Pahala Bersabar

SABAR dan puasa itu dahsyat. Pahala keduanya membentang tanpa batas. Sabar dan puasa membina tekad kuat, merupakan pembuktian akan kesahihan iman dan ketulusan berpasrah kepada Allah Azza wa Jalla sesuai ketetapan dan kehendak-Nya. Tentang pahala puasa, Nabi Saw. bersabda — sebagaimana diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Abu Al-Syaikh, dan Ibnu Hibban dari Salman: “(Ramadhan) adalah bulan sabar, dan pahala sabar adalah surga.”

Bukhari dan Muslim meriwayatkan (sebuah hadis qudsi) dari Abu Hurairah r.a.,”Semua amal anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku-lah yang membalasnya langsung. Puasa adalah perisai.” Yakni, menjaga dan membentengi diri dari jerumus maksiat.

Sebagaimana puasa, pahala sabar terbuka luas. Allah Azza wa Jalla berfirman, Kami benar-benar akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan gembirakanlah orang-orang yang bersabar (QS Al-Baqarah [2]: 155); Sesungguhnya pahala orang-orang yang bersabar dilimpah dengan tanpa hitungan (QS Al-Zumar [39]: 10 ); Siapa bersabar dan memaafkan, yang demikian benar-benar termasuk perbuatan mulia (QS Al-Syura [42]: 43); Wahai orang-orang beriman, mintalah pertolongan dengan bersabar dan bershalat. Sesungguhnya Allah bersama para penyabar (QS Al-Baqarah [2]: 153); dan Maka bersabarlah dengan kesabaran indah QS Al-Ma’arij [70]: 5),

Kesabaran indah, artinya tidak ada kegusaran, tidak ada kepanikan, tidak ada kemarahan; ridha dan menerima penuh segala kehendak Allah. Simpul sabar adalah ketika musibah terjadi, sebagaimana diriwayatkan Muslim dari Anas, “Sesungguhnya kesabaran (sejati) adalah pada saat kali pertama (musibah) menimpa.”

Di antara nilai istimewa sabar adalah kesabaran melepas orang-orang terkasih. Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “AIlah Swt. berfirman,
Tidaklah bagi hamba-Ku yang beriman ketika Ku-ambil kekasihnya di dunia, kemudian ia berharap pahala, melainkan adalah surga.‘” Dalam hadis lain dari Anas bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman, “Apabila Aku uji hamba-Ku dengan Ku-ambil penglihatan pada kedua matanya, lalu ia bersabar, Kugantikan untuknya surga.” (HR Bukhari).

Demikian pula kesabaran di kala sakit atau saat menghadapi kesulitan. Bukhari meriwayatkan dari  Aisyah r.a. bahwa ia bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang tha’un. Beliau menjelaskan bahwa tha’un adalah penyakit menular yang Allah Swt. kirim sebagai azab terhadap siapa pun yang Dia kehendaki. Lalu Allah Swt menjadikannya sebagai rahmat bagi kaum mukmin. Maka, tidaklah seorang hamba yang ditimpa tha’un, dan ia tinggal di tanah negerinya dengan bersabar dan penuh pengharapan; meyakini bahwa apa yang menimpa
dirinya tidak lain adalah ketetapan Allah untuknya maka pahala baginya setara pahala syahid.

Adalah karunia Allah Swt. bahwa bersabar terhadap berbagai kesulitan dunia bisa menjadi faktor penebus kesalahan dan dosa. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Tidaklah apa yang menimpa seorang Muslim berupa kepenatan, penyakit, kegalauan, kesedihan, ketersiksaan, dan penderitaan, hingga duri yang melukainya, melainkan Allah menjadikannya sebagai penebus dari kesalahan-kesalahannya.” Dalam riwayat Bukhari dari Abu Hurairah r.a. dinyatakan, “Siapa yang Allah kehendaki meraih kebaikan, Dia uji dengan suatu musibah.”

Apabila seseorang dihadapkan pada kesempitan dunia, dihadang bahaya atau musibah apa pun, pantang baginya berharap kematian. Ia mesti bersabar, karena inilah jalan keluar baginya di dunia, dan akan menambah pahala untuknya di akhirat. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas r. a. Ia menuturkan, “Rasulullah Saw. bersabda, ‘Jangan pernah seseorang di antara kalian berharap mati karena ditimpa suatu musibah. Jika hal itu terjadi, ucapkanlah doa:
Ya Allah, biarkanlah aku hidup selama kehidupan adalah yang terbaik bagiku, dan wafatkanlah aku jika itu yang terbaik bagiku.'”

Berdoa dan merendah kepada Allah Swt. demi lepasnya impitan disertai kesabaran tidak akan mengurangi pahala. Tirmidzi meriwayatkan dari Anas r.a.- dan ia menilai hadis ini hasan, Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap hamba-Nya, Dia segerakan hukuman untuknya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap hamba-Nya, Dia tahan dosanya sehingga dibalas di Hari Kiamat.” Dalam hadis lain, Nabi Saw. bersabda, “Besarnya balasan menyertai besarnya cobaan. Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia beri mereka cobaan. Siapa ridha (menerima cobaan itu) maka Allah meridhainya. Dan siapa marah (menerimanya) maka Allah murka padanya.”

Rumus sabar adalah menahan emosi dan tidak terbawa amarah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Orang kuat bukan dengan jago gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” Jago gulat (aI-shur’ah) dalam konteks Arab berarti menundukkan banyak orang.

Tirmidzi dan Abu Daud meriwayatkan dari Mu’adz ibn Anas r.a. — Tirmidzi menilai hadis ini hasan – bahwa Nabi Saw. bersabda, “Siapa menahan emosi, padahal ia mampu meluapkannya, Allah Swt. memanggilnya pada Hari Kiamat mendahului seluruh makhluk sehingga ia diberi kebebasan memilih bidadari sesuai kebendaknya.

Nas ayat-ayat Al-Quran serta Hadis Nabi tersebut menunjukkan betapa besarnya keutamaan dan pahala bagi kaum penyabar, laki-laki maupun perempuan; surga-surga abadi disediakan untuk mereka.

Sumber:
Buku “Ensiklopedia Akhlak Muslim: Berakhlak terhadap Sang Pencipta” karya Wahbah az-Zuhaili, hal. 22-24.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: