Panglima Byzantium Masuk Islam

Saat perang berkecamuk, salah seorang panglima Byzantium bernama Jarjah keluar dari barisan pasukannya. Jarjah memanggil nama Khalid. Khalid keluar mendatanginya hingga leher mereka bersentuhan. Jarjah berkata, “Hai Khalid! Bicaralah, tapi jangan bohong karena orang merdeka takkan berbohong, jangan pula menipuku karena orang mulia takkan menipu. Katakan kepadaku; apakah Tuhanmu menurunkan pedang dari langit kepada Nabimu, lalu Nabimu memberikannya kepadamu sehingga setiap kali engkau menghunusnya pada suatu kaum engkau pasti mengalahkan mereka?” “Tidak,” jawab Khalid singkat.
“Lalu, mengapa engkau disebut “Pedang Allah?” tanya Jarjah.
Khalid menjawab, “Allah mengutus Nabi kami, lalu Nabi menyeru kami, tapi kami semua lari dan menjauh darinya.
Sebagian dari kami membenarkannya dan sebagian lagi mendustakan dan memusuhinya. Dan, aku termasuk orang yang mendustakannya dan memusuhinya. Allah kemudian menerangi hati kami dan memberi kami petunjuk sehingga kami mengikutinya dan membaiatnya. Saat itulah beliau bersabda padaku, ‘Engkau salah satu pedang Allah yang dihunus untuk kaum musyrik dan munafik.’ Beliau lalu mendoakanku. Setelah itu, aku pun disebut dengan nama itu. Aku muslim yang paling keras memusuhi orang-orang musyrik.”

Jarjah bertanya lagi, “Lalu, engkau menyeru kami untuk apa?” Khalid menjawab, “Untuk bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya; kemudian membenarkan semua wahyu yang diturunkan-Nya.” Jarjah bertanya, “Bagaimana bila ada orang yang menolak seruanmu itu?”

Khalid menjawab, “Mereka harus membayar  jizyah. Jika itu dilakukan, mereka dalam perlindungan kami.” Jarjah bertanya lagi, “Bagaimana bila mereka tetap menolak jizyah?”
“Kami akan izinkan mereka berperang dan kami pasti akan menumpasnya,” jawab Khalid tegas.

“Bagaimana kedudukan orang yang hari ini menerima seruanmu dan memeluk agama Nabimu?” tanya Jariah lagi. Khalid menjawab, “Kami semua sama di hadapan apa yang sudah diwajibkan Allah kepada kami. Tak ada beda antara orang mulia dan orang hina, atau yang pertama dan terakhir. Semuanya sama di hadapan-Nya.”

Jarjah bertanya lagi, “Apakah orang yang masuk Islam hari ini akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mendahuluinya masuk Islam?” “Ya, bahkan pahalanya lebih besar,” jawab Khalid. Jarjah mencoba membantah, “Bagaimana mungkin pahala mereka sama dengan pahala kalian, sedangkan kalian lebih dahulu masuk Islam daripada mereka?”

Khalid menjawab, “Kami memeluk Islam dan membaiat Nabi ketika beliau masih hidup di tengah-tengah kami. Wahyu dari langit juga masih turun, dan beliau mengajarkan kami Al-Quran dan menunjukkan tanda-tanda kenabiannya. Jadi, sangat pantas bila orang yang melihat dan mendengar apa yang pernah kami lihat dan dengar itu memeluk Islam dan berbaiat. Tapi, kalian tidak melihat apa yang pernah kami lihat atau mendengar apa yang pernah kami dengar perihal bukti-bukti dan mukjizat-mukjizat kenabiannya. Jadi, siapa pun dari kalian yang memeluk Islam dengan niat tulus dan sungguh-sungguh maka ia tentu lebih utama daripada kami.”

Jarjah berkata, “Demi Allah, apakah engkau berkata jujur dan tidak menipuku?” Khalid menjawab, “Demi Allah, aku telah mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Allah menjadi saksi atas semua pertanyaanmu.”

Jarjah membalikkan sisi perisainya dan menghampiri Khalid seraya berkata, “Ajarkan aku Islam.” Khalid segera membawanya ke tenda, lalu menyiramnya dengan air se-qirbah (kantong air) dan mengajaknya shalat dua rakaat. Pasukan Byzantium mengira Jarjah sedang memperdayai Khalid. Saat melihat kedekatan keduanya, mereka kian bersemangat karena menyangka tipu daya Jarjah berhasil. Mereka langsung menyerbu barisan pasukan muslim hingga membuat pasukan muslim kehilangan posisinya. Tetapi, tiba-tiba terlihat Khalid dan Jarjah keluar dari tenda. Keduanya sama-sama berperang di barisan pasukan muslim. Ini tentu menyuntikkan semangat pasukan muslim. Mereka terus menggempur hingga pasukan Byzantium kalah dan mundur dari medan pertempuran. Khalid dan Jarjah berjuang di barisan pasukan muslim. Jarjah akhirnya mati syahid dalam peperangan ini dan dirinya tidak pernah shalat kecuali hanya dua rakaat tadi! Perang Yarmuk berakhir dengan kemenangan umat Islam. Perang ini menelan korban sebanyak 3.000 orang di pihak muslim dan 12.000 orang di pihak musuh.

Sumber:
Buku “Buku Pintar Sejarah Islam” karya Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh hal. 134 sd 136.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: