Archive for November, 2016

Pembagian Haram

  1. Haram li-dzatih

Yaitu perbuatan yang diharamkan oleh Allah, karena bahaya tersebut terdapat dalam perbuatan itu sendiri. Seperti makan bangkai, minum khamr, berzina, mencuri yang bahayanya berhubungan langsung dengan lima hal yang harus dijaga (ad-Dharuriyat al-Khams), yakni badan, keturunan, harta benda, akal dan agama. Perbuatan yang diharamkan li-dzatih adalah bersentuhan langsung dengan salah satu dari lima hal ini. Sedangkan yang dimaksud dharury ialah sesuatu tidak akan terwujud kecuali dengannya. Misalnya sesuatu yang dapat menghilangkan akal secara dharury langsung bersentuhan dengan akal. Sesuatu yang merusakkan agama secara dharury berhubungan langsung dengan agama dan seterusnya.

  1. Haram li-ghairihi aridhi

Yaitu perbuatan yang dilarang oleh syara’, di mana adanya larangan tersebut bukan terletak pada perbuatan itu sendiri, tetapi perbuatan tersebut dapat menimbulkan haram li-dzatih. Seperti melihat aurat perempuan, dapat menimbulkan perbuatan zina, sedang zina diharamkan karena dzatiyah-nya sendiri. Jual beli barang-barang secara riba diharamkan, karena dapat menimbulkan riba yang diharamkan dzatiyah-nya. Hutang dengan memberikan bunga diharamkan, karena dapat menimbulkan riba yang dimakan oleh orang yang menghutangi, sedang makan barang riba diharamkan dzatiyah-nya Poligami dengan perempuan yang masih ada hubungan mahram dengan isteri adalah haram, karena dapat menimbulkan putusnya hubungan persaudaraan yang dilarang oleh Allah Swt, sedang memutuskan tali persaudaraan diharamkan dzatiyah-nya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw,

Seorang perempuan tidak boleh dinikah bersama bibinya dari bapak atau dari ibu, dan keponakan dari saudara laki-laki atau saudara perempuan. Jika kalian melakukan hal itu, maka kalian memutuskan tali persaudaraan“.

Demikian juga perbuatan-perbuatan lain yang diharamkan karena menimbulkan keharaman pada dzatiyah perbuatan tersebut. Terkadang perbuatan yang diharamkan karena ada sesuatu sebab baru, juga disebut haram li-ghairih. Seperti menjalankan shalat di tempat ghasab (kepunyaan orang lain tanpa izin), jual beli ketika adzan Jum’at. Sebenarnya jual belinya itu sendiri tidak diharamkan, tetapi karena bersamaan dengan waktu yang menyebabkan haram, maka jual beli tersebut diharamkan. Hal itu didasarkan pada firman Allah dalam surat al-Jumu’ah:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat kepada Allah dan tinggalkanlah jual beli”. (QS. al-Jumu’ah : 9)

Contoh lain adalah membeli barang yang telah ditawar orang lain. Sebenarnya jual belinya itu sendiri halal, akan tetapi karena ada sebab baru yang menyebabkan haram, yaitu telah ditawar orang lain, maka jual beli tersebut diharamkan. Demikian juga pernikahan seorang laki-laki dengan wanita yang telah dipinang orang lain, sedang peminang pertama belum meninggalkan atau membatalkan pinangannya, maka akad nikah tersebut disunnahkan, akan tetapi karena ada sebab lain yang menimbulkan hukum haram, maka pernikahan tersebut diharamkan.

Sumber:

Ushul Fiqih” karya Prof. Muhammad Abu Zahrah hal 56-57

Advertisements

Leave a comment

Contoh Perbedaan Hukum di antara Para Mujtahid

Mengenai hukum-hukum yang bersifat implisit (zhanni, memungkinkan banyak makna), dan hukum-hukum yang tidak ditunjukkan oleh nash-nash (baik yang bersifat qath’i maupun zhanni), melainkan digali dengan sarana qiyas atau perangkat penggalian hukum lainnya, maka disinilah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para mujtahid, baik di antara para sahabat, di antara para tabi’in dan yang mengikuti mereka (tabi’ tabi’in), maupun para imam mujtahid setelah generasi mereka. Nah, perbedaan pendapat yang terjadi pada masing-masing jenis ini mempunyai banyak faktor penyebabnya.

Kami akan menjelaskan faktor terkuat (yang paling tampak) dari penyebab tersebut.

Adapun faktor terkuat dari penyebab terjadinya perbedaan pendapat dalam hukum-hukum yang ditunjukkan nash-nash yang bersifat zhanni ad-dilalah, adalah dua hal, yaitu : Nash yang bersifat zhanni ad-dilalah adalah nash yang memungkinkan dua makna atau lebih. Oleh karena kemungkinan ini, akal-akal mujtahid tidak mungkin selaras pada pemahaman satu makna saja. Adapun penyebab adanya kemungkinan dua makna atau lebih ini adalah karena lafazh tersebut memang mempunyai banyak makna dalam bahasa Arab, atau bisa dipahami secara ambigus (mempunyai dua pemahaman atau lebih). Berikut ini adalah contoh-contoh dua kemungkinan tersebut :

Allah SWT berfirman,

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.”(Al-Baqarah : 228)

Menurut Imam Abu Hanifah dan para muridnya, iddah (masa menunggu) bagi wanita yang ditalak adalah tiga kali haid yang diselingi dua kali suci. Sedangkan menurut Imam Asy’Syafi’i dan para muridnya, iddah wanita yang ditalak adalah tiga kali suci yang diselingi dua kali haid. Penyebab perbedaan pendapat ini adalah lafazh al-qur’u dalam bahasa Arab mempunyai dua makna, yaitu masa suci dan masa haid. Karenanya, masing-masing mujtahid tersebut berpendapat dengan didasarkan pada indikator-indikator yang kuat menurut mereka masing-masing yang bisa membantu memahami pendapat yang mereka pegangi itu.

Allah SWT berfirman dalam ayat tentang berwudhu,

“Dan usaplah kepala kalian.” (Al-Maa’idah : 6)

Menurut Imam Malik yang wajib diusap adalah seluruh rambut kepala. Menurut Imam Asy-Syafi’i yang wajib diusap hanya sebagiannya saja. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah yang wajib diusap hanya seperempatnya saja. Adapun penyebab perbedaan pendapat tersebut adalah huruf ‘ba‘yang terdapat pada ayat tersebut ‘bi ru’usikum’ dalam bahasa Arab mempunyai dua arti : al-ilshaq (menempelkan) dan ath-tab’idh (bagian). Menurut mereka yang memahami bahwa huruf ba tersebut bermakna al-ilshaq (menempelkan), mereka mewajibkan mengusap seluruh kepala. Sedangkan mereka yang memahami bahwa huruf ba tersebut bermakna at-tab’idh (bagian), mereka mewajibkan mengusap sebagian kepala. Adapun Hanafiyah mengkhususkan sebagian tersebut dengan seperempat karena ada Sunnah yang bersifat aplikatif (sunnah fi’liyah) yang menunjukkan hal itu.

Allah SWT berfirman,

“Dan janganlah kamu memakan sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah ketika disembelih, karena itu merupakan kefasikan.”(Al-An’am : 121)

Menurut Imam Abu Hanifah dan para muridnya hewan sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah secara sengaja ketika disernbelih, tidak halal dimakan. Sedangkan menurut Imam Asy-Syafi’i dan para muridnya hewan tersebut halal dimakan selagi tidak disebutkan nama selain Allah ketika disembelih. Adapun faktor penyebab perbedaan pendapat ini adalah huruf wau pada ayat ‘wa innahu lafisq‘ bisa bermakna hal (sementara itu, atau keadaan), dan bisa bermakna athaf (menyambung). Menurut Imam Abu Hanifah, huruf wau tersebut bermakna menyambung kalimat pada kalimat yang lain. Maksud ayat tersebut menurut beliau adalah memakannya merupakan perbuatan fasik, yaitu keluar dari koridor yang ditetapkan syariat. Sedangkan menurut Imam Asy-Syafi’i, huruf wau tersebut bermakna hal, dan kalimat ‘wa innahu lafisq‘ merupakan pembatasan dalam larangan itu. Maksud ayat tersebut menurut beliau adalah janganlah kamu memakan sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah, sementara ia adalah kefasikan, karena disembelih dengan menyebutkan nama selain Allah. Sebagaimana beliau menafsirkan “au fisqan uhilla lighairillah bih” dengan ‘atau kefasikan, yaitu disembelih dengan menyebutkan nama selain Allah.’

Sumber:

“Al-Ijtihad fi asy-Syariah al-Islamiyyah” karya Syaikh Abdul Wahhab Khallaf hal 45-47

,

Leave a comment