Archive for February, 2016

Toleransi dalam Perbedaan

Perbedaan pendapat antara kaum Muslim itu selalu ada. Akan tetapi, tentu bukan untuk dipertentangkan dan dipertajam. Apalagi saling menyesatkan dan mengafirkan! Bagaimanapun, sikap ekstrem, apalagi kepada sesama Muslim atas perbedaan furu’iyyah (cabang) adalah tanda ketidakdewasaan beragama. Atau jika perbedaan pandangan itu menjadi soal prinsip (ushuli) dari hasil konsekuensi  pilihan metodologi, sebaiknya masih bisa didialogkan. Toh, kebanyakan sasaran kritik adalah sesama Muslim yang masih berada di dalam garis-garis syariat Islam.

Alangkah baiknya jika perbedaan faham antara kaum Muslim ini diselesaikan dengan berdialog yang baik. Allah Swt. berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs Al-Nahl [16] : 125).

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. bersabda,”Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambungkanlah hubungan persaudaraan dan dirikanlah shalat di tengah malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan penuh keselamatan.”

Kunci masuk surga tidak cukup dengan hanya melakukan shalat tengah malam saja, tapi harus ada upaya untuk menyebarkan salam, memberi bantuan dan menyambung tali persaudaraan. Tanpa ketiga upaya ini, sebagian gerigi kunci surga telah hilang. Apabila perbedaan faham disikapi dengan saling sesat-menyesatkan, sudah tentu akan mengakibatkan permusuhan, membuat kesulitan, dan memutuskan tali persaudaraan.

Dakwah dengan mengolok-olok kelompok lain jelas bertentangan dengan firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah satu kelompok mengolok-olok kelompok lain, karena bisa jadi mereka yang diolok-olok itu justru lebih baik dari mereka yang mengolok-olok …. Janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barang siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang zalim (Qs Al-Hujurat [49]: 11).

Selain itu, juga bertentangan dengan hadis Nabi Saw., sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, “Seorang Mukmin terhadap Mukmin yang lain laksana bangunan, yang sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain.”

Sabdanya yang lain,”Barang siapa yang berkata pada saudaranya ‘hai kafir’, kata-kata itu akan kembali pada salah satu di antara keduanya. Jika tidak (artinya yang dituduh tidak demikian) maka kata itu kembali pada yang mengucapkan (yang menuduh)” (HR Bukhari dan Muslim).

Perhatikan juga hadis yang diriwayatkan Al-Thabrani dalam Al-Kabir, “Tahanlah diri kalian (jangan menyerang) orang ahli ‘La ilaha illallah'(yakni orang Muslim). JanganIah kalian mengafirkan mereka karena suatu dosa.”Dalam riwayat lain, dikatakan : “Janganlah kalian mengeluarkan mereka dari Islam karena suatu amal (perbuatan).”

Datam Al-Quran Surah Tha Ha ayat 43-44, Allah Swt. memerintahkan Nabi Musa dan Harun a.s. agar menemui Fir’aun-yang kafir dan melampaui batas-dan berucap kepadanya dengan kata-kata yang halus, barangkali dia (Fir’aun) bisa sadar kembali dan takut pada Allah Swt. Jika kepada Fir’aun, yang kafir dan melampaui batas, Allah memerintahkan untuk berdakwah dengan ucapan yang halus, apalagi dengan sesama Muslim.

Perhatikan hadis riwayat Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah r. a. yang mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh adakalanya seorang hamba berbicara sepatah kata yang tidak diperhatikan, tiba-tiba ia tergelincir ke dalam neraka oleh kalimat itu lebih jauh dari jarak antara timur dengan barat.”

Sumber:

Buku “Membongkar Kejumudan” karya A. Shihabuddin penerbit Noura Books hal viii-xi

Leave a comment

Pendapat Ulama tentang Qunut

Imam Syafi’i menyunnahkan qunut dalam shalat subuh dengan mengambil landasan hadis dari Anas bin Malik r, a. Anas r. a. pernah ditanya,”Apakah Nabi saw. berqunut dalam shalat subuh?”Ia (Anas r. a.) menjawab,”Ya. “Ditanya pula,”Sebelum rukuk atau sesudahnya?”Ia menjawab,”Sesudah rukuk” (HR Jamaah, kecuali Tirmidzi, dari ibnu Sirin). Juga Imam Syafi’i berdalil dengan hadis lainnya, dari Anas bin Malik r, a. :”Rasulullah Saw. itu selalu berqunut dalam shalat subuh, hingga meninggalkan dunia”(HR Ahmad, Bazzar, Daruquthni, dan disahihkan oleh Al-Baihaqi dan Al-Hakim). Imam Nawawi dalam kitabnya Adzkaru Al-Nawawiyyah mengomentari, bahwa hadis tersebut sahih.

Hadis dari Al-Barra’bin Azib r. a.:”Bahwa Nabi Saw. dahulu melakukan qunut pada shalat magrib dan subuh”(HR Ahmad, Muslim dan Al-Tirmidzi). Al-Tirmidzi menyahihkan hadis ini. Hadis ini diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dengan tanpa penyebutan shalat magrib. Imam Nawawi dalam Al-Majmu ll/505 mengatakan, Tidaklah mengapa meninggalkan qunut pada shalat magrib karena qunut bukanlah suatu yang wajib atau karena ijma’ulama telah menunjukkan bahwa qunut pada shalat magrib itu sudah mansukh yakni terhapus hukumnya,”

Seorang ulama golongan tabi’in, Imam Hasan Basri, berkata, Aku pernah shalat di belakang dua puluh delapan orang dari pahlawan Badar (Ahlul Badar), mereka semua melakukan qunut subuh sesudah rukuk (Irsyadu Al-Sari Syarh Al-Bukhari juz 3).

Al-Hafizh Al-Iraqi, guru ibnu Hajar, sebagaimana dikutip oleh Al-Qasthalani dalam Irsyadu Al-Sari Syarh Shahih Bukhari menjelaskan, bahwa qunut subuh itu diriwayatkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan ibnu Abbas r. a. Kemudian, beliau (Al-Hafizh) berkomentar,”Telah sah dari mereka (para sahabat) dalil tentang qunut tatkala terjadi pertentangan antara pendapat yang menetapkan dan meniadakan maka didahulukan pendapat yang menetapkan.”

Hadis dari Anas r. a. :”Bahwa Nabi saw. pernah qunut selama satu bulan sambit mendoakan kecelakaan atas mereka kemudian Nabi meninggalkannya. Adapun pada shalat subuh, Nabi senantiasa melakukan qunut hingga beliau meninggal dunia.” Di antara ulama yang mengakui kesahihan hadis ini adalah Hafizh Abu Abdillah Muhammad Ali Al-Bakhi dan Al-Hakim Abu Abdillah pada beberapa tempat di dalam kitabnya serta Imam Baihaqi. Hadis ini juga diriwayatkan pula oleh Daraquthni dari beberapa jalan dengan sanad-sanad yang sahih.

Hadis dari Awam bin Hamzah di mana beliau berkata,”Aku bertanya kepada Utsman tentang qunut pada shalat subuh. Beliau berkata.’Qunut itu sesudah rukuk.’Aku bertanya,’Fatwa siapa?’Beliau menjawab :’Fatwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiallahu’anhum'”(HR Baihaqi dan berkata hadis ini hasan). Baihaqi meriwayatkan hadis ini dari Umar dengan beberapa jalan.

Sumber:
Buku “Membongkar Kejumudan” karya A. Shihabuddin cet. I: Mei 2013 penerbit Noura Books hal. 121-122.

Leave a comment