Archive for March, 2015

Rukun-Rukun Bid’ah

Rukun-rukun bid’ah terbagi menjadi 3 yaitu:

1. Bahwa bid’ah berkaitan dengan agama

Adapun yang berkaitan dengan perkara kebiasaan dan perkara dunia, tidak masuk dalam kategori bid’ah. Bahkan mengadakan sesuatu yang baru dan membuat penemuan baru merupakan hal yang dianjurkan. Ini sebagaimana yang diungkap dalam hadis shahih

Barangsiapa yang membuat tuntunan yang baik dalam Islam lantas tuntunan itu diamalkan setelahnya, ditetapkan baginya serupa dengan pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sama sekali. Dan barangsiapa yang membuat tuntunan yang buruk dalam Islam lantas tuntunan itu diamalkan setelahnya, ditetapkan kepadanya serupa dengan dosa orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosa mereka sama sekali.” (HR Muslim dan Ahmad)

Karena itu Umar dipuji karena ada berbagai penemuan baru pada masanya yang disebut sebagai Awaliyat. Karena ia yang pertama kali membangun wilayah perkotaan, membukukan data-data administratif, membuat penanggalan khusus bagi umat Islam, membangun rumah tahanan dan seterusnya.

Berbeda dengan perkara agama yang didasarkan pada peneladanan. Inilah yang ditegaskan dalam hadis muttafaq’alaih yang diriwayatkan dari Aisyah secara marfu’.

Barangsiapa yang mengadakan sesuatu yang dalam perkara kami ini yang bukan darinya, sesuatu itu tertolak.

Maksud “…. perkara kami” adalah agama kami. Sedangkan maksud “…. maka sesuatu itu tertolak” adalah tertolak dan tidak diterima.

Oleh karena itu, yang dilakukan sementara kalangan tidak dapat diterima jika mereka menolak sarana “pemilihan” untuk mengetahui orang yang paling layak menjadi wakil mereka di parlemen atau majelis permusyawaratan. Mereka beralasan karena hal ini merupakan bid’ah yang diada-adakan yang tidak terjadi pada masa Rasulullah. Pendapat ini tidak dapat diterima karena bid’ahnya tidak berkaitan dengan perkara agama dan ibadah, tetapi termasuk perkara dunia dan tradisi.

2. Bid’ah yang menyerupai cara syar’i

Cara ini dapat terbaurkan dengan cara yang syar’i dan dikaitkan dengan berbagai ketentuan syariat yang ada karena memiliki keserupaan dengannya dari sisi tertentu.

Sebagai contoh, ada kalimat atau beberapa kalimat yang ditambahkan pada azan yang sebenarnya bukan bagian dari azan. Seperti kalangan yang menambahkan syahadat ketiga setelah syahadat keesaan Allah dan syahadat kerasulan Muhammad. Mereka mengatakan, “Aku bersaksi bahwa Ali adalah waliyullah.” Tidak diragukan bahwa ia adalah waliyullah berdasarkan kesaksian Rasulullah baginya dan kesaksian umat. Kesaksian bagi para wali terkait kedudukan sebagai wali mendekati keserupaan dengan kesaksian bagi rasul terkait kerasulan. Inilah sisi ketertautannya. Akan tetapi tambahan itu tertolak karena pada dasarnya ibadah-ibadah yang bersifat syiar adalah dilarang ada penambahan dan terikat pada yang sudah ditetapkan adanya. Hal itu disebabkan ibadah-ibadah itu bersifat tauqifiyah (hanya mengacu pada tuntunan syar’i) kecuali yang diperkenankan berdasarkan dalil syar’i serta ditetapkan bentuk dan tata caranya agar orang tidak membuat ketentuan dalam agama yang tidak diperkenankan Allah.

Sebagai contoh, Allah mensyariatkan takbir dalam shalat untuk menandakan peralihan rukun-rukun shalat, namun ada sebagian orang mengalihkannya menjadi tasbih, tahlil atau tahmid dengan anggapan bahwa semua itu merupakan zikir kepada Allah. Ini tertolak bagi orang yang melakukannya atau yang memiliki pendapat demikian karena Allah tidak mensyariatkan dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya.

3. Bid’ah yang dimaksudkan untuk berlebihan dalam pelaksanaan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Ini menguatkan keterkaitan bid’ah dengan sisi keagamaan. Karena itu pelaku bid’ah mengarahkan tambahan-tambahan yang mereka lekatkan dan kaitkan dalam agama dengan tujuan untuk berlebihan dalam pelaksanaan ibadah. Seakan-akan tidak cukup bagi mereka dengan menunaikan apa yang telah ditetapkan Allah dalam syariat kepada mereka. Akibatnya mereka memandang hal yang sesuai dengan kemauan mereka adalah baik. Mereka menambahkan hal-hal lain terhadap apa yang telah disyariatkan Allah didasarkan pada inisiatif sendiri, demi memuaskan antusiasme menurut dugaan mereka dan membuka pintu tambahan dalam agam bagi mereka. Ini merupakan pintu keburukan yang saat dibuka, tidak akan tertutup lagi. Bahkan orang yang memasukinya selalu mengembangkan hingga agama menjadi sesuatu yang lain, bukan seperti yang disyariatkan Allah. Orang-orang pun mengaitkan berbagai ketentuan dan amalan dengan syariat agama yang melelahkan badan dan menyesakkan dada. Sementara manusia biasa tidak mampu untuk menanggungnya kecuali dengan kesulitan yang tidak biasa. Karena itu Allah mengajarkan kepada umat Islam untuk mengucapkan doa,

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan; Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 286)

Seakan-akan pelaku bid’ah ingin melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan yang disampaikan Muhammad saw, berupa kemudahan dalam menjalankan kewajiban dan adanya keringanan yang ditetapkan, bolehnya melanggar larangan dalam kondisi darurat, pengecualian bagi orang-orang yang berhalangan dan lainnya. Karena itu judul risalah beliau dalam kitab-kitab terdahulu bahwa beliau,

Yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-A’raaf: 157)

Demikianlah semboyan para pelaku bid’ah terhadap agama Allah. Mereka membatalkan apa yang disampaikan Nabi. Rasul mempermudah sementara mereka mempersulit, beliau meminimalissi beban kewajiban sementara mereka memperbanyak dan beliau memberi keringanan bagi umat sementara mereka memberatkan. Allah berfirman,

“Allah hendak mem,berikan keringanan kepadanu, karena manusia diciptakan brsifat lemah.” (an-Nisaa’: 28)

Sumber:

Buku “Bid’ah dalam Agama” karya Yusuf Qardhawi penerbit Gema Insani hal 177-180

Advertisements

Leave a comment

Sebab-Sebab Terjadinya Ikhtilaf

Dalam menjelaskan tentang sebab-sebab terjadinya ikhtilaf di kalangan ulama, Ibnu Taimiyah menulis sebuah karya yang sangat populer, yang diberi judul Raf’u al-Malam ‘an al-A’immah al-Alam. Dengan mencermati judul yang ditawarkan Ibnu Taimiyah pada karya ini, terlihat dengan jelas adanya unsur upaya pembelaannya terhadap para ulama yang berijtihad dan mungkin saja ijtihad mereka – setidaknya menurut Ibnu Taimiyah – salah atau tidak tepat. Nuansa pembelaan itu semakin tampak ketika pada bagian awal ini ia menegaskan kewajiban setiap muslim untuk menjaga kehormatan dan memberikan loyalitas (al-wala’) kepada para ulama pewaris Nabi setelah memberikannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam karyanya ini, Ibnu Taimiyah memaparkan alasan-alasan mengapa seorang ulama berbeda dengan ulama lainnya. Meskipun alasan-alasan yang diuraikannya nampak sangat personal, namun karena alasan-alasan ini pada praktiknya tidak hanya dialami seorang faqih, maka tidak salah jika alasan-alasan tersebut dapat dikategorikan sebagai sebab-sebab terjadinya ikhtilaf di kalangan para ulama.

Sebab-sebab itu antara lain adalah:

1. Jika sebuah hadis tidak sampai kepada sang alim dan sebagaimana dipahami dalam Islam bahwa seseorang tidak memiliki kewajiban untuk mengamalkan sesuatu sampai ia menemukan dalilnya. Poin ini adalah sebab yang paling mendominasi terjadinya perselisihan. Sebab penguasaan yang menyeluruh terhadap semua hadis Rasulullah tidak mungkin dimiliki oleh siapa pun dari umat ini. Sebagai contoh adalah kisah tentang bagaimana seorang Abu Bakar bisa tidak mengetahui bagian waris seorang nenek, padahal betapa dekatnya ia dengan Rasulullah. Hingga akhirnya merasa perlu untuk bertanya kepada sahabat lain yaitu al-Mughirah bin Syu’bah dan Muhammad bin Maslamah, yaitu seperenam.

2. Jika hadis itu sampai kepada sang ulama, namun hadis itu tidak shahih dalam pandangannya. Umumnya ini disebabkan karena alur periwayatan yang mengantarkan hadis itu sampai kepadanya tidak memenuhi syarat, sementara pada ulama lain hadis itu tiba dengan jalur yang sahih. Kondisi ini menurutnya banyak terjadi pada generasi tabi’in dan para imam sesudahnya.Inilah yang kemudian menyebabkan banyak ulama yang “menggantung” pandangan kefikihannya dengan ungkapan:

“Pendapatku dalam masalah ini adalah demikian, (sebenarnya) ada hadis yang diriwayatkan (menunjukkan) demikian (maksudnya: berbeda dengan pendapatnya). Jika hadis ini memang sahih, maka itu pendapatku.”

3. Jika mujtahid telah mengetahui dalil suatu masalah, namun ia melupakannya. Salah satu contohnya yang paling populer adalah kisah Khalifah Umar bin Khatab ketika ia berkhutbah dan mengatakan: “Tidak seorang pun pria yang melebihkan maharnya lebih dari mahar istri-istri Nabi dan putri-putri beliau melainkan akan aku kembalikan!” Namun tiba-tiba seorang wanita memprotesnya dan mengatakan: “Wahai Amir al-Mukminin! Mengapa Anda mengharamkan sesuatu yang telah dikaruniakan Allah pada kami?” Lalu wanita itu membaca Firman Allah:

“Dan kalian memberikan kepada salah seorang dari mereka (istri) harta yang berlimpah, maka janganlah kalian mengambilnya sedikit pun.” (an-Nisaa’: 20)

Protes itu membuat Umar menarik pandangannya. Padahal sebelumnya ia menghafal ayat itu, namun ternyata ia melupakannya hingga wanita itu mengingatkannya.

4. Jika seorang mujtahid tidak mengetahui makna yang ditunjukkan oleh suatu dalil (dalalah an-nash). Mungkin saja karena lafazh hadis tersebut asing baginya, seperti istilah al-muzabanah, al-mukhabarah, dan al-munabadzah.

5. Jika seorang mujtahid sudah mengetahui makna yang ditunjukkan oleh nash, namun menurutnya dalalah an-nash itu tidak dapat diberlakukan karena alasan-alasan yang terkait dengan pandangannya dalam ranah ushul al-fiqh. Mungkin saja sang mujtahid berpandangan bahwa mafhum tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, lafazh umum yang dilatarbelakangi oleh sabab an-nuzul atau sabab al-wurud tertentu, maka pemberlakuannya hanya terbatas pada sebab tersebut.

Dari uraian sebab-sebab ikhtilaf ini dapat disimpulkan bahwa pandangan Ibnu Taimiyah terkait dengan masalah ini menunjukkan adanya upaya serius darinya untuk memahami mengapa seorang ulama dapat berbeda dengan ulama lain, bahkan mengapa ia dapat menyelisihi sebuah nash atau dalil. Meskipun pada bagian akhir uraiannya tentang ini, ia menegaskan bahwa “keberhakan” seorang untuk mendapatkan satu pahala meskipun ia salah adalah disebabkan upaya kerasnya berijtihad. Tanpa adanya unsur ijtihad, seseorang tidak berhak mendapatkan janji itu. Hal ini menurutnya dapat menjelaskan mengapa dalam kasus “shalat ashar di Bani Quraizhah” dapat dipahami oleh Nabi, sementara dalam kasus orang-orang yang mengfatwakan kepada seorang pria yang kepalanya terluka parah untuk tetap mandi junub – dan bukan bertayammum – beliau justru marah kepada mereka. Beliau mengatakan:

“Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan mereka! Mengapa mereka tidak bertanya jika mereka tidak mengetahui? Sebab obat ketidaktahuan itu adalah bertanya.”

Menurutnya dalam kasus pertama terjadi proses ijtihad, sementara dalam kasus kedua kesalahan itu terjadi tanpa terjadinya proses ijtihad sebab para pelakunya tidak termasuk yang memiliki kredibilitas untuk itu.

Sumber:

Buku “Belajar Toleransi dari Ibnu Taimiyah”, karya Muhammad Ikhsan, penerbit Pustaka Al-Kautsar, hal 138-142

Leave a comment