Contoh Perbedaan Hukum di antara Para Mujtahid

Mengenai hukum-hukum yang bersifat implisit (zhanni, memungkinkan banyak makna), dan hukum-hukum yang tidak ditunjukkan oleh nash-nash (baik yang bersifat qath’i maupun zhanni), melainkan digali dengan sarana qiyas atau perangkat penggalian hukum lainnya, maka disinilah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para mujtahid, baik di antara para sahabat, di antara para tabi’in dan yang mengikuti mereka (tabi’ tabi’in), maupun para imam mujtahid setelah generasi mereka. Nah, perbedaan pendapat yang terjadi pada masing-masing jenis ini mempunyai banyak faktor penyebabnya.

Kami akan menjelaskan faktor terkuat (yang paling tampak) dari penyebab tersebut.

Adapun faktor terkuat dari penyebab terjadinya perbedaan pendapat dalam hukum-hukum yang ditunjukkan nash-nash yang bersifat zhanni ad-dilalah, adalah dua hal, yaitu : Nash yang bersifat zhanni ad-dilalah adalah nash yang memungkinkan dua makna atau lebih. Oleh karena kemungkinan ini, akal-akal mujtahid tidak mungkin selaras pada pemahaman satu makna saja. Adapun penyebab adanya kemungkinan dua makna atau lebih ini adalah karena lafazh tersebut memang mempunyai banyak makna dalam bahasa Arab, atau bisa dipahami secara ambigus (mempunyai dua pemahaman atau lebih). Berikut ini adalah contoh-contoh dua kemungkinan tersebut :

Allah SWT berfirman,

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.”(Al-Baqarah : 228)

Menurut Imam Abu Hanifah dan para muridnya, iddah (masa menunggu) bagi wanita yang ditalak adalah tiga kali haid yang diselingi dua kali suci. Sedangkan menurut Imam Asy’Syafi’i dan para muridnya, iddah wanita yang ditalak adalah tiga kali suci yang diselingi dua kali haid. Penyebab perbedaan pendapat ini adalah lafazh al-qur’u dalam bahasa Arab mempunyai dua makna, yaitu masa suci dan masa haid. Karenanya, masing-masing mujtahid tersebut berpendapat dengan didasarkan pada indikator-indikator yang kuat menurut mereka masing-masing yang bisa membantu memahami pendapat yang mereka pegangi itu.

Allah SWT berfirman dalam ayat tentang berwudhu,

“Dan usaplah kepala kalian.” (Al-Maa’idah : 6)

Menurut Imam Malik yang wajib diusap adalah seluruh rambut kepala. Menurut Imam Asy-Syafi’i yang wajib diusap hanya sebagiannya saja. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah yang wajib diusap hanya seperempatnya saja. Adapun penyebab perbedaan pendapat tersebut adalah huruf ‘ba‘yang terdapat pada ayat tersebut ‘bi ru’usikum’ dalam bahasa Arab mempunyai dua arti : al-ilshaq (menempelkan) dan ath-tab’idh (bagian). Menurut mereka yang memahami bahwa huruf ba tersebut bermakna al-ilshaq (menempelkan), mereka mewajibkan mengusap seluruh kepala. Sedangkan mereka yang memahami bahwa huruf ba tersebut bermakna at-tab’idh (bagian), mereka mewajibkan mengusap sebagian kepala. Adapun Hanafiyah mengkhususkan sebagian tersebut dengan seperempat karena ada Sunnah yang bersifat aplikatif (sunnah fi’liyah) yang menunjukkan hal itu.

Allah SWT berfirman,

“Dan janganlah kamu memakan sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah ketika disembelih, karena itu merupakan kefasikan.”(Al-An’am : 121)

Menurut Imam Abu Hanifah dan para muridnya hewan sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah secara sengaja ketika disernbelih, tidak halal dimakan. Sedangkan menurut Imam Asy-Syafi’i dan para muridnya hewan tersebut halal dimakan selagi tidak disebutkan nama selain Allah ketika disembelih. Adapun faktor penyebab perbedaan pendapat ini adalah huruf wau pada ayat ‘wa innahu lafisq‘ bisa bermakna hal (sementara itu, atau keadaan), dan bisa bermakna athaf (menyambung). Menurut Imam Abu Hanifah, huruf wau tersebut bermakna menyambung kalimat pada kalimat yang lain. Maksud ayat tersebut menurut beliau adalah memakannya merupakan perbuatan fasik, yaitu keluar dari koridor yang ditetapkan syariat. Sedangkan menurut Imam Asy-Syafi’i, huruf wau tersebut bermakna hal, dan kalimat ‘wa innahu lafisq‘ merupakan pembatasan dalam larangan itu. Maksud ayat tersebut menurut beliau adalah janganlah kamu memakan sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah, sementara ia adalah kefasikan, karena disembelih dengan menyebutkan nama selain Allah. Sebagaimana beliau menafsirkan “au fisqan uhilla lighairillah bih” dengan ‘atau kefasikan, yaitu disembelih dengan menyebutkan nama selain Allah.’

Sumber:

“Al-Ijtihad fi asy-Syariah al-Islamiyyah” karya Syaikh Abdul Wahhab Khallaf hal 45-47

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: