Archive for category Biografi Ulama

Awal Keilmuan Imam Abu Hanifah

Di awal perjalanan hidupnya, Abu Hanifah tidak ingin menjadi seorang faqih, apalagi bercita-cita menjadi seorang pendiri mazhab tertentu dalam Islam. Awal perjalanan hidup sang Imam dimulai sebagai pedagang. sampai pada suatu hari, Imam Sya’bi memanggilnya. Sebab, ia melihat ada talenta besar pada diri Abu Hanifah. Imam Sya’bi bertanya,”Dengan siapa saja kau sering berinteraksi”Abu Hanifah menjawab,’Aku sering berinteraksi dengan orang-orang di pasar. ” Imam Sya’bi berkata,”Yang aku maksud bukan kegiatan di pasar, melainkan interaksi dengan para ulama. ” Abu Hanifah menjawab,”Aku jarang berinteraksi dengan ulama.’Sya’bi melanjutkan, “Jangan lupa :: Sering-seringlah belajar dan mengikuti pengajian para ulama. Sebab, aku melihat semangat dalam dirimu begitu tinggi. “Abu Hanifah berkata, “Kata-kata Sya’bi tersebut sangat membekas dalam hati. Setelah itu, aku meninggalkan aktivitas di pasar dan menggantinya dengan aktivitas keilmuan. Sungguh, Allah telah memberikan manfaat padaku melalui perkataannya.

Imam Abu Hanifah lantas memutuskan untuk konsentrasi sepenuhnya terhadap ilmu pengetahuan. Langkah pertama yang ia tempuh adalah menghafal al-Qur’an  qira’at Ashim, mengambil riwayat hadits, mempelajari ilmu bahasa Arab, kemudian mempelajari ilmu kalam (teologi), di mana Baghdad pada waktu itu sebagai pusat perkembangan ilmu ini.

Zufar bin Hudzail bercerita dalam riwayat yang disampaikan oleh al-Khathib al-Baghdadi melalui jalur periwayatan al-Khallal, dia berkata,”Aku mendengar Abu Hanifah berkata,’Aku mempelajari ilmu kalam sampai pada derajat yang sangat mahir. Kami biasanya mengadakan halaqah di dekat halaqah Hamad bin Abu Sulaiman. Suatu hari, ada seorang perempuan mendatangiku, lalu dia bertanya, ‘Seorang laki-laki mempunyai istri seorang budak, dia ingin menalaknya-menceraikannya. Berapa kali dia boleh menalaknya?’ Abu Hanifah berkata, ‘Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Lalu, aku menyuruhnya untuk bertanya ke Hamad. Setelah mendapat jawaban, aku suruh dia kembali lagi menemuiku.’Dia bertanya kepada Hamad. Hamad menjawab,’Suami menalaknya ketika dia sedang suci dari haid dan tidak digauli sebelumnya dengan satu kali talak. Setelah itu, dia meninggalkannya sampai dia mengalami haid dua kali. Jika sudah mandi besar dari haid yang kedua, dia boleh diperistri lagi.’

Setelah selesai, dia kembali kepadaku dan memberitahukan jawabannya. Aku berkata, ‘Aku tidak berkepentingan dengan ilmu kalam, seketika aku ambil sandal dan duduk dalam pengajian Hamad. Aku selalu mendengar masalah-masalah yang diajarkan oleh Hamad terus menghafalnya. Kemudian mengulanginya di esok hari, sehingga aku dapat menghafalnya dan mengoreksi kesalahan murid-murid yang lain. Hamad berkata, ‘Tidak ada yang boleh duduk di depan kecuali Abu Hanifah.’Abu Hanifah berkata, ‘Aku belajar kepadanya selama sepuluh tahun. Setelah itu, muncul keinginan dalam hati untuk meninggalkan halaqah Hamad dan membuat halaqah sendiri. Suatu hari, aku keluar malam-malam dan berniat melakukannya. Ketika masuk masjid, aku melihat Hamad dan muncul perasaan tidak enak dalam hati untuk meninggalkannya. Aku datang dan duduk di majelisnya. Pada malam itu datang berita kematian saudaranya di Bashrah, dia meninggalkan harta dan tidak memiliki ahli waris selain dirinya. Lantas dia memerintahkan, agar aku menggantikan dirinya mengajar. Pada waktu dia pergi, masalah-masalah yang belum pernah aku dengar darinya berdatangan. Aku menjawab dan menulisnya. Dua bulan ia pergi kemudian kembali lagi. Setelah ia datang, aku perlihatkan masalah-masalah yang ada selama ia pergi. Jumlahnya ada sekitar 6o masalah. Ia setuju dengan 4o jawaban dan sisanya ia tidak setuju. Setelah itu, aku bersumpah untuk tidak berpisah dari majelisnya sampai ia wafat.’Imam Abu Hanifah belajar kepada Hamad selama 18 tahun.

Dikutip dari buku “Biografi Imam Bukhari” karya Prof. Dr. Yahya Ismail, hal 221-222, penerbit Keira Publishing

Leave a comment

Periodisasi Kehidupan Imam Syafi’i

Periode pertama. Bermula dari pengajaran yang ia sampaikan di Masjidil Haram, sekembalinya ia dari Baghdad, hingga sembilan tahun setelahnya. Periodisasi seperti ini dilontarkan oleh Imam Abu Zahrah. Dalam periode ini, karya Imam Syafi ‘i yang berjudul ar-Risalah lahir. Kitab ushul fiqih pertama ini, lahir dari permintaan Abdurrahman bin Mahdi ketika dirinya meminta Imam Syafi’i untuk membuat sebuah kitab yang dapat menjelaskan makna al-Qur’an, mengumpulkan fan-fan hadits, legalitas ijmak, dan penjelasan tentang nasikh dan mansukh dalam al-Qur’an dan sunnah.

Periode kedua. Bermula dari kedatangan Imam Syafi’i ke Baghdad untuk kedua kalinya dengan membawa karya ilmiah pertamanya dalam bidang ushul fiqih atas permintaan ulama Baghdad. Imam Syafi’i menilai banyak perubahan yang terjadi dalam masalah furu’dan ushul. Hal ini mendorongnya menyebarkan ilmunya secara luas. Imam al- Karabisi berkata, “Kami tidak mengetahui kitab itu apa, sunnah itu apa, dan ijmak itu apa sampai kami mendengar perkataan Imam Syafi’i, ‘Al-Kitab, as-Sunnah, al-Ijmak‘. Mereka-ulama sebelumnya-sibuk dengan persoalan riwayat dan furu’sehingga mereka tersentak oleh perkataan Imam Syafi’i,’Terkadang Allah menyebutkan redaksi lafazh umum, tetapi yang dikehendaki adalah khusus menyebutkan redaksi khusus, tetapi yang dikehendaki adalah makna umum.’Mereka berkata, ‘Kami tidak mengetahuinya sampai mereka mendengar Imam Syafi’i berkata,’Allah telah berfirman,’Orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu.'(QS. Ali Imran [3] : 173). Yang dimaksud kata ‘orang-orang (an-nasy dalam ayat tersebut bukanlah orang Quraisy
secara keseluruhan, melainkan yang dimaksud adalah Abu Sufyan saja. ” Dalam firman-Nya,”Wahai Nabi Apabila kamu ceraikan istri-istrimu. ” (QS. Ath-Thalaq [65] 1). Redaksi”Wahai Nabi”adalah lafazh khash, tetapi yang dimaksud adalah lafazh’am. Mereka tidak mengetahui hal tersebut sampai Imam Syafi’i datang menjelaskannya. Periode ini dimulai tahun 195 H sebagaimana dikatakan oleh Imam Abu Zahrah- sampai tahun 198 H. pada periode ini, Imam Syafi’i mengetengahkan pendapat para fuqaha pada zamannya, pendapat para sahabat, dan pendapat para tabiin disertai ragam perbedaannya, seperti pendapat Ali bin Abu Thalib, lbnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, dan lain sebagainya. Setelah itu, ia juga mengetengahkan khilafiyah mazhab dalam mazhab Abu Hanifah dan Abu Laila dengan riwayat Abu Yusuf yang terkenal dengan nama perbedaan para ahli fiqih di Irak (lkhtilaf ‘Iraqiyyin)”, dan juga mengemukakan Sirah al-Waqidi, fiqih Auza’i, dan beberapa pendapat lain. Lebih dari itu, ia menerapkan masalah yang ada dengan kaidah dan ushul mazhab yang ia bangun, lalu memilih pendapat mana yang lebih dekat dengan ushul yang ia pakai atau meninggalkannya dan mengambil pendapat yang baru.

Periode ketiga. Dimulai pada tahun 199 H. ketika ia hijrah ke Mesir sampai ia meninggal. Pada periode ini, keilmuan Imam Syafi’i benar-benar sudah matang. Setelah tinggal di Mesir, Imam Syafi’i melihat hal-hal baru yang belum pernah dilihatnya, baik yang berkaitan dengan adat kebiasaan, peradaban, maupun pengaruh ulama tabiin di sana. la merekonstruksi kitab ar-Risalah ; mengurangi dan menambah kontennya, dan melihat kembali hasil-hasil ijtihadnya. Periode ini bagi Imam Syafi’i adalah periode pembaharuan dan penelitian ulang atas pemikirannya sendiri.

Dikutip dari buku “Biografi Imam Bukhari” karya  Prof. Dr. Yahya Ismail, hal. 219-220, penerbit Keira Publishing

Leave a comment

Wahbah az-Zuhaili

Beliau lahir di desa Dir ‘Athiah, Suriah pada tahun 1932. Ia memperoleh ijazah sarjana Syariah dan ijazah Takhassus Pengajaran Bahasa Arab di Al-Azhar pada tahun 1956. Kemudian, ijazah Licence (Lc) bidang hukum diUniversitas ‘Ain Syams pada tahun 1957, Magister Syariah dari Fakultas Hukum Universitas Kairo pada tahun 1959 dan Doktor pada tahun 1963.

Satu catatan penting bahwa, beliau senantiasa menduduki ranking teratas pada semua jenjang pendidikannya. Menurutnya, rahasia kesuksesan dalam belajar terletak pada kesungguhan dalam menekuni pelajaran dan menjauhkan diri dari segala hal yang mengganggu proses belajar.

Moto hidupnya:”Inna sirra an-najah fi al-hayah ihsan ash-shilah billah ‘azza wa jalla” (Sesungguhnya, rahasia kesuksesan dalam hidup, adalah membaikkan hubungan dengan Allah ‘Azza wa Jalla).

Karir Akademis

Setelah memperoleh ijazah Doktor, pekerjaan pertama beliau adalah staf pengajar pada Fakultas Syariah, Universitas Damaskus pada tahun 1963, kemudian asisten dosen pada tahun 1969 dan profesor pada tahun 1975. Sebagai guru besar, ia menjadi dosen tamu pada sejumlah universitas di negara-negara Arab, seperti pada Fakultas Syariah dan Hukum serta Fakultas Adab Pascasarjana Universitas Benghazi, Libya dan Universitas Khurtum, Universitas Ummu Darman, Universitas Afrika yang ketiganya berada di Sudan. Ia juga pernah mengajar pada Universitas Uni Emirat Arab.

Ia sering menghadiri berbagai seminar internasional dan mempresentasikan makalah dalm berbagai forum ilmiah di negara-negara Arab, termasuk di Malaysia dan Indonesia. ia juga menjadi anggota tim redaksi berbagai jurnal dan majalah dan staf ahli pada berbagai lembaga riset fiqih dan peradaban Islam di Suriah, Yordania, Arab Saudi, Sudan, India dan Amerika.

Dikutip dari buku “Ensiklopedia Akhlak Muslim” penerbit Noura Books

Leave a comment

Wahbah Zuhaili

Wahbah az-Zuhayli dilahirkan di desa Dir Athiyah, daerah Qalmun, Damsyiq, Syria pada 6 Maret 1932 M/1351 H. Bapaknya bernama Musthafa az-Zuhyli yang merupakan seorang yang terkenal dengan keshalihan dan ketakwaannya serta hafidz al-Qur’an, beliau bekerja sebagai petani dan senantiasa mendorong putranya untuk menuntut ilmu.(Subhanallah)

Beliau mendapat pendidikan dasar di desanya, Pada tahun 1946, pada tingkat menengah beliau masuk pada jurusan Syariah di Damsyiq selama 6 tahun hingga pada tahun 1952 mendapat ijazah menengahnya, yang dijadikan modal awal dia masuk pada Fakultas Syariah dan Bahasa Arab di Azhar dan Fakultas Syari’ah di Universitas ‘Ain Syam dalam waktu yang bersamaan. Ketika itu Wahbah memperoleh tiga Ijazah antara lain :

1. Ijazah B.A dari fakultas Syariah Universitas al-Azhar pada tahun 1956

2. Ijazah Takhasus Pendidikan dari Fakultas Bahasa Arab Universitas al-Azhar pada tahun 1957

3. Ijazah B.A dari Fakultas Syari’ah Universitas ‘Ain Syam pada tahun 1957 ()

Dalam masa lima tahun beliau mendapatkan tiga ijazah yang kemudian diteruskan ke tingkat pasca sarjana di Universitas Kairo () yang ditempuh selama dua tahun dan memperoleh gelar M.A dengan tesis berjudul “al-Zira’i fi as-Siyasah as-Syar’iyyah wa al-Fiqh al-Islami”, dan merasa belum puas dengan pendidikannya beliau melanjutkan ke program doktoral yang diselesaikannya pada tahun 1963 dengan judul disertasi “Atsar al-Harb fi al-Fiqh al-Isalmi” di bawah bimbingan Dr. Muhammad Salam Madkur.

Pada tahun 1963 M, ia diangkat sebagai dosen di fakultas Syari’ah Universitas Damaskus dan secara berturut – turut menjadi Wakil Dekan, kemudian Dekan dan Ketua Jurusan Fiqh Islami wa Madzahabih di fakultas yang sama. Ia mengabdi selama lebih dari tujuh tahun dan dikenal alim dalam bidang Fiqh, Tafsir dan Dirasah Islamiyyah.

Adapun guru-gurunya adalah sebagai berikut :

Antara guru-gurunya ialah Muhammad Hashim al-Khatib al-Syafie, (w. 1958M) seorang khatib di Masjid Umawi. Beliau belajar darinya fiqh al-Syafie; mempelajari ilmu Fiqh dari Abdul Razaq al-Hamasi (w. 1969M); ilmu Hadits dari Mahmud Yassin (w.1948M); ilmu faraid dan wakaf dari Judat al-Mardini (w. 1957M), Hassan al-Shati (w. 1962M), ilmu Tafsir dari Hassan Habnakah al-Midani (w. 1978M); ilmu bahasa Arab dari Muhammad Shaleh Farfur (w. 1986M); ilmu usul fiqh dan Mustalah Hadits dari Muhammad Lutfi al-Fayumi (w. 1990M); ilmu akidah dan kalam dari Mahmud al-Rankusi.

Sementara selama di Mesir, beliau berguru pada Muhammad Abu Zuhrah, (w. 1395H), Mahmud Shaltut (w. 1963M) Abdul Rahman Taj, Isa Manun (1376H), Ali Muhammad Khafif (w. 1978M), Jad al-Rabb Ramadhan (w.1994M), Abdul Ghani Abdul Khaliq (w.1983M) dan Muhammad Hafiz Ghanim. Di samping itu, beliau amat terkesan dengan buku-buku tulisan Abdul Rahman Azam seperti al-Risalah al-Khalidah dan buku karangan Abu Hassan al-Nadwi berjudul Ma dza Khasira al-‘alam bi Inkhitat al-Muslimin.

Karya-Karya Wahbah az-Zuhaili

Wahbah al-Zuhayli menulis buku, kertas kerja dan artikel dalam berbagai ilmu Islam. Buku-bukunya melebihi 133 buah buku dan jika dicampur dengan risalah-risalah kecil melebihi lebih 500 makalah. Satu usaha yang jarang dapat dilakukan oleh ulama kini seolah-olah ia merupakan as-Suyuti kedua (as-Sayuti al-Thani) pada zaman ini, mengambil sampel seorang Imam Shafi’iyyah yaitu Imam al-Sayuti. diantara buku-bukunya adalah sebagai berikut :

1. Atsar al-Harb fi al-Fiqh al-Islami – Dirasat Muqaranah, Dar al-Fikr, Damsyiq, 1963.

2. Al-Wasit fi Usul al-Fiqh, Universiti Damsyiq, 1966.

3.Al-Fiqh al-Islami fi Uslub al-Jadid, Maktabah al-Hadithah, Damsyiq, 1967.

4.Nazariat al-Darurat al-Syar’iyyah, Maktabah al-Farabi, Damsiq, 1969.

5.Nazariat al-Daman, Dar al-Fikr, Damsyiq, 1970.

6.Al-Usul al-Ammah li Wahdah al-Din al-Haq, Maktabah al-Abassiyah, Damsyiq, 1972.

7.Al-Alaqat al-Dawliah fi al-Islam, Muassasah al-Riisalah, Beirut, 1981.

8.Al-Fiqh al-Islami wa Adilatuh, (8 jilid), Dar al-Fikr, Damsyiq, 1984.(Ini dia Kitab rujukan utama utk beberapa mata kuliahku dulu, sipp bngt )

9.Usul al-Fiqh al-Islami (dua Jilid), Dar al-Fikr al-Fikr, Damsyiq, 1986.

10. Juhud Taqnin al-Fiqh al-Islami, (Muassasah al-Risalah, Beirut, 1987.

11.Fiqh al-Mawaris fi al-Shari’at al-Islamiah, Dar al-Fikr, Damsyiq, 1987.

12.Al-Wasaya wa al-Waqf fi al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damsyiq, 1987.

13.Al-Islam Din al-Jihad La al-Udwan, Persatuan Dakwah Islam Antarabangsa, Tripoli, Libya, 1990.

14.al-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al-Syari’at wa al-Manhaj, (16 jilid), Dar al-Fikr, Damsyiq, 1991.

15.al-Qisah al-Qur’aniyyah Hidayah wa Bayan,Dar Khair, Damsyiq, 1992.

16.Al-Qur’an al-Karim al-bunyatuh al-Tasyri’iyyah aw Khasa’isuh al-Hadariah, Dar al-Fikr, Damsyiq, 1993.

17. al-Rukhsah al-Syari’at – Ahkamuha wa Dawabituha, Dar al-Khair, Damsyiq, 1994.

18.Khasa’is al-Kubra li Huquq al-Insan fi al-Islam, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 1995.

19.Al-Ulum al-Syari’at Bayn al-Wahdah wa al-Istiqlal, Dar al-Maktab, Damsyiq, 1996.

20. Al-Asas wa al-Masadir al-Ijtihad al-Musytarikat bayn al-Sunnah wa al-Syiah, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 1996.

21.Al-Islam wa Tahadiyyat al-‘Asr, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 1996.

22. Muwajahat al-Ghazu al-Thaqafi al-Sahyuni wa al-Ajnabi, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 1996.

23.al-Taqlid fi al-Madhahib al-Islamiah inda al-Sunnah wa al-Syiah, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 1996

24.Al-Ijtihad al-Fiqhi al-Hadith, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 1997.

25. Al-Uruf wa al-Adat, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 1997.

26. Bay al-Asham, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 1997.

27.Al-Sunnah al-Nabawiyyah, Dar al-Maktabi Damsyiq, 1997.

28.Idarat al-Waqaf al-Khairi, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 1998.

29.al-Mujadid Jamaluddin al-Afghani, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 1998.

30.Taghyir al-Ijtihad, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 2000.

31.Tatbiq al-Syari’at al-Islamiah, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 2000.

32.Al-Zira’i fi al-Siyasah al-Syar’iyyah wa al-Fiqh al-Islami, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 1999.

33. Tajdid al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damsyiq, 2000.

34.Al-Thaqafah wa al-Fikr, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 2000.

35.Manhaj al-Da’wah fi al-Sirah al-Nabawiyah, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 2000.

36.Al-Qayyim al-Insaniah fi al-Qur’an al-Karim, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 2000.

37.Haq al-Hurriah fi al-‘Alam, Dar al-Fikr, Damsyiq, 2000.

38. Al-Insan fi al-Qur’an, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 2001.

39.Al-Islam wa Usul al-Hadarah al-Insaniah, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 2001.

40. Usul al-Fiqh al-Hanafi, Dar al-Maktabi, Damsyiq, 2001

http://fjb.kaskus.co.id/product/523e967dbe29a0215d8b4572/buku-al-fiqh-al-islami-wa-adillatuhu-dr-wahbah-az-zuhaili

Leave a comment

Cobaan Imam Hanbali

Melalui riwayat Abdullah ibn Imam Ahmad, Imam Ahmad mengisahkan peristiwa inkuisisi yang pernah dia alami sendiri pada masa al-Mu’tashim. Berikut ini penuturannya:

Saat aku dikeluarkan dari penjara dan hendak dihadapkan ke al-Mu’tashim, rantai yang membelengguku ditambah. Aku sulit berjalan karena banyak dan beratnya rantai itu sehingga aku harus memegangnya dengan dua tangan. Seekor hewan tunggangan didatangkan dan aku dinaikkan ke atasnya. Aku hampir saja jatuh tersungkur karena beratnya rantai, selain tak ada seorang pun yang memegangiku. Berkat bantuan Allah, kami selamat sampai tujuan. Aku dimasukkan ke kamar sebuah rumah, lalu dikunci dari luar. Kamar itu sangat gelap, tidak ada lampu minyak di sana. Saat ingin berwudu, aku menjulurkan kedua tanganku secara acak. Tiba-tiba tanganku menyentuh sebuah wadah berisi air. Aku pun berwudu, lalu berdiri shalat, tanpa tahu arah kiblat. Keesokan harinya, aku mendapati diriku menghadap kiblat. Segala puji hanya milik Allah semata.

Aku dipanggil dan dihadapkan ke al-Mu’tashim yang tengah duduk bersama menterinya, Abu Du’ad. Saat melihatku, ia bertanya kepada Abu Du’ad, “Bukankah kamu pernah mengatakan jika ia masih muda, ternyata ia sudah tua?” Sesudah aku mengucap salam, ia berkata kepada Abu Du’ad, “Dekatkan dirinya kepadaku.” Setelah aku mendekat, ia berkata padaku, “Duduklah.” Aku pun duduk dengan menahan beratnya rantai besi yang membelengguku, lalu bertanya, “Amirul Mukminin, ada keperluan apa Tuan memanggilku?”

“Untuk bersaksi bawah tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah,” jawabnya. Aku menyahut, “Aku telah bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah.” Setelah membicarakan sesuatu dengan Abu Du’ad, al-Mu’tashim berkata lagi padaku, “Andai saja engkau menyetujui pendapat khalifah sebelumku, aku pasti tak akan bertanya lagi kepadamu.”

Al-Mu’tashim berkata kepada pejabatnya, “Wahai Abdurrahman, bukankah aku sudah memerintahkanmu supaya mengemukakan mihnah?” Aku langsung menyahut, “Allah Mahabesar. ltu sebuah kesedihan bagi umat lslam.” la berkata lagi, “Wahai Abdurrahman, ajaklah ia berdebat.”

Abdurrahman mulai bertanya, “Apa pendapatmu tentang Al-Quran?” Aku diam dan tidak menjawab, “Jawablah pertanyaannya!” kata al-Mu’tashim kepadaku. Aku malah bertanya, “Apa pendapatmu tentang llmu Allah?” la diam. Aku lalu berkata, “Al-Quran itu termasuk ilmu Allah. Barang siapa menganggap ilmu Allah itu makhluk berarti telah kafir.” Al-Mu’tashim diam. Setelah itu, semua yang bersamanya berkata, “Amirul Mukminin, ia telah mengkafirkan tuan dan kami.” Kata-kata mereka ini tidak mendapat tanggapan dari al-Mu’tashim. Abdurrahman berkata, “Allah itu bersifat azali, tapi Al-Quran tidak.” Aku pun menyahut, “Allah itu bersifat azali, tetapi ilmu-Nya tidak.”

Mereka berbicara ini dan itu hingga aku berkata, “Amirul Mukminin, suruhlah mereka menyebutkan satu ayat atau satu hadis yang membuatku bisa menyetujui pendapat Tuan (Al-Quran itu makhluk).” Ibnu Abi Du’ad menyahut,  “Apakah engkau takkan menyetujuinya tanpa dalil dari keduanya?” Aku pun berkata, “Apakah Islam tegak tanpa keduanya?” Terjadi debat panjang hingga lbnu Abi Du’ad berkata, “Demi Allah, Amirul Mukminin. Ahmad ini orang sesat menyesatkan, dan mengumbar bid’ah. Keputusan ada di tanganmu. Tanyailah para ulama dan fukaha.” Al-Mu’tashim bertanya kepada beberapa ulama yang hadir, “Bagaimana pendapat kalian mengenai dirinya (Ahmad ibn Hanbal)?” Mereka menjawab seperti perkataan lbnu Abi Du’ad tadi. Aku dihadirkan dan diajak berdebat lagi pada hari kedua dan ketiga. Tapi, aku dapat mengalahkan semua argumentasi mereka.

Jika mereka diam tidak bisa menjawab, lbnu Abi Du’ad pasti akan mencairkan suasana dan membuka pembicaraan. Dibandingkan dengan mereka semua, ia paling tidak mengerti perihal ilmu kalam. Perdebatan melebar ke berbagai persoalan. Sayangnya, pengetahuan mereka tentang dalil naqli sangat minim. Mereka mengingkari atsar dan menolak berhujjah dengannya. Aku juga mendapati mereka mengemukakan pernyataan-pemyataan yang tak pernah kusangka akan dikatakan seorang pun. lbnu Ghawts, lawan dialogku, berbicara panjang lebar soal jism dan sebagainya yang tak ada gunanya. Aku berkata, “Aku tidak mengerti apa yang engkau katakan. Setahuku, Allah itu Maha Esa, tak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” lbnu Ghawts diam.

Aku menyebutkan kepada mereka hadis ru’yah (melihat Allah dengan mata telanjang) di negeri akhirat. Mereka mencoba men-dha’if-kan sanad-sanad hadis tersebut dengan bersandar pada pernyataan sejumlah ahli hadis. Betapa jauhnya hujjah mereka. Di tengah-tengah dialog dan debat, Khalifah tiba-tiba berkata membujukku, “Hai Ahmad, dukunglah aku dalam masalah ini (kemakhlukan Al-Quran). Aku pasti akan menjadikanmu orang yang aku istimewakan dan aku hamparkan permadani buatmu.”

Aku berkata, “Amirul Mukminin, suruhlah mereka menyebutkan satu ayat atau satu hadis yang membuatku bisa menyetujui pendapat tuan (Al-Quran itu makhluk).” Ketika semua hujjah mereka dapat kupatahkan, Ishaq ibn Ibrahim, Gubernur Bagdad, tiba-tiba berkata, “Amirul Mukminin, bukan langkah kekhalifahan bila engkau sampai melepaskan dirinya dan ia dapat mengalahkan dua khalifah (al-Ma’mun dan al-Mu’tashim).” Wajah al-Mu’tashim seketika merah dan marah. Ia membentak ke arahku, “Allah melaknatmu! Aku sangat berharap engkau mau mendukungku, tapi engkau menolaknya!

“Tangkap ia! Telanjangi dan seret ia!” Aku dicokok, ditahan, dan pakaianku dilucuti, termasuk beberapa helai rambut Rasulullah yang aku selipkan di sela-sela pakaianku. Kini aku berdiri di hadapan tukang-tukang siksa. Aku berkata, “Amirul Mukminin, aku pasti akan mengingat bagaimana engkau berdiri di hadapan Allah kelak seperti aku berdiri di hadapanmu sekarang.”

Para hadirin terus berkata, “Amirul Mukminin, ia benar-benar sesat dan menyesatkan.” Aku disuruh berdiri di hadapan para tukang siksa dan tukang cambuk. Sebuah kursi diletakkan di depanku dan aku disuruh berdiri di atasnya. Beberapa dari mereka menyuruhku mengambil kayu sesukaku, tapi aku tidak mengerti maksud mereka. Kedua tanganku diborgol. Seorang tukang cambuk diperintahkan untuk memukulku. Tubuhku dipukul, “Lebih keras lagi! Atau Allah akan memotong kedua tanganmu,” bentak al-Mu’tashim kepada tukang cambuk tadi. Tukang cambuk yang lain datang, lalu mencambukku. Demikian seterusnya secara bergantian. Mereka mencambuk hingga membuatku jatuh pingsan berkali-kali. Bila cambukan dihentikan, kesadaranku kembali.

AI-Mu’tashim terus menyuruhku mendukung pendapatnya (kemakhlukan Al-Quran), tapi aku menolak. Mereka berkata:
“Celakalah engkau! Khalifah ada di depanmu!” Aku tetap tidak mau menghadapkan mukaku ke arah Khalifah. Al-Mu’tashim menyuruhku lagi, tapi aku tetap menolak. Tukang-tukang cambuk mencambukku lagi hingga sampai ke algojo ketiga. Waktu itu, aku sudah tidak sadarkan diri karena saking kerasnya cambukan. Mereka kembali mencambukku hingga aku pingsan lagi. Setelah itu, aku tidak bisa merasakan apa-apa, tidak bisa merasakan cambukan lagi. Ini membuat al-Mu’tashim khawatir atas keadaanku, khawatir aku mati. Aku pun dibebaskan, tapi aku tidak sadar. Seingatku, aku mendapati diriku sudah berada di kamar sebuah rumah dalam keadaan sudah tidak dirantai. Hari itu adalah 25 Ramadan 221 H. Khalifah memerintahkan supaya aku dibebaskan dan diantarkan ke keluargaku.

ltulah penuturan Imam Ahmad.
Jumlah cambukan yang diterima Imam Ahmad sekitar 30-an lebih. Ada pula yang mengatakan sampai 80 kali cambukan. Semuanya dilakukan dengan keras.

Ketika dibawa dari rumah Khalifah ke rumah Ishaq ibn Ibrahim, Imam Ahmad dalam keadaan puasa. Ia pernah diberi makanan suwayq untuk membatalkan puasanya, tapi ia menolak memakannya dan memilih menyempurnakan puasanya. Konon, ketika dipaksa berdiri untuk disiksa, ikatan sarung Imam Ahmad terlepas. Ia pun khawatir sarungnya melorot ke bawah sehingga auratnya terbuka. Ia langsung mengucap doa, “Ya Allah, Maha pemberi pertolongan kepada orang-orang yang meminta pertolongan. Ya Allah, Tuhan semesta alam. Jika Engkau tahu bahwa aku berdiri di sini demi membela kebenaran, janganlah Engkau merusak kehormatanku lewat auratku.” Ikatan sarungnya tiba-tiba menjadi kencang sendiri seperti sediakala.

Ketika sudah dipulangkan ke rumahnya, Ahmad ibn Hanbal didatangi tukang bedah yang langsung memotong daging matinya akibat siksaan, lalu mengobatinya sampai sembuh. Atas perintah aI-Mu”tashim, Ishaq ibn Ibrahim, terus memantau perkembangan kesehatan Imam Ahmad. Al-Mu’tashim sangat menyesali semua perbuatannya terhadap sang Imam. Saat sang imam sudah benar-benar sembuh dan sehat, al-Mu’tashim
merasa gembira, begitu pula semua umat Islam. la  memaafkan semua orang yang pernah menyiksanya kecuali pembuat bid’ah.

Imam Ahmad berkata, “Apa untungnya bagimu bila saudara muslimmu disiksa karena mencacimu?”

Khalifah al-Mu’tashim meninggal dunia pada 17 Rabiul Awal 227 H. la digantikan oleh anaknya.

Sumber:
Buku “Buku Pintar Sejarah Islam” karya Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh hal. 387-392.

Leave a comment

ABDUL QADIR AL-JAILANI

ABDUL QADIR AL-JAILANI

Jilan, 470 H/1077 M – Baghdad, 561 H/1166 M

Abdul Qadir al-Jailani adalah seorang teolog, ulama yang ahli di bidang usul dan fikih Mazhab Hanbali, sufi besar di zamannya, dan pendiri Tarekat Kadiriyah. Ia juga disebut Abdul Qadir al-Jili, dan di Baghdad dikenal dengan panggilan al-Ajami. Ia terkenal sangat saleh, dan menulis beberapa buku, khususnya tentang tasawuf.

Nama lengkapnya adalah Muhiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Salih Zangi Dost al-Jailani. Ada pula yang mengatakan bahwa nama lengkapnya adalah Muhiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Salih Zangi Dost Musa bin Abi Abdillah bin Yahya az-Zahid Muhammad bin Daud bin Musa bin Abdillah bin Musa al-Jun bin Abdul Muhsin bin Hasan al-Musanna bin Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA. Menurut garis keturunan ini, ia termasuk cucu Nabi Muhammad SAW.

Abdul Qadir al-Jailani lahir dan dididik dalam lingkungan keluarga sufi, la tumbuh di bawah tempaan ibu (Fatimah binti Abdullah as-Sauma’i) dan kakeknya (Syekh Abdilllah as-Sauma’i). yang keduanya wali. Sejak kecil Abdul Qadir al-Jailani telah tampak berbeda dari anak-anak lainnya. la tidak suka bermain. Sejak usia dini ia terus mematangkan kekuatan batin yang dimilikinya. Ia mulai belajar mengaji sejak berusia 10 tahun.

Dalam usia 18 tahun ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu (433 H/1095 M). Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizamiyah yang pada waktu itu dipimpin oleh seorang sufi besar, yakni Ahmad al-Ghazali. Abdul Qadir mengikuti pelajaran fikih Mazhab Hanbali dari Abu Sa’d Mubarak al-Mukharrimi (pemimpin sekolah hukum Hanbali) sampai ia mendapat ijazah dari gurunya tersebut. Mulai tahun 521 H/1127 M, Abdul Qadir al-Jailani mengajar dan berfatwa dalam mazhab tersebut kepada masyarakat luas sampai akhir hidupnya. Untuk itu, ia mendapat restu dari seorang sufi besar, Yusuf al-Hamadani (440 H/1048 M – 535 H/1140 M). Pada tahun 528 H/1134 M untuk Abdul Qadir al-Jailani didirikan sebuah madrasah dan ribat di Baghdad dijadikan sebagai tempat tinggal bersama keluarganya dan sekaligus tempat mengajar muridnya yang tinggal bersamanya.

Ribat ketika itu lebih penting dari zawiat, suatu tempat untuk melakukan suluk dan latihan spiritual para sufi. Sesudah ia wafat, madrasahnya itu diteruskan oleh anaknya, Abdul Wahhab (552 H/1151 M-595 H/1197 M), kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang lain, Abdus Salam (548 H/1153 M – 611 H/1213 M). Diceritakan bahwa ada lagi seorang putra Abdul Qadir al-Jailani bernama Abdur Razzak (548 H/1134 M – 603 H/1207 M), seorang zahid dan saleh.

Abdul Qadir al-Jailani meninggalkan beberapa karya tulis yang berisikan ajaran agama, terutama tasawuf. Karyanya itu antara lain: al-Gunya li Talibi Tariq al-Haqq (Bekal yang Cukup bagi Pencari Jalan yang Benar) yang terbit di Cairo pada tahun 1288; al-Fath ar-Rabbani (Pembuka Ketuhanan) atau Sittin Majalis (Enam Puluh Majelis), berisikan 62 khotbah yang disampaikan antara tahun 545 H/1150 M-546 H/1152 M, terbit di Cairo pada tahun 1302 dan Futuh al-Gaib (Terbukanya Hal yang Gaib), berisikan 78 khotbah dalam berbagai masalah yang dikumpulkan oleh putranya, Abdur Razzaq, terbit di Cairo pada tahun 1304. Biografi lengkapnya tertulis dalam manakib Abdul Qadir al-Jailani. Di Indonesia manakib tersebut banyak dibaca banyak orang, terutama pada hari tertentu dan penting, seperti Asyura (tanggal 10 Muharram), tgl 27 Rajab, Nisfu Syakban (pertengahan bulan Syakban, yaitu terjadinya perubahan kiblat dari Baitimakdis ke Ka’bah) dan hari pertama bulan Safar.

Abdul Qadir al-Jailani adalah salah seorang tokoh yang keras berpegang teguh pada kebenaran dan prinsip perjuangannya. Dia tak segan-segan memberi nasehat kepada penguasa, bahkan kepada khalifah sekalipun.

Abdul Qadir al-Jailani menyeru muridnya untuk bekerja keras dalam kehidupan. Tarekat tidak berarti membelakangi kehidupan. Ia berkata,

“Sembahlah olehmu Allah Azza Wajalla (Allah Yang Maha Baik dan Maha Mulia). Mintalah pertolongan agar diberikan kerja yang halal untuk memperkuat ibadah kepada-Nya.”

Dengan ketinggian ilmu dan kepribadiannya, Abdul Qadir al-Jailani mendapat sanjungan dari berbagai pihak. lbnu Arabi menganggap Abdul Qadir al-Jailani sebagai seorang yang pantas menjadi wali qutub (pemimpin para wali) pada masanya. Abu Hasan an-Nadwi, seorang ahli sejarah berkata.

“Abdul Qadir al-Jailani telah menyaksikan apa yang telah menimpa umat islam pada masanya. Mereka hidup terpecah-belah dan saling bermusuhan, Cinta dunia telah mendominasi mereka di samping berebut kehormatan di sisi raja dan sultan. Manusia sudah berpaling pada materi, jabatan, dan kekuasaan. Mereka berkeliling di sekitar penguasa dan mengkultuskannya. Syekh Abdul Qadir al-Jailani hidup di tengah-tengah mereka. Akan tetapi, dia menjauhkan diri dari semua itu dengan fisik dan mentalnya. Dia bahkan menghadapinya dengan memberikan nasihat,
bimbingan, dakwah, dan pendidikan untuk memperbaiki jiwa kaum muslimin dan membersihkannya,”

Tarekat Kadiriyah yang dirintis Abdul Qadir al-Jailani berpusat di Baghdad. Cabang-cabangnya tersebar di mana-mana, termasuk di Indonesia, sehingga tarekat ini merupakan suatu organisasi atau pergerakan yang jumlah pengikut yang besar.

Abdul Qadir al-Jailani terkenal sangat saleh dan mempunyai sifat warak. Makamnya di Baghdad masih ramai dikunjungi orang. Dikatakan bahwa salah satu sifatnya yang unik adalah ia dapat membedakan sufi yang palsu dan yang asli hanya  dengan mencium baunya.

Sumber:
Buku “Ensiklopedi Islam”

Leave a comment

Kritik Adz-Dzahabi terhadap Ibnu Taimiyah

Al-Hafizh adz-Dzahabi adalah murid Ibnu Taimiyah, dalam banyak masalah adz-Dzahabi mengikuti faham Ibnu Taimiyah, terutama dalam masalah akidah. Beliau menulis surat kepada Ibnu Taimiyah agar ia berhenti dari menyerukan faham-faham ekstremnya serta berhenti dari kebiasaan mencaci maki para ulama saleh terdahulu.

Berikut dinukilkan dua risalah adz-Dzahabi yang berjudul Bayan Zaghl al-‘Ilm wa al-Thalab dan al-Nashihah adz-Dzahabi li Ibn Taimiyyah:

Hindarkan olehmu rasa takabur dan sombong dengan ilmumu. Alangkah bahagianya dirimu jika engkau selamat dari ilmumu sendiri. Demi Allah, kedua mataku ini tidak pernah mendapati orang yang lebih luas ilmunya dan yang lebih kuat kecerdasannya dari seorang yang bernama Ibnu Taimiyyah. Keistimewaannya ini ditambah lagi dengan sikap zuhudnya dalam makanan, dalam pakaian dan terhadap perempuan. Kemudian ditambah lagi dengan konsistensinya dalam membela kebenaran dan berjihad sedapat mungkin walau dalam keadaan apapun.

Sungguh, aku telah lelah dalam menimbang dan mengamati sifat-sifat Ibnu Taimiyyah. Aku merasa bosan dalam waktu yang sangat panjang. Dan ternyata aku mendapatinya sebagai seorang yang dikucilkan oleh penduduk Mesir dan Syam. Mereka membencinya, menghinanya, mendustakannya dan bahkan mengafirkannya. Ini semua terjadi tidak lain karena dia adalah seorang yang takabur, sombong, rakus terhadap kehormatan dalam derajat keilmuan. Ini muncul karena sikap dengkinya terhadap para ulama terkemuka.

Alangkah beruntungnya seorang yang disibukkan dengan memperbaiki aibnya sendiri daripada ia mencari-cari aib orang lain. Dan alangkah celakanya seorang yang disibukkan dengan mencari-cari aib orang lain daripada ia memperbaiki aibnya sendiri.

Sampai kapan engkau wahai Ibnu Taimiyyah akan terus memerhatikan kotoran kecil di mata saudara-saudaramu. Sementara engkau melupakan cacat besar yang nyata-nyata berada di dalam matamu sendiri? Sampai kapan engkau akan selalu memuji dirimu sendiri, memuji pikiran-pikiranmu sendiri atau hanya memuji ungkapan-ungkapanmu sendiri?

Engkau selalu mencaci maki para ulama dan mencari aib orang lain. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sangat mengerti terhadap segala macam kebaikan. Sungguh, mereka itu adalah orang-orang yang tidak mengerjakan kebodohan-kebodohan (kesesatan-kesesatan).

Wahai Ibnu Taimiyyah, demi Allah, berhentilah, janganlah terus mencaci maki kami. Benar, engkau adalah seorang yang pandai memutar argumen. Lidahmu sedemikian tajam. Waspadalah engkau, jangan sampai engkau terjerumus ke dalam berbagai kesesatan dalam agama. Sungguh, Nabimu sangat membenci dan mencaci perkara-perkara (yang ekstrem).

Jika banyak bicara tanpa dalil dalam masalah hukum halal dan haram adalah perkara yang akan menjadikan hati itu sangat keras. Terlebih lagi jika banyak bicara dengan nada menvonis, mengafirkan kelompok lain. Demi Allah, kita ini telah menjadi bahan tertawaan di hadapan banyak makhluk Allah. Maka sampai kapan engkau akan mengafirkan kelompok lain?

Oh … alangkah rindunya kepada majelis yang didalamnya disebutkan tentang orang-orang saleh, karena sesungguhnya ketika orang-orang saleh tersebut disebut-sebut namanya, akan turun rahmat Allah, bukan sebaliknya, jika orang-orang saleh itu dihinakan, dilecehkan dan dilaknat. Aku rindu kepada majelis yang didalamnya diisi dengan tilawah dan taddabur.

(Engkau berkata): “Bahwa apa yang kita bicarakan adalah murni sebagai bagian dari sunnah dan merupakan dasar tauhid. Barang siapa tidak mengetahuinya maka dia orang yang kafir atau seperti keledai. Dan siapa yang tidak mengafirkan orang semacam itu maka ia juga telah kafir, bahkan kekufurannya lebih buruk dari kekufuran Fir’aun.”

(Engkau berkata): “Bahwa orang-orang Nasrani sama seperti kita.” Demi Allah (ajaran engkau ini) telah menjadi banyak hati dalam keraguan. Seandainya engkau menyelamatkan imanmu dengan dua kalimat syahadat maka engkau adalah orang yang akan mendapat kebahagian di akhirat.

Oh … alangkah sialnya orang yang menjadi pengikutmu, karena ia telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk masuk dalam kesesatan (al-Zandaqah) dan kekufuran. Terlebih lagi jika yang menjadi pengikutmu tersebut adalah orang yang lemah dalam ilmu dan agamanya, pemalas dan bersyahwat besar, namun ia membelamu mati-matian dengan tangan dan lidahnya. Padahal hakikatnya orang semacam ini, dengan segala apa yang ia perbuat dan apa yang ada di hatinya, adalah musuhmu sendiri. Dan tahukah engkau (wahai Ibnu Taimiyyah) bahwa mayoritas pengikutmu tidak lain kecuali orang-orang yang ‘terikat’ dan lemah akal! Atau kalau tidak demikian, dia adalah orang pendusta yang berakal tolol! Atau kalau tidak demikian, dia adalah aneh yang serampangan dan tukang membuat makar! Atau kalau tidak demikian dia seorang yang terlihat ahli ibadah dan saleh namun dia sebenarnya tidak paham apapun! Kalau engkau tidak percaya kepadaku, periksalah orang-orang yang menjadi pengikutmu tersebut, timbanglah mereka dengan adil…!

Wahai Ibnu Taimiyyah, berapa banyak lagi orang-orang saleh yang akan engkau musuhi, berapa banyak lagi orang-orang baik yang akan engkau lecehkan, berapa banyak lagi orang-orang yang akan engkau kecilkan (hinakan), berapa banyak lagi orang-orang zuhud yang akan engkau perangi? Sampai kapan engkau akan tetap hanya membenarkan sifatmu itu dan akan terus bersahabat dengan sifatmu itu? Demi Allah, engkau sendiri tidak pernah memuji hadis-hadis dalam dua kitab sahih (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dengan caramu tersebut.

Mungkin engkau tidak akan menerima ucapanku dan mendengarkan nasihatku ini. Sebaliknya engkau akan membantah lembaran ini dengan tulisan berjilid-jilid dan engkau akan memerinci bagiku berbagai perincian bahasan. Engkau akan tetap selalu membela diri dan merasa menang. Ungkapanku ini adalah karena aku sangat menyayangi dan mencintaimu. Para musuhmu itu, demi Allah, mereka adalah orang-orang yang saleh, orang-orang cerdas, orang-orang terkemuka. Sementara para pembelamu adalah orang-orang fasik, para pendusta, orang-orang tolol dan para pengangguran yang tidak berilmu.

Aku sangat ridha (rela) jika engkau mencaci-maki diriku dengan terang-terangan, namun diam-diam engkau mengambil manfaat dari nasihatku ini. Memang aku adalah manusia banyak dosa. Alangkah celakanya aku, jika tidak bertobat. Alangkah celaka aku, jika aib-aibku dibukakan oleh Allah Yang Maha Mengetahui segala hal yang ghaib. Obatnya bagiku tiada lain, kecuali ampunan dari Allah, taufik-Nya dan hidayah-Nya. Segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah atas tuan kita Muhammad, penutup para nabi, atas keluarganya dan para sahabatnya sekalian.

Sumber:
Buku “Membongkar Kejumudan” karya A. Shihabuddin hal. 46-49, penerbit Noura Books, 2013.

Leave a comment