Archive for May, 2016

Pendapat ulama atas sifat-sifat Allah Swt

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan di dalam Manaqib asy-Syafi’i, dari Yunus bin Abd al-‘A’la,”Aku telah mendengar asy-Syafi’i berkata ; Allah Swt. memiliki asma‘ (nama-nama) dan sifat-sifat yang tidak dapat dibantah oleh siapapun, Maka barang siapa yang menyelisihinya setelah adanya dalil yang menetapkannya, berarti dia telah terjerumus dalam kekafiran. Jika sebelum adanya dalil, berarti dia masih terbenam dalam kebodohan. Karena pengetahuan tentang hal itu tidak dapat dicerna dengan akal, periwayatan dan pemikiran. Oleh karena itu kita menyatakan ke-tsubut-an sifat-sifat ini dan menafikan pentasybihannya, sebagaimana Allah Swt. telah menafikan dari Dzat-Nya (tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat).

Di dalam kitab Jami’, at-Tirmidzi menjelaskan pada bab Fadhl ash-Shadaqah,” riwayat-riwayat mengenai sifat-sifat Allah Swt. semuanya tsabit. Kita beriman kepadanya dan tidak membuat banyak prasangka dan tidak pula mempertanyakan bagaimana-nya. ”

Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh imam Malik, lbnu Uyainah dan lbnu Mubarak, mereka semua menerima sifat-sifat Allah tanpa mempertanyakan bagaimana Allah menjalankan sifat-sifat-Nya tersebut. Inilah pendapat-pendapat para ulama dari kalangan ahli sunnah dan jamaah. Sedangkan kelompok al-Jahmiyah, mereka mengingkari keimanan semacam ini, mereka membuat berbagai penyerupaan akan sifat-sifat Allah.

Ishaq bin Rahawaihi berkata, “Penyerupaan akan sifat Allah terjadi apabila disebutkan; tangan-Nya seperti tangan ini, pendengaran-Nya seperti pendengaran ini.”Dia juga menjelaskan di dalam tafsir surat al-Maidah,”Para imam telah menyatakan bahwa kami beriman dengan hadits-hadits mengenai sifat Allah tanpa penafsiran. Di antara mereka adalah ats-Tsauri, Malik, lbnu Uyainah dan lbnu al-Mubarak.”

Ibnu Abd al-Barr berkata,”Ahli Sunnah telah sepakat mengimani sifat-sifat Allah yang terdapat di dalam al-Qur’an dan Sunnah dan mereka tidak mempertanyakan kayf-nya sifat-sifat tersebut. Sedangkan kelompok Jahmiyah, Mu’tazilah dan Khawarij mengatakan; barang siapa yang menyetujui sifat-sifat itu berarti dia telah menyerupakannya.”

Imam al-Haramain berpendapat di dalam ar-Risalah an-Nizhamiyah, “Ulama berbeda pendapat dalam fenomena ini, sebagian dari mereka membolehkan pentakwilannya. Sedangkan ulama salaf berkomitmen untuk tidak mentakwilkannya, menerima sebagaimana ia tertera secara zhahir dari sumber-sumbernya, dan menyerahkan sepenuhnya makna-makna kepada Allah Swt. Maka pendapat yang akan kita ambil dengan penuh keridhaan dan akidah yang kita yakini adalah sebagaimana pandangan ulama salaf. Hal ini berdasarkan dalil qath’i berupa ijma’umat. Kalau memang sekiranya kajian tentang pentakwilan sifat-sifat Allah ini merupakan suatu hal yang utama, niscaya perhatian mereka lebih terfokus kepada hal ini daripada terhadap cabang-cabang syariat. Jika periode generasi sahabat dan tabi’in berakhir menghindari pentakwilan, langkah mereka merupakan tuntunan yang  harus diikuti”(Lihat Fath al-Bari, hal. 13, 342, 343, cet. Al-Amiriyah).

Sumber:

Buku “The History of Hadith” Historiografi Hadits Nabi dari Masa ke Masa”, karya Prof. Muhammad Abu Zahw, penerbit Keira Publishing, cetakan pertama Juli 2015 hal.174-175

 

 

Advertisements

Leave a comment

Keanekaragaman lafazh-lafazh hadits yang masih satu makna

Merupakan suatu kesalahan yang sangat nyata, jika menyandarkan perbedaan Lafah-lafazh hadits yang masih satu makna, terjadi hanya akibat periwayatan secara makna. Akan tetapi hal itu juga kembali kepada faktor banyaknya majelis Rasulullah Saw. di berbagai tempat, waktu, peristiwa dan momen yang berbeda. Di samping itu mereka yang mendengarkan, meminta fatwa, bertikai, meminta keputusan hukum, yang didelegasikan dan utusan yang datang, semuanya adalah orang-orang yang berbeda. Maka ketika beliau menyampaikan di berbagai tempat, waktu, dan pendengar yang berbeda itu, sudah barang tentu lafazh beliau pun berbeda-beda, ada yang ringkas, ada yang panjang lebar, ada yang tersurat dan ada yang tersirat, ada kalimat yang diakhirkan dan adapula yang didahulukan, ada yang ditambah adapula yang dikurangi, sesuai dengan tuntutan kondisi yang beliau hadapi.
Contohnya, ketika ada yang bertanya mengenai amalan yang paling afdhal, maka beliau akan memberikan jawaban yang tidak sama kepada setiap penanya. Atau beliau ditanya tentang jihad yang paling utama, maka beliau akan menjawab kepada orang yang bertanya berdasarkan jenis kebaikan yang dia maksudkan, dan itu akan berbeda dengan jawaban yang diinginkan oleh penanya lainnya. Demikian seterusnya.

Lantas, orang yang tidak memiliki pengetahuan luas dan mendalam tentang hal ini akan mengira bahwa terdapat banyak pertentangan di dalam hadits-hadits Rasul, atau para perawi yang meriwayatkannya tidak memiliki ketepatan dan ketelitian hafalan. Padahal tidak demikian kenyataannya. RasululLah Saw. Adalah sosok yang mengobati setiap jiwa yang haus akan nasihat dan ilmu, karenanya beliau selalu sedia menjawab setiap pertanyaan orang bertanya kepada beliau, apalagi jika terkait dengan manfaat bagi banyak orang.

Sebagai contoh, coba Anda perhatikan lafazh-lafazh azan, iqamah dan tasyahhud serta beberapa zikir dan doa di dalam shalat dan setelah shalat. Para perawi yang meriwayatkannya adalah orang-orang yang adil dan kredibel. Namun bagi mereka yang tidak mengetahui akan mengira bahwa itu merupakan pertentangan di dalam hadits, atau perawinya yang tidak dhabit dalam meriwayatkannya, atau itu disebabkan faktor periwayatan secara makna. Padahal realitanya, semua itu merupakan hasil dari ajaran Rasulullah Saw., adapun keanekaan lafazh yang ada menandakan bahwa semuanya boleh digunakan, itu adalah keringanan dan keleluasaan yang diberikan kepada umat.

Lalu perhatikan pula wasiat-wasiat yang beliau berikan kepada para utusan dan delegasi yang dikirim ke berbagai wilayah untuk mengajarkan Islam. Juga perhatikan surat-surat yang beliau kirimkan kepada para raja dan pemimpin bangsa lainnya. Maka Anda akan mendapatkan bahwa semua yang beliau sampaikan dipenuhi oleh berbagai nasihat dan ajaran, dengan cara penyampaian yang berbeda, sesuai dengan kondisi dan peristiwa yang beliau hadapi, juga sesuai dengan kemampuan orang menerimanya.
Rasulullah Saw. telah menyampaikan khutbah di berbagai kesempatan, ketika hari raya, peperangan dan berbagai peristiwa penting dan besar lainnya. Di dalamnya, beliau memberikan peringatan, kabar gembira, petunjuk, akidah islam, hukum-hukum agama, gambaran tentang surga dan neraka, tanda-tanda kiamat, adzab kubur. Dalam menyampaikan semua itu, tentunya lafazh beliau berbeda-beda sesuai dengan momen yang berlangsung.

Majelis-majelis Rasulullah, baik di kala bepergian atau pun tidak, dipenuhi oleh berbagai penjelasan hukum, mengingatkan akan kesalahan, dan mengajak kepada ketakwaan kepada Allah, mengajak kepada akhlak yang terpuji dan menjauhi perilaku tercela, menceritakan tentang kondisi umat-umat terdahulu untuk dipetik pelajaran dari apa yang telah mereka alami. Ketika menyampaikannya, beliau sangat memperhatikan kondisi para pendengarnya, kadang dengan panjang lebar, terkadang secara ringkas, kadang secara lugas dan kadang dengan bahasa yang tersirat.

Dari semua yang telah kami jelaskan ini, apakah Anda melihat adanya pertentangan di dalam hadits-hadits RasululIah Saw. yang beragam lafazhnya. Ataukah Anda masih mengira bahwa para perawinya yang tidak kredibel, sehingga mereka memudahkan diri dengan hanya meriwayatkan secara makna, sehingga akhirnya terjadi banyak perbedaan dan pertentangan lafazh. Sungguh yang demikian tidak ada sama sekali. Semua perbedaan dan keragamaan lafazh yang ada adalah semata-mata karena metode pengajaran dan kondisi momen yang berbeda.

Untuk mencari perbandingan, silahkan Anda lihat di datam al-Qur’an. Kitab yang terbebas dari segala kebatilan dan penyimpangan. Di dalamnya terdapat kisah tentang seorang Nabi. Namun kisah tersebut disebutkan dalam beberapa surat yang berbeda dan dengan sisi cerita yang beragam. Terkadang diceritakan secara lengkap dan utuh, kadang secara ringkas, dan terkadang hanya dari salah satu sudut cerita, sementara sudut cerita lainnya dimuat dalam surat yang berbeda. Hal ini dapat Anda lihat kisah Nabi Adam, Nuh,Ibrahim, Musa dan lsa alaihim assalam. Lalu meski demikian, apakah Anda menemukan di sana adanya pertentangan dan perselisihan cerita?!, Semua itu merupakan kebenaran yang disampaikan dari sisi Allah, antara satu penggalan kisah dengan yang lainnya saling menguatkan. Penggalan yang global diuraikan oleh penggalan kisah yang lebih terperinci. Ya  semua itu adalah karena perbedaan maqom (tempat) dan kondisi penyampaian. Semuanya berasal dari sisi Tuhan kita.

Sumber:

Buku “The History of Hadith” Historiografi Hadits Nabi dari Masa ke Masa”, karya Prof. Muhammad Abu Zahw, penerbit Keira Publishing, cetakan pertama Juli 2015 hal.169-170

Leave a comment

Mengapa Bukhari-Muslim tidak mencantumkan Imam Mazhab dalam haditsnya?

Al-Ustadz al-Muhaddits Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari ketika mengomentari Syuruth al-‘Aimmah al-Khomsah, karya Hazimi berkata :”Yang perlu diperhatikan adalah bahwa as-syaikhani (Bukhari dan Muslim) tidak menulis dalam kitab shahih keduanya, satu haditspun dari haditsnya Imam Abu Hanifah, walaupun mereka berdua bertemu dengan shabat-sahabat dari sahabat-sahabat kecilnya. Demikian pula mereka berdua tidak mencantumkan haditsnya Imam Syafi’i, meskipun mereka berdua bertemu dengan sebagian sahabat-sahabatnya. Al-Bukhari juga tidak mencantumkan hadits-haditsnya Imam Ahmad, kecuali hanya dua hadits, yang pertama sebagai komentar dan yang lainnya bukan hadits utama, padahal ia bertemu dengannya dan terus meyertai.

Muslim juga sedikitpun tidak mencantumkan dalam haditsnya satu hadits pun dari al-Bukhari, padahal ia selalu menyertainya dan mencontoh apa yang dilakukannya. Demikian pula ia tidak mencantumkan hadits dari Ahmad, kecuali hanya sekitar tiga puluh hadits. Ahmad juga tidak mencantumkan dalam musnad-nya hadits dari Malik, Nafi, dan Syafi’i padahal ia adalah jalur yang paling shahih, atau termasuk yang paling shahih-kecuali hanya empat hadits saja. Dan apa yang diriwayatkannya dari Syafi’i dengan tidak melalui jalur ini tidak lebih dari dua puluh hadits, padahal ia belajar kepadanya dan mendengar riwayat Muwattha‘ karya Imam Malik darinya dan memasukan ke dalam para perawi hadits dalam madzhab lamanya.

Al-Ustadz berkata :”Yang tampak dari sikap keberagamaan dan keterpercayaan mereka, menunjukan bahwa mereka melihat hadits-hadits tersebut (hadits-hadits para perawi yang haditsnya tidak dicantumkan) dalam kondisi aman dari kepunahan, karena banyak tokoh-tokoh yang meriwayatkannya, baik di bagian timur atau barat. Sementara itu, perhatian besar para penulis diwan-diwan hadits, tercurah pada para perawi yang hadits-haditsnya dianggap akan hilang. Karena itu, usaha mereka dibutuhkan untuk diwan-diwan hadits mereka, dibutuhkan untuk hadits-hadits mereka (para perawi yang hadits-haditsnya tidak terjaga), bukan untuk hadits-hadits mereka (para perawi yang hadits-haditsnya sudah terjaga).

AL-Ustadz kembali berkata :”Siapa yang menduga bahwa hal tersebut dalam rangka untuk menjaga mereka terhadap hadits-hadits mereka, atau karena pendapat yang ditulis dalam kitab al-jarh tentang imam-imam tersebut, seperti pendapat at-Tsauri tentang Abu Hanifah, atau pendapat lbnu Main tentang Syafi’i, atau pendapat al-Karabisi tentang Ahmad, atau pendapat adz-Dzuhli tentang al-Bukhari, dan yang sejenisnya. Penilaian mereka terlalu berlebihan.

Yang benar menurut kami, berdasarkan pendapat al-Hakim dan yang lainnya, bahwa al-Bukhari dan Muslim, atau salah satunya kenapa tidak mencantumkan hadits Imam yang terpercaya karena beberapa sebab, di antaranya :

Bisa jadi ada kelemahan dalam isnad yang ada di antara dirinya dan pengarang kitab hadits shahih, maka ia tidak meriwayatkan hadits tersebut dari jalurnya

Bisa jadi seorang imam yang haditsnya tidak dicantumkan, ia memiliki sahabat-sahabat (murid-murid) yang hebat, yang menjaga ilmu dan haditsnya, maka tidak ada ketakutan bahwa riwayat-riwayatnya akan hilang. Dengan demikian, sang pemilik kitab hadits shahih tidak mengambil riwayat darinya

Mencari tingkatan isnad yang tinggi. Kemungkinan hadits yang diriwayatkan dari jalur imam tersebut tingkatannya rendah, sedangkan dari jalur perawi-perawi terpercaya lainnya cukup tinggi, maka sudah barang tentu seorang penyusun kitab hadits shahih akan memilih isnad yang lebih tinggi, karena dianggap dekat dengan Rasulullah Saw.

Sumber:

Buku “The History of Hadith” Historiografi Hadits Nabi dari Masa ke Masa”, karya Prof. Muhammad Abu Zahw, penerbit Keira Publishing, cetakan pertama Juli 2015 hal.320-321

Leave a comment

Bukhari dan Muslim tidak menuliskan keseluruhan Hadits Shahih dalam kitabnya

Para hafidz dan imam hadits menyimpulkan, bahwa al-Bukhari dan Muslim tidak memasukan semua hadits-hadits shahih dalam kitab shahih keduanya. Mereka meriwayatkan dari al-Bukhari, bahwasanya ia pernah mengatakan,”Aku tidak memasukan dalam al-Jami as-Shahih kecuali yang shahih, dan meninggalkan hadis-hadits shahih lainnya karena takut terlalu panjang.”Ia juga mengatakan,”Aku hafal seratus ribu hadits shahih, dan hafal dua ratus ribu hadits yang tidak shahih.”Ia juga mengatakan,”Aku pernah berada di dekat Ishak bin Rahaweih, ketika itu ia berkata : ‘seandainya aku bisa mengumpulkan untuk mereka hadits-hadits Rasulullah Saw.’Ia (al-Bukhari) berkata : ‘Hal tersebut mengena dalam hatiku, maka segera aku mengumpulkan hadits-hadits shahih dalam kitab al-jami’ as-shahih.'”

Mereka juga meriwayatkan dari Muslim, ia pernah berkata :”Tidak semua yang menurutku hadits shahih aku tuliskan di sini. Tapi yang aku tuliskan di sini itu yang disepakati bersama kesahihannya.”

Mereka juga meriwayatkan, bahwasanya Muslim ketika ditegur terkait dengan apa yang dilakukannya dalam mengumpukan hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dan dikatakan kepadanya bahwa hal tersebut memberi jalan bagi para ahli bid’ah untuk mengomentari kami, di mana mereka dapat mengatakan ketika diberikan hujjah berupa hadits :”Ini tidak ada di dalam kitab shahih, ia (Muslim berkata) :”Ketika aku menulis kitab ini, dan itu berupa hadits-hadits shahih, tidak berarti bahwa hadits yang tidak aku tulis dalam kitab ini tidak shahih.”

Dengan demikian, dapat disimpulkan sebagai berikut :

Pertama, tidak ada alasan yang mengharuskan keduanya terkait dengan pencantuman hadits-hadits yang belum dimuat oleh keduanya, meskipun hadits-hadits tersebut memenuhi syarat shahih dari keduanya, seperti ad-Daruquthni, al-Baehaqi, dan lbnu Hibban. Diriwayatkan dari lbnu Hibban bahwa ia pernah berkata :”Al-Bukhari harus ditanya kenapa ia tidak menulis hadits-hadits yang dianggap shahih berdasarkan kriterianya.”Ad-Daruquthni dan yang lainnya juga pernah menyebutkan bahwa sejumlah sahabat meriwayatkan dari RasululIah Saw., kemudian hadits-hadits mereka diriwayatkan dari jalur yang sahih, yang tidak ada cela dalam diri para perawinya, tapi mereka berdua sedikit pun tidak mengambil hadits-hadits mereka, maka ia mewajibkan bagi mereka berdua agar tetap pada madzhab masing-masing. Al-Baehaqi menuturkan, bahwa mereka berdua sepakat atas hadits-hadits yang bersumber dari catatan Humam bin Mambah, tapi keduanya meriwaytkan sendiri-sendiri hadits dari catatannya, meskipun sanad-sanadnya sama.

Ad-Daruquthni dan Ab Dzar al-Harawi juga menyusun sebuah kitab dalam masalah ini yang menuntut keduanya untuk menerapkan ini. Tetapi hal ini sebetulnya tidak harus sebagaimana yang sudah kami sampaikan-untuk memasukan semua hadits yang shahih.

Bahkan sudah jelas, berdasarkan keterangan dari mereka berdua bahwa keduanya tidak memasukan semua hadits shahih, karena tujuannya adalah untuk mengumpulkan sebagian saja dari hadits yang shahih, sebagaimana seorang pengarang dalam masalah fiqih, dia hanya mengumpulkan sebagian masalah-masalahnya saja.

Kedua, seorang perawi yang tidak dicantumkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka, tidak lantas menunjukan kecacatannya, atau kelemahannya ; karena keduanya, sebagaimana tidak memasukan semua hadits shahih, demikian pula tidak memasukkan semua perawi yang memenuhi kriteria penerimaan dan kesahihan. Jumlah mereka sangat banyak, mencapai lebih dari seribu tiga puluh orang. Karena di dalam kitab Tarikh al-Bukhari saja memuat sekitar empat puluh ribu lebih. Sementara itu, kitabnya yang menjelaskan tentang ad-Dhuafa (orang-orang yang lemah hafalannya) di bawah tujuh ratus orang, sedangkan perawi yang ia tulis dalam kitabnya kurang dari dua ribu. Demikian sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hafidz al-Hazimi dalam kriteria-kriteria shahih yang ditentukan oleh imam yang lima.

Sumber:

Buku “The History of Hadith” Historiografi Hadits Nabi dari Masa ke Masa”, karya Prof. Muhammad Abu Zahw, penerbit Keira Publishing, cetakan pertama Juli 2015 hal.318-319

Leave a comment

Mengapa Sunnah tidak ditulis di masa Rasulullah sebagaimana al-Qur’an?

Ketahuilah, bahwa penulisan al-Qur’an di bawah pengawasan Rasulullah Saw. merupakan perintah wahyu yang diturunkan Allah Swt. Karena al-Qur’an merupakan mukjizat, dan membacanya bernilai ibadah di sisi Allah Swt. Sebab itulah maka ia tidak boleh diriwayatkan secara makna. Lafazh otentik al-Qur’an harus benar-benar terpelihara sebagaimana ia diturunkan. Kalau tidak ditulis dan hanya mengandalkan kekuatan memori orang-orang Arab, maka ia menjadi tidak aman dari pengurangan dan penambahan walau hanya satu huruf. Bahkan bisa jadi ada kata atau kalimat yang diganti dan diubah.

Demikian juga dengan tidak ditulisnya hadits di hadapan Rasulullah Saw., itu juga merupakan perintah wahyu dari Allah Swt. Karena yang diinginkan dari hadits adalah subtansi maknanya bukan lafazhnya, sebab itulah membaca hadits tidak bernilai ibadah, dan susunan kalimatnya pun bukanlah mukjizat sebagaimana al-Qur’an, serta ia boleh diriwayatkan secara makna.

Jadi, pemeliharaan keotentikan lafazh al-Qur’an merupakan pemeliharaan terhadap syariat, sedangkan pembolehan riwayat hadits secara makna merupakan keringanan dan kemudahan bagi umat ini dalam proses periwayatan dan penyampaiannya. Kalau sekiranya sunnah harus diriwayatkan dan disampaikan persis seperti yang terdengar langsung dari Rasulullah, niscaya akan memberatkan dan menyulitkan umat ini. Sebaliknya, jika al-Qur’an diperbolehkan diriwayatkan secara makna seperti hadits, niscaya jiwa kita tidak akan tenang dalam mempercayai syariat ini, bahkan akan menjadi celah bagi kaum zindiq dan mulhid dalam mencela Islam, di mana mereka akan mengatakan:”sulit bagi kami untuk mempercayainya diturunkan dari AIlah.”

Dengan demikian, AIlah Swt. telah memelihara kemurnian syariat dan di sisi lain juga memberikan keringanan bagi umat.

Anda tidak perlu khawatir, karena periwayatan hadits secara makna hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang mumpuni di bidang bahasa Arab dan cabang-cabangnya, dan pakar di bidang syariat serta tujuan-tujuannya. Mereka harus benar-benar pakar di dua bidang itu. Disamping itu, hadits yang hendak diriwayatkan secara makna pun tidak boleh yang redaksinya berstatus “jawami’ al-Kalim”, bukan pula yang lafazhnya bernilai ibadah seperti hadits-hadits doa. Jadi jika perawi tidak memiliki pengetahuan tentang gaya bahasa Arab, kurang mumpuni di bidang syariah dan maqashidnya, atau hadits yang dimaksud termasuk kategori jawami al-Kalim, atau juga hadits-hadits doa yang lafazhnya bernilai ibadah, atau memang sudah dihafal dengan baik oleh rawi, maka dalam kondisi-kondisi semacam ini tidak diperbolehkan periwayatan hadits secara makna.

Jika setelah penjelasan ini, masih ada yang bersikeras bahwa tidak ditulisnya hadits ketika Rasulullah Saw. masih hidup di tengah kaum muslimin, akan melunturkan kepercayaan terhadap hadits tersebut. Maka untuk menjawabnya kami akan sampaikan bahwa, pendapat seperti ini tak ubahnya seperti menuduh Nabi Saw. tidak optimal dalam menyampaikan wahyu Ilahi. Atau dengan kata lain, pendapat semacam ini bermakna bahwa sunnah bukan bagian dari agama. Sungguh, baik yang pertama maupun yang kedua, dari pendapat semacam ini, merupakan bukti nyata kesesatan dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman.

Sumber:
Buku “The History of Hadith” karya Prof. Muhammad Abu Zahw penerbit Keira Publishing cetakan I hal 184-185

Leave a comment