Hadis Ahad di dalam Fikih menurut Imam Syafi’i

Sesungguhnya telah mengalir deras, terkenal dan datang dari berbagai jalur, bahwa para sahabat saling menyampaikan hukum-hukum syar’i dengan hadis-hadis ahad, padahal Nabi masih ada bersama mereka dan beliau membiarkan penerimaan mereka terhadap hukum-hukum tersebut dengan kabar dari satu orang. Seandainya kabar dari satu orang tidak cukup sebagai dalil untuk mengamalkan hukum, pastilah Nabi SAW menerangkan bahwa tidak pantas bagi mereka untuk mengambil hukum-hukum agama, kecuali yang telah disepakati oleh banyak orang dan itu lebih tejaga dari kedustaan.

Metode penyampaian melalui satu atau dua orang menjadi salah satu cara penyampaian surat-surat beliau kepada penguasa negeri lain. Cara ini juga beliau gunakan untuk menerangkan syariat Islam. Bahkan, Nabi sendiri merasa cukup dalam menyampaikan hukum-hukum Islam hanya dengan mengirim satu orang utusan. Oleh karenanya, seandainya syariat tidak bisa diterima dari satu orang  dan seandainya periwayatan tidak sempurna kecuali diriwayatkan banyak orang, niscaya Nabi tidak akan merasa cukup hanya dengan mengutus satu orang untuk mengabarkan ajaran beliau dan menjelaskan syariat Islam.

Kami akan mengutipkan beberapa fakta pada masa Rasulullah terkait diterimanya kabar meski dibawa oleh satu orang. Imam Syafi’i telah mengemukakan banya fakta itu, diantaranya adalah:

  • Rasulullah adalah orang yang telah diturunkan kepadanya al-Qur’an. Beliau menerima wahyu yang memerintahkannya untuk menghadap ka’bah. Itu terjadi ketika para sahabat sedang menghadap Baitul Maqdis di masjid Quba dalam shalat Subuh, lalu datanglah kepada mereka seorang pembawa berita yang mengabarkan kepada mereka ayat al-Qur’an yang telah turun. Mereka pun berputar untuk menghadap ka’bah. Orang-orang yang shalat di masjid Quba’ pada waktu itu adalah orang-orang terdahulu dari kaum Anshar dan para ahli fikihnya. Mereka tentu tidak akan mengamalkan perintah yang hanya dibawa oleh satu orang, kecuali karena ilmu bahwa riwayat dari satu orang bisa digunakan sebagai hujjah. Rasulullah adalah manusia yang jujur. Seandainya apa yang dilakukan oleh para sahabat waktu itu termasuk perbuatan yang tidak boleh, karena mengamalkan berita yang hanya dibawa oleh satu orang, niscaya Rasulullah akan mengatakan kepada mereka,” Kalian tidak perlu merubah arah kiblat menghadap ka’bah, kecuali setelah adanya ilmu yang disertai hujjah berdasarkan berita yang dibawa oleh orang banyak, lebih dari satu orang.”
  • Imam Syafi’i meriwayatkan dari Anas, bahwa is berkata, “Aku telah memberi minum Abu Thalhah, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Ubai bin Ka’ab minuman yang berasal dari perasan anggur. lalu datanglah kepada mereka seorang pendatang kemudian berkata, ‘Sesungguhnya khamr telah diharamkan.’ Maka Abu Thalhah berkata, ‘Bangunlah wahai Anas dan pecahkanlah guci-guci itu.’ Lalu aku berdiri mengambil palu. Aku memukul guci-guci itu pada bagian bawahnya sampai pecah. Para sahabat yang disebutkan di atas memiliki ilmu dan kedudukan di sisi Nabi. Mereka juga termasuk para sahabat istimewa disisi Nabi yang tidak diingkari oleh seorang ulama pun. Dan sebelumnya, minuman itu halal bagi mereka, lalu datanglah seorang pemberi kabar dan mengabarkan kepada mereka akan keharaman khamr. Kemudian Abu Thalhah memerintahkan untuk menghancurkan guci. Tidak ada ucapan-ucapan yang keluar dari lisan mereka, ‘Kami tetap menghalalkannya hingga kami menemui Rasulullah, karena kedekatan beliau dengan kita, atau sampai kami mendengar berita keharaman khamr ini dari orang banyak.‘ Ini terjadi karena yang mereka tumpahkan bukanlah sesuatu yang halal. Seandainya yang mereka lakukan itu tidak benar, karena hanya berdasarkan kabar yang dibawa satu orang saja, pastilah Nabi akan melarang mereka. Akan tetapi beliau tidak melakukannya.
  • Nabi pernah mengutus Ali bin Abi Thalib untuk pergi ke Mina dan membacakan kepada mereka surat at-Taubah. Rasulullah tidak akan mengutus seseorang untuk membawa urusan, kecuali apa yang dibawa oleh utusan tersebut bisa dijadikan hujjah oleh mereka yang mendengarnya. Dan berita dari Rasulullah yang hanya dibawa oleh seorang utusan saja, itu boleh diterima.
  • Nabi telah membagi-bagi dan menyebarkan para gubernur ke berbagai wilayah. Namun tidak ada seorang pun di masing-masing wilayah yang mendatangi para gubernur itu kemudian mengatakan, “Kamu seorang diri. Dia tidak berhak mengatur kita selama kita tidak mendengar langsung Rasulullah mengatakan bahwa dia berkuasa atas kita, atau datang kepada kita orang banyak yang menyampaikan kabar tentang pengangkatannya sebagai gubernur atau kabar tentang hal itu terkenal atau yang menyampaikannya kepada kita lebih dari satu orang.” Dan perbuatan Nabi adalah hujjah yang tidak ada hujjah lagi di belakangnya.

Ini semua merupakan kabar-kabar yang periwayatannya mengalir deras lagi terkenal. Riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi juga menetapkan (mengakui) kaum Muslimin atas pengambilan kabar mereka dari satu orang, sedangkan beliau di dalam menyampaikannya, cukup hanya dengan mengirim satu orang.

Sumber:

Buku “Biografi Empat Imam Mazhab” karya Abdul Aziz Asy-Syinawi, penerbit Beirut Publishing, hal 590-592.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: