Rukun-Rukun Bid’ah

Rukun-rukun bid’ah terbagi menjadi 3 yaitu:

1. Bahwa bid’ah berkaitan dengan agama

Adapun yang berkaitan dengan perkara kebiasaan dan perkara dunia, tidak masuk dalam kategori bid’ah. Bahkan mengadakan sesuatu yang baru dan membuat penemuan baru merupakan hal yang dianjurkan. Ini sebagaimana yang diungkap dalam hadis shahih

Barangsiapa yang membuat tuntunan yang baik dalam Islam lantas tuntunan itu diamalkan setelahnya, ditetapkan baginya serupa dengan pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sama sekali. Dan barangsiapa yang membuat tuntunan yang buruk dalam Islam lantas tuntunan itu diamalkan setelahnya, ditetapkan kepadanya serupa dengan dosa orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosa mereka sama sekali.” (HR Muslim dan Ahmad)

Karena itu Umar dipuji karena ada berbagai penemuan baru pada masanya yang disebut sebagai Awaliyat. Karena ia yang pertama kali membangun wilayah perkotaan, membukukan data-data administratif, membuat penanggalan khusus bagi umat Islam, membangun rumah tahanan dan seterusnya.

Berbeda dengan perkara agama yang didasarkan pada peneladanan. Inilah yang ditegaskan dalam hadis muttafaq’alaih yang diriwayatkan dari Aisyah secara marfu’.

Barangsiapa yang mengadakan sesuatu yang dalam perkara kami ini yang bukan darinya, sesuatu itu tertolak.

Maksud “…. perkara kami” adalah agama kami. Sedangkan maksud “…. maka sesuatu itu tertolak” adalah tertolak dan tidak diterima.

Oleh karena itu, yang dilakukan sementara kalangan tidak dapat diterima jika mereka menolak sarana “pemilihan” untuk mengetahui orang yang paling layak menjadi wakil mereka di parlemen atau majelis permusyawaratan. Mereka beralasan karena hal ini merupakan bid’ah yang diada-adakan yang tidak terjadi pada masa Rasulullah. Pendapat ini tidak dapat diterima karena bid’ahnya tidak berkaitan dengan perkara agama dan ibadah, tetapi termasuk perkara dunia dan tradisi.

2. Bid’ah yang menyerupai cara syar’i

Cara ini dapat terbaurkan dengan cara yang syar’i dan dikaitkan dengan berbagai ketentuan syariat yang ada karena memiliki keserupaan dengannya dari sisi tertentu.

Sebagai contoh, ada kalimat atau beberapa kalimat yang ditambahkan pada azan yang sebenarnya bukan bagian dari azan. Seperti kalangan yang menambahkan syahadat ketiga setelah syahadat keesaan Allah dan syahadat kerasulan Muhammad. Mereka mengatakan, “Aku bersaksi bahwa Ali adalah waliyullah.” Tidak diragukan bahwa ia adalah waliyullah berdasarkan kesaksian Rasulullah baginya dan kesaksian umat. Kesaksian bagi para wali terkait kedudukan sebagai wali mendekati keserupaan dengan kesaksian bagi rasul terkait kerasulan. Inilah sisi ketertautannya. Akan tetapi tambahan itu tertolak karena pada dasarnya ibadah-ibadah yang bersifat syiar adalah dilarang ada penambahan dan terikat pada yang sudah ditetapkan adanya. Hal itu disebabkan ibadah-ibadah itu bersifat tauqifiyah (hanya mengacu pada tuntunan syar’i) kecuali yang diperkenankan berdasarkan dalil syar’i serta ditetapkan bentuk dan tata caranya agar orang tidak membuat ketentuan dalam agama yang tidak diperkenankan Allah.

Sebagai contoh, Allah mensyariatkan takbir dalam shalat untuk menandakan peralihan rukun-rukun shalat, namun ada sebagian orang mengalihkannya menjadi tasbih, tahlil atau tahmid dengan anggapan bahwa semua itu merupakan zikir kepada Allah. Ini tertolak bagi orang yang melakukannya atau yang memiliki pendapat demikian karena Allah tidak mensyariatkan dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya.

3. Bid’ah yang dimaksudkan untuk berlebihan dalam pelaksanaan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Ini menguatkan keterkaitan bid’ah dengan sisi keagamaan. Karena itu pelaku bid’ah mengarahkan tambahan-tambahan yang mereka lekatkan dan kaitkan dalam agama dengan tujuan untuk berlebihan dalam pelaksanaan ibadah. Seakan-akan tidak cukup bagi mereka dengan menunaikan apa yang telah ditetapkan Allah dalam syariat kepada mereka. Akibatnya mereka memandang hal yang sesuai dengan kemauan mereka adalah baik. Mereka menambahkan hal-hal lain terhadap apa yang telah disyariatkan Allah didasarkan pada inisiatif sendiri, demi memuaskan antusiasme menurut dugaan mereka dan membuka pintu tambahan dalam agam bagi mereka. Ini merupakan pintu keburukan yang saat dibuka, tidak akan tertutup lagi. Bahkan orang yang memasukinya selalu mengembangkan hingga agama menjadi sesuatu yang lain, bukan seperti yang disyariatkan Allah. Orang-orang pun mengaitkan berbagai ketentuan dan amalan dengan syariat agama yang melelahkan badan dan menyesakkan dada. Sementara manusia biasa tidak mampu untuk menanggungnya kecuali dengan kesulitan yang tidak biasa. Karena itu Allah mengajarkan kepada umat Islam untuk mengucapkan doa,

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan; Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 286)

Seakan-akan pelaku bid’ah ingin melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan yang disampaikan Muhammad saw, berupa kemudahan dalam menjalankan kewajiban dan adanya keringanan yang ditetapkan, bolehnya melanggar larangan dalam kondisi darurat, pengecualian bagi orang-orang yang berhalangan dan lainnya. Karena itu judul risalah beliau dalam kitab-kitab terdahulu bahwa beliau,

Yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-A’raaf: 157)

Demikianlah semboyan para pelaku bid’ah terhadap agama Allah. Mereka membatalkan apa yang disampaikan Nabi. Rasul mempermudah sementara mereka mempersulit, beliau meminimalissi beban kewajiban sementara mereka memperbanyak dan beliau memberi keringanan bagi umat sementara mereka memberatkan. Allah berfirman,

“Allah hendak mem,berikan keringanan kepadanu, karena manusia diciptakan brsifat lemah.” (an-Nisaa’: 28)

Sumber:

Buku “Bid’ah dalam Agama” karya Yusuf Qardhawi penerbit Gema Insani hal 177-180

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: