Pendapat Ulama tentang Qunut

Imam Syafi’i menyunnahkan qunut dalam shalat subuh dengan mengambil landasan hadis dari Anas bin Malik r, a. Anas r. a. pernah ditanya,”Apakah Nabi saw. berqunut dalam shalat subuh?”Ia (Anas r. a.) menjawab,”Ya. “Ditanya pula,”Sebelum rukuk atau sesudahnya?”Ia menjawab,”Sesudah rukuk” (HR Jamaah, kecuali Tirmidzi, dari ibnu Sirin). Juga Imam Syafi’i berdalil dengan hadis lainnya, dari Anas bin Malik r, a. :”Rasulullah Saw. itu selalu berqunut dalam shalat subuh, hingga meninggalkan dunia”(HR Ahmad, Bazzar, Daruquthni, dan disahihkan oleh Al-Baihaqi dan Al-Hakim). Imam Nawawi dalam kitabnya Adzkaru Al-Nawawiyyah mengomentari, bahwa hadis tersebut sahih.

Hadis dari Al-Barra’bin Azib r. a.:”Bahwa Nabi Saw. dahulu melakukan qunut pada shalat magrib dan subuh”(HR Ahmad, Muslim dan Al-Tirmidzi). Al-Tirmidzi menyahihkan hadis ini. Hadis ini diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dengan tanpa penyebutan shalat magrib. Imam Nawawi dalam Al-Majmu ll/505 mengatakan, Tidaklah mengapa meninggalkan qunut pada shalat magrib karena qunut bukanlah suatu yang wajib atau karena ijma’ulama telah menunjukkan bahwa qunut pada shalat magrib itu sudah mansukh yakni terhapus hukumnya,”

Seorang ulama golongan tabi’in, Imam Hasan Basri, berkata, Aku pernah shalat di belakang dua puluh delapan orang dari pahlawan Badar (Ahlul Badar), mereka semua melakukan qunut subuh sesudah rukuk (Irsyadu Al-Sari Syarh Al-Bukhari juz 3).

Al-Hafizh Al-Iraqi, guru ibnu Hajar, sebagaimana dikutip oleh Al-Qasthalani dalam Irsyadu Al-Sari Syarh Shahih Bukhari menjelaskan, bahwa qunut subuh itu diriwayatkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan ibnu Abbas r. a. Kemudian, beliau (Al-Hafizh) berkomentar,”Telah sah dari mereka (para sahabat) dalil tentang qunut tatkala terjadi pertentangan antara pendapat yang menetapkan dan meniadakan maka didahulukan pendapat yang menetapkan.”

Hadis dari Anas r. a. :”Bahwa Nabi saw. pernah qunut selama satu bulan sambit mendoakan kecelakaan atas mereka kemudian Nabi meninggalkannya. Adapun pada shalat subuh, Nabi senantiasa melakukan qunut hingga beliau meninggal dunia.” Di antara ulama yang mengakui kesahihan hadis ini adalah Hafizh Abu Abdillah Muhammad Ali Al-Bakhi dan Al-Hakim Abu Abdillah pada beberapa tempat di dalam kitabnya serta Imam Baihaqi. Hadis ini juga diriwayatkan pula oleh Daraquthni dari beberapa jalan dengan sanad-sanad yang sahih.

Hadis dari Awam bin Hamzah di mana beliau berkata,”Aku bertanya kepada Utsman tentang qunut pada shalat subuh. Beliau berkata.’Qunut itu sesudah rukuk.’Aku bertanya,’Fatwa siapa?’Beliau menjawab :’Fatwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiallahu’anhum'”(HR Baihaqi dan berkata hadis ini hasan). Baihaqi meriwayatkan hadis ini dari Umar dengan beberapa jalan.

Sumber:
Buku “Membongkar Kejumudan” karya A. Shihabuddin cet. I: Mei 2013 penerbit Noura Books hal. 121-122.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: