Penilaian Hadis antara Ulama Hadis, Fikih dan Tasawuf

Di kalangan ulama hadis dan ahli ushul, pembahasan tentang hadis harus berawal dari sanad. Meskipun matan juga mendapatkan perhatian, perhatian terhadap sanad hadis jauh lebih mendalam, sehingga kajian sanad hadis merupakan hal yang
cukup melelahkan. Pembahasan tentang matan baru dilakukan apabila sanad hadis yang diteliti dinyatakan tidak ada masalah. Dalam hubungan ini, Muhammad ibn Sirin menyatakan,”Sesungguhnya pengetahuan (hadis) ini adalah agama, maka perhatikanlah dari mana kamu mengambil agamamu.

Walaupun begitu, kriteria kesahihan hadis yang dipegang oleh ahli hadis dan ahli ushul sangat berbeda dengan kriteria yang dipegang oleh ulama tasawuf. Karena itulah, dalam kajian agama, suatu hadis sangat populer dan dijadikan rujukan di kalangan ulama tasawuf, tetapi dinyatakan lemah atau bahkan dianggap bukan hadis oleh ulama hadis dan ahli ushul. Sebagaicontoh sejatinya dapat dikemukakan hadis, “Siapa yang mengenal dirinya, ia telah mengenal Tuhannya.

Secara umum, di kalangan ulama fikih dan ulama hadis, hadis ini dinyatakan sebagai hadis yang tidak memiliki dasar yang kuat. Bahkan lbn Taimiyah menyatakan hadis ini mawdhu. Sementara itu, al-Nawawi memberikan penilaian terhadap hadis ini dengan menyatakan laysa bi sabit (tidak kuat). Penilaian yang berbeda dinyatakan oleh ulama tasawuf seperti dikatakan oleh Syaikh Muhyiddin ibn ‘Araby bahwa meskipun hadis ini tidak sahih dilihat dari segi metode periwayatan hadis, tetapi bagi kami hadis ini sahih dilihat dari segi metode kasyf (penyingkapan).

Berdasarkan keterangan di atas, dapat diketahui bahwa dalam menilai kesahihan hadis, ulama fikih dan ulama hadis memulai dari sanad dan periwayatan hadis. Jika sanad dan periwayat hadis bermasalah, maka pembahasan tidak dapat dilanjutkan kepada kajian matan, karena hadis tersebut pasti tidak mencapai tingkatan sahih. Sementara, ulama tasawuf cenderung menfokuskan pada matan hadis, sehingga sebuah hadis yang dinyatakan tidak sahih dari aspek kajian sanad, tidak otomatis dinyatakan sebagai hadis daif, karena kesahihan sebuah hadis juga dapat dilihat dari aspek matan dan kandungan hadis.

Sumber:

Buku “Kapita Selekta Mozaik Islam: Ijtihad, Tafsir dan Isu-Isu Kontemporer” hal. 178-179 karya Prof. Dr. Umar Shihab, 2014

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: