Keanekaragaman lafazh-lafazh hadits yang masih satu makna

Merupakan suatu kesalahan yang sangat nyata, jika menyandarkan perbedaan Lafah-lafazh hadits yang masih satu makna, terjadi hanya akibat periwayatan secara makna. Akan tetapi hal itu juga kembali kepada faktor banyaknya majelis Rasulullah Saw. di berbagai tempat, waktu, peristiwa dan momen yang berbeda. Di samping itu mereka yang mendengarkan, meminta fatwa, bertikai, meminta keputusan hukum, yang didelegasikan dan utusan yang datang, semuanya adalah orang-orang yang berbeda. Maka ketika beliau menyampaikan di berbagai tempat, waktu, dan pendengar yang berbeda itu, sudah barang tentu lafazh beliau pun berbeda-beda, ada yang ringkas, ada yang panjang lebar, ada yang tersurat dan ada yang tersirat, ada kalimat yang diakhirkan dan adapula yang didahulukan, ada yang ditambah adapula yang dikurangi, sesuai dengan tuntutan kondisi yang beliau hadapi.
Contohnya, ketika ada yang bertanya mengenai amalan yang paling afdhal, maka beliau akan memberikan jawaban yang tidak sama kepada setiap penanya. Atau beliau ditanya tentang jihad yang paling utama, maka beliau akan menjawab kepada orang yang bertanya berdasarkan jenis kebaikan yang dia maksudkan, dan itu akan berbeda dengan jawaban yang diinginkan oleh penanya lainnya. Demikian seterusnya.

Lantas, orang yang tidak memiliki pengetahuan luas dan mendalam tentang hal ini akan mengira bahwa terdapat banyak pertentangan di dalam hadits-hadits Rasul, atau para perawi yang meriwayatkannya tidak memiliki ketepatan dan ketelitian hafalan. Padahal tidak demikian kenyataannya. RasululLah Saw. Adalah sosok yang mengobati setiap jiwa yang haus akan nasihat dan ilmu, karenanya beliau selalu sedia menjawab setiap pertanyaan orang bertanya kepada beliau, apalagi jika terkait dengan manfaat bagi banyak orang.

Sebagai contoh, coba Anda perhatikan lafazh-lafazh azan, iqamah dan tasyahhud serta beberapa zikir dan doa di dalam shalat dan setelah shalat. Para perawi yang meriwayatkannya adalah orang-orang yang adil dan kredibel. Namun bagi mereka yang tidak mengetahui akan mengira bahwa itu merupakan pertentangan di dalam hadits, atau perawinya yang tidak dhabit dalam meriwayatkannya, atau itu disebabkan faktor periwayatan secara makna. Padahal realitanya, semua itu merupakan hasil dari ajaran Rasulullah Saw., adapun keanekaan lafazh yang ada menandakan bahwa semuanya boleh digunakan, itu adalah keringanan dan keleluasaan yang diberikan kepada umat.

Lalu perhatikan pula wasiat-wasiat yang beliau berikan kepada para utusan dan delegasi yang dikirim ke berbagai wilayah untuk mengajarkan Islam. Juga perhatikan surat-surat yang beliau kirimkan kepada para raja dan pemimpin bangsa lainnya. Maka Anda akan mendapatkan bahwa semua yang beliau sampaikan dipenuhi oleh berbagai nasihat dan ajaran, dengan cara penyampaian yang berbeda, sesuai dengan kondisi dan peristiwa yang beliau hadapi, juga sesuai dengan kemampuan orang menerimanya.
Rasulullah Saw. telah menyampaikan khutbah di berbagai kesempatan, ketika hari raya, peperangan dan berbagai peristiwa penting dan besar lainnya. Di dalamnya, beliau memberikan peringatan, kabar gembira, petunjuk, akidah islam, hukum-hukum agama, gambaran tentang surga dan neraka, tanda-tanda kiamat, adzab kubur. Dalam menyampaikan semua itu, tentunya lafazh beliau berbeda-beda sesuai dengan momen yang berlangsung.

Majelis-majelis Rasulullah, baik di kala bepergian atau pun tidak, dipenuhi oleh berbagai penjelasan hukum, mengingatkan akan kesalahan, dan mengajak kepada ketakwaan kepada Allah, mengajak kepada akhlak yang terpuji dan menjauhi perilaku tercela, menceritakan tentang kondisi umat-umat terdahulu untuk dipetik pelajaran dari apa yang telah mereka alami. Ketika menyampaikannya, beliau sangat memperhatikan kondisi para pendengarnya, kadang dengan panjang lebar, terkadang secara ringkas, kadang secara lugas dan kadang dengan bahasa yang tersirat.

Dari semua yang telah kami jelaskan ini, apakah Anda melihat adanya pertentangan di dalam hadits-hadits RasululIah Saw. yang beragam lafazhnya. Ataukah Anda masih mengira bahwa para perawinya yang tidak kredibel, sehingga mereka memudahkan diri dengan hanya meriwayatkan secara makna, sehingga akhirnya terjadi banyak perbedaan dan pertentangan lafazh. Sungguh yang demikian tidak ada sama sekali. Semua perbedaan dan keragamaan lafazh yang ada adalah semata-mata karena metode pengajaran dan kondisi momen yang berbeda.

Untuk mencari perbandingan, silahkan Anda lihat di datam al-Qur’an. Kitab yang terbebas dari segala kebatilan dan penyimpangan. Di dalamnya terdapat kisah tentang seorang Nabi. Namun kisah tersebut disebutkan dalam beberapa surat yang berbeda dan dengan sisi cerita yang beragam. Terkadang diceritakan secara lengkap dan utuh, kadang secara ringkas, dan terkadang hanya dari salah satu sudut cerita, sementara sudut cerita lainnya dimuat dalam surat yang berbeda. Hal ini dapat Anda lihat kisah Nabi Adam, Nuh,Ibrahim, Musa dan lsa alaihim assalam. Lalu meski demikian, apakah Anda menemukan di sana adanya pertentangan dan perselisihan cerita?!, Semua itu merupakan kebenaran yang disampaikan dari sisi Allah, antara satu penggalan kisah dengan yang lainnya saling menguatkan. Penggalan yang global diuraikan oleh penggalan kisah yang lebih terperinci. Ya  semua itu adalah karena perbedaan maqom (tempat) dan kondisi penyampaian. Semuanya berasal dari sisi Tuhan kita.

Sumber:

Buku “The History of Hadith” Historiografi Hadits Nabi dari Masa ke Masa”, karya Prof. Muhammad Abu Zahw, penerbit Keira Publishing, cetakan pertama Juli 2015 hal.169-170

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: