khawatir atas keadaanku, khawatir aku mati. Aku pun dibebaskan, tapi aku tidak sadar. Seingatku, aku mendapati diriku sudah berada di kamar sebuah rumah dalam keadaan sudah tidak dirantai. Hari itu adalah 25 Ramadan 221 H. Khalifah memerintahkan supaya aku dibebaskan dan diantarkan ke keluargaku.

ltulah penuturan Imam Ahmad.
Jumlah cambukan yang diterima Imam Ahmad sekitar 30-an lebih. Ada pula yang mengatakan sampai 80 kali cambukan. Semuanya dilakukan dengan keras.

Ketika dibawa dari rumah Khalifah ke rumah Ishaq ibn Ibrahim, Imam Ahmad dalam keadaan puasa. Ia pernah diberi makanan suwayq untuk membatalkan puasanya, tapi ia menolak memakannya dan memilih menyempurnakan puasanya. Konon, ketika dipaksa berdiri untuk disiksa, ikatan sarung Imam Ahmad terlepas. Ia pun khawatir sarungnya melorot ke bawah sehingga auratnya terbuka. Ia langsung mengucap doa, “Ya Allah, Maha pemberi pertolongan kepada orang-orang yang meminta pertolongan. Ya Allah, Tuhan semesta alam. Jika Engkau tahu bahwa aku berdiri di sini demi membela kebenaran, janganlah Engkau merusak kehormatanku lewat auratku.” Ikatan sarungnya tiba-tiba menjadi kencang sendiri seperti sediakala.

Ketika sudah dipulangkan ke rumahnya, Ahmad ibn Hanbal didatangi tukang bedah yang langsung memotong daging matinya akibat siksaan, lalu mengobatinya sampai sembuh. Atas perintah aI-Mu”tashim, Ishaq ibn Ibrahim, terus memantau perkembangan kesehatan Imam Ahmad. Al-Mu’tashim sangat menyesali semua perbuatannya terhadap sang Imam. Saat sang imam sudah benar-benar sembuh dan sehat, al-Mu’tashim
merasa gembira, begitu pula semua umat Islam. la  memaafkan semua orang yang pernah menyiksanya kecuali pembuat bid’ah.

Imam Ahmad berkata, “Apa untungnya bagimu bila saudara muslimmu disiksa karena mencacimu?”

Khalifah al-Mu’tashim meninggal dunia pada 17 Rabiul Awal 227 H. la digantikan oleh anaknya.

Sumber:
Buku “Buku Pintar Sejarah Islam” karya Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh hal. 387-392.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: