Archive for category Akhlak

Toleransi dalam Perbedaan

Perbedaan pendapat antara kaum Muslim itu selalu ada. Akan tetapi, tentu bukan untuk dipertentangkan dan dipertajam. Apalagi saling menyesatkan dan mengafirkan! Bagaimanapun, sikap ekstrem, apalagi kepada sesama Muslim atas perbedaan furu’iyyah (cabang) adalah tanda ketidakdewasaan beragama. Atau jika perbedaan pandangan itu menjadi soal prinsip (ushuli) dari hasil konsekuensi  pilihan metodologi, sebaiknya masih bisa didialogkan. Toh, kebanyakan sasaran kritik adalah sesama Muslim yang masih berada di dalam garis-garis syariat Islam.

Alangkah baiknya jika perbedaan faham antara kaum Muslim ini diselesaikan dengan berdialog yang baik. Allah Swt. berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs Al-Nahl [16] : 125).

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. bersabda,”Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambungkanlah hubungan persaudaraan dan dirikanlah shalat di tengah malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan penuh keselamatan.”

Kunci masuk surga tidak cukup dengan hanya melakukan shalat tengah malam saja, tapi harus ada upaya untuk menyebarkan salam, memberi bantuan dan menyambung tali persaudaraan. Tanpa ketiga upaya ini, sebagian gerigi kunci surga telah hilang. Apabila perbedaan faham disikapi dengan saling sesat-menyesatkan, sudah tentu akan mengakibatkan permusuhan, membuat kesulitan, dan memutuskan tali persaudaraan.

Dakwah dengan mengolok-olok kelompok lain jelas bertentangan dengan firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah satu kelompok mengolok-olok kelompok lain, karena bisa jadi mereka yang diolok-olok itu justru lebih baik dari mereka yang mengolok-olok …. Janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barang siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang zalim (Qs Al-Hujurat [49]: 11).

Selain itu, juga bertentangan dengan hadis Nabi Saw., sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, “Seorang Mukmin terhadap Mukmin yang lain laksana bangunan, yang sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain.”

Sabdanya yang lain,”Barang siapa yang berkata pada saudaranya ‘hai kafir’, kata-kata itu akan kembali pada salah satu di antara keduanya. Jika tidak (artinya yang dituduh tidak demikian) maka kata itu kembali pada yang mengucapkan (yang menuduh)” (HR Bukhari dan Muslim).

Perhatikan juga hadis yang diriwayatkan Al-Thabrani dalam Al-Kabir, “Tahanlah diri kalian (jangan menyerang) orang ahli ‘La ilaha illallah'(yakni orang Muslim). JanganIah kalian mengafirkan mereka karena suatu dosa.”Dalam riwayat lain, dikatakan : “Janganlah kalian mengeluarkan mereka dari Islam karena suatu amal (perbuatan).”

Datam Al-Quran Surah Tha Ha ayat 43-44, Allah Swt. memerintahkan Nabi Musa dan Harun a.s. agar menemui Fir’aun-yang kafir dan melampaui batas-dan berucap kepadanya dengan kata-kata yang halus, barangkali dia (Fir’aun) bisa sadar kembali dan takut pada Allah Swt. Jika kepada Fir’aun, yang kafir dan melampaui batas, Allah memerintahkan untuk berdakwah dengan ucapan yang halus, apalagi dengan sesama Muslim.

Perhatikan hadis riwayat Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah r. a. yang mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh adakalanya seorang hamba berbicara sepatah kata yang tidak diperhatikan, tiba-tiba ia tergelincir ke dalam neraka oleh kalimat itu lebih jauh dari jarak antara timur dengan barat.”

Sumber:

Buku “Membongkar Kejumudan” karya A. Shihabuddin penerbit Noura Books hal viii-xi

Advertisements

Leave a comment

Pahala Bersabar

SABAR dan puasa itu dahsyat. Pahala keduanya membentang tanpa batas. Sabar dan puasa membina tekad kuat, merupakan pembuktian akan kesahihan iman dan ketulusan berpasrah kepada Allah Azza wa Jalla sesuai ketetapan dan kehendak-Nya. Tentang pahala puasa, Nabi Saw. bersabda — sebagaimana diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Abu Al-Syaikh, dan Ibnu Hibban dari Salman: “(Ramadhan) adalah bulan sabar, dan pahala sabar adalah surga.”

Bukhari dan Muslim meriwayatkan (sebuah hadis qudsi) dari Abu Hurairah r.a.,”Semua amal anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku-lah yang membalasnya langsung. Puasa adalah perisai.” Yakni, menjaga dan membentengi diri dari jerumus maksiat.

Sebagaimana puasa, pahala sabar terbuka luas. Allah Azza wa Jalla berfirman, Kami benar-benar akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan gembirakanlah orang-orang yang bersabar (QS Al-Baqarah [2]: 155); Sesungguhnya pahala orang-orang yang bersabar dilimpah dengan tanpa hitungan (QS Al-Zumar [39]: 10 ); Siapa bersabar dan memaafkan, yang demikian benar-benar termasuk perbuatan mulia (QS Al-Syura [42]: 43); Wahai orang-orang beriman, mintalah pertolongan dengan bersabar dan bershalat. Sesungguhnya Allah bersama para penyabar (QS Al-Baqarah [2]: 153); dan Maka bersabarlah dengan kesabaran indah QS Al-Ma’arij [70]: 5),

Kesabaran indah, artinya tidak ada kegusaran, tidak ada kepanikan, tidak ada kemarahan; ridha dan menerima penuh segala kehendak Allah. Simpul sabar adalah ketika musibah terjadi, sebagaimana diriwayatkan Muslim dari Anas, “Sesungguhnya kesabaran (sejati) adalah pada saat kali pertama (musibah) menimpa.”

Di antara nilai istimewa sabar adalah kesabaran melepas orang-orang terkasih. Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “AIlah Swt. berfirman,
Tidaklah bagi hamba-Ku yang beriman ketika Ku-ambil kekasihnya di dunia, kemudian ia berharap pahala, melainkan adalah surga.‘” Dalam hadis lain dari Anas bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman, “Apabila Aku uji hamba-Ku dengan Ku-ambil penglihatan pada kedua matanya, lalu ia bersabar, Kugantikan untuknya surga.” (HR Bukhari).

Demikian pula kesabaran di kala sakit atau saat menghadapi kesulitan. Bukhari meriwayatkan dari  Aisyah r.a. bahwa ia bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang tha’un. Beliau menjelaskan bahwa tha’un adalah penyakit menular yang Allah Swt. kirim sebagai azab terhadap siapa pun yang Dia kehendaki. Lalu Allah Swt menjadikannya sebagai rahmat bagi kaum mukmin. Maka, tidaklah seorang hamba yang ditimpa tha’un, dan ia tinggal di tanah negerinya dengan bersabar dan penuh pengharapan; meyakini bahwa apa yang menimpa
dirinya tidak lain adalah ketetapan Allah untuknya maka pahala baginya setara pahala syahid.

Adalah karunia Allah Swt. bahwa bersabar terhadap berbagai kesulitan dunia bisa menjadi faktor penebus kesalahan dan dosa. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Tidaklah apa yang menimpa seorang Muslim berupa kepenatan, penyakit, kegalauan, kesedihan, ketersiksaan, dan penderitaan, hingga duri yang melukainya, melainkan Allah menjadikannya sebagai penebus dari kesalahan-kesalahannya.” Dalam riwayat Bukhari dari Abu Hurairah r.a. dinyatakan, “Siapa yang Allah kehendaki meraih kebaikan, Dia uji dengan suatu musibah.”

Apabila seseorang dihadapkan pada kesempitan dunia, dihadang bahaya atau musibah apa pun, pantang baginya berharap kematian. Ia mesti bersabar, karena inilah jalan keluar baginya di dunia, dan akan menambah pahala untuknya di akhirat. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas r. a. Ia menuturkan, “Rasulullah Saw. bersabda, ‘Jangan pernah seseorang di antara kalian berharap mati karena ditimpa suatu musibah. Jika hal itu terjadi, ucapkanlah doa:
Ya Allah, biarkanlah aku hidup selama kehidupan adalah yang terbaik bagiku, dan wafatkanlah aku jika itu yang terbaik bagiku.'”

Berdoa dan merendah kepada Allah Swt. demi lepasnya impitan disertai kesabaran tidak akan mengurangi pahala. Tirmidzi meriwayatkan dari Anas r.a.- dan ia menilai hadis ini hasan, Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap hamba-Nya, Dia segerakan hukuman untuknya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap hamba-Nya, Dia tahan dosanya sehingga dibalas di Hari Kiamat.” Dalam hadis lain, Nabi Saw. bersabda, “Besarnya balasan menyertai besarnya cobaan. Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia beri mereka cobaan. Siapa ridha (menerima cobaan itu) maka Allah meridhainya. Dan siapa marah (menerimanya) maka Allah murka padanya.”

Rumus sabar adalah menahan emosi dan tidak terbawa amarah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Orang kuat bukan dengan jago gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” Jago gulat (aI-shur’ah) dalam konteks Arab berarti menundukkan banyak orang.

Tirmidzi dan Abu Daud meriwayatkan dari Mu’adz ibn Anas r.a. — Tirmidzi menilai hadis ini hasan – bahwa Nabi Saw. bersabda, “Siapa menahan emosi, padahal ia mampu meluapkannya, Allah Swt. memanggilnya pada Hari Kiamat mendahului seluruh makhluk sehingga ia diberi kebebasan memilih bidadari sesuai kebendaknya.

Nas ayat-ayat Al-Quran serta Hadis Nabi tersebut menunjukkan betapa besarnya keutamaan dan pahala bagi kaum penyabar, laki-laki maupun perempuan; surga-surga abadi disediakan untuk mereka.

Sumber:
Buku “Ensiklopedia Akhlak Muslim: Berakhlak terhadap Sang Pencipta” karya Wahbah az-Zuhaili, hal. 22-24.

Leave a comment

Keteladanan Ulama Salaf terhadap Ulama Terdahulu

Para salafus-shalih dari ulama-ulama kita mempunyai petunjuk dan contoh yang sudah dikenal, yang menjadi panutan dan bisa membawa kepada kebaikan yang mereka sebut dengan adab al-akabir (etika terhadap orang yang lebih tua). Di antara kisah yang termasuk dalam adab al-akabir adalah apa yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah r.a. bahwa setelah Rasulullah SAW. wafat, jenazahnya dikuburkan di kamar Aisyah. Kemudian setelah itu, wafat pula ayahnya, yaitu sang khalifah pertama Abu Bakar r.a. Maka olehnya, jenazah beliau disemayamkan disamping makam Nabi yang juga merupakan orang terkasihnya. Setelah itu, Aisyah sering memasuki kamar tersebut untuk mendoakan keduanya. Dia masuk tanpa menggunakan hijab dan cadar. Karena yang satu adalah suaminya dan yang satunya lagi adalah ayah sendiri.

Ketika Umar bin Khathab meninggal, dia juga dikuburkan di situ bersama kedua sahabatnya, sebagaimana permintaan Umar kepada Aisyah sebelum ia meninggal. Padahal, sebetulnya Aisyah pun ingin dikuburkan di tempat itu, karena selalu ingin dekat bersama suami tercinta dan sang ayah, tempat itu adalah kamarnya sendiri. Namun demi menghormati Umar, dia mengalah. Umar pun dikubur disamping Nabi dan Abu Bakar.

Menurut riwayat, setelah itu jika Aisyah masuk ke kamarnya untuk mendoakan mereka, dia mengrnakan kerudung dan cadarnya. Ketika ditanya kenapa dia mesti mengenakan hijab apabila masuk ke kamarnya, dia menjawab; karena di situ ada makam Umar disamping makam suami dan ayahnya! Aisyah tetap berhijab dari Umar yang bukan mahramnya, sekalipun Umar telah meninggal. Demikianlah, Aisyah tetap memperhatikan adab dan etika yang sepantasnya dipegang – khususnya ia adalah istri Nabi – ketika bertemu atau berbicara dengan lelaki asing.

Yang sungguh mengagumkan di sini adalah Aisyah tetap memakai kerudung dan cadarnya meskipun Umar sudah tidak hidup lagi dan telah menjadi mayat dan dikuburkan di kuburannya. Akan tetapi karena perasaan Aisyah sangat halus, dia tetap memperlakukannya sebagaimana dia memperlakukan orang yang masih hidup.

Sikap yang sama adalah sebagaimana diceritakan dari Imam Syafi’i r.a. ketika beliau berkunjung ke Baghdad dan berziarah ke makam Imam Abu Hanifah r.a. Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i melaksanakan shalat subuh di masjid tetapi beliau tidak melakukan qunut ketika itu, sebagaimana yang telah ditetapkannya sendiri dalam mazhabnya. Beliau bersikap demikian karena demi memperhatikan dan menjaga adab sopan santun terhadap Imam Abu Hanifah yang tidak berpendapat sunnahnya qunut ketika shalat subuh.

Demikianlah Imam Syafi’i memperlakukan Abu Hanifah seolah-olah beliau masih hidup. Imam Syafi’i telah berusaha menjaga perasaannya dan memilih untuk tidak berselisih pendapat mengenai hal ini, yang mana para ulama dalam masalah seperti ini tidak boleh terlalu keras dalam memberikan pendapatnya.

Sumber:
Buku “Bagaimana Berinteraksi dengan Peninggalan Ulama Salaf” karya Dr. Yusuf al-Qaradhawi hal. 312-313 Penerbit Pustaka Al-Kautsar, 2003.

Leave a comment

Uwais al-Qarni

Dialah Uwais al-Qarni Sosok Penghuni Langit dan Bukan Penghuni Bumi..??

Riwayat pada zaman Nabi Muhammad Saw, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca al-Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendang, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqaha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata :

“Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.

Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad saw yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad saw secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.

Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah saw mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau saw, sekalipun ia belum pernah melihatnya.

Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menjumpai Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menjumpai Nabi saw di Madinah. Sang ibu, walaupun telah udzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata :

“Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.

Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.

Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi saw yang selama ini dirindukannya.

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi saw, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah ra sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau saw tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang.

Tapi, kapankah beliau pulang? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah ra untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi saw langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad saw menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rasulullah saw, sayyidatina ‘Aisyah ra dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah ra memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.
Rasulullah saw bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau saw, memandang kepada sayyidina Ali kw dan sayyidina Umar ra dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi saw wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra telah di estafetkan Khalifah Umar ra. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan sayyidina Ali kw mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar ra dan sayyidina Ali k.w memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan shalat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman.

Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi saw. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Sayyidina Ali kw memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata : “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar.

Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata :

“Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais. “Waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat.

Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan shalat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh.

Lalu kami berseru lagi,” Demi Dzat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!” Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak?” tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah !” katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrahmaanirrahiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu.

Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami, “Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat.” “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan?” Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian.

Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya. “Ya,” jawab kami. Orang itu pun melaksanakan shalat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar ra.

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.

Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya.

Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit

http://www.menjelma.com/2011/07/dialah-uwais-al-qarni-sosok-penghuni.html

, ,

Leave a comment

Ikhlas adalahnkuncinpenyelamat

Ikhlas adalah Kunci Penyelamat dalam Kegentingan

Suhaib r.a. telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mengisahkan,

“Raja umat sebelum kalian memiliki (tangan kanan) seorang penyihir. Ketika penyihir itu beranjak lanjut usia, ia berkata kepada sang raja,’Carikanlah untukku anak kecil yang akan kuajarkan dan kuturunkan ilmu sihir ini.’ Raja itu kemudian mendatangkan untuknya seorang anak kecil untuk diajarkan sihir. Dalam perjalanan, anak yang masih sangat belia tadi menemukan seorang rahib. Anak muda itupun duduk dan mendengarkan perkataan bijak dari sang rahib. Ia pun terpesona dengan sang rahib. Semenjak itulah, sebelum ia pergi menuju guru sihirnya, ia terlebih dahulu melewati tempat sang rahib dan mendengarkanpetuahnya. Jika ia mendatangi penyihir, penyihir itu akan memukulnya. Anak muda ini mengadu kepada sang rahib. Sang rahib tadi berkata,’Bila kamu takut sang penyihir memukulmu, maka katakanlah bahwa keluargamu menahanmu keluar dan membuatmu terlambat. Dan jika kamu takut kepada keluargamu maka katakanlah bahwa sang penyihir memaksamu untuk pulang telat.’

Ketika hari-hari itu berlangsung, ia menjumpai hewan berkaki empat yang amat besar yang telah memaksa orang-orang untuk berhenti karena tidak dapat melewati jalan tersebut. Anak muda ini berkata,’Sekarang aku akan mengetahui siapakah yang lebih hebat antara sang rahib dan penyihir.’ Kemudian ia mengambil sebuah batu kecil seraya berkata,’Ya Allah, bila apa yang dikatakan oleh rahib lebih benar maka bunuhlah hewan ini hingga manusia dapat melewati jalan ini.’ Kemudian hewan tersebut mati. Anak muda itu pun mendatangi sang rahib dan menceritakannya. Sang rahib berkata kepadanya,’Wahai anakku, sekarang kamulah yang lebih hebat daripada aku. Kamu telah mampu untuk melakukan apa yang telah kamu capai hari ini. Aku memiliki firasat bahwa suatu hari kamu akan dihadapkan dengan cobaan yang berat. Jika kamu tengah dihadapkan cobaan, jangan kamu menunjukkan tempatku ini.’

Setelah itu , sang pemuda dapat menyembuhkan penyakit buta yang diderita oleh seseorang sejak lahir dan penyakit kusta yang relatif tidak dapat disembuhkan. Ia juga menyembuhkan masyarakat sekitar dari berbagai penyakit. Berita ini terdengar sampai ke telinga tangan kanan sang raja zalim yang buta. Kemudian ia mendatangi sang anak muda dengan membawa begitu banyak hadiah. Ia berkata,’Jika kamu dapat menyembuhkanku, maka apa yang kubawakan untukmu ini adalah lebih dari cukup.’ Anak muda itu menjawab,’Akan tetapi, Anda perlu tahu bahwa aku sama sekali tidak dapat menyembuhkan seseorangpun. Allah jualah yang mencabut penyakit sang penderita. Karena itu, apabila Anda beriman kepada Allah, maka aku akan mendoakan Anda kepada-Nya agar Allah berkenan menyembuhkan Anda.’ Orang tua itu pun akhirnya mengikrarkan keimanannya. Kemudia Allah menyembuhkannya.

Ketika ia kembali ke kursi kerjanya, sang raja zalim berkata,’Siapakah yang telah menyembuhkan pandangan matamu?’ Sang tangan kanan raja menjawab,’Tuhanku dan Tuhanmu, Allah.’ Raja menariknya dan menyiksanya hingga akhirnya ia membuka mulut dan menunjukkan tempat anak muda yang mengajarkan kepercayaan ‘baru’ tersebut. Ketika mereka sampai di tempat sang anak muda, raja berkata,’Wahai anak muda, rupanya ilmu sihir telah banyak kau kuasai. Hingga kini engkau telah sanggup untuk menyembuhkan penyakit buta sejak lahir dan kusta, sebagaimana selama ini kamu lakukan.’ Ia menjawab,’Aku sama sekali tidak mampu untuk menyembuhkan penyakit apapun. Allah jualah penyembuh segalanya.’ Raja lalu menyeret dan menyiksanya hingga anak itu memberitahu rahib dan gurunya yang mengajarkan Islam kepadanya. Merekapun mendatangi sang rahib seraya berkata,’Tarik kembali kepercayaan yang kau peluk.’ Namun ia menolak. Lalu raja meminta gergaji. Ia membelah kepala sang rahib tepat di pertengahan. Ketika ia memotongnya menjadi dua bagian, ia menghampiri anak muda seraya berkata,’Kembalilah kamu kepada agama asalmu (syirik dan menyembah raja).’ Namun ia masih saja bersikeras menolak. Rajapun menyerahkan kepada pengawal istana seraya menitahkan,’Bawa pemuda ini ke gunung. Jika telah sampai di puncaknya, tanyakan kepadanya, jika ia masih ingin kembali kepada agama semula maka bawa ia padaku. Namun jika tidak, lemparkan ia dari puncak gunung itu.’ Para pengawalpun membawanya dan sebelum sampai di puncak gunung itu anak uda berdoa,’Ya Allah, tolonglah aku dari mereka dengan kehendak dan cara-Mu.’ Gunung itu bergetar dan menelan mereka.

Anak muda itu berjalan sendiri menghadap raja. Sang raja bertanya dengan terheran-heran,’Apa yang telah dilakukan oleh mereka bersamamu?’ Ia menjawab,’Allah menolongku dari mereka.’ Raja kembali menyerahkannya kepada para pengawal istana seraya menitahkan,’Bawa pemuda ini ke atas perahu panjang. Jika kalian sampai di tengah lautan lepas, tanyakan kepadanya, jika ia masih ingin kembali kepada agama semula maka bawakan ia kepadaku. Namun jika tidak, tenggelamkan ia.’ Para pengawal pun membawanya dan sebelum sampai ke tengah lautan, anak muda itu berdoa,’Ya Allah, tolonglah aku dari mereka dengan kehendak dan cara-Mu.’ Perahu besar itu terbalik dan lautan menenggelamkan mereka.

Anak muda itu lalu pergi seorang diri menghadap sang raja. Ia berkata,’Kamu takkan berhasil membunuhku sebelum melakukan apa yang akan kuutarakan ini kepadamu. Sang raja berkata,’Apakah hal tersebut?’ Sang anak muda berkata,’Kumpulkan semua rakyatmu di tanah lapang, kemudian ikat tangan dan kakiku di tengah tiang pelepah kurma. Ambil anak panah busurku dan arahkan kepadaku. Sebelum melepaskan anak panah dari busur, katakanlah,’Bismillah, dengan nama Allah, Tuhan anak ini.’ Barulah kamu dapat memanah dan membunuhku.’ Rajapun mengumpulkan manusia di tanah lapang, kemudian ia mengikat tangan dan kaki si pemuda di tengah tiang pelepah kurma. Seraya mengambil anak panah dari busurnya, ia mengucapkan,’Bismillah, dengan nama Allah, Tuhan anak ini.’ Anak panah itu pun tidak melesat dengan tepat sasaran dan hanya mengenai pelipis sang anak. Anak itu mengusap dengan tangannya. Tidak lama kemudian ia tidak bernyawa.’

Masyarakat yang menyaksikannya berkata,’Kami beriman kepada Tuhan anak muda tadi. Sang penyihir menghampiri raja dan berkata,’Sekarang Anda dapat melihat sendiri kekhawatiran yang selama ini menghantui. Padahal sebelumnya ada tanda yang seharusnya tidak dibiarkan begitu saja. Rakyat Anda telah beriman kepada Allah.’ Kemudian ia menitahkan untuk membuat lubang yang sangat besar dengan api yang menyala-nyala seraya berkata,’Barang siapa yang tidak kembali kepada agama semula maka ceburkanlah ia ke dalam api yang sedang menyala.’ Tibalah giliran seorang ibu bersama bayinya yang ketakutan. Bayi dalam buaiannya berkata,’Wahai ibuku, bersabarlah. Sungguh, engkau berada dalam kebenaran.'”
(HR Muslim)

Dikutip dari buku “Ensiklopedia Akhlak Muhammad SAW” karangan Mahmud al-Mishri yang diterbitkan oleh Pena Pundi Aksara, cetakan I, hal 133-135

Kupang, 9 Juli 2011

, ,

Leave a comment

Keikhlasan dapat Melapangkan Kesulitan

Keikhlasan dapat Melapangkan Kesulitan dan Dukacita

Dahulu kala pada masa umat sebelum kalian, tiga orang yang beriman kepada Allah pergi hingga waktu membuat mereka harus berisitirahat di suatu gua untuk menginap. Mereka bertiga memasuki gua tersebut, tapi tiba-tiba batu besar dari gunung jatuh dan menutup pintu gua tersebut. Mereka berkata,’Kita tidak dapat keluar dari gua ini kecuali masing-masing dari kita berdoa dan memohon kepada Allah untuk mengeluarkan kita dari tempat ini dengan perantara amal saleh kita.’
Laki-laki pertama dari mereka berdoa,’Ya Allah, ya Tuhanku, aku pernah memiliki orang tua yang lanjut usia. Akulah yang memerahkan susu mereka berdua. Aku tidak memberi perahan itu kepada siapapun sebelum mereka berdua meminumnya. Suatu hari aku mencari pepohonan dan aku baru pulang ketika mereka tertidur. Akupun memerah susu untuk mereka, namun mereka masih terlelap. Aku tidak suka membangunkan mereka, namun aku juga tidak mau mendahulukan orang lain meminum perahan itu sebelum mereka berdua. Aku menunggu mereka terbangun hingga cahaya fajar menyingsing, sedangkan anak-anakku yang masih kecil menangis di kakiku karena lapar. Kemudian orang tuaku terbangun. Lalu mereka meminum susu itu. Ya Allah, ya Tuhanku, jika semua yang kulakukan tadi adalah benar-benar hanya mencari ridha-Mu maka keluarkanlah aku dari jebakan batu besar ini.’ Kemudian batu besar itu terbuka sedikit, namun mereka bertiga belum dapat keluar.
Pemuda yang kedua berdoa,’Ya Allah, ya Tuhanku, aku memiliki seorang sepupu perempuan yang amat kucintai dan aku menginginkan dirinya namun ia menolak. Hingga datanglah saat dimana ia sangat berada dalam keadaan yang menyedihkan selama beberapa tahun. Ia mendatangiku, kemudian aku memberinya 120 dinar dengan syarat ia mengizinkan aku untuk mendapatkannya. Ia pun setuju. Namun pada saat dimana ia telah ditanganku sang perempuan berkata,’Bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu melepas segel tanpa haknya. Karena itu, akupun langsung pergi dari hadapannya, meski ia adalah perempuan yang paling kucintai. Akupun meninggalkan emas yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jika itu benar-benar aku lakukan demi mencari ridha-Mu maka bantulah kesulitan kami ini.’ Batu besar itu pun menyingkir lagi sedikit, namun begitu, mereka belum dapat keluar.
Pemuda ketiga berdoa,’Ya Allah, ya Tuhanku, aku pernah mempekerjakan tenaga beberapa orang. Telah aku beri semua upah mereka, kecuali satu orang yang meninggalkan upahnya dan belum mengambilnya. Akupun ‘mengembangbiakkan’ hartanya hingga menjadi berlipat-lipat. Selang beberapa waktu, orang itu mendatangiku seraya berkata,’Wahai engkau, hamba Allah, berikanlah upah kerjaku ketika itu.’ Aku menjawab,’Apa yang kamu lihat sekarang ini adalah hasil dan upahmu; berupa unta, sapi, kambing dan hamba sahaya ini.’ Ia berkata,’Aku sungguh sedang tidak menjatuhkanmu.’ Kemudian ia mengambil seluruh hartanya dan kemudian pergi tanpa menyisakan sedikitpun. Ya Allah, bila hal yang aku lakukan itu benar-benar hanya untuk mencari ridha-Mu, maka keluarkanlah kami dari perangkap ini.’ Batu besar itu pun kemudian bergeser lagi hingga mereka bertiga keluar dengan selamat.
(HR Bukhari dan Muslim)

Dikutip dari buku “Ensiklopedia Akhlak Muhammad SAW” karangan Mahmud al-Mishri yang diterbitkan oleh Pena Pundi Aksara, cetakan I, hal 132-133

Kupang, 9 Juli 2011

, ,

Leave a comment

Akhlak Mulia pada Istri

Akhlak Mulia pada Istri Tercinta

Posted: 07 Jun 2011 05:00 PM PDT

Alhamdulillahi wahdah, wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah…

Prolog

“Masya Allah, akhlak pak anu bagus banget lho!” kata seorang bapak-bapak ‘mempromosikan’ rekan kerjanya.

“Buktinya apa pak?” tanya lawan bicaranya.

“Kalau di kantor ia ramah banget, apalagi kalo sedang berhadapan dengan bosnya!” jawabnya.

“Wuih, bu anu akhlaknya baik banget!” komentar seorang ibu-ibu tatkala membicarakan salah satu tetangganya.

“Darimana ibu tau?” tanya temannya.

“Itu lho jeng, kalau di arisan RT, dia tuh ramah banget!” sahutnya.

Begitulah kira-kira cara kebanyakan kita menilai mulia-tidaknya akhlak seseorang. Sebenarnya, pola penilaian seperti itu tidaklah mutlak keliru. Hanya saja kurang jeli. Sebab, sangat memungkinkan sekali seseorang itu memiliki dua akhlak yang diterapkannya pada dua kesempatan yang berbeda. Berakhlak mulia di satu tempat, tetapi tidak demikian di tempat yang lain. Itu tergantung kepentingannya.

Lantas, bagaimanakah Islam membuat barometer penilaian kemuliaan akhlak seorang itu? Tulisan berikut berusaha sedikit mengupas permasalahan tersebut.

Islam Agama Akhlak

Di antara tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain untuk menegakkan tauhid di muka bumi, adalah dalam rangka menyempurnakan akhlak umat manusia. Sebagaimana dijelaskan dengan gamblang dalam sabda beliau,

“بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ”

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (H.R. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani).

Sedemikian besar perhatiannya terhadap perealisasian akhlak, Islam tidak hanya menjelaskan hal ini secara global, namun juga menerangkannya secara terperinci. Bagaimanakah akhlak seorang muslim kepada Rabb-nya, keluarganya, tetangganya, bahkan kepada hewan dan tetumbuhan sekalipun!

Di antara hal yang tidak terlepas dari sorotannya ialah penjelasan tentang barometer akhlak mulia. Yakni, kapankah seseorang itu berhak dinilai memiliki akhlak mulia. Atau dengan kata lain: sisi apakah yang bisa dijadikan ‘jaminan’ bahwa seseorang itu akan berakhlak mulia pada seluruh sisi kehidupannya apabila ia telah berakhlak mulia pada sisi yang satu itu?

Barometer Akhlak Mulia

Panutan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan permasalahan di atas dalam sabdanya,

“خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي”

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan al-Albani menilai hadits tersebut sahih).

Hadits di atas terdiri dari dua bagian. Pertama, penjelasan tentang barometer akhlak mulia. Kedua, tentang siapakah yang pantas dijadikan panutan dalam hal tersebut.

Dalam kaitan dengan hal di atas, penulis berusaha sedikit mengupas dua bagian tersebut di atas semampunya:

Pertama: Mengapa berakhlak mulia kepada keluarga, terutama terhadap istri dan anak-anak, dijadikan barometer kemuliaan akhlak seseorang?

Sekurang-kurangnya, wallahu a’lam, ada dua hikmah di balik peletakan barometer tersebut [disarikan dari kitab al-Mau’izhah al-Hasanah fi al-Akhlâq al-Hasanah, karya Syaikh Abdul Malik Ramadhâni (hal. 77-79)]:

a. Sebagian besar waktu yang dimiliki seseorang dihabiskan di dalam rumahnya bersama istri dan anak-anaknya. Andaikata seseorang itu bisa bersandiwara dengan berakhlak mulia di tempat kerjanya –yang itu hanya memakan waktu beberapa jam saja- belum tentu ia bisa bertahan untuk terus melakukannya di rumahnya sendiri. Dikarenakan faktor panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk ‘bersandiwara’. Justru yang terjadi, saat-saat itulah terlihat akhlak aslinya.

Ketika bersandiwara, bisa saja dia membuat mukanya manis, tutur katanya lembut dan suaranya halus. Namun, jika itu bukanlah watak aslinya, dia akan sangat tersiksa dengan akhlak palsunya itu jika harus dipertahankan sepanjang harinya.

Kebalikannya, seseorang yang memang pembawaan di rumahnya berakhlak mulia, insya Allah secara otomatis ia akan mempraktekkannya di manapun berada.

b. Di tempat kerja, ia hanyalah berposisi sebagai bawahan, yang notabenenya adalah lemah. Sebaliknya, ketika di rumah ia berada di posisi yang kuat; karena menjadi kepala rumah tangga. Perbedaan posisi tersebut tentunya sedikit-banyaknya berimbas pula pada sikapnya di dua alam yang berbeda itu.

Ketika di kantor, ia musti menjaga ‘rapor’nya di mata atasan. Hal mana yang membuatnya harus berusaha melakukan apapun demi meraih tujuannya itu. Meskipun untuk itu ia harus memoles akhlaknya untuk sementara waktu. Itu tidaklah masalah. Yang penting karirnya bisa terus menanjak dan gajinya pun bisa ikut melonjak.

Adapun di rumah, di saat posisinya kuat, dia akan melakukan apapun seenaknya sendiri, tanpa merasa khawatir akan dipotong gajinya ataupun dipecat.

Demikian itulah kondisi orang yang berakhlak mulia karena kepentingan duniawi. Lalu, bagaimanakah halnya dengan orang yang berakhlak mulia karena Allah? Ya, dia akan terus berusaha merealisasikannya dalam situasi dan kondisi apapun, serta di manapun ia berada. Sebab ia merasa selalu di bawah pengawasan Dzat Yang Maha melihat dan Maha mengetahui.

Kedua: Beberapa potret kemuliaan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keluarganya.

Sebagai teladan umat, amatlah wajar jika praktik keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bergaul dengan keluarganya kita pelajari. Dan tentu saja lautan kemuliaan akhlak beliau terhadap keluarganya tidak bisa dikupas dalam lembaran-lembaran tipis ini. Oleh karena itu, di sini kita hanya akan menyampaikan beberapa contoh saja. Hal itu hanya sekadar untuk memberikan gambaran akan permasalahan ini.

Turut membantu urusan ‘belakang’.
Secara hukum asal, urusan dapur dan tetek bengek-nya memang merupakan kewajiban istri. Namun, meskipun demikian, hal ini tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ikut turun tangan membantu pekerjaan para istrinya. Dan ini tidak terjadi melainkan karena sedemikian tingginya kemuliaan akhlak yang beliau miliki.

عَنْ عُرْوَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: “مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ”

Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (H.R. Ibnu Hibban).

Subhanallah! Di tengah kesibukannya yang luar biasa padat berdakwah, menjaga stabilitas keamanan negara, berjihad, mengurusi ekonomi umat dan lain-lain, beliau masih bisa menyempatkan diri mengerjakan hal-hal yang dipandang rendah oleh banyak suami di zaman ini! Andaikan saja para suami-suami itu mau mempraktekkan hal-hal tersebut, insyaAllah keharmonisan rumah tangga mereka akan langgeng.

Berpenampilan prima di hadapan istri dan keluarga.
Berikut Aisyah, salah satu istri Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam menyampaikan pengamatannya;

“أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ”

“Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam jika masuk ke rumahnya, hal yang pertama kali beliau lakukan adalah bersiwak.” (H.R. Muslim).

Bersiwak ketika pertama kali masuk rumah??! Suatu hal yang mungkin tidak pernah terbetik di benak kita. Tetapi, begitulah cara Nabi kita shallallahu ‘alahi wa sallam menjaga penampilannya di hadapan istri dan putra beliau. Ini hanya salah satunya lho! Dan beginilah salah satu potret kemuliaan akhlak Rasulullah kepada keluarganya.

Tidak bosan untuk terus menasehati istri dan keluarga.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

“أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا”

“Ingatlah, hendaknya kalian berwasiat yang baik kepada para istri.” (H.R. Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani).

Timbulnya riak-riak dalam kehidupan rumah tangga merupakan suatu hal yang lumrah. Namun, jika hal itu sampai mengotori keharmonisan jalinan kasih sayang antara suami dan istri, atau bahkan menghancurkan bahtera pernikahan, tentulah sangat berbahaya. Agar mimpi buruk itu tidaklah terjadi, seyogyanya ditumbuhkan budaya saling memahami dan kebiasaan saling menasehati antara suami dan istri.

Daripada itu, benih-benih kesalahan yang ada dalam diri pasangan suami-istri hendaknya tidaklah didiamkan begitu saja hanya karena dalih menjaga keharmonisan rumah tangga. Justru sebaliknya, kesalahan-kesalahan itu harus segera diluruskan. Dan tentunya hal itu harus dilakukan dengan cara yang elegan: tutur kata yang lembut, raut muka yang manis dan metode yang tidak menyakiti hati pasangannya.

Epilog

Semoga tulisan sederhana ini bisa dijadikan sebagai salah satu sarana instrospeksi diri –terutama bagi mereka yang menjadi panutan orang banyak, seperti: da’i, guru, ustadz, pejabat dan yang semisalnya- untuk terus berusaha meningkatkan kualitas muamalah para panutan itu terhadap keluarga mereka masing-masing. Jika sudah demikian, berarti mereka telah betul-betul berhasil menjadi qudwah luar maupun dalam. Wallahu a’la wa a’lam.

Kedungwuluh Purbalingga, 7 Rabi’ul Awal 1431 / 21 Februari 2010

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.

Artikel http://www.muslim.or.id

,

Leave a comment