Kebijakan Umar atas Penerapan Hukum Potong Tangan

Salah satu kebijakan khalifah Umar bin Khatab yaitu dihentikan atau ditundanya hukum potong tangan bagi pencuri karena pencurian dilakukan pada saat masyarakat sedang dilanda paceklik (gagal panen). Padahal, Al-Qur’an sebagaimana diketahui dalam ayat 38 surat Al-Ma’idah menegaskan bahwa,”Lelaki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan, dan sebagai bagian dari siksa Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ayat di atas merupakan dasar hukum potong tangan bagi pencuri. Akan tetapi, mengapa Umar bin Khatab menghentikan atau menunda potong tangan bagi pencuri pada musim paceklik? Apakah keputusan itu bertentangan dengan ayat di atas?

Kalau dilihat secara tekstual, keputusan Khalifah Umar bin Khatab bertentangan dengan ayat di atas. Tetapi, jika dilihat secara kontekstual, justru keputusan Khalifah Umart ini sesuai dengan prinsip-prinsip universal Al-Qur’an, yaitu prinsip memelihara dan menyelamatkan jiwa manusia lebih utama daripada memenuhi tuntutan hukum. Sebab, khalifah Umar bukan menentang hukum potong tangan, melainkankan mempertimbangkan secara obyektif kondisi sosio-masyarakat yang tidak kondusif untuk melaksanakanhukum potong tangan tersebut. Argumen Umar didasarkan pada kenyataan bahwa boleh jadi orang yang mencuri itu terdesak oleh keadaan hidup yang teramat sulit sehingga dia terpaksa mencuri untuk mempertahankan hidup dan keluarganya; jika tidak, maka nyawa mereka akan melayang. Kalau kondisi sosialnya semacam ini, apakah Allah Yang Mahabijak itu tega membiarkan hamba-Nya yang mencuri dihukum dengan hukuman potong tangan, padahal mereka mencuri karena kelaparan?

Lebih dari itu, persoalan tangan mana dan batas mana tangan seorang pencuri harus dipotong, juga masih menjadi polemik. hadis Nabi pun tidak ada yang dapat dijadikan acuan tentang batasan jumlah barang curian yang mewajibkan ditegakkannya hukum potong tangan itu. Semua itu mencerminkan dilema-dilema hukum potong tangan itu sendiri. Adapun yang menjadi rujukan dalam soal ini adalah hasil ijtihad para ulama terdahulu belaka. Karena itu, mungkinkah hukum potong tangan ini dapat dipahami secara majazi?

Sumber:

Buku “Kapita Selekta Mozaik Islam: Ijtihad, Tafsir, dan Isu-Isu Kontemporer” karya Prof. Dr. Umar Shihab, hal 56-57, Penerbit Mizan Pustaka, cet. I, Oktober 2014

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: