Archive for category Akidah

Pendapat ulama atas sifat-sifat Allah Swt

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan di dalam Manaqib asy-Syafi’i, dari Yunus bin Abd al-‘A’la,”Aku telah mendengar asy-Syafi’i berkata ; Allah Swt. memiliki asma‘ (nama-nama) dan sifat-sifat yang tidak dapat dibantah oleh siapapun, Maka barang siapa yang menyelisihinya setelah adanya dalil yang menetapkannya, berarti dia telah terjerumus dalam kekafiran. Jika sebelum adanya dalil, berarti dia masih terbenam dalam kebodohan. Karena pengetahuan tentang hal itu tidak dapat dicerna dengan akal, periwayatan dan pemikiran. Oleh karena itu kita menyatakan ke-tsubut-an sifat-sifat ini dan menafikan pentasybihannya, sebagaimana Allah Swt. telah menafikan dari Dzat-Nya (tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat).

Di dalam kitab Jami’, at-Tirmidzi menjelaskan pada bab Fadhl ash-Shadaqah,” riwayat-riwayat mengenai sifat-sifat Allah Swt. semuanya tsabit. Kita beriman kepadanya dan tidak membuat banyak prasangka dan tidak pula mempertanyakan bagaimana-nya. ”

Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh imam Malik, lbnu Uyainah dan lbnu Mubarak, mereka semua menerima sifat-sifat Allah tanpa mempertanyakan bagaimana Allah menjalankan sifat-sifat-Nya tersebut. Inilah pendapat-pendapat para ulama dari kalangan ahli sunnah dan jamaah. Sedangkan kelompok al-Jahmiyah, mereka mengingkari keimanan semacam ini, mereka membuat berbagai penyerupaan akan sifat-sifat Allah.

Ishaq bin Rahawaihi berkata, “Penyerupaan akan sifat Allah terjadi apabila disebutkan; tangan-Nya seperti tangan ini, pendengaran-Nya seperti pendengaran ini.”Dia juga menjelaskan di dalam tafsir surat al-Maidah,”Para imam telah menyatakan bahwa kami beriman dengan hadits-hadits mengenai sifat Allah tanpa penafsiran. Di antara mereka adalah ats-Tsauri, Malik, lbnu Uyainah dan lbnu al-Mubarak.”

Ibnu Abd al-Barr berkata,”Ahli Sunnah telah sepakat mengimani sifat-sifat Allah yang terdapat di dalam al-Qur’an dan Sunnah dan mereka tidak mempertanyakan kayf-nya sifat-sifat tersebut. Sedangkan kelompok Jahmiyah, Mu’tazilah dan Khawarij mengatakan; barang siapa yang menyetujui sifat-sifat itu berarti dia telah menyerupakannya.”

Imam al-Haramain berpendapat di dalam ar-Risalah an-Nizhamiyah, “Ulama berbeda pendapat dalam fenomena ini, sebagian dari mereka membolehkan pentakwilannya. Sedangkan ulama salaf berkomitmen untuk tidak mentakwilkannya, menerima sebagaimana ia tertera secara zhahir dari sumber-sumbernya, dan menyerahkan sepenuhnya makna-makna kepada Allah Swt. Maka pendapat yang akan kita ambil dengan penuh keridhaan dan akidah yang kita yakini adalah sebagaimana pandangan ulama salaf. Hal ini berdasarkan dalil qath’i berupa ijma’umat. Kalau memang sekiranya kajian tentang pentakwilan sifat-sifat Allah ini merupakan suatu hal yang utama, niscaya perhatian mereka lebih terfokus kepada hal ini daripada terhadap cabang-cabang syariat. Jika periode generasi sahabat dan tabi’in berakhir menghindari pentakwilan, langkah mereka merupakan tuntunan yang  harus diikuti”(Lihat Fath al-Bari, hal. 13, 342, 343, cet. Al-Amiriyah).

Sumber:

Buku “The History of Hadith” Historiografi Hadits Nabi dari Masa ke Masa”, karya Prof. Muhammad Abu Zahw, penerbit Keira Publishing, cetakan pertama Juli 2015 hal.174-175

 

 

Leave a comment

Contoh Penggunaan Takwil

“Apa yang datang kepada mereka dari pada al-Dzikr (al-Qur’an) adalah sesuatu yang baru” (QS. Al-Anbiya’: 2)

Aku katakan kepada mereka bahwa yang dimaksud baru dari al-Qur’an tersebut adalah proses turunnya kepada kita, bukan al-Qur’an itu sendiri yang baru.
Saya (al-Bayhaqi) berkata: “Takwil aI-Imam Ahmad ini benar. Di antara bukti kebenaran takwil beliau terhadap
ayat QS. aI-Anbiya’: 2 tersebut adalah sebuah riwayat yang telah mengkabarkannya kepadaku oleh Abu Bakar Muhammad ibn aI-Hasan ibn Furak, berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah ibn Ja’far, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami Yunus ibn Habib, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami Abu Dawud berkata: Telah mengkabarkan kepada kami Syu’bah dari ‘Ashim dari Abi Wa’il dari sahabat Abdullah ibn Mas’ud berkata:”Suatu saat aku datang kepada Rasulullah, aku mengucapkan salam kepadanya, namun ia tidak
menjawab salamku. Maka aku mencari-cari perkara apa yang telah terjadi pada diriku. Kemudian aku berkata kapada Rasulullah: Wahai Rasulullah adakah sesuatu telah terjadi pada diriku? Rasulullah berkata:
“Sesungguhnya Allah “membuat sesuatu yang baru” dari segala urusan-Nya bagi nabi-Nya terhadap apapun yang Dia kehendaki, Dan sesungguhnya di antara “yang baru” — artinya yang Dia wahyukan kepadaku — adalah ”Janganlah kalian mengajak berbicara dalam keadaan shalat.

(Pengertian “yang baru” di sini adalah kejadiannya kepada makhluk-Nya, bukan dalam pengertian bahwa Allah
memiliki kehendak yang baru)

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam kitab Syarh Shahih al-Bukhari berkata:

“Ibn al-Arabi berkata: Diriwayatkan bahwa orang-orang ahli bid’ah menolak hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah tersebut, sementara para ulama Salaf memakainya, dan sebagian ulama lainnya menerima hadits tersebut dengan adanya takwil. Pendapat terakhir inilah yang aku pegang.
Dalam teks hadits disebutkan “Yanzilu”, an-Nuzul di sini maknanya kembali kepada perbuatan (Af’al) Allah, bukan dalam pengertian -sifat- Dzat-Nya. Dan makna yang dimaksud dari hadits ini adalah bahwa Allah memerintah beberapa Malaikat-Nya untuk turun dengan membawa perintah dan larangan-Nya. Makna an-Nuzul dapat bermakna dalam pengertian indrawi; yaitu yang terjadi pada tubuh atau benda-benda, tapi juga dapat bermakna dalam pengertian maknawi. Jika engkau memaknai an-Nuzul tersebut dalam pengertian indrawi maka yang dimaksud adalah para Malaikat yang turun dengan perintah Allah. Dan jika engkau memaknai an-Nuzul dalam pengertian maknawi maka artinya ialah bahwa Allah telah berkehendak akan suatu kejadian pada makhluk, yang kejadian perkara tersebut pada mereka itu baru, artinya proses kejadian perkara dari kehendak Allah yang terjadi pada makhluk tersebut dinamakan dengan an-Nuzul dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain. Pengertian semacam ini adalah termasuk penggunaan bahasa Arab yang benar.”

Kesimpulannya, dari pernyataan ini, Ibn al-Arabi telah melakukan takwil terhadap hadits tersebut dari dua segi.
Pertama; mentakwil makna ”Yanzilu” dalam pengertian bahwa itu adalah Malaikat vang turun karena perintah
Allah. Kedua; mentakwil dengan menjadikannya sebagai bentuk majaz isti’arah, yang artinya bahwa Allah mengabulkan segala segala doa pada waktu tersebut (sepertiga akhir malam) dan mengampuni setiap orang yang meminta ampun kepada-Nya”.

Sumber:
Buku “Mengungkap Kebenaran Aqidah Asy’-Ariyyah” karya Kholil Abu Fateh, hal. 223-225.

Leave a comment

Dialog Di Tanah Suci

Dialog Di Tanah Suci

Sidi ‘Alwi Al-Maliki
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin–ulama Wahhabi kontemporer di Saudi Arabia yang sangat populer dan kharismatik-, mempunyai seorang guru yang sangat alim dan kharismatik di kalangan kaum Wahhabi, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di. Ia dikenal dengan julukan Syaikh Ibnu Sa’di. Ia memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling populer adalah karyanya yang berjudul, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, kitab tafsir setebal 5 jilid, yang mengikuti paradigma pemikiran Wahhabi. Tafsir ini di kalangan Wahhabi menyamai kedudukan Tafsir al-Jalalain di kalangan kaum Sunni.

Syaikh Ibnu Sa’di dikenal sebagai ulama Wahhabi yang ekstrem. Namun demikian, terkadang ia mudah insyaf dan mau mengikuti kebenaran, dari manapun kebenaran itu datangnya.

Suatu ketika, al-Imam al-Sayyid ‘Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani (ayahanda al-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki) sedang duduk-duduk di serambi Masjidil Haram bersama murid-muridnya dalam halaqah pengajiannya. Di bagian lain serambi Masjidil Haram tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di juga duduk-duduk bersama anak buahnya. Sementara orang-orang di Masjidil Haram sedang larut dalam ibadah. Ada yang shalat dan ada pula yang thawaf. Pada saat itu, langit di atas Masjidil Haram diselimuti mendung tebal yang menggelantung. Sepertinya sebentar lagi hujan lebat akan segera mengguyur tanah suci umat Islam itu.

Tiba-tiba air hujan itu pun turun dengan lebatnya. Akibatnya, saluran air di atas Ka’bah mengalirkan air hujan itu dengan derasnya. Melihat air begitu deras dari saluran air di atas kiblat kaum Muslimin yang berbentuk kubus itu, orang-orang Hijaz seperti kebiasaan mereka, segera berhamburan menuju saluran itu dan mengambil air tersebut. Air itu mereka tuangkan ke baju dan tubuh mereka, dengan harapan mendapatkan berkah dari air itu.

Melihat kejadian tersebut, para polisi pamong praja Kerajaan Saudi Arabia, yang sebagian besar berasal dari orang Baduwi daerah Najd itu, menjadi terkejut dan mengira bahwa orang-orang Hijaz tersebut telah terjerumus dalam lumpur kesyirikan dan menyembah selain Allah subhanahu wa ta’ala dengan ngalap barokah dari air itu. Akhirnya para polisi pamong praja itu menghampiri kerumunan orang-orang Hijaz dan berkata kepada mereka yang sedang mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air Ka’bah itu, “Hai orang-orang musyrik, jangan lakukan itu. Itu perbuatan syirik. Itu perbuatan syirik. Hentikan!” Demikian teguran keras para polisi pamong praja kerajaan Wahhabi itu.

Mendengar teguran para polisi pamong praja itu, orang-orang Hijaz itu pun segera membubarkan diri dan pergi menuju Sayyid ‘Alwi yang sedang mengajar murid-muridnya di halaqah tempat beliau mengajar secara rutin. Kepada beliau, mereka menanyakan perihal hukum mengambil berkah dari air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu. Ternyata Sayyid ‘Alwi membolehkan dan bahkan mendorong mereka untuk terus melakukannya.

Talang Emas Multazam
Menerima fatwa Sayyid ‘Alwi yang melegitimasi perbuatan mereka, akhirnya untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu pun berhamburan lagi menuju saluran air di Ka’bah itu, dengan tujuan mengambil berkah air hujan yang jatuh darinya, tanpa mengindahkan teguran para polisi Baduwi tersebut. Bahkan ketika para polisi Baduwi itu menegur mereka untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu menjawab, “Kami tidak peduli teguran Anda, setelah Sayyid ‘Alwi berfatwa kepada kami tentang kebolehan mengambil berkah dari air ini.”

Akhirnya, melihat orang-orang Hijaz itu tidak mengindahkan teguran, para polisi Baduwi itu pun segera mendatangi halaqah Syaikh Ibnu Sa’di, guru mereka. Mereka mengadukan perihal fatwa Sayyid ‘Alwi yang menganggap bahwa air hujan itu ada berkahnya. Akhirnya, setelah mendengar laporan para polisi Baduwi, yang merupakan anak buahnya itu, Syaikh Ibnu Sa’di segera mengambil selendangnya dan bangkit berjalan menghampiri halaqah Sayyid ‘Alwi. Kemudian dengan perlahan Syaikh Ibn Sa’di itu duduk di sebelah Sayyid ‘Alwi. Sementara orang-orang dari berbagai golongan, berkumpul mengelilingi kedua ulama besar itu. Mereka menunggu-nunggu, apa yang akan dibicarakan oleh dua ulama besar itu.

Dengan penuh sopan santun dan etika layaknya seorang ulama besar, Syaikh Ibnu Sa’di bertanya kepada Sayyid ‘Alwi: “Wahai Sayyid, benarkah Anda berkata kepada orang-orang itu bahwa air hujan yang turun dari saluran air di Ka’bah itu ada berkahnya?”

Mendengar pertanyaan Syaikh Ibn Sa’di, Sayyid ‘Alwi menjawab: “Benar. Bahkan air tersebut memiliki dua berkah.”

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di terkejut dan berkata: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Sayyid ‘Alwi menjawab: “Karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya tentang air hujan:
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَاركَاً (ق: ٩
“Dan Kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah.” (QS. 50 : 9).

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman mengenai Ka’bah:
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبَارَكًا (آل عمران: ٩٦
“Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah rumah yang ada di Bekkah (Makkah), yang diberkahi (oleh Allah).” (QS. 3 : 96).

Dengan demikian air hujan yang turun dari saluran air di atas Ka’bah itu memiliki dua berkah, yaitu berkah yang turun dari langit dan berkah yang terdapat pada Baitullah ini.”

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di merasa heran dan kagum kepada Sayyid ‘Alwi. Kemudian dengan penuh kesadaran, mulut Syaikh Ibnu Sa’di itu melontarkan perkataan yang sangat mulia, sebagai pengakuannya akan kebenaran ucapan Sayyid ‘Alwi: “Subhanallah (Maha Suci Allah), bagaimana kami bisa lalai dari kedua ayat ini.”

Kemudian Syaikh Ibnu Sa’di mengucapkan terima kasih kepada Sayyid ‘Alwi dan meminta izin untuk meninggalkan halaqah tersebut. Namun Sayyid ‘Alwi berkata kepada Syaikh Ibnu Sa’di: “Tenang dulu wahai Syaikh Ibnu Sa’di. Aku melihat para polisi baduwi itu mengira bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin dengan mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu sebagai perbuatan syirik. Mereka tidak akan berhenti mengkafirkan dan mensyirikkan orang dalam masalah ini sebelum mereka melihat orang seperti Anda melarang mereka. Oleh karena itu, sekarang bangkitlah Anda menuju saluran air di Ka’bah itu. Lalu ambillah air di situ di depan para polisi Baduwi itu, sehingga mereka akan berhenti mensyirikkan orang lain.”

Akhirnya mendengar saran Sayyid ‘Alwi, Syaikh Ibnu Sa’di segera bangkit menuju saluran air di Ka’bah. Ia basahi pakaiannya dengan air itu, dan ia pun mengambil air itu untuk diminumnya dengan tujuan mengambil berkahnya. Melihat tindakan Syaikh Ibnu Sa’di ini, para polisi Baduwi itu pun akhirnya pergi meninggalkan Masjidil Haram dengan perasaan malu.

Kisah ini disebutkan oleh Syaikh Abdul Fattah Rawwah, dalam kitab Tsabat (kumpulan sanad-sanad keilmuannya). Beliau murid Sayyid ‘Alwi al-Maliki dan termasuk salah seorang saksi mata kejadian itu.

Syaikh Abdurrahman Ibnu Sa’di
Syaikh Ibn Sa’di sebenarnya seorang yang sangat alim. Ia pakar dalam bidang tafsir. Apabila berbicara tafsir, ia mampu menguraikan makna dan maksud ayat al-Qur’an dari berbagai aspeknya di luar kepala dengan bahasa yang sangat bagus dan mudah dimengerti. Akan tetapi sayang, ideologi Wahhabi yang diikutinya berpengaruh terhadap paradigma pemikiran beliau. Aroma Wahhabi sangat kental dengan tafsir yang ditulisnya.

Dikutip oleh: Ust. M. Luqman Firmansyah dari “Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi” , karangan Ust. Muhammad Idrus Ramli, Penerbit Bina Aswaja bekerjasama dengan LBM NU Jember, Cetakan Pertama September 2010.

Leave a comment

Beberapa Contoh Bid’ah Hasanah

Beberapa Contoh Bid’ah Hasanah:

1. Shalat sunah dua raka’at sebelum dibunuh.

Orang yang pertama kali melakukannya adalah Khubaib ibn ‘Adiyy al-Anshari; salah seorang sahabat Rasulullah. Tentang ini Abu Hurairah berkata:

Khubaib adalah orang yang pertama kali merintis shalat ketikan akan dibunuh.” (HR. al-Bukhari dalam kitab al-Maghazi, Ibn Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf)

Lihatlah, bagaimana sahabat Abu Hurairah menggunakan kata “sanna” untuk menunjukkan makna “merintis“, membuat sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya. Jelas makna “sanna” disini bukan dalam pengertian berpegang teguh dengan sunnah, juga bukan dalam pengertian menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan orang.

Salah seorang dari kalangan tabi’in ternama, yatu al-Imam Ibn Sirin, pernah ditanya tentang shalat dua raka’at ketika seorang akan dibunuh, beliau menjawab:

Dua raka’at shalat sunnah tersebut dilakukan oleh Khubaib dan Hujr bin Adiyy dan kedua orang ini adalah orang-orang (sahabat Nabi) yang mulia.” (DIriwayatkan oleh Ibn Abd al-Barr dalam kitab al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Ashab, j. 1 hlm 358)

2. Penambahan adzan pertama sebelum shalat Jum’at oleh sahabat Utsman bin Affan. (HR al-Bukhari dalam kitab Shahih al-Bukhari pada bagian Kitab al-Jum’ah)

3. Pembuatan titik-titik dalam beberapa huruf al-Qur’an oleh Yahya ibn Ya’mur.

Beliau adalah salah seorang tabi’in yang mulia dan agung. Beliau seorang yang alim dan bertakwa. Perbuatan beliau ini disepakati oleh para ulama dari kalangan ahli hadits dan lainnya. Mereka semua menganggap baik perbuatan titik-titik dalam beberapa huruf al-Qur’an tersebut. Padahal ketika Rasululullah mendiktekan bacaan-bacaan al-Qur’an tersebut kepada para penulis wahyu, mereka semua menuliskannya dengan tanpa titik-titik sedikitpun pada huruf-hurufnya.

Demikian pula di masa khalifah Utsman ibn Affan, beliau menyalin dan menggandakan mushaf menjadi lima atau enam naskah, pada setiap salinan mushaf-mushaf tersebut tidak ada satu pun yang dibuatkan titik-titik pada sebagian huruf-hurufnya. Namun demikian, setelah pemberian titik-titik oleh Yahya bin Ya’mur tersebut kemudian semua umat Islam hingga kini selalu memakai titik dalam penulisan huruf-huruf al-Qur’an. Apakah mungkin hal ii dikatakan sebagai bid’ah sesat dengan alasan Rasulullah tidak pernah melakukannya? Jika demikian halnya maka hendaklah mereka meninggalkan mushaf-mushaf tersebut dan menghilangkan titik-titiknya seperti pada masa Utsman.

Demikian pula penulisan nama-nama surat di permulaan setiap surat al-Qur’an, pemberian lingkaran di akhir setiap ayat, penulisan juz di setiap permulaan juz, juga penulisan hizb, nishf (pertengan juz), rubu’ (setiap seperempat juz) dalam setiap juz dan semacamnya, semua itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Apakah dengan alasan semacam in kemudian semua itu adalah bid’ah yang diharamkan?

4. Pembuatan mihrab dalam masjid sebagai tempat shalat imam, orang pertama kali membuat mihrab semacam ini adalah al-Khalifah ar-Rasyid Umar ibn Abd al-Aziz di masjid Nabawi. Perbuatan al-Khalifah ar-Rasyid ini kemudian diikuti oleh kebanyakan umat Islam di seluruh dunia ketika mereka membangun mesjid. Siapa berani mengatakan bahwa itu adalah bid’ah sesat, sementara hampir seluruh masjid di zaman sekarang memiliki mihrab? Siapa yang tidak mengenal Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz sebagai al-Khalifah ar-Rasyid?

5. Peringatan maulid Nabi adalah bid’ah hasanah sebagaimana ditegaskan oleh al-Hafizh Ibn Dihyah (abad ke 7 H), al-Hafizh al-Iraqi (w. 806 H), al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (w. 911 H), al-Hafizh as-Sakhawi (w. 902 H), Syekh Ibn Hajar al-Haitami (w. 974 H), al-Imam Nawawi (w. 676 H), al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam (w. 660 H), mantan mufti Mesir; Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (w. 1354 H), mantan mufti Beirut Lebanon; Syekh Mushthafa Naja (w. 1351 H) dan masih banyak lagi ulama terkemuka lainnya.

6. Membaca shalawat atas Rasulullah setelah adzan adalah bid’ah hasanah sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh as-Suyuthi dalam kitab Musamarah al-Awail, al-Hafizh as-Sakhawi dalam kitab al-Qaul al-Badi’, al-Haththab al-Maliki  dalam kitab Mawahib al-Jalil dan para ulama besar lainnya.

7. Menulis kalimat Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam setelah nama Rasulullah termasuk bid’ah hasanah. Sebab Rasulullah dalam surat-surat yang beliau kirimkan kepada para raja dan penguasa di masa beliau hidup tidak pernah menulis kalimat shalawat semacam itu.

Sumber:

Buku “Masa’il Diniyyah” karya Kholil Abu Fatih, hal 374-377

Leave a comment

Kerancuan Akidah Nasrani

Kerancuan Akidah Nasrani

Kerancuan keyakinan kaum Nasrani tidak berbeda jauh dengan kaum Yahudi terkait Tuhan yang merupakan asas semua keyakinan. Kitab-kitab Injil yang memakai nama sebagian dari mereka (Paulus, Matius, Yohanes, dan Lukas) berisi kebohongan yang tidak bisa diterima akal sehat, sama sekali tidak laik dikaitkan dengan seorang rasul. Kekacauan mereka yang paling lancang terkait masalah ini seperti yang dituturkan Al-Qur’an tentang paham trinitas. Allah berfirman,

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga,’ padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (al-Ma’idah: 73)

Kaum Nasrani menyatakan Isa adalah Tuhan, Allah berfirman,

“Sesungguhnya telah kafirlan orang-orang yang berkata:’Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam,’ padahal Al-Masih (sendiri) berkata: ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya orang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (al-Ma’idah: 72)

Pandangan tentang kemanusiaan Tuhan karena menurut mereka Al-Masih adalah anak Tuhan, pandangan ini menyeret mereka pada keyakinan keji lain; hubungan istimewa antara mereka dengan Allah. Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan.

“Orang-orang Yahudi berkata:’Uzair itu putra Allah. ‘Dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Al-Masih itu putra Allah.’ Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” (at-Taubah: 30)

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: ‘Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.’ Katakanlah: ‘Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?’ (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).” (al-Ma’idah: 18)

Al-Qur’an yang menjadi rujukan kita menuturkan bentuk keyakinan mereka yang jauh dari kebenaran, seperti perbedaan antara Khalik dan makhluk. Kitab-kitab yang mereka sebarkan dan mereka sebut-sebut suci itu penuh dengan kerancuan keyakinan yang sebagian diantaranya dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Memang kitab-kitab tersebut memiliki bentuk yang berbeda, sama seperti perbedaan antar sekte dan kelompok mereka, namun isi penyimpangan tentang konsep Tuhan mereka hampir serupa.

Para ahli sejarah aliran dan sekte agama dalam pemikiran Islam sering mengisahkan tentang keyakinan-keyakinan kaum Nasrani dan kerancuan ungkapan mereka, berikut kami sampaikan sebagian diantaranya.

Qadhi Abdul Jabbar al-Hamdzani menjelaskan tentang kaum Nasrani: Menurut kami, Al-Masih berkata, “Anak manusia itulah Rabb penguasa hari Sabat.” Al-Masih juga berkata, “Aku adalah bapaku dan bapaku adalah aku, hanya anak yang mengenal bapa dan hanya bapa yang mengenal anak, Tuhan berada dalam diriku dan aku bersama-Mu.”

Al-Masih berkata, “Aku berada dalam diri bapaku dan bapaku berada pada diriku.” Al-Masih berkata, “Aku sudah ada sebelum Ibrahim, aku sudah melihat Ibrahim sementara dia tidak melihatku.” Kaum Yahudi berkata, “Engkau berdusta, bagaimana bisa engkau telah ada sebelum Ibrahim, padahal usiamu baru 30 tahun.”

Al-Masih menjawab, “Aku yang membuat tanah cikal bakal Adam dan aku dikelilingi oleh seluruh makhluk, aku datang dan pergi, pergi dan datang.” Mereka menyatakan, pandangan kami tentang Al-Masih ini benar adanya sebab andai Tuhan bukanlah Isa, berarti kata-kata tersebut tidak berarti. Menurut kami, Al-Masih adalah putra Adam sekaligus Tuhan, Sang Pencipta dan Sang Pemberi rezeki baginya. Al-Masih adalah putra Ibrahim sekaligus Tuhan, Pencipta dan yang memberinya rezeki. Al-Masih adalah putra Israil sekaligus Tuhan, Pencipta dan Sang Pemberi Rezeki. Al-Masih adalah putra Maryam sekaigus Tuhan, Pencipta dan Sang Pemberi Rezeki.”

Teks-teks di atas sudah cukup menjelaskan bagi siapapun yang paham dan merenungkan, selanjutnya setelah itu silakan dianalogikan dengan semua kerancuan dan kekafiran teks-teks Injil lain.

Imam Al-Ghazali mengomentari banyak sekali kerancuan kaum Nasrani dan mendebat keyakinan trinitas mereka seraya menjelaskan bahwa pandangan ini penuh dengan kontradiktif, terlebih aib bagi Tuhan seperti yang mereka katakan, karena mereka sangat membedakan sifat-sifat serta keistimewaan-keistimewaan Tuhan. Mereka juga membedakan sifat-sifat dan ciri khas manusia, setelah itu mereka menyatakan keduanya menyatu. Pernyataan ini hanya dikemukakan orang yang tidak berakal — meminjam istilah Imam Al-Ghazali. Selanjutnya Imam Ghazali membantah kerancuan mereka dengan menjelaskan, setiap bagian yang ada dalam suatu susunan pasti memerlukan bagian-bagian lain agar susunannya sempurna.

Dalam hal ini, Tuhan — sesuai pemahaman dan pandangan Nasrani — memerlukan manusia. Imam Al-Ghazali meneruskan, jika susunan yang dimaksud bukanlah susunan penggabungan dan penyatuan dan jika dimaksudkan lain berarti kerusakannya jauh lebih besar.

Imam Al-Ghazali juga mendebat kaum Nasrani terkait Al-Masih yang mereka sebut-sebut sebagai Tuhan, juga keyakinan-keyakinan lain yang mereka buat setelah menyimpang dari kebenaran yang disampaikan Isa.

Sumber:
Buku “Akidah Islam menurut Empat Madzhab” karangan Prof. Dr. Abul Yazid Abu Zaid al-‘Ajami terbitan Pustaka Al-Kautsar hal. 93-96.

Leave a comment

Ucapan Selamat Natal dan Akidah

Ucapan Natal dan Syubhat Akidah

Kamis, 22 Desember 2011
Oleh: Muhammad Rifqi Arriza

SELAMA ini, posisi dan sikap para sahabat Nabi dan ulama terhadap hal-hal yang berkaitan dengan masalah akidah adalah jelas dan tegas, begitu pun kaitannya terhadap perayaan hari-hari besar agama lain, termasuk Natal. Mengenai hal ini, ada dua pendapat; ada ulama  yang memperbolehkan umat Islam untuk mengucapkan “Selamat Natal”, dan ada sebagian ulama yang melarangnya. Setiap
pendapat berlandaskan dalil-dalil yg kuat, baik itu al-Quran maupun Sunah.
Secara umum, perbedaan pendapat para ulama ini mengerucut kepada satu hal saja; apakah ucapan selamat bagi kaum kristiani yg
merayakan Natal ini masuk ke dalam kategori akidah ataukah masih dalam koridor muamalah?
Pendapat yang melarang Sebagian ulama, klasik maupun kontemporer, melarang umat Islam untuk ‘ikut campur’ dengan perayaan agama lain, tak terkecuali Kristen, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Syeikh al- Utsaimin, dan lainnya, dengan dalil-dalil sebagai berikut:
Pertama , mau tidak mau permasalahan ini akan masuk ke dalam ranah akidah, karena perayaan natal bukanlah hal yg sembarangan dalam keyakinan kaum kristen. 25 Desember dalam keyakinan nasrani adalah hari ‘lahirnya tuhan’ atau ‘lahirnya anak tuhan’. Maka tidak ada toleransi dalam akidah, bahkan Allah Subhanahu wata’ala . sudah secara jelas dan tegas meluruskan klaim ini (lihat surat al- Ikhlas: 3 atau al-Maidah : 72 & 116, dll).
Ibnu Taimiyah dalam kitab “ Iqtidhâ’ Shirâti’l Mustaqîm, Mukhâlafatu Ashâbi’l Jahîm, ” (Dar el-Manar, Kairo, cet I, 2003, hal 200) juga
melarang untuk ber- tasyabbuh dengan hari besar kaum kafir, karena hal itu akan memberikan efek ‘lega ‘, bahwa umat Islam ‘membenarkan’ kesesatan yang mereka lakukan. Beda lagi dengan hari- hari kenegaraan, atau hari ibu dan sebagainya, tidak ada unsur akidah di dalamnya, maka dari itu masih dapat ditolerir.
Kedua , Qiyas awla dari firman Allah; ” ﻦﻣ ﻻﺇ ﻩﺮﻛﺃ ﻭ ﻪﺒﻠﻗ ﻥﺎﻤﻳﻹﺎﺑ ﻦﺌﻤﻄﻣ ” “kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam
beriman” (al- Nahl: 106) . Apakah jika kita tidak mengucapkan selamat, kita akan dibunuh? .
Ketiga , toleransi antar umat beragama tidak harus dengan mengucapkan ” Merry Christmas “, dengan berakhlakul karimah dan memperhatikan hak mereka sebagai manusia, tetangga, masyarakat, dan lainnya sudah cukup mewakili itikad baik kita untuk hidup damai, bersama mereka.
Apalagi dalam Islam, masih banyak momentum yg lebih ‘bersahabat ‘ untuk mengungkapkan pengakuan kita terhadap keberagaman ini. Sebut saja hadits Nabi yang menganjurkan kita agar melebihkan ‘kuah sayuran’ untuk diberikan kepada tetangga, atau hadits lainnya yang menunjukkan amarah Nabi kepada seseorang yang mendapati tetangganya kelaparan, tapi tidak mengulurkan bantuan. Kebetulan hadits-hadits tersebut tidak mengkhususkan bagi sesama Muslim saja, tapi umum bagi sesama manusia, baik Muslim maupun non Muslim. Bagi yang tidak punya tetangga Nasrani, saya kira dengan menghormati hari raya mereka, tanpa mengganggu apalagi merusak, adalah lebih dari cukup. Cukup dengan kata ‘silahkan’ , bukan dengan kata ‘selamat’.
Keempat, Saddu al-Dzarî ‘ah , mencegah diri agar tidak terjerumus kepada hal yang dilarang. Pendapat yang membolehkan. Beberapa ulama kontemporer seperti Dr Yusuf Qaradhawi dan Musthafa Zarqa membolehkan hal ini dengan beberapa pertimbangan;
1) Firman Allah Swt.:
” ﻻ ﻢﻛﺎﻬﻨﻳ ﻪﻠﻟﺍ ﻦﻋ ﻢﻟ ﻦﻳﺬﻟﺍ ﻰﻓ ﻢﻛﻮﻠﺗﺎﻘﻳ ﻦﻳﺪﻟﺍ ﻢﻟ ﻭ ﻢﻛﻮﺟﺮﺨﻳ
ﻦﻣ ﻥﺃ ﻢﻛﺭﺎﻳﺩ ﻢﻫﻭﺮﺒﺗ ﻭ ﻢﻬﻴﻟﺇ ﺍﻮﻄﺴﻘﺗ ﻥﺇ ﺐﺤﻳ ﻪﻠﻟﺍ ﻦﻴﻄﺴﻘﻤﻟﺍ ”
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil .” (al- Mumtahanah: 8).
2) Sikap Islam terhadap Ahlul Kitab lebih lunak daripada kepada kaum musyrikin; para penyembah berhala. Bahkan al-Quran menghalalkan makanan serta perempuan (untuk dinikahi) dari Ahli Kitab (al- Maidah: 5). Dan salah satu konsekuensi pernikahan adalah menjaga perasaan pasangan, berikut keluarganya. (Dr. Yusuf Qardhawi, Fiqh Aqalliyyât al- Muslimah, Dar el- Syuruq, cet II,
2005, hal 147- 148). Apalagi hanya dengan bertukar ucapan “Selamat” .
3) Firman Allah Subhanahu Wata’ ala:
” ﺍﺫﺇ ﻭ ﺔﻴﺤﺘﺑ ﻢﺘﻴﻴﺣ ﺍﻮﻴﺤﻓ ﻦﺴﺣﺄﺑ ﺎﻬﻨﻣ ﻭﺃ ﺎﻫﻭﺩﺭ ”
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari
padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa ).” (al- Nisa: 86).
4) Pada satu riwayat, seorang Majusi mengucapkan salam kepada Ibnu Abbas ” assalamualaikum “, maka Ibnu Abbas menjawab “waalaikumussalam wa rahmatullah”. Kemudian sebagian sahabatnya bertanya “dan rahmat Allah?”, beliau menjawab: Apakah
dengan mereka hidup bukan bukti rahmat Allah. [ Dr. Yusuf Qardhawi, Fiqh Aqalliyyât al-Muslimah , Dar el-Syuruq , cet II, 2005, hal
147- 148]
5) Pada masa kini, perayaan natal tak ubahnya adat- istiadat, perayaan masyarakat atau kenegaraan.[ Dr. Yusuf Qardhawi, Fiqh
Aqalliyyât al- Muslimah, Dar el- Syuruq, cet II, 2005, hal 147- 148]
6) Hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Sallallahu alaihi wassallam pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan
dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang dianut jenazah tersebut.
Pendapat Pertengahan Dr. Abdussattar Fathullah Said adalah profesor bidang Tafsir dan Ulumul Quran di Universitas Al-Azhar , Mesir. Dalam masalah tahniah (ucapan selamat) ini beliau agak berhati-hati dan memilahnya menjadi dua. Ada tahniah (ucapan selamat) yang halal dan ada yang haram:
Tahniah (ucapan selamat) yang halal adalah tahniah (ucapan selamat) kepada orang kafir tanpa kandungan hal- hal yang bertentangan
dengan syariah. Hukumnya halal menurut beliau. Bahkan termasuk ke dalam bab husnul akhlaq yang diperintahkan kepada umat Islam.
Sedangkan tahniah (ucapan selamat) yang haram adalah tahni’ah kepada orang kafir yang mengandung unsur bertentangan dengan
masalah diniyah, hukumnya haram. Misalnya ucapan tahniah (ucapan selamat) itu berbunyi, “Semoga Tuhan memberkati diri anda
sekeluarga.” Sedangkan ucapan yang halal seperti, “Semoga tuhan memberi petunjuk dan hidayah-Nya kepada Anda.”
Bahkan beliau membolehkan memberi hadiah kepada non Muslim, asalkan hadiah yang halal, bukan khamar (minuman keras), gambar
maksiat atau apapun yang diharamkan Allah.
Yang menjadi pertanyaan adalah; bukankah ucapan tahniah (ucapan selamat) yg berbunyi, “Semoga Tuhan memberkati diri anda
sekeluarga” lebih bersifat sindiran daripada ucapan selamat?. Menurut penulis, Prof Dr Abdussatar, secara tidak langsung telah
melarang kita untuk mengucapkan ‘Selamat Natal’, karena ada konsekuensi akidah dibelakangnya.
Sikap Umat Islam
Hal ini pernah dipermasalahkan, saat beberapa kelompok menggaungkan PNB (Perayaan Natal Bersama) sebagai wujud toleransi antar umat beragama, seakan-akan seperti ingin menunjukkan bahwa umat Islam yang tidak merayakan natal bersama berarti tidak tolerir,
tidak menghormati umat Nasrani.
Dalam masalah ini, semua ulama sepakat bahwa menghadiri perayaan hari besar agama lain adalah HARAM hukumnya. Kemudian
bagaimana seharusnya sikap kita kepada presiden Indonesia ke- 4 dan ke-6 yang menghadiri perayaan Natal, bahkan kyai
presiden kita yang sempat ‘didoakan’ oleh umat Nasrani?.
Muhammadiyah selaku salah satu ormas di Indonesia juga telah membahas masalah ini; dalam buku “Tanya Jawab Agama Jilid II”, oleh
Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, yang diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah (1991) , hal. 238- 240, sudah diterangkan, bahwa hukum menghadiri PNB adalah Haram.
Untuk saat ini, penulis lebih condong pada pendapat pertama. Yakni pelarangan. Bukan berarti sikap ini dianggap tidak menghargai umat Nasrani, apalagi ingin merusak suasana gembira, karena penulis meyakini kata “silahkan” sudah dapat mewakili kata “selamat”.
Apalagi melihat kondisi tauhid umat yang sedang goyah saat ini, oleh arus pluralisme maupun liberalisme. Maka sudah selayaknya kita
membentengi dulu akidah umat, dengan menjauhi hal-hal yang syubhat . Hal ini juga dipegang oleh Majlis Tarjih Muhammadiyah,
bahwa ”Mengucapkan Selamat Hari Natal” dapat digolongkan sebagai perbuatan yang syubhat dan bisa terjerumus kepada haram, sehingga Muhammadiyah menganjurkan agar perbuatan ini tidak dilakukan.
Selain itu, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang diketuai K. H.M. Syukri Ghozali dan Sekretarisnya Drs. H. Masudi pada 1
Jumadil Awal 1401 H./ 7 Maret 1981 telah menyatakan; perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa As, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari aqidah.
Selain itu, MUI juga menfatwakan, mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram. MUI juga mengatakan, agar
ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah subhanahu wata’ala dan tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal. Wallahu a’lam bi al- Shawab.*
Penulis sedang menyelesaikan studi di Al Azhar, Mesir
Red: Cholis Akbar

http://www.hidayatullah.com/dev/read/20321/22/12/2011/ucapan%20selamat%20natal%20dan%20syubhat%20akidah.html

,

Leave a comment

Malaikat Berdoa Untuk Orang Ini

Malaikat Berdoa Untuk Orang Ini

Allah SWT berfirman, “Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya” (QS Al Anbiyaa’ 26-28)

Jadi siapa yang tak ingin didoakan oleh makhluk Allah yang paling taat ini?

Kalau ingin didoakan para malaikat, lakukanlah amal sholeh berikut ini.

1.. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si
fulan karena tidur dalam keadaan suci'” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2.. Orang yang duduk menunggu shalat.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'” (Shahih Muslim no. 469)

3.. Orang – orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat.
Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan”
(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4.. Orang – orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5.. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al-Fatihah.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (Shahih Bukhari no. 782)

6.. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'”
(Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7.. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'” (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8.. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'” (Shahih Muslim no. 2733)

9.. Orang-orang yang berinfak.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'”
(Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10.. Orang yang makan sahur.
Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur”
(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11.. Orang yang menjenguk orang sakit.
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh”
(Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

12.. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain”
(dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

http://www.menjelma.com

, ,

Leave a comment