Pembagian Haram

  1. Haram li-dzatih

Yaitu perbuatan yang diharamkan oleh Allah, karena bahaya tersebut terdapat dalam perbuatan itu sendiri. Seperti makan bangkai, minum khamr, berzina, mencuri yang bahayanya berhubungan langsung dengan lima hal yang harus dijaga (ad-Dharuriyat al-Khams), yakni badan, keturunan, harta benda, akal dan agama. Perbuatan yang diharamkan li-dzatih adalah bersentuhan langsung dengan salah satu dari lima hal ini. Sedangkan yang dimaksud dharury ialah sesuatu tidak akan terwujud kecuali dengannya. Misalnya sesuatu yang dapat menghilangkan akal secara dharury langsung bersentuhan dengan akal. Sesuatu yang merusakkan agama secara dharury berhubungan langsung dengan agama dan seterusnya.

  1. Haram li-ghairihi aridhi

Yaitu perbuatan yang dilarang oleh syara’, di mana adanya larangan tersebut bukan terletak pada perbuatan itu sendiri, tetapi perbuatan tersebut dapat menimbulkan haram li-dzatih. Seperti melihat aurat perempuan, dapat menimbulkan perbuatan zina, sedang zina diharamkan karena dzatiyah-nya sendiri. Jual beli barang-barang secara riba diharamkan, karena dapat menimbulkan riba yang diharamkan dzatiyah-nya. Hutang dengan memberikan bunga diharamkan, karena dapat menimbulkan riba yang dimakan oleh orang yang menghutangi, sedang makan barang riba diharamkan dzatiyah-nya Poligami dengan perempuan yang masih ada hubungan mahram dengan isteri adalah haram, karena dapat menimbulkan putusnya hubungan persaudaraan yang dilarang oleh Allah Swt, sedang memutuskan tali persaudaraan diharamkan dzatiyah-nya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw,

Seorang perempuan tidak boleh dinikah bersama bibinya dari bapak atau dari ibu, dan keponakan dari saudara laki-laki atau saudara perempuan. Jika kalian melakukan hal itu, maka kalian memutuskan tali persaudaraan“.

Demikian juga perbuatan-perbuatan lain yang diharamkan karena menimbulkan keharaman pada dzatiyah perbuatan tersebut. Terkadang perbuatan yang diharamkan karena ada sesuatu sebab baru, juga disebut haram li-ghairih. Seperti menjalankan shalat di tempat ghasab (kepunyaan orang lain tanpa izin), jual beli ketika adzan Jum’at. Sebenarnya jual belinya itu sendiri tidak diharamkan, tetapi karena bersamaan dengan waktu yang menyebabkan haram, maka jual beli tersebut diharamkan. Hal itu didasarkan pada firman Allah dalam surat al-Jumu’ah:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat kepada Allah dan tinggalkanlah jual beli”. (QS. al-Jumu’ah : 9)

Contoh lain adalah membeli barang yang telah ditawar orang lain. Sebenarnya jual belinya itu sendiri halal, akan tetapi karena ada sebab baru yang menyebabkan haram, yaitu telah ditawar orang lain, maka jual beli tersebut diharamkan. Demikian juga pernikahan seorang laki-laki dengan wanita yang telah dipinang orang lain, sedang peminang pertama belum meninggalkan atau membatalkan pinangannya, maka akad nikah tersebut disunnahkan, akan tetapi karena ada sebab lain yang menimbulkan hukum haram, maka pernikahan tersebut diharamkan.

Sumber:

Ushul Fiqih” karya Prof. Muhammad Abu Zahrah hal 56-57

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: