Sebab-Sebab Terjadinya Ikhtilaf

Dalam menjelaskan tentang sebab-sebab terjadinya ikhtilaf di kalangan ulama, Ibnu Taimiyah menulis sebuah karya yang sangat populer, yang diberi judul Raf’u al-Malam ‘an al-A’immah al-Alam. Dengan mencermati judul yang ditawarkan Ibnu Taimiyah pada karya ini, terlihat dengan jelas adanya unsur upaya pembelaannya terhadap para ulama yang berijtihad dan mungkin saja ijtihad mereka – setidaknya menurut Ibnu Taimiyah – salah atau tidak tepat. Nuansa pembelaan itu semakin tampak ketika pada bagian awal ini ia menegaskan kewajiban setiap muslim untuk menjaga kehormatan dan memberikan loyalitas (al-wala’) kepada para ulama pewaris Nabi setelah memberikannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam karyanya ini, Ibnu Taimiyah memaparkan alasan-alasan mengapa seorang ulama berbeda dengan ulama lainnya. Meskipun alasan-alasan yang diuraikannya nampak sangat personal, namun karena alasan-alasan ini pada praktiknya tidak hanya dialami seorang faqih, maka tidak salah jika alasan-alasan tersebut dapat dikategorikan sebagai sebab-sebab terjadinya ikhtilaf di kalangan para ulama.

Sebab-sebab itu antara lain adalah:

1. Jika sebuah hadis tidak sampai kepada sang alim dan sebagaimana dipahami dalam Islam bahwa seseorang tidak memiliki kewajiban untuk mengamalkan sesuatu sampai ia menemukan dalilnya. Poin ini adalah sebab yang paling mendominasi terjadinya perselisihan. Sebab penguasaan yang menyeluruh terhadap semua hadis Rasulullah tidak mungkin dimiliki oleh siapa pun dari umat ini. Sebagai contoh adalah kisah tentang bagaimana seorang Abu Bakar bisa tidak mengetahui bagian waris seorang nenek, padahal betapa dekatnya ia dengan Rasulullah. Hingga akhirnya merasa perlu untuk bertanya kepada sahabat lain yaitu al-Mughirah bin Syu’bah dan Muhammad bin Maslamah, yaitu seperenam.

2. Jika hadis itu sampai kepada sang ulama, namun hadis itu tidak shahih dalam pandangannya. Umumnya ini disebabkan karena alur periwayatan yang mengantarkan hadis itu sampai kepadanya tidak memenuhi syarat, sementara pada ulama lain hadis itu tiba dengan jalur yang sahih. Kondisi ini menurutnya banyak terjadi pada generasi tabi’in dan para imam sesudahnya.Inilah yang kemudian menyebabkan banyak ulama yang “menggantung” pandangan kefikihannya dengan ungkapan:

“Pendapatku dalam masalah ini adalah demikian, (sebenarnya) ada hadis yang diriwayatkan (menunjukkan) demikian (maksudnya: berbeda dengan pendapatnya). Jika hadis ini memang sahih, maka itu pendapatku.”

3. Jika mujtahid telah mengetahui dalil suatu masalah, namun ia melupakannya. Salah satu contohnya yang paling populer adalah kisah Khalifah Umar bin Khatab ketika ia berkhutbah dan mengatakan: “Tidak seorang pun pria yang melebihkan maharnya lebih dari mahar istri-istri Nabi dan putri-putri beliau melainkan akan aku kembalikan!” Namun tiba-tiba seorang wanita memprotesnya dan mengatakan: “Wahai Amir al-Mukminin! Mengapa Anda mengharamkan sesuatu yang telah dikaruniakan Allah pada kami?” Lalu wanita itu membaca Firman Allah:

“Dan kalian memberikan kepada salah seorang dari mereka (istri) harta yang berlimpah, maka janganlah kalian mengambilnya sedikit pun.” (an-Nisaa’: 20)

Protes itu membuat Umar menarik pandangannya. Padahal sebelumnya ia menghafal ayat itu, namun ternyata ia melupakannya hingga wanita itu mengingatkannya.

4. Jika seorang mujtahid tidak mengetahui makna yang ditunjukkan oleh suatu dalil (dalalah an-nash). Mungkin saja karena lafazh hadis tersebut asing baginya, seperti istilah al-muzabanah, al-mukhabarah, dan al-munabadzah.

5. Jika seorang mujtahid sudah mengetahui makna yang ditunjukkan oleh nash, namun menurutnya dalalah an-nash itu tidak dapat diberlakukan karena alasan-alasan yang terkait dengan pandangannya dalam ranah ushul al-fiqh. Mungkin saja sang mujtahid berpandangan bahwa mafhum tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, lafazh umum yang dilatarbelakangi oleh sabab an-nuzul atau sabab al-wurud tertentu, maka pemberlakuannya hanya terbatas pada sebab tersebut.

Dari uraian sebab-sebab ikhtilaf ini dapat disimpulkan bahwa pandangan Ibnu Taimiyah terkait dengan masalah ini menunjukkan adanya upaya serius darinya untuk memahami mengapa seorang ulama dapat berbeda dengan ulama lain, bahkan mengapa ia dapat menyelisihi sebuah nash atau dalil. Meskipun pada bagian akhir uraiannya tentang ini, ia menegaskan bahwa “keberhakan” seorang untuk mendapatkan satu pahala meskipun ia salah adalah disebabkan upaya kerasnya berijtihad. Tanpa adanya unsur ijtihad, seseorang tidak berhak mendapatkan janji itu. Hal ini menurutnya dapat menjelaskan mengapa dalam kasus “shalat ashar di Bani Quraizhah” dapat dipahami oleh Nabi, sementara dalam kasus orang-orang yang mengfatwakan kepada seorang pria yang kepalanya terluka parah untuk tetap mandi junub – dan bukan bertayammum – beliau justru marah kepada mereka. Beliau mengatakan:

“Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan mereka! Mengapa mereka tidak bertanya jika mereka tidak mengetahui? Sebab obat ketidaktahuan itu adalah bertanya.”

Menurutnya dalam kasus pertama terjadi proses ijtihad, sementara dalam kasus kedua kesalahan itu terjadi tanpa terjadinya proses ijtihad sebab para pelakunya tidak termasuk yang memiliki kredibilitas untuk itu.

Sumber:

Buku “Belajar Toleransi dari Ibnu Taimiyah”, karya Muhammad Ikhsan, penerbit Pustaka Al-Kautsar, hal 138-142

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: