Mengapa Sunnah tidak ditulis di masa Rasulullah sebagaimana al-Qur’an?

Ketahuilah, bahwa penulisan al-Qur’an di bawah pengawasan Rasulullah Saw. merupakan perintah wahyu yang diturunkan Allah Swt. Karena al-Qur’an merupakan mukjizat, dan membacanya bernilai ibadah di sisi Allah Swt. Sebab itulah maka ia tidak boleh diriwayatkan secara makna. Lafazh otentik al-Qur’an harus benar-benar terpelihara sebagaimana ia diturunkan. Kalau tidak ditulis dan hanya mengandalkan kekuatan memori orang-orang Arab, maka ia menjadi tidak aman dari pengurangan dan penambahan walau hanya satu huruf. Bahkan bisa jadi ada kata atau kalimat yang diganti dan diubah. 

Demikian juga dengan tidak ditulisnya hadits di hadapan Rasulullah Saw., itu juga merupakan perintah wahyu dari Allah Swt. Karena yang diinginkan dari hadits adalah subtansi maknanya bukan lafazhnya, sebab itulah membaca hadits tidak bernilai ibadah, dan susunan kalimatnya pun bukanlah mukjizat sebagaimana al-Qur’an, serta ia boleh diriwayatkan secara makna. 

Jadi, pemeliharaan keotentikan lafazh al-Qur’an merupakan pemeliharaan terhadap syariat, sedangkan pembolehan riwayat hadits secara makna merupakan keringanan dan kemudahan bagi umat ini dalam proses periwayatan dan penyampaiannya. Kalau sekiranya sunnah harus diriwayatkan dan disampaikan persis seperti yang terdengar langsung dari Rasulullah, niscaya akan memberatkan dan menyulitkan umat ini. Sebaliknya, jika al-Qur’an diperbolehkan diriwayatkan secara makna seperti hadits, niscaya jiwa kita tidak akan tenang dalam mempercayai syariat ini, bahkan akan menjadi celah bagi kaum zindiq dan mulhid dalam mencela Islam, di mana mereka akan mengatakan:”sulit bagi kami untuk mempercayainya diturunkan dari AIlah.” 

Dengan demikian, Allah Swt. telah memelihara kemurnian syariat dan di sisi lain juga memberikan keringanan bagi umat. 

Anda tidak perlu khawatir, karena periwayatan hadits secara makna hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang mumpuni di bidang bahasa Arab dan cabang-cabangnya, dan pakar di bidang syariat serta tujuan-tujuannya. Mereka harus benar-benar pakar di dua bidang itu. Disamping itu, hadits yang hendak diriwayatkan secara makna pun tidak boleh yang redaksinya berstatus “jawami’ al-Kalim“, bukan pula yang lafazhnya bernilai ibadah seperti hadits-hadits doa. Jadi jika perawi tidak memiliki pengetahuan tentang gaya bahasa Arab, kurang mumpuni di bidang syariah dan maqashidnya, atau hadits yang dimaksud termasuk kategori jawami al-Kalim, atau juga hadits-hadits doa yang lafazhnya bernilai ibadah, atau memang sudah dihafal dengan baik oleh rawi, maka dalam kondisi-kondisi semacam ini tidak diperbolehkan periwayatan hadits secara makna. 

Jika setelah penjelasan ini, masih ada yang bersikeras bahwa tidak ditulisnya hadits ketika Rasulullah Saw. masih hidup di tengah kaum muslimin, akan melunturkan kepercayaan terhadap hadits tersebut. Maka untuk menjawabnya kami akan sampaikan bahwa, pendapat seperti ini tak ubahnya seperti menuduh Nabi Saw. tidak optimal dalam menyampaikan wahyu Ilahi. Atau dengan kata lain, pendapat semacam ini bermakna bahwa sunnah bukan bagian dari agama. Sungguh, baik yang pertama maupun yang kedua, dari pendapat semacam ini, merupakan bukti nyata kesesatan dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman. 

Sumber:

Buku “The History of Hadith” karya Prof. Muhammad Abu Zahw penerbit Keira Publishing cetakan I hal 184-185

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: