Periodisasi Kehidupan Imam Syafi’i

Periode pertama. Bermula dari pengajaran yang ia sampaikan di Masjidil Haram, sekembalinya ia dari Baghdad, hingga sembilan tahun setelahnya. Periodisasi seperti ini dilontarkan oleh Imam Abu Zahrah. Dalam periode ini, karya Imam Syafi ‘i yang berjudul ar-Risalah lahir. Kitab ushul fiqih pertama ini, lahir dari permintaan Abdurrahman bin Mahdi ketika dirinya meminta Imam Syafi’i untuk membuat sebuah kitab yang dapat menjelaskan makna al-Qur’an, mengumpulkan fan-fan hadits, legalitas ijmak, dan penjelasan tentang nasikh dan mansukh dalam al-Qur’an dan sunnah.

Periode kedua. Bermula dari kedatangan Imam Syafi’i ke Baghdad untuk kedua kalinya dengan membawa karya ilmiah pertamanya dalam bidang ushul fiqih atas permintaan ulama Baghdad. Imam Syafi’i menilai banyak perubahan yang terjadi dalam masalah furu’dan ushul. Hal ini mendorongnya menyebarkan ilmunya secara luas. Imam al- Karabisi berkata, “Kami tidak mengetahui kitab itu apa, sunnah itu apa, dan ijmak itu apa sampai kami mendengar perkataan Imam Syafi’i, ‘Al-Kitab, as-Sunnah, al-Ijmak‘. Mereka-ulama sebelumnya-sibuk dengan persoalan riwayat dan furu’sehingga mereka tersentak oleh perkataan Imam Syafi’i,’Terkadang Allah menyebutkan redaksi lafazh umum, tetapi yang dikehendaki adalah khusus menyebutkan redaksi khusus, tetapi yang dikehendaki adalah makna umum.’Mereka berkata, ‘Kami tidak mengetahuinya sampai mereka mendengar Imam Syafi’i berkata,’Allah telah berfirman,’Orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu.'(QS. Ali Imran [3] : 173). Yang dimaksud kata ‘orang-orang (an-nasy dalam ayat tersebut bukanlah orang Quraisy
secara keseluruhan, melainkan yang dimaksud adalah Abu Sufyan saja. ” Dalam firman-Nya,”Wahai Nabi Apabila kamu ceraikan istri-istrimu. ” (QS. Ath-Thalaq [65] 1). Redaksi”Wahai Nabi”adalah lafazh khash, tetapi yang dimaksud adalah lafazh’am. Mereka tidak mengetahui hal tersebut sampai Imam Syafi’i datang menjelaskannya. Periode ini dimulai tahun 195 H sebagaimana dikatakan oleh Imam Abu Zahrah- sampai tahun 198 H. pada periode ini, Imam Syafi’i mengetengahkan pendapat para fuqaha pada zamannya, pendapat para sahabat, dan pendapat para tabiin disertai ragam perbedaannya, seperti pendapat Ali bin Abu Thalib, lbnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, dan lain sebagainya. Setelah itu, ia juga mengetengahkan khilafiyah mazhab dalam mazhab Abu Hanifah dan Abu Laila dengan riwayat Abu Yusuf yang terkenal dengan nama perbedaan para ahli fiqih di Irak (lkhtilaf ‘Iraqiyyin)”, dan juga mengemukakan Sirah al-Waqidi, fiqih Auza’i, dan beberapa pendapat lain. Lebih dari itu, ia menerapkan masalah yang ada dengan kaidah dan ushul mazhab yang ia bangun, lalu memilih pendapat mana yang lebih dekat dengan ushul yang ia pakai atau meninggalkannya dan mengambil pendapat yang baru.

Periode ketiga. Dimulai pada tahun 199 H. ketika ia hijrah ke Mesir sampai ia meninggal. Pada periode ini, keilmuan Imam Syafi’i benar-benar sudah matang. Setelah tinggal di Mesir, Imam Syafi’i melihat hal-hal baru yang belum pernah dilihatnya, baik yang berkaitan dengan adat kebiasaan, peradaban, maupun pengaruh ulama tabiin di sana. la merekonstruksi kitab ar-Risalah ; mengurangi dan menambah kontennya, dan melihat kembali hasil-hasil ijtihadnya. Periode ini bagi Imam Syafi’i adalah periode pembaharuan dan penelitian ulang atas pemikirannya sendiri.

Dikutip dari buku “Biografi Imam Bukhari” karya  Prof. Dr. Yahya Ismail, hal. 219-220, penerbit Keira Publishing

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: