Pendapat ulama atas sifat-sifat Allah Swt

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan di dalam Manaqib asy-Syafi’i, dari Yunus bin Abd al-‘A’la,”Aku telah mendengar asy-Syafi’i berkata ; Allah Swt. memiliki asma‘ (nama-nama) dan sifat-sifat yang tidak dapat dibantah oleh siapapun, Maka barang siapa yang menyelisihinya setelah adanya dalil yang menetapkannya, berarti dia telah terjerumus dalam kekafiran. Jika sebelum adanya dalil, berarti dia masih terbenam dalam kebodohan. Karena pengetahuan tentang hal itu tidak dapat dicerna dengan akal, periwayatan dan pemikiran. Oleh karena itu kita menyatakan ke-tsubut-an sifat-sifat ini dan menafikan pentasybihannya, sebagaimana Allah Swt. telah menafikan dari Dzat-Nya (tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat).

Di dalam kitab Jami’, at-Tirmidzi menjelaskan pada bab Fadhl ash-Shadaqah,” riwayat-riwayat mengenai sifat-sifat Allah Swt. semuanya tsabit. Kita beriman kepadanya dan tidak membuat banyak prasangka dan tidak pula mempertanyakan bagaimana-nya. ”

Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh imam Malik, lbnu Uyainah dan lbnu Mubarak, mereka semua menerima sifat-sifat Allah tanpa mempertanyakan bagaimana Allah menjalankan sifat-sifat-Nya tersebut. Inilah pendapat-pendapat para ulama dari kalangan ahli sunnah dan jamaah. Sedangkan kelompok al-Jahmiyah, mereka mengingkari keimanan semacam ini, mereka membuat berbagai penyerupaan akan sifat-sifat Allah.

Ishaq bin Rahawaihi berkata, “Penyerupaan akan sifat Allah terjadi apabila disebutkan; tangan-Nya seperti tangan ini, pendengaran-Nya seperti pendengaran ini.”Dia juga menjelaskan di dalam tafsir surat al-Maidah,”Para imam telah menyatakan bahwa kami beriman dengan hadits-hadits mengenai sifat Allah tanpa penafsiran. Di antara mereka adalah ats-Tsauri, Malik, lbnu Uyainah dan lbnu al-Mubarak.”

Ibnu Abd al-Barr berkata,”Ahli Sunnah telah sepakat mengimani sifat-sifat Allah yang terdapat di dalam al-Qur’an dan Sunnah dan mereka tidak mempertanyakan kayf-nya sifat-sifat tersebut. Sedangkan kelompok Jahmiyah, Mu’tazilah dan Khawarij mengatakan; barang siapa yang menyetujui sifat-sifat itu berarti dia telah menyerupakannya.”

Imam al-Haramain berpendapat di dalam ar-Risalah an-Nizhamiyah, “Ulama berbeda pendapat dalam fenomena ini, sebagian dari mereka membolehkan pentakwilannya. Sedangkan ulama salaf berkomitmen untuk tidak mentakwilkannya, menerima sebagaimana ia tertera secara zhahir dari sumber-sumbernya, dan menyerahkan sepenuhnya makna-makna kepada Allah Swt. Maka pendapat yang akan kita ambil dengan penuh keridhaan dan akidah yang kita yakini adalah sebagaimana pandangan ulama salaf. Hal ini berdasarkan dalil qath’i berupa ijma’umat. Kalau memang sekiranya kajian tentang pentakwilan sifat-sifat Allah ini merupakan suatu hal yang utama, niscaya perhatian mereka lebih terfokus kepada hal ini daripada terhadap cabang-cabang syariat. Jika periode generasi sahabat dan tabi’in berakhir menghindari pentakwilan, langkah mereka merupakan tuntunan yang  harus diikuti”(Lihat Fath al-Bari, hal. 13, 342, 343, cet. Al-Amiriyah).

Sumber:

Buku “The History of Hadith” Historiografi Hadits Nabi dari Masa ke Masa”, karya Prof. Muhammad Abu Zahw, penerbit Keira Publishing, cetakan pertama Juli 2015 hal.174-175

 

 

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: