Archive for category Cerita Silat

Pendekar Budiman: Bagian 22

Pendekar Budiman: Bagian 22

Oleh Gu Long

“Menipumu?”

“Jika engkau tidak takut mati, mengapa engkau mengulur waktu dan kabur?”

“Mengulur waktu? Kabur?”

“Kau sengaja berlagak menguntit Sun tua itu, bukankah untuk mengulur waktu dan sekaligus kabur?”

“Dan bila yang kau kuntit bukan Si Sun tua, pasti akan kuberi kesempatan bagimu untuk mengetahui hasil kerjamu, habis itu baru kuturun tangan padamu,” kata Siangkoan Hui pula. “Cuma sayang, kau salah pilih orang, sebab pada hakikatnya engkau tidak dapat menemukan jejaknya, terlebih tidak dapat membunuhnya, sebab engkau memang bukan tandingannya.”

Mendadak Hing Bu-bing bergelak tertawa katanya, “Ya, bisa jadi….”

Cara tertawanya sangat aneh, seperti membawa semacam ejekan.

Hal ini tidak terlihat oleh Siangkoan Hui, ia berkata pula, “Maka penguntitanmu ini tidak lain cuma semacam tabir asap saja untuk mengelabuiku agar aku tidak turun tangan padamu.”

Ia tatap Bu-bing dengan tajam, lalu menambahkan dengan suara bengis, “Sebab sekarang engkau pun takut mati.”

“Takut mati?” Bu-bing menegas.

“Ya, dahulu engkau memang tidak takut mati, tapi itu adalah karena waktu itu tidak ada yang mampu mengancam jiwamu, sebab itulah engkau tidak kenal apa artinya takut.”

“Tring”, serentak Siangkoan Hui mengeluarkan senjatanya Liong-hong-siang-goan, dua buah gelang baja, lalu mendengus, “Tapi sekarang setiap saat dapat kubunuhmu.”

Lama juga Hing Bu-bing terdiam, katanya kemudian, “Tampaknya engkau seperti tidak tahu urusan apa pun.”

“Sedikitnya aku lebih pandai daripada sangkaanmu,” jawab Siangkoan Hui.

Mendadak Bu-bing tertawa pula, “Cuma sayang ada satu hal tidak kau ketahui.”

“Hal apa?”

“Tak menjadi soal bila hal lain tidak kau ketahui, tapi bila hal ini juga tidak kau ketahui, maka akibatnya bagimu adalah mati.”

“Hm, jika urusan ini sedemikian penting, mustahil aku tidak tahu,” jengek Siangkoan Hui.

“Tidak, engkau pasti tidak tahu, sebab hal ini adalah rahasiaku dan belum pernah kuberi tahukan kepada orang lain….”

“Dan sekarang hendak kau beri tahukan padaku?” gemerdep sinar mata Siangkoan Hui.

“Betul, sekarang akan kuberi tahukan padamu, untuk itu diperlukan syarat pertukaran?”

“Apa syaratnya?”

Mata Hing Bu-bing yang pucat kelabu kembali mengkeret kecil, “Jika kuberi tahukan padamu, engkau harus mati.”

“Kau minta aku mati?”

“Kuminta kematianmu, sebab orang yang hidup tidak ada yang tahu rahasiaku ini.”

Siangkoan Hui melotot, mendadak ia terbahak-bahak. Memang menggelikan, masakah seorang yang sudah cacat menghendaki jiwa orang lain?

“Akan kau bunuhku dengan apa?” ejek Siangkoan Hui. “Dengan serudukan kepalamu, dengan gigitan mulutmu?”

Jawaban Hing Bu-bing juga aneh dan singkat, “Bukan!”

Suara tertawa Siangkoan Hui mulai mereda.

“Dengan tangan inilah akan kubunuhmu,” kata Bu-bing perlahan sambil mengangkat sebelah tangannya, tangan kanan.

Meski tertawanya sangat dipaksakan, tapi Siangkoan Hui tetap tertawa, katanya, “Tanganmu ini… haha, untuk membunuh anjing saja tak bisa mematikannya.”

“Aku hanya membunuh manusia dan tidak membunuh anjing.”

Tertawa Siangkoan Hui mendadak berhenti, serentak kedua gelang baja juga menyambar ke depan.

Semakin pendek sesuatu senjata semakin berbahaya, gelang baja ini memang senjata yang ampuh, apalagi kini disambitkan sekaligus, kalau tidak nekat dan ingin mengadu jiwa atau sudah jelas pihak lawan sudah kepepet dan tidak bisa berkutik lagi, mestinya tidak boleh melancarkan serangan cara begini.

Dan bila jurus serangan demikian sudah dilancarkan, biasanya pihak lawan akan sulit menghindar.

Tapi pada saat itu juga sinar pedang pun berkelebat, tahu-tahu ujung pedang sudah masuk tenggorokan Siangkoan Hui, hanya masuk beberapa senti dan tidak sampai tembus. Napas Siangkoan Hui tidak putus, urat hijau pada dahinya sama menonjol, matanya juga mendelik dan menatap Hing Bu-bing serupa ikan mampus.

Nyata sampai mati pun dia tidak mengerti cara bagaimana Hing Bu-bing menusukkan pedangnya.

Bu-bing memandangnya dengan dingin, lalu berucap sekata demi sekata, “Tangan kananku terlebih cepat daripada tangan kiriku, inilah rahasia pribadiku.”

Mendadak tubuh Siangkoan Hui berkejang, kerongkongannya bersuara “krak-krok”. Waktu Hing Bu-bing menarik pedangnya, seketika darah segar berhamburan.

Mata Siangkoan Hui yang mendelik seperti ikan mampus masih menatap Hing Bu-bing penuh rasa sangsi, kejut dan juga sedih…. Ia tetap tidak percaya, mati pun tidak percaya.

Gelang baja yang disambitkan Siangkoan Hui juga mengenai lengan kiri Hing Bu-bing, lengan yang buntung.

Dengan mengorbankan lengan yang memang sudah cacat Hing Bu-bing sambut serangan Siangkoan Hui itu, berbareng pedang di tangan kanan juga menusuk ke depan dan tepat mengenai tenggorokan lawan.

Sungguh jurus serangan yang aneh dan lihai. Serangan yang jitu, keji dan sangat cepat.

“Tangan kananku terlebih cepat daripada tangan kiriku, inilah rahasia pribadiku!”

Dia memang tidak berdusta. Tapi kenyataan ini membuat orang sukar membayangkannya, sukar untuk dipercaya.

Sepuluh tahun Siangkoan Hui belajar bersama dia dan belum pernah melihat ia berlatih dengan tangan kanan, sebab itulah mati pun dia tidak mengerti cara bagaimana Hing Bu-bing menusukkan pedangnya dengan tangan kanan.

Namun dia harus percaya, ia tidak dapat mengingkari fakta.

Bu-bing menunduk memandangi mayatnya dengan sikap seperti rada kecewa dan bimbang.

Sampai lama mendadak ia menghela napas, gumamnya, “Mengapa hendak kau bunuh diriku? Kenapa mesti kubunuh dirimu?….”

Ia membalik tubuh dan melangkah pergi. Cara berjalannya bergaya khas, seperti menyesuaikan dengan semacam irama. Kedua gelang baja masih menancap pada lengan kirinya yang buntung.

Kaget, sangsi, tidak percaya. Ini pun perasaan A Fei.

Ilmu pedang Hing Bu-bing memang menakutkan, mungkin tidak lebih cepat daripadanya, tapi lebih ganas, lebih keji, juga lebih misterius.

“Apa betul aku tidak mampu mengalahkan dia?”

Biarpun tahu hal ini adalah fakta, tapi orang semacam A Fei justru tidak tahan.

Memandangi bayangan punggung Hing Bu-bing yang makin menjauh, A Fei merasa darah panas bergolak dalam rongga dadanya, hampir saja memburu ke sana.

Syukurlah pada saat itu juga sebuah tangan terjulur dari belakang dan menariknya. Sebuah tangan yang kurus tapi kuat, sebuah tangan yang mantap. Waktu A Fei berpaling, dilihatnya mata Li Sun-hoan yang penuh mengandung rasa persahabatan dan cinta akan kehidupan.

Yang mampu menahan A Fei bukanlah tangannya, tapi matanya ini.

Akhirnya A Fei menunduk dan menghela napas panjang, katanya rawan, “Bisa jadi aku memang tidak dapat membandingi dia.”

“Hanya satu hal engkau tidak dapat membandingi dia,” kata Sun-hoan.

“Satu hal?” A Fei menegas.

“Ya, demi membunuh orang, Hing Bu-bing dapat melakukannya tanpa memilih cara, bahkan tidak sayang mengorbankan diri sendiri. Engkau tidak dapat berbuat demikian.”

A Fei termenung sejenak, katanya kemudian, “Ya, aku memang tidak dapat.”

“Engkau tidak dapat karena engkau masih berperasaan, meski pedangmu tidak berperasaan, tapi orangnya berperasaan.”

“Sebab itulah… selamanya sukar bagiku untuk mengalahkan dia?”

Sun-hoan menggeleng, “Salah, engkau pasti dapat mengalahkan dia.”

A Fei tidak tanya lagi melainkan cuma mendengarkan saja.

Maka Sun-hoan menyambung pula, “Punya perasaan baru punya kehidupan, punya kehidupan baru bergairah, baru bergerak.”

Kembali A Fei terdiam agak lama, lalu mengangguk perlahan, “Ya, kupaham sekarang.”

“Tapi ini pun bukan yang paling penting.”

“Apa yang paling penting?”

“Yang paling pokok adalah engkau pada hakikatnya tidak perlu membunuh dia, juga tidak boleh membunuh dia.”

“Sebab apa tidak perlu?”

“Sebab dia memang sudah mati, untuk apa membunuhnya?”

“Betul, sesungguhnya hatinya sudah mati….” kata A Fei sesudah berpikir. “Tapi kenapa tidak boleh pula?”

Sun-hoan tidak menjawab, sebaliknya balas bertanya, “Apakah kau tahu mengapa secara diam-diam ia berlatih dengan tangan kanan?”

“Menurut pendapatmu apa sebabnya?”

“Jika tidak salah dugaanku, tujuannya adalah Siangkoan Kim-hong.”

“Kau anggap Siangkoan Kim-hong juga tidak tahu rahasianya?”

“Pasti tidak.”

“Apa dasarnya?”

“Jika tangan kanannya jelas lebih cepat daripada tangan kiri, mestinya sekali serang dapat ia cabut nyawa Siangkoan Hui dan sama sekali tidak ada kesempatan balas menyerang baginya.”

“Betul,” kata A Fei.

“Tapi dia justru sengaja menunggu Siangkoan Hui menyerang lebih dulu, lalu ia menahan serangan lawan dengan lengan kiri yang cacat itu, untuk apa dia berbuat demikian yang mestinya tidak perlu ini?”

“Jika lengan kiri sudah cacat, terluka lagi kan juga tidak menjadi soal.”

“Ini bukan alasan yang paling penting,” ujar Sun-hoan. “Ia berbuat demikian juga lantaran Siangkoan Kim-hong.”

“Aku tidak paham,” kata A Fei.

“Dengan sendirinya dia sangat kenal pribadi Siangkoan Kim-hong,” tutur Sun-hoan. “Ia tahu Siangkoan Kim-hong menganggap siapa pun sebagai alat belaka, bilamana seorang sudah kehilangan nilainya untuk diperalat, maka Siangkoan Kim-hong akan membunuhnya.”

“Hal ini juga telah disinggung oleh Siangkoan Hui tadi,” ujar A Fei.

“Dan Hing Bu-bing juga khawatir akan diperlakukan cara demikian oleh Siangkoan Kim-hong.”

“Apakah Siangkoan Kim-hong akan membunuhnya bila mengetahui tangan kanannya terlebih cepat daripada tangan kiri?”

“Tapi Siangkoan Kim-hong tidak tahu.”

“Mengapa dia tidak memberitahukan hal ini kepada Siangkoan Kim-hong?”

Sun-hoan tertawa, “Sebab antara dia dan Siangkoan Kim-hong seperti terdapat semacam hubungan batin yang aneh, ia berharap Siangkoan Kim-hong memperlakukan dia dengan baik juga bukan lantaran pedangnya melainkan karena pribadinya.”

A Fei diam saja.

Maka Sun-hoan berkata lagi, “Sekarang juga tentu dia akan menguji reaksi Siangkoan Kim-hong, ingin diketahuinya setelah lengan kirinya buntung, apakah Siangkoan Kim-hong masih tetap baik padanya?”

Akhirnya A Fei mengangguk, “Ah, rasanya aku pun paham sekarang.”

“Apa yang dikatakan Siangkoan Hui juga betul, Hing Bu-bing memang mempunyai rasa takut, tapi yang ditakutinya bukan mati melainkan sikap dingin dan meremehkan dia.”

“Jika demikian, dia kan juga seorang yang punya perasaan?” tanya A Fei.

“Meski terhadap orang lain dia tidak berperasaan, tapi terhadap Siangkoan Kim-hong harus dikecualikan, sebab hidupnya ini memang demi Siangkoan Kim-hong.”

A Fei menghela napas menyesal, “Ada berapa orang di dunia ini yang hidupnya hanya untuk dirinya sendiri?”

“Dan dia dapat mati bagi Siangkoan Kim-hong,” sambung Sun-hoan lagi.

“Sebab itulah diam-diam dia berlatih ilmu pedang tangan kanan.”

“Betul,” kata Sun-hoan.

“O, jadi dia sengaja diserang oleh gelang Siangkoan Hui, maksudnya untuk latihan cara menghadapi serangan gelang baja?”

“Ya, begitulah pendapatku.”

“Dan kalau sikap Siangkoan Kim-hong berubah terhadap dia, dengan cara begitu pula dia akan membunuh Siangkoan Kim-hong.”

“Mungkin sukar terlaksana, tapi sedikitnya dia akan mencobanya.”

A Fei tidak bicara lagi, sorot matanya mulai guram pula. Dia seperti tersentuh lagi sesuatu yang menyakitkan.

“Sebabnya kedua gelang Siangkoan Kim-hong mendapatkan nomor urut dua dalam daftar senjata bukanlah lantaran jurus serangannya keji dan berbahaya melainkan karena kemantapannya.”

“Kemantapannya?” A Fei mengulang istilah ini.

“Senjata yang paling berbahaya dapat dilatihnya sehingga sedemikian mantap penggunaannya, di sinilah letak kehebatan Siangkoan Kim-hong yang tak dapat dibandingi siapa pun. Kepandaian Siangkoan Hui pada hakikatnya tidak ada seperseribu ayahnya.”

“Oo?!”

“Sebabnya Siangkoan Hui membenci Hing Bu-bing adalah karena dia menganggap intisari kungfu ayahnya tidak diajarkan kepadanya melainkan diajarkan kepada Hing Bu-bing,” tutur Sun-hoan pula. “Padahal kalau Siangkoan Kim-hong tidak menggunakan jurus serangan menyambitkan kedua gelangnya seperti apa yang diperbuat Siangkoan Hui, kesempatan menang bagi Hing Bu-bing juga sangat sedikit.”

“Ya, betul,” kata A Fei.

“Tapi bisa jadi Siangkoan Kim-hong akan menyerang juga dengan cara begitu, sebab dilihatnya lengan kiri Hing Bu-bing sudah buntung sehingga ada juga peluang bagi Hing Bu-bing untuk menang.”

Mendadak A Fei seperti tersadar dari mimpi, serunya, “He, apa pun juga Siangkoan Kim-hong kan ayah Hing Bu-bing.”

“Pasti bukan,” ujar Sun-hoan.

“Bukankah jelas-jelas dikatakan Siangkoan Hui tadi….”

“Itu cuma dugaan Siangkoan Hui saja, dugaan yang keliru,” potong Sun-hoan.

“Jika begitu, apa yang diucapkannya tadi juga tidak benar?”

“Hal-hal itu dengan sendirinya benar, hanya pandangannya yang keliru.”

“Keliru pandang?”

“Ya, dia bilang sejak kedatangan Hing Bu-bing ayahnya lantas dingin dan menjauhi dia, ini memang nyata, tapi ia tidak paham apa yang dilakukan Siangkoan Kim-hong justru demi kasih sayangnya.”

“Jika sayang, mengapa menjauhinya?”

“Sebab Siangkoan Kim-hong bertekad akan menggembleng Hing Bu-bing menjadi alat pembunuh, maka hidup Hing Bu-bing juga lantas hancur di tangannya.”

A Fei termenung, katanya kemudian, “Betul, seorang kalau hidup hanya untuk membunuh memang pantas dikasihani dan mengharukan.”

“Sebab itulah kubilang sejak Hing Bu-bing bertemu dengan Siangkoan Kim-hong dia lantas mati.”

A Fei terdiam pula.

“Tapi Siangkoan Kim-hong juga manusia dan setiap manusia tentu mempunyai rasa kasih sayang terhadap anak sendiri, dengan sendirinya ia tidak tega menyuruh anaknya berbuat begitu, lantaran itulah dia tidak menurunkan kungfu tertinggi kepada Siangkoan Hui.”

Sun-hoan menghela napas, lalu menyambung, “Cuma sayang, Siangkoan Hui tidak dapat memahami maksud baik ayahnya.”

“Sebab itulah sebenarnya Siangkoan Hui sama juga mati di tangan ayahnya,” kata A Fei tiba-tiba.

Sun-hoan menghela napas gegetun, “Seorang kalau terlalu besar angkara murkanya, sering kali akan banyak berbuat kesalahan pula….”

Sebuah hutan, hutan yang kering. Setelah menembus hutan kering ini ada sebuah jalan kecil yang sangat sepi.

A Fei menunjuk setitik cahaya api di kejauhan sana, “Itulah rumahku.”

Rumah. Bagi pendengaran Sun-hoan kata rumah dirasakan sedemikian jauh, sedemikian asing.

“Lampu masih menyala, mungkin dia belum tidur,” kata A Fei pula sambil memandang jauh ke sana.

Di dalam rumah kecil itu menyala sebuah pelita, seorang perempuan cantik dengan pakaian sederhana sedang menambal baju di bawah cahaya lentera, sedang menunggu pulangnya kekasih.

Inilah sebuah lukisan yang sangat indah.

Bila berpikir sampai di sini, hati A Fei lantas penuh rasa manis dan hangat, sorot matanya yang tajam seketika berubah menjadi lembut.

Dia memang seorang yang menyendiri dan kesepian, tapi sekarang diketahuinya ada seorang lagi menunggunya, orang yang dicintainya sedang menunggu.

Perasaan memang bahagia, tiada urusan lain di dunia dapat membandingi kebahagiaan demikian, tidak ada kejadian lain dapat menggantikannya.

Sebaliknya hati Sun-hoan terasa tenggelam.

Melihat wajah A Fei yang bercahaya dan penuh bahagia itu, tiba-tiba ia merasa berdosa.

Sebenarnya ia tidak tega membuat kecewa A Fei. Ia lebih suka memikul sendiri segala penderitaan daripada membikin kecewa A Fei. Tapi sekarang dia harus membikin A Fei kecewa. Sukar dibayangkannya akan berubah bagaimana bila A Fei mengetahui Lim Sian-ji tidak berada lagi di rumah ini.

Walau apa yang diperbuatnya ini demi kebaikan A Fei, supaya dapat hidup lebih baik, hidup secara gemilang, hidup sebagai jantan. Tapi lamat-lamat tetap dirasakan tidak enak terhadap A Fei.

“Menderita panjang kan lebih baik sakit pendek”. Ia berharap selekasnya A Fei terbebas dari penderitaan, selekasnya melupakan si dia. Perempuan itu tidak ada harganya untuk dikenang. Malangnya, seorang sering mencintai orang yang tidak pantas dicintai, sebab perasaan cinta sendiri laksana seekor kuda binal yang terlepas dari tali pengekang, sukar untuk diatasi, siapa pun tak berdaya.

Lantaran itu juga, maka di dunia ini terus-menerus terjadi tragedi.

Lampu menyala, pintu rumah hanya dirapatkan begitu saja tanpa dipalang.

Cahaya lampu menembus keluar melalui celah dinding, menyinari jalan kecil itu.

Agaknya semalam ada hujan, jalan masih basah, di bawah cahaya lampu terlihat bekas kaki yang banyak dan sangat kacau. Bekas kaki lelaki.

“Siapa yang datang kemari?”

Kening A Fei berkernyit, lalu cerah pula.

Selama ini dia sangat percaya kepada Lim Sian-ji, ia yakin si dia takkan berbuat sesuatu yang tidak baik.

Sun-hoan mengikut agak jauh di belakang, ia seperti tidak berani masuk ke rumah gubuk itu.

A Fei menoleh, katanya dengan tertawa, “Kuharap hari ini dia membuat sup bening, supaya engkau dapat ikut minum sedikit, nanti baru kau tahu kepandaiannya memasak jauh lebih mahir daripada menggunakan senjata.”

Sun-hoan tertawa. Tidak ada yang tahu tertawanya sedemikian pedih.

Sungguh sukar dibayangkannya mengapa seorang perempuan dapat menggunakan cara sekeji itu untuk menipu lelaki yang mencintainya sedemikian mendalam.

“Tapi aku kan juga berdusta padanya? Mengapa aku tidak berani mengatakan padanya bahwa Lim Sian-ji tidak berada lagi di sini, bahkan hal ini adalah kehendakku.”

Sun-hoan terbatuk-batuk lagi hingga menungging.

“Bila engkau mau tinggal lebih lama sini, penyakit batukmu mungkin akan cepat sembuh, sebab di sini cuma ada sup dan tidak ada arak,” ujar A Fei.

Selamanya takkan diketahuinya bahwa “sup” lebih banyak membuatnya celaka daripada arak.

Di dalam rumah tidak ada suara orang.

“Dia tentu di dapur sehingga tidak mendengar suara percakapan kita, kalau tidak tentu dia sudah memburu keluar untuk menyambut kedatangan kita.”

Sun-hoan diam saja, sebab ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya.

Akhirnya pintu didorong A Fei. Suasana ruang tamu yang kecil masih teratur resik dan rapi.

Pelita minyak di atas meja tidak terlalu terang, tapi membawa semacam rasa hangat dan tenang.

A Fei menarik napas panjang. Akhirnya dia pulang sampai di rumah dengan selamat. Betapa pun dia tidak mengecewakan harapan Lim Sian-ji.

Tapi di manakah si dia?

Di dapur jelas tidak ada cahaya lampu, bahkan tidak ada bau sedap masakan.

A Fei menoleh dan tertawa terhadap Sun-hoan yang berdiri di ambang pintu, katanya, “Bisa jadi dia sudah tidur… Biasanya dia memang tidur sangat dini.”

Selagi Sun-hoan hendak memperlihatkan senyuman, tiba-tiba didengarnya suara rintihan suara orang perempuan. Rintihan orang yang mendekati ajal.

Suara rintihan jelas berkumandang dari kamar Lim Sian-ji sana.

Air muka A Fei berubah, cepat ia memburu ke sana dan mengetuk pintu dengan keras sambil berseru, “Hei, ada apa? Lekas buka pintu!”

Tapi tidak ada jawaban, bahkan suara rintihan tadi pun berhenti. Jelas karena dia mau menjawab, ingin berteriak, tapi sukar mengeluarkan suara.

Dahi A Fei dipenuhi butiran keringat dingin, sekuatnya ia mendobrak pintu.

Sun-hoan memejamkan mata, ia tidak berani menyaksikan sikap A Fei bila melihat orang yang dicintainya sedang bergulat dengan maut. Bukan saja tidak berani memandang, bahkan membayangkan pun tidak berani.

Tapi setelah pintu terpentang, lalu tidak ada suara lain lagi. Apakah A Fei tidak tahan oleh pukulan adegan yang dilihatnya dan jatuh kelengar?

Perlahan Sun-hoan membuka mata, dilihatnya A Fei berdiri di depan pintu dengan tercengang.

Anehnya, air mukanya cuma memperlihatkan rasa kejut dan heran tanpa rasa duka.

Memangnya apa yang terjadi di situ? Mungkin selamanya sukar dibayangkan oleh Li Sun-hoan.

Darah! Yang pertama terlihat oleh Sun-hoan adalah darah. Lalu terlihat orang yang rebah di tengah genangan darah.

Tapi tidak pernah terpikir olehnya bahwa orang yang bergulat dengan ajal di tengah genangan darah itu ialah Ling-ling.

Darah Sun-hoan serasa beku, hati pun tenggelam.

A Fei memandangnya dengan tenang, air mukanya sangat aneh.

Apakah dia telah menduga apa yang terjadi? Tapi dia tidak tanya mengapa nona cilik ini bisa datang ke sini, ia cuma tanya dengan dingin, “Apakah dia menunggumu di sini?”

Hati Sun-hoan serasa dirobek-robek, ia menubruk maju dan mengangkat Ling-ling yang berlumuran darah itu, ia coba periksa denyut nadi dan napasnya. Ia berharap akan dapat menyelamatkan jiwanya.

Tapi dia putus asa.

Akhirnya Ling-ling dapat membuka mata dan melihat Sun-hoan. Seketika air matanya merembes keluar, air mata duka, juga air mata gembira. Betapa pun sebelum ajalnya dapatlah dia melihat Li Sun-hoan.

Air mata Sun-hoan juga bercucuran, ucapnya dengan suara lembut, “Tahan, kuatkan dirimu, engkau masih muda, engkau takkan mati.”

Pada hakikatnya Ling-ling tidak mendengarkan ucapannya, ia berkata dengan terputus-putus, “Dalam urusan… urusan ini engkau… engkau salah tindak.”

“Ya, aku salah,” ucap Sun-hoan dengan pedih.

“Seharusnya kau tahu di dunia ini tiada seorang lelaki yang tega membunuh dia,” kata Ling-ling.

Parau suara Sun-hoan, ucapnya, “Akulah yang membikin celaka dirimu, aku berdosa padamu.”

Mendadak Ling-ling mencengkeram tangan Sun-hoan dengan kuat, “Tidak, engkau selalu sangat baik padaku, yang membikin celaka diriku bukan dirimu, tapi dia!”

“Dia?” Sun-hoan menegas.

“Ya, dia, orang she Lu itu menipuku, tapi… aku menipumu,” air mata Ling-ling berderai.

“Ti… tidak, engkau tidak….”

“Aku menipumu,” kata Ling-ling pula. “Sebenarnya aku telah kehilangan kehormatan padanya, pada waktu menunggumu itulah… Aku… aku benci mengapa tidak berani kuberi tahukan hal ini padamu.”

Suaranya mendadak berubah jelas, seperti ada harapan untuk hidup.

Tapi Sun-hoan tahu itu cuma refleksi seorang sebelum ajal saja. Jika usianya tidak semuda ini, tentu sukar Ling-ling bertahan sampai sekarang.

“Aku meronta dan bertahan sampai sekarang, tujuanku adalah ingin memberitahukan padamu, asalkan engkau mengerti, mati pun aku rela,” tutur Ling-ling dengan pilu.

“Akulah yang salah,” ucap Sun-hoan dengan sedih. “Mestinya harus kujaga dirimu dengan baik.”

Mendadak Ling-ling mengangguk, katanya, “Meski dia menipuku, tapi aku tidak benci padanya, sebab kutahu dia pasti akan mendapatkan ganjaran yang setimpal, ganjaran sepuluh kali lipat lebih mengenaskan daripadaku.”

“Ya, dia….”

Belum lanjut ucapan Sun-hoan, sekonyong-konyong A Fei mendorongnya pergi. Ditatapnya Ling-ling, tanyanya sekata demi sekata, “Engkau yang membawa Lu Hong-sian ke sini?”

Ling-ling menggigit bibir dengan erat.

“Dia yang menyuruhmu membawa Lu Hong-sian ke sini?” tanya A Fei pula.

Mendadak Ling-ling menggunakan sisa tenaga yang masih ada untuk berteriak, “Betul dia yang suruh! Tapi apakah kau tahu untuk apa dia bertindak demikian? Apakah kau tahu apa yang pernah dilakukannya bagimu? Bagimu dia tidak sayang….”

Sampai di sini suaranya lantas putus, napasnya juga berhenti. Sunyi, tiada sesuatu gerakan, tiada sesuatu suara. Bumi ini seolah-olah berubah menjadi sebuah kuburan yang akan membenamkan segala kehidupan.

Hanya angin mendesir, tapi desir angin juga memilukan, membuat perasaan orang remuk redam.

Entah selang berapa lama baru perlahan A Fei berdiri tegak. Tapi dia tidak berdiri berhadapan dengan Li Sun-hoan.

Ia seperti tidak sudi memandangnya lagi, jengeknya, “Mengapa engkau bertindak demikian?”

Mestinya dengan sangat gampang Sun-hoan dapat menjawab pertanyaan ini, namun satu kata pun dia tidak bicara.

Ia tahu ada sementara urusan bila dibicarakan tidak saja akan membikin hati sendiri berduka, juga akan menyinggung perasaan orang lain.

A Fei tetap tidak berpaling, katanya pula, “Kau sangka dia yang mengakibatkan aku tenggelam? Kau kira bila dia meninggalkanku segera aku akan bangkit kembali? Tapi apakah kau tahu, tanpa dia pada hakikatnya aku tidak sanggup hidup lagi.”

Sun-hoan menjawab dengan sedih, “Aku hanya berharap engkau tidak tertipu, kuharap engkau akan menemukan seorang yang pantas kau cintai, dengan begitu… dengan begitu engkau akan melupakan semua kejadian yang malang ini.”

Dada A Fei tampak bergerak keras, suaranya juga parau, “Kau anggap dia menipuku, kau anggap dia tidak berharga untuk kucintai?”

“Aku cuma tahu, sejak mula dia selalu membawa kemalangan bagimu,” jawab Sun-hoan.

“Dari mana kau tahu aku beruntung atau malang?” serentak ia membalik dan melototi Li Sun-hoan, “Memangnya kau kira siapa dirimu? Kenapa engkau perlu memengaruhi jalan pikiranku, ingin menentukan nasibku? Engkau tidak lebih hanya seorang tolol yang suka membohongi dirinya sendiri, tidak sayang mengantar orang yang kau cintai ke liang api, untuk itu engkau berbalik merasa telah bertindak bijaksana dan berbuat luhur.”

Setiap kata ucapan ini serupa jarum yang melukai hati Li Sun-hoan.

Dengan menggereget A Fei menyambung lagi, “Seumpama dia membawa kemalangan bagiku, lantas bagaimana dengan kau? Apa yang kau bawa bagi orang? Kebahagiaan Lim Si-im kan sudah amblas di tanganmu, dan engkau belum lagi puas dan masih ingin menghancurkan kehidupanku?”

Tangan Sun-hoan bergemetar, ia terbatuk-batuk lagi, belum berjongkok sudah menumpahkan darah.

A Fei hanya memandangnya dengan dingin, sampai sekian lama baru ia membalik tubuh dan melangkah keluar.

Sun-hoan terbatuk-batuk terus, ia memburu ke sana dan mengadang di pintu.

“Kau mau apa lagi?” tanya A Fei.

Sun-hoan mengusap darah pada ujung mulut dengan lengan baju, dengan napas terengah ia berkata, “Kau ingin… ingin mencari dia?”

“Ya,” jawab A Fei.

“Engkau tidak boleh mencarinya.”

“Siapa bilang?”

“Aku. Sebab seumpama dapat kau temukan dia kembali hanya akan menambah kesusahanmu. Lambat atau cepat dia pasti akan menghancurkan kau, tidak dapat kusaksikan dirimu hancur di tangan perempuan semacam ini.”

Tangan A Fei tergenggam erat, matanya merah membara.

“Sekarang kalian terpisah, dapatlah engkau terhindar dari penderitaan untuk sementara, tapi bilamana kalian berada bersama, engkau akan sengsara selama hidup. Dalam urusan lain engkau dapat melihat dengan jelas, mengapa urusan ini tidak….”

Mendadak A Fei memotong ucapannya, “Sejauh ini engkau kan sahabatku?”

“Betul,” jawab Sun-hoan.

“Sampai saat ini engkau tetap sahabatku.”

“Ya.”

“Tapi selanjutnya bukan lagi.”

Air muka Sun-hoan berubah, “Sebab apa?”

“Sebab aku tahan penghinaanmu, tapi tidak tahan kau hina dia.” “Kau anggap aku lagi menghina dia?”

“Aku dapat bertahan sampai sekarang, sebab sejauh ini kita adalah sahabat. Tapi selanjutnya bila kau hina dia satu kata saja, penghinaan ini harus dicuci dengan darah.”

Karena emosinya, tubuh A Fei sampai gemetar, lalu ia menegaskan dengan sekata demi sekata, “Aku tidak tahu apakah darahmu atau darahku, pokoknya harus dicuci dengan darah.”

Sun-hoan seperti mendadak dikemplang orang satu kali, ia menyurut mundur dan bersandar di samping pintu.

Ia terbatuk-batuk lagi, tapi tidak mengeluarkan suara, sebab giginya tergigit erat, mulut pun tertutup rapat.

Hanya darah segar saja yang merembes keluar.

A Fei juga tidak memandangnya lagi, katanya dengan parau, “Sekarang juga akan kucari dia, apa pun akan kutemukan dia. Kuharap engkau jangan ikut kemari, sekali-kali jangan ikut, kalau tidak, engkau akan menyesal selama hidup.”

Habis bicara demikian ia lantas melangkah pergi tanpa menoleh.

Air mata mestinya asin. Tapi bila air mata mengalir ke dalam perut, itu bukan lagi asin, tapi pahit.

Darah juga asin, tapi bila hati seorang sudah hancur, darah yang menetes keluar dari hati akan lebih pahit daripada air mata.

Entah berapa lama Sun-hoan terbatuk-batuk, lengan bajunya sudah merah. Pinggangnya serasa sukar untuk diluruskan.

Di atas tanah ada sebuah bekas kaki, bekas kaki yang berlepotan darah.

Tiba-tiba teringat oleh Sun-hoan bekas kaki yang acak-acakan di luar sana, seketika tangan terasa dingin.

A Fei pasti dapat menemukan si dia. Sebab Lim Sian-ji pasti sengaja meninggalkan sedikit petunjuk baginya agar anak muda itu dapat menemukannya.

Padahal A Fei juga tidak memerlukan banyak petunjuk, dalam darah A Fei memang ada semacam kemampuan pembawaan dalam hal melacak, bahkan lebih peka dan lebih gesit daripada binatang.

Tapi lantas bagaimana bila si dia dapat ditemukannya?

Tentu akan terjadi duel antara A Fei dan Lu Hong-sian. Lim Sian-ji memang suka melihat kaum lelaki mengadu jiwa baginya.

Berpikir sampai di sini, keringat dingin pun terembes keluar pada telapak tangan Sun-hoan.

Saat ini A Fei bukan tandingan Lu Hong-sian. Orang yang mampu menolongnya hanya Sun-hoan sendiri. Akan tetapi… “Jangan sekali-kali engkau mengikuti diriku, kalau tidak, engkau akan menyesal selama hidup!”

Apa yang telah diucapkan A Fei biasanya tidak pernah berubah.

Apalagi sekarang malam sudah tambah larut, Sun-hoan juga tidak memiliki kemampuan melacak serupa A Fei, seumpama ingin menyusulnya juga sangat sulit.

Sun-hoan meronta bangun, ia angkat jenazah Ling-ling ke atas dipan, ditutup dengan kain seprai.

Apa pun juga dia harus menyusul ke sana, tekadnya sudah bulat.

Umpama A Fei tidak menganggapnya sebagai sahabat lagi, namun dia tetap sahabat A Fei, persahabatannya takkan berubah oleh urusan apa pun.

Hal ini serupa dengan cintanya, biarpun lautan akan kering dan batu akan busuk, cintanya tetap takkan berubah. “O, Si-im, bagaimana keadaanmu sekarang?”

Teringat kepada Lim Si-im, hati Sun-hoan terasa pedih lagi.

Tapi dia tidak ingin pergi mencarinya, sebab ia tahu Liong Siau-hun pasti akan menjaganya dengan baik. Biarpun Liong Siau-hun suka berubah menghadapi urusan lain, tapi hatinya terhadap Lim Si-im belum lagi berubah.

Karena hatinya terhadap Lim Si-im tidak berubah, maka urusan lain dapatlah dimaafkan.

Saat itu, perasaan Liong Siau-hun sungguh tidak kepalang gembiranya.

Maklumlah, dua-tiga hari lagi dia akan menduduki kursi nomor dua dalam Kim-ci-pang, akan menjadi saudara angkat dengan orang yang paling berkuasa di kolong langit ini sekarang. Sampai air muka anaknya, Liong Siau-in, yang biasanya pucat pasi juga rada kemerahan.

Satu-satunya hal yang membuatnya gegetun adalah istrinya.

“Mengapa dia tidak mau ikut datang bersamaku? Mengapa tidak ikut menikmati kejayaan bersamaku?”

Ia tidak mau berpikir lagi.

Ada sementara orang angkara murkanya adalah duit, ada pula yang tamak dan haus akan kekuasaan. Bilamana kedua macam angkara murka ini dapat terpenuhi, maka penderitaan dalam hal cinta dapat berkurang.

Saat itu Liong Siau-in sedang termangu memandang keluar jendela, entah apa yang lagi dipikirkannya.

Perlahan Siau-hun menepuk pundak anaknya itu dan berkata, “Kau kira sekali ini Siangkoan Kim-hong akan datang sendiri untuk menyambutku atau tidak?”

Siau-in menoleh, “Tentu, bahkan upacaranya pasti sangat meriah.”

“Ya, aku pun berpendapat demikian,” Siau-hun mengangguk-angguk. “Jika aku adalah saudaranya, kehormatan yang dia berikan padaku kan sama juga kehormatan bagi dirinya sendiri.”

Ia termenung sejenak, tiba-tiba berkata pula, “Pada waktu dia memapak diriku, kau pikir aku harus menyebut dia pangcu atau memanggil toako padanya?”

“Dengan sendirinya harus memanggil toako,” ujar Siau-in. “Selanjutnya anak juga mesti memanggil paman padanya.”

Liong Siau-hun menengadah dan terbahak, “Hahaha, sungguh beruntung bagimu mempunyai paman semacam ini…” mendadak ia berhenti tertawa dan berucap pula dengan kening bekernyit, “Tapi Li Sun-hoan belum lagi mati, apakah dia takkan ingkar janji?”

“Setiap kesatria di seluruh dunia sudah sama tahu peristiwa ini, kartu undangan juga sudah disebarkan, bila dia ingkar janji, selanjutnya siapa pula yang mau percaya dan menghormati dia lagi?”

“Betul,” Siau-hun tertawa. “Sebabnya orang bu-lim tunduk dan percaya padanya adalah karena ucapannya tegas dan dapat dipercaya. Umpama sekarang dia menyesal dan mau ingkar janji juga tidak keburu lagi.”

Kertas kerja di atas meja tidak pernah berkurang, sebaliknya sehari-hari bertambah banyak.

Wilayah kekuasaan Kim-ci-pang sudah semakin luas. Tugas Siangkoan Kim-hong juga makin berat, sebab setiap urusan harus diputuskan olehnya sendiri.

Maklum, dia tidak percaya kepada siapa pun.

Sudah lima jam dia bekerja, sedetik pun hampir tidak pernah berhenti. Tapi dia tidak merasa lelah, bahkan dirasakannya sebagai sesuatu yang menggembirakan.

Pintu terbuka, seorang masuk ke situ, sama sekali Siangkoan Kim-hong tidak menoleh, sebab hanya ada satu orang saja yang boleh langsung masuk ke ruangan ini.

Ialah Hing Bu-bing.

Tetap seperti biasanya, begitu masuk Hing Bu-bing lantas berdiri di belakangnya.

“Bagaimana Li Sun-hoan?” tanya Siangkoan Kim-hong.

“Sudah pergi,” jawab Bu-bing.

Seketika Siangkoan Kim-hong berpaling dan memandangnya sekejap. Hanya memandang sekejap, lalu sorot matanya menaruh ke lengannya yang buntung itu, lalu menunduk dan bekerja kembali, ia tidak bicara lagi, bahkan tidak memperlihatkan sesuatu perasaan apa pun.

Wajah Hing Bu-bing juga tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, matanya yang pucat kelabu menatap jauh ke sana.

Segala apa seperti tidak terjadi. Tidak ada teguran, juga tidak ada hiburan.

Apakah yang buntung tangan Hing Bu-bing atau kakinya yang putus, semua ini seakan-akan tidak ada sangkut paut dengan Siangkoan Kim-hong.

Entah selang berapa lama lagi, ada orang mengetuk pintu minta bertemu. Setumpuk berkas diantar masuk lagi. Di antara tumpukan berkas itu terdapat sepucuk surat berwarna merah muda.

Lebih dulu Siangkoan Kim-hong mengambil surat itu, ia cuma membaca sekejap saja, sebab surat itu sangat ringkas, hanya beberapa huruf saja, “Kutunggu di tempat biasa, Lu Hong-sian juga menunggumu.”

Siangkoan Kim-hong termenung sejenak, seperti lagi berpikir, habis itu ia ambil keputusan dan perlahan melangkah keluar.

Hing Bu-bing juga tetap seperti bayangannya dan mengintil di belakangnya.

Kedua orang melangkah keluar pintu, menembus jalan rahasia, sampai di halaman luas, melalui seorang penjaga yang berdiri tegak, akhirnya berada di bawah cahaya yang surya.

Cahaya matahari di musim rontok serupa orang perempuan yang sudah lanjut usia, tidak ada daya panas yang menarik lagi.

Kedua orang tetap berjalan, satu di depan dan satu di belakang, jarak kedua orang makin lama makin jauh dan makin jauh…. Akhirnya Hing Bu-bing berhenti.

Siangkoan Kim-hong tidak menoleh.

Memandangi bayangan punggung yang semakin jauh itu, sorot mata Hing Bu-bing yang pucat kelabu itu menampilkan semacam perasaan pedih yang sukar dilukiskan….

Hutan lebat, hutan cemara yang hampir sepanjang tahun tidak pernah ditembus sinar matahari.

Meski kelam suasana di dalam hutan, tapi tidak terasa lembap, di tengah desir angin membawa semacam bau harum kayu cemara.

Lim Sian-ji berdiri bersandar pohon sambil menggenggam erat tangan Lu Hong-sian, sejauh ini tidak pernah terlepas, kerlingan matanya yang hangat dan lembut juga tidak pernah meninggalkan wajah Lu Hong-sian.

Air muka Lu Hong-sian semakin pucat, kerutan pada ujung matanya tampaknya juga tambah banyak.

“Engkau tidak menyesal?” terdengar Sian-ji bertanya dengan suara lembut.

Hong-sian mengangguk, “Menyesal? Kenapa aku mesti menyesal? Memiliki dirimu, lelaki mana pun takkan merasa menyesal.”

Sian-ji terus menjatuhkan diri ke pangkuan orang, bisiknya, “Masa benar aku begitu baik?”

Hong-sian merangkul pinggangnya yang ramping, katanya dengan tertawa, “Tentu saja engkau sangat baik, jauh lebih baik daripada perkiraanku….”

Tangannya mulai menggerayang dari bawah ke atas, lalu ke bawah lagi….

Napas Sian-ji mulai mendesah, “Jang… jangan sekarang….”

“Mengapa?” tanya Hong-sian.

“Engkau harus simpan tenaga untuk menghadapi Siangkoan Kim-hong,” desis Sian-ji dengan tubuh menggeliat secara ajaib, seperti menghindar, tapi juga serupa menerima….

Tangan Lu Hong-sian berhenti sejenak lalu mulai beraksi lagi, ucapnya dengan tertawa, “Setelah kulayanimu, masih mampu kulayani dia.”

“Jangan sekali-kali kau remehkan dia,” kata Sian-ji. “Dia pasti tidak mudah dihadapi seperti perkiraanmu.”

“Kau anggap aku tidak lebih kuat daripada dia?” jengek Hong-sian.

“Bukan begitu maksudku, cuma…” ia gigit perlahan ujung telinga Hong-sian dan mendesis pula, “asalkan Siangkoan Kim-hong kau bunuh, maka dunia ini pun milik kita. Hari selanjutnya kan masih panjang, kenapa perlu terburu-buru sekarang?”

Suara bisikan berubah menjadi nyanyian di tengah desir angin lembut.

Hati Lu Hong-sian menjadi lunak, tapi rangkulannya tambah kencang, katanya, “Tak tersangka engkau sedemikian memerhatikan urusan ini, aku….”

Ucapannya terhenti mendadak. Serentak Sian-ji juga meronta melepaskan diri dari rangkulannya.

Dari sana berkumandang suara langkah orang yang khas. Lalu suara langkah itu pun berhenti.

Siangkoan Kim-hong berhenti di bawah bayang sebatang pohon cemara besar sana dan berdiri diam saja tanpa bergerak.

Napas Lu Hong-sian serasa berhenti, tegurnya, “Siangkoan Kim-hong?”

Siangkoan Kim-hong tetap memakai tuding yang bertepian lebar sehingga mata alisnya hampir tertutup semua, ia pun berkata, “Lu Hong-sian?”

Ia tidak menjawab, tapi berbalik bertanya.

“Ya,” jawab Hong-sian.

Segera ia merasa menyesal, sebab dengan jawabannya ini dirasakannya dalam hal perbawa sudah kalah lebih dulu.

“Bagus, betapa pun Lu Hong-sian masih berharga bagiku untuk turun tangan,” jengek Siangkoan Kim-hong.

Lu Hong-sian juga mendengus, “Jika engkau bukan Siangkoan Kim-hong, tentu aku pun tidak sudi membunuhmu.”

Sampai lama Siangkoan Kim-hong termenung, mendadak sorot matanya terpancar dari bawah tudungnya dan menyapu ke arah Lim Sian-ji.

Sian-ji masih berdiri bersandar pohon, sorot matanya yang lembut mulai berubah panas.

Ia tahu selekasnya dapat melihat darah. Dia memang suka menyaksikan orang lelaki mengalirkan arah baginya. Tiba-tiba terdengar Siangkoan Kim-hong berkata kepadanya,

“Kemari kau!” Sian-ji seperti melenggong, dengan ragu ia pandang Lu Hong-sian sekejap, lalu sinar matanya beralih lagi ke arah Siangkoan Kim-hong.

“Dia pasti takkan pergi ke situ!” jengek Hong-sian.

Kembali Lim Sian-ji memandangnya sekejap, kemudian berpindah lagi ke sana.

Rupanya ia tahu sekarang dia harus memilih satu di antara kedua orang itu.

Keadaan demikian serupa orang main dadu saja, sekali taruh harus tepat pada pihak yang menang.

Tapi siapakah yang akan keluar sebagai pemenang?

Siangkoan Kim-hong masih tetap berdiri dengan tenang, seperti penuh yakin akan kemampuan sendiri.

Sebaliknya napas Lu Hong-sian mulai agak sesak, seperti tidak tenteram.

Mendadak Lim Sian-ji menghadap kepadanya.

Selagi Lu Hong-sian merasa lega oleh sikap Sian-ji itu, tahu-tahu si nona terus melangkah ke arah Siangkoan Kim-hong malah.

Akhirnya dia telah menjatuhkan pilihannya. Ia yakin pilihannya pasti tidak keliru!

Teleng mata Lu Hong-sian mengkeret kecil, hatinya juga ciut.

Untuk pertama kalinya selama hidup ia merasakan penghinaan, merasakan kekalahan. Inilah rasa sakit berganda. Juga pukulan berganda. Harga diri dan kepercayaan diri telah terpukul hancur. Tangannya mulai gemetar.

Siangkoan Kim-hong memandangnya dengan dingin, katanya tiba-tiba, “Engkau sudah kalah!”

Gemetar tangan Lu Hong-sian bertambah keras.

“Tidak kubunuhmu, sebab engkau tidak berharga lagi bagiku untuk turun tangan,” kata Siangkoan Kim-hong.

Mendadak ia membalik tubuh dan meninggalkan hutan.

Sian-ji mengikut di belakangnya, baru beberapa langkah ia berpaling dan tertawa terhadap Lu Hong-sian, ucapnya lembut, “Kukira lebih baik engkau mati saja.”

Pertarungan ini belum dimulai dan Lu Hong-sian sudah kalah lebih dulu. Dalam hati dia sudah mengaku kalah.

Meski dia tidak mencucurkan darah dalam pertarungan ini, tapi jiwanya, kehidupannya, sudah hancur seluruhnya. Ia menyaksikan Siangkoan Kim-hong melangkah pergi dan tiada keberanian untuk mengejarnya.

Meski tidak turun tangan, tapi tiada ubahnya Siangkoan Kim-hong sudah merampas kehidupannya. “Kukira lebih baik engkau mati saja!”

Memang betul ucapan Sian-ji, hidup baginya memang tidak menarik lagi.

Mendadak Lu Hong-sian menjatuhkan diri ke tanah dan menangis tersedu.

Lim Sian-ji telah menyusul ke sana dan menarik tangan Siangkoan Kim-hong, ucapnya dengan lembut, “Baru sekarang aku benar-benar takluk padamu.”

“Oo?!” Siangkoan Kim-hong bersuara tak acuh.

“Betapa cepat cara Hing Bu-bing membunuh orang tetap tidak secepat dirimu, sebab pada hakikatnya engkau membunuh orang tanpa perlu turun tangan sendiri.”

“Hal itu lantaran sampai saat ini belum kutemukan seorang pun yang pantas kuturun tangan,” ujar Siangkoan Kim-hong dengan hambar.

Bola mata Sian-ji berputar, katanya pula, “Di dunia ini memang tidak banyak orang yang pantas membuat kau turun tangan… mungkin cuma satu orang.”

“Li Sun-hoan?”

Sian-ji menghela napas, “Orang ini kelihatan seperti setiap saat dapat roboh, tapi seperti juga tak bisa roboh untuk selamanya. Terkadang sukar bagiku untuk mengerti, sesungguhnya dia seorang Kuncu? Seorang tolol atau seorang kesatria sejati?”

“Tampaknya engkau senantiasa berminat terhadapnya,” jengek Siangkoan Kim-hong.

Sian-ji tertawa, “Aku harus selalu berminat padanya, sebab aku tidak mau mati di tangannya. Seorang betapa besar cintanya kepada kekasih sendiri, lama-lama tentu juga akan berubah hambar. Tapi terhadap musuh sendiri tentu tidak demikian halnya.”

Mendadak ia menengadah dan menatap Siangkoan Kim-hong lekat-lekat, “Dalil ini kukira engkau jauh lebih paham daripada siapa pun.”

“Minat juga ada beberapa macam,” ujar Kim-hong. “Kau benci dia, takut padanya atau cinta padanya?”

Sian-ji tertawa pula, “Agaknya sekarang engkau pun mulai suka minum cuka.”

Siangkoan Kim-hong termenung sejenak, katanya kemudian, “Bagaimana dengan A Fei?”

“Tentu saja dia juga bisa cemburu.”

“Aku cuma tanya padamu, mengapa tidak kau bunuh dia?”

“Aku pun ingin tanya padamu, mengapa Hing Bu-bing tidak membunuhnya?”

“Aku menghendaki kau turun tangan sendiri, masa engkau tidak tega?”

Sian-ji berkedip-kedip, “Adalah sangat mudah untuk membunuh orang, tapi bila menghendaki seorang menuruti setiap perkataanmu, itulah yang sulit. Sampai saat ini belum pernah kudapatkan seorang penurut seperti dia.”

Mendadak ia menjatuhkan diri ke dalam pelukan Siangkoan Kim-hong, “Kucari dirimu bukan untuk ribut mulut denganmu. Jika benar kau minta kubunuh dia, kesempatan selanjutnya kan masih banyak, pasti kuturut kehendakmu.”

Tiada orang yang sanggup marah kepadanya. Sian-ji serupa seekor anak kucing yang jinak, umpama terkadang engkau tercakar oleh kukunya, tapi sebelum engkau merasakan sakit lebih dulu dia sudah menjilati lukamu dengan lidahnya.

Siangkoan Kim-hong menatap mukanya dengan tajam. Di bawah cahaya senja wajahnya kelihatan begitu halus, seperti tersentuh jari saja bisa pecah. Kepala Kim-hong pun mulai menunduk.

Ketika bibir hampir menempel bibir, mendadak Sian-ji terlepas dari rangkulan Kim-hong dan jatuh ke tanah.

Teleng mata Kim-hong pada saat itu juga menciut, tapi posisinya tetap tidak berubah, bahkan ujung jari saja tidak bergerak.

Ia pun tidak memandang lagi kepada Lim Sian-ji, hanya menatap dingin ke tanah rumput yang sudah kuning kering di depan sana.

Tanah rumput juga tidak terdapat sesuatu. Selang agak lama, perlahan baru muncul sesosok bayangan.

Seorang telah datang. Cahaya senja mencetak bayangan orang ini hingga memanjang ke depan.

Tidak ada suara langkah kaki, suara melangkah orang ini serupa seekor rase yang sedang mencari mangsanya.

Siangkoan Kim-hong tetap tidak berpaling, tapi Sian-ji yang rebah di tanah mulai berkeluh.

Bayangan orang itu semakin dekat, baru berhenti di belakang Siangkoan Kim-hong, terdengar ucapannya, “Selamanya aku tidak membunuh orang dari belakang, tapi sekali ini harus dikecualikan.”

Suara orang ini mestinya dingin, ketus dan tegas, tapi sekarang lantaran tegang dan gusar suaranya menjadi agak gemetar.

Inilah suara orang yang siap membunuh.

Tapi Siangkoan Kim-hong tetap tenang saja, bahkan tidak bersuara.

Dari bayangan yang tersorot tanah terlihat tangan pendatang itu sudah terangkat. Tangan memegang pedang, tapi pedang tidak segera ditusukkan, mendadak ia membentak bengis, “Engkau tidak lagi berpaling?”

“Membunuh orang dari belakang kan juga bisa mematikannya, untuk apa mesti berpaling?” jawab Kim-hong tak acuh.

Baru habis ucapannya, suara keluhan tadi pun berhenti, Sian-ji telah membuka matanya, mendadak ia menjerit, “A Fei!”

Sembari bersuara ia terus memburu ke sana, lewat samping Siangkoan Kim-hong, bayangannya lantas bertumpuk tindih dengan bayangan pendatang yang tercetak di atas tanah tadi.

Kim-hong memandang kedua bayangan di atas tanah, lalu ia melangkah ke depan, perlahan ia menginjak bayangan itu.

Pedang yang terpegang di tangan A Fei jatuh ke tanah. Sian-ji lagi memegangi tangannya dan berulang-ulang membisikinya, “Kutahu engkau pasti akan datang, dan engkau ternyata benar datang….”

Entah berapa kali ia ulangi kedua kalimat tersebut, setiap kali suaranya bertambah lembut, bertambah merdu, bertambah manis.

Bisikan ini mampu mencairkan gunung es.

Hati A Fei juga mulai cair, segenap ketegangan, rasa gusar, rasa benci, semuanya cair.

“Kutahu bilamana kau pulang dan tidak melihatku, tentu akan gelisah dan pasti akan mencari diriku,” kata Sian-ji pula, ia pandang wajah A Fei yang pucat, matanya menjadi merah basah, ucapnya pula, “Tentu engkau telah mengalami berbagai kesulitan karena mencariku.”

Suara A Fei rada tersendat juga, “Asalkan kutemukan dirimu kan sudah cukup.”

Memang, baginya asalkan dapat menemukan si dia, betapa besar harga yang harus dibayarnya tidak menjadi soal baginya. Asal dapat menemukan si dia, apa pun dia tahan.

Sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat. Pedang yang jatuh ke tanah telah dicukit ke atas, secepat kilat pedang jatuh ke tangan seorang.

Entah sejak kapan Siangkoan Kim-hong sudah berada di depan mereka.

Dengan sinar mata dingin ia menatap mata pedang, dilihatnya cuma sebatang pedang biasa, pedang “pinjaman” A Fei dari salah seorang pengawal di tengah jalan.

Namun tampaknya pedang ini sangat menarik bagi Siangkoan Kim-hong.

Selama Lim Sian-ji berada di sisinya, tiada urusan lain lagi yang lebih menarik bagi A Fei.

Baru sekarang teringat olehnya masih ada seorang lain, orang yang mestinya akan dibunuhnya. Namun sekarang pedangnya sudah berada di tangan orang ini, sebuah tangan yang kelihatan sangat mantap, asalkan tangan ini memegang tangkai pedang, setiap saat ujung pedang dapat dikirim ke hulu hati orang lain. Berada di tangan orang ini, pedang yang sepele mendadak berubah menjadi pedang berhawa membunuh.

“Siapa kau?” tanya A Fei bengis.

Kim-hong tidak menjawab, juga tidak memandangnya lagi, sorot matanya yang dingin tetap melengket pada ujung pedang, ujung mulut seperti menampilkan secercah senyuman mengejek.

“Dengan pedang ini hendak kau bunuh aku?” tanyanya dengan hambar.

“Memangnya kenapa dengan pedang ini?” jawab A Fei.

“Pedang ini tidak mampu membunuh orang.” “Pedang apa pun dapat digunakan membunuh orang.”

“Tapi pedang ini bukan pedang yang biasa kau pakai,” ujar Kim-hong dengan tertawa. “Jika kau gunakan pedang ini, yang dapat kau bunuh ialah dirimu sendiri.”

Sinar pedang berkelebat pula, pedang itu terputar balik, Siangkoan Kim-hong memegang ujung pedang, tangkai pedang disodorkan kepada A Fei, lalu katanya dengan tersenyum, “Jika engkau tidak percaya, boleh dicoba.”

Belum lagi tangan A Fei bergerak, otot daging lengannya sudah mulai tegang. Tiba-tiba ia merasakan dirinya selalu berada di pihak pasif bila berhadapan dengan orang ini. Padahal berhadapan dengan orang lain belum pernah timbul perasaan semacam ini.

Tapi mana boleh dia tidak menerima pedang ini?

Akhirnya tangannya terjulur juga, tapi baru bergerak tahu-tahu pedang sudah dirampas oleh sebuah tangan yang lain. Sebuah tangan yang halus dan indah. Tangan Lim Sian-ji.

Mata Sian-ji mengembeng air mata, katanya, “Kau mau membunuh dia? Apakah kau tahu siapa dia?”

Dengan air mata mulai berlinang ia tatap Siangkoan Kim-hong, lalu menyambung, “Dia adalah tuan penolongku.”

“Penolongmu?” A Fei menegas.

“Ya, terus-menerus Lu Hong-sian memaksa dan menyiksa diriku, ingin membunuh diri pun aku tidak bisa, kalau tidak ditolong olehnya, mungkin aku sudah….” sampai di sini bercucuranlah air matanya.

A Fei jadi melengak.

“Semula kukira engkau akan membalaskan budiku kepadanya, tapi sekarang….”

“Membunuh kan juga semacam cara membalas budi?” kata Kim-hong mendadak.

Sian-ji berpaling ke sana, “Maksudmu… kau minta dia membunuh orang bagimu?”

“Dia utang sebuah jiwa bagiku, mengapa tidak membayar padaku dengan jiwa seorang lain?” kata Kim-hong.

“Tapi yang kau selamatkan ialah jiwaku, bukan dia,” kata Sian-ji.

“Utangmu kan sama dengan utangnya, bukan?” tanya Kim-hong. Sian-ji tidak menjawab, ia berpaling kembali dan menatap A Fei.

Dengan sekata demi sekata A Fei berucap, “Betul, utangnya biar aku yang bayar.”

“Engkau sendiri tidak ada utang?”

“Tidak ada!” jawab A Fei.

Tersembul senyuman puas di ujung mulut Siangkoan Kim-hong. “Hendak kau gunakan nyawa siapa untuk membayar utang padaku?”

“Kecuali seorang, siapa pun jadi.”

“Kecuali siapa?” tanya Kim-hong.

“Li Sun-hoan!” jawab A Fei.

“Hm, engkau tidak berani membunuhnya?” jengek Kim-hong.

“Ya, aku tidak berani, sebab utangku kepadanya teramat banyak,” jawab A Fei dengan hati pedih.

Tertawa juga Siangkoan Kim-hong, “Bagus, jika engkau tidak mau utang padanya, tentu juga takkan utang padaku.”

“Kau minta kubunuh siapa?” tanya A Fei.

“Coba ikut padaku,” kata Kim-hong sambil membalik tubuh.

Malam sudah tiba, A Fei tidak menggandeng tangan Lim Sian-ji, sebab di dalam hati tiba-tiba timbul semacam perasaan aneh, perasaan tidak tenteram, entah sebab apa sukar dijelaskan.

Siangkoan Kim-hong berjalan di depannya dan tidak berpaling lagi. Namun bagi A Fei, di bawah sorot mata orang, dirasakannya seperti ada semacam daya tekan yang sukar dilukiskan.

Makin jauh berjalan, makin berat daya tekan itu.

Bintang sudah mulai menghias langit, udara lengang, angin pun berhenti meniup. Tiada terdengar suara apa pun, suara serangga pun sama lenyap.

Di jagat raya ini seakan-akan tertinggal suara langkah mereka saja.

Tiba-tiba A Fei merasa langkah sendiri pun bersuara dan seperti berpadu dengan suara langkah Siangkoan Kim-hong, perpaduan suara langkah kaki yang menjadikan semacam irama yang khas.

Seekor jangkrik melompat keluar dari semak-semak, mendadak melompat kembali ke tengah semak rumput seperti terkejut oleh irama langkah kaki yang aneh itu. Agaknya suara langkah kaki ini pun membawa hawa membunuh.

Sungguh aneh, memangnya sebab apa?

Cara berjalan A Fei biasanya tidak bersuara, mengapa langkah kakinya sekarang bisa bertambah berat. Sebab apa?

A Fei menunduk, mendadak ditemukannya sebab musababnya. Kiranya setiap kali dia melangkah selalu jatuh di tengah antara langkah pertama dan langkah kedua Siangkoan Kim-hong. Dia menjatuhkan langkah pertama baru Siangkoan Kim-hong menjatuhkan langkah kedua, dia menjatuhkan langkah ketiga, segera Kim-hong menjatuhkan keempat, setiap langkah teratur dan tidak kacau. Bila dia melangkah cepat, Kim-hong juga cepat, bila dia lambat, Kim-hong juga lambat.

Semula dengan sendirinya langkah Kim-hong yang menyesuaikan dengan langkahnya. Tapi sekarang bila Kim-hong berjalan cepat, tanpa kuasa ia pun ikut cepat, bila Kim-hong lambat, mau-tak-mau ia pun ikut lambat. Langkahnya seperti sudah dikuasai oleh Siangkoan Kim-hong dan sukar melepaskan diri.

Telapak tangan A Fei berkeringat dingin. Tapi entah mengapa, dalam hati justru merasakan cara berjalan ini sangat enak, setiap otot daging terasa sama melonggar. Lahir batinnya seolah-olah telah dihipnotis oleh irama langkah yang aneh ini.

Agaknya Sian-ji juga merasakan ketidakberesan ini, matanya yang jeli itu mendadak menampilkan semacam rasa waspada, takut dan juga benci.

A Fei adalah miliknya, hanya dia sendiri yang boleh mengendalikan anak muda. Ia tidak memperkenankan siapa pun merampasnya.

Hing Bu-bing masih berdiri di sana, berdiri di tempat berhentinya tadi. Sejak sang surya serong ke barat, terbenam, lalu malam tiba dan bintang bertaburan di langit, dia tetap berdiri di situ tanpa bergerak, sorot matanya juga tetap tertuju ke ujung jalan sana, ke situlah bayangan Siangkoan Kim-hong menghilang tadi.

Dan sekarang bayangan Kim-hong muncul kembali dari situ.

Lebih dulu Hing Bu-bing melihat tudungnya yang lebar itu dan jubah kuning yang longgar, lalu tertampak pedang yang dipegangnya dengan cahaya gemerdep. Kemudian terlihat pula A Fei olehnya.

Bila orang lain yang melihatnya dari jauh tentu akan mengira yang berjalan di belakang Siangkoan Kim-hong sekarang ialah Hing Bu-bing, sebab langkah kaki kedua orang ternyata sangat istimewa.

Siapa pun tidak menyangka kini A Fei yang telah menggantikan tempat Hing Bu-bing itu.

Sorot mata Hing Bu-bing tambah kelabu dan guram, serupa kesuraman langit tanpa bintang dan rembulan, seperti udara sebelum fajar, kosong, hampa, tiada kehidupan, bahkan tiada berbau “kematian”. Tiada segalanya.

Air muka Bu-bing terlebih hambar daripada sorot matanya, terlebih kaku.

Perlahan Siangkoan Kim-hong sudah mendekat dan mendadak berhenti di depannya. Dengan sendirinya A Fei pun ikut berhenti.

Siangkoan Kim-hong menatap jauh ke depan sana tanpa memandang sekejap pun terhadap Hing Bu-bing, mendadak ia menjulurkan tangan dan melolos pedang yang terselip di ikat pinggang Hing Bu-bing, katanya hambar, “Pedang ini tidak perlu kau gunakan lagi.”

Bu-bing mengiakan. Suaranya juga hampa, sampai ia sendiri pun ragu apakah suara itu keluar dari mulutnya.

Kim-hong tetap memegang ujung pedang hijau dari A Fei itu dan menyodorkan tangkai pedang, katanya, “Pedang ini untukmu.”

Perlahan Bu-bing menerima pedang itu.

“Bagimu sekarang tiada bedanya lagi pedang apa pun yang kau gunakan,” kata Kim-hong pula, ia lantas melangkah lewat ke sana, sejak awal hingga akhir tidak memandang Bu-bing barang sekejap pun.

A Fei juga lalu ke sana, juga tidak memandang Bu-bing.

Sebaliknya Sian-ji tersenyum padanya dan berucap dengan lembut, “Mati, apakah benar sangat sulit?”

Awan mendung tambah tebal, sekonyong-konyong guntur menggelegar, hujan pun turun dengan lebatnya.

Hing Bu-bing tetap berdiri tidak bergerak di bawah hujan. Basah kuyup sekujur badan Hing Bu-bing, namun dia tetap tidak bergerak.

Ujung mata menitikkan butiran air, entah air hujan, atau air mata?

Tapi mana bisa Hing Bu-bing menitikkan air mata?

Orang yang tidak menitikkan air mata biasanya cuma mengalirkan darah.

Siangkoan Kim-hong membawa A Fei pulang ke rumah, di bawah sinar lampu A Fei sedang menatap pedang yang gemerdep.

Di luar hujan lebat seperti di tuang, jendela tertutup rapat, hawa di dalam rumah terasa pengap.

Siangkoan Kim-hong lagi menatap wajah A Fei, katanya, “Bagaimana pedang ini menurut pendapatmu?”

“Baik, sangat baik,” kata A Fei.

“Bagaimana dibandingkan pedang yang pernah kau gunakan dulu?” “Agak lebih ringan yang ini,” jawab A Fei.

Mendadak Siangkoan Kim-hong mengambil pedang yang dipegang A Fei, dengan dua jari ia menekuk ujung pedang, seketika batang pedang berubah melengkung, ketika dilepaskan, “cring”, batang pedang melenting dan mengeluarkan suara nyaring.

Sorot mata A Fei yang dingin tampak mulai membara.

“Bagaimana pula dibandingkan pedangmu yang dulu?” tanya Kim-hong lagi dengan tersenyum.

“Pedangku yang dulu tentu patah bila ditekuk begitu,” sahut A Fei.

Ketika Kim-hong mengayun pedang itu, kontan cawan di atas meja tertebas putus serupa menebas bambu lapuk saja.

“Pedang bagus!” seru A Fei tanpa terasa.

Kim-hong memandang lekat pedang itu, katanya kemudian, “Ya, memang pedang bagus, ringan tapi tidak puntul, tipis tapi tidak getas, keras mengandung lemas, lemas membawa ulet, sebab pedang ini meski kelihatan jelek dan sederhana, padahal inilah pedang pusaka gemblengan seorang ahli dan khusus dibuat untuk Hing Bu-bing.”

Mendadak ia tertawa terhadap A Fei dan menambahkan, “Tampaknya gaya ilmu pedangmu seperti mirip dengan Hing Bu-bing, betul tidak?”

“Ya, rada mirip,” sahut A Fei.

“Meski cara turun tangannya terlebih keji dan lebih ganas daripadamu, tapi kau pun lebih mantap dan lebih jitu daripada dia, sebab engkau bisa menunggu dengan sabar, sebab itulah pedang ini akan lebih cocok digunakan olehmu daripada dipakai dia.”

A Fei termenung agak lama, katanya kemudian, “Tapi pedang ini bukan punyaku.”

“Pedang memang tiada pemilik, yang mampu menggunakannya dia itulah yang mendapatkannya,” kata Kim-hong.

Perlahan ia menyodorkan pedang itu, sinar matanya gemerdep membawa semacam senyuman aneh, lalu berkata pula, “Sekarang pedang ini sudah milikmu.”

Kembali A Fei termenung agak lama, akhirnya dia tetap berucap, “Pedang ini bukan punyaku.”

“Hanya pedang inilah pedangmu, sebab hanya dengan menggunakan pedang ini dapat kau bunuh orang lain,” kata Kim-hong. Tiba-tiba ia tertawa dan menambahkan, “Bisa jadi hanya dengan pedang ini juga dapat kau bunuh diriku.”

Sekali ini A Fei termenung terlebih lama.

“Kau utang padaku, maka perlu kau bunuh orang bagiku, maka kuberi pedang pembunuh padamu, ini kan sangat adil?” kata Kim-hong.

Akhirnya A Fei menjulurkan tangan dan menerima pedang itu. “Bagus, bagus sekali! Dengan memegang pedang ini, besok juga utangmu dapat kau bayar lunas.”

“Kau minta kubunuh siapa?” tanya A Fei.

“Orang yang kusuruh kau bunuh pasti bukan sahabatmu….” sebelum lanjut ucapannya ia lantas melangkah pergi dan merapatkan pintu.

Di luar terdengar dia memberi pesan kepada penjaga, “Kedua orang ini adalah tamuku, sebelum tengah hari besok siapa pun dilarang mengganggu mereka.”

Di dalam rumah sekarang tertinggal A Fei dan Sian-ji berdua saja.

Sian-ji duduk di sana dengan kepala menunduk. Sekian lama Siangkoan Kim-hong berada di sini, selama itu tidak memandangnya sekejap pun. Ia juga tidak bersuara, hanya ketika A Fei menerima pedang itu, bibirnya bergerak, seperti mau bicara apa-apa, tapi urung.

Sekarang di dalam rumah tinggal mereka berdua saja, tiba-tiba Sian-ji berkata, “Apakah benar akan kau bunuh orang baginya?”

“Aku utang padanya, bahkan aku sudah berjanji,” ujar A Fei sambil menghela napas.

“Apakah kau tahu siapa yang ingin dibunuhnya?” tanya Sian-ji.

“Entah, belum lagi dikatakan olehnya.”

“Tak dapat kau terka?” tanya Sian-ji.

“Memangnya sudah dapat kau terka?”

“Ya, jika tidak keliru dugaanku, orang yang hendak dibunuhnya pasti Liong Siau-hun.”

“Liong Siau-hun?” A Fei menegas. “Memangnya sebab apa?”

“Sebab Liong Siau-hun hendak memperalat dia, padahal biasanya dia yang memperalat orang lain,” tutur Sian-ji dengan tertawa.

A Fei berpikir sejenak, ucapnya kemudian sekata demi sekata, “Liong Siau-hun sudah lama memang pantas mati!”

“Tapi engkau sekali-kali tidak boleh turun tangan,” ujar Sian-ji.

“Sebab apa?”

Sian-ji tidak menjawab, sebaliknya balas bertanya, “Apakah kau tahu mengapa Siangkoan Kim-hong menyuruhmu turun tangan baginya?”

Setelah berpikir A Fei menjawab, “Menyuruh orang lain membunuh kan lebih gampang daripada turun tangan sendiri.”

“Tapi bagi Siangkoan Kim-hong, membunuh Liong Siau-hun hanya pekerjaan yang sangat gampang sekali,” kata Sian-ji. “Apalagi Kim-ci-pang tidak kekurangan jago kelas tinggi, jangankan cuma seorang Liong Siau-hun, biarpun seratus atau seribu juga dapat dibunuh seluruhnya oleh orang Kim ci-pang. Umpama Siangkoan Kim-hong sendiri tidak mau turun tangan, mengapa dia tidak menugaskan pada anak buahnya saja?”

“Kau tahu sebab musababnya?” tanya A Fei.

“Tentu saja kutahu,” Sian-ji tertawa. “Selang dua hari lagi kan tanggal satu?” “Memangnya ada apa kalau tanggal satu?”

“Setiap orang Kangouw sama tahu pada tanggal satu bulan yang akan datang, antara Siangkoan Kim-hong dan Liong Siau-hun akan mengadakan ikatan sebagai saudara angkat.”

“Oo, barangkali Siangkoan Kim-hong sudah buta?” kening A Fei bekernyit.

“Dengan sendirinya ia tidak sudi mengangkat saudara dengan Liong Siau-hun, tapi dia juga tidak mau menerima tuduhan sebagai orang yang ingkar janji. Sebab itulah jalan yang baik adalah membunuh Liong Siau-hun.”

Ia tersenyum, lalu melanjutkan, “Orang hidup dengan sendirinya tidak dapat mengangkat saudara dengan orang mati, bukan?”

A Fei tidak bicara lagi.

“Tapi bila di antara kedua orang sudah berjanji mengangkat saudara, dengan sendirinya Siangkoan Kim-hong tidak dapat turun tangan sendiri, dan juga tidak dapat menggunakan tenaga orang Kim-ci-pang, sebab itulah dia memperalat dirimu.”

Ia menghela napas dan menyambung pula, “Untuk membunuh Liong Siau-hun, engkau memang jauh lebih cocok daripada siapa pun.”

“Sebab apa?” tanya A Fei.

“Sebab… engkau bukan orang Kim-ci-pang, tapi sahabat Li Sun-hoan. Orang Kangouw sama tahu Liong Siau-hun berdosa terhadap Li Sun-hoan,” setelah menghela napas, Sian-ji melanjutkan, “Sebab itulah bila kau bunuh Liong Siau-hun, orang lain tentu menganggap engkau lagi melampiaskan dendam bagi Li Sun-hoan dan tiada yang curiga terhadap Siangkoan Kim-hong.”

“Hm, sekalipun tidak membela siapa-siapa, tidak nanti kubiarkan manusia semacam dia hidup di dunia ini,” jengek A Fei.

“Akan tetapi bila kau bunuh Liong Siau-hun, Siangkoan Kim-hong juga akan membunuhmu.”

A Fei terdiam.

“Dia membunuhmu bukan melulu untuk menghilangkan saksi hidup, tapi juga supaya dianggap orang lain bahwa dia menuntut balas bagi Liong Siau-hun, agar dia dipandang sebagai seorang yang setia kawan.”

Sorot mata A Fei beralih pada pedang yang dipegangnya.

Bola mata Sian-ji berputar, katanya pula, “Kungfu Siangkoan Kim-hong tak terukur tingginya, engkau… engkau pasti bukan….”

Ia tidak menghabiskan ucapannya dan mendadak menjatuhkan diri dalam pelukan A Fei, lalu menyambung dengan suara lembut, “Mumpung dia tidak berada di sini, marilah kita lari saja.”

“Lari?” A Fei menegas.

“Kutahu engkau tidak kenal lari, tapi demi diriku, sudilah engkau melakukannya satu kali saja?”

“Satu kali saja?” kembali A Fei menegas. “Tidak, tidak bisa!”

Sian-ji menggigit bibir. “Masa demi diriku juga engkau tidak mau?”

Suaranya mulai gemetar, air mata pun berlinang.

Kembali dia mengeluarkan senjatanya, senjata orang perempuan yang paling ampuh.

Namun A Fei tidak memandangnya, ia menatap ke jauh sana, ucapnya perlahan, “Justru lantaran dirimu, makanya tidak dapat kulakukan.”

“Sebab apa?” tanya Sian-ji.

“Demi dirimu, betapa pun tidak boleh kujadi pengecut yang ingkar janji sendiri.”

“Namun… namun….” akhirnya Sian-ji mendekap di dada A Fei dan menangis tersedu-sedan, “Aku tidak peduli engkau kesatria atau pengecut, yang kucintai hanya kau, aku cuma menghendaki engkau tetap hidup dan selalu mendampingiku.”

Sorot mata A Fei yang dingin dan teguh itu seakan-akan mencair lagi, perlahan ia membelai rambutnya dan berkata, “Sekarang bukankah aku berada di sampingmu?”

“Akan tetapi bagaimana besok? Dan selanjutnya?….” Sian-ji merangkulnya dengan erat dan menciumi dadanya yang bidang, ucapnya lembut, “Asalkan kau turut permintaanku sekali ini, selanjutnya aku pun akan menuruti segala kehendakmu.”

Tangan A Fei mendadak ditarik, sorot matanya tiba-tiba kembali berubah tegas lagi, “Segala apa pun dapat kuturuti permintaanmu, hanya urusan ini tidak.”

“Sebab… sebab apa?

“Hidup juga ada macam-macam cara, jika engkau benar-benar menghendaki kebaikanku, harus kau biarkan kuhidup sebaik-baiknya, hidup secara gemilang.”

“Hidup tetap hidup dan lebih baik daripada mati.”

“Dulu aku pun berpendapat demikian, tapi kutahu, hidup terkadang tidak lebih baik daripada mati saja.”

Sian-ji menggigit bibir, “Kata-kata ini seperti bukan ucapanmu, tapi serupa ucapan Li Sun-hoan. Hanya orang yang menyendiri seperti dia dapat mengucapkan kata-kata menertawakan ini.”

“Kau anggap kata-kata demikian menertawakan?” tanya A Fei, sorot matanya kembali menampilkan perasaan pedih.

“Dengan sendirinya menertawakan. Jika jalan pikiran setiap orang serupa dia, entah berapa banyak orang di dunia ini sudah lama mati, jika orang lain tidak….”

“Tapi aku bukan orang lain, aku tetap aku,” potong A Fei mendadak.

Sian-ji menatapnya lekat-lekat, “Kurasakan engkau terlebih baik kepadanya daripada terhadap diriku.”

A Fei tutup mulut tanpa menanggapi.

Dengan sedih Sian-ji berucap pula, “Kenapa tidak kau pikirkan, dia selalu menghendaki kau mati baginya, sedangkan aku, engkau hidup demi diriku, masa caraku terhadapmu tidak lebih baik daripada dia?”

Akhirnya A Fei menghela napas, “Namun tidak boleh kubikin dia menganggap aku akan runtuh bila berada bersamamu, aku ingin dia tahu, hanya berada bersamamu barulah aku dapat bangkit.”

Sian-ji mencucurkan air mata lagi, “Sungguh aku tidak mengerti, sebenarnya apa yang kau pikirkan?”

“Yang kupikir sangat sederhana, sebab itulah takkan berubah,” kata A Fei.

“Selamanya takkan berubah?” Sian-ji menegas.

“Ya, selamanya,” jawab A Fei tegas dan juga sederhana. Sian-ji berbangkit, perlahan menuju ke jendela. Di luar sunyi senyap, sampai suara serangga pun tidak terdengar. Di sini perasaan yang sangat nyata ialah “kematian”, baik berduduk atau berdiri, di luar maupun di dalam rumah, setiap saat dapat merasakan intaian kematian.

Sampai lama baru Sian-ji menghela napas, katanya, “Tiba-tiba kurasakan hubunganmu dengan Li Sun-hoan sangat mirip dengan hubungan antara Siangkoan Kim-hong dan Hing Bu-bing.”

“Oo, apa betul?”

“Ya, hidup Hing Bu-bing seolah-olah hanya untuk Siangkoan Kim-hong, dengan sendirinya Siangkoan Kim-hong juga sangat baik kepadanya, sampai sekarang….”

Ia tersenyum getir, lalu menyambung, “Sekarang Hing Bu-bing sudah kehilangan daya guna dan segera akan diusir Siangkoan Kim-hong serupa anjing buduk, mungkin mimpi pun dia tidak menyangka akan berakhir secara demikian.”

“Mungkin sudah terpikir olehnya jauh sebelum ini.”

“Jika dia tahu akan berakibat demikian, mana dia mau berbuat begitu?”

“Dia terpaksa, sebab dia memang tiada pilihan lain.”

“Dan engkau?”

A Fei tidak bicara lagi.

“Li Sun-hoan baik terhadapmu, sebab di dunia ini hanya engkau saja yang dapat membantu dia, kecuali dirimu, hampir seluruhnya dia terpencil sendiri. Tapi nanti bila engkau pun tiada harganya untuk diperalat olehnya, dia juga akan mencampakkan dirimu serupa tindakan Siangkoan Kim-hong terhadap Hing Bu-bing.”

A Fei termenung hingga lama, mendadak ia berkata, “Coba engkau berpaling kemari!”

Dia bicara dengan sangat lambat, tapi tegas dan kereng. Belum pernah dia bicara sekeras ini terhadap Lim Sian-ji.

Sian-ji memegang erat kosen jendela, jawabnya, “Berpaling? Untuk apa?”

“Sebab ingin kukatakan dua hal kepadamu.”

“Tanpa berpaling pun dapat kudengar.”

“Tapi kuminta kau pandang diriku, ada sementara ucapan selain perlu didengar dengan telinga juga harus dilihat dengan mata, kalau tidak selamanya engkau takkan paham artinya.”

Akhirnya Sian-ji menoleh juga, dan dapatlah dilihatnya sinar mata A Fei, ia pun mengerti akan maksudnya.

Sorot mata A Fei mendadak berubah serupa Siangkoan Kim-hong.

Bilamana sinar mata seorang berubah menjadi begini, maka hal ini menandakan apa yang dikatakannya harus kau dengarkan dan sekali-kali tidak boleh membantah. Kalau tidak, engkau pasti akan menyesal.

Dalam sekejap itu baru disadari oleh Lim Sian-ji bahwa dugaannya keliru.

Tadinya dia menyangka selama ini sudah dapat mengendalikan A Fei, baru sekarang diketahuinya hal itu salah besar.

A Fei memang mencintai dia, cinta yang sangat mendalam. Tapi bagi kehidupan seorang lelaki, masih banyak urusan lain yang jauh lebih penting daripada “cinta”, bahkan jauh lebih penting daripada hidupnya sendiri.

Dahulu A Fei selalu tunduk dan menurut padanya, semua itu lantaran Sian-ji belum pernah menyinggung urusan ini. Ia boleh mati baginya tapi sekali-kali tidak boleh menyuruhnya membuang urusan ini.

Selang agak lama, Sian-ji tertawa dan berkata, “Kau mau omong apa padaku? Aku kan sedang mendengarkan!”

Tertawanya tetap sangat manis, tapi sudah rada dipaksakan. “Kuminta kau mengerti, Li Sun-hoan adalah sahabatku, aku tidak mengizinkan siapa pun menista sahabatku, siapa pun tidak boleh.”

Sian-ji menunduk, “Lalu, apa lagi?”

“Apa yang kau katakan tadi selain menilai rendah diriku, juga menilai rendah Hing Bu-bing.”

Mendadak Sian-ji mengangkat kepala, sorot matanya penuh rasa tanda tanya, “Memangnya dia….”

“Dia pergi, sebab dia mau pergi dan bukan diusir orang,” kata A Fei.

“Akan tetapi, aku… aku tidak paham….”

“Engkau tidak perlu paham, cukup asalkan selalu ingat.”

Kembali Sian-ji menunduk, ucapnya hampa, “Setiap perkataanmu akan selalu kuingat dengan baik, aku pun berharap engkau juga jangan lupa, pernah kau katakan… hatimu takkan berubah selamanya terhadapku.”

A Fei menatapnya hingga lama, seumpama hatinya adalah gunung es, saat ini tentu juga sudah cair.

Perlahan ia melangkah maju mendekatinya, tubuh si dia seperti ada semacam daya tarik yang sangat kuat dan membuat A Fei sama sekali tidak mampu melawan.

Tapi Sian-ji mengelak malah, seperti khawatir tersentuh olehnya, ucapnya dengan suara agak gemetar, “Ti… tidak, hari ini tidak….”

Tubuh A Fei seakan-akan beku mendadak.

Sian-ji lantas tertawa malah, ucapnya lembut, “Hari ini engkau harus istirahat dengan baik. Lekas tidur, akan kujaga di sampingmu.”

Saat itu Siangkoan Kim-hong berdiri di sana, pandangannya tertuju ke arah pintu, seperti sedang menanti, entah apa yang ditunggunya?

Penjaga di luar sudah dienyahkan, sebab Siangkoan Kim-hong telah memberi pesan kepada mereka bahwa malam ini ada orang akan datang dan siapa pun dilarang mengganggunya.

Setiap tindakan Siangkoan Kim-hong selalu ada tujuan tertentu, dan sekali ini entah apa maksud tujuannya?

Malam tambah larut dan semakin sunyi.

A Fei memejamkan mata, napasnya teratur, seperti sudah terpulas.

Padahal dia sama sekali dalam keadaan sadar, hampir tidak pernah dia sadar seperti sekarang ini.

Biasanya sangat jarang dia sukar tidur, sebab kalau tidak teramat lelah dia takkan tidur. Akhir-akhir ini bilamana dia berbaring, begitu kepala menempel bantal, segera juga dia tertidur.

Tapi sekarang dia sukar tidur. Sian-ji juga tidur di sebelahnya, napasnya juga teratur. Asalkan A Fei membalik tubuh segera dapat dirangkulnya tubuh yang hangat dan kenyal itu.

Tapi sedapatnya ia mengekang diri, memandang saja tidak berani, ia khawatir apabila dirinya memandangnya sekejap, seketika imannya bisa runtuh.

Jika Lim Sian-ji sedemikian percaya kepadanya, mana dia boleh berbuat hal begituan?

Tapi dia tetap dapat merasakan napasnya yang harum itu, terpaksa dia haus mengerahkan segenap tenaga dan pikiran agar dapat mengendalikan perasaannya.

Dan hal ini tentu saja bukan sesuatu pekerjaan yang enak.

Nafsu berahi serupa gelombang, setelah tenang sejenak segera bergulung-gulung lagi.

Dan begitulah terus-menerus A Fei menahan gejolak perasaannya. Dengan sendirinya, mana dia dapat tidur?

Napas Sian-ji terasa berat, serupa orang mendengkur, tapi matanya justru terpentang perlahan. Dalam kegelapan diam-diam ia pandang A Fei, dilihatnya rambut yang hampir menutupi dahinya, dilihatnya bulu matanya yang sangat panjang, sungguh rasanya ingin dirabanya….

Dalam sekejap itu bilamana benar dia menjulurkan tangannya, seterusnya mungkin A Fei akan menjadi miliknya untuk selamanya, bisa jadi A Fei akan meninggalkan segalanya, membuang segalanya demi dia.

Saat itu sorot matanya sedemikian lembut, tapi semua itu hanya terjadi dalam sekejap saja, ia urung menjulurkan tangannya, sorot mata yang lembut juga membeku, perlahan ia memanggil. “Fei cilik, engkau sudah tidur?!”

A Fei tidak menjawab, juga tidak membuka mata.

Ia tidak berani, ia takut kepada diri sendiri….

Sian-ji menunggu lagi sejenak, tiba-tiba ia bangun perlahan, memberosot turun dengan hati-hati dan diam-diam menjemput sepatunya, lalu dengan langkah berjingkat ia membuka pintu.

Sudah jauh malam begini, akan ke manakah dia?

Hati A Fei mendadak serasa ditusuk jarum, sakit dan perih.

Mata tidak memandang, hati tidak kesal. Ada sementara urusan akan lebih baik bila selamanya tidak kau lihat.

A Fei juga paham, fakta terkadang sangat kejam. Cuma sayang, ia tidak sanggup mengendalikan diri.

Pintu di sana terbuka, sorot mata Siangkoan Kim-hong mendadak terkilas secercah senyuman.

Perlahan Sian-ji merapatkan daun pintu lagi dan bersandar pada pintu sambil memandang Kim-hong, “bluk”, sebelah sepatunya jatuh ke lantai, lalu yang sebelah jatuh pula.

Ia menghela napas panjang dan berucap, “Memang sudah kau perhitungkan aku akan datang, bukan?”

Siangkoan Kim-hong mengiakan.

“Tapi aku sendiri tidak… tidak tahu mengapa aku datang kemari,” ujar Sian-ji sambil menggigit bibir.

“Kutahu.”

“Kau tahu?”

“Ya, sebab kini telah kau rasakan A Fei tidak lagi dapat diandalkan sebagaimana pernah kau bayangkan. Jika engkau masih ingin hidup terpaksa engkau harus lari padaku.”

“Eng… engkau dapat diandalkan?” tanya Sian-ji.

“Itu harus ditanyakan kepada dirimu sendiri,” jawab Kim-hong dengan tertawa.

Di dunia ini memang tidak ada seorang lelaki yang mutlak dapat diandalkan.

Apakah seorang lelaki dapat diandalkan atau tidak, semua itu bergantung kepada cara bagaimana perlakuan si perempuan terhadapnya apakah cukup efektif atau tidak.

Dalil ini tentu saja cukup dimengerti oleh Sian-ji, ia pun tertawa, katanya, “Engkau pasti sangat dapat diandalkan, sebab aku takkan pernah membuat kecewa padamu.”

Mula-mula ia tertawa dengan matanya. Kemudian menggunakan tangannya, dengan pinggangnya, dengan kakinya….

Agaknya dia sudah bertekad akan menggodai lelaki ini tanpa sayang menggunakan cara apa pun.

Dengan gerak yang paling cepat, dikeluarkannya senjatanya yang paling ampuh.

Dalam pandangan orang lelaki, di dunia ini tidak ada sesuatu yang terlebih menarik daripada perempuan yang telanjang bulat, apalagi perempuan cantik serupa Lim Sian-ji.

Anehnya, pandangan Siangkoan Kim-hong justru tetap menatap ke arah pintu seakan-akan pintu itu terlebih indah daripada tubuh Sian-ji.

Dengan napas agak terengah Sian-ji berkata, “Gendong diriku, aku… aku tidak sanggup berjalan lagi.”

Siangkoan Kim-hong menggendongnya, tapi matanya tetap menatap pintu.

“Blang”, tahu-tahu pintu telah didobrak terpentang. Seorang menerjang masuk serupa segumpal bara. Bara murka!

A Fei, siapa lagi kalau bukan A Fei!

Tidak ada yang dapat melukiskan kemurkaan A Fei sekarang, juga tiada yang dapat membayangkannya.

Terkilas lagi senyuman pada sorot mata Siangkoan Kim-hong. Memangnya dia sudah memperhitungkan akan kedatangan A Fei ini?

A Fei seperti sama sekali tidak melihat dia, pada hakikatnya dia tidak melihat siapa pun, yang terlihat olehnya cuma mimpi buruk saja. Sekujur badannya tampak gemetar.

Tapi Lim Sian-ji juga tidak meliriknya, ia merangkul leher Siangkoan Kim-hong, katanya, “Orang yang datang ke tempatmu ini apakah tidak perlu mengetuk pintu?”

“Blang”, mendadak kepalan A Fei menghantam daun pintu.

Daun pintu itu terbuat dari besi, kepalan A Fei sampai berdarah, kesakitan hingga bibir pun pucat.

Tapi tidak ada rasa sakit di dunia yang lebih sakit daripada rasa sakit hatinya sekarang.

Sian-ji tertawa pula, katanya, “Kiranya orang ini gila.”

Akhirnya A Fei meledak, ia meraung, “Kiranya engkau perempuan semacam ini!?”

“Tak tersangka olehmu, bukan?” ucap Sian-ji tak acuh. “Padahal sejak mula aku adalah perempuan semacam ini dan tidak pernah berubah. Engkau tidak menyangka hanya karena engkau sendiri yang terlalu goblok.”

Ia tertawa dingin, lalu menyambung pula, “Padahal kalau engkau rada pintar sedikit, seharusnya engkau tidak datang kemari.”

“Dan aku sudah datang!” teriak A Fei.

“Apa manfaatnya kau datang kemari? Memangnya akan kau gigit diriku? Apa pun yang kulakukan, engkau hanya dapat melihat saja.”

Mata A Fei semula seperti mengembeng air mata, tapi saat ini air mata itu mendadak beku menjadi es. Sinar matanya telah berubah menjadi pucat kelabu.

Kelabu putus asa, serupa warna mata Hing Bu-bing.

Air mata berdarahnya seakan-akan sudah habis tercucur dalam sekejap ini, kehidupannya seolah-olah juga telah berakhir dalam sekejap ini.

Mendadak dia seperti berubah menjadi orang mati.

“Mestinya tidak datang, memang seharusnya tidak datang kemari….”

Sudah jelas tidak, kenapa datang juga?

Mengapa manusia selalu berbuat hal-hal yang mestinya tidak perlu dilakukannya untuk membikin susah diri sendiri?

Entah cara bagaimana, kemudian A Fei melangkah keluar. Siangkoan Kim-hong hanya memandang kepergiannya dengan dingin.

Sian-ji mengembus napas lega, ucapnya lembut, “Dengan sepenuh hati kulakukan bagimu, sekarang tentu kau percaya bukan?”

“Kupercaya,” kata Kim-hong.

Habis berucap, mendadak ia membanting Sian-ji ke tempat tidur dan ditinggal pergi.

Tubuh Sian-ji kesakitan. Tapi dia tidak merasa sedih, juga tidak gusar melainkan takut.

Pada waktu dia mengetahui A Fei tidak seluruhnya ditaklukkan juga pernah timbul rasa takut seperti ini, cuma rasa takutnya tidak sehebat sekarang.

Untuk sejenak ia termenung, kemudian ia berbangkit perlahan, dijemputnya bajunya sepotong demi sepotong, dilipat dengan rajin. Ketika ia merasa hatinya sudah tenang kembali, ia lantas berbaring lagi, ia mulai pasang aksi lagi dengan senyum yang paling manis, dengan gaya yang paling memesona.

Advertisements

,

Leave a comment

Pendekar Budiman: Bagian 21

Pendekar Budiman: Bagian 21

“Sebenarnya tidak ingin kuperlakukan dia cara begini,” tukas Siau-hun dengan menghela napas menyesal, “Namun… manusia tidak bermaksud mencelakai harimau, sebaliknya harimau yang akan bikin susah manusia. Setelah pengalaman yang sudah lalu, aku tidak ingin terjadi sesuatu lagi di luar dugaan.”
“Dan di mana pisaunya?” tiba-tiba Bu-bing bertanya lagi.
“Apakah… apakah Hing-siansing ingin melihat pisaunya?” tanya Siau-hun dengan ragu.
Hing Bu-bing tidak menjawab, sebab ia merasakan pertanyaan itu mestinya tidak perlu ditanyakan.
Akhirnya Liong Siau-hun mengeluarkan sebilah pisau dari bajunya.
Pisau yang sangat enteng, sangat pendek, sangat tipis, hampir serupa sehelai daun liu.
Perlahan Hing Bu-bing meraba pisau yang tipis ringan itu seperti orang yang sangat tertarik dan merasa sayang untuk melepaskannya lagi.
Dengan tertawa Siau-hun berkata, “Padahal, ini hanya sebilah pisau yang sangat umum dan tidak dapat dianggap sebagai senjata.”
“Senjata?….” jengek Bu-bing. “Orang semacam kau setimpal untuk bicara tentang senjata?”
Mendadak sorot matanya beralih ke arah Liong Siau-hun, tanyanya dengan ketus, “Apakah kau tahu apa artinya senjata?”
Meski sorot matanya buram, namun tetap membawa semacam daya pengaruh yang aneh, serupa mata hantu yang menakutkan.
Seketika Liong Siau-hun merasa napas pun sesak, jawabnya sambil menyengir, “Mohon petunjuk.”
Pandangan Hing Bu-bing beralih kembali pada mata pisau, katanya, “Alat yang dapat membunuh orang itulah disebut senjata, kalau tidak, sekalipun pedang pusaka atau golok wasiat, berada di tangan orang semacam dirimu tetap serupa besi tua belaka.”
“Ya, pandangan Hing-siansing memang tepat, sungguh sangat….”
Hing Bu-bing tidak menghiraukan apa yang diucapkan Liong Siau-hun, katanya pula mendadak, “Apakah kau tahu sampai saat ini berapa banyak orang yang mati di bawah pisau semacam ini?”
“Wah, mungkin su… sukar dihitung?” jawab Siau-hun.
“Kenapa tidak dapat dihitung?” jengek Hing Bu-bing.
Padahal Kim-ci-pang baru berdiri dua tahun terakhir ini, sebabnya Kim-ci-pang dapat menjagoi dunia Kangouw dalam waktu sesingkat ini tentu saja bukan karena nasib mujur belaka melainkan karena organisasinya yang rapi dan pimpinannya yang lihai.
Liong Siau-hun juga pernah mendengar sebelum Kim-ci-pang berdiri lebih dulu mereka telah menyelidiki seluk-beluk setiap orang Kangouw yang sedikit punya nama, untuk itu jelas diperlukan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.
Namun Liong Siau-hun masih sangsi juga, ia menegas, “Benar dapat dihitung dengan jelas? Memangnya berjumlah berapa?”
“Tujuh puluh enam,” kata Bu-bing. “Di antara ke-76 orang ini, tiada seorang pun lebih lemah kungfunya daripadamu.”
Siau-hun hanya menyengir saja, ia memandang Li Sun-hoan, seperti ingin kesaksiannya apakah betul jumlah yang disebut Hing Bu-bing itu.
Tapi tampaknya tenaga untuk mengangguk saja tidak dimiliki Li Sun-hoan lagi.
Liong Siau-in berkedip-kedip, katanya tiba-tiba dengan tertawa, “Apabila Li Sun-hoan sendiri juga mati di bawah pisau semacam ini baru benar-benar menyenangkan….”
Belum lenyap suaranya, tahu-tahu sinar pisau berkelebat, pisau menyambar ke arah Li Sun-hoan.
Tapi pisau tidak langsung menyerang tenggorokan Li Sun-hoan melainkan membelok di tengah jalan dan “trang”, pisau jatuh di samping Sun-hoan.
Ternyata kepandaian menggunakan senjata rahasia Hing Bu-bing juga tidak rendah.
“Buka hiat-tonya,” kata Hing Bu-bing mendadak.
Liong Siau-hun melengak, “Akan tetapi….”
Hing Bu-bing tidak memberi kesempatan bicara baginya, dengan suara bengis ia membentak, “Kubilang buka hiat-tonya.”
Siau-hun saling pandang sekejap dengan anaknya, segera ia pun paham maksudnya.
“Yang dikehendaki Siangkoan-pangcu hanyalah Li Sun-hoan tanpa peduli dia mati atau hidup, begitu tentunya?”
“Ya, Siangkoan-lopek sendiri tidak minum arak setetes pun, dengan sendirinya beliau sangat benci kepada setan arak,” ujar Siau-in dengan tertawa. “Setan arak sejati bilamana sudah mati baru takkan minum arak dan tidak menjemukan.”
“Apalagi, membawa pulang seorang mati akan jauh lebih leluasa daripada membawa seorang hidup,” sambung Liong Siau-hun. “Juga tidak perlu khawatir akan terjadi sesuatu di luar dugaan.”
“Tapi Hing-siansing tentu takkan turun tangan terhadap seorang yang tidak mampu melawan, maka….”
“Apakah ocehan kalian tidak terlalu banyak?!” bentak Hing Bu-bing.
“Ya, ya, segera kubuka hiat-tonya,” kata Siau-hun.
Yang menutuk Li Sun-hoan ialah Siau-hun sendiri, untuk membuka hiat-tonya tentu juga sangat mudah.
Siau-hun tepuk-tepuk pundak Li Sun-hoan katanya, “Saudaraku, tampaknya Hing-siansing bermaksud bertanding denganmu, ilmu pedang Hing-siansing sangat tinggi, caramu menghadapi beliau janganlah ceroboh.”
Dalam keadaan begitu dia masih dapat memanggil “saudaraku” dengan mesranya, bahkan kelihatan sangat memerhatikannya. Sungguh manusia munafik yang sukar dicari bandingannya.
Sun-hoan tidak bersuara, memangnya apa yang dapat dikatakannya? Ia cuma tersenyum hambar saja, perlahan ia jemput pisau di sebelahnya.
Dipandangnya pisau itu lekat-lekat, hampir saja air mata menitik.
Memang inilah pisau kilat si Li yang sekali timpuk tidak pernah meleset. Sekarang pisau sudah berada kembali dalam tangannya. Akan tetapi apakah dia masih mampu menyambitkannya?
Wanita cantik pada umur lanjut, kesatria menghadapi jalan buntu, semua ini adalah kedukaan yang apa boleh buat, kedukaan yang menimbulkan simpati dan juga membuat orang merasa gegetun.
Tapi di sini tidak ada seorang pun bersimpati padanya, terlebih tidak ada seorang pun yang gegetun.
Sorot mata Liong Siau-in menampilkan cahaya yang licik, ucapnya, “Pisau kilat si Li, sekali timpuk tidak pernah meleset. Sekali ini entah masih manjur atau tidak?”
Sun-hoan mengangkat kepala dan memandangnya sejenak, lalu menunduk pula.
“Apabila aku hendak membunuh orang, tentu kuberi kesempatan lebih dulu kepada orang itu,” kata Hing Bu-bing. “Nah, sekarang inilah kesempatanmu yang terakhir, kau paham tidak?”
Sun-hoan tersenyum, senyuman pedih.
“Baik, berdirilah!” kata Bu-bing pula.
Napas Sun-hoan tampak tersengal, kembali ia terbatuk-batuk lagi.
“Wah, tampaknya Paman Li tidak sanggup berdiri lagi, biarlah kupayang dirimu,” kata Siau-in sambil berkedip-kedip, lalu sambungnya lagi dengan tertawa, “Tapi, tampaknya bantuanku tidak diperlukan. Konon pisau terbang Paman Li bukan saja dapat disambitkan dalam keadaan berduduk, bahkan selagi berbaring pun sanggup menyambitkannya dengan sama jitunya.”
Sun-hoan menghela napas, seperti mau bicara. Tapi sebelum dia bersuara, mendadak seorang menerjang masuk.
A Fei!
Wajah A Fei tampak pucat pasi serupa mayat, ujung mulut berdarah. Dalam sekejap ini dia kelihatan sudah banyak lebih tua.
Ia berlari masuk dan serentak berhenti, dan begitu berhenti lantas tegak kuat serupa batu karang.
“Engkau belum kapok?” kata Hing Bu-bing.
Sun-hoan mengangkat kepala lagi menatap A Fei, air mata terharu hampir saja menitik.
A Fei memandangnya sekejap, lalu berpaling ke arah Hing Bu-bing dan menjawab sekata demi sekata, “Jika kau mau bunuh dia, lebih dulu harus bunuh diriku!”
Ia bicara dengan tenang, mantap, tanpa emosi. Hal ini lebih membuktikan betapa teguh tekadnya.
Mata Hing Bu-bing yang buram itu kembali terjadi perubahan aneh, katanya, “Engkau tidak memikirkan si dia lagi?”
“Jika kumati, dia tetap dapat hidup terus,” kata A Fei.
Meski tetap tenang pada waktu berucap demikian, namun tidak urung sinar matanya menampilkan semacam rasa pedih, napas pun terasa agak sesak.
Hal ini tentu saja tidak dapat mengelabui pandangan Hing Bu-bing, dalam hatinya seketika seperti mendapatkan semacam hiburan dan rasa bebas yang aneh, ucapnya hambar, “Engkau tidak khawatir dia akan berduka?”
“Daripada hidup tidak tenteram kan lebih baik mati, jika aku tidak tenteram, tentu dia tambah berduka,” kata A Fei.
“Kau yakin dia orang semacam ini?”
“Tentu saja.”
Dalam pandangan A Fei, Lim Sian-ji bukan saja dewi, bahkan juga perawan suci.
Mendadak ujung mulut Hing Bu-bing menampilkan secercah senyuman. Siapa pun tidak pernah melihat dia tertawa, sampai ia sendiri pun tidak ingat bilakah dia pernah tertawa.
Senyumnya sangat aneh, otot daging pada wajahnya sudah tidak terbiasa untuk tertawa, sudah kaku.
Dia tidak suka tertawa, sebab tertawa dapat melunakkan orang, tapi tertawanya sekarang tidak sama, tertawa ini serupa pedang. Cuma yang dicelakai pedang adalah jiwa manusia, sedangkan tertawa ini melukai hati.
Sama sekali A Fei tidak mengerti untuk apakah Hing Bu-bing tertawa, jengeknya, “Tidak perlu kau tertawa, meski engkau ada delapan bagian kesempatan untuk membunuhku, tapi juga ada dua bagian kemungkinan kau akan mati di bawah pedangku.”
Mendadak lenyap senyuman Hing Bu-bing, katanya, “Sudah kukatakan takkan kubunuh dirimu, maka tetap akan kuberi hidup padamu.”
“Tidak perlu,” kata A Fei.
“Tetap kuberikan hidup padamu, lihat….” belum habis ucapan Hing Bu-bing segera sinar pedang beterbangan.
Di tengah kelebat sinar pedang terdapat pula selarik sinar yang jauh lebih cepat daripada sinar pedang. Dalam sekejap itu segala cahaya lantas lenyap dan segala gerakan juga berhenti.
Pedang Hing Bu-bing tepat menusuk bahu A Fei, tapi cuma dua-tiga senti dalamnya. Sebaliknya jarak ujung pedang A Fei dengan tenggorokan lawan masih ada lima-enam senti.
Darah mulai merembes keluar dari bahu A Fei, membasahi baju dan menjadi merah.
Pada bahu Hing Bu-bing tahu-tahu juga tertancap sebilah pisau, pisau kilat si Li.
Kekuatan gaib apakah yang mendorong Li Sun-hoan menyambitkan pisaunya?
Wajah Liong Siau-hun dan anaknya sama pucat dan tangan bergemetar, keduanya sama menyurut mundur ke kaki dinding, kedua orang sama terheran dari mana timbulnya tenaga Li Sun-hoan untuk menyambitkan pisaunya?
Sementara itu Li Sun-hoan sudah berdiri.
Perlahan Hing Bu-bing menoleh, memandang Sun-hoan lekat-lekat, sorot matanya yang buram tetap tidak memperlihatkan sesuatu perasaan.
Entah selang berapa lama, mendadak ia berkata, “Pisau hebat!”
Sun-hoan tertawa, “Tidak terlalu hebat, soalnya engkau telah meremehkan diriku lebih dulu, sama sekali memandangku dengan sebelah mata, kalau tidak belum tentu dapat kulukaimu.”
“Hm, dapat kau tipu diriku, inilah kepintaranmu, engkau tetap lebih kuat daripadaku,” jengek Bu-bing.
“Aku tidak menipumu, juga tidak kukatakan aku tidak bertenaga lagi, semua ini adalah buah pikiranmu sendiri, matamu yang menipu dirimu sendiri,” ucap Sun-hoan tak acuh.
Hing Bu-bing terdiam sejenak, katanya kemudian, “Ya, betul, aku yang salah dan bukan kau.”
Sun-hoan menghela napas, “Bagus, engkau meski seorang pembunuh, tapi bukan siaujin (orang kecil, pengecut).”
Hing Bu-bing melirik sekejap Liong Siau-hun berdua, lalu mendengus, “Siaujin pun tidak setimpal untuk menjadi pembunuh.”
“Baik, pergilah kau,” kata Sun-hoan.
“Mengapa tidak kau bunuh diriku?” tanya Bu-bing mendadak dengan bengis. “Sebab engkau juga tidak membunuh kawanku,” jawab Sun-hoan.
Bu-bing menunduk, memandang pisau yang menancap pada bahunya, katanya perlahan, “Tapi pedangku tadi mestinya bermaksud menebas sebelah lengannya.”
“Kutahu,” kata Sun-hoan.
“Dan sambitan pisaumu ini sangat ringan,” ucap Bu-bing.
“Bagiku, seorang memberikan satu padaku akan kubalas dia tiga,” jawab Sun-hoan.
Mendadak Hing Bu-bing mengangkat kepala dan memandang Sun-hoan dengan tajam, meski tidak berucap satu kata pun, tapi sorot matanya terjadi perubahan aneh lagi, sama halnya pada waktu dia menatap Siangkoan Kim-hong.
Perlahan Sun-hoan berkata pula, “Ingin kukatakan dua hal padamu.”
“Katakan,” sahut Bu-bing.
“Meski sudah kucederai 76 orang, tapi 28 orang di antaranya tidak mati, yang mati semuanya adalah orang yang memang pantas mati,” tutur Sun-hoan.
Bu-bing diam saja.
Sun-hoan berbatuk lagi beberapa kali, lalu menyambung, “Selama hidupku tidak pernah salah membunuh orang. Sebab itulah… kuharap seterusnya engkau harus lebih banyak berpikir dan menimbang sebelum membunuh orang.”
Hing Bu-bing termenung agak lama, katanya kemudian, “Aku pun ingin memberitahukan sesuatu padamu.”
“Katakan,” jawab Sun-hoan.
“Selama hidupku tidak sudi menerima budi kebaikan orang, terlebih tidak suka diberi petunjuk orang.”
Bicara sampai di sini, mendadak Bu-bing menepuk tangkai pisau yang menancap di bahunya, seketika pisau itu ambles hingga pangkal tangkainya.
Darah segar lantas mengucur. “Trang”, pedang juga jatuh ke lantai.
Tubuh Hing Bu-bing terhuyung, namun wajahnya tetap kaku dan dingin serupa batu karang, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa kesakitan, bahkan otot daging pun tidak bergerak sama sekali.
Tanpa bicara lagi, juga tidak memandang siapa pun, segera ia melangkah pergi.
A Fei kelihatan lesu, ia menghela napas dan berkata, “Selama hidupnya mungkin tidak dapat menggunakan pedang lagi.”
“Dia kan masih punya tangan kanan,” kata Sun-hoan.
“Tapi dia biasa menggunakan tangan kiri, bila menggunakan tangan kanan tentu akan jauh lebih lambat,” ucap A Fei dengan menyesal. “Kau tahu, bagi seorang ahli pedang, lambat berarti mati.”
Biasanya dia jarang menghela napas. Sekarang tidak cuma untuk Hing Bu-bing saja ia menghela napas, tapi juga bagi dirinya sendiri.
Sun-hoan menatapnya dengan sinar mata gemerdep, katanya kemudian, “Seorang asalkan mempunyai kemauan, sekalipun kedua tangannya buntung seluruhnya, dengan mulut menggigit pedang juga dapat dimainkan dengan sama cepatnya. Soalnya sekarang dia sudah patah semangat, biarpun dia menggunakan kedua tangan sekaligus juga tidak berguna.”
Ia tertawa, lalu menyambung, “Di dunia ini hampir semua orang mempunyai dua tangan, tapi berapa orang yang sanggup turun tangan dengan cepat?”
A Fei mendengarkan dengan diam, sinar matanya yang guram akhirnya memancarkan pula cahaya yang tajam.
Mendadak ia berlari maju dan memegang lengan Sun-hoan dengan erat, ucapnya dengan parau, “Ya, kupaham maksudmu.”
“Kupercaya engkau pasti akan paham,” ujar Sun-hoan.
Habis berucap demikian, air mata kedua orang sama bercucuran. Bilamana ada orang ketiga di situ pasti juga menangis terharu.
Cuma sayang, Liong Siau-hun ayah beranak bukan manusia yang berperasaan demikian, diam-diam mereka justru sedang mengeluyur pergi.
Sun-hoan berdiri membelakangi mereka seperti sama sekali tidak mengetahui perbuatan mereka. A Fei juga seperti cuma memandang sekejap dan tidak berucap apa pun.
Setelah kedua ayah dan anak itu mengeluyur ke luar pintu baru A Fei menghela napas dan berkata, “Aku pun tahu engkau tetap akan melepaskan mereka pergi.”
Sun-hoan tertawa, katanya, “Dia pernah menolong jiwaku.”
“Dia cuma menolongmu satu kali, sebaliknya membikin celaka dirimu beberapa kali.”
Pedih sekali senyum Sun-hoan, “Ada sementara urusan sangat sulit teringat, tapi ada juga sementara urusan sukar untuk dilupakan selama hidup.”
A Fei menghela napas, “Hal itu disebabkan ada urusan yang pada hakikatnya tidak mau kau pikirkan.”
Dia mungkin seorang pemuda yang masih hijau, belum berpengalaman akan kehidupan manusia ini, tapi pandangannya terhadap sesuatu segi orang hidup ternyata jauh lebih mendalam dan lebih tajam daripada kebanyakan orang.
Sun-hoan merasa terharu, katanya pula, “Tapi ada sementara urusan meski engkau tidak mau memikirkannya toh justru selalu teringat olehmu. Manusia memang selamanya tidak mampu mengatasi pikiran sendiri, ini pun salah satu di antara sekian macam penderitaan orang hidup.”
“Dan bagaimana dengan dirimu? Apakah engkau cuma teringat kepada kebaikannya karena dia pernah menolongmu dan melupakan urusan lain?”
“Mungkin bukan lupa melainkan tidak terpikir olehku akan dendam padanya, sebab dia juga mempunyai kemasygulannya sendiri,” ujar Sun-hoan dengan tersenyum hambar.
A Fei termenung agak lama, mendadak ia tertawa pula, katanya, “Baru sekarang kutahu memang banyak kejadian orang hidup ini sama sekali tidak adil.”
“Tidak adil?” Sun-hoan menegas.
“Ya, tidak adil,” kata A Fei. “Misalnya, ada sementara orang selamanya sangat bajik, sayang dia berbuat sesuatu yang membuatnya menyesal selama hidup, untuk ini orang lain tidak dapat memaafkan dia. ia sendiri juga tidak mampu memaafkan dirinya sendiri.”
Sun-hoan termenung.
Ia paham arti pepatah “sekali kejeblos akan menyesal selamanya”. A Fei menyambung pula, “Tapi orang semacam Liong Siau-hun, selama hidupnya mungkin cuma berbuat sesuatu kebaikan, hanya karena dia pernah menolongmu, maka selamanya pula engkau merasa dia bukanlah manusia yang terlalu busuk.”
Nada ucapan A Fei jelas mengandung rasa penasaran. Tiba-tiba Sun-hoan paham maksudnya.
Nyata dia merasa tidak adil bagi Lim Sian-ji.
A Fei tetap menganggap selama hidup Lim Sian-ji hanya berbuat sekali kesalahan dan Sun-hoan dapat memaafkan dia.
“Cinta” memang ajaib, terkadang sangat manis, terkadang juga sangat pahit, malahan sering pula sangat menakutkan. Dia dapat membuat buta.
Ketika Liong Siau-hun dan anaknya mengeluyur ke luar, hati mereka bukan saja sangat senang, juga sangat puas.
Dengan tertawa Siau-hun berkata kepada anaknya, “Harus kau ingat, kelemahan orang lain adalah kesempatan baik bagi kita. Orang yang mampu menggunakan setiap kesempatan, selama hidupnya pasti takkan gagal.”
“Kelemahan Li Sun-hoan kini sudah kuketahui seluruhnya,” ujar Siau-in.
“Sebab itulah cepat atau lambat dia akan mati di tangan kita,” tukas Liong Siau-hun. Pada saat itulah mendadak terdengar orang bergelak tertawa. Suara tertawa berkumandang dari emper rumah seberang sana.
Ternyata ada seorang menongkrong di emper rumah dan asyik menggerogoti sepotong paha ayam, ternyata Oh Put-kui alias Oh si gila adanya.
Dia lagi melahap paha ayamnya tanpa menghiraukan kedua ayah beranak ini, seperti paha ayamnya jauh lebih menarik daripada kedua orang ini.
Terdengar dia menjengek, “Hm, kalian tidak perlu kabur secepat ini, Li Sun-hoan pasti takkan mengejar, kalau tidak, mustahil kalian mampu lolos ke luar rumah ini.”
Muka Liong Siau-hun tampak pucat hijau, ia tahu kekuatan Li Sun-hoan, tapi Oh Put-kui juga tidak boleh direcoki.
Mendadak Liong Siau-hun tertawa, katanya sambil menghormat, “Beberapa hari ini engkau telah banyak mengeluarkan biaya untuk meladeni saudaraku itu, sungguh aku harus berterima kasih.”
“Ah, tidak apa, makan Li Sun-hoan tidak banyak, setiap hari hanya sepotong paha ayam dan dua-tiga biji bakpao pun sudah cukup,” ujar si Oh gila dengan adem ayem. “Penjaga pintumu itu juga seorang dungu, setiap kali kututuk hiat-to tidurnya disangkanya dia benar-benar tidur pulas.”
Tidak kepalang gemas Liong Siau-hun, sungguh ia ingin membikin si penjaga pintu tidur untuk selamanya dan tidak perlu mendusin lagi.
Terdengar Oh Put-kui berkata pula, “Engkau pernah menolongku, aku juga telah balas membantumu. Kini utang piutang kita sudah lunas. Terhadap orang semacam dirimu sebenarnya kumalas bicara.”
Siau-hun hanya mendengarkan saja dengan tertawa.
“Tapi ada sesuatu rasanya harus kukatakan padamu, perkataan terakhir.”
“Kusiap mendengarkan,” kata Siau-hun.
“Biarpun engkau ini manusia busuk, Siangkoan Kim-hong terlebih busuk, jika benar engkau hendak mengangkat saudara dengan dia, akan lebih baik bila kau gantung diri saja.”
Habis bicara ia terus melompat ke balik wuwungan rumah sana, hanya sekejap saja lantas menghilang. Liong Siau-hun menggeleng dengan tersenyum, gumamnya, “Tak tersangka soal persaudaraanku dengan Siangkoan Kim-hong telah tersiar secepat ini.”
Saat itu A Fei dan Li Sun-hoan sedang berjalan menyusur kaki dinding. Keduanya tidak ada yang bersuara.
Mereka tahu diam akan terasa lebih akrab dan lebih berharga daripada banyak bicara.
Hari sudah magrib. Di balik dinding tinggi sana ada suara seruling. Suara musik sering membuat orang terkenang pada peristiwa lalu, juga mudah menimbulkan rasa rindu.
Tiba-tiba A Fei berkata, “Aku harus pulang sekarang.”
“Dia sedang menunggumu?” tanya Sun-hoan.
“Ehm,” A Fei mengangguk.
Sun-hoan berpikir sejenak, akhirnya berkata pula, “Kau yakin dia sedang menunggumu?”
Air muka A Fei berubah pucat pula, ucapnya kemudian, “Sekali ini dia yang minta kutolong dirimu.”
Sun-hoan tidak dapat bersuara lagi. Biasanya ia cukup paham akan pribadi Lim Sian-ji, tapi sekali ini sukar baginya untuk menerka maksudnya.
“Selama hidupku ini hanya ada dua orang yang paling karib denganku, kuharap… kuharap kalian juga… juga dapat berkawan.”
Kalimat terakhir ini terputus-putus beberapa bagian baru dapat diucapkan A Fei, suaranya terasa getir juga, jelas hatinya juga sangat pedih.
Sun-hoan memandangi sorot matanya yang pedih itu, timbul juga rasa kasihan dan terharu.
Hanya orang yang pernah jatuh cinta dapat memahami betapa menakutkan kekuatan cinta.
Suara seruling tadi semakin jauh, tapi kedengarannya bertambah memilukan.
Tiba-tiba Sun-hoan berkata, “Aku juga ingin bertemu dengan dia.”
A Fei diam saja.
Sun-hoan tertawa, “Jika tidak leluasa, harap saja sampaikan terima kasihku kepadanya.”
Akhirnya A Fei buka mulut juga, katanya, “Aku cuma… cuma berharap engkau tidak mencelakai dia.”
Mestinya A Fei takkan bicara demikian, sebab ia tahu Li Sun-hoan tidak pernah membikin susah siapa pun. Li Sun-hoan hanya membikin susah dirinya sendiri.
Demi Lim Sian-ji saja A Fei sampai bicara demikian.
Ketika mereka memandang ke depan, tanpa terasa mereka telah berada lagi di jalan raya yang ramai itu.
Jalan ini lebih ramai pada waktu malam daripada siang, di depan setiap penjaja terpasang lampu berkerudung yang terang, setiap penjual sama berteriak-teriak membual tentang barang dagangannya.
Mendadak Sun-hoan berhenti melangkah, terbayang olehnya wajah seorang nona cilik berbaju merah dengan mata yang besar dan dekik pada pipinya bila tertawa.
Segera terlihat olehnya si penjual pangsit di depan sana.
“Apakah Ling-ling masih menunggu di sana?”
Sun-hoan merasa malu, nyata dia telah sama sekali melupakan hal ini.
A Fei juga berhenti melangkah, sorot matanya seperti juga bercahaya. Serupa sorot mata Ling-ling pada waktu pertama kali datang ke sini. Rupanya A Fei juga tidak pernah melihat keramaian tempat ini.
Sun-hoan tertawa. Senang hatinya melihat teman sendiri masih bersifat kekanak-kanakan.
“Sudah lama sekali kita tidak minum bersama,” kata A Fei tiba-tiba.
“Kau ingin minum?” Sun-hoan tertawa.
“Entah mengapa, hanya bila berada bersamamu barulah kuingin minum arak,” ujar A Fei dengan tersenyum.
Melihat temannya tersenyum, hati Sun-hoan tambah gembira, “Baiklah, mari kita minum saja ke warung pangsit mi sana.”
“Bagus, aku memang tidak mampu mentraktir ke rumah makan yang mahal,” kata A Fei.
Di dunia ini memang banyak urusan aneh dan lucu. Misalnya, semakin jelek wajah seorang perempuan semakin suka beraksi. Semakin miskin seorang semakin suka menjamu makan tetamu.
Rumah makan pangsit mi itu tidak terlalu baik, mungkin karena sebagian besar pembeli telah diserobot oleh penjaja di tepi jalan. Meski sekarang adalah waktunya bersantap malam, tapi hanya tiga-empat meja saja yang terisi tamu.
Di meja pojok sana berduduk seorang berbaju putih. Begitu masuk segera Li Sun-hoan dapat melihatnya.
Orang pertama yang dilihat A Fei juga orang berbaju putih ini. Siapa pun kalau masuk ke rumah makan ini, pandangannya pasti akan tertarik oleh orang ini.
Meski berduduk di dalam warung makan yang kecil dan kurang resik, namun tubuh orang ini tetap putih bersih, sedikit pun tidak merasa terganggu.
Ujung mata orang ini sudah ada kerutan, tapi siapa pun takkan bilang dia sudah tua. Bajunya sangat sederhana, tapi mentereng juga.
Semua ini bukan hal yang menimbulkan daya tariknya, yang menarik adalah sikapnya. Semacam keangkuhan yang sukar dilukiskan.
Beberapa meja di sebelahnya sama kosong sebab siapa pun akan merasa rendah diri bilamana duduk berdekatan dengan dia. Dengan kehadirannya, suara tamu lain menjadi lirih juga.
Orang ini tak-lain-tak-bukan adalah orang yang mematahkan pikulan bambu dengan timpukan sepotong uang perak kecil itu, juga orang yang telah pamer tenaga jarinya yang tajam serupa gunting itu.
Entah mengapa dia juga berada di sini? Apakah juga sedang menunggu orang?
Mestinya dia asyik angkat cawan dan minum arak, begitu Sun-hoan masuk ke situ, seketika dia berhenti minum, tanpa berkedip ia pandang Li Sun-hoan.
Di depannya berduduk lagi seorang, yaitu seorang nona cilik berbaju merah dan berkucir.
Nona itu ikut menoleh mengikuti pandangan si baju putih dan segera dilihatnya kedatangan Li Sun-hoan, kontan ia berjingkrak kegirangan dan berlari menyongsong Li Sun-hoan, dipegangnya tangan Sun-hoan erat-erat sambil berseru dengan tertawa, “Kutahu engkau pasti akan datang, kutahu engkau pasti takkan melupakan diriku.”
Ling-ling ternyata benar masih menunggu di sini.
Sun-hoan menjadi terharu juga, ia pun balas menggenggam tangan si nona, katanya, “Sejak tadi kau tunggu di sini?”
Ling-ling mengangguk, matanya tampak merah, ucapnya sambil menggigit bibir, “Mengapa engkau datang terlambat? Sungguh cemas kutunggumu.”
“Apakah benar kau tunggu dia?” tiba-tiba A Fei bertanya.
Baru sekarang Ling-ling melihat A Fei, sikapnya segera berubah menjadi agak aneh. Dengan sendirinya ia kenal A Fei, sebaliknya A Fei tidak kenal dia.
Tentu saja A Fei tidak pernah berkunjung ke vila itu.
Ling-ling berkedip-kedip, katanya kemudian, “Memangnya apa kerjaku di sini jika bukan menunggu dia?”
Dengan dingin A Fei berkata pula, “Kalau tidak menunggu tentu banyak urusan yang dapat dikerjakan. Jika menunggu orang, seharusnya mata menatap ke arah pintu, siapa pun bila sedang menunggu kedatangan seorang tidak mungkin berduduk membelakangi pintu.”
Sama sekali tak terpikir oleh Li Sun-hoan bahwa A Fei dapat bicara demikian.
Biasanya A Fei tidak suka menyinggung perasaan orang, sekarang mendadak sikapnya berubah ketus, bicaranya berubah tajam. Sebab ia tidak tahan melihat orang lain menipu dan berdusta kepada kawannya.
Diam-diam Sun-hoan merasa gegetun.
Di sini pandangan A Fei ternyata sangat tajam, bahkan jauh berbeda daripada orang lain, terhadap kebanyakan urusan dia dapat menilai dengan tepat dan memandang dengan terlebih jelas daripada siapa pun.
Anehnya mengapa di depan Lim Sian-ji dia bisa berubah menjadi buta?
Mata Ling-ling berubah merah dan basah lagi, ucapnya sedih, “Bilamana kau tunggu kedatangan seorang selama sepuluh hari di suatu tempat yang sama, tentu engkau akan tahu mengapa kutunggu dengan duduk membelakangi pintu.”
Perlahan ia mengusap air mata, lalu menyambung dengan sedih, “Pada waktu permulaan, setiap orang yang masuk selalu kuperhatikan, hatiku berdetak, sebab mengira si dia datang. Kemudian baru kusadari, apabila orang yang kau tunggu tidak datang, biarpun matamu memandang ke pintu juga tidak ada gunanya. Bila kau pandang ke arah pintu, hal ini cuma akan menambah gelisahmu, bahkan bisa membuatmu gila.”
A Fei tidak bicara lagi, ia merasa sudah terlalu banyak yang diucapkannya.
Kepala Ling-ling tertunduk lebih rendah, ucapnya pula, “Kalau… kalau saja aku tidak ditemani Lu… Lu-toako ini, mungkin aku pun sudah gila menunggumu.”
Waktu Sun-hoan memandang ke sana, seketika sinar mata kedua orang kebentrok.
Dengan tersenyum Sun-hoan mendekat ke sana dan berucap, “Terima kasih….”
Mendadak si baju putih memotong dengan tak acuh, “Tidak perlu engkau berterima kasih baginya, sebabnya aku berada di sini bukan untuk menemani dia melainkan menunggu kedatanganmu.”
“Kau pun menunggu diriku?” Sun-hoan menegas.
“Ya, menunggumu,” kata si baju putih. Ia tertawa angkuh, lalu menyambung, “Di dunia ini hanya sejumlah kecil saja orang yang berharga kutunggu, dan Li-tamhoa adalah satu di antaranya.”
Belum lagi Sun-hoan memperlihatkan rasa herannya segera Ling-ling mendahului bicara, “Kan tidak kukatakan padamu siapa yang kutunggu, cara bagaimana kau kenal dia?”
Dengan hambar si baju putih berkata, “Selama masih berkelana di dunia Kangouw dan bila engkau ingin hidup lebih lama, maka ada beberapa orang perlu kau kenali, seorang di antaranya ialah Li-tamhoa.”
“Dan siapa lagi beberapa orang lainnya?” tanya A Fei tiba-tiba.
Si baju putih menatapnya tajam, jawabnya, “Yang lain tidak perlu kukatakan, paling sedikit masih ada diriku dan dirimu.”
A Fei memandang tangan sendiri, mendadak sorot matanya menampilkan semacam perasaan rawan dan pedih, perlahan ia membalik tubuh dan berduduk di meja sebelah, lalu berseru minta dibawakan arak.
Cepat pelayan mendekat dan bertanya, “Tuan tamu ingin makan apa?”
“Arak, hanya arak saja!” jawab A Fei.
Kebanyakan peminum tentu tahu bilamana ingin cepat mabuk, maka cara terbaik adalah minum arak melulu tanpa selingan lain. Cuma cara ini jarang digunakan orang meski tahu, sebab seorang kalau tidak lagi tercekam kesedihan tentu berharap dapat mabuk dengan lambat.
Sejak tadi si baju putih selalu memerhatikan A Fei dengan cermat, sorot matanya yang tajam mulai mengendur, bahkan menampilkan semacam perasaan kecewa. Tapi ketika ia berpaling ke arah Li Sun-hoan, teleng matanya serentak mengkeret kecil lagi.
Sun-hoan juga lagi memandang padanya, katanya, “Nama Anda yang mulia….”
“Lu Hong-sian,” si baju putih mendahului menjawab.
Nyata inilah nama yang cukup menggetarkan, nama yang gemilang.
Namun Sun-hoan tidak terkejut, ia cuma tersenyum saja, katanya, “Ternyata benar Si Tombak Sakti Lu-tayhiap.”
“Tombak Sakti sudah mati sepuluh tahun yang lalu,” ucap Lu Hong-sian dengan dingin.
Sekali ini baru dirasakan Li Sun-hoan agak di luar dugaan. Tapi ia tidak bertanya, sebab ia tahu keterangan Lu Hong-sian ini pasti masih bersambung.
Benar juga, segera Lu Hong-sian melanjutkan, “Tombak Sakti sudah mati, tapi Lu Hong-sian belum lagi mati.”
Sun-hoan diam saja seperti lagi menyelami makna ucapan ini. Lu Hong-sian adalah seorang angkuh.
Menurut daftar senjata susunan Pek-hiau-sing, tombaknya mendapat nomor urut kelima, bagi orang lain nomor ini pasti dirasakan suatu kehormatan besar, tapi bagi orang semacam Lu Hong-sian justru dianggapnya suatu hinaan besar.
Betapa pun ia tidak sudi berada di bawah orang lain, tapi ia juga tahu penilaian Pek-hiau-sing pasti tidak keliru.
Sun-hoan pikir tentu dia sudah merusak tombak perak sendiri dan telah meyakinkan sejenis kungfu lain yang lebih hebat.
Maka ia mengangguk perlahan dan berkata, “Ya, betul, seharusnya kuingat Si Tombak Sakti sudah lama mati.”
“Lu Hong-sian juga sudah mati sepuluh tahun dan baru sekarang hidup kembali,” ucap Lu Hong-sian pula sambil menatap Sun-hoan dengan tajam.
Gemerdep sinar mata Li Sun-hoan, “Urusan apa yang membuat Lu-tayhiap hidup kembali?”
Perlahan Lu Hong-sian mengangkat sebelah tangannya, tangan kanan.
Ia taruh tangan ini lurus di atas meja, lalu berucap sekata demi sekata, “Tangan inilah yang membuatku hidup kembali!”
Bagi pandangan orang lain, tangan ini tidaklah terlalu istimewa.
Jarinya sangat panjang, kukunya terpotong rapi, kulit badannya juga halus licin. Semua ini sangat cocok dengan pribadi Lu Hong-sian.
Tapi bila dipandang dengan cermat barulah akan menemukan di mana letak keistimewaan tangannya itu.
Ternyata warna ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah berbeda daripada warna bagian lain.
Kulit ketiga jari ini juga sangat halus dan putih, tapi membawa semacam cahaya yang khas, tidak menyerupai bentuk ruas tulang dengan darah dan daging, tapi lebih mirip terbuat dari semacam logam yang aneh. Namun ketiga jari ini jelas-jelas tumbuh di atas tangannya.
Sungguh aneh, sebuah tangan yang terdiri dari darah dan daging mengapa bisa tumbuh tiga buah jari buatan logam?
Lu Hong-sian memandang tangan sendiri sekian lama, mendadak ia menghela napas panjang, katanya, “Sungguh sialan, Pek-hiau-sing sudah mampus.”
“Kalau tidak mati ada apa?” tanya Sun-hoan.
“Jika dia belum mati tentu ingin kutanya dia apakah tangan boleh dianggap sebagai senjata atau tidak?”
Sun-hoan tertawa, “Baru hari ini kudengar orang mengucapkan kata-kata yang lucu.”
“Oo, kata apa?” tanya Hong-sian.
“Dia bilang hanya alat yang dapat membunuh orang baru dapat dianggap sebagai senjata,” jawab Sun-hoan. “Tangan sebenarnya bukan senjata, tapi tangan yang dapat membunuh orang bukan saja senjata, bahkan juga senjata tajam.”
Lu Hong-sian termenung seperti tidak bergerak sesuatu. Tapi ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah mendadak ambles ke dalam meja.
Tidak menerbitkan sesuatu suara, bahkan arak di dalam cawan yang penuh pun tidak tercecer setitik pun. Begitu gampang jarinya ambles ke dalam meja serupa pisau memotong tahu saja.
“Bilamana tangan ini dapat dianggap sebagai senjata, entah mendapatkan nomor urut keberapa dalam daftar senjata?” ucap Lu Hong-sian.
“Sekarang masih sulit untuk dinilai,” ujar Sun-hoan tak acuh.
“Sebab apa?” tanya Hong-sian. “Sebab yang akan dihadapi senjata adalah manusia dan bukan meja,” kata Sun-hoan.
Tiba-tiba Hong-sian tertawa, tertawa yang sangat angkuh, katanya, “Dalam pandanganku, orang di dunia ini tidak banyak berbeda daripada meja ini.”
“Oo?!” Sun-hoan bersuara ragu.
“Sudah barang tentu ada beberapa orang harus dikecualikan,” sambung Hong-sian perlahan.
“Berapa orang?” tanya Sun-hoan. “Semula kukira ada enam, sekarang baru tahu cuma ada empat orang saja,” dia sengaja melirik A Fei sekejap, lalu menyambung, “Sebab Kwe Ko-yang sudah mati, masih ada lagi satu, meski masih hidup, tapi tiada ubahnya seperti sudah mati.”
A Fei berdiri membelakangi Lu Hong-sian sehingga dia tidak tahu lirikannya dari air mukanya. Tapi pada saat itu juga air muka A Fei berubah hijau pula, nyata ia pun dapat menangkap arti ucapan Lu Hong-sian itu.
Tiba-tiba Sun-hoan tertawa dan berkata, “Orang itu juga dapat hidup kembali, bahkan kuyakin tidak perlu sampai sepuluh tahun.”
“Ah, kukira belum tentu,” ujar Hong-sian.
“Jika Anda dapat hidup kembali, mengapa orang lain tidak?”
“Kan tidak sama.”
“Apa yang tidak sama?”
“Sebab kematianku kan tidak mati di tangan orang perempuan, juga hatiku tidak pernah mati.”
“Krak”, cawan arak yang dipegang A Fei terpencet remuk. Namun dia tetap duduk diam saja tanpa bergerak.
Lu Hong-sian tidak memandangnya, dia tetap menatap Li Sun-hoan, katanya, “Kedatanganku kali ini justru ingin mencari keempat orang ini untuk membuktikan tanganku apakah dapat dianggap sebagai senjata atau tidak, makanya kutunggumu di sini.”
Lama juga Sun-hoan termenung, katanya kemudian, “Engkau berkeras akan membuktikannya?”
“Ya, harus,” jawab Hong-sian.
“Akan kau buktikan untuk siapa?”
“Untuk diriku sendiri.”
Mendadak Sun-hoan tertawa pula, katanya, “Betul juga, setiap orang dapat ditipu, hanya dirinya sendiri selamanya takkan tertipu….”
Serentak Lu Hong-sian berbangkit, ucapnya tegas, “Akan kutunggumu di luar!”
Entah sejak kapan tetamu warung makan ini sudah pergi seluruhnya. Ling-ling tampak pucat ketakutan.
Perlahan Sun-hoan berdiri.
Tiba-tiba Ling-ling memegang lengan bajunya dan berkata khawatir, “Engkau akan… akan keluar?”
Sun-hoan tersenyum kecut, katanya, “Ada sementara urusan, selama engkau masih hidup, betapa pun kau hindari tetap tidak bisa.”
Pandangannya beralih ke arah A Fei. Namun A Fei tidak menoleh.
Sementara itu Lu Hong-sian sudah hampir melangkah keluar pintu.
“Nanti dulu!” sekonyong-konyong A Fei berseru.
Serentak Hong-sian berhenti, tapi juga tidak berpaling, ia cuma mendengus, “Kau pun ingin bicara?”
“Betul, aku pun ingin membuktikan sesuatu,” ujar A Fei.
“Kau ingin membuktikan apa?” tanya Hong-sian.
Tangan A Fei tergenggam erat, dia masih menggenggam remukan cawan. Darah tampak merembes dan menitik. Sekata demi sekata ia menjawab, “Aku cuma ingin membuktikan sesungguhnya aku masih hidup atau sudah mati?!”
Serentak Hong-sian berpaling. Dia memandangnya seperti baru pertama kali ini melihat si A Fei.
Kemudian teleng matanya mulai mengkeret kecil lagi, tapi ujung mulutnya menampilkan senyuman mengejek, “Baik, kau pun kutunggu di luar.”
Di dunia Kangouw hampir setiap hari terjadi duel, pertarungan maut. Berbagai macam orang dengan berbagai alasan dan cara yang tidak sama melakukan duel. Tapi tempat berlangsungnya duel hanya terdiri dari beberapa macam saja. Di hutan belukar, di tanah pegunungan, di tempat kuburan…. Bila terjadi duel sampai mati, kebanyakan pasti berlangsung di tempat-tempat tersebut. Tempat-tempat itu sendiri seperti sudah membawa suasana “kematian”.
Malam tambah larut dan berkabut.
Baju Lu Hong-sian putih bersih laksana salju, dia berdiri diam di depan batu nisan, di tengah remang kabut malam dia serupa utusan dari akhirat yang membawakan berita kematian bagi orang di dunia.
Ling-ling setengah menggelendot di samping Li Sun-hoan, seperti rada gemetar. Entah karena kedinginan atau karena takut.
“Engkau menyingkir saja,” kata A Fei tiba-tiba.
“Aku….” Ling-ling tergegap.
“Pergi, lekas!” kata A Fei pula.
Ling-ling menggigit bibir, ia menengadah dan memandang Li Sun-hoan. Sorot mata Li Sun-hoan seperti tertuju ke tempat jauh sana.
Apakah hatinya memang sudah jauh? Atau kabut terlalu tebal?
Ling-ling menunduk, ucapnya dengan lirih, “Apa… apa yang akan kalian bicarakan tidak boleh kudengar?”
“Tidak boleh, siapa pun tidak boleh ikut mendengarkan,” kata A Fei.
Perlahan Sun-hoan menghela napas, ucapnya lembut, “Orang telah menemanimu sekian hari, sedikitnya harus kau temani dia juga.”
Mendadak Ling-ling mengentak kaki dan berteriak, “Pada hakikatnya aku tidak ingin tinggal di sini dan tidak ingin kemari. Orang-orang semacam kalian ini hanya tahu bunuh-membunuh dan tidak tahu urusan lain, sesungguhnya untuk apa kalian saling bunuh, mungkin kalian sendiri pun tidak tahu. Jika hanya cara demikian baru terhitung pahlawan atau kesatria, maka lebih baik segenap kesatria dan pahlawan di dunia ini mati ludes saja.”
Sun-hoan, A Fei dan Lu Hong-sian hanya mendengarkan dengan tenang. Lalu menyaksikan nona cilik itu berlari pergi secepat terbang.
Malahan A Fei tidak memandangnya lagi, sejenak kemudian barulah ia menatap Li Sun-hoan dan berkata, “Selamanya tidak pernah kuminta sesuatu padamu, bukan?”
“Selamanya engkau memang tidak pernah memohon kepada orang lain,” ujar Sun-hoan. “Tapi sekarang justru ada sesuatu ingin kumohon kepadamu,” kata A Fei.
“Silakan bicara,” jawab Sun-hoan.
A Fei menggereget, lalu berkata, “Sekali ini apa pun juga jangan kau rintangiku, harus membiarkan kumaju sendiri. Jika engkau berebut turun tangan denganku, biarlah aku… aku mati saja.”
“Akan… akan tetapi engkau tidak perlu berbuat demikian,” ujar Sun-hoan dengan pedih.
“Tidak, ini harus kulakukan, sebab… sebab ucapan Lu Hong-sian memang tidak salah, bila keadaanku terus berlangsung cara begini kan tidak banyak bedanya daripada mati. Maka tidak boleh kulepaskan kesempatan baik ini.”
“Kesempatan baik?” Sun-hoan menegas.
“Ya, jika aku ingin hidup kembali, bila kuingin hidup baru, inilah kesempatanku yang terakhir.”
“Masa selanjutnya tidak ada kesempatan lagi?”
A Fei menggeleng, “Biarpun selanjutnya masih ada kesempatan, namun bila… bila aku kehilangan keberanian ini selanjutnya tentu takkan ada keberanian lagi.”
Agak lama Sun-hoan termenung, ucapnya kemudian dengan menyesal, “Ya, kutahu maksudmu, cuma….”
“Kutahu gerak tanganku sudah sangat lamban,” sela A Fei. “Sebab selama dua tahun ini aku pun merasakan gerak refleksiku telah banyak lebih lamban, bahkan terasa sudah kaku.”
“Tapi asalkan tekadmu masih ada, segalanya pasti akan pulih kembali,” ujar Sun-hoan dengan suara lembut. “Hanya saja sekarang belum waktunya.”
“Tidak, justru sekaranglah waktunya,” kata A Fei.
“Sekarang? Kenapa?” tanya Sun-hoan.
Perlahan A Fei membuka telapak tangannya, darah sudah berlumuran, remukan cawan masih menancap dalam dagingnya, katanya, “Sebab sekarang tiba-tiba kurasakan penderitaan fisik selain dapat mengurangi kemasygulan dalam hati, bahkan juga dapat membuat orang sadar dan bangkit kembali, juga dapat membuat orang terlebih peka.”
Apa yang diucapkannya memang tidak salah.
Siksa derita dapat merangsang saraf orang membuat reaksi orang terlebih cepat, lebih peka, juga dapat menimbulkan daya gerak seorang yang tersimpan. Umpama seekor kuda, tatkala kau cambuk dia dan membuatnya kesakitan, tentu juga dia akan lari terlebih cepat.
Binatang buas yang terluka sering kali juga lebih menakutkan daripada keadaan biasa.
Sun-hoan termenung sejenak, lalu ia bertanya, “Engkau yakin benar?”
“Engkau sendiri tidak yakin akan kesanggupanku?” A Fei balas bertanya.
Sun-hoan tertawa, ditepuknya pundak A Fei dengan kuat, katanya, “Baik, majulah!”
Tapi A Fei lantas termenung malah, akhirnya ia berkata, “Nona kecil tadi… siapakah dia?”
“Namanya Ling-ling, nasibnya juga pantas dikasihani,” tutur Sun-hoan.
“Aku cuma tahu dia sangat pintar berdusta,” ujar A Fei.
“Oo?!”
“Jika benar dia lagi menunggu dirimu, dengan sendirinya dia akan sangat memerhatikan dirimu.”
“Mungkin….”
“Keadaanmu sekarang jelas kelihatan pernah mengalami banyak siksaan, tapi sama sekali dia tidak bertanya mengapa engkau berubah menjadi begini.”
“Bisa jadi dia belum sempat bertanya,” ujar Sun-hoan tak acuh.
“Seorang anak perempuan jika benar-benar memerhatikan seorang lelaki tentu dia tidak perlu menunggu kesempatan apa segala.”
Kembali Sun-hoan termenung, mendadak ia tertawa, “Memangnya kau takut aku tertipu olehnya?”
“Aku cuma tahu ucapannya tidak benar.”
“Bilamana kau ingin hidup gembira, maka janganlah sekali-kali kau harapkan orang perempuan akan bicara sebenarnya kepadamu,” ujar Sun-hoan dengan tersenyum.
“Masa kau anggap setiap orang perempuan pasti berdusta?” tanya A Fei.
Jelas Sun-hoan tidak mau menjawabnya secara langsung, katanya pula, “Jika engkau seorang cerdik, hendaknya selanjutnya jangan secara terang-terangan kau bongkar kebohongan seorang perempuan, sebab sekalipun sudah kau bongkar kebohongannya toh dia tetap dapat memberi alasan dan tetap tidak mau mengaku telah berdusta.”
Ia tertawa dan menyambung, “Maka, bila engkau berhadapan dengan seorang perempuan pembohong, jalan paling baik adalah sengaja berlagak percaya penuh kepada ucapannya, kalau tidak, engkaulah yang mencari susah sendiri.”
Sampai lama A Fei menatap Sun-hoan.
“Apakah engkau ingin omong apa-apa lagi?” tanya Sun-hoan.
A Fei tertawa, jawabnya, “Umpama ada rasanya juga tidak perlu kukatakan lagi, sebab apa yang ingin kukatakan seluruhnya sudah kau ketahui.”
Memandangi bayangan punggung A Fei, tiba-tiba timbul rasa senang tak terhingga dalam hati Li Sun-hoan.
Anak muda yang keras ternyata tidak jadi ambruk. Bahkan sekali ini dia telah banyak bicara, dan sama sekali tidak menyebut Lim Sian-ji.
Betapa pun cinta tetap tidak dapat mengangkangi seluruh kehidupan seorang lelaki.
Betapa pun A Fei masih tetap seorang lelaki sejati.
Bilamana seorang lelaki merasa hidup sendiri adalah semacam penghinaan, maka dia akan lebih suka tidak bertemu lagi selamanya dengan perempuan yang dicintainya, lebih suka mengembara menjelajah jagat raya ini, lebih suka mati saja. Sebab ia merasa malu untuk bertemu lagi dengan dia.
Akan tetapi dapatkah A Fei mengalahkan Lu Hong-sian?
Apabila sekali ini dia kalah lagi, biarpun Lu Hong-sian tidak membunuhnya, dapatkah dia hidup terus?
Sun-hoan terbatuk-batuk keras lagi, batuk berdarah.
Lu Hong-sian sudah menunggu di sana tanpa bicara. Orang ini benar-benar sangat sabar.
Hanya musuh yang sabar adalah lawan yang menakutkan.
Mendadak A Fei menarik bajunya hingga terlepas, tangannya yang berdarah itu berusap pada tubuhnya sehingga remukan cawan menusuk daging tangannya lagi.
Darah tetap kelihatan merah segar di tengah remang malam berkabut.
Hanya darah saja yang dapat merangsang sifat kebinatangan manusia. Cinta berahi dan dendam kesumat, barang lain mungkin juga bisa, tapi pasti tidak secepat rangsangan darah segar.
A Fei seperti berada kembali di tengah ladang belukar dengan hukum rimbanya: “Bilamana engkau ingin mempertahankan hidup, maka lawanmu harus kau matikan!”
Lu Hong-sian menyaksikan A Fei semakin mendekat, mendadak dirasakan semacam daya tekan yang sukar dilukiskan.
Tiba-tiba dirasakannya yang mendekat ini pada hakikatnya bukanlah manusia melainkan seekor binatang buas. Binatang buas yang terluka.
“Beda antara kawan dan lawan serupa juga beda antara hidup dan mati.”
“Jika ada orang menghendaki kematianmu, maka kau pun harus menghendaki kematiannya. Sama sekali tidak ada pilihan lain di luar keduanya.”
Itulah prinsip hukum rimba, prinsip untuk hidup. “Mengampuni” di tempat-tempat tertentu sama sekali tidak berlaku.
Darah mengalir, terus mengalir. Setiap urat daging di tubuh A Fei mulai gemetar karena menahan derita, tapi juga semakin membuatnya teguh dan kuat. Sorot matanya pun semakin dingin dan kejam.
Betapa pun Lu Hong-sian tidak paham mengapa anak muda ini mendadak bisa berubah. Namun dia sangat memahami ilmu pedang A Fei.
Letak permainan pedang A Fei yang menakutkan bukan pada “kecepatan” dan “keganasannya” melainkan pada “kejituan” dan “kemantapan”nya.
Sekali A Fei turun tangan harus mematikan lawan, untuk ini sedikitnya harus tujuh bagian akan berhasil barulah ia mau turun tangan. Sebab itulah ia perlu menunggu, menunggu setelah lawan memperlihatkan titik lemah menunggu lawan memberi kesempatan padanya.
A Fei dapat menunggu terlebih lama dan sabar daripada kebanyakan orang.
Tapi sekarang Lu Hong-sian seperti bertekad takkan memberi kesempatan padanya.
Tampaknya Lu Hong-sian hanya berdiri dengan santai di tempatnya, seluruh tubuhnya seperti penuh titik luang, pedang A Fei seakan-akan dapat menusuk setiap bagian tubuhnya itu.
Tapi terlalu banyak titik luang berbalik menjadi tidak ada titik luang. Seluruh orangnya seakan-akan berubah menjadi kosong belaka tak terjaga.
Sun-hoan menyaksikan semua itu dari jauh, sorot matanya menunjukkan rasa khawatir.
Lu Hong-sian memang pantas merasa bangga.
Sungguh Sun-hoan tidak menyangka kungfu orang bisa begini tinggi, ia merasa A Fei tidak ada harapan akan dapat mengalahkan Lu Hong-sian, sebab sama sekali tidak punya kesempatan untuk turun tangan.
Malam tambah larut.
Di tanah pekuburan ini tiba-tiba tampak api hijau gemerdep. Api setan!
Angin meniup dari barat, wajah Lu Hong-sian justru menghadap barat. Ketika angin meniup, setitik api setan itu melayang ke depan Lu Hong-sian.
Hong-sian berkedip dengan tenang, tangan kirinya juga bergerak sedikit, seperti mau mengebas titik api setan ini, tapi segera urung.
Di tengah duel maut, setiap gerakan yang tidak perlu ada kemungkinan mendatangkan bahaya yang fatal.
Cuma meski tangannya tidak jadi bergerak, namun otot daging bagian bahu kiri menjadi tegang karena maksud bergerak yang urung itu, hal ini menimbulkan gangguan pada “kekosongan” yang dipertahankan tadi.
Dengan sendirinya hal ini tidak termasuk kesempatan yang bagus, tapi kesempatan yang paling buruk toh lebih baik daripada sama sekali tidak ada kesempatan. Dan asal ada kesempatan, A Fei pasti tidak mau mengesampingkannya.
Serentak pedangnya bergerak.
Gerak pedang ini sangat besar risikonya. Nasib A Fei selanjutnya bergantung pada berhasil atau tidaknya serangan ini.
Apabila serangannya berhasil, sejak kini A Fei akan bangkit kembali dan mencuci bersih hinaan kekalahannya yang dahulu.
Bilamana serangannya gagal, tentu dia akan tambah tenggelam, umpama tetap hidup juga tiada ubahnya seperti apa yang dikatakan Lu Hong-sian, lebih baik mati daripada hidup.
Tapi serangannya apakah akan berhasil?
Sinar pedang berkelebat dan berhenti mendadak. “Trang”, pedang pun patah.
A Fei menyurut mundur, yang terpegang olehnya adalah pedang patah. Batang pedang yang patah terjepit oleh jari Lu Hong-sian, tapi ujung pedang menancap pada pundaknya.
Nyata meski dia berhasil menjepit pedang A Fei, tapi gerak tangannya jelas agak terlambat.
Darah tampak mengucur dari pundaknya.
Serangan A Fei ternyata berhasil. Wajah anak muda ini seperti mendadak memancarkan semacam cahaya aneh, cahaya kemenangan.
Wajah Lu Hong-sian tidak mengunjuk sesuatu perasaan, ia cuma memandang A Fei dengan dingin, ia tidak mencabut ujung pedang yang menancap di pundaknya.
A Fei juga cuma berdiri diam saja dan tiada maksud untuk menyerang lagi. Rasa kesal dan tekanan batinnya seperti terlampias oleh serangan ini.
Yang diharapkannya hanya “kemenangan” dan bukan nyawa orang.
Agaknya Lu Hong-sian masih menunggu, sampai sekian lama mendadak ia berkata, “Bagus, bagus sekali!”
Makna ucapannya ini sangat jelas, dapat tercetus ucapan ini dari mulut orang semacam Lu Hong-sian, sungguh membuat pendengarnya merasa bersemangat dan merasa bangga.
Pada waktu hendak melangkah pergi mendadak ia menambahkan ucapan, “Apa yang dikatakan Li Sun-hoan memang tidak salah, dia juga tidak keliru menilai dirimu.”
Apa artinya ucapan ini? Apa yang pernah dikatakan Li Sun-hoan kepadanya? Bayangan Lu Hong-sian akhirnya menghilang dalam kegelapan malam.
Wajah Li Sun-hoan yang berseri-seri muncul di hadapan A Fei, ia tepuk pundak anak muda itu dan berkata, “Engkau tetap engkau, kan sudah kukatakan hanya setitik pukulan ini pasti tidak dapat meruntuhkan dirimu. Di dunia ini memang tidak ada panglima yang selalu menang, malaikat pun adakalanya kalah, apalagi manusia?”
Dia tertawa cerah, lalu menyambung pula, “Mulai sekarang tambah kuat rasa kepercayaanku kepadamu….” “Kau anggap selanjutnya aku takkan kalah?” mendadak A Fei memotong ucapannya.
“Ilmu silat Lu Hong-sian pasti tidak di bawah siapa pun, jika dia juga tidak mampu mengelakkan pedangmu, di dunia ini mungkin tiada orang lain lagi yang mampu menghindar.”
“Akan tetapi kurasakan kemenangan ini agak… agak dipaksakan,” ujar A Fei.
“Dipaksakan bagaimana?”
“Cara turun tanganku tidak secepat dulu lagi.”
“Siapa bilang?”
“Tidak perlu dibilang orang lain, dapat kurasakan sendiri….” pandangannya masih terhenti pada arah menghilangnya bayangan Lu Hong-sian tadi, lalu sambungnya perlahan, “Kurasakan seharusnya dia dapat mengalahkan diriku, cara turun tangannya pasti tidak lebih lamban daripadaku.”
“Dia memang sangat hebat, bisa jadi lebih tinggi kungfunya daripadamu, tapi engkau dapat menggunakan kesempatan yang paling baik, di sinilah letak kehebatanmu yang tidak dapat dibandingi orang lain, maka engkau menang,” setelah tertawa, lalu Sun-hoan menyambung, “Sebab itulah meski Lu Hong-sian sudah kalah, tapi dia juga tidak penasaran, bilamana orang semacam Lu Hong-sian saja merasa ikhlas dikalahkan olehmu, masakah engkau tetap tidak percaya pada kekuatan sendiri?”
Akhirnya A Fei tertawa.
Bagi seorang yang pernah mengalami pukulan, rasanya tiada yang lebih berharga daripada sokongan moril sahabat.
Sun-hoan tertawa, “Apa pun juga peristiwa ini pantas dirayakan, kau suka merayakannya dengan cara bagaimana?”
“Arak, tentu saja dengan arak,” kata A Fei dengan tertawa.
“Betul, tentu saja arak,” Sun-hoan terbahak. “Perayaan yang tanpa arak adalah serupa sayur tanpa garam….”
A Fei sudah tidur.
Arak memang sangat ajaib, terkadang dapat membangkitkan gairah orang, terkadang juga dapat menidurkan orang.
Selama beberapa hari ini hampir tidak pernah A Fei tidur. Sekalipun tidur juga mendusin dengan sangat cepat, sungguh sukar dimengertinya mengapa di rumah sendiri begitu dia berbaring segera akan tertidur nyenyak seperti orang mati.
Setelah A Fei tidur, Sun-hoan lantas meninggalkan hotel ini.
Di pengkolan jalan sana masih ada sebuah rumah penginapan lain, mendadak Sun-hoan melompat masuk ke halaman belakang hotel ini.
Di tengah malam buta untuk apa dia mendatangi hotel ini?
Sudah dekat subuh, di sebuah kamar halaman belakang masih ada cahaya lampu. Perlahan Sun-hoan mengetuk pintu.
Segera di dalam ada jawaban orang, “Apakah Li-tamhoa?”
Sun-hoan mengiakan.
Pintu terbuka. Yang membuka pintu ternyata Lu Hong-sian.
Mengapa dia berada di sini? Dari mana Sun-hoan mengetahui tempat tinggalnya dan untuk apa mencarinya? Apakah di antara mereka ada perjanjian rahasia?
Ujung mulut Lu Hong-sian menampilkan semacam senyuman aneh, ucapnya ketus, “Li-tamhoa memang seorang yang pegang janji dan datang tepat waktunya.”
Tiba-tiba suara seorang anak perempuan menyambung, “Kan sudah kukatakan, asalkan dia sudah berjanji, tentu akan ditepati.”
Yang berdiri di belakang Lu Hong-sian ternyata Ling-ling.
Mengapa Ling-ling berada bersama Lu Hong-sian di hotel ini? Sesungguhnya Li Sun-hoan berjanji urusan apa dengan mereka?
Cahaya lampu remang-remang, wajah Sun-hoan kelihatan pucat, ia masuk ke dalam kamar dengan diam, mendadak ia menjura kepada Lu Hong-sian dan berkata, “Terima kasih.”
“Tidak perlu kau terima kasih padaku, sebab pada hakikatnya ini kan suatu bisnis, siapa pun tidak perlu berterima kasih kepada yang lain,” ujar Lu Hong-sian dengan tak acuh.
Sun-hoan tersenyum hambar, “Bisnis semacam ini tidak dapat dilaksanakan setiap orang, dengan sendirinya aku harus berterima kasih padamu.”
“Ya, bisnis ini memang sangat istimewa, sebelum Ling-ling menjelaskan duduknya perkara aku memang terkejut,” ujar Hong-sian.
“Sebab itulah kuminta dia memberi keterangan sejelasnya,” kata Sun-hoan.
“Sebenarnya tidak perlu penjelasan juga dapat kupahami,” kata Hong-sian. “Kau minta aku sengaja mengalah pada A Fei hanya karena engkau menghendaki dia akan bangkit kembali semangatnya dan jangan tenggelam lagi.”
“Memang begitulah maksudku, sebab dia memang berharga bagiku untuk bertindak demikian.” “Hal ini disebabkan engkau adalah sahabatnya, tapi aku bukan, semula aku tidak habis mengerti ada orang dapat mengajukan permintaan janggal ini kepadaku.”
“Tapi akhirnya engkau menyanggupi juga.”
Hong-sian menatapnya dengan tajam, “Apakah sudah kau perhitungkan dengan tepat aku pasti akan menyanggupi permintaanmu?”
Sun-hoan tertawa, “Sedikit banyak aku yakin akan berhasil, sebab kulihat engkau bukanlah orang biasa, hanya orang yang luar biasa sebagai dirimu saja mau menerima urusan yang luar biasa ini.”
Lu Hong-sian masih menatapnya, namun sorot matanya sudah berubah lembut, ucapnya perlahan, “Apakah juga sudah kau perhitungkan dia pasti takkan membunuhku?”
“Kutahu bilamana dia menang sedikit pasti takkan turun tangan lagi,” kata Sun-hoan.
Mendadak Hong-sian menghela napas, “Engkau ternyata tidak salah menilai dia, juga tidak keliru menilai diriku.”
Ia mendengus, lalu menyambung lagi, “Aku cuma berjanji padamu akan mengalah satu jurus kepadanya, artinya, bilamana dia turun tangan lagi, maka jiwanya pasti akan melayang.”
“Kau yakin sanggup?” gemerdep sinar mata Li Sun-hoan.
“Engkau tidak percaya?” tanya Hong-sian bengis.
Sinar mata kedua orang saling tatap, sampai lama barulah Sun-hoan tertawa pula dan berkata, “Sekarang mungkin betul, tapi kelak belum tentu bisa.”
“Sebab itulah seharusnya tidak kuterima permintaanmu. Selama dia masih hidup akan merupakan semacam ancaman bagiku.”
“Tapi ada sementara orang justru suka terancam orang, sebab ancaman juga semacam perangsang, ada perangsang baru ada kemajuan. Seorang kalau benar sudah mencapai puncaknya tanpa ada orang di sekelilingnya, kan terasa hampa dan mengesalkan.”
Lu Hong-sian termenung sekian lama, katanya kemudian, “Bisa jadi betul, tapi kuterima permintaanmu bukanlah lantaran alasan ini.”
Sun-hoan mengangguk, “Tentu saja bukan.”
“Kuterima permintaanmu karena syarat imbalannya cukup menarik,” kata Hong-sian pula.
“Tanpa syarat yang baik mana dapat bicara bisnis dengan orang?”
“Kau bilang asalkan kuterima permintaanmu, engkau juga akan menerima sesuatu permintaanku.”
“Betul,” jawab Sun-hoan.
“Tapi tidak kau tegaskan suatu urusan apa.”
“Ya.”
“Maka dapat kusuruh kau berbuat apa pun.”
“Betul.”
Sekonyong-konyong sinar mata Lu Hong-sian berubah dingin, ucapnya sekata demi sekata, “Dan bila kuminta kau mati, bagaimana?”
Sun-hoan tetap tenang saja, ucapnya tak acuh, “Dengan jiwaku sebagai ganti jiwanya, kan adil juga.”
Ia bicara dengan hambar, bahkan tetap bersenyum serupa jiwa sendiri bukan miliknya lagi, maka tidak perlu dipikirkannya.
Ling-ling yang tidak tahan, tubuhnya gemetar, mendadak ia memburu ke depan Lu Hong-sian sambil berseru dengan parau, “Tidak, kutahu engkau takkan berbuat demikian, kutahu engkau orang baik… betul tidak?”
Mulut Lu Hong-sian terkancing rapat tanpa memandangnya sekejap pun. Ia hanya menatap Sun-hoan dengan dingin, sikapnya kejam dan angkuh.
Orang semacam ini memang tidak pernah memikirkan mati-hidup orang lain.
Ling-ling memandangnya dengan muka pucat, gemetarnya tambah hebat.
Ia sangat memahami pribadi Li Sun-hoan, ia tahu bilamana mulut Lu Hong-sian mengucapkan sepatah kata saja, segera juga Li Sun-hoan akan mati sesuai kehendaknya.
Jika dia dapat hidup bagi orang lain dengan sendirinya juga dapat mati bagi orang lain.
Mati terkadang jauh lebih gampang daripada hidup.
Ia pun sangat memahami pribadi Lu Hong-sian. Jiwa orang lain baginya tidak berharga sepeser pun.
Mendadak Ling-ling jatuh pingsan, sebab ia tidak mau, juga tidak berani mendengar apa yang akan terucap oleh mulut Lu Hong-sian itu.
Pingsan sebenarnya juga semacam karunia Tuhan bagi manusia. Bilamana manusia menghadapi sesuatu yang tidak dapat dilakukannya, tidak dapat dibicarakan atau tidak mau mendengarkannya, sering menggunakan cara “pingsan” ini untuk menghindarnya.
Li Sun-hoan sendiri tidak pernah menghindar. Dia tetap menghadapi Lu Hong-sian, menghadapi kematian.
Entah selang berapa lama, tiba-tiba Lu Hong-sian menghela napas panjang, katanya, “Tak tersangka di dunia ini ada orang semacam dirimu, A Fei dapat bersahabat denganmu, sungguh sangat beruntung.”
Sun-hoan tertawa, “Jika engkau lebih banyak memahami dia, tentu kau tahu akulah yang beruntung mendapatkan sahabat seperti dia.”
Sungguh persahabatan yang luhur, betapa besar rasa persahabatan mereka.
Sinar mata Lu Hong-sian yang dingin itu mendadak menampilkan semacam rasa kesepian. Bilamana seorang merasakan kesepian ini menandakan dia haus akan persahabatan.
Cuma sayang, persahabatan yang luhur ini tidak dapat diperoleh setiap orang.
Dengan dingin Hong-sian berkata lagi, “Jadi maksudmu hendak mengatakan, jika engkau dapat mati baginya, dia juga dapat mati bagimu, begitu?”
“Ya,” jawab Sun-hoan.
“Tapi juga telah kau perhitungkan aku takkan membunuhmu, sedikitnya takkan membunuhmu dalam keadaan demikian, begitu?”
Sun-hoan diam saja. Diam biasanya mengandung dua arti: Membenarkan atau menyangkal.
Hong-sian melototinya, teleng matanya mulai membesar, mendadak ia menghela napas dan berkata, “Ya, aku memang takkan membunuhmu… Apakah kau tahu apa sebabnya?”
Sebelum Sun-hoan menjawab Lu Hong-sian sudah menyambung lagi, “Sebab aku ingin engkau selalu utang padaku, selamanya merasa utang budi padaku….”
Ia tertawa, lalu melanjutkan, “Sebab kalau aku mau membunuhmu, selanjutnya masih ada kesempatan. Sebaliknya kesempatan memberi utang padamu mungkin selamanya takkan kudapatkan lagi.”
Apakah maksudnya dengan hal ini supaya bisa mendapatkan persahabatan dengan Li Sun-hoan?
Sampai lama Sun-hoan termenung, mendadak ia pun tertawa, “Tapi engkau masih ada kesempatan lagi.”
“Oo?!” melengak juga Hong-sian.
“Aku ingin minta sesuatu lagi padamu,” kata Sun-hoan.
Lu Hong-sian terbelalak serupa belum pernah melihat orang semacam Li Sun-hoan, sampai sekian lama baru mendengus, “Bisnis pertama saja belum kau bayar harganya, sekarang kau minta kulakukan pekerjaan lagi. Huh, terhitung bisnis macam apa ini?”
“Ini bukan bisnis, tapi kumohon padamu,” kata Sun-hoan.
Air muka Hong-sian berubah masam, tapi matanya bersinar, katanya, “Jika bukan bisnis, kenapa harus kuterima?”
Sun-hoan tersenyum, sinar matanya bening, cerah dan jujur. Ia tatap Lu Hong-sian, lalu berkata pula, “Sebab inilah permohonanku padamu.”
Jawaban yang aneh, sama sekali berbeda daripada apa yang biasa diucapkan Li Sun-hoan.
Tapi Hong-sian tidak marah, sebaliknya timbul semacam rasa hangat dalam hatinya, sebab dari teleng mata Li Sun-hoan dapat dilihatnya secercah cahaya persahabatan. Cahaya yang abadi, selama sifat manusia tidak punah, selama itu pula tetap ada persahabatan.
Lu Hong-sian bergumam, “Orang lain sama bilang Li Sun-hoan tidak pernah memohon kepada orang, sekarang engkau ternyata mau memohon padaku, tampaknya suatu kehormatan besar bagiku.”
“Aku kan sudah ada utang padamu, apa alangannya jika utangku bertambah lagi sedikit,” ujar Sun-hoan tertawa.
Hong-sian juga tertawa, sekali ini baru benar-benar tertawa. Katanya, “Ada orang bilang belajar cara dagang adalah supaya paham cara bagaimana berutang. Caramu berutang ini tampaknya dapat dinyatakan lulus untuk menjadi pedagang.”
“Engkau terima permohonanku?” tanya Sun-hoan.
Hong-sian menghela napas, “Sedikitnya saat ini belum terpikir olehku untuk menolak, maka lekas kau katakan saja mumpung ada kesempatan.”
Sun-hoan berbatuk beberapa kali, sikapnya berubah prihatin lagi, lalu berucap, “Jika engkau bertemu dengan A Fei pada dua tahun yang lalu, biarpun tidak ada permintaanku mungkin engkau tetap akan dikalahkan olehnya.”
Lu Hong-sian diam saja, entah mengakui secara diam atau berarti menyangkalnya.
“Bila dua tahun yang lalu engkau bertemu dengan dia, tentu akan kau rasakan dia pada waktu itu sama sekali bukan lagi dia yang sekarang.”
“Hanya dalam waktu dua tahun mengapa dia bisa berubah sebanyak ini?” “Soalnya karena pengaruh seorang,” ujar Sun-hoan dengan menyesal.
“Seorang perempuan?” tanya Hong-sian.
“Dengan sendirinya perempuan, mungkin di dunia cuma orang perempuan saja yang dapat mengubah watak seorang lelaki.”
“Dia bukan berubah melainkan dekaden. Seorang kalau dekaden lantaran orang perempuan, maka orang semacam ini tidak pantas mendapatkan simpati, tapi menertawakan karena kebodohannya.”
“Ucapanmu mungkin tidak salah, sebab engkau sendiri belum pernah bertemu dengan perempuan semacam ini.”
“Memangnya bagaimana kalau kutemukan?” “Jika kau temukan dia, bisa jadi engkau pun akan berubah serupa A Fei.”
Hong-sian tertawa, “Kau kira aku ini seorang anak muda yang bodoh dan masih hijau pelonco?”
“Mungkin sudah berbagai macam dan bentuk orang perempuan pernah kau lihat, tapi dia… dia tidak sama dengan perempuan lain.”
“Oo?!” Hong-sian melengak.
“Pernah ada seorang melukiskan dia dengan sangat tepat… Dia serupa bidadari yang suka menyeret lelaki ke neraka.”
Sinar mata Hong-sian gemerdep, katanya tiba-tiba, “Ah, kutahu siapa yang kau maksudkan.”
“Memang seharusnya dapat kau terka siapa dia, sebab di dunia cuma ada seorang perempuan semacam dia, untung juga cuma satu saja, kalau terlalu banyak, tentu kaum lelaki tidak dapat hidup aman.”
“Hal-hal yang menyangkut ‘perempuan cantik nomor satu’ ini sudah banyak kudengar,” kata Hong-sian.
“Sekarang A Fei sudah bangkit kembali, tidak dapat kulihat dia kejeblos lagi, sebab itulah….”
“Sebab itu kau minta kubunuh si dia?” tanya Hong-sian.
Sun-hoan menjawab dengan sedih, “Aku cuma berharap selamanya A Fei jangan melihat dia lagi, sebab bila A Fei melihat dia, maka A Fei sulit untuk menarik diri pula.”
“Mestinya dapat kau laksanakan sendiri,” ujar Hong-sian.
“Namun aku tidak dapat.”
“Sebab apa?”
Pedih senyum Sun-hoan, “Sebab bila diketahui A Fei tentu dia akan membenciku selama hidup.”
“Seharusnya dia tahu tujuanmu adalah untuk kebaikannya.”
Sun-hoan tersenyum getir, “Betapa pintar seorang kalau sudah terpengaruh oleh cinta dan tak bisa menguasai diri, maka berubahlah dia menjadi bodoh.”
“Mengapa tidak kau cari orang lain untuk melakukannya dan mengapa aku yang kau cari?”
“Sebab sekalipun orang lain mampu membunuh dia, tapi setelah bertemu dia mungkin tidak tega turun tangan, sebab…” Sun-hoan menatap Hong-sian dengan tajam, lalu meneruskan, “memang sulit bagiku menemukan seorang yang boleh kumohon bantuannya.”
Sinar mata kedua orang kembali kebentrok, hati Lu Hong-sian tiba-tiba penuh perasaan hangat.
Dari sorot mata Sun-hoan dapat dirasakan kesepian dan kepedihannya. Itulah kesepian dan kepedihan yang cuma dipunyai seorang kesatria. Juga cuma kesatria saja yang dapat memahami betapa pedihnya kesepian semacam ini.
“Dia berada di mana sekarang?” tanya Hong-sian mendadak.
“Ling-ling tahu dia berada di mana,” kata Sun-hoan. “Cuma….”
Sudah cukup lama Ling-ling pingsan dan sampai sekarang belum lagi siuman.
Sun-hoan memandangnya sekejap, katanya pula, “Jika kau ingin dia membawamu ke sana, kukira tidak mudah.”
Hong-sian tertawa, ucapnya mantap, “Untuk ini tidak perlu kau khawatir, aku tentu mempunyai akal.”
Waktu A Fei mendusin, Li Sun-hoan justru masih tidur.
Dalam tidurnya dia masih juga batuk, pada waktu batuknya keras, sekujur badan tampak mengejang saking menderitanya.
Cahaya sang surya menembus masuk melalui jendela.
Baru sekarang dilihat A Fei rambut Sun-hoan sudah banyak yang ubanan, sama banyaknya dengan kerutan pada wajahnya. Hanya sepasang matanya saja yang tetap muda.
Tatkala dia memejamkan mata akan kelihatan pucat dan kurus tua, bahkan sangat lemah. Bajunya tetap yang sudah rombeng, bahkan jarang dicuci.
Siapakah yang nyana di dalam kerangka tubuh yang lemah itu tersimpan iman yang teguh, terkandung moral yang luhur, jiwa yang besar?
A Fei memandangnya dengan air mata berlinang.
Hidup Sun-hoan hanya untuk menahan penggodokan, siksaan dan pukulan yang beraneka macam ragamnya. Tapi dia tetap tidak ambruk, dia tidak merasa kehidupan ini dingin dan kejam serta gelap. Sebab di mana dia berada, di situ lantas ada kehangatan, ada cahaya terang.
Yang dia bawa untuk orang lain selalu kegembiraan, tapi meninggalkan siksa derita bagi diri sendiri.
Air mata A Fei sudah menitik, membasahi wajahnya….
Li Sun-hoan masih tidur nyenyak. Tidur baginya seakan-akan juga berubah menjadi semacam urusan yang langka.
Meski A Fei ingin cepat pulang, ingin lekas melihat wajah yang tersenyum bagai bunga itu, tapi dia tidak sampai hati mengejutkan tidur Sun-hoan, perlahan ia merapatkan daun pintu dan diam-diam melangkah keluar.
Hari masih sangat pagi, cahaya sang surya baru menyinari pucuk pohon, orang yang bepergian sudah berangkat, maka halaman hotel sangat sepi, hanya sebatang pohon waru masih berdiri tegak di tengah tiupan angin dingin yang santer.
Sun-hoan sendiri bukankah serupa pohon waru itu, musim dingin sudah hampir tiba, tapi sebelum tiba saat terakhir mereka takkan menyerah.
A Fei menghela napas, perlahan ia meninggalkan hotel itu.
Ia mampir di rumah penjual kembang tahu. Ia memegangi mangkuk yang berisi kembang tahu yang serupa susu itu dan perlahan menghirupnya.
Cara makannya memang tidak cepat, perlahan kembang tahu mengalir masuk perutnya. Bila perut seorang sudah penuh terisi, seluruh orangnya seakan-akan juga padat.
Dilihatnya dua orang berlalu di depan pintu.
Langkah kedua orang itu tidak cepat, tapi kelihatan agak tergesa, mereka berjalan dengan menunduk, bau sedap kembang tahu pun tidak menarik bagi mereka untuk menoleh barang sekejap saja.
Yang berjalan di depan adalah seorang kakek beruban dengan tubuh agak bungkuk, tangan memegang cangklong tembakau, baju biru yang dipakainya sudah luntur sehingga hampir berubah putih seluruhnya.
Yang ikut di belakangnya adalah seorang nona cilik bermata besar, kucirnya panjang.
A Fei mengenali kedua orang ini adalah si tukang dongeng dan cucu perempuan yang pernah dilihatnya dua tahun yang tahu, ia masih ingat mereka she Sun.
Tapi mereka tidak melihat A Fei, dengan cepat mereka lalu di depan pintu.
Apabila mereka melihat A Fei, segala urusan besar kemungkinan akan berubah sama sekali.
Setelah habis minum semangkuk kembang tahu, waktu A Fei memandang keluar lagi, kembali dilihatnya seorang lewat di depan pintu.
Perawakan orang ini sangat tinggi, berjubah kuning, bertopi serupa caping yang bertepian lebar sehingga mukanya hampir teraling seluruhnya, gaya berjalannya sangat aneh, ia pun tidak berpaling, cara berjalannya juga kelihatan sangat terburu-buru.
Detak jantung A Fei seketika bertambah cepat.
Hing Bu-bing!
Orang itu memang Hing Bu-bing adanya. Pandangannya menatap ke depan, agaknya dia sedang menguntit jejak kakek dan cucu perempuan she Sun itu sehingga tidak diketahuinya A Fei lagi minum kembang tahu di warung tepi jalan.
Tapi A Fei dapat melihatnya, terutama takkan lupa pada pedang yang terselip pada ikat pinggangnya itu. Tapi tak terlihat olehnya lengannya yang buntung. Melulu melihat pedang ini sudah membuat mata A Fei beringas. Pedang inilah yang membuatnya merasakan kekalahan dan penghinaan pertama kalinya. Pedang inilah yang membuatnya hampir runtuh selamanya.
Ia mengepal erat tinjunya sehingga luka pada telapak tangannya pecah lagi serta mengalirkan darah. Tapi rasa sakit mengalir dari tangan ke hati, seketika otot daging sekujur badannya berubah tegang.
Sudah dilupakannya lengan buntung Hing Bu-bing. Yang diharapkan hanya pertandingan ulangan dengan Hing Bu-bing dan tiada lain yang terpikir olehnya.
Dengan cepat Hing Bu-bing juga telah lalu ke sana.
Perlahan A Fei berbangkit, tambah erat genggaman tinjunya, rasa sakitnya juga tambah keras. Makin keras menderita, makin tajam dan peka pula daya perasanya.
Seorang pelayan sedang minum teh di samping pintu, ketika melihat sorot mata A Fei yang beringas itu, saking ngeri cangkirnya jatuh terlepas. Tapi sebelum cangkir jatuh pecah A Fei sempat meraupnya. Tidak ada yang melihat jelas cara bagaimana dia menangkap cangkir itu.
Keruan pelayan melongo kaget.
Mendadak A Fei penuh diliputi rasa kepercayaan pada diri sendiri.
Pada saat itulah kembali seorang berlalu di depan pintu.
Orang ini pun berbaju kuning, topinya juga menutupi setengah mukanya, gaya berjalannya juga sangat aneh, muka pucat sehingga di bawah bayang capingnya kelihatan serupa ukiran batu.
Dia Siangkoan Hui!
A Fei tidak kenal Siangkoan Hui, tapi sekali pandang segera diketahuinya orang ini pasti erat hubungannya dengan Hing Bu-bing, bahkan jelas sedang menguntit jejak orang she Hing itu.
Perawakan Siangkoan Hui lebih pendek sedikit daripada Hing Bu-bing, usianya juga lebih muda, tapi sikapnya yang dingin dan gaya berjalannya serupa saudara kembar dengan Hing Bu-bing. Mengapa diam-diam ia membuntutinya?
Tempat ini memang sangat sepi, bila membelok lagi ke jalan sana tentu tak terlihat lagi bayangannya.
A Fei segera membayangi mereka, dia mempertahankan jarak tertentu di belakang Siangkoan Hui.
Kakek si tukang dongeng bersama cucu perempuannya sudah sejak tadi tak kelihatan lagi, Hing Bu-bing juga cuma kelihatan bayangan kuning dari kejauhan, namun cara berjalan Siangkoan Hui tetap sangat lambat, seperti tidak terburu-buru.
A Fei merasa orang ini sangat pintar dalam hal melacak.
Untuk menguntit jejak seorang tanpa diketahui memang harus dilakukan dengan sabar dan tidak boleh terburu nafsu.
Di depan ada sebuah bukit, Hing Bu-bing sudah melintas ke lereng sana.
Mendadak Siangkoan Hui mempercepat langkahnya, seperti ingin menyusul Hing Bu-bing di balik bukit sana.
Ketika dia juga menghilang di balik bukit, dengan kecepatan penuh A Fei juga menerjang ke atas bukit.
Ia tahu di atas bukit pasti akan dapat menyaksikan hal-hal yang, menarik. Dan dirinya memang tidak kecewa.
Hing Bu-bing tidak pernah merasa takut. Seorang kalau mati saja tidak gentar, apa pula yang ditakutinya?
Tapi sekarang, entah mengapa, sorot matanya membawa semacam rasa keder. Memangnya apa yang ditakutinya?
Suasana di balik bukit semakin sunyi, angin meniup kencang.
Tangan Hing Bu-bing mendadak memegang tangkai pedang. Dengan sendirinya tangan kanan dan bukan tangan yang biasa menggunakan pedang. Pedang pada tangan kanannya bukan lagi senjata tajam pembunuh.
Segera ia menarik kembali tangannya. Langkahnya juga berhenti, seperti menyadari jalannya sudah buntu atau berakhir.
Pada saat itulah didengarnya suara tertawa dingin Siangkoan Hui.
Nyata anak muda itu kini sudah berada di belakang Hing Bu-bing, jengeknya, “Tidak perlu kau main sandiwara lagi.”
Perlahan Bu-bing membalik tubuh, matanya yang pucat kelabu tiada menunjukkan sesuatu perasaan, ia tatap Siangkoan Hui dengan tidak mengerti, sampai sekian lama baru terucap olehnya, “Kau bilang aku lagi main sandiwara?”
“Ya, kubilang engkau lagi main sandiwara,” kata Siangkoan Hui. “Kau sengaja menguntit si Sun tua, padahal engkau tiada perlunya menguntit mereka.”
“Habis untuk apa kubuntuti mereka?”
“Lantaran aku,” kata Siangkoan Hui.
“Kau?” Bu-bing menegas.
“Ya, karena kau tahu aku sedang mengikuti dirimu.”
“Itu disebabkan caramu menguntit kurang pandai,” jengek Bu-bing.
“Meski kurang pandai, tapi sekarang dapat kubunuhmu, tentu kau pun tahu akan kubunuhmu.”
Hing Bu-bing memang tahu, sebab itulah dia tidak terkejut.
Yang terkejut ialah A Fei. Kedua orang ini kan dari seperguruan, mengapa hendak saling membunuh?
“Sudah lama ingin kubunuhmu, apakah kau tahu apa sebabnya?” tanya Siangkoan Hui.
Hing Bu-bing tidak mau menjawab. Biasanya ia cuma bertanya dan tidak menjawab.
Sikap Siangkoan Hui mendadak terangsang, sorot matanya penuh rasa benci, katanya dengan suara bengis, “Di dunia ini bila tidak terdapat dirimu tentu aku dapat hidup lebih baik, engkau tidak cuma merampas kedudukanku, juga merampas ayahku. Sejak kedatanganmu.”
“Itu kan salahmu sendiri, engkau memang tidak dapat membandingi diriku,” jawab Hing Bu-bing ketus.
Siangkoan Hui menggereget, “Kutahu kau sendiri cukup jelas bukanlah lantaran alasan ini, tapi lantaran….”
Meski sedapatnya ia mengekang gejolak perasaan sendiri, namun tetap meledak juga, mendadak ia meraung gusar, “… lantaran engkau adalah anak haram ayahku, ibuku justru mati keki karena ibumu.”
Bola mata Hing Bu-bing yang buram itu berubah merah seperti dua titik darah. A Fei yang mengintip dari atas bukit juga menampilkan rasa derita yang tak terhingga, bahkan lebih menderita daripada Hing Bu-bing sendiri.
“Urusan kalian selalu mengelabui diriku dan menyangka aku tidak tahu,” kata Siangkoan Hui pula.
Kalian yang dimaksudkannya jelas ialah Hing Bu-bing dan ayahnya sendiri. Ucapannya ini tidak melukai orang lain, tapi hati sendiri yang terluka.
Tentu saja ia tambah pedih, tapi sikapnya berbalik lebih tenang, jengeknya, “Padahal sejak hari kedatanganmu itu aku sudah tahu, sejak hari itu aku lantas mencari kesempatan untuk membunuhmu.”
“Kesempatanmu memang tidak banyak,” jengek Bu-bing.
“Sekalipun waktu itu ada kesempatan bagiku juga belum tentu aku mau turun tangan, sebab waktu itu engkau masih berharga untuk diperalat, tapi keadaanmu sekarang sudah berbeda. Dalam pandangan ayahku waktu itu engkau serupa sebilah pisau, pisau pembunuh, jika kurusak pisaunya tentu aku takkan diampuninya. Tapi sekarang engkau tidak lebih cuma sepotong besi tua, mati-hidupmu tidak terpikir lagi olehnya.”
Hing Bu-bing termenung agak lama, akhirnya mengangguk perlahan dan berkata, “Betul, aku sendiri pun tidak menghiraukan mati-hidupku, apalagi dia?”
“Ucapanmu ini mungkin dapat menipu orang lain dan menipu dirimu sendiri, tapi tidak dapat menipu aku,” kata Siangkoan Hui.

,

Leave a comment

Pendekar Budiman: Bagian 20

Pendekar Budiman: Bagian 20
Oleh Gu Long

“Ada orang mohon bertemu dengan Pangcu,” lapor orang di luar.

“Siapa dia?”

“Pendatang itu tidak mau memberitahukan namanya.”

“Untuk urusan apa?”

“Dia bilang setelah berhadapan dengan Pangcu baru akan bicara langsung.”

Hing Bu-bing tidak bersuara lagi.

Siangkoan Kim-hong mendadak berkata, “Di mana orangnya?”

“Di halaman depan,” lapor orang di luar.

Siangkoan Kim-hong tetap asyik membalik halaman buku dan tanpa mengangkat kepala, katanya, “Bunuh dia!”

“Baik!” jawab si pelapor.

Mendadak Siangkoan Kim-hong bertanya pula, “Siapa yang membawa dia ke sini?”

“Pat-tocu (kepala seksi kedelapan) Hiang Siong,” jawab orang di luar.

“Bunuh sekalian bersama Hiang Siong!” kata Siangkoan Kim-hong.

Orang di luar mengiakan pula.

Tapi Hing Bu-bing lantas berkata, “Aku pergi!”

Baru kedua kata itu terucapkan, tahu-tahu dia sudah membuka pintu dan menyelinap keluar.

Untuk membunuh orang Hing Bu-bing tidak pernah ketinggalan, apalagi Hiang Siong berjuluk Hong-ih-liu-sing (bintang meluncur di tengah hujan angin), senjata andalannya sepasang Liu-sing-tui (bandulan berantai) termasuk nomor 19 dalam daftar senjata yang disusun Pek-hiau-sing, untuk membunuhnya tidaklah mudah.

Memangnya siapakah pendatang yang ingin menemui Siangkoan Kim-hong itu? Dan ada urusan apa?

Ternyata Siangkoan Kim-hong tidak menghiraukannya, bahkan tidak timbul setitik pun rasa ingin tahunya. Orang ini sungguh tidak mempunyai sifat manusia.

Sejauh itu malahan kepalanya tetap tidak terangkat dan tangan tetap membalik halaman buku.

Ketika pintu terbuka lagi, Hing Bu-bing menyelinap masuk kembali.

Siangkoan Kim-hong tidak tanya apakah orang sudah dibunuhnya atau tidak, sebab ia tahu Hing Bu-bing tidak pernah meleset membunuh orang. Ia cuma berkata, “Pergi lagi! Jika Hiang Siong tidak melawan, berikan pensiun selaksa tahil emas kepada keluarganya, bila Hiang Siong melawan, bunuh sama sekali segenap anggota keluarganya.”

“Tapi aku tidak membunuhnya,” jawab Bu-bing tiba-tiba.

Baru sekarang Siangkoan Kim-hong mengangkat kepalanya dan menatap Hing Bu-bing dengan sorot mata tajam.

Air muka Bu-bing tetap kaku dingin, katanya, “Sebab orang yang dibawanya kemari itu tidak dapat kubunuh.”

“Setiap orang di dunia ini boleh dibunuh, mengapa dia tidak boleh?” kata Siangkoan Kim-hong dengan bengis.

“Aku tidak membunuh anak kecil,” kata Bu-bing.

Siangkoan Kim-hong melengak, perlahan ia menaruh pensilnya dan bertanya, “Jadi maksudmu, yang ingin menemuiku cuma seorang anak kecil?”

“Ya,” jawab Bu-bing.

“Seorang anak macam apa?”

“Seorang anak cacat.”

Mencorong sinar mata Siangkoan Kim-hong, ia termenung sejenak, akhirnya berkata, “Baik, bawa dia masuk!”

Bahwasanya ada seorang anak kecil mohon bertemu dengan Siangkoan Kim-hong, hal ini sungguh Siangkoan Kim-hong sendiri pun tidak percaya. Jika bukan nyali anak ini terlalu besar, tentu anak ini latah atau sinting.

Tapi yang muncul memang benar seorang anak kecil.

Mukanya pucat pasi tiada warna darah sama sekali. Sorot matanya juga buram, tidak jernih dan bercahaya seperti sinar mata anak-anak umumnya.

Gerak-geriknya juga sangat lamban, malahan punggungnya rada bungkuk. Anak ini tampaknya seperti seorang kakek saja.

Anak ini ternyata Liong Siau-in adanya.

Siapa pun bila berhadapan dengan anak semacam Liong Siau-in tentu akan memandangnya beberapa kejap lebih banyak. Siangkoan Kim-hong juga tidak terkecuali.

Sorot mata Siangkoan Kim-hong setajam pisau menatap wajah Liong Siau-in.

Siapa pun bila tertatap oleh sinar mata Siangkoan Kim-hong yang tajam ini umpama tidak gemetar tentu juga kakinya akan lemas dan tidak sanggup bicara.

Tapi Liong Siau-in harus dikecualikan.

Ia melangkah masuk dengan perlahan, membungkuk tubuh sebagai tanda hormat, katanya, “Wanpwe Liong Siau-in menyampaikan sembah hormat kepada Siangkoan-pangcu.”

“Liong Siau-in?” Siangkoan Kim-hong mengulang nama itu dengan sinar mata gemerdep. “Liong Siau-hun pernah hubungan apa denganmu.”

“Ayahku!” jawab Siau-in.

“Apakah ayahmu yang menyuruhmu kemari?”

“Ya!”

“Mengapa ia tidak datang sendiri?”

“Jika ayah yang mohon bertemu, bukan saja sukar bertemu dengan Pangcu, bahkan ada kemungkinan akan terbinasa di sini.”

“Kau kira aku tidak mau membunuhmu?” tanya Siangkoan Kim-hong dengan suara bengis.

“Apa artinya jiwa seorang anak kecil bagi Pangcu?” jawab Siau-in. “Bukan Pangcu tidak mau membunuh, tapi tidak sudi membunuh.”

Air muka Siangkoan Kim-hong tampak berubah tenang kembali, katanya, “Meski kecil usiamu dan lemah tubuhmu, namun nyalimu ternyata tidak kecil.”

“Seorang kalau mengharapkan sesuatu, mau-tak-mau nyalinya akan berubah besar!” kata Liong Siau-in.

“Ucapan bagus!” seru Kim-hong, mendadak ia berpaling dan tertawa kepada Hing Bu-bing, “Jika melulu kau dengarkan perkataannya, dapatkah kau percaya dia seorang anak kecil!”

Wajah Hing Bu-bing tidak menampilkan sesuatu perasaan, sahutnya dingin, “Aku tidak mendengar!”

Siangkoan Kim-hong menatapnya lekat-lekat, senyuman yang jarang tertampak itu mendadak membeku.

Meski kepala tertunduk, namun sebenarnya Liong Siau-in selalu memerhatikan gerak-gerik mereka, dia seperti sangat tertarik oleh hubungan khas kedua orang ini.

Akhirnya Siangkoan Kim-hong bersuara pula, “Tidak suka bicara adalah kebaikanmu yang terbesar. Tapi tidak suka mendengar bicara orang mungkin akan merupakan kesalahan maut bagimu.”

Sekali ini bersuara saja Hing Bu-bing tidak mau.

Setelah termenung sekian lama barulah Siangkoan Kim-hong berpaling kembali dan bertanya, “Apa yang kau harapkan pada kedatanganmu ini?”

“Setiap urusan ada berbagai jalan untuk dikemukakan,” jawab Siau-in. “Mestinya Wanpwe dapat mengutarakan urusan dengan cara bertele-tele supaya enak didengar, namun Pangcu adalah orang sibuk yang harus mengurus urusan penting lain, maka Wanpwe tidak berani mengganggu terlalu lama, terpaksa kugunakan cara bicara secara langsung menuju pokok persoalan.”

“Bagus,” kata Kim-hong. “Aku memang tidak suka terhadap cara bicara yang bertele-tele, terhadap orang demikian cuma ada satu caraku, yaitu memotong lidahnya.”

“Kedatangan Wanpwe ini hanya ingin bicara suatu bisnis dengan Pangcu,” kata Siau-in.

“Bisnis?!” Kim-hong menegas, air mukanya tambah dingin, katanya pula, “Sebelum ini ada juga orang mau bicara bisnis denganku, apakah kau ingin tahu dengan cara bagaimana kuhadapi?”

“Wanpwe siap mendengarkan,” kata Siau-in.

“Caraku menghadapi mereka juga cuma ada satu cara, yakni mencencang tubuh mereka.”

Siau-in tetap tenang saja, katanya dengan tak acuh, “Tapi bisnisku ini lain daripada yang lain, kalau tidak masakah Wanpwe berani datang kemari?”

“Bisnis tetap bisnis, apa bedanya?”

“Bedanya ialah bisnisku ini ada seratus keuntungan bagi Pangcu dan tidak ada ruginya.”

“Oo?!” Siangkoan Kim-hong melengak.

“Kekuasaan Pangcu merajai seluruh negeri, kekayaanmu melebihi negara, segala benda di dunia ini dengan sangat mudah dapat dimiliki Pangcu.”

“Ya, memang, makanya pada hakikatnya aku tidak perlu bicara tentang bisnis dengan siapa pun.”

“Tapi tetap ada semacam barang di dunia ini yang belum tentu dapat diperoleh Pangcu,” kata Siau-in.

“Oo, apa betul?”

“Nilai barang ini sendiri mungkin tidak tinggi, tapi bagi Pangcu nilainya menjadi lain.”

“Sebab apa?” tanya Kim-hong.

“Sebab hanya sesuatu yang sukar diperoleh di dunia ini barulah dapat dianggap berharga.”

“Barang apakah yang kau maksudkan?”

“Nyawa Li Sun-hoan,” jawab Siau-in.

Sorot mata Siangkoan Kim-hong yang dingin itu mendadak berubah membara, “Apa katamu?” bentaknya.

“Jiwa Li Sun-hoan sudah tergenggam dalam tangan kami, asalkan Pangcu menghendakinya, setiap saat Wanpwe dapat mempersembahkannya kepadamu.”

Siangkoan Kim-hong termenung lagi.

Sampai sekian lamanya, ketika sorot matanya yang panas berubah dingin lagi barulah ia berucap dengan hambar, “Huh, apa artinya Li Sun-hoan bagiku. Pada hakikatnya dia tidak terpandang olehku.”

“Jika begitu biarlah Wanpwe mohon diri saja,” kata Siau-in. Tanpa bicara lagi ia memberi hormat terus membalik tubuh dan melangkah pergi.

Ia berjalan dengan sangat lambat, tapi sama sekali tidak menoleh, Siangkoan Kim-hong juga tidak memandang lagi padanya sekejap pun.

Dengan perlahan Siau-in mendekati pintu dan menarik daun pintu.

Pada saat itulah mendadak Siangkoan Kim-hong bersuara, “Nanti dulu!”

Tertampil secercah rasa puas pada sinar mata Liong Siau-in, tapi ketika ia berpaling, sorot matanya kembali buram lagi, dengan hormat ia bertanya, “Pangcu ada pesan apa?”

Siangkoan Kim-hong tidak memandangnya, ia cuma menatap sinar lilin di atas meja, katanya perlahan, “Akan kau gunakan jiwa Li Sun-hoan untuk menukar apa?”

“Sudah lama ayahku sangat mengagumi kebesaran nama Pangcu, cuma sayang tidak dapat berkenalan,” kata Siau-in.

“Ini omong kosong belaka, aku cuma ingin tahu apa yang kau minta?” potong Siangkoan Kini-hong dengan ketus.

“Ayahku berharap akan dapat mengangkat saudara dengan Pangcu di hadapan para kesatria sejagat,” ucap Siau-in.

Seketika api kemarahan terpancar lagi dari sinar mata Siangkoan Kim-hong, tapi segera tenang kembali, katanya dengan hambar, “Hah, tampaknya Liong Siau-hun juga seorang pintar, cuma sayang, apa yang dilakukannya ini sungguh terlalu bodoh.”

“Tindakan ini memang sangat bodoh, tapi cara yang paling bodoh terkadang juga paling efektif,” ujar Siau-in.

“Kau yakin bisnis ini akan disepakati?” tanya Siangkoan Kim-hong.

“Jika tidak yakin akan berhasil, untuk apa Wanpwe menyerempet bahaya datang kemari?”

“Bukankah Liong Siau-hun cuma mempunyai seorang anak saja, yaitu dirimu?”

Siau-in mengiakan.

“Jika begitu, seharusnya dia tidak menyuruhmu ke sini,” kata Kim-hong.

“Soalnya bila orang lain yang disuruh kemari, jelas tidak mungkin akan dapat bertemu dengan Pangcu.”

“Dalam bisnis ini kalian mestinya adalah pihak pembeli, tapi dengan kedatanganmu ini posisimu menjadi berubah sama sekali.”

“Pangcu mengira dapat menggunakan diriku sebagai sandera untuk memeras ayahku dan memaksa dia menyerahkan Li Sun-hoan?”

“Memang begitulah maksudku.”

Tiba-tiba Liong Siau-in tertawa, katanya, “Pangcu seorang bijaksana dan biasanya dapat menilai setiap pribadi orang, tapi terhadap ayahku Pangcu telah salah nilai.”

Siangkoan Kim-hong menjengek, “Hm, masakah dia lebih suka membiarkan kubunuh dirimu daripada menyerahkan Li Sun-hoan?”

“Ya, begitulah.”

“Memangnya dia bukan manusia?”

“Beliau manusia, tapi manusia juga terdiri dari berbagai jenis.”

“Dia jenis yang mana?”

“Ayahku sama jenisnya dengan Pangcu, yaitu demi mencapai maksud tujuan dapat menggunakan cara apa pun dan tidak sayang mengorbankan apa pun.”

Mulut Siangkoan Kim-hong jadi bungkam. Selang agak lama baru bicara pula dengan perlahan, “Sudah 20-an tahun tidak ada orang berani bicara demikian di hadapanku.”

“Justru lantaran Pangcu adalah manusia jenis ini, maka Wanpwe berani bicara demikian, hanya dengan bicara cara demikian baru dapat menggerakkan hati orang semacam Pangcu.”

Siangkoan Kim-hong menatap anak itu tajam-tajam, katanya kemudian, “Dan bila aku tidak menerima permintaanmu, apakah kalian akan membebaskan Li Sun-hoan?”

“Betul!” jawab Siau-in.

“Masa kalian tidak takut dia akan menuntut balas terhadap kalian?”

“Dia adalah manusia jenis lain, tidak nanti bertindak demikian,” Siau-in tertawa lalu menyambung, “Bila dia mau berbuat demikian, tentu nasibnya tidak menyedihkan seperti sekarang.”

“Biarpun kalian melepaskan dia, apakah kau yakin aku takkan membunuhnya sendiri?” kata Siangkoan Kim-hong dengan suara bengis.

“Pisau kilat si Li, sekali timpuk tidak pernah meleset,” ucap Siau-in dengan hambar.

“Kau kira aku pun tidak mampu menghindarkan sambitan pisaunya?”

“Sedikitnya Pangcu sendiri tidak yakin sepenuhnya, betul tidak?”

“Hmk!” jengek Kim-hong.

“Apalagi, dengan kedudukan dan pengaruh Pangcu sekarang ini, untuk apa mesti menyerempet bahaya?”

Mulut Siangkoan Kim-hong kembali bungkam.

“Pula, meski Kungfu ayahku tidak terlalu tinggi, tapi mengenai nama dan kedudukan serta kecerdasannya juga tidak di bawah orang lain, bila Pangcu mengilat saudara dengan beliau kan cuma ada untung dan tidak ada ruginya.”

Siangkoan Kim-hong berpikir sejenak, mendadak ia tanya, “Li Sun-hoan juga saudara angkat ayahmu, bukan?”

Siau-in membenarkan.

“Hm, jika dia dapat menjual Li Sun-hoan, siapa yang berani menjamin dia takkan menjual diriku?” jengek Siangkoan Kim-hong.

Siau-in tertawa, “Tapi Pangcu bukan Li Sun-hoan.”

Jawabnya sangat sederhana juga sangat tajam.

Mendadak Siangkoan Kim hong bergelak tertawa, “Haha, betul, biarpun Liong Siau-hun berani menjual diriku juga tidak mempunyai kemampuan sebesar itu.”

“Jadi Pangcu menerima permintaanku?”

Mendadak Siangkoan Kim-hong berhenti tertawa dan menegas, “Cara bagaimana dapat kuketahui Li Sun-hoan benar berada dalam genggaman kalian?”

“Asalkan Pangcu menyebarkan kartu undangan dan mengundang para kesatria ikut menghadiri upacara pengangkatan saudara antara Pangcu dengan ayahku ….”

“Kau pikir mereka berani hadir?”

“Hadir atau tidak bukan soal, cukup asalkan umum mengetahui peristiwa ini,” ujar Siau-in dengan tersenyum.

“Hm, rapi juga pertimbanganmu,” jengek Kim-hong.

“Mungkin Pangcu masih perlu menimbang urusan ini, biarlah Wanpwe menunggu kabar Pangcu lebih lanjut, sementara Wanpwe tinggal di Ji-in-kek-can di dalam kota,” perlahan Siau-in menyambung pula, “Asalkan kartu undangan Pangcu sudah disebarkan, bilamana sudah ada yang menerimanya, setiap saat Wanpwe akan membawa Li Sun-hoan ke tempat Pangcu ini.”

“Membawanya ke sini? …. Hm, mungkin kalian tidak mempunyai kesanggupan sebesar ini,” jengek Siangkoan Kim-hong.

“Wanpwe juga menyadari hal ini, jika pekerjaan demikian tidak mampu dilaksanakan tokoh seperti Sim-bi Taysu dari Siau-lim-pay dan Dian-jitya, apalagi diriku, hanya saja ….”

“Hanya apa?” tanya Kim-hong.

“Bila sepanjang jalan dikawal oleh Hing-siansing, tentu segala sesuatu akan berjalan dengan lancar.”

Siangkoan Kim-hong termenung lagi.

“Baik, kupergi,” kata Hing Bu-bing mendadak sebelum Siangkoan Kim hong bersuara.

Untuk pertama kalinya wajah Liong Siau-in menampilkan rasa girang, ia menjura dan mengucapkan terima kasih.

Siangkoan Kim-hong berpikir lagi agak lama, tiba-tiba ia tanya, “Ilmu silatmu telah dipunahkan dan takkan pulih untuk selamanya, yang merusak dirimu apakah Li Sun-hoan?”

Wajah Siau-in yang pucat seketika berubah hijau, ia menunduk dan mengiakan.

Siangkoan Kim-hong menatapnya dengan tajam sambil bertanya sekata demi sekata, “Kau benci padanya?”

Siau-in mengepal tinjunya erat-erat, sampai lama baru menjawab, “Ya.”

“Seharusnya tidak boleh kau benci dia, sebaliknya mesti berterima kasih kepadanya.”

Tentu saja Siau-in melengak, ia mengangkat kepala dan bertanya, “Terima kasih?”

“Ya, bila ilmu silatmu tidak dipunahkan olehnya, saat ini kau pasti sudah mati di sini.”

Siau-in menunduk pula.

“Masih sekecil ini hatimu sudah sedemikian culas dan keji, tidak lebih dari 20 tahun tentu akan berebut pengaruh denganku, apabila keadaanmu tidak cacat, mana bisa kulepaskan dirimu?”

Liong Siau-in tetap diam saja sambil mengertak gigi ….

*****

Di tempat lain. Dalam kegelapan ada suara keluh orang dan desah napas ….

Kemudian keadaan menjadi hening.

Sampai lama sekali baru terdengar suara seorang perempuan berucap lirih, “Terkadang sungguh ingin kuajukan suatu pertanyaan padamu.”

Suara orang perempuan ini sangat manis dan lembut, jika orang lelaki ingin melawan suara yang penuh daya pikat ini tiada jalan lain kecuali dia berubah menjadi orang tuli.

“Kenapa tidak kau tanya?” terdengar suara seorang lelaki menjawab.

Suara orang ini sangat istimewa, bila kau dengarkan dari dekat, suaranya justru kedengaran datang dari tempat jauh, bila kau dengar dari jauh, suaranya justru seperti berada di dekat telingamu.

“Sebenarnya engkau manusia biasa atau gemblengan dari baja?” tanya si perempuan.

“Masa tidak dapat kau rasakan?” sahut si lelaki.

Dengan suara terlebih manis si perempuan berucap pula, “Jika engkau manusia mengapa selamanya tidak merasa lelah?”

“Memangnya engkau tidak tahan?”

Si perempuan tertawa mengikik, “Apakah kau kira aku akan minta ampun? Mengapa tidak kau coba lagi?”

“Sekarang tidak,” kata si lelaki.

“Mengapa?”

“Sebab sekarang hendak kuminta kau kerjakan sesuatu.”

“Apa pun yang kau minta kukerjakan pasti akan kuterima.”

“Baik, sekarang hendaknya kau pergi membunuh A Fei.”

Agaknya si perempuan jadi melengak, sampai sejenak barulah ia menghela napas dan berkata, “Kan sudah kukatakan sejak mula bahwa sekarang belum tiba waktunya kubunuh dia.”

“Sudah tiba waktunya sekarang,” kata si lelaki.

Kembali si perempuan seperti melengak lagi, “Sebab apa? Memangnya Li Sun-hoan sudah mati?”

“Meski belum mati, jaraknya dengan kematiannya sudah tidak jauh lagi,” ujar si lelaki.

“Ber … berada di mana dia sekarang?”

“Dalam genggamanku.”

Si perempuan tertawa, “Selama beberapa hari ini hampir setiap hari siang dan malam kuberada bersamamu, dengan cara bagaimana dapat kau tangkap dia? Memangnya engkau mempunyai ilmu menjelma dua.”

“Sesuatu yang kuinginkan, tanpa kugunakan tanganku sendiri tentu ada orang akan mengantarkan padaku.”

“Siapa yang mengantarnya kemari? Siapa yang mempunyai kepandaian setinggi ini mampu menawan Li Sun-hoan?”

“Liong Siau-hun,” tutur si lelaki.

Agaknya si perempuan terkejut pula, katanya kemudian dengan tertawa, “Ya, betul, tentu Liong Siau-hun, hanya sahabat baik Li Sun-hoan sendiri yang dapat membikin celaka dia. Jika ingin menjatuhkan dia dengan senjata macam apa pun sukar merobohkan dia, harus menggunakan sentuhan perasaan.”

“Tampaknya engkau sangat memahami dia,” kata si lelaki.

“Terhadap musuh biasanya aku terlebih paham daripada terhadap kawan, misalnya … aku tidak memahami dirimu.”

Segera ia berubah pokok pembicaraan, sambungnya lagi, “Aku juga sangat mengerti akan pribadi Liong Siau-hun, tidak nanti dia mengantarkan Li Sun-hoan kepadamu secara cuma-cuma.”

“Oo!” si lelaki melengak.

“Ia sendiri tidak suka membunuh Li Sun-hoan, maka sengaja meminjam tangan orang untuk membunuhnya.”

“Kau kira cuma ini saja tujuannya?”

“Memangnya dia mau apa lagi?”

“Ia juga minta kujadi saudara angkatnya.”

Si perempuan menghela napas, katanya, “Orang ini sungguh pintar mencari keuntungan, tapi … apakah kau terima permintaannya?”

“Ehm,” agaknya si lelaki mengangguk.

“Masa tidak kau rasakan dia hendak memperalat dirimu?”

“Hmk,” jengek si lelaki, “cara berpikirnya bukankah terlalu kekanak-kanakan? Apakah dia mengira setelah menjadi saudara angkat lantas takkan kubikin susah padanya? Padahal, jangankan cuma saudara angkat, biarpun saudara sekandung juga tiada gunanya.”

“Betul, jika dia dapat menjual Li Sun-hoan, dengan sendirinya kau pun boleh menjual dia,” ujar si perempuan dengan tertawa genit.

“Meski dalam pandanganku Liong Siau-hun tidak berharga sepeser pun, tapi putranya justru sangat lihai,” kata si lelaki.

“Pernah kau lihat setan cilik itu?”

“Justru yang datang bukan Liong Siau-hun sendiri melainkan anaknya.”

Si perempuan menghela napas, “Ai! Bocah itu memang kecil orangnya tapi besar nyalinya.”

Si lelaki termenung sejenak, katanya tiba-tiba, “Baiklah, boleh kau pergi saja.”

Terdengar si perempuan berkeluh, “Lelaki lain bila berada bersamaku biasanya akan merasa berat meninggalkan diriku, hanya engkau, setiap kali bila sudah selesai satu kali lantas kau usir diriku.”

“Sebab aku bukan lelaki lain dan juga bukan sahabatmu,” kata si lelaki dengan dingin. “Antara kita tidak lebih cuma saling memperalat saja, jika kita tahu sama tahu, untuk apa pula mesti berlagak sayang dan pura-pura cinta segala?”

Terpaksa si perempuan alias Lim Sian-ji harus angkat kaki.

Di dalam rumah sangat gelap, di luar rumah justru ada cahaya bintang.

Di bawah cahaya bintang berdiri tegak seorang berjaga di luar rumah, matanya yang berwarna pucat kelabu memandang jauh ke depan sana tanpa bergerak serupa patung belaka.

Tapi sekarang sorot mata pucat kelabu itu menampilkan semacam perasaan menderita yang sukar dilukiskan.

Sungguh ia tidak sanggup lagi berdiri di sini. Ia tidak sanggup menahan suara yang didengarnya dari dalam rumah itu. Tapi terpaksa dia harus bertahan. Selama hidupnya dia cuma setia terhadap satu orang, yaitu Siangkoan Kim-hong.

Hidupnya ini, bahkan sukmanya juga sudah menjadi milik Siangkoan Kim-hong.

Ketika pintu terbuka, sesosok bayangan ramping perlahan mendekatinya.

Di bawah cahaya bintang wajahnya kelihatan cantik, baru, bersih, murni, siapa pun pasti tidak menyangka apa yang telah dilakukannya baru saja.

Lahiriah bidadari, sukma setan iblis. Siapa lagi selain Lim Sian-ji.

Hing Bu-bing tidak menoleh.

Sian-ji mengitar ke depannya dan memandangnya dengan mesra.

Namun Hing Bu-bing tetap memandang jauh ke depan, seperti sama sekali tidak pernah terdapat siapa pun di situ.

Tangan Sian-ji yang halus memegang pundaknya, perlahan menggeser ke atas, perlahan meraba daun telinganya. Ia cukup tahu bagian di tubuh lelaki yang paling peka.

Hing Bu-bing tidak bergerak, seperti sudah kaku.

Dengan tertawa Sian-ji berkata pula, “Terima kasih atas penjagaanmu di luar bagi kami, asal kutahu engkau berada di luar, hatiku lantas merasa aman, berbuat apa pun akan kurasakan dengan sangat senang.”

Tiba-tiba ia berbisik perlahan di tepi telinganya, “Ingin kuberi tahukan suatu rahasia padamu, meski usianya agak lanjut, tapi dia tetap sangat kuat, bisa jadi lantaran pengalamannya jauh lebih luas daripada orang lain.”

Di tengah tertawanya yang nyaring pergilah dia.

Hing Bu-bing tetap tidak bergerak, namun setiap bagian tubuhnya sama gemetar.

*****

Ji-in-kek-can adalah hotel terbesar di kota ini, dengan sendirinya juga hotel paling mahal dan paling gampang untuk membuang uang di sini.

Asalkan punya uang yang cukup, tidak perlu keluar hotel setiap tamu akan mendapatkan segala kenikmatan yang diinginkannya.

Di sini, asalkan kau buka mulut, maka segera akan diantarkan hidangan yang paling lezat di kota ini atau perempuan penghibur yang paling terkenal dan paling cantik juga akan diantarkan ke kamarmu.

Pada siang hari di sini pintu setiap kamar hampir selalu tertutup dan hampir tidak terdengar sesuatu suara apa pun.

Tapi bila malam tiba, pintu setiap kamar akan terbuka. Yang akan terdengar lebih dulu adalah suara teriakan dan bentakan kepada pelayan, lalu suara ucapan terima kasih para pelayan yang menerima tip, kemudian lantas terdengar suara senda gurau orang perempuan.

Akhirnya akan ramai pula suara gelak tertawa orang minum arak diseling suara cekikak-cekikik anak perempuan serta bualan orang lelaki, terkadang juga ada suara biji dadu yang bergelindingan di dalam mangkuk ….

Di sini, bila malam tiba, tentu akan terdengar segala macam suara yang paling jorok di dunia ini.

Di antaranya cuma ada sebuah kamar yang tidak mengeluarkan suara. Hanya terkadang saja terdengar sekali dua kali keluhan singkat dan ratapan perlahan orang perempuan.

Pintu kamar ini juga selalu tertutup. Tapi pada waktu magrib setiap hari selalu ada orang mengantar seorang nona cilik ke kamar ini. Dengan sendirinya nona cilik antaran ini rata-rata sangat cantik, masih muda belia dan kecil mungil.

Waktu masuk ke kamar itu dengan sendirinya mereka berdandan dengan sangat cantik, rapi dan bersih, wajah senantiasa mengulum senyum, sekalipun cuma senyum profesional yang sudah terlatih, tapi senyum yang tertampil pada wajah gadis-gadis ini cukup menarik dan tidak menjemukan.

Namun bila mereka keluar dari kamar ini pada esok paginya, keadaan lantas berubah sama sekali.

Rambut yang seharusnya teratur sekarang menjadi semrawut, bahkan ada yang terbetot rontok, mata yang semula bening kini berubah menjadi buram, bahkan jadi cekung.

Wajah yang semula bercahaya dan cerah kini pun berubah pucat, kurus, dan membawa bekas air mata.

Selama tujuh, hari berturut-turut keadaan demikian terus berlangsung.

Semula tidak ada orang yang memerhatikannya, tapi lama-lama orang pun merasa tertarik oleh hal-hal yang demikian ini.

Timbul dugaan mereka, “Sesungguhnya siapakah penghuni kamar ini? Masa begini lihai? Tentu penghuninya seorang lelaki kekar dan kuat.”

Maka orang-orang pun sama menyelidik. Tapi hasil selidikan mereka membuat mereka sama terkejut.

Kiranya penghuni kamar ini bukan lelaki kekar segala melainkan cuma seorang anak yang tidak sempurna pertumbuhannya.

Tentu saja semua orang bertambah tertarik, segera ada orang mencari salah seorang nona cilik yang pernah diantar masuk ke kamar itu untuk ditanyai.

Nona cilik itu lantas gemetar ketika ditanya urusan ini, air matanya lantas mengucur malah dan sama sekali tidak mau memberi keterangan. Ketika didesak, jawabnya cuma satu kalimat, “Dia bukan manusia … dia bukan manusia?”

Senja tiba pula. Pintu kamar ini tetap tertutup.

Seorang anak berwajah pucat duduk menghadap jendela di dalam kamar ini, asyik memandangi pohon waru di luar kamar sana, sudah sekian lama sama sekali tidak bergerak.

Meski sinar matanya kelihatan guram, tapi terkadang terkilas juga setitik sinar yang licin dan keji.

Anak inilah Liong Siau-in!

Di atas meja tersedia arak dan hidangan, tapi hampir tidak disentuhnya sama sekali.

Dia makan sangat sedikit, dia sedang menunggu, menunggu kenikmatan yang lebih besar. Terhadap “makan” biasanya dia memang kurang berminat, ia anggap seorang kalau makan terlalu banyak, tentu benaknya akan tersumbat.

Akhirnya terdengarlah pintu diketuk.

Siau-in tidak menoleh, ia cuma bersuara, “Pintu terbuka, masuklah sendiri.”

Pintu didorong, terdengar langkah kaki yang sangat perlahan, sangat lambat.

Jelas yang datang ada seorang anak perempuan yang kecil mungil, bahkan rada takut-takut.

Inilah jenis anak perempuan yang disukai Liong Siau-in. Karena ia lemah, maka ia suka menjadi yang “kuat”, hanya berduduk di depan anak perempuan semacam ini dia akan merasakan dirinya orang kuat.

Suara langkah kaki berhenti di samping meja.

Siau-in lantas berkata, “Orang yang membawamu kemari itu sudah memberitahukan padamu tentang harga?”

“Ehm,” sahut si anak perempuan lirih.

“Harga ini dua kali lebih tinggi daripada tarif umum, bukan?”

“Ehm.”

“Maka dari itu harus kau turut kepada perkataanku, sama sekali tidak boleh membangkang, tahu tidak?”

“Tahu,” jawab anak perempuan itu.

“Baik, sekarang tanggalkan pakaianmu, seluruhnya!”

Untuk sejenak anak perempuan itu diam saja, katanya tiba-tiba, “Waktu kulepas pakaian engkau tidak mau melihatnya?”

Suaranya sangat manis dan enak didengar.

Siau-in seperti terkesiap.

Dengan suara lembut anak perempuan itu berucap pula, “Melihat anak perempuan menanggalkan baju juga semacam kenikmatan, mengapa kau lepaskan kenikmatan ini?”

Agaknya Siau-in merasakan ada sesuatu yang tidak beres, serentak ia berpaling. Seketika ia jadi melenggong.

“Anak perempuan” yang datang ini ternyata Lim Sian-ji adanya.

Wajah Sian-ji tetap menampilkan senyuman bidadari.

Sebaliknya air muka Liong Siau-in menjadi kaku, namun ini hanya terjadi sekejap saja, segera ia tertawa dan berbangkit, sapanya, “Ah, kiranya bibi Sian lagi bergurau denganku.”

Tertawa Sian-ji tambah memikat, “Sampai saat ini masakah masih kau panggil bibi padaku?”

“Bibi kan tetap bibi,” ujar Siau-in dengan tertawa.

Sian-ji meliriknya sekejap, “Tapi engkau kan sudah dewasa, bukan?”

Ia menghela napas, lalu menyambung dengan perlahan, “Baru dua-tiga tahun tidak bertemu, tak tersangka kau tumbuh secepat ini.”

Secara pintar Siau-in mengelakkan perkataan orang ini, ucapnya, “Selama dua-tiga tahun ini kami tidak memperoleh kabar berita bibi Sian, sungguh kami sama merindukan bibi.”

“Tapi aku justru banyak mendengar tentang dirimu,” ujar Sian-ji dengan tersenyum manis. “Konon … terhadap anak perempuan engkau jauh lebih kuat daripada kebanyakan lelaki yang berusia lebih banyak daripadamu.”

Siau-in menunduk dan tertawa, “Tapi di depan bibi aku tetap seorang anak kecil.”

Sian-ji melotot, omelnya, “Masih kau panggil bibi padaku? Memangnya aku sudah begitu tua?”

Tanpa terasa Siau-in mengangkat kepala.

Sian-ji berdiri di depannya, berdiri secara santai, namun gayanya, sungguh sukar untuk dilukiskan, berjuta orang perempuan juga sukar ditemukan bandingannya.

Sorot mata Siau-in yang buram seketika bercahaya.

Sambil menggigit bibir Sian-ji berkata pula, “Kabarnya yang kau sukai adalah nona cilik, sedangkan aku sudah … sudah nenek-nenek.”

Jantung Siau-in terasa berdetak, katanya tanpa terasa, “Engkau sama sekali tidak tua.”

“Benar?!” Sian-ji menegas.

“Jika ada orang bilang engkau sudah tua, orang itu kalau bukan tolol tentulah buta,” ucap Siau-in sambil menunduk.

“Dan kau buta tidak? Tolol tidak?” tanya Sian-ji dengan senyum manis.

Tentu saja Liong Siau-in tidak buta, juga tidak tolol ….

Pada waktu Sian-ji meninggalkan dia, dirasakan juga sangat payah.

“Anak” ini ternyata bukan anak lagi, juga bukan orang buta, terlebih bukan anak tolol, tapi lebih tepat dikatakan orang gila.

Orang gila yang menakutkan! Sampai Sian-ji sendiri pun tidak pernah bertemu dengan orang gila semacam ini.

Tapi sinar matanya justru menampilkan semacam cahaya gembira. Betapa pun dia toh mendapatkan berita yang diharapkannya.

Terhadap lelaki, Sian-ji tidak pernah gagal, tidak peduli lelaki itu orang tolol atau gila.

Meski fajar sudah tiba, namun di dalam kamar seberang masih ada orang asyik minum arak. Terdengar seorang lagi berseru dengan tertawa, “Soal minum arak, kalau sudah mau minum, maka harus minum sampai pagi, minum sampai menggeletak.”

Mendengar ucapan ini, seketika Sian-ji teringat kepada satu orang.

Dia merasa seperti mendengar lagi suara batuk orang itu. Bila teringat kepada orang ini dia lantas benci.

Ia tahu biarpun setiap lelaki di dunia ini dapat ditaklukkannya, namun selamanya takkan mendapatkan orang itu. Dan sesuatu yang tidak bisa diperolehnya ia pun tidak ingin orang lain mendapatkannya.

Sambil mengertak gigi ia membatin, “Meski kuinginkan kematianmu, tapi sekarang belum dapat kubiarkan kau mati, terlebih tidak boleh membiarkan kau mati di tangan Siangkoan Kim-hong. Kalau kau mati, tentu di dunia ini tidak ada sesuatu yang dapat membuatnya gentar. Tapi pada satu hari akan kubikin kau mati di tanganku, mati dengan perlahan ….”

*****

Waktu A Fei mendusin, yang pertama terlihat olehnya adalah sebatang pedang.

Sebatang pedang yang aneh, sangat tipis, sangat enteng, tangkai pedang cuma digapit dengan potongan kayu yang lunak dan enteng. Di dunia ini hanya ada seorang yang mampu dan berani menggunakan pedang semacam ini.

Pedang ini terletak di atas meja pendek di samping tempat tidur, ditaruh bersama dengan seperangkat pakaian hijau yang bersih.

Seketika mencorong terang sinar mata A Fei.

Melihat pedang ini baginya serupa mendadak berjumpa kembali dengan sahabat yang sudah lama berpisah, darah panas serasa bergolak dalam rongga dadanya.

Perlahan ia menjulurkan tangan untuk memegang pedang itu, tangan pun terasa agak gemetar.

Tapi ketika tangannya menggenggam tangkai pedang yang istimewa itu, perasaannya lantas tenang dan mantap.

Perlahan ia meraba mata pedang, pandangannya serasa menuju jauh ke sana.

Teringat olehnya pada waktu pertama kali menggunakan pedang, terkenang ketika darah segar menetes dari ujung pedangnya, terpikir orang-orang yang mati di bawah pedangnya, orang-orang jahat.

Namun semua itu sudah lalu, sudah lama lalu. Ia sudah berjanji kepada orang yang dicintainya akan melupakan selamanya segala kejadian masa lampau.

Meski kehidupannya sekarang terasa hambar, cemplang, bahkan agak kesepian, tapi apa jeleknya kehidupan semacam ini, jika dapat hidup aman tenteram selama hidup bukankah memang menjadi harapan kebanyakan orang di dunia ini?

Tanpa suara tahu-tahu Lim Sian-ji sudah muncul di depan pintu.

Tampaknya dia agak lelah dan agak lesu, namun senyumnya tetap serupa bunga yang baru mekar, harum dan segar.

Apa pun pengorbanannya, asal setiap hari dapat melihat senyuman yang serupa bunga ini akan terasa mendapatkan ganti rugi segalanya.

Segera A Fei menaruh pedang dan menyapa, “Hari ini engkau bangun terlebih dini daripadaku, rasanya makin lama aku tambah malas.”

Sian-ji tidak menjawab perkataan ini, sebaliknya balas bertanya, “Kau suka pedang ini tidak?”

A Fei juga tidak menjawab, sebab ia tidak dapat bicara terus terang, juga tidak mau berdusta.

“Kau tahu pedang ini datang dari mana?” tanya Sian-ji pula.

“Tidak tahu,” jawab A Fei.

Perlahan Sian-ji mendekatinya dan berduduk di sampingnya, lalu berkata, “Semalam sengaja kusuruh orang menggemblengkan pedang ini bagimu.”

A Fei tampak terkejut, “Kau?!”

Sian-ji mengangkat pedang itu, ucapnya lembut, “Coba lihat, bukankah pedang ini serupa pedang yang kau pakai dahulu?”

A Fei diam saja.

“Engkau tidak suka?” tanya Sian-ji.

Sampai sekian lama baru A Fei bertanya, “Mengapa kau buatkan pedang ini bagiku?”

“Sebab kuingin kau gunakan pedang ini.”

“Kau … kau minta kubunuh orang?”

“Bukan membunuh, tapi menolong orang.”

“Menolong orang? Menolong siapa?”

“Menolong sahabatmu yang paling karib ….”

Belum habis ucapan Sian-ji ini, serentak A Fei melompat bangun dan berseru, “Sun-hoan?”

Sian-ji mengangguk tanpa bersuara.

Muka A Fei yang pucat seketika merah membara, “Di mana dia sekarang? Apa yang terjadi?”

Sian-ji menarik tangannya, katanya dengan lembut, “Duduklah dulu, dengarkan perlahan, urusan begini biarpun gelisah juga tiada gunanya.”

A Fei menarik napas panjang, akhirnya berduduk.

“Di dunia ini kecuali dirimu masih ada empat jago paling lihai, apakah kau tahu siapa mereka?” tanya Sian-ji.

“Coba katakan,” jawab A Fei.

“Orang pertama dengan sendirinya ialah Thian-ki Lojin, kedua ialah Siangkoan Kim-hong, dengan sendirinya Li Sun-hoan juga tidak kurang hebatnya daripada mereka.”

“Lalu siapa lagi yang seorang?”

“Orang ini bernama Hing Bu-bing,” tutur Sian-ji dengan gegetun. “Usianya paling muda tapi juga paling menakutkan.”

“Paling menakutkan?” A Fei menegas.

“Ya, sebab pada hakikatnya dia bukan manusia, tidak punya sifat manusia. Tujuan hidupnya hanya membunuh orang, kenikmatan hidupnya juga membunuh orang. Kecuali membunuh orang, dia tidak mau tahu apa pun, juga tidak ingin tahu.”

Gemerdep sinar mata A Fei, “Dia menggunakan senjata apa?”

“Pedang,” sahut Sian-ji sambil menaruh kembali pedang tadi.

Tanpa terasa A Fei memegang pedang itu dengan erat.

“Konon ilmu pedangnya sama cepatnya denganmu, juga sama ganasnya,” tutur Sian-ji.

“Aku tidak paham ilmu pedang segala, aku cuma paham cara menusuk leher musuh dengan pedang,” kata A Fei.

“Itulah ilmu pedang, ilmu pedang macam apa pun, tujuan yang terakhir juga begitu.”

“Maksudmu … maksudmu Li Sun-hoan sudah jatuh dalam cengkeraman orang itu?”

“Bukan cuma dia saja, juga ada Siangkoan Kim-hong,” tutur Sian-ji dengan menyesal. “Tapi mungkin Siangkoan Kim-hong tidak berada di sana, maka engkau cukup menghadapi dia seorang saja.”

Ia tidak memberi kesempatan bicara kepada A Fei, cepat ia menyambung pula, “Sebelum melihat orang ini tentu takkan tahu betapa menakutkan orang ini, mungkin pedangmu terlebih cepat daripadanya, tapi engkau kan manusia ….”

“Aku cuma ingin tahu orang ini sekarang berada di mana?” tanya A Fei sambil mengertak gigi.

Perlahan Sian-ji meraba tangannya dan berkata, “Mestinya aku tidak ingin engkau menggunakan pedang dan membunuh orang lagi, terlebih tidak ingin engkau menyerempet bahaya. Tapi demi Li-toako, tidak … tidak boleh tidak harus kubiarkan kau pergi menolongnya.”

A Fei memandangnya dengan sorot mata penuh rasa terima kasih.

Sian-ji lantas mencucurkan air mata pula dengan menunduk, katanya, “Dapat kuberi tahukan padamu cara bagaimana akan kau temukan dia, namun … namun kau pun harus menerima suatu syaratku.”

“Katakan saja,” pinta A Fei.

Sian-ji memegang tangannya dengan erat dan menatapnya dengan air mata berlinang, katanya, “Kuminta engkau berjanji pasti akan kembali lagi ke sini, akan kutunggumu selamanya ….”

*****

Sementara itu Liong Siau-in berduduk di sudut dalam kabin kereta yang sangat longgar dan sedang memandang seorang di depannya.

Orang ini berdiri tegak. Meski menumpang kereta orang ini tetap tidak mau duduk. Betapa keras guncangan kereta orang ini tetap berdiri tegak seperti tonggak.

Liong Siau-in tidak pernah melihat orang semacam ini, bahkan tidak pernah membayangkan di dunia ada orang seperti ini.

Biasanya ia merasa kebanyakan orang di dunia ini orang tolol belaka dan dapat dipermainkan olehnya, tapi entah mengapa, di depan orang ini diam-diam timbul rasa takutnya.

Tapi sekarang ia pun merasa senang, sebab apa yang dimintanya telah diterima oleh Siangkoan Kim-hong. Kartu undangan sudah disebarkan, sudah banyak orang yang menerimanya. Upacara angkat saudara ditetapkan pada tanggal satu bulan depan.

Sekarang Hing Bu-bing ikut pergi bersamanya, tidak perlu disangsikan lagi nasib Li Sun-hoan pasti akan mati. Tak terpikir olehnya siapa di dunia ini yang mampu menyelamatkan Li Sun-hoan.

Ia menghela napas lega dan memejamkan mata, terbayang olehnya seraut wajah yang cantik dan manis lagi berbaring dalam pangkuannya dan sedang berbisik padanya, “Engkau memang bukan anak kecil lagi, apa yang kau pahami jauh lebih banyak daripada orang lain. Sungguh aku tidak tahu dari mana kau belajar hal-hal begini?”

Berpikir sampai di sini, tanpa terasa tersembul senyuman pada wajah Liong Siau-in, senyuman mabuk.

Ada sementara urusan pada hakikatnya tidak perlu belajar, tiba saatnya, secara otomatis akan paham.

Ia merasa dirinya memang sudah dewasa.

Ada anak-anak yang berusaha berlagak sudah dewasa, sebaliknya ada orang tua yang sedapatnya berlagak seperti masih anak muda. Ini juga salah satu kekonyolan di antara sekian macam tingkah laku orang hidup.

Jika orang lain, berpikir sampai di sini tentu sudah mabuk dan lupa daratan, tentu tak mau berpikir lebih lanjut. Tapi Liong Siau-in justru berpikir lagi terlebih mendalam, “Sebab apa dia berbuat begini padaku. Jangan-jangan dia ingin mencari di mana beradanya Li Sun-hoan?”

Berpikir demikian, seketika benaknya banyak lebih sadar, “Sebab apa dia mencari tahu jejak Li Sun-hoan? Memangnya dia ingin menolong Li Sun-hoan?”

Dengan sendirinya hal ini tidak mungkin, sebab Siau-in juga tahu Sian-ji sangat benci kepada Li Sun-hoan, juga tahu Lim Sian-ji mengatur tipu daya keji agar Siangkoan Kim-hong dan Hing Bu-bing membunuh Li Sun-hoan.

“Habis apa maksud tujuannya?”

Ia tidak sanggup berpikir lagi, sebab sukar dimengerti.

Ia tidak tahu keadaan sekarang sudah berubah, dulu Lim Sian-ji memang bermaksud meminjam tangan Siangkoan Kim-hong untuk membunuh Li Sun-hoan, tapi sekarang keadaannya telah berubah terlebih gaib. Sebab bila Sian-ji ingin mempertahankan keseimbangannya dengan Siangkoan Kim-hong, dia tidak boleh membiarkan Li Sun-hoan dan A Fei mati.

Kalau tidak, maka Siangkoan Kim-hong yang akan menginjak di atas kepalanya, sebab Siangkoan Kim-hong sudah memberi suara dan maksudnya sudah cukup dipahaminya, yaitu, “Aku ialah aku, bukan Hing Bu-bing, juga bukan A Fei, di antara kita tidak lebih hanya saling memperalat saja, bilamana nilai saling memperalat ini sudah lenyap, maka ucapan terakhir ialah sampai bertemu pula!”

Apa yang terjadi dan perubahan di dunia Kangouw serupa juga hati orang perempuan, tidak mungkin dapat diraba oleh siapa pun.

Kereta besar itu akhirnya berhenti di pusat kota, di tempat yang paling ramai, berhenti di depan sebuah toko cita yang paling megah.

Memangnya Li Sun-hoan disekap di sini?

Liong Siau-hun ayah dan anak memang tidak malu sebagai tokoh lihai, mereka sangat paham pemeo yang mengatakan, “untuk persembunyian kecil boleh sembunyi di pegunungan, jika ingin bersembunyi besar harus sembunyi di tengah kota”. Mereka tahu tempat yang paling ramai justru paling mudah menghindari mata-telinga orang.

Begitulah Liong Siau-in lantas berbangkit dan berkata kepada Hing Bu-bing dengan tertawa, “Silakan!”

“Kau dulu,” jawab Bu-bing.

Sejauh ini baru sekarang ia bicara satu kalimat ini dengan anak itu.

Ia tidak mau berjalan di depan orang lain, tidak ingin orang menguntit di belakangnya.

Mereka terus melalui deretan barang dagangan di tengah sambutan hormat dan tertawa para pelayan dan kuasa toko kain itu. Di bagian belakang adalah gudang.

Apakah Li Sun-hoan dikurung di dalam gudang kain? Sungguh suatu tempat sembunyi yang bagus.

Tapi Liong Siau-in belum lagi berhenti dan terus masuk lebih jauh. Di belakang lagi adalah pintu belakang.

Di luar pintu belakang ternyata sudah menunggu sebuah kereta yang serupa.

Sekali ini Siau-in tidak bicara apa pun, ia memberi hormat kepada Hing Bu-bing, lalu naik ke atas kereta.

Kiranya Li Sun-hoan tidak disembunyikan di sini. Apa yang dilakukan Liong Siau-in ini hanya sebagai tabir belaka untuk menghindari penguntitan orang.

Cara berpikir ayah dan anak ini sungguh sangat cermat dan jauh lebih mendalam daripada siapa pun.

Begitu kereta membelok dari gang belakang itu, langsung terus dilarikan ke luar kota.

Kemudian kereta lantas berhenti di depan sebuah gudang beras, tapi gudang beras ini pun bukan tempat Li Sun-hoan dikurung.

Mereka berganti kereta lagi di pintu belakang gudang beras ini.

Kereta yang digunakan sekarang adalah sebuah gerobak yang biasa digunakan mengangkut beras ke dalam kota. Di tengah tumpukan karung beras ada tempat luang yang tiba cukup untuk berduduk dua orang.

“Maaf bikin susah?” kata Siau-in.

Namun satu kata pun Bu-bing tidak menanggapi.

Gerobak sapi itu menuju kembali ke tengah kota.

Nyata perencanaan mereka tidak saja cermat dan bergerak cepat, bahkan perubahan arah jalan juga di luar dugaan orang.

Cara bekerja mereka, sekalipun detektif paling jempolan juga sukar melacaki mereka.

Liong Siau-in juga tahu Hing Bu-bing pasti takkan memujinya, yang diharapkannya cukup wajah orang menampilkan setitik rasa memuji.

Seorang kalau sudah berbuat sesuatu yang bagus dan tidak mendapatkan pujian, rasanya akan serupa seorang perempuan menemui kekasihnya dengan baju baru kesayangan, tapi sang kekasih sama sekali tidak memandang bajunya.

Terlebih bagi Liong Siau-in, betapa pun dia masih anak kecil. Menurut pandangan orang lelaki, pikiran anak kecil dan orang perempuan terkadang memang tidak banyak berbeda.

Ternyata wajah Hing Bu-bing tetap kaku dan dingin tanpa perasaan setitik pun.

Akhirnya pedati itu memutar masuk ke sebuah jalan yang sepi, jalan ini cuma ada enam-tujuh rumah penduduk. Tapi penduduk di sini kalau bukan keluarga bangsawan pastilah pembesar negeri yang berkedudukan tinggi.

Ketika berada di jalan ini, sebuah pintu samping pada salah satu rumah itu mendadak terbuka. Langsung pedati itu dihalau ke dalam rumah.

Setiap orang di kota ini sama tahu rumah ini adalah tempat kediaman Han Lim-coan yang berpangkat menteri, rasanya orang Kangouw tidak mungkin ada hubungan dengan pembesar negeri setinggi ini.

Memangnya Li Sun-hoan di sembunyikan di sini? Rasanya tidak mungkin.

Tapi yang menyambut kedatangan pedati ini di undak-undakan ruangan tengah itu ternyata Liong Siau-hun adanya. Begitu Hing Bu-bing turun dari pedati segera Liong Siau-hun memapaknya.

“Sudah lama kudengar nama kebesaran Hing-siansing, sungguh sangat beruntung sekarang dapat bertemu,” demikian Siau-hun menyapa. “Soalnya perjalanan ini harus menghindari mata-telinga orang, sebab itulah tak dapat menyambut sepantasnya, harap dimaafkan.”

Mata Hing Bu-bing yang pucat kelabu itu hanya memandang tangan sendiri, melirik pun tidak terhadap Liong Siau-hun.

Namun Siau-hun tetap menyambutnya dengan tertawa, katanya, “Di ruangan sudah siap perjamuan selamat datang, harap Hing-siansing sudi minum barang dua cawan sekadar melepaskan lelah dalam perjalanan.”

Hing Bu-bing hanya berdiri tegak tanpa bergerak, ucapnya dengan dingin, “Apakah Sun-hoan berada di sini?”

“Tempat ini adalah tempat kediaman pribadi Han-tayjin, cuma belum lama mendadak Han-tayjin berangkat pesiar karena cuti dinas selama tiga bulan.”

Bicara sampai di sini tertampil rasa bangga pada wajah Liong Siau-hun, sambungnya, “Kebetulan kepala pengurus rumah tangga keluarga Han adalah sahabatku, sebab itulah dapat kupinjam pakai sementara rumah gedung ini.”

Hing Bu-bing masih memandang tangan sendiri, katanya tiba-tiba, “Kau kira tidak ada orang dapat menguntit ke sini?”

Air muka Liong Siau-hun berubah, tapi segera ia tertawa dan berkata, “Jika benar ada orang dapat menguntit ke sini, aku rela menyembah padanya sebagai tanda hormat dan kagumku padanya.”

“Baik, boleh kau siap menyembah padanya,” jengek Bu-bing.

” Jika ….” baru kata ini terucap, mendadak senyum Liong Siau-hun membeku.

Waktu Siau-in ikut memandang ke sana, wajahnya yang pucat seketika juga berubah hijau.

Ternyata di pojok ruangan sana telah berdiri satu orang.

Entah sejak kapan datangnya orang ini dan entah cara bagaimana datangnya.

Dia memakai baju hijau, mestinya baju baru, tapi sekarang sudah dekil, siku dan dengkulnya tampak lecet. Tubuhnya juga kotor, rambutnya semrawut.

Meski dia berdiri jauh di sana dapat juga dirasakan Liong Siau-hun rasa seramnya, sama seramnya serupa pedang yang terselip pada ikat pinggang orang itu sendiri.

Pedang yang tak bersarung.

Dia A Fei. Akhirnya muncul juga A Fei.

Di dunia ini mungkin cuma A Fei saja yang dapat menguntit sampai ke sini.

Binatang yang paling licin dan paling pintar menyembunyikan diri ialah rase atau musang.

Anjing pemburu yang paling cerdik dan sudah terlatih baik juga belum tentu mampu menemukan rase.

Perjalanan pemburuan ini jelas sangat sulit, makanya A Fei sedemikian kotor, bahkan terluka lecet.

Tapi juga cuma begini baru dapat memperlihatkan ketangkasan, keuletan dan sifat liarnya yang khas.

Dengan cepat Liong Siau-hun dapat menenangkan diri, segera ia menyapa dengan tertawa, “Aha, kiranya saudara A Fei, selamat bertemu!”

A Fei cuma memandangnya dengan dingin.

“Saudara ternyata benar dapat menguntit sampai di sini, sungguh mengagumkan,” kata Siau-hun pula.

A Fei tetap memandangnya dengan dingin, matanya bening, sinarnya tajam, setelah mengalami penguntitan dua hari ini, agaknya dia telah pulih kembali kepada ketangkasannya masa lampau.

Matanya sungguh sangat kontras dibandingkan mata Hing Bu-bing yang pucat kelabu.

Siau-hun tertawa dan berkata pula, “Cara menguntit saudara meski sangat tinggi, cuma sayang tetap diketahui oleh Hing-siansing ini.”

Pandangan A Fei beralih ke arah Hing Bu-bing. Bu-bing juga sedang menatapnya.

Ketika sinar mata kedua orang kebentrok, serupa sebilah pedang menusuk pada batu karang beribu tahun. Entah pedangnya lebih tajam atau batunya yang lebih keras.

Meski keduanya sama tidak bersuara, namun di antara sinar mata kedua orang seolah-olah memercikkan lelatu api.

Liong Siau-hun memandang Hing Bu-bing, lalu memandang A Fei pula, katanya, “Meski Hing-siansing sudah mengetahui penguntitanmu, tapi sejauh itu tidak diungkapkannya, apakah kau tahu apa sebabnya?”

Sinar mata A Fei agaknya telah tertarik oleh Hing Bu-bing dan sejak tadi tidak tergeser lagi sedetik pun.

Siau-hun tertawa pula dan menyambung perlahan, “Sebab Hing-siansing justru lagi berharap akan kedatanganmu.”

Lalu ia berpaling kepada Hing Bu-bing dan bertanya dengan tertawa, “Hing-siansing, apa yang kukatakan tidak salah, bukan?”

Agaknya sinar mata Hing Bu-bing juga tertarik oleh A Fei dan juga tidak tergeser sama sekali.

Selang agak lama, kembali Liong Siau-hun tergelak dan berkata, “Sebabnya Hing-siansing mengharapkan kedatanganmu memang ada alasannya, yaitu lantaran dia ingin membunuhmu.”

“Dan bilamana seorang akan dibunuh Hing-siansing, biasanya dia tidak dapat hidup lama lagi,” tukas Liong Siau-in.

Baru sekarang sinar mata A Fei beralih kepada pedang Hing Bu-bing dan pandangan Hing Bu-bing juga berpindah kepada pedang yang terselip di pinggang A Fei.

Mungkin inilah dua pedang yang paling serupa di dunia ini.

Kedua pedang ini bukan senjata wasiat, bukan gemblengan pandai besi terkenal. Meski kedua pedang ini sama tajamnya, tapi terlalu tipis, terlalu getas, mudah patah.

Meski kedua pedang serupa, namun cara menyelipkan pedang di tali pinggang tidak sama.

Pedang A Fei terselip di tengah tali pinggang dengan tangkai pedang menyerong ke kanan. Sebaliknya pedang Hing Bu-bing terselip di kanan tali pinggang dengan tangkai pedang menyerong ke kiri.

Begitu sinar mata kedua orang menatap pedang lawan, segera mereka melangkah maju sambil tetap menatap pedang masing-masing. Ketika jarak keduanya tinggal lima kaki, serentak keduanya berhenti. Lalu keduanya berdiri tegak seperti terpaku di situ.

Baju Hing Bu-bing cekak dan berwarna kuning, lengan baju sempit, jari tangan panjang kecil, namun ruas jarinya menonjol menandakan sangat kuat.

Baju A Fei terlebih cekak, lengan bajunya hampir seluruhnya terobek, punggung tangan juga pipih dan panjang, tapi juga sangat kasar serupa ampelas.

Keduanya tidak suka berdandan, namun kuku jari keduanya sama pendek. Rupanya keduanya sama-sama tidak suka gerak tangan melolos pedang akan teralang.

Mungkin mereka adalah dua orang di dunia ini yang paling sama dan akhirnya keduanya bertemu di sini. Tapi kalau diamat-amati dengan teliti akan kelihatan meski lahiriah kedua orang serupa, namun pada dasarnya tidak sama.

Wajah Hing Bu-bing selalu kaku dingin serupa memakai topeng, tidak pernah ada sesuatu perubahan pada air mukanya.

Air muka A Fei juga kaku dingin, tapi sinar matanya setiap saat dapat membara, sekalipun jiwa raganya akan terbakar seluruhnya juga tak dihiraukannya.

Dia sanggup menunggu, bisa bersabar, tapi tidak tahan menerima cercaan apa pun dari siapa pun.

Sebaliknya Hing Bu-bing dapat membunuh orang hanya karena satu patah kata saja, bahkan membunuh orang hanya karena sesuatu alasan. Tapi bila perlu ia sanggup menahan cercaan dan penasaran apa pun.

Sifat kedua orang ini sangat istimewa, dan juga sangat menakutkan, Thian menciptakan dua orang yang aneh ini dan justru membuat mereka bertemu di sini.

Suasana hening tegang, meski pedang kedua orang masih tetap terselip diikat pinggang masing-masing dan belum tersentuh jari, namun Liong Siau-hun ayah beranak merasa sangat tegang hingga menahan napas.

Sekonyong-konyong sinar tajam gemerdep, berpuluh bintik sinar perak mendesing menyambar ke arah A Fei.

Ternyata Liong Siau-hun sudah mendahului turun tangan. Dengan sendirinya ia tidak menaruh harapan senjata rahasianya akan dapat merobohkan A Fei, tapi bila A Fei sedikit meleng saja, pedang Hing Bu-bing tentu dapat menembus tenggorokannya.

Mendadak terdengar suara berdering, berpuluh bintik tajam itu sama rontok ke tanah.

Pedang Hing Bu-bing telah bekerja, ujung pedang mendenging di samping telinga A Fei, segera tangan A Fei juga sudah memegang tangkai pedang, tapi belum lagi terlolos dari ikat pinggang.

Ternyata senjata rahasia telah dipukul rontok seluruhnya oleh pedang Hing Bu-bing.

Air muka Liong Siau-hun berubah pucat.

Hing Bu-bing dan A Fei tetap saling tatap tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan. Kemudian Bu-bing menyelipkan kembali pedangnya pada tali pinggangnya.

Tangan A Fei juga lantas diturunkan kembali ke bawah.

Entah berapa lama lagi, mendadak Bu-bing berkata, “Kau pun dapat melihat pedangku hanya kugunakan menjatuhkan senjata rahasia dan bukan untuk menyerang dirimu?”

“Ya,” jawab A Fei.

“Dan engkau masih tetap sangat tenang,” kata Bu-bing pula.

Pada waktu terjadi hujan senjata rahasia dan pedang Hing Bu-bing dilolos, segera A Fei juga siap menarik pedangnya, namun sama sekali tidak tampak gugup.

Tanpa menunggu jawaban A Fei segera Bu-bing menyambung lagi, “Namun reaksimu sudah terlambat.”

A Fei termenung hingga lama, sorot matanya menampilkan setitik perasaan pedih, akhirnya berkata, “Ya!”

“Mestinya dapat kubunuhmu,” kata Bu-bing pula.

Kembali A Fei mengiakan.

Sampai di sini Liong Siau-hun ayah beranak saling pandang sekejap, diam-diam mereka menghela napas lega.

“Tapi tidak kubunuhmu!” tiba-tiba Bu-bing menambahkan pula.

Seketika air muka Liong Siau-hun berdua berubah lagi.

A Fei menatap sinar mata Hing Bu-bing yang buram itu, sampai sekian lama baru berucap, “Engkau tidak membunuhku?”

“Ya, tidak kubunuh dirimu karena engkau ialah A Fei!” ucap Bu-bing.

Sinar matanya yang buram itu mendadak menampilkan lagi semacam perasaan penderitaan yang sukar dilukiskan, sinar mata ini bahkan jauh lebih menderita daripada sinar mata A Fei sekarang.

Ia memandang jauh ke sana, di kejauhan seperti berdiri satu orang. Seorang yang terpadu dari bidadari dan iblis.

Selang sekian lama pula barulah dia berkata lagi, “Jika aku menjadi dirimu, hari ini dapatlah kau bunuh aku.”

Ucapan ini mungkin A Fei pun tidak paham apa artinya, hanya Hing Bu-bing sendiri yang mengerti.

Maklumlah, siapa pun juga bila menjalani dua tahun kehidupan serupa A Fei, reaksinya pasti juga akan berubah lamban. Apalagi setiap malam dia selalu dibius orang.

Setiap jenis obat bius apa pun akibatnya dapat membuat reaksi orang menjadi lamban.

Hing Bu-bing tidak membunuh A Fei bukan lantaran timbul rasa simpatinya melainkan karena dia sangat memahami penderitaan A Fei, sebab ia pun mengalami penderitaan yang serupa dengan A Fei.

Ia menghendaki A Fei tetap hidup, bisa jadi karena ingin A Fei menderita bersama dia.

Biasanya seorang yang patah hati bilamana mengetahui ada orang lain juga mengalami nasib yang sama, maka rasa pedihnya akan banyak berkurang. Sama halnya jika seorang pejudi melihat orang lain kalah terlebih banyak daripadanya, maka hatinya akan terasa agak terhibur.

A Fei berdiri kaku di tempatnya, seperti lagi merenungkan apa yang diucapkan Bu-bing tadi.

“Boleh kau pergi saja,” kata Bu-bing.

Mendadak A Fei mengangkat kepala dan berkata tegas, “Aku tidak mau pergi.”

“Tidak pergi? Kau minta kubunuhmu?”

“Ya,” jawab A Fei.

Bu-bing berpikir agak lama, katanya kemudian, “Karena Li Sun-hoan?”

“Ya, selama aku masih hidup tidak boleh kubiarkan dia mati di tanganmu.”

Mendadak Liong Siau-in menyela, “Dan bagaimana dengan Lim Sian-ji? Masa kau tega membiarkan dia tersiksa bagimu?”

Hati A Fei serupa tertusuk jarum sekali, dada mendadak seperti kejang.

Bu-bing tidak memandangnya lagi, ia berpaling dan mendekati Liong Siau-hun, ucapnya sekata demi sekata, “Aku suka membunuh orang, suka kulakukan sendiri, kau tahu bukan?”

“Ya, kutahu,” jawab Siau-hun sambil menyengir.

“Sebaiknya kau tahu, kalau tidak, dirimu yang akan kubunuh,” tanpa memandang Liong Siau-hun lagi Bu-bing berpaling pula dan berkata, “Li Sun-hoan berada di mana, bawa aku ke sana!”

Diam-diam Liong Siau-in melirik A Fei sekejap dan berkata, “Tapi dia ….”

“Setiap saat dapat kubunuh dia!” jengek Bu-bing.

A Fei merasa lambungnya berkejang dan mengencang, mendadak ia tertumpah-tumpah, tapi tiada sesuatu yang tertumpah kecuali air asam. Maklumlah, selama dua hari pada hakikatnya dia tidak makan sesuatu.

“Hendaknya engkau berjanji pasti akan kembali, akan kutunggu selamanya ….” inilah ucapan orang yang dicintainya.

Demi ucapan ini, betapa pun dia tidak boleh mati. Akan tetapi bagaimana dengan Li Sun-hoan?

Li Sun-hoan bukan cuma sahabatnya yang paling baik, juga orang yang berpribadi paling luhur yang pernah dijumpainya selama hidup ini. Dapatkah dia berdiri di sini dan menyaksikan orang lain membunuhnya?

Ia terus tumpah, akhirnya yang tertumpah adalah darah ….

*****

Pada hakikatnya Li Sun-hoan tidak tahu dirinya berada di mana, ia pun tidak ingin tahu, juga tidak dapat dibedakannya sekarang siang atau malam.

Bahkan ia pun tidak dapat bergerak sama sekali, sebab Hiat-to pada ruas tulang tertentu sudah tertutuk seluruhnya.

Tidak ada makanan, juga tidak ada air minum. Sudah belasan hari dia terkurung di sini.

Dalam keadaan demikian, sekalipun Hiat-to tidak tertutuk, lapar dan dahaga sudah cukup menyusutkan kekuatannya.

Pada saat begitulah Hing Bu-bing muncul dan memandangnya dengan dingin.

Sun-hoan meringkuk di pojokan serupa sebuah karung kosong.

Ruangan bawah tanah sangat gelap, tidak tertampak jelas air mukanya, hanya samar-samar kelihatan bajunya yang dekil dan compang-camping dan keadaannya yang kurus dan lemas serta sorot matanya yang penuh rasa duka dan putus asa.

“Inikah Li Sun-hoan?” mendadak Hing Bu-bing bersuara.

“Ya,” jawab Liong Siau-hun.

Hing Bu-bing seperti merasa kecewa, juga seperti tidak percaya, ia coba menegas lagi, “Inikah Li-tamhoa yang termasyhur itu?”

Siau-in tertawa dan menyela, “Biarpun ia singa jantan atau harimau garang, bila kelaparan belasan hari juga akan berubah menjadi begini.”

, ,

Leave a comment

Pendekar Budiman: Bagian 19

Pendekar Budiman: Bagian 19

Oleh Gu Long

 

“Baik, akan kutemui dia,” ucap Sian-ji lambat. “Jika dia berkeras tidak dapat melepaskan diriku, kan masih keburu kau bunuhku nanti.” Sesudah Sian-ji membalik ke sana barulah sorot mata Hing Bu-bing hinggap pada bayangan punggungnya, matanya yang pucat kelabu itu baru untuk pertama kalinya timbul perasaan. Perasaan apa? Gembira atau duka? Menyesal atau gemas? Mungkin dia sendiri tidak tahu. Di tengah hutan yang gelap sana tiada setitik cahaya apa pun. Meski Lim Sian-ji berjalan dengan sangat lambat tetap hampir menumbuk pada tubuh seorang. Orang ini berdiri di situ dengan tegak kuat serupa sebuah bukit, bukit es. Padahal perawakannya tidak terhitung terlalu tinggi besar, tapi tampaknya seperti sedemikian tingginya dan sukar dicapai. Mestinya Lim Sian-ji dapat menghindarinya dan lalu di sebelah orang, tapi hal ini tidak dilakukannya, sebaliknya ia terus menubruk ke dalam pangkuan orang. Tapi orang ini juga tidak memegangnya, ia tetap berdiri diam saja. Napas Sian-ji mendesah, ia berdiri tegak lagi, lalu berkata, “O, di sini sangat gelap …. Maaf ….” Jarak berdirinya dengan orang ini sedemikian dekat, ia yakin orang pasti dapat mencium bau napasnya, ia percaya bau napasnya pasti akan menggetar sukma setiap lelaki. Tapi orang ini lantas berkata dengan tenang, “Dapat kau bikin Hing Bu-bing tidak jadi membunuhmu, yang kau gunakan adalah cara ini?” Sian-ji berkedip, “Jadi engkaulah yang menyuruhnya membunuhku? Engkau ini Siangkoan-pangcu?” “Betul, dan dapat kuberi tahukan padamu, dengan caramu ini takkan mempan terhadap diriku,” kata orang ini. Dia bicara dengan hambar, tidak ketus, juga tidak seram, tanpa membawa sesuatu emosi, bicara apa pun dia serupa orang yang lagi membaca. Bola mata Sian-ji berputar, katanya kemudian, “Lantas dengan cara bagaimana supaya dapat kurayu dirimu?” “Engkau mempunyai cara apa saja boleh coba kau keluarkan seluruhnya,” kata orang itu, Siangkoan Kim-hong. “Ya, aku pun tahu engkau sangat sulit dibujuk rayu oleh orang perempuan, tapi mengapa engkau menyuruh Hing Bu-bing membunuhku?” “Orang yang setiap saat siap membunuh tidak boleh mempunyai perasaan, untuk melatih seorang yang sama sekali tak berperasaan tidaklah mudah, tidak boleh kubiarkan dia rusak di tanganmu.” Sian-ji tertawa, “Tapi jika engkau menyuruh dia membunuhku, engkau akan kehilangan terlebih besar.” “Oo?!” melengak juga Siangkoan Kim-hong. “Sebab aku pasti jauh lebih berguna daripada Hing Bu-bing.” “Oo?!” kembali Siangkoan Kim-hong bersuara heran. “Hing Bu-bing hanya dapat membunuh orang, aku pun dapat membunuh orang, dia membunuh dengan pedang, bahkan harus mengalirkan darah, cara ini sudah ketinggalan zaman, caraku membunuh orang bukan cuma tidak mengalirkan darah, bahkan juga tidak perlu menggunakan tenaga.” “Tapi paling sedikit caranya membunuh orang terlebih cepat daripadamu.” “Cepat memang bagus, tapi lambat juga ada kebaikannya, betul tidak?” Siangkoan Kim-hong termenung sejenak, “Kecuali dapat membunuh orang, engkau masih ada kebaikan apa lagi?” “Aku punya uang, harta kekayaanku hampir sukar dihitung jumlahnya dan dapat membuat gila orang.” “Ehm, kebaikan ini memang tidak kecil,” suara Siangkoan Kim-hong seperti merasa senang, sebab ia cukup mafhum manfaatnya uang. “Dengan sendirinya aku pun sangat pintar, dapat membantumu bekerja apa pun.” “Betul, engkau pasti sangat pintar, orang bodoh tidak mungkin mampu menguasai uang sebanyak itu.” “Selain itu, tentu saja aku masih mempunyai kebaikan lain ….” mendadak suaranya berubah lirih, “Asalkan engkau seorang lelaki, selekasnya engkau akan tahu apa yang kukatakan pasti tidak dusta. Asalkan kau mau, semua kebaikanku ini akan menjadi milikmu.” Siangkoan Kim-hong termenung lagi sejenak, akhirnya berucap sekata demi sekata, “Aku lelaki!” Di tengah hutan sudah mulai berkabut. Tubuh Hing Bu-bing sudah basah oleh air embun, tapi dia tetap berdiri di sana tanpa bergerak serupa patung. Kabut makin tebal sehingga apa pun tidak terlihat. Hanya suara yang terdengar. Tapi suara apakah itu? Keluhan? Atau desah napas. Terdengar pula suara tertawa Lim Sian-ji, katanya, “Engkau memang benar lelaki, tidak banyak lelaki serupa dirimu di dunia ini, sungguh aku tidak … tidak menyangka engkau lelaki demikian.” “Lantaran engkau seorang perempuan demikian, maka aku pun lelaki demikian,” kata Siangkoan Kim-hong. Suaranya tetap tenang dan datar, sungguh langka orang lelaki seperti dia. “Tapi fajar sudah hampir menyingsing, aku harus pulang.” “Sebab apa?” “Ada orang sedang menungguku.” “Siapa?” “A Fei,” sahut Sian-ji. “Tentu pernah kau dengar namanya.” “Aku cuma heran mengapa tidak kau bunuh dia, caramu membunuh orang sungguh lambat benar.” “Aku tidak boleh membunuh dia, juga tidak berani.” “Sebab apa?” tanya Siangkoan Kim-hong. “Sebab kalau kubunuh dia, tentu aku akan dibunuh Li Sun-hoan.” Mendadak Siangkoan Kim-hong tidak bicara lagi. Sian-ji menghela napas, “Kutahu engkau juga belum dapat membunuh Li Sun-hoan, kalau tidak tentu takkan kau suruh Hing Bu-bing untuk menghadapi Li Sun-hoan membunuhku. Kutahu akan kau gunakan Hing Bu-bing untuk menghadapi Li Sun-hoan, maka kau khawatir dia berubah menjadi lemah.” Siangkoan Kim-hong termenung agak lama, katanya kemudian, “Engkau sangat takut kepada Li Sun-hoan?” “Takut setengah mati.” “Bagaimana dia dibandingkan diriku?” “Dia jauh menakutkan daripadamu, sebab engkau masih dapat kurayu, tapi aku sama sekali tak berdaya terhadap dia.” Setelah menghela napas gegetun, Sian-ji menyambung pula, “Orang ini tidak menghendaki apa pun, inilah yang paling menakutkan.” “Dia juga manusia, kukira dia pasti juga ada titik lemah.” “Titik kelemahannya ialah Lim Si-im, tapi aku tidak berani menggunakan Lim Si-im untuk mengancamnya.” “Sebab apa?” “Sebab aku tidak yakin akan berhasil. Selama pisau masih terpegang di tangannya, berbuat apa pun aku ragu,” Sian-ji menghela napas panjang, “Maka, selama dia masih hidup, selama itu pula aku tidak berani bertindak.” “Jangan khawatir, hidupnya takkan lama lagi,” kata Siangkoan Kim-hong sesudah berpikir. ***** Kabut sudah mulai buyar. Hing Bu-bing masih berdiri tanpa bergerak di tempatnya, sorot matanya yang buram itu sedang memandang setitik air embun yang akan menetes dari tepi tudungnya yang lebar itu. Dia seperti tidak melihat Siangkoan Kim-hong muncul sendirian dari dalam hutan. Siangkoan Kim-hong juga tidak memandangnya, dengan langkah tidak lambat juga tidak cepat ia lalu di depannya, ucapnya dengan tak acuh, “Hari ini berkabut, sebentar lagi cuaca pasti cerah.” Hing Bu-bing terdiam sejenak, lalu berucap juga, “Ya, pasti cerah.” Akhirnya ia membalik tubuh dan mengikut di belakang Siangkoan Kim-hong dengan langkah tidak cepat juga tidak lambat, keduanya seperti berbaris dan akhirnya lenyap di tengah kabut pagi. ***** Jalan di kota ini sangat ramai, serupa pasar. Segala permainan dan barang terdapat di sini. Meski hari belum lagi tengah hari, namun di kedua tepi jalan sudah banyak terpasang tenda penjual macam-macam makanan, juga berbagai tontonan sedang menunggu penjaja dan langganannya. Berada di tempat begini, hati Ling-ling sungguh gembira sekali, betapa pun dia memang masih anak-anak. Bahwa Li Sun-hoan dapat membawanya pesiar ke tempat ramai seperti ini, sungguh sama sekali tak tersangka olehnya. “Kiranya dia juga masih berpikiran seperti anak-anak,” demikian ia membatin. Hampir ia tertawa geli ketika dilihatnya tangan Li Sun-hoan masih memegang setangkai permen yang baru dibelinya bersama beberapa macam jajanan lain. Anak perempuan umumnya memang suka jajan, banyak yang ingin dibelinya, terpaksa Li Sun-hoan membawakan baginya. Sun-hoan tidak memikirkan apa yang dilakukannya saat itu, sebab dia sedang memerhatikan satu orang. Sudah sekian lama orang ini diperhatikannya. Orang ini berjalan di depannya, punggungnya menyandang sebuah karung goni butut, kaki memakai kasut tua terbuat dari anyaman rumput, kepala memakai topi kain laken yang dekil, orang ini berjalan dengan menunduk seperti malu dilihat orang. Cara jalannya juga terbungkuk-bungkuk sampai leher pun seakan-akan tersembunyi, namun bahunya lebar, kalau dia berdiri tegak mungkin seorang lelaki yang kekar. Apa pun juga orang ini tidak istimewa, paling banyak dia cuma seorang pengelana Kangouw, bisa jadi cuma seorang pengemis. Tapi sekali melihat dia Li Sun-hoan lantas menaruh perhatian. Ke mana pun dia pergi, ke situ pula Sun-hoan menuju dan akhirnya sampai di jalan ramai ini. Anehnya, yang mengintil orang ini ternyata tidak cuma Li Sun-hoan saja. Semula Sun-hoan ingin melampaui orang itu untuk melihat mukanya, tapi tiba-tiba diketahuinya di belakangnya ada lagi yang diam-diam membuntuti si pengemis ini. Penguntit ini bertubuh sangat tinggi, langkahnya gesit, meski bajunya terbuat dari kain kasar biasa, namun sinar matanya gemerdep terang. Sekali pandang saja Sun-hoan lantas tahu penguntit ini pasti bukan orang biasa. Orang ini tidak memerhatikan Li Sun-hoan, sebab seluruh perhatiannya tertuju kepada si pengemis di depan. Bila pengemis itu berjalan cepat, ia pun melangkah dengan cepat. Kalau pengemis itu berhenti, segera ia pun berhenti dan berlagak berbuat sesuatu, namun matanya tidak pernah kendur mengawasi tingkah laku si pengemis. Tampaknya si jangkung ini memang seorang ahli pengintai. Orang semacam ini mengapa mengintai seorang pengemis? Sedapatnya Sun-hoan bersabar, entah untuk apa, tampaknya dia juga ingin tahu apa yang akan terjadi nanti. Memangnya ada sangkut paut apa antara dia dengan pengemis di depan itu? Sebaliknya si pengemis seperti sama sekali tidak tahu ada orang lagi membuntuti dia, ia tetap berjalan dengan terbungkuk-bungkuk dengan perlahan dan tidak pernah menoleh. Jika di tengah jalan ada orang memberi sedekah akan diterimanya, jika tidak ada ia pun tidak meminta. Bola mata Ling-ling terus berputar, mendadak ia menarik ujung baju Sun-hoan dan bertanya, “Apakah kita lagi mengikuti tukang minta-minta itu?” Nona cilik ini memang setan cerdik. Terpaksa Sun-hoan mengangguk, bisiknya, “Sst, kalau bicara jangan terlalu keras.” Ling-ling berkedip-kedip, katanya, “Siapa dia? Mengapa kau perlu membuntuti dia?” “Kukatakan juga kau tidak paham,” kata Sun-hoan. “Justru lantaran aku tidak paham, maka kutanya,” ujar Ling-ling. “Ayolah katakan, kalau tidak terpaksa kutanya dengan suara keras.” Sun-hoan menggeleng dengan menyengir, ucapnya, “Soalnya dia mirip seorang kawanku yang sudah sama berpisah.” “Kawanmu?” Ling-ling tambah heran. “Masakah kawanmu orang dari Kay-pang?” “Bukan,” kata Sun-hoan. “Habis siapa dia?” tanya si nona pula. “Biarpun kukatakan namanya juga tidak kau kenal,” ujar Sun-hoan dengan menarik muka. Mulut Ling-ling menjengkit, jelas ia kurang senang, setelah terdiam sejenak, akhirnya ia berkata lagi, “Di depan kita juga ada seorang lain sedang mengikuti pengemis itu, apakah kau tahu?” Sun-hoan tertawa, “Matamu cukup tajam juga.” Ling-ling juga tertawa, “Lantas siapakah orang itu? Apakah juga kawannya sahabatmu?” “Bukan,” jawab Sun-hoan. Bola mata Ling-ling berputar-putar lagi, “Bukan sahabatnya? Habis apakah musuhnya?” “Bisa jadi,” kata Sun-hoan. “Mengapa tidak kau beri tahukan padanya?” Sun-hoan menghela napas, “Watak kawanku sangat aneh, tidak suka menerima bantuan orang lain.” “Akan tetapi dia ….” belum lanjut ucapan Ling-ling, akhirnya ia tutup mulut, sebab dia harus sibuk menggunakan matanya untuk memandang ke sana, tampaknya dia menjadi terkesima. Jalan raya ini cukup panjang, mereka sudah berjalan sekian lamanya baru mencapai setengahnya. Saat itu si pengemis berada di depan tenda penjual pangsit. Tidak jauh dari tukang pangsit itu ada seorang membawa pikulan arak dan beberapa pembeli sedang berjongkok minum arak di depan penjualnya, satu di antaranya adalah seorang tukang nujum buta dengan wajah yang pucat. Pada seberang jalan sana berdiri seorang lelaki kekar berbaju hijau. Dan seorang penjual tahu goreng dengan pikulannya sedang menuju ke sini dari depan sana. Selain itu ada lagi seorang perempuan tinggi besar berdiri dengan menunduk lagi membeli benang di depan tukang kelontong, kebetulan sekarang dia mendongak sehingga kelihatan matanya yang buta sebelah. Si pengemis tadi baru sampai di sini, mendadak si penjual arak meninggalkan pikulannya dan si buta yang asyik minum arak juga lantas berdiri. Lelaki berbaju hijau tinggi besar juga lantas melompat maju, serentak perempuan bermata satu juga membalik tubuh sehingga pikulan si tukang kelontong tersaruk roboh. Ketambahan lagi si jangkung yang sejak tadi mengintil di belakangnya, beberapa orang ini serentak merubung ke arah si pengemis dari berbaju penjuru. Kebetulan tempat taruh pikulan si penjual tahu goreng juga mengadang di depan jalan pergi si pengemis. Meski di jalan banyak orang lain yang berlalu-lalang, tapi perbuatan beberapa orang ini tentu saja menarik perhatian khalayak ramai. Sampai Ling-ling juga dapat melihat gelagat yang tidak beres ini, tentu saja air muka Li Sun-hoan juga berubah. Sejak mula ia merasa si pengemis ini sangat mirip si berewok Thi Toan-kah, sekarang dia tidak sangsi lagi. Tapi dia tidak berani sembarangan bertindak, sebab ia tahu antara beberapa orang ini ada permusuhan mendalam dengan Thi Toan-kah, apa yang mereka lakukan ini pasti sudah lama direncanakan dengan rapi dan pasti takkan memberi kesempatan melarikan diri bagi Thi Toan-kah. Bilamana ada orang bermaksud menolong Thi Toan-kah bukan mustahil serentak mereka akan membunuhnya lebih dulu tanpa menghiraukan apa yang bakal terjadi. Bagi Li Sun-hoan akan lebih baik ia sendiri yang mati daripada membikin susah Thi Toan-kah. Selama hidup Sun-hoan hanya utang budi kepada beberapa orang saja, dan satu di antaranya ialah si berewok Thi Toan-kah. Betapa pun dia tidak mau kehilangan seorang sahabat seperti Thi Toan-kah. Dalam sekejap itulah si pengemis alias Thi Toan-kah sudah terkepung oleh beberapa orang itu. Sinar tajam berkelebat, senjata telah mengancam di depan dan di belakang tubuhnya. Baru sekarang khalayak ramai menyadari apa yang terjadi, mereka menjadi panik dan sama menyingkir. Siapa pun tidak ingin terlibat dalam permusuhan dan bunuh-membunuh orang Kangouw ini. Terdengar si buta tukang nujum berkata dengan ketus, “Perlahan ikut bersama kami, satu kata pun tidak perlu bicara, tahu!” Si lelaki berbaju hijau membentak dengan beringas, “Jika ingin hidup agak lama sedikit harus kau tunduk kepada perintah kami, jika berani bertingkah, segera kami binasakan dirimu.” Reaksi pengemis itu tampak lamban sekali, baru sekarang kelihatan dia mengangguk. Si perempuan buta sebelah lantas mendorong pundaknya dan membentak, “Lekas jalan, tunggu apa lagi?” Mendingan dia tidak mendorong, sekali dorong, beberapa orang ini seketika melenggong. Topi laken yang dipakai si pengemis terguncang jatuh ke tanah sehingga kelihatan wajahnya. Wajah yang pucat kuning serupa orang yang baru sakit parah, di tengah wajah yang kuning itu sebuah hidung besar merah dengan mulut tertawa lebar terhadap beberapa orang itu. Mana bisa Thi Toan-kah berbentuk seperti ini, orang ini lebih tepat adalah seorang sinting. Hampir saja Sun-hoan tertawa geli. Tubuh si perempuan buta sebelah sampai gemetar saking gemasnya, teriaknya, “Longo (kelima), bagai … bagaimana bisa jadi begini?” Si jangkung tadi tampak pucat, sahutnya gemetar, “Jelas-jelas dia Thi Toan-kah dari kukuntit terus-menerus, mana bisa … mana bisa berubah.” Dengan mendongkol si lelaki baju hijau mengentak kaki, mendadak telapak tangannya membalik, muka si pengemis digamparnya sekali dengan keras sambil meraung, “Keparat, siapa kau? Sesungguhnya siapa kau?” Pengemis itu meraba mukanya yang kesakitan, tapi tetap cengar-cengir, jawabnya, “Aku ialah aku, engkau ialah engkau, kenapa kau pukul aku?” Si penjual arak berkata, “Mungkin keparat ini samaran Thi Toan-kah, coba kupas dulu kulit mukanya.” Tiba-tiba si buta tukang nujum menukas, “Tidak perlu, orang ini pasti bukan Thi Toan-kah.” Sampai sekarang air mukanya yang tetap dingin tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan. “Jiko dapat mengenali suaranya?” tanya si lelaki baju hijau. “Jika Thi Toan-kah, mati pun dia tidak sudi kau pukul tanpa membalas,” kata si buta. Lalu ia tanya si jangkung dengan menarik muka, “Longo, coba renung lagi, sesungguhnya apa yang terjadi?” Wajah si jangkung sebentar pucat sebentar merah, katanya kemudian, “Orang ini pasti sekomplotan dengan Thi Toan-kah dan sengaja mengelabui penguntitanku, kita terpancing menguntitnya ke sini, tapi diam-diam orang she Thi itu sudah kabur.” “Cara bagaimana kau bekerja, masakah sampai kena dikibuli?” omel si perempuan buta sebelah itu. Si jangkung menunduk, jawabnya tergegap, “Mungkin … mungkin pada waktu dia masuk kakus dan aku … aku tidak dapat ….” Seketika si lelaki baju hijau meraung murka, “Kiranya kau ini sekomplotan dengan orang she Thi, biar kubinasakan kau!” Segera ia sambar bambu pikulan tahu terus mengemplang kepala si pengemis. Keadaan sudah mendesak, mau tak mau Sun-hoan harus turun tangan. Apakah pengemis itu sinting benar atau tidak dan sahabat Thi Toan-kah atau bukan, paling tidak dia memang sudah membantu Thi Toan-kah, tidak boleh Sun-hoan menyaksikan dia dipukul mati orang. Apalagi untuk mencari berita tentang Thi Toan-kah juga memerlukan jasa orang ini. Segera tubuh Sun-hoan meluncur ke depan. Tapi baru bergerak satu langkah serentak ia tarik kembali lagi. Gerak meluncur dan menarik kembali ini boleh dikatakan dilakukan dalam sekejap dan secepat kilat sehingga sama sekali tidak dilihat orang lain. Soalnya dia tidak perlu turun tangan lagi. Terdengar suara “krek” sekali, pikulan yang dihantamkan si baju hitam itu mendadak patah menjadi dua, dan karena pukulannya mengenai tempat kosong, si baju hijau sendiri hampir terjerembap ke depan malah. Siapa pun tidak tahu jelas barang apakah yang telah mematahkan pikulan bambu itu, air muka orang-orang itu sama berubah dan tanpa terasa sama menyurut mundur satu langkah, beramai-ramai juga lantas membentak, “Siapa yang berani turut campur urusan?” “Aku!” jawab seorang dengan tak acuh di bawah emper rumah sana. Waktu semua orang memandang ke arah suara itu baru diketahui yang bicara ialah seorang berbaju putih dan berperawakan tinggi tegap, lagi berdiri di sana dengan menggendong tangan di punggung dan sedang menikmati sebarisan sangkar burung yang bergantungan di bawah emper. Burung di dalam sangkar asyik berkicau merdu, agaknya si baju putih merasa burung di dalam sangkar terlebih menyenangkan daripada manusia sehingga sama sekali dia tidak melirik ke arah orang Kangouw yang saling bermusuhan ini. Ujung matanya tampak sudah berkerut, namun mata alisnya indah, mukanya putih, dipandang dari jauh serupa seorang kongcu (putra hartawan atau bangsawan) yang ganteng, siapa pun sukar menerka usianya. “Kiranya kau keparat ini yang mematahkan pikulanku?” si baju hijau tadi meraung gusar. Sekali ini si baju putih sama sekali tidak bersuara. Serentak si baju hijau, si perempuan buta sebelah, dan si penjual arak sama membentak gusar dan seperti bermaksud menerjang ke sana. Tapi mendadak si buta tukang nujum membentak perlahan, “Jangan!” Lalu ia jemput sepotong perak dari tanah dan menjengek, “Kongcu ini memang telah mematahkan pikulanmu, tapi dengan sepotong uang perak ini, mau beli seratus buah pikulan juga jauh daripada cukup. Seharusnya engkau berterima kasih kepadanya, mengapa malah bersikap kasar?” Si baju hijau memandang pikulan patah yang masih dipegangnya dan memandang pula lantakan perak yang dipegang si buta, dia seperti tidak percaya si baju putih yang kelihatan lemah dan halus itu dapat mematahkan pikulannya dengan sepotong perak itu. Mendadak si baju putih menengadah dan bergelak tertawa, “Haha, bagus! Tak tersangka matamu yang buta ini terlebih awas daripada mata orang lain. Maka sepotong perak itu boleh untukmu.” Si buta tukang nujum tetap tenang saja, jengeknya, “Biarpun mataku buta tapi hatiku tidak buta dan tidak berani berbuat sesuatu yang melanggar hati nurani.” Ia meremas-remas lantakan perak itu sambil bergumam, “Harga pikulan paling mahal cuma satu duit saja, sedangkan sepotong perak ini sedikitnya ada 10 tahil beratnya, umpama Kongcu ingin memberi ganti rugi juga tidak perlu membayar sebanyak ini.” Sembari bicara, lantakan perak yang diremasnya telah dipelintir menjadi sebatang toya perak, waktu ditekuknya, patahlah sepotong kecil, lalu katanya pula, “Nah, kuterima dengan baik sekadar ganti rugi ini, selebihnya kukembalikan kepada pemiliknya.” Segera tangannya bergerak, sinar perak berkelebat, toya pandak itu menyambar si baju putih, sekaligus mengarah beberapa hiat-to di depan dada si baju putih. Jurus yang digunakannya ternyata ilmu pedang Bu-tong-pay yang lihai, yaitu Liang-gi-kiam-hoat. Ketika toya perak itu menyambar tiba barulah si baju putih mendadak menjulurkan dua jari, sekali ujung toya terjepit, serupa buatan baja saja jarinya, hanya digunting begitu saja toya perak itu lantas terpotong sebagian. Lalu katanya dengan hambar, “Ilmu pedangmu lumayan juga, cuma sayang terlalu lambat.” Sembari bicara jari tangannya terus bekerja juga, setiap kali omong satu kata, setiap kali pula toya perak itu tergunting sepotong dan terbitlah suara gemerencing, dalam sekejap belasan potong gundu perak telah berserakan di tanah. Ling-ling menyaksikan kejadian itu dari jauh, tanpa terasa ia pun menarik napas dingin, ucapnya, “Tangan orang ini mustahil terdiri dari darah dan daging!” Muka semua orang sama pucat melihat toya yang dipegang si buta tersisa sepotong kecil saja, semuanya tak sanggup bicara lagi. Tangan si baju putih tergendong lagi di punggung, katanya dingin, “Uang sudah kuberikan dan itu berarti sudah milikmu, kenapa tidak lekas kau jemput?” Muka si buta berubah pucat pasi, mendadak ia berjongkok dan memunguti biji perak itu satu per satu, tanpa bicara lalu tinggal pergi. Dengan kepala tertunduk si baju hijau, si perempuan buta sebelah, dan lain-lain sama ikut pergi di belakang si tukang nujum. “Huh, waktu datang garangnya bukan main, ketika pergi seperti jago sudah keok, namun orang-orang ini masih harus dipuji juga sebagai kesatria yang dapat melihat gelagat,” demikian diam-diam Ling-ling menertawakan orang. Sun-hoan berpikir sejenak, katanya tiba-tiba, “Kau lihat di depan sana ada tenda penjual pangsit, bukan?” “Ya, sudah kulihat sejak tadi dan ingin kuisi perut ke sana,” jawab Ling-ling dengan tertawa. “Baik, boleh kau tunggu saja di sana,” kata Sun-hoan. Ling-ling tercengang, “Hendak kau susul tukang minta-minta itu?” Sementara itu si pengemis telah merangkak bangun dan sedang menuju ke depan sana dengan menyengir, tidak berterima kasih kepada si baju putih, juga tidak menghiraukan orang lain lagi. Apa yang baru terjadi seperti tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Sun-hoan mengangguk, “Ya, ada urusan hendak kutanyai dia.” Mata Ling-ling menjadi merah, ucapnya dengan menunduk, “Tidak dapat kuikut bersamamu?” “Tidak,” kata Sun-hoan. Ling-ling seperti mau menangis, “Kutahu, sengaja hendak kau tinggalkan diriku.” “Tidak, jangan khawatir, aku pun ingin makan pangsit, masa tidak kembali lagi?” ujar Sun-hoan. “Baik, kupercaya padamu,” kata Ling-ling sambil menggigit bibir. “Bila engkau dusta padaku, akan kutunggu dirimu di situ selama hidup.” Cara berjalan si pengemis tadi tidak cepat, Sun-hoan juga tidak terburu-buru menyusulnya, maklumlah, orang yang berlalu-lalang di jalan ini sangat ramai. Di tengah keramaian tentu tidak leluasa untuk bicara, apalagi diketahui Sun-hoan bahwa si baju putih juga sedang memerhatikan padanya, seperti mendadak dirasakan dia terlebih menarik daripada burung. Sebenarnya Sun-hoan juga sangat ingin melihat jelas muka si baju putih, kungfunya menggunting “toya perak” dengan tenaga jari itu sungguh sangat menarik baginya. Maklumlah, tokoh kelas tinggi seperti dia tidak banyak lagi di dunia persilatan. Padahal Sun-hoan memang tidak tahu siapa pula di dunia ini yang mempunyai tenaga jari sakti seperti si baju putih, rasanya pujian Ling-ling kepadanya tadi tidak berlebihan, yaitu jarinya tidak terbuat dari darah dan daging. Setiap orang yang berlatih ilmu silat, bila bertemu dengan jago yang menguasai semacam kungfu hebat, biasanya kalau tidak berusaha menantangnya untuk bertanding tentu juga ingin bersahabat dengan dia. Pada hari-hari biasa Li Sun-hoan tentu juga tidak terkecuali, tapi sekarang dia tidak punya hasrat demikian, sebab sudah sekian lama dia mencari Thi Toan-kah dan tidak pernah mendapat kabar beritanya, kesempatan sekarang tidak boleh disia-siakannya. Dalam pada itu si baju putih lantas mendekati Sun-hoan malah dan tampaknya hendak merintangi jalan perginya. Untung khalayak ramai yang menyingkir tadi sekarang lantas berkerumun pula karena sama ingin melihat kegagahan si baju putih. Kesempatan ini segera digunakan Li Sun-hoan untuk menyelinap lewat di tengah orang banyak. Tapi waktu ia memandang ke depan, si pengemis tadi sudah sampai di ujung jalan sana dan membelok ke kiri. Jalan di sebelah kiri tidak panjang, juga sepi. Waktu Sun-hoan memburu ke sana, si pengemis telah menghilang, meski jalan ini sudah dilalui dan membelok lagi ke jalan lain, bayangan si pengemis tetap tidak terlihat. Sedapatnya Sun-hoan bersabar dan mencarinya. Perlahan ia menuju ke depan menyusur kaki dinding. Jalan ini sangat sepi, kedua tepi hampir seluruhnya adalah pinta belakang rumah penduduk. Di dalam salah sebuah pintu kecil sana tiba-tiba terlihat berjongkok seorang, entah barang apa yang dipegangnya, barang itu sedang digosok-gosok dengan ujung bajunya yang dekil. Belum lihat jelas orangnya Sun-hoan sudah dapat melihat topi laken orang. Kiranya si pengemis tadi bersembunyi di sini, memangnya apa yang sedang dilakukannya? Sun-hoan tidak ingin mengejutkan orang, perlahan ia mendekatinya. Walaupun begitu si pengemis tetap terkejut, cepat ia menyembunyikan barang yang dipegangnya ke belakang punggung. Akan tetapi mata Li Sun-hoan terlebih cepat daripada tangan orang, sekilas pandang sudah dapat dilihatnya barang yang dipegang orang adalah sepotong perak, jelas serupa potongan perak yang digunting oleh jari si baju putih tadi, cuma sekarang tampak mengilat karena habis digosok. “Sahabat ini she apa?” Sun-hoan coba menyapa dengan tertawa. Si pengemis memandangnya dengan melenggong, jawabnya kemudian, “Aku bukan sahabatmu, kau pun bukan sahabatku, aku tidak kenal padamu, kau pun tidak kenal diriku.” Sun-hoan tetap tersenyum, “Ingin kucari kabar seorang padamu, engkau pasti kenal orang itu.” “Aku tidak kenal siapa pun, orang lain juga tidak kenal diriku, tidak kenal, tidak kenal!” kata pengemis itu sambil menggeleng. Orang ini memang benar kurang waras, jelas cuma satu kalimat yang sederhana selalu diucapkannya secara berulang dan bolak-balik, bahkan waktu bicara mulutnya serupa tersumbat sebiji telur sehingga kata-katanya kurang terang. Selagi Sun-hoan hendak bertanya lagi dengan cara lain, mendadak pengemis itu menerobos lewat di bawah ketiak Sun-hoan terus kabur. Larinya cukup cepat, tapi kelihatan bukan orang yang menguasai ginkang. Setiap pengemis di dunia ini umumnya dapat lari dengan cepat, agaknya hal ini sudah merupakan satu-satunya kepandaian khas kaum pengemis. Namun lari Li Sun-hoan tentu saja terlebih cepat daripada dia. Sembari berlari pengemis itu berseru dengan napas terengah, “Hei, kau mau apa? Hendak merampas uangku?” Sun-hoan tertawa, mendadak tangan terjulur, benar-benar ia merampas perak yang dipegang orang. Kontan pengemis itu berteriak, “Tolong, tolong! Uangku dirampok! Tolong!” Untung jalan ini sangat sepi dan tiada bayangan orang lain, kalau tidak, tentu Sun-hoan bisa runyam. Coba, jika uang seorang pengemis saja dirampasnya, lantas terhitung rampok macam apa, bukankah akan dianggap sebagai rampok kelas kambing? Si pengemis berteriak terlebih keras, “Kembalikan uangku, kembalikan! Kalau tidak biar kuadu jiwa denganmu!” “Asalkan kau jawab beberapa kata pertanyaanku segera kukembalikan uangmu, bahkan kutambahi jumlah lebih banyak,” kata Sun-hoan. Pengemis itu berkedip-kedip dengan sangsi, setelah menimbang dan mengingat, akhirnya memutuskan, “Baiklah, kau ingin tanya apa?” “Apakah engkau ini kawan Thi Toan-kah?” tanya Sun-hoan. Si pengemis menggeleng. “Aku tidak punya kawan …. Tukang minta-minta tidak ada yang punya kawan.” “Jika begitu, mengapa kau bantu dia?” Makin gencar si pengemis menggeleng kepala, “Tidak, aku tidak membantu siapa-siapa, siapa pun tidak membantuku.” Sun-hoan berpikir sejenak, lalu bertanya pula, “Masa hari ini tidak kau lihat seorang lelaki tinggi besar, berkulit badan hitam, dan muka penuh berewok?” Pengemis itu mengingat-ingat sekian lama, katanya kemudian, “Ya, rasanya seperti melihat satu.” “Di mana kau lihat dia?” “Di kakus?” “Benar di kakus?” “Ya, waktu aku lagi berak di sebuah kakus umum, mendadak bocah itu menerobos masuk dan tanya padaku apakah mau diberi uang untuk minum arak.” “Setiap orang tentu ingin minum arak,” ujar Sun-hoan dengan tertawa. “Tapi kulihat baju bocah itu sendiri compang-camping, mana mungkin dia punya duit.” “Semakin kaya seorang semakin suka berlagak miskin, masa dalil ini tidak kau ketahui?” “Ya, betul juga,” si pengemis tertawa. “Bocah itu ternyata membawa uang perak dan diperlihatkan kepadaku. Segera kutanya cara bagaimana supaya dapat kuperoleh uang peraknya.” “Apa yang dikatakannya?” tanya Sun-hoan. “Semula kusangka dia minta kukerjakan sesuatu yang sulit, siapa tahu dia cuma minta bertukar baju denganku, habis itu menyuruhku lari keluar dengan kepala menunduk.” “Wah, gampang sekali caramu mendapatkan uang perak itu,” ucap Sun-hoan dengan tertawa. Sekali ini ia tertawa gembira, orang berwatak keras serupa Thi Toan-kah sekarang juga mampu menggunakan akal melepaskan diri dari intaian musuh, sungguh hal ini patut dibuat gembira. Tertawa si pengemis juga tidak kurang gembiranya, katanya, “Ya, kukira bocah itu pasti sinting.” “Aku juga akan meniru penyakit orang itu, uangku juga cukup banyak untuk kuberikan padamu,” kata Sun-hoan dengan tertawa. “Oo, betul?” si pengemis melotot. Segera Sun-hoan mengeluarkan segenap uang perak yang berada padanya, inilah sisa perbekalannya ketika dia berpisah dengan Thi Toan-kah dahulu. Terkesima juga si pengemis memandangi perak yang dipegang Sun-hoan. Dengan tersenyum Sun-hoan berkata, “Asalkan kau bawa diriku menemui bocah sinting itu, segera kuberikan seluruh uang perak ini kepadamu.” Tanpa ayal pengemis itu menjawab, “Baik, tapi harus kau serahkan dulu uangmu padaku.” Segera Sun-hoan menyodorkan uang peraknya dengan kedua tangan. Asalkan dapat menemukan Thi Toan-kah, biarpun hatinya harus dikorek juga dia rela. Si pengemis tertawa senang hingga air liurnya hampir menitik, dengan sibuk ia memasukkan uang perak ke dalam baju dan berkata dengan tertawa, “Kukira uangmu ini pasti hasil curian, kalau tidak masakah begitu gampang saja kau berikan kepada orang?” Pada waktu dia menerima uang perak itu, dengan sendirinya tangan harus menyentuh tangan. Maka begitu tangannya menyentuh tangan Li Sun-hoan, mendadak ia terus mencengkeram dan menelikung …. Seketika Li Sun-hoan merasakan pergelangan tangannya seperti kena dibelenggu, menyusul tubuhnya lantas terangkat. Gerak tangan si pengemis sungguh cepat luar biasa, sekali cengkeram dan sekali menelikung itu, dalam dua gerakan itu ternyata mengandung empat macam kungfu yang paling menakutkan, meliputi kungfu mencengkeram dan menangkap dari Bu-tong-pay dan Siau-lim-pay, juga pakai gaya membanting cara orang Mongol serta daya lengket dari ahli lwekang yang ampuh, sekali tersentuh jangan harap akan mampu terlepas lagi. Keempat jenis kungfu ini tidak mudah dipelajari, untuk belajar salah semacam kungfu itu juga diperlukan latihan belasan tahun lamanya. Tapi pengemis ini justru sekaligus menguasai keempat macam kungfu itu dengan lihai dan sempurna. Biarpun Sun-hoan dapat mengetahui orang pasti bukan orang biasa juga tak terduga dia adalah tokoh selihai ini dan juga tidak mengira orang akan menyergapnya. Sungguh selama hidup Li Sun-hoan tidak pernah kecundang seperti sekarang. Begitulah Sun-hoan terbanting di tanah serupa ikan mampus, begitu keras bantingan orang sehingga membuat matanya berkunang-kunang dan hampir kelengar. Ketika kunang-kunang matanya sudah mulai buyar, dilihatnya wajah si pengemis berada di depan matanya, orang sedang berjongkok di sampingnya dengan sebelah tangan mencekik lehernya sambil memandangnya dengan tertawa. “Sesungguhnya siapakah orang ini? Mengapa aku disergapnya? Memangnya sebelumnya dia sudah mengenali diriku? Ada hubungan apa antara dia dengan Thi Toan-kah?” Begitulah serentetan tanda tanya timbul dalam benak Li Sun-hoan, tapi tiada satu pasal pun ditanyakannya. Dalam keadaan begitu ia merasa akan lebih baik bila dirinya tutup mulut saja. Sebaliknya si pengemis lantas buka mulut dengan cengar-cengir ia tanya, “Kenapa engkau tidak bicara?” Sun-hoan meringis, “Jika lehermu dicekik orang, apa yang dapat kau katakan padanya?” “Jika ada orang menyergap dan mencekik leherku, pasti akan kucaci maki nenek moyangnya 18 keturunan!” kata si pengemis. “Mataku tidak buta, tapi tidak dapat kuketahui Anda ini seorang jago kelas tinggi dengan kungfu mahalihai, jika mau memaki, tentu diriku sendiri yang harus dimaki,” ujar Sun-hoan. Pengemis itu tertawa, katanya sambil menggeleng, “Engkau ini ternyata benar seorang aneh, orang aneh semacam dirimu belum pernah kulihat ….” Sampai di sini mendadak ia berteriak, “Orang ini bukan saja seorang kuncu (gentleman), bahkan juga seorang baik, mana kutahan terhadap orang semacam ini, ayolah lekas kalian keluar, kalau tidak terpaksa aku angkat tangan saja.” Rupanya pengemis ini masih mempunyai begundal lain. Sungguh Sun-hoan tidak dapat menerka siapakah begundalnya. Terdengarlah suara keriut pintu dibuka, dari balik sebuah pintu kecil di samping sana segera muncul enam-tujuh orang. Melihat beberapa orang ini Li Sun-hoan benar-benar terkejut. Betapa pun tak terpikir olehnya bahwa beberapa orang ini adalah komplotan si pengemis. Kiranya dari awal hingga akhir apa yang terjadi ini cuma sebuah perangkap yang teratur dengan rapi. Orang pertama yang muncul dari balik pintu kecil itu adalah si buta tukang nujum. Menyusul lantas si perempuan buta sebelah, lalu si lelaki berbaju hijau, si penjual tahu goreng, dan seterusnya. Sun-hoan menghela napas, katanya sambil menyengir, “Sungguh akal bagus, kagum, kagum sekali!” Air muka si buta tetap tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ucapnya dengan dingin, “Ah, mana, biasa!” “Kiranya kejadian ini pada hakikatnya sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Thi Toan-kah,” kata Sun-hoan pula. “Sangkut pautnya sih ada, cuma ….” Belum lanjut ucapan si buta, segera si pengemis memotong, “Cuma aku tidak pernah melihat Thi Toan-kah, juga tidak tahu dia orang macam apa. Sandiwara yang kumainkan bersama mereka tadi seluruhnya hanya untuk diperlihatkan padamu.” “Ehm, memang permainan sandiwara yang bagus,” kata Sun-hoan. “Jika permainannya tidak bagus, mana bisa Li-tamhoa sampai terjebak,” tukas si buta. “O, kiranya bukan saja kalian sudah mengetahui siapa diriku, bahkan jauh sebelumnya jejakku sudah kalian lihat,” ucap Sun-hoan. “Ya, sebelum Anda masuk kota ini sudah ada orang yang melihat dirimu,” tutur si buta. “Dari mana kalian kenal diriku?” tanya Sun-hoan. “Meski kami tidak kenal padamu, tapi ada orang yang mengenalimu.” “Jika kalian tidak kenal diriku, mengapa kalian bertindak demikian padaku?” “Semua ini justru lantaran Thi Toan-kah,” kata si buta. Mukanya yang kaku dingin itu tiba-tiba menampilkan perasaan dendam dan benci, sambungnya, “Kami sudah rindu kepadanya, cuma sayang sukar menemukan dia, tapi bilamana ia tahu Li-tamhoa sekarang berada bersama kami, tentu dari tempat jauh mana pun dia akan datang kemari untuk menemui kami.” Sun-hoan tertawa, “Jika dia tidak datang, bukankah sia-sia belaka usaha kalian?” “Urusannya tidak bisa tidak Li-tamhoa harus ikut campur, urusanmu juga dia tidak dapat tinggal diam. Hubungan baik antara kalian sudah kami selidiki dengan jelas, kalau tidak untuk apa kami mengatur tipu daya ini!” “Bahwa Anda dapat memikirkan akal bagus ini, sungguh hebat juga,” ujar Sun-hoan tak acuh. Si buta diam sejenak, lalu berkata pula, “Jika mempunyai tipu daya sebagus ini, tentu mataku takkan buta seperti ini.” “O, yang mengatur tipu ini bukan dirimu?” tanya Sun-hoan. “Bukan,” jawab si buta. “Juga bukan aku,” tukas si pengemis sambil menyengir. “Benakku selama ini kurang beres, bila teringat akan membikin celaka orang lain, kepalaku lantas sakit.” “Oo, kiranya di belakang kalian masih ada dalangnya,” kata Sun-hoan kemudian setelah termenung sejenak. “Ya, kau pun tidak perlu tanya dia, toh selekasnya engkau akan bertemu dengan dia,” ujar si buta, berbareng tongkat bambu yang dipegangnya lantas bekerja, sekaligus ia tutuk hiat-to kelumpuhan kaki Li Sun-hoan, lalu menyambung dengan dingin, “Bila kau temui dia, bisa jadi engkau akan merasakan hidupmu di dunia ini sesungguhnya berlebihan dan lebih baik lekas mati saja.” Begitulah Sun-hoan lantas diangkat masuk ke pintu kecil sana, dinding sekelilingnya tinggi, halaman dalam luas dan sunyi. Setelah menyusuri serambi panjang dan berliku sekian lama barulah sampai di ruang depan. Segera terdengar seorang berseru lantang di balik pintu angin, “Aha, apakah kalian sudah berhasil mengundang saudaraku ke sini?” Mendengar suaranya, jari Sun-hoan pun terasa dingin. Itulah suara Liong Siau-hun. Kiranya dalang dari urusan ini ialah Liong Siau-hun. Si buta berhenti di depan pintu angin dan menjawab dengan suara kaku, “Syukurlah kami telah memenuhi harapanmu dan akhirnya dapat membawa Li-tamhoa ke sini.” Belum habis ucapannya dari balik pintu angin lantas muncul satu orang dengan pakaian mentereng dan wajah bercahaya, siapa lagi dia kalau bukan Liong Siau-hun yang telah berpisah sekian lamanya. Begitu dia memburu maju segera ia genggam erat tangan Li Sun-hoan sambil menyapa dengan tertawa, “Aha, sekali berpisah sudah dua tahun lamanya, sungguh aku sangat merindukan Adik.” Sun-hoan juga tertawa, katanya, “Jika Toako ingin menemuiku, cukup kau beri kabar dan segera aku akan datang kemari, buat apa mesti mengerahkan tenaga kawan sebanyak ini?” Mendadak si pengemis bergelak tertawa, serunya sambil berkeplok, “Haha, ucapan bagus, sambutan bagus! Sampai mukaku juga merah mendengar ucapanmu ini. Sungguh aku sangat kagum terhadap orang yang mukanya takkan merah mendengar perkataanmu ini.” Namun Liong Siau-hun seperti berubah menjadi orang tuli, apa yang dikatakan mereka seakan-akan sama sekali tidak terdengar olehnya, dia tetap menggenggam tangan Li Sun-hoan dan berkata, “Memang sudah kuperhitungkan Adik pasti akan datang, maka sudah kusediakan perjamuan sekadarnya, sudah dua tahun kita berpisah, sekali ini kita harus makan minum sepuasnya.” Segera ia memapah Li Sun-hoan sembari memberi tanda kepada yang lain, “Silakan, semuanya silakan ambil tempat duduk masing-masing!” Namun si buta tetap berdiri tegak di tempatnya. Karena dia tidak bergerak, beberapa saudaranya dengan sendirinya juga tidak bergerak. “He, apakah kalian tidak sudi akan perjamuanku ini?” tanya Siau-hun dengan tertawa. Perlahan si buta menjawab, “Pada waktu kami menyanggupi Liong-toaya untuk melakukan pekerjaan ini tujuan kami hanya Thi Toan-kah melulu, sekarang tugas kami sudah terlaksana, kami cuma berharap bilamana orang she Thi sudah datang, hendaknya jangan lupa Liong-toaya memberi kabar kepada kami.” Sampai di sini ia lantas menarik muka dan menyambung pula, “Mengenai perjamuan Liong-toaya ini, sungguh kami tidak berani mengganggu, sahabat semacam Liong-toaya sama sekali kami tidak berani mengharapkannya.” Sekali tongkat bambunya mengetuk lantai tanpa menoleh lagi segera ia melangkahi pergi diikuti saudara-saudaranya. Liong Siau-hun tidak menghiraukan kepergian mereka. Di tengah ruangan segera disiapkan meja perjamuan. Hidangannya tentu saja kelas satu, araknya juga berkualitas tinggi. Perjamuan di rumah Liong-siya memang sudah terkenal royal di dunia Kangouw. Si pengemis juga tidak sungkan-sungkan, segera ia mendahului berduduk di tempat utama, gumamnya, “Terus terang, sebenarnya aku pun mau pergi, tapi melihat hidangan dan arak sebaik ini, jika tidak kumakan kan terlalu sayang.” Mendadak ia angkat cawan terhadap Li Sun-hoan dan berkata pula, “Ayolah kau pun minum secawan. Arak suguhan orang semacam dia ini, tidak kau minum tersia-sia, setelah kau minum juga percuma.” Liong Siau-hun hanya menyengir sambil menggeleng kepala, katanya, “Mungkin adik belum lagi kenal Oh-tayhiap ini ….” “Oh-tayhiap?” Sun-hoan menegas. “Apakah nama tanda ialah Put-kui?” “Betul, sedikit pun tidak salah,” jawab si pengemis dengan tertawa. “Aku inilah Oh Put-kui dan Oh Put-kui ialah diriku. Meski di mulut kau sebut diriku Oh-tayhiap, tapi di dalam hati engkau pasti berpikir kiranya orang inilah si Oh gila, pantas cara bicara dan tindak tanduknya rada gila-gilaan, begitu bukan?” “Ya,” jawab Sun-hoan dengan tertawa. “Hah, bagus,” Oh Put-kui terbahak pula. “Engkau juga menarik, tampaknya kau pun seorang gila, jika engkau tidak gila, tentu engkau takkan bersahabat dengan orang semacam Liong Siau-hun ini, betul tidak?” Sun-hoan cuma tersenyum tanpa menjawab. “Tapi jangan sekali-kali kau sangka aku pun sahabatnya,” kata Oh gila pula, “kubantu dia sekali ini adalah lantaran aku pernah utang budi kepadanya, selesai urusan ini, antara dia dan aku pun tidak ada sangkut paut lagi.” Mendadak ia menggebrak meja dan berteriak, “Cuma apa yang kulakukan ini sesungguhnya kurang gilang-gemilang, sungguh memalukan, sungguh konyol, sungguh berengsek ….” Sembari bicara mendadak ia gampar muka sendiri hingga belasan kali, lalu mendekap di atas meja dan menangis tergerung-gerung. Agaknya Liong Siau-hun sudah biasa melihat kelakuan si gila, maka dia tetap duduk tenang saja, seperti tidak mendengar dan tidak melihat. Sebaliknya Sun-hoan merasa rikuh malah, katanya dengan tertawa, “Apa pun juga, serangan terakhir Oh-heng tadi sungguh tak dapat kuhindarkan biarpun aku berjaga-jaga sebelumnya.” Mendadak Oh Put-kui menggebrak meja dan berteriak lagi dengan gusar, “Kentut busuk! Jika aku tidak pakai akal licik, mana bisa kutempel dirimu. Kubikin celaka padamu, engkau berbalik menghiburku, memangnya apa maksudmu?” Terpaksa Sun-hoan tidak bicara lagi. Oh Put-kui lantas bergumam, “Aku ini memang linglung, senang dan marah tidak menentu, hitam dan putih tak bisa membedakan, bicara tidak keruan, sebentar menangis sebentar tertawa, sungguh berengsek.” Mendadak ia melototi Liong Siau-hun dan berkata pula, “Tapi engkau terlebih berengsek daripadaku, putramu juga terlebih berengsek daripadamu, jelas-jelas dia punya kaki, tapi suka merangkak seperti anjing, memangnya dia lagi mencari tulang di kolong meja?” Muka Liong Siau-hun menjadi merah, waktu ia menunduk, benar juga dilihatnya anaknya, Liong Siau-in, diam-diam menyusup di bawah meja dengan tangan memegang pisau, saat itu sudah merangkak sampai di depan Li Sun-hoan. Segera Liong Siau-hun menyeretnya keluar sambil membentak, “Kau mau apa?” Anak itu ternyata tenang-tenang saja, jawabnya, “Seorang lelaki sejati harus tegas membedakan budi dan benci, betul tidak ucapan ini menurut pendapat ayah?” “Tentu saja betul,” kata Siau-hun. “Kesatria Kangouw umumnya juga mengutamakan bila ada dendam harus dituntut, bila utang budi harus dibalas,” kata Liong Siau-in pula. “Bahwasanya dia telah memusnahkan seluruh kepandaianku sehingga membuat Anak menanggung cacat badan selama hidup, bila Anak bermaksud memotong kedua kakinya, hal ini kan juga pantas dan adil?” Muka Liong Siau-hun rada masam, bentaknya, “Jadi maksudmu kau mau membalas dendam?” “Betul,” jawab Siau-in. “Tapi apakah kau tahu dia siapa?” teriak Siau-hun dengan bengis. “Anak cuma tahu dia adalah musuhku ….” Belum lanjut ucapannya, “plok”, tahu-tahu muka Siau-in telah digampar sang ayah. “Masa tidak kau ketahui dia adalah saudara angkat ayahmu?” bentak Siau-hun dengan gusar. “Betapa pun cara dia menghajar dirimu duga pantas, masakah kau berani membalas dendam padanya? Kau berani berbuat tidak sopan padanya?” Liong Siau-in melenggong sejenak oleh tamparan sang ayah, bola matanya berputar-putar, tiba-tiba ia berlutut dan menyembah kepada Li Sun-hoan, katanya, “Ya, Keponakan mengaku salah, usiaku masih kecil, hendaknya Paman Li jangan marah padaku dan sudilah mengampuni kesalahanku.” Kecut hati Li Sun-hoan dan tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Mendadak Oh Put-kui melompat bangun sambil berteriak, “Wah, sungguh aku tidak tahan terhadap kedua ayah beranak ini, aku mual, ingin tumpah ….” Sembari berteriak-teriak ia terus menerjang keluar. Liong Siau-hun tertawa, katanya, “Nama seorang mungkin bisa salah ambil, tapi julukan seorang pasti takkan salah. Ada orang yang jelas-jelas sebodoh kerbau, tapi mungkin memakai nama yang berarti pintar. Namun seorang bila berjuluk si gila, maka dia pasti benar orang gila.” Mestinya Sun-hoan tidak mau bicara, sekarang ia tidak tahan dan berkata, “Tapi seorang kalau terlalu pintar dan tahu terlalu banyak, bisa jadi lambat laun dia akan berubah menjadi gila. Sebab pada waktu begitu dia akan merasa menjadi orang gila akan lebih menyenangkan. Sebab itulah ada sementara orang dengan susah payah sengaja ingin menjadi orang gila, tapi tidak terkabul.” Liong Siau-hun tertawa, “Syukur selama ini aku cukup pintar dan juga tidak pernah susah payah.” Dia memang tidak pernah susah payah, sebab susah payahnya telah diberikan kepada orang lain seluruhnya. Sun-hoan termenung sekian lama, menunduk dan minum arak perlahan. Liong Siau-hun juga memandangnya dengan diam dan menunggu. Sebab ia tahu bilamana Li Sun-hoan minum arak dengan sangat perlahan, maka pasti ada urusan penting yang hendak dibicarakannya. Selang agak lama barulah Sun-hoan mengangkat kepalanya dan berucap, “Toako ….” “Ehmm,” jawab Siau-hun. “Dalam hatiku ada sesuatu urusan? Entah harus kukatakan atau tidak?” “Katakan saja,” ujar Siau-hun. “Apa pun juga kita adalah sahabat lama.” “Bukan sahabat lama, tapi saudara.” “Orang macam apakah diriku ini tentu Toako pun cukup jelas.” “Ya ….” meski cuma satu kata saja diucapkan Liong Siau-hun, namun diucapkan dengan sangat lambat, tampaknya sorot matanya juga menanggung rasa malu. Betapa pun dia tetap manusia. Dan manusia macam apa pun sedikit banyak tetap mempunyai sifat manusia. “Jika begitu,” kata Sun-hoan pula, “apa pun yang Toako minta kulakukan, seharusnya kau bicarakan terus terang padaku, asalkan mampu kulakukan, pasti akan kulaksanakan dengan baik.” Perlahan Liong Siau-hun mengangkat cawan arak, seperti hendak mengalingi mukanya dengan cawan arak itu. Apa yang dilakukan Li Sun-hoan baginya memang sudah terlalu banyak. Sampai lama barulah Liong Siau-hun menghela napas, ucapnya perlahan, “Kupaham maksudmu, namun … sang waktu terkadang dapat mengubah berbagai persoalan.” Makin berat rasa kepedihan Li Sun-hoan, “Kutahu Toako ada sedikit salah paham padaku ….” “Salah paham?” “Ya, salah paham, sama sekali salah paham. Tapi ada sesuatu urusan seharusnya Toako tidak boleh salah paham padaku.” Sorot mata Liong Siau-hun juga menampilkan rasa pedih, ia terdiam agak lama, kemudian berucap sekata demi sekata, “Tapi ada juga suatu urusan aku pasti tidak salah paham.” “Urusan apa?” begitu pertanyaan ini diajukan, seketika Sun-hoan merasa menyesal, sebab segera disadari urusan apa yang dimaksudkan Liong Siau-hun tentu urusan yang juga diketahuinya. Yang paling menakutkan, anak kecil baru berusia belasan serupa Liong Siau-in ternyata juga dapat menerka apa yang akan diuraikan sang ayah, maka dengan terbungkuk-bungkuk diam-diam ia pun mengeluyur keluar. Liong Siau-hun berdiam lagi sekian lama, kemudian berkata, “Kutahu selama ini engkau sangat menderita.” Sun-hoan tersenyum kecut, “Kebanyakan orang tentu pernah menderita.” “Tapi penderitaanmu jauh lebih dalam dan lebih berat daripada orang lain,” kata Siau-hun. “Oo?!” Sun-hoan melengak. “Sebab engkau telah menyerahkan orang yang kau cintai untuk menjadi istri orang lain.” Arak dalam cawan Li Sun-hoan tercecer keluar, sebab tangannya gemetar keras. “Namun penderitaanmu masih belum cukup mendalam, sebab kalau seorang rela berkorban bagi orang lain, maka dia sendiri akan merasakan kebesarannya, perasaan ini akan mengurangi penderitaan batinnya.” Ucapan Liong Siau-hun ini sangat tajam, tapi juga masuk di akal. Cuma dalil ini pun tidak mutlak benar. Tangan Siau-hun juga gemetar, katanya pula, “Tapi penderitaan yang sesungguhnya mungkin engkau sendiri tidak tahu.” “Mungkin ….” “Yaitu bilamana seorang mengetahui istrinya ternyata berasal dari kebaikan hati orang lain yang mengalah padanya, bahkan istrinya masih senantiasa mencintai orang itu, inilah baru penderitaan batin yang paling hebat.” Memang benar, inilah penderitaan yang paling besar. Bukan cuma penderitaan batin saja, bahkan juga semacam penghinaan. Kata-kata ini biar mati pun tidak sudi diucapkan oleh lelaki mana pun, sebab hal ini memang sangat merugikan dia, menyinggung kehormatannya dengan sangat besar dan sangat berat. Tidak ada lelaki yang sampai hati menghina dan menyinggung lahir batinnya sendiri cara begini. Namun Liong Siau-hun toh menguraikan juga hal ini di depan Li Sun-hoan. Seketika hati Li Sun-hoan serasa tenggelam. Dari ucapan Liong Siau-hun ini dapat diketahuinya dua hal. Pertama, Liong Siau-hun memang juga sangat tersiksa, bahkan sangat berat siksaan batinnya, makanya wataknya berubah sehebat ini. Jika lelaki lain, mungkin juga akan berubah menjadi begini. Mendadak Sun-hoan merasa Liong Siau-hun juga orang yang sangat pantas dikasihani, berbalik ia merasa dirinya sendiri tidak terlalu kasihan. Kedua, jika sekarang Liong Siau-hun bicara blakblakan kepadanya, maka sangat mungkin dirinya takkan dilepaskannya lagi. Mati dan hidup bagi Li Sun-hoan sebenarnya tidak menjadi soal, tapi mana boleh dia mati sekarang? Tidak banyak yang dibicarakan mereka. Tapi setiap kata yang dipercakapkan berlangsung dengan sangat lambat, bahkan sebelum diucapkan harus mengalami pertimbangan yang cukup lama. Langit mendung, maka meski belum lagi magrib cuaca sudah terasa gelap. Air muka Liong Siau-hun terlebih kelam daripada cuaca mendung itu. Ia angkat cawan arak, ditaruh, diangkat lagi, dan ditaruh kembali. Bukan lantaran dia tidak kuat minum arak, tapi dia tidak mau minum, sebab ia merasa minum arak dapat merangsang emosi seorang. Selang sejenak baru Liong Siau-hun berucap pula, “Apa yang kukatakan ini seharusnya tidak pantas kukemukakan.” Sun-hoan cuma tertawa hambar saja, katanya, “Setiap orang terkadang dapat mengucapkan kata-kata yang mestinya tidak perlu dikemukakannya, kalau tidak dia bukan manusia lagi.” “Hari ini sengaja kuundang kedatanganmu juga bukan untuk membicarakan hal ini,” kata Siau-hun pula. “Kutahu,” jawab Sun-hoan. “Kau tahu apa maksudku mengundangmu ke sini?” “Kutahu.” Untuk pertama kalinya Liong Siau-hun memperlihatkan rasa terkejut. “Kau tahu?” ia menegas. “Ya, kutahu,” Sun-hoan mengulang pula, sebelum Liong Siau-hun bertanya ia lantas menyambung, “Kau kira di Hin-hun-ceng ini benar ada harta karun?” Sekali ini Liong Siau-hun berpikir cukup lama, akhirnya menjawab, “Ya.” “Kau pikir aku mengetahui tempat simpanan harta karun itu?” “Seharusnya kau tahu,” kata Siau-hun. Sun-hoan tertawa, katanya, “Aku ini memang mempunyai penyakit ….” “Penyakit? Penyakit apa?” Dengan prihatin Sun-hoan menjawab, “Penyakitku adalah urusan yang tidak seharusnya kuketahui justru kuketahui seluruhnya, urusan yang mesti kuketahui berbalik tidak kuketahui.” Liong Siau-hun terdiam. “Padahal seharusnya kau tahu juga bahwa urusan ini dari awal hingga akhir pada hakikatnya cuma suatu tipuan belaka ….” “Kupercaya padamu,” potong Siau-hun mendadak. “Sebab kuyakin engkau pasti tidak berdusta.” Ia menatap Sun-hoan lekat-lekat, lalu menyambung pula, “Jika di dunia ini ada seorang yang kupercayai, maka orang itu ialah engkau. Bila di dunia ini masih ada seorang sahabatku, orang itu juga engkau. Segala apa yang pernah kukatakan mungkin tidak benar, tapi apa yang kukatakan sekarang ini pasti tidak dusta padamu.” Sun-hoan juga menatapnya tajam-tajam ia menghela napas dan berkata, “Aku pun percaya padamu, sebab ….” Dia tidak dapat melanjutkan ucapannya sebab dia lantas terbatuk-batuk lagi. Setelah dia berhenti batuk barulah Liong Siau-hun menyambung lagi ucapannya, “Kau percaya padaku, sebab kau tahu dirimu sudah tidak ada nilainya untuk kuperalat lagi, aku tidak perlu berdusta lagi padamu, begitu bukan?” Sun-hoan menjawab pertanyaan orang dengan diam saja. Liong Siau-hun lantas berbangkit, perlahan ia mengitar ruangan dua kali. Di dalam ruangan sangat sunyi, tapi langkahnya makin lama makin berat, jelas pikirannya tidak tenteram. Bisa jadi dia cuma sengaja membuat Li Sun-hoan mengetahui pikirannya yang tidak tenteram itu. Kemudian, mendadak ia berhenti mondar-mandir, berhenti di depan Li Sun-hoan, lalu berkata, “Tentu kau anggap aku akan membunuhmu?” Sikap Sun-hoan kelihatan sangat tenang, ucapnya hambar, “Apa pun yang akan kau lakukan takkan kusalahkan dirimu.” “Tapi pasti takkan kubunuh dirimu.” “Kutahu.” “Ya, tentu saja kau tahu, biasanya engkau sangat mengerti akan diriku.” Mendadak suara Liong Siau-hun berubah emosional lagi, ucapnya pula dengan suara gemetar, “Sebab biarpun kubunuhmu juga tetap takkan memperoleh kembali hatinya, sebaliknya malah akan menambah bencinya padaku.” Sun-hoan menghela napas panjang, katanya, “Orang hidup memang sering juga menghadapi hal-hal yang apa boleh buat.” “Apa boleh buat” tampaknya cuma kata-kata yang sederhana, padahal sering membikin orang berduka dan tersiksa. Liong Siau-hun mengepal tinjunya erat-erat, ucapnya dengan suara parau, “Meski tidak kubunuhmu, tapi juga tidak kulepaskanmu.” Sun-hoan mengangguk perlahan, “Ya, sebab aku masih ada harganya untuk kau peralat.” Cuma kata-kata ini tidak diucapkannya. Betapa pun Liong Siau-hun mengkhianati dia dan bertindak mencelakai dia, sejauh ini Sun-hoan tetap belum pernah mengucapkan satu kata pun yang menusuk perasaan Liong Siau-hun. Tapi tinju Liong Siau-hun berbalik terkepal terlebih kencang, sebab di depan Li Sun-hoan ia merasakan dirinya sebegitu kecil, merasa dirinya begitu rendah, begitu hina. Maka kebesaran rasa persahabatan Li Sun-hoan itu tidak mengharukan dia, sebaliknya, malah membuatnya tambah murka. Ia melototi Li Sun-hoan dengan gemas dan berkata, “Akan kubawamu menemui seorang yang sudah lama ingin menjumpaimu, mungkin … mungkin kau pun sangat ingin menemui dia.” Dan begitulah Li Sun-hoan dibawa Liong Siau-hun ke suatu tempat. Rumah itu sangat besar. Tapi rumah sebesar ini hanya mempunyai sebuah jendela yang kecil dan sangat tinggi dari permukaan tanah. Jendela itu tertutup rapat. Pintu rumah juga sangat kecil, orang yang berbahu lebar terpaksa mesti memiringkan tubuh supaya dapat masuk. Daun pintu juga tertutup rapat. Dindingnya bercat putih tebal seperti pemilik rumah tidak suka orang lain mengetahui dinding rumahnya ini terbuat dari dinding batu atau lapisan baja. Di pojok ruang rumah ada dua tempat tidur, tempat tidur kayu. Selimut bantal sangat resik, namun sangat sederhana. Selain itu di dalam rumah hanya ada lagi sebuah meja besar. Di atas meja terdapat berbagai bentuk buku dan macam-macam berkas. Seorang berdiri di depan meja dan sedang membalik-balik halaman buku, terkadang menggunakan pensil untuk mencoret dan memberi tanda pada catatan di dalam buku, lalu terkadang tersimpul secercah senyuman puas. Dia bekerja dengan berdiri, sebab di dalam rumah tidak ada tempat duduk, sebuah bangku saja tidak ada. Ia anggap seorang kalau sudah berduduk tentu akan membuat kendur sarafnya. Bilamana saraf seorang dalam keadaan kendur, maka akan sangat mudah berbuat kesalahan. Pada setitik kesalahan kecil saja dapat mengakibatkan gagalnya beberapa urusan besar. Hal ini sama halnya setitik lubang kebocoran pada sebuah tanggul yang dapat mengakibatkan dadalnya tanggul. Maka saraf orang ini tidak pernah kendur, selamanya dia tidak salah bekerja, dia tidak pernah gagal. Di belakangnya berdiri lagi satu orang. Orang ini berdiri terlebih tegak, seperti tonggak. Entah sudah berapa lama dia berdiri tegak begitu, sebuah jari pun tidak pernah bergerak. Entah dari mana datangnya seekor nyamuk dan terbang berputar-putar di depan matanya, namun sama sekali dia tidak berkedip. Nyamuk hinggap di ujung hidungnya dan mulai mengisap darahnya. Namun dia tetap tidak bergerak. Orang ini seolah-olah sudah kaku seluruhnya, sudah mati rasa, tidak tahu sakit, gatal, juga tidak merasakan suka dan duka. Malahan ia tidak tahu untuk apakah dirinya hidup. Kedua orang ini ialah Hing Bu-bing dan Siangkoan Kim-hong. Orang semacam mereka mungkin sukar dicari di dunia ini. Tokoh dunia Kangouw yang gilang-gemilang, berpengaruh paling besar, kekayaannya juga sukar diukur, tempat tinggal pangcu atau ketua Kim-ci-pang ternyata sedemikian kasar dan buruk, kehidupannya ternyata begini sederhana. Sungguh hal ini sukar dibayangkan oleh siapa pun, sukar untuk dipercaya. Soalnya dalam pandangannya kekayaan tidak lain hanya semacam alat saja, perempuan baginya juga cuma semacam alat. Setiap kenikmatan duniawi bagi pandangannya hanya semacam alat saja dan tidak terpandang olehnya. Satu-satunya kesukaannya adalah kekuasaan. Ya, kekuasaan, kecuali kekuasaan tidak ada lain lagi. Dia hidup demi kekuasaan, bahkan rela mati bagi kekuasaan. Suasana sunyi senyap. Kecuali suara keresak-keresek halaman buku yang dibalik hampir tidak ada suara lain. Lampu sudah dinyalakan. Entah sudah berapa lama mereka bekerja dan berdiri di sini, yang jelas cuaca di luar dari gelap berubah menjadi terang dan dari terang kembali gelap lagi. Mereka seperti tidak pernah kenal apa artinya lelah, juga tidak merasakan lapar segala. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Hanya terketuk satu kali, sangat perlahan. Siangkoan Kim-hong tidak pernah berhenti bekerja, juga tidak mengangkat kepala. Hing Bu-bing yang bersuara, “Siapa?” “It-jit-kiu (179),” sahut suara di luar. “Ada apa?” tanya Bu-bing pula

, ,

Leave a comment

Pendekar Budiman: Bagian 18

Pendekar Budiman: Bagian 18
Oleh Gu Long

Di dalam rumah berduduk belasan orang perempuan, mereka sama duduk di lantai, sebab kursi betapa besar pun tidak muat tubuh mereka, seumpama dapat diduduki juga kursinya pasti akan runtuh, maklum, tubuh mereka terlalu gemuk.

Namun siapa pun tidak dapat membandingkan mereka sebagai segemuk babi, sebab babi segemuk mereka pun jarang terlihat di dunia ini, apalagi babi juga tidak makan serakus dan sebanyak mereka.

Baru saja Sun-hoan sampai di depan pintu, kebetulan satu porsi besar ayam goreng baru saja disuguhkan dan belasan perempuan gemuk itu serentak berebut mengganyang ayam goreng yang berbau sedap itu.

Cara makan mereka sungguh teramat rakus sehingga menerbitkan suara yang menakutkan, siapa pun sukar membayangkan suara demikianlah suara orang sedang makan. Jika anak kecil mendengar suara ini, malamnya pasti akan mimpi buruk.

Di samping meja panjang yang penuh makanan terbentang beberapa kasur, perempuan yang paling gemuk duduk di situ dikelilingi oleh lima-enam orang lelaki.

Beberapa lelaki ini sama mengenakan baju yang berwarna-warni, rata-rata juga berusia sangat muda, wajahnya juga tidak jelek, malahan ada yang pakai pupur segala.

Perawakan beberapa lelaki itu rata-rata juga cukup besar, tapi kalau dibandingkan perempuan itu, mereka menjadi mirip kera belaka.

Perempuan ini tidak cuma gemuk luar biasa dan kekar, bahkan juga tinggi besar, pahanya sebesar kaki gajah, sepatu yang dipakainya berukuran dua kali sepatu orang biasa.

Lima-enam lelaki itu lagi sibuk mengerumuni dia, ada yang memijat pahanya, ada yang lagi mengetuki punggungnya, ada yang mengipas baginya, ada yang membawa piala emas dan lagi menyuapinya minum arak.

Ada lagi dua lelaki dengan muka berbedak meringkuk manja di samping kakinya, si perempuan gemuk sibuk makan ayam goreng, bilamana dia iseng, dia menyobek secuil daging ayam dan disuapkan ke mulut kedua lelaki itu.

Untung perut Sun-hoan lagi kosong, kalau tidak tentu isi perutnya bisa tertumpah keluar, selama hidupnya tidak pernah melihat kejadian memuakkan seperti ini. Tapi dia tidak putar balik, sebaliknya malah masuk dengan langkah lebar.

Segala suara serentak berhenti, setiap mata sama tertuju kepadanya.

Ditatap oleh berpuluh orang perempuan sekaligus bukanlah kejadian yang enak, terlebih orang-orang perempuan ini seakan-akan memandang Li Sun-hoan sebagai ayam goreng dan ingin mengganyangnya bulat-bulat.

Berada dalam keadaan demikian, siapa pun pasti akan merasa canggung dan serbasusah. Tapi Li Sun-hoan tidak, sekalipun dalam batin ada perasaan demikian, di luarnya sama sekali tidak kelihatan.

Dia masih terus melangkah dengan santai, biarpun masuk istana raja dia tetap bersikap demikian dan sukar menyuruhnya berubah.

Mata perempuan yang paling gemuk itu terpicing.

Sebenarnya matanya tidak kecil, tapi sekarang matanya terdesak oleh daging lebih pada mukanya hingga menyipit. Lehernya sebenarnya juga tidak pendek, tapi sekarang telah dipenuhi oleh gumpalan daging. Dia duduk di situ serupa sebuah bukit daging.

Dengan tenang Li Sun-hoan berdiri di depan si gemuk, ucapnya dengan tersenyum hambar, “Buddha Perempuan Mahagembira!”

“Oo, kau tahu siapa diriku!” terbeliak juga mata perempuan mahagemuk itu.

“Ya, sudah lama kukagumimu,” jawab Sun-hoan.

“Tapi engkau tidak lari?” kata si gemuk alias Si Buddha Mahagembira.

“Mengapa aku harus lari?” Sun-hoan tertawa.

Si Mahagembira juga tertawa.

Pada permulaan tertawanya tidak terjadi sesuatu yang istimewa, tapi mendadak daging sekujur badannya berguncang hebat, bumi serasa gempa.

Semua orang yang berada di dalam rumah juga ikut tergetar, lelaki berbaju kembang yang mendekap di asas punggungnya kontan terpental oleh getaran bukit daging itu.

Untung tertawanya segera berhenti, ia menatap tajam Li Sun-hoan dan berkata, “Meski belum lagi kuketahui siapa, kau tapi maksud kedatanganmu sudah kuketahui.”

“Oo?!” heran juga Sun-hoan.

“Kau datang untuk Na Kiat-cu, bukan?” tanya Si Mahagembira.

Sun-hoan membenarkan.

“Dia membunuh murid kesayanganku karena membela dirimu?”

Kembali Sun-hoan mengiakan.

“Maka kau datang kemari untuk menolongnya?”

“Ya,” jawab Sun-hoan.

Mata Si Buddha Mahagembira kembali terpicing, ucapnya dengan tersenyum, “Tak tersangka lelaki semacam kau masih mempunyai perasaan baik, tidaklah penasaran dia membunuh orang bagimu.”

Sambil mengacungkan ibu jarinya dia menyambung pula, “Tapi Na Kiat-cu juga terhitung perempuan yang hebat, setia kawan, berbudi luhur, teguh pendirian. Dia membunuh muridku, tapi dia tidak lari, sebaliknya berani menemuiku. Sebelum ini tidak kusangka dia seorang baik semacam ini, kalian boleh dikatakan suatu pasangan yang setimpal.”

Sun-hoan tidak menyangkal, ia malah tersenyum dan berkata, “Jika Buddha perempuan sudi memenuhi harapan kami, sungguh aku sangat berterima kasih.”

“Hendak kau bawa dia pergi?” tanya Si Mahagembira.

Sun-hoan mengiakan.

“Jika sudah kubunuh dia, lantas bagaimana!”

“Jika … jika begitu, mungkin aku akan menuntut balas baginya,” jawab Sun-hoan tak acuh.

Si Mahagembira bergelak tertawa, “Haha, bagus! Selain berperasaan, kau pun bernyali, aku menjadi tidak sampai hati membunuhmu.”

Mendadak ia selonjorkan sebelah kakinya sehingga salah seorang lelaki yang mendekap di atas pahanya itu terpental, serunya, “Tuangkan arak bagi tamu kita ini!”

Lelaki itu memakai baju merah dengan tepian diberi kain kembang, perawakannya tidak pendek, tapi sekarang tubuhnya seakan-akan menyurut lebih ringkas, malahan mukanya memakai pupur yang tebal.

Dilihat dari bentuk wajahnya dan matanya, dahulu dia pasti seorang lelaki yang cakap, orang yang pernah mengenalnya mungkin mimpi pun takkan menyangka sekarang dia telah berubah menjadi begini.

Dia menuangkan arak, piala emas lantas dibawa ke depan Sun-hoan, ucapnya dengan cengar-cengir, “Silakan minum, Tuan!”

Dalam keadaan begini dia masih dapat tertawa juga.

Diam-diam Sun-hoan merasa gegetun, ia sambut piala emas dengan kedua tangan dan mengucapkan terima kasih. Dia memang ramah tamah terhadap siapa pun. Ia pikir “manusia” tetap “manusia”, selamanya ia tak suka merendahkan harkat orang lain sekalipun orang itu pernah membikin susah padanya.

Piala emas itu cukup besar, isinya sangat banyak, tapi sekali tenggak Sun-hoan menghabiskan araknya.

“Ehm, bagus, hebat sekali takaranmu minum!” seru Si Mahagembira. “Lelaki yang kuat minum barulah lelaki sejati, semua lelakiku di sini tidak ada yang dapat dibandingkan dirimu.”

Lelaki berbaju kembang merah tadi kembali membawakan secawan arak dan menyapa dengan tertawa, “Seribu cawan pun tak bisa bikin mabuk Li-tamhoa, silakan minum lagi secawan ini!”

Sun-hoan melengak. Lelaki ini ternyata kenal dia.

Bekernyit kening Si Mahagembira, “Kau panggil dia Li-tamhoa? Li-tamhoa yang mana?”

“Li-tamhoa cuma ada satu,” tutur lelaki itu dengan tertawa, “Ialah Li ‘Si Pisau Kilat’ yang termasyhur, Li Sun-hoan.”

Seketika Si Mahagembira juga melenggong. Setiap orang yang berada di situ sama terkesiap.

Li Si Pisau Kilat! Selama belasan tahun ini hampir tidak ada nama orang lain yang lebih gemilang daripada namanya.

Mendadak Si Buddha Mahagembira bergelak tertawa lagi, katanya, “Haha, bagus! Sudah lama kudengar nama kebesaran Li-tamhoa, setelah bertemu sekarang tampaknya memang tidak bernama kosong. Kecuali dirimu, orang lain pasti juga tidak berani datang ke sini.”

Lelaki tadi menukas dengan tertawa, “Pisau kilat si Li, sekali timpuk tidak pernah meleset. Ini namanya Kungfu tinggi nyali pun besar.”

Sejak tadi Li Sun-hoan mengawasi orang ini, ia coba tanya, “Anda ini ….”

“Tampaknya Li-tamhoa terlalu sibuk sehingga pelupa, sampai sahabat lama pun pangling,” ujar lelaki itu dengan tertawa.

Gemerdep sinar mata Si Mahagembira, katanya tiba-tiba dengan tertawa, “Pangling pada orangnya masakah tidak kenal lagi kepada ilmu pedangnya?”

Lelaki itu tertawa kenes dan berucap, “Tapi ilmu pedangku sampai … sampai aku sendiri pun sudah lupa.”

“Tidak, engkau tidak lupa, lekas ambil pedangmu,” kata Si Mahagembira.

Lelaki itu sungguh penurut, ia lantas menuju ke belakang.

Di belakang terdengar suara bunyi serok mengetuk wajan dan tercium bau sedap, santapan yang sedang disiapkan sekali ini adalah goreng ifu mi diberi ham, inilah makanan yang sedap.

Meski perawakan lelaki tadi tampaknya sudah mulai terbungkuk-bungkuk, namun cara berjalannya tidaklah lambat, hanya sebentar saja ia sudah muncul kembali dengan membawa sebilah pedang bersarung hitam.

“Nah, boleh coba kau perlihatkan sejurus padanya,” kata Si Mahagembira dengan tertawa.

Di tengah tertawanya ia lantas melemparkan setengah ekor ayam goreng yang belum habis dilahapnya ke arah lelaki itu.

Terdengarlah suara “tring” sekali disertai berkelebatnya sinar pedang. Lelaki itu tampak menggeser tubuh, melolos pedang, lalu sinar pedang berhamburan.

Ternyata setengah ekor ayam goreng itu telah menjadi empat dan tersunduk di pedangnya.

“Ilmu pedang yang hebat!” seru Sun-hoan.

Tak tersangka olehnya lelaki yang kelihatan kurang sehat itu memiliki ilmu pedang sebagus ini dan dapat bergerak sedemikian cepatnya. Yang paling aneh adalah jurus yang digunakannya ini seperti sudah dikenal oleh Li Sun-hoan, rasanya sudah pernah dilihatnya entah di mana, malahan seperti sudah pernah bergebrak dengan dia.

Dengan tertawa orang itu lantas mendekati Sun-hoan dan berkata, “Lumayan juga ayam goreng ini, silakan Li-tamhoa mencicipinya sepotong.”

Ayam goreng yang kekuningan itu tersunduk di atas pedang yang bersinar hijau mengilat sehingga kelihatan sangat memikat. Tapi lebih menarik adalah sinar pedang yang hijau bening.

Terkesiap Sun-hoan, hampir saja ia berteriak, “Toat-ceng-kiam!”

Pedang yang dipegang lelaki itu ternyata Toat-ceng-kiam atau pedang perampas cinta.

Sekujur badan Sun-hoan terasa dingin sambil memandangi lelaki itu, ucapnya dengan parau, “Yu Liong-sing, kiranya Anda ini Yu-siaucengcu dari Cong-kiam-san-ceng?!”

“Hihi, sahabat lama tetap sahabat lama, engkau belum lagi melupakan diriku,” kata orang itu dengan tertawa.

Karena terlalu lebar tertawanya sehingga pupur yang menempel pada mukanya sama rontok.

“Benarkah orang ini Yu Liong-sing? Pemuda yang ganteng dan perkasa pada dua tahun yang lalu itu?”

Sun-hoan merinding, sungguh mimpi pun tak terpikir olehnya pemuda she Yu ini bisa berubah menjadi begini, dia bukan cuma sedih baginya, juga sayang baginya.

Akan tetapi Yu Liong-sing sendiri seperti sudah kaku seluruhnya, sudah mati rasa, dia tetap cengar-cengir, perlahan ia ambil sepotong ayam goreng dari ujung pedangnya, dipilihnya sepotong yang gemuk dan dimasukkan ke mulut, gumamnya, “Ehm, rasanya memang lain daripada yang lain, bisa makan ayam goreng selezat ini, sungguh sangat beruntung.”

“Apakah koki di Cong-kiam-san-ceng tidak mampu mengolah ayam goreng selezat ini?” tanya Si Buddha Mahagembira.

Yu Liong-sing menghela napas, “Ayam goreng buatan mereka kaku seperti kayu.”

“Jika tidak ada aku, dapatkah kau makan ayam goreng seperti ini?” tanya pula Si Mahagembira.

“Tidak dapat,” jawab Yu Liong-sing.

“Selama kau tinggal bersamaku, hidupmu senang atau tidak?”

“Senang sekali!”

“Antara Na Kiat-cu dan diriku, jika engkau disuruh memilih, siapa yang kau pilih?”

Rasanya Yu Liong-sing seperti mau merayap lagi ke selangkangan si gemuk, sahutnya dengan tertawa, “Tentu saja kupilih Buddha kita.”

Si Mahagembira memeluk perutnya yang gendut sambil terkekeh-kekeh, “Hehe, bagus! Betapa pun pandanganmu masih boleh juga, tidak percuma kusayang padamu.”

Mendadak ia tuding tenggorokan sendiri dan berkata pula, “Ayo, gunakan pedangmu dan tusuk sini, perlihatkan kepada Li-tamhoa.”

“Wah, mana boleh,” kata Yu Liong-sing, “Kalau Buddha kita terluka, kan runyam?!”

Si Mahagembira mengomel dengan tertawa, “Setan cilik, hanya sedikit kepandaianmu saja mampu melukaiku? Ayolah lekas tusuk saja!”

Ia terus mengangkat lehernya dan menunggu pedang orang.

Yu Liong-sing masih ragu juga, sejenak kemudian mendadak ia berkata, “Baik!”

Begitu kata “baik” terucapkan, serentak pedangnya juga bergerak. Sinar pedang berkelebat secepat kilat menyambar ke leher si gemuk.

Kecepatan pedang Yu Liong-sing memang tidak secepat pedang A Fei, tapi sudah terhitung kelas tinggi juga, Li Sun-hoan pernah bergebrak dengan dia, dengan sendirinya dia cukup kenal kelihaiannya.

Akan tetapi Si Mahagembira masih tetap duduk tenang di tempatnya, bahkan tidak bergerak sama sekali. Jika dia seorang lelaki, mirip juga patung Buddha gendut yang selalu tertawa itu.

Sinar pedang tampak menyambar masuk ke lehernya.

Selain gerak pedangnya cepat, Toat-ceng-kiam yang digunakan Yu Liong-sing juga pedang pusaka yang sangat tajam, hal ini cukup diketahui Li Sun-hoan juga, ia percaya tubuh manusia tidak nanti sanggup menahan tusukan pedang ini.

Terdengarlah jeritan kaget, Yu Liong-sing tampak terpental dan jatuh di pangkuan seorang perempuan gemuk yang duduk di sebelah Li Sun-hoan.

Perempuan gemuk ini tertawa mengikik, Yu Liong-sing terus dirangkulnya.

Waktu memandang lagi ke sana, terlihat pedangnya masih menancap di leher Si Mahagembira.

Namun perempuan mahagendut itu juga masih tetap duduk di tempatnya dan memandang Li Sun-hoan dengan tersenyum simpul.

Sungguh Li Sun-hoan tidak sanggup bicara lagi.

Ternyata Si Mahagembira telah menggunakan gumpalan daging di lehernya untuk menjepit ujung pedang Yu Liong-sing, Kungfu demikian jangankan melihatnya, mendengarnya saja tidak pernah sebelum ini.

Terdengar perempuan mahagendut itu tertawa mengikik dan berkata, “Perempuan gemuk juga ada untungnya, ucapan ini sekarang tentu kau percaya bukan?”

Batang pedang masih bergetar dan baru sekarang berhenti.

Li Sun-hoan menghela napas dan menyengir, “Ai, Kungfu Buddha Perempuan memang sukar ditandingi orang biasa.”

Hal ini mau tak mau harus diakuinya, sebab siapa pun tidak mempunyai gumpalan daging sebanyak itu.

Si Mahagembira tertawa, “Aku pun sering mendengar cerita tentang pisaumu yang lihai, katanya seratus kali timpuk seratus kali kena, sampai murid kesayanganku itu pun tidak mampu menghindari pisaumu. Dengan sendirinya engkau sendiri juga merasa bangga, begitu bukan?”

Sun-hoan tidak menjawab.

“Dan berdasarkan pisau kilat andalanmu itu, maka kau berani datang ke sini, begitu bukan?” si gendut tanya pula. Perlahan ia lantas pegang pedang yang terjepit di lehernya itu, lalu menyambung dengan tertawa, “Tapi dengan pisaumu itu dapatkah kau bunuh diriku?”

Sun-hoan menghela napas dan menjawab dengan tersenyum getir, “Tidak dapat.”

“Dan sekarang apakah tetap hendak kau bawa pergi Na Kiat-cu?”

“Tetap ingin,” jawab Sun-hoan.

Berubah juga air muka si gendut, tapi segera ia berkata pula dengan tertawa, “Haha, lucu, sungguh lucu! Lantas dengan cara bagaimana akan kau bawa pergi Na Kiat-cu?”

Sun-hoan juga tertawa, jawabnya, “Akan kupikirkan dulu, tentu akan mendapatkan akal.”

Mata Si Mahagembira terpicing pula, “Baiklah, jika begitu boleh kau tinggal di sini dan pikirkan dengan perlahan.”

“Di sini ada arak, tinggal beberapa hari lebih lama juga tidak beralangan bagiku,” kata Sun-hoan dengan tertawa.

“Tapi arakku ini tidak untuk diminum secara percuma,” ujar si gendut.

“Habis apa yang kau minta dariku?” tanya Sun-hoan.

“Mestinya kuanggap engkau ini agak lebih tua sedikit, makin kupandang makin cocok rasanya. Sebab itulah, tidak perlu lagi kau cari akal, asalkan kau tinggal dan menemani aku beberapa hari di sini, segera akan kuserahkan Na Kiat-cu kepadamu.”

Sun-hoan tertawa, ucapnya dengan santai, “Engkau tidak mencela aku agak tua, aku justru mencela engkau terlalu gemuk, jika gumpalan daging di tubuhmu dapat dihilangkan satu-dua kuintal mungkin aku dapat menemani sebulan atau dua bulan, tapi sekarang ….” ia menggeleng kepala dan menyambung pula dengan hambar, “Sekarang sungguh aku tidak mempunyai selera.”

Seketika berubah air mula Si Mahagembira, jengeknya, “Hm, jadi kau tolak secara halus dan minta dipaksa? Baik!”

Mendadak ia memberi tanda, serentak beberapa perempuan gemuk yang duduk di sekeliling Sun-hoan itu sama berdiri.

Biarpun tubuh mereka gemuk, tapi gerak-gerik mereka tidak lambat, sekali melangkah, kontan Li Sun-hoan terkepung rapat.

Perempuan yang paling kurus di antara mereka juga jauh lebih gemuk daripada orang gemuk biasa, lebar bahunya hampir semeter, tebalnya lebih setengah meter, dengan berdiri berjajar begitu menjadi serupa sebuah dinding daging, setitik peluang saja tidak ada.

Atap rumah sangat rendah, Sun-hoan tidak dapat meloncat ke atas, juga tidak mampu menerjang keluar. Padahal melihat gumpalan daging kawanan perempuan gemuk itu membuatnya mual.

Barisan perempuan gemuk itu mendesak semakin dekat sehingga Sun-hoan hampir terimpit di tengah, jika dia sambitkan pisaunya, umpama seorang dapat dirobohkan toh yang lain tetap akan menerjang maju.

Jika sampai terimpit benar-benar, sungguh rasanya tak berani dibayangkan oleh Li Sun-hoan.

Didengarnya Si Mahagembira lagi bergelak tertawa dan berkata, “Li Sun-hoan, kutahu barisan Lo-han-tin di Siau-lim-si pun tidak mampu mengurung dirimu, tapi bila engkau mampu membobol ‘barisan gumpalan daging’-ku ini barulah kupercaya akan kelihaianmu.”

Suara tertawanya makin lama makin keras sehingga seluruh vila itu serasa terjadi gempa bumi, tangga kecil juga berbunyi berkeriang-keriut.

Mendadak mata Li Sun-hoan terbeliak, teringat olehnya akan Ling-ling.

Pada hakikatnya nona itu tidak ikut masuk ke situ. Dengan sendirinya dia takkan menyaksikan Li Sun-hoan mati konyol begitu saja tanpa berbuat sesuatu, dia pasti lagi berusaha ….

Benar juga, pada saat itulah lantas terdengar suara “blang” yang amat keras, di tengah suara gemuruh seluruh loteng ambruk ke bawah, terdengar suara jeritan disertai suara benda berat jatuh, seluruh isi rumah ikut kejeblos ke bawah.

Pada saat yang sama atap rumah juga berlubang. Tanpa ayal Sun-hoan terus meloncat ke atas, segesit burung walet ia menerobos keluar melalui lubang atap.

Ia mengira Si Mahagembira pasti juga kejeblos ke bawah, andaikan masih mampu merangkak bangun juga akan makan waktu cukup lama.

Siapa tahu bukan cuma reaksinya sangat cepat, bahkan ginkang Si Mahagembira juga tidak kalah lihainya dibandingkan orang lain. Baru saja Sun-hoan menerobos keluar, segera terdengar pula suara gemuruh.

Rupanya atap rumah kembali dijebol menjadi sebuah lubang besar pula oleh Si Mahagembira, dia melayang keluar serupa balon raksasa, sampai cahaya bulan dan bintang juga guram teraling oleh bayangan tubuhnya.

Dalam pada itu vila itu masih terus runtuh ke bawah sehingga menerbitkan debu pasir yang bertebaran.

Tanpa menoleh Sun-hoan melayang ke permukaan tanah dengan enteng.

Terdengar Si Mahagembira tertawa mengekek dan berseru, “Li Sun-hoan, sekali kulihat dirimu, jangan harap akan kabur lagi.”

Di tengah suara tertawanya ia terus menubruk tiba. Sun-hoan merasakan angin menderu santer, serupa sebuah bukit yang menindihnya.

Mendadak tangannya berayun ke belakang, terlihat sinar tajam berkelebat, pisau kilat si Li akhirnya bekerja juga.

Seperti biasa, pisau kilat si Li sekali timpuk tidak pernah meleset, darah lantas mengucur keluar dari muka Si Mahagembira serupa sumber air.

Sekali ini pisau Li Sun-hoan tidak mengarah lehernya melainkan mata kanannya, sekali turun tangan ia yakin pasti tidak meleset. Ia cukup yakin akan kemampuan sendiri.

Namun suara tertawa Si Mahagembira masih belum berhenti, sampai Sun-hoan pun mengirik dan tanpa terasa berpaling.

Dilihatnya perempuan gembrot itu masih melangkah ke arahnya setindak demi setindak dengan darah mengucur tidak hentinya dan pisau masih bersarang di tengah matanya. Namun dia seperti tidak merasakan sakit sedikit pun, ia masih tertawa terkekeh dan berkata, “Li Sun-hoan, sekali kupenujui dirimu, betapa pun engkau tak bisa kabur. Masih ada berapa buah pisaumu, keluarkan saja seluruhnya. Pisau sebesar ini, biarpun seratus buah ditancapkan seluruhnya di atas tubuhku juga tak menjadi soal bagiku.”

Mendadak ia cabut pisau yang menancap di matanya itu terus dikunyah. Pisau buatan baja itu dikunyahnya serupa orang makan kacang goreng.

Sun-hoan jadi melenggong.

Perempuan gembrot ini sungguh bukan manusia, akan tetapi lebih mirip binatang purba, jika ingin merobohkannya tampaknya memang benar harus menggunakan beberapa ratus batang pisau.

Pada saat itu juga, sekonyong-konyong terdengar si gembrot meraung dahsyat sehingga membuat bumi seakan-akan bergetar dan pepohonan juga berguncang.

Segera terlihat oleh Sun-hoan setitik ujung pedang hijau menongol keluar dari dada Si Mahagembira, menyusul darah lantas muncrat juga.

Habis itu barulah dilihatnya Yu Liong-sing memegang tangkai pedang dengan kedua tangan, Toat-ceng-kiam sepanjang lebih satu meter itu hampir seluruhnya menembus tubuh Si Mahagembira, ujung pedang masuk dari punggung dan muncul di dada.

Sekali Si Mahagembira meraung pula, Yu Liong-sing terpental dan “bluk”, jatuh tepat di bawah kakinya. Menyusul si gembrot sendiri juga roboh dan kebetulan menindih di atas tubuh Yu Liong-sing.

Terdengarlah serentetan suara “krak-krek”, tulang sekujur badan Yu Liong-sing seolah-olah tertindih remuk oleh tubuh Si Mahagembira yang gede itu dan tidak dapat bersuara.

Napas Si Mahagembira ngos-ngosan serupa kerbau, ucapnya, “Kau … kiranya kau ….”

Yu Liong-sing juga hampir tidak dapat bernapas, katanya, “Tak … tak terduga bukan?”

“Tidak … tidak jelek kuperlakukan dirimu, mengapa … mengapa kau sergap diriku?”

Butiran keringat menghiasi dahi Yu Liong-sing, jawabnya dengan mengertak gigi, “Aku bertahan hidup, tujuanku justru menanti satu hari seperti sekarang ini ….”

Dia tertindih sehingga bernapas saja sulit, mata mulai gelap, dirasakannya tubuh Si Mahagembira berkejang hebat, mendadak terus menggelinding ke sana.

Kemudian dilihatnya mata Li Sun-hoan yang sayu, juga dirasakan tangan Sun-hoan lagi mengusap keringatnya. Tangan ini meski setiap saat dapat mencabut nyawa orang tapi juga setiap saat siap menolong orang lain. Meski kedua tangan ini terkadang memegang pisau perenggut nyawa, tapi sering juga memegang peranan yang penuh simpatik.

Sekuatnya Yu Liong-sing berusaha menampilkan secercah senyuman, tapi gagal, ia cuma meronta dan berucap dengan suara lirih, “Aku bukan Yu Liong-sing.”

“Ya, bukan,” Sun-hoan mengangguk dengan perasaan berat setelah berpikir.

“Yu Liong-sing sudah … sudah lama mati,” kata Yu Liong-sing pula.

“Ya, kutahu,” ujar Sun-hoan dengan rawan.

“Pada hakikatnya engkau tidak pernah bertemu dengan Yu Liong-sing.”

“Ya, aku cuma tahu dia adalah sahabatku, urusan lain aku tidak tahu.”

Akhirnya tertampil juga setitik senyuman pedih pada ujung mulut Yu Liong-sing, ucapnya dengan parau, “Barang siapa mempunyai sahabat seperti dirimu, sungguh dia sangat beruntung, sayang aku ….”

Ia merasa tidak tahan lagi, tapi sekuatnya ia menyerukan kata terakhir, “Sayang aku tidak mati di tanganmu!”

*****

Subuh sudah tiba.

Di luar hutan trembesi telah bertambah tiga kuburan baru, yaitu kuburan Yu Liong-sing, Na Kiat-cu dan Si Buddha Perempuan Mahagembira. Yang menggali liang kubur adalah anak murid si gembrot sendiri.

Terhadap kematian Si Mahagembira tampaknya kawanan perempuan gemuk ini tidak merasa sedih dan gusar sedikit pun, hal ini membuktikan si Buddha gembrot ini sesungguhnya tidaklah berhati Buddha, pada waktu hidupnya tidak disukai orang.

Yang membikin ambruk rumah kecil itu ternyata benar Ling-ling adanya.

Nona cilik itu sangat senang, katanya, “Aku cuma melonggarkan salah sebuah tiang penyanggah, sekali dorong loteng kecil itu lantas roboh, untung aku sempat menghindar, hampir saja aku ikut tertindih hidup-hidup.”

Waktu diketahuinya pengikut Si Mahagembira telah pergi semua, ia menjadi heran, “Mengapa mereka tidak berusaha menuntut balas bagi guru mereka?”

“Bisa jadi waktu hidupnya si gembrot cuma berusaha mengisi perut mereka melulu, tapi lupa mengisi pikiran mereka,” kata Sun-hoan.

Ling-ling tertawa, “Betul, bilamana isi perut orang terlalu kenyang, biasanya lantas malas menggunakan pikiran. Dan mengapa kau lepaskan mereka pergi begitu saja?”

Sun-hoan tersenyum hambar, “Sebab aku tidak mampu memberi makan kepada mereka.”

Ling-ling menggigit bibir dan termenung sejenak, ia melirik Sun-hoan sekejap, lalu bertanya, “Jika cuma memberi makan satu orang, apakah engkau sanggup?”

Ia mengerling penuh arti, lalu menyambung, “Makan orang itu tidak banyak, tidak minum arak, juga jarang makan daging, setiap hari asalkan makan sayur dan tahu sudah cukup baginya. Malahan ia sendiri dapat menanak nasi, dapat membuat sayur yang lezat, bila malam tiba, dia akan merapikan tempat tidurmu, bila bangun pagi, dia akan menyisir rambutmu.”

“Orang semacam ini hidupnya tentu sangat gembira, tidak perlu ikut menderita bersamaku,” ujar Sun-hoan dengan tertawa.

Seketika mulut Ling-ling menjengkit, ucapnya dengan mendongkol, “Kutahu dalam hatimu cuma ada Na Kiat-cu, pinggangnya lebih ramping daripadaku.”

“Kau anggap dalam hatiku cuma ada Na Kiat-cu?”

“Tentu saja. Demi dia, engkau rela menyerempet bahaya dan mau mengadu jiwa baginya. Padahal dia sudah mati, mestinya engkau tidak perlu risau baginya.”

“Jika waktu hidupnya adalah sahabatku, sesudah mati tetap sahabatku.”

“Kalau begitu … apakah aku ini bukan sahabatmu?”

“Sudah tentu sahabatku.”

“Bila engkau rela mengadu jiwa bagi sahabat yang sudah mati, mengapa engkau tidak memikirkan kepentingan sahabat yang masih hidup?”

Bicara sampai di sini matanya lantas merah dan basah lagi, katanya pula sambil mengusap air mata, “Aku memang tidak punya sanak kadang, sekarang rumah pun tidak punya. Apakah engkau tega melihat kuhidup bergelandangan dan setiap hari mengemis belas kasihan orang?”

Sun-hoan menggeleng kepala. Ia merasa anak perempuan sekarang makin lama makin pintar bicara.

Dari sela-sela jari Ling-ling mengintipnya sekejap, lalu menyambung pula, “Apalagi, jika engkau tidak membawaku pergi, cara bagaimana engkau dapat menemukan Siocia kami? Jika tidak menemukan Siocia kami, cara bagaimana dapat menemukan sahabatmu si A Fei?”

Sun-hoan tidak dapat bicara lagi ….

*****

Saat itu A Fei sedang minum sup, sup daging yang sedap.

A Fei memegangi mangkuk dan perlahan menghirup sup yang masih panas, matanya memandang tepian mangkuk tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, seolah-olah memang tidak dapat membedakan bagaimana rasanya sup ini.

Lim Sian-ji duduk di depannya dan sedang memandangnya lembut dengan bertopang dagu.

“Akhir-akhir ini cahaya mukamu kurang segar, hendaknya minum lebih banyak sup daging ini,” kata Sian-ji dengan lembut. “Sup ini penuh gizi, lekas diminum mumpung masih hangat, kalau dingin tidak enak.”

A Fei terus mendongak, sup semangkuk ditenggaknya hingga habis.

Perlahan Sian-ji mengusapkan mulut A Fei dan bertanya, “Enak tidak?”

“Enak!” jawab A Fei.

“Apakah mau tambah lagi semangkuk?”

“Mau!”

“Nah, seharusnya begini, akhir-akhir ini seleramu makan nasi sangat berkurang, maka perlu minum sup agak banyak.”

Rumah ini sangat sederhana, tapi baru saja dikapur, sampai dinding dapur juga belum ada bekas hangus, maklum, baru dua hari mereka pindah ke sini.

Sian-ji menambah semangkuk sup lagi dan disodorkan kepada A Fei dengan tersenyum manis, “Meski tempat ini tidak besar, tapi pasar sayurnya sangat ramai. Cuma si penjual daging agak kejam, kubeli sekati daging kemahalan tiga puluh duit.”

Setelah minum dua ceguk sup itu, tiba-tiba A Fei berkata, “Besok kita tidak perlu minum sup daging lagi.”

“Sebab apa? Engkau bosan?” tanya Sian-ji.

“Bukan bosan, tapi kita tidak mampu makan-minum daging yang mahal.”

“Jangan kau khawatirkan urusan duit,” ujar Sian-ji dengan tertawa lembut. “Belakangan ini pasaran kulit rase cukup bagus, rase buruan kita bulan yang lalu telah kujual 30 tahil perak dan sampai sekarang belum habis terpakai.”

“Akhirnya toh akan habis terpakai, di sini pun sukar memburu rase,” ujar A Fei.

“Biarlah kita bicarakan lagi kalau sudah habis, apalagi aku pun masih punya uang celengan.”

“Tidak boleh kugunakan uangmu.”

Mata Sian-ji menjadi basah, katanya dengan menunduk, “Mengapa tidak boleh? Uang ini bukan hasil curian atau rampokan, tapi hasil jerih payahku bekerja sambilan jahit-menjahit. Kau tahu, uang yang dahulu itu sudah kukembalikan kepada yang berhak sesuai kehendakmu, masakah engkau tidak percaya.”

A Fei menghela napas, “Bukan aku tidak percaya, soalnya … akulah yang harus memiaramu, aku tidak ingin engkau hidup susah.”

Sian-ji merangkulnya erat dari belakang ucapnya sambil mencucurkan air mata, “Kutahu engkau sangat baik padaku, selamanya tidak ada orang begini baik terhadapku. Akan tetapi, di antara kita seharusnya tidak boleh ada perbedaan antara punyamu dan punyaku, bahkan … bahkan hatiku pun sudah milikmu, masakah engkau tidak tahu?”

A Fei memejamkan mata sambil menggenggam kencang tangan si dia, asalkan dapat selalu menggenggam tangannya, rasanya ia tidak menghendaki apa-apa lagi.

Akhirnya A Fei tertidur. Perlahan Sian-ji menarik kembali tangannya yang masih digenggamnya itu.

Ia berdiri di depan tempat tidur dan memandang anak muda itu sejenak, tersembul secercah senyuman pada ujung mulutnya. Senyum yang manis, juga senyum yang kejam.

Lalu dia tinggal keluar dan perlahan merapatkan pintu, ia kembali ke kamarnya sendiri. Dari sebuah peti kecil dikeluarkannya sebuah botol kecil. Ia menuang secangkir air teh, lalu menuang sedikit bubuk gemerdep dari botol kecil dan diminum bersama air teh. Bubuk gemerdep itu pasti diminumnya setiap hari tanpa prei.

Maklumlah, bubuk gemerdep adalah bubuk mutiara, konon bila diminum oleh orang perempuan akan dapat awet muda.

Semakin cantik seorang perempuan umumnya semakin takut tua, maka selalu berdaya upaya agar dapat awet muda. Tak diketahuinya bahwa dengan cara apa pun masa muda tetap tak dapat ditunda.

Memandangi botol kecil yang dipegangnya, Sian-ji tertawa sendiri, pikirnya, “Jika A Fei tahu berapa harga bubuk mutiara ini, tentu dia akan berjingkat kaget.”

Ia merasa orang lelaki sangat gampang ditipu, terlebih gampang lagi ditipu oleh perempuan yang dicintainya. Sebab itu sejauh ini ia merasa kaum lelaki sangat lucu dan harus dikasihani. Belum pernah ditemuinya seorang lelaki yang tidak dapat ditipu.

Mungkin cuma ada satu orang saja, yaitu Li Sun-hoan.

Teringat kepada Li Sun-hoan, seketika perasaan Sian-ji tertekan.

Hari ini kan sudah tanggal lima? Apakah Li Sun-hoan sudah mati? Mengapa sampai sekarang belum ada kabar beritanya?

Di luar adalah sebuah jalan kecil yang sunyi. Langit kelam, hanya kerlip bintang tanpa rembulan. Cahaya api di kejauhan sudah jarang-jarang.

Tiba-tiba berkumandang suara langkah kaki orang, dua pemuda kekar berbaju hijau menggotong sebuah tandu kecil berlari datang secepat terbang dan berhenti tepat di depan pintu rumah ini.

Sejenak kemudian Sian-ji muncul, pintu dirapatkan dan naik ke atas tandu, tirai sekeliling tandu diturunkan, tirai bambu yang renggang, dari luar orang lain tidak dapat melihatnya, sebaliknya dia dapat melihat orang di luar.

Tandu segera diangkut pula dan dilarikan ke arah datangnya tadi.

Yang mereka tempuh bukan jalan raya, setelah melintasi tiga gang kecil, cahaya lampu yang jarang pun tidak kelihatan lagi. Langkah penggotong tandu lantas mulai diperlambat.

Sekeliling sunyi senyap, hening tanpa sesuatu suara.

Lebih ke depan lagi ada sebuah kelenteng kecil, di sebelah kanan adalah pekuburan.

Di sinilah tandu berhenti. Penggotong tandu bagian depan mengeluarkan sebuah pelita kerudung dari bawah tandu, lilin dinyalakan dan diangkat ke atas, kerudung lampu berwarna merah muda, malahan terlukis bunga bwe yang indah.

Begitu lampu dinyalakan, serentak dari arah hutan, kuburan dan kelenteng muncul empat sosok bayangan orang seperti hantu dan berlari ke arah tandu sini. Langkah keempat orang ini tidak lambat, semuanya tampak bersemangat, tapi ketika mereka mengetahui selain dirinya masih ada orang lain juga menuju ke arah yang sama, seketika langkah diperlambat, keempat orang saling melotot sekejap dengan sikap waspada dan mengandung rasa permusuhan.

Orang yang muncul dari hutan berwajah bulat, seorang lelaki setengah umur, pakaiannya perlente, tampaknya seorang saudagar kaya. Namun gerak-geriknya tampak gesit dan cekatan, jelas kungfunya tidak lemah.

Yang muncul dari tanah pekuburan ada dua orang, yang sebelah kanan pendek kecil, berbaju hitam mulus, kelihatan seperti setan iblis, ginkangnya sangat tinggi.

Yang, sebelah kini bertubuh sedang, tidak tinggi juga tidak pendek, tidak gemuk dan tidak kurus, pakaiannya juga biasa saja, sedikit pun tidak menarik. Akan tetapi ginkangnya seperti jauh lebih tinggi daripada si pendek kecil.

Orang yang muncul dari kelenteng sana berusia paling muda, lagaknya juga paling sok. Ginkangnya juga kelihatan hebat, namun langkahnya tetap mantap, sorot matanya tajam, tidak perlu disangsikan lagi kungfunya pasti lebih tinggi daripada yang lain.

Dia memakai jubah panjang berwarna biru safir, tinggi tegap, pedang bersarung kulit hiu bergantung di pinggangnya, tangkai pedang bersepuh emas, jelas seorang putra keluarga hartawan.

Agaknya Lim Sian-ji sudah tahu akan kedatangan keempat orang ini, ia tidak menyingkap kerai untuk memandang barang sekejap pun, juga tidak turun dari tandu, ia cuma tertawa nyaring dan menegur, “Kalian berempat datang dari jauh, tentu lelah dan haus, maaf jika di sini tidak tersedia sesuatu sekadar menyambut kedatangan kalian.”

Mendengar suara Sian-ji, tanpa terasa wajah keempat orang itu sama berseri gembira, agaknya seperti ingin berebut bicara, tapi setelah saling pandang sekejap, lalu semuanya bungkam.

“Kutahu kalian sama ingin bicara denganku, tapi siapakah yang akan bicara lebih dulu?” kata Sian-ji pula dengan suara merdu.

Orang yang berbaju kelabu dan berpotongan tidak menarik itu tetap berdiri diam saja di tempatnya, seperti tidak berani berebut duluan dengan orang lain.

Sedangkan si pemuda berjubah biru berkerut kening sambil melengos dengan sikap angkuh, jelas dia tidak sudi dicampurbaurkan dengan orang-orang ini, maka ia pun tidak sudi berebut dulu mendahului.

Si muka bulat setengah umur itu tersenyum dan memberi hormat kepada si baju hitam yang pendek kecil itu, katanya, “Silakan saudara bicara dulu!”

Si baju hitam juga tidak sungkan-sungkan, segera ia melompat ke depan tandu.

Dengan tertawa Sian-ji menyambutnya, “Baru dua bulan tidak bertemu, tampaknya ginkangmu sudah bertambah tinggi, selamat dan bahagialah!”

Wajah si baju hitam yang kelam itu menampilkan rasa bangga, sahutnya sambil menghormat, “Terima kasih atas pujian Nona.”

“Kuminta kau kerjakan dua hal, kuyakin pasti sudah terlaksana dengan baik, kutahu engkau tidak pernah membikin kecewa padaku,” kata Sian-ji pula.

Si baju hitam lantas mengeluarkan segebung ginbio atau uang kertas sebangsa cek dan disodorkan, katanya, “Piutang di sekitar Po-ging sudah bayar semua, di sini seluruhnya berjumlah sembilan ribu delapan ratus tahil perak, yang digunakan adalah ginbio Tong-hok-ho dari Soasay.”

Sian-ji mengangsurkan sebelah tangannya yang putih halus dan menerima segebung ginbio itu, agaknya dihitung dulu jumlahnya, lalu berkata, “Sekali ini sungguh telah membikin capek padamu, entah cara bagaimana aku harus berterima kasih kepadamu.”

Pandangan si baju hitam masih termangu-mangu ke tempat tangan Sian-ji terjulur tadi, cepat ia menjawab dengan menyengir, “Ali, masa terima kasih segala, asalkan nona selalu ingat padaku saja sudah cukup.”

“Dan bagaimana dengan si tukang dongeng tua bangka she Sun dan cucu perempuannya itu? Tentu sudah dapat kau selidiki asal usul mereka?”

Si baju hitam menunduk, jawabnya dengan gelagapan, “Semula aku menguntit di belakang mereka, tapi setiba di Kwantiong, sekonyong-konyong kehilangan jejak mereka. Kutanya kawan di daerah itu juga tiada seorang pun yang melihat mereka. Sungguh mereka seperti … seperti mendadak lenyap dari permukaan bumi ini.”

Sian-ji tidak bicara lagi.

Si baju hitam lantas berkata pula, “Jejak kedua orang itu sungguh sangat misterius, di luar meski mereka berlagak tidak mahir ilmu silat, tapi aku tidak percaya. Asalkan nona memberi waktu sedikit hari lagi pasti dapat kuusut asal usul mereka.”

Setelah berpikir sejenak, akhirnya Sian-ji berkata, “Sudahlah, tidak perlu lagi. Kutahu mereka memang sulit dikuntit, meski gagal urusan ini juga tidak kusalahkan dirimu. Sebentar lagi ada urusan lain akan kuminta bantuanmu.”

Baru sekarang si baju hitam merasa lega, ia lantas mundur ke samping dan tidak berani banyak omong lagi.

Segera si muka bulat setengah baya berucap maaf kepada kedua orang lain, lalu ia menuju ke arah tandu dengan munduk-munduk.

Sian-ji tertawa dan berkata, “Orang dagang memang mengutamakan rendah hati dan tambah rezeki, caramu ini memang serupa benar seorang juragan besar.”

Orang ini menjura rendah-rendah dengan tertawa, katanya, “Ah, tidak lebih aku ini kan cuma seorang pegawai rendahan nona, jika nona tidak memberi jalan padaku, seketika juga aku harus gulung tikar. Mana berani kuterima sebutan juragan besar apa segala.”

“Untuk apa membedakan juragan dan pegawai segala, bisnisku kan juga bisnismu, asalkan dikerjakan dengan baik, usaha ini akhirnya toh akan menjadi milikmu?” ujar Sian-ji dengan suara lembut.

Wajah bulat lelaki setengah baya ini seketika merah bercahaya, katanya sambil membungkuk rendah, “Terima kasih, terima kasih ….”

Sampai beberapa kali ia mengucapkan terima kasih, habis itu baru dikeluarkannya segebung ginbio dan disodorkan, katanya, “Inilah keuntungan bersih setahun yang lalu, juga dibuka dengan ginbio Tong-hok-ho, silakan nona memeriksa seperlunya.”

Dengan tertawa Sian-ji berucap, “Sungguh bikin susah padamu, memang sudah kukatakan engkau ini jujur dan dapat dipercaya, pintar bekerja pula ….”

Sembari bicara ia pun menerima gebung ginbio itu dan menghitungnya, sampai di sini mendadak nadanya berubah dan menegur, “He, kenapa cuma enam ribu tahil saja?”

“Enam ribu tiga ratus tahil,” si muka bulat menukas dengan mengiring tawa.

“Tahun sebelumnya berapa?”

“Sembilan ribu empat ratus tahil.”

“Setahun lagi sebelumnya?”

“Tahun itu seperti … seperti selaksa tahil lebih ….” si muka bulat menjadi gelagapan dan mengusap keringat yang memenuhi dahinya.

“Hm, cara kerjamu sungguh hebat, bukannya tambah maju tapi malah tambah mundur,” jengek Sian-ji. “Jika begini, dua tahun lagi bukankah kita akan makan modal?”

Berulang-ulang si muka bulat mengusap keringat, “Soalnya … soalnya pasaran akhir-akhir ini sangat sepi, untung tipis dan biaya besar, tapi … tapi tahun depan, bila pasaran berubah ….”

Sian-ji tidak menghiraukan ocehannya, tiba-tiba ia berkata dengan suara lembut pula, “Ya, selama dua-tiga tahun ini engkau sudah terlalu capek, sudah waktunya kau perlu diberi cuti panjang ….”

“Akan … akan tetapi perusahaan di sana ….” orang itu menjadi gemetar.

“Perusahaan di sana akan kusuruh orang mengurusnya, engkau tidak perlu khawatir,” kata Sian-ji.

“O, apakah … apakah Nona ….” tergegap orang itu, wajahnya penuh rasa takut, belum habis bicara mendadak ia membalik tubuh terus berlari ke hutan sana secepat terbang.

Tapi baru saja ia lari beberapa langkah, sekonyong-konyong sinar perak berkelebat, di tengah jeritan ngeri dan darah muncrat, kontan si muka bulat roboh terkapar.

Tahu-tahu si pemuda berbaju biru sudah memegang pedangnya, ujung pedang tampak menitikkan darah.

Si baju kelabu memandangnya sekejap, dengusnya, “Hm, ilmu pedang hebat!”

Pemuda baju biru itu tidak menghiraukannya, ia menggosok ujung pedang berdarah pada sol sepatunya, sekali pedang berputar, “creng”, pedang dimasukkan lagi ke sarungnya.

Si baju kelabu berdiri dengan tenang tanpa bicara lagi. Sesudah ditunggu sekian lama dan tampaknya si pemuda baju biru tidak mau berebut duluan dengan dia barulah perlahan ia mendekati tandu.

Agaknya Sian-ji juga sudah kenal watak orang ini tidak dapat dipikat dengan sekata dua patah saja, maka ia pun tidak main bujuk rayu, tapi langsung bertanya, “Bagaimana dengan Liong Siau-hun, dia sudah pulang Hin-hun-ceng?”

“Sudah pulang hampir setengah bulan,” tutur si baju kelabu. “Yang mendampingi dia selain si gila Oh Put-kui, ada lagi seorang she Lu bersenjata sepasang tombak pandak, tampaknya juga tidak lemah kungfunya.”

“Dan bagaimana dengan si bungkuk penjual arak itu?”

“Tetap masih membuka warungnya,” tutur si baju kelabu. “Orang ini sungguh sangat pandai menyembunyikan asal usulnya. Liong Siau-hun sudah berkunjung dua-tiga kali ke warungnya, agaknya tetap tidak menghasilkan sesuatu.”

“Tapi kupercaya kepadamu ….” Sian-ji tertawa. “Engkau pasti sudah mendapatkan info yang bersangkutan, betapa pun asal usul orang itu pasti sukar mengelabui matamu.”

Si baju kelabu tertawa, ucapnya kemudian, “Jika tidak keliru dugaanku, si bungkuk pasti ada hubungan erat dengan si Sun tua tukang dongeng, bisa jadi dia adalah Sun-loji yang dahulu terkenal sebagai ‘sebuah bukit di punggung, ditindih gunung pun tidak roboh’.”

Sian-ji kelihatan tercencang, setelah berpikir sejenak, kemudian berkata perlahan, “Coba kau cari tahu lagi, besok ….”

Makin rendah suaranya sehingga si baju kelabu terpaksa mendekatkan telinganya, setelah mendengar sebentar, air mukanya yang kaku tertampil rasa girang, katanya sambil mengangguk, “Baik, kutahu … kuingat … ya, kupergi dulu.”

Waktu dia pergi, langkahnya kelihatan jauh lebih ringan dan cepat.

Lim Sian-ji memang benar mempunyai caranya sendiri untuk membikin lelaki tunduk kepadanya.

Si baju hitam menatap kepergian si baju kelabu dengan melotot, rasanya gemas dan ingin memberinya sekali tikaman.

Tangan yang putih halus masih terbayang olehnya, dengan linglung ia mendekati tandu.

“Coba kemari, ada yang ingin kukatakan padamu, esok malam ….” lalu Sian-ji membisiki beberapa kata di telinga orang.

Si baju hitam tampak sangat senang dan berulang-ulang mengangguk, “Ya, ya, kutahu … mana bisa kulupa ….”

Dan waktu dia pergi, rasanya tubuhnya bertambah tinggi tiga kaki.

Sesudah itu barulah si pemuda berbaju biru mendekati tandu dan menegur, “Nona Lim, engkau sungguh sibuk benar.”

Sian-ji menghela napas, katanya, “Apa dayaku? Mereka kan tidak sama seperti dirimu …. Betapa pun harus kulayani mereka sekadarnya.”

Lalu dia menjulurkan tangannya yang halus untuk memegang tangan si pemuda dan berucap dengan lembut, “Eh, apakah engkau marah?”

“Hm,” pemuda itu menjengek dengan muka masam.

“Ai, coba lihat, seperti anak kecil saja,” kata Sian-ji dengan tertawa. “Eh, lekas naik kemari, biar kuhibur dirimu.”

Mestinya si pemuda hendak menarik muka lagi, tapi lantas tertawa.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar jeritan ngeri ….

Suara berkumandang dari dalam hutan. Mestinya si baju kelabu sudah melangkah ke dalam hutan, sekarang tampak mundur kembali selangkah demi selangkah, darah pun mengucur dari mukanya.

Sesudah mundur sampai di luar hutan barulah dia putar tubuh dan bermaksud lari ke arah tandu.

Di tengah remang malam kelihatan mukanya berlumuran darah, jelas bagian keningnya terluka.

Si baju hitam juga baru mau masuk ke hutan, demi melihat keadaan si baju kelabu, seketika air mukanya berubah. Baru saja dia berhenti, si baju kelabu lantas roboh di samping kakinya.

Jangan-jangan dia kepergok setan di dalam hutan? Setan iblis yang merenggut nyawa manusia?

Tanpa terasa si baju hitam menyurut mundur dua-tiga tindak, serentak ia mencabut belati yang terselip pada ikat kakinya, dengan beringas ia tatap kegelapan hutan sambil membentak parau, “Siapa itu?”

Dalam hutan sunyi senyap, selang sejenak barulah muncul satu orang.

Seorang berperawakan jangkung, memakai baju panjang warna merah jingga sebatas lutut, kepala bertudung bertepian lebar yang hampir menutupi seluruh mata-alisnya.

Bukan cuma gaya berjalannya sangat spesial, caranya menyandang pedang juga berbeda dengan orang lain, hanya diselipkan pada ikat pinggang begitu saja.

Pedangnya tidak panjang, belum terlolos dari sarungnya.

Tampaknya orang ini tidak terlalu buas, tapi begitu si baju hitam melihat dia, entah mengapa, sekujur badan lantas menggigil, telapak tangan pun berkeringat dingin.

Pada orang ini seperti membawa semacam hawa membunuh yang mengerikan.

Hing Bu-bing! Orang ini memang Hing Bu-bing!

Jika Hing Bu-bing masih hidup, yang mati tentulah Li Sun-hoan. Demikian kesimpulan Lim Sian-ji, maka tertawalah dia.

Tapi dia cuma tertawa di dalam batin, lahirnya seperti ketakutan setengah mati, ia pegang tangan si pemuda baju biru dengan erat, ucapnya dengan menggigil, “O, alangkah menakutkan orang ini! Apakah kau tahu siapa dia?”

Pemuda itu tersenyum sebisanya, jawabnya, “Peduli siapa dia, asalkan aku berada di sini, apa yang perlu kau takuti?”

Sian-ji menghela napas lega, ucapnya mantap, “Ya, aku tidak takut, kuyakin engkau pasti akan melindungiku, asalkan engkau berada di sampingku, pasti tidak ada seorang pun berani menyentuh seujung rambutku.”

“Tepat,” pemuda itu membusungkan dada. “Peduli siapa dia, asalkan dia berani mendekat kemari segera akan kucabut nyawanya.”

Padahal ia pun terpengaruh oleh hawa pembunuhan Hing Bu-bing yang seram itu, tangannya sudah berkeringat dingin. Cuma dia masih muda, berada di depan perempuan yang dicintainya betapa pun dia pantang menyerah dan unjuk kelemahan.

Sementara itu Hing Bu-bing sudah berada di depan si baju hitam.

Si baju hitam memegang belati, entah sudah berapa banyak orang yang terbunuh oleh belatinya itu, tapi entah mengapa sekarang dia justru tidak berani memainkan belatinya. Telah dilihatnya warna mata Hing Bu-bing yang pucat kelabu itu.

Sama sekali Hing Bu-bing tidak menghiraukan orang, jengeknya, “Apakah belatimu ini dapat membunuh orang?”

Si baju hitam jadi melengak.

Pertanyaan ini membuat orang serbakonyol. Tapi pertanyaan sudah diajukan, mau tak mau harus menjawab, terpaksa ia berkata, “Dengan sendirinya dapat.”

“Baik, boleh coba bunuh diriku,” kata Hing Bu-bing pula.

Kembali si baju hitam melenggong, sampai sekian lama barulah ia menjawab dengan menyengir, “Antara kita tiada permusuhan apa pun, untuk apa kubunuhmu?”

“Sebab kalau tidak kau bunuh diriku, akulah yang akan membunuhmu,” kata Hing Bu-bing.

Tanpa terasa si baju hitam menyurut mundur dua tindak, keringat dingin tampak mengucur dari mukanya, mendadak ia mengertak gigi, secepat kilat belatinya menikam dengan nekat.

Pada umumnya semakin pendek senjata yang digunakan semakin berbahaya pula, jika dia berani menggunakan senjata pandak begini, tentu dia mempunyai Kungfu andalan yang istimewa.

Tapi baru saja belatinya bergerak, serentak sinar pedang juga menyambar. Menyusul lantas terdengar jeritan ngeri yang singkat, tahu-tahu si baju hitam sudah roboh.

Segera pedang Hing Bu-bing masuk lagi ke sarungnya seakan-akan sama sekali tidak melolos pedang. Sungguh serangan yang cepat.

Si pemuda baju biru juga ahli pedang, biasanya dia menganggap gerak pedang sendiri sangat cepat dan tidak percaya di dunia ini ada orang lain dapat lebih cepat daripada dia. Tapi sekarang dia harus percaya.

Melihat kulit muka pemuda itu berkerut-kerut, Sian-ji melepaskan tangannya dan berkata, “Sungguh cepat amat serangan orang ini, lebih baik … lebih baik engkau lari saja dan jangan menghiraukan diriku.”

Bilamana usia pemuda itu agak lanjut tentu dia akan menurut, sebab seorang yang berusia 40 atau 50 tahun akan lebih mengerti betapa berharganya nyawa.

Jika ada orang bilang: Sungguhpun jiwa sangat berharga, cinta justru terlebih berharga.

Yang bicara demikian pasti anak muda, dan anak muda yang bicara demikian pasti takkan hidup lebih dari 50 tahun.

Dengan mengertak gigi pemuda itu berucap dengan parau, “Jangan takut, biar kulabrak dia.”

Nadanya tidak pasti, juga tidak ada maksud hendak menerjang ke sana.

Maka Sian-ji berkata pula, “Tidak …. Engkau tidak boleh mati, engkau masih punya ayah-bunda dan anak istri, lebih baik engkau lari pulang saja, biar kurintangi dia, aku kan sebatang kara, mati juga tidak menjadi soal.”

Akhirnya pemuda itu tidak tahan, mendadak ia membentak terus menerjang ke sana dengan nekat.

Maka tertawalah Lim Sian-ji.

Seorang perempuan kalau menghendaki kaum lelaki mengadu jiwa baginya, maka jalan yang palang baik adalah berusaha membikinnya tahu si dia mencintainya dan tidak sayang mati baginya.

Cara ini entah sudah dipergunakan berapa kali oleh Lim Sian-ji dan tidak pernah gagal.

Sekali ini tidak cuma batinnya saja tertawa, mukanya juga tertawa. Sebab ia tahu pemuda berbaju biru itu tak dapat melihatnya lagi untuk selamanya.

Sinar pedang sudah berhamburan di sana, ilmu pedang pemuda baju biru menang hebat, pedang yang digunakan juga pedang bagus.

Dalam sekejap dia sudah menyerang Hing Bu-bing lima-enam jurus, tapi tidak berucap sepatah kata pun, rupanya ia tahu tiada gunanya bicara apa pun.

Dan Hing Bu-bing ternyata tidak balas menyerang. Jelas setiap serangan anak muda itu selalu mengincar bagian mematikan, tapi selalu mengenai tempat kosong.

“Engkau ini murid Tiam-jong-pay?” tanya Hing Bu-bing tiba-tiba.

Seketika pemuda baju biru berhenti menyerang, sebaliknya mata orang yang pucat kelabu itu seolah-olah tidak pernah melihatnya. Sungguh dia tidak mengerti cara bagaimana orang mengenali ilmu pedang perguruannya.

“Cia Thian-leng ada hubungan apa denganmu?” tanya Hing Bu-bing.

“Beliau … beliau guruku,” jawab pemuda baju biru.

“Kwe Ko-yang telah mati di bawah pedangku,” kata Bu-bing pula.

Dia mengucapkan kata-kata yang tidak keruan juntrungannya, seperti tiada sangkut pautnya dengan urusan sekarang. Tapi pemuda berbaju biru cukup paham apa maksudnya.

Kiranya Cia Thian-leng adalah ketua Tiam-jong-pay, terkenal sebagai jago pedang nomor satu di wilayah selatan, selama hidupnya malang melintang tanpa tandingan tapi akhirnya dikalahkan oleh Kwe Ko-yang, kalah secara lahir batin.

Sekarang Kwe Ko-yang saja mati di bawah pedangnya, dengan sendirinya Cia Thian-leng pasti juga bukan tandingannya, apalagi cuma muridnya.

Seketika air muka pemuda baju biru berubah pucat.

Siapa pun dapat melihat Hing Bu-bing pasti bukan seorang yang suka membual.

“Sekali turun tangan segera kurenggut nyawamu, kau percaya tidak?” tanya Bu-bing.

Pemuda itu mengertak gigi tanpa menjawab.

Tiba-tiba sinar pedang berkelebat, entah kapan pedang Hing Bu-bing sudah terlolos dan tahu-tahu ujung pedang sudah mengancam di leher orang.

“Sekali kuturun tangan segera dapat kurenggut nyawamu, kau percaya tidak?” Bu-bing mengulangi pertanyaannya.

Butiran keringat bercucuran dari dahi pemuda itu, bibir pun tergigit hingga berdarah, sahutnya dengan parau, “Kenapa tidak kau bunuhku saja?”

“Kau ingin mati?” tanya Bu-bing.

“Seorang lelaki sejati, hidup boleh gembira, mati pun tidak perlu gentar. Silakan turun tangan saja?” seru pemuda itu.

Meski sedapatnya dia berlagak tidak takut mati, tapi lagaknya kurang sepadan.

“Jika tidak kubunuhmu, apakah kau pun ingin mati?” tanya Bu-bing pula.

Pemuda itu jadi melengak.

Kalau dapat hidup dengan baik, siapa yang ingin mati?

“Kutahu engkau ingin mati bagi si dia, supaya dia menganggap engkau seorang pahlawan, tapi jika benar kau mati, apakah dia masih tetap suka padamu?” tiba-tiba Hing Bu-bing mendengus, “Hm, kalau dia yang mati, apakah engkau akan tetap suka padanya?”

Pemuda itu tidak mampu bicara lagi. Ia merasa ujung pedang yang dingin sudah meninggalkan tenggorokannya. Ia merasa dirinya seperti orang dungu.

“Dalam pandangan orang perempuan, seratus pahlawan yang mati tetap tidak lebih baik daripada seorang pengecut yang hidup, hal ini serupa dalam pandanganmu, seratus orang perempuan cantik mati tetap tidak lebih baik daripada seorang perempuan jelek yang hidup …. Masakah dalil ini tidak kau pahami?”

Pemuda itu mengusap keringat, jawabnya sambil menyengir, “Ya, kupaham.”

“Dan sekarang engkau masih ingin mati?”

“Tetap hidup juga tidak jelek,” ujar si pemuda dengan muka merah.

“Bagus, akhirnya tertembus juga jalan pikiranmu,” kata Bu-bing. “Biasanya aku tidak banyak bicara, tapi sekarang aku telah bicara sebanyak ini, sebabnya hanya supaya kau paham dalil ini. Bilamana engkau sudah paham barulah dapat kubunuhmu.”

“Engkau akan membunuhku juga?” tanya si pemuda dengan kaget.

“Selama ini aku cuma bertanya dan tidak pernah menjawab, hanya dikecualikan terhadap orang yang hampir mati.”

“Tapi … jika engkau akan membunuhku, mengapa bicara pula sebanyak ini?”

“Sebab aku tidak suka membunuh orang yang sengaja ingin mati. Jika engkau memang ingin mati, rasanya kan tidak menarik jika kubunuhmu.”

Mendadak pemuda baju biru itu meraung, pedangnya terus menebas.

Suara raungnya sangat singkat, sebab baru saja tangannya bergerak, tahu-tahu ujung pedang Hing Bu-bing sudah menyambar ke dalam mulutnya.

Akhirnya dia merasakan juga rasanya mati.

Pedang Hing Bu-bing masuk kembali lagi ke sarungnya. Dia mempunyai suatu kebiasaan yang aneh, yaitu setiap kali habis membunuh orang, dengan cepat ia masukkan kembali pedang ke sarungnya seperti tidak ingin menggunakannya lagi.

Ia tahu bila orang lain melihat pedangnya masih berada di dalam sarungnya, tentu orang akan lengah. Dia suka orang yang lengah, sebab orang semacam ini biasanya akan mati terlebih cepat.

Sian-ji terus-menerus memandangnya, mengamati setiap gerak-geriknya dengan cermat, sorot matanya senantiasa membawa senyuman yang lembut, serupa seorang gadis lagi memandangi kekasihnya pada waktu jatuh cinta pertama.

Sebaliknya sama sekali Hing Bu-bing tidak memandang ke arah sini.

Sian-ji telah memasang gaya yang paling menggiurkan untuk menyambut kedatangannya. Bu-bing mendekatinya, tapi tetap tidak memandangnya sekejap pun.

Meski tetap tersenyum, namun teleng mata Sian-ji mulai menciut. Diam-diam ia merasakan gelagat tidak enak.

Biasanya, setiap lelaki yang pernah bergaul intim dengan dia, bilamana melihatnya lagi pasti akan serupa kucing rakus melihat ikan asin. Akan tetapi lelaki ini tetap kaku dingin, melirik pun tidak kepadanya, seperti pada tubuhnya penuh racun.

Pinggang Sian-ji meliuk-liuk, kedua penggotong tandu yang masih muda itu sampai terkesima sehingga sama sekali tidak mengetahui maut mengancam mereka. Begitu sinar pedang berkelebat, baru saja mereka menjerit, pedang Hing Bu-bing lantas masuk kembali lagi ke sarungnya.

Dia sudah berada di depan Lim Sian-ji, tapi matanya yang pucat kelabu itu tetap memandang jauh ke depan dengan hampa.

Hanya kegelapan belaka di kejauhan.

Sian-ji menghela napas, katanya, “Mengapa engkau tidak berani memandang diriku? Apakah kau takut bila memandangku lantas tidak tega membunuhku lagi?”

Kulit muka Hing Bu-bing tampak berkerut-kerut, selang sekian lama baru berkata dengan bengis, “Kau tahu kedatanganku hendak membunuhmu?”

Sian-ji mengangguk perlahan, “Ya kutahu …. Betapa pun kejamnya seorang, bilamana dia disuruh membunuh orang yang dicintainya, sikapnya pasti kelihatan berbeda daripada biasanya.”

Ia tersenyum pedih, lalu menyambung, “Aku cuma ingin tanya satu hal padamu, jika aku sudah hampir mati, seharusnya kau jawab pertanyaanku.”

Bu-bing termenung sejenak, kemudian mendengus, “Tanya saja, terhadap orang yang hampir mati tidak pernah kudusta.”

Sian-ji menatapnya lekat-lekat. “Aku cuma ingin tanya, siapa yang menyuruhmu membunuh diriku dan apa sebabnya?”

Bu-bing mengepal tinjunya erat-erat, teriaknya, “Tidak ada yang suruh, juga tidak ada sebabnya.”

“Pasti ada ….” ujar Sian-ji. “Orang yang ingin membunuhku pasti bukan dirimu sendiri.”

Ia tertawa, tertawa yang pedih dan menambah kecantikannya, lalu menyambung lagi dengan sayu, “Kutahu engkau cinta padaku dan pasti tidak tega membunuhku.”

Bilamana orang lain yang menyebut kata “cinta” pasti akan membuat orang merinding, tapi tercetus dari mulut Lim Sian-ji, kata ini kedengarannya seperti nyanyian yang merdu.

Sebab pada saat dia mengucapkan kata ini, bukan cuma mulutnya saja yang digunakan, tapi juga menggunakan lidahnya, juga tangannya, kakinya, pinggangnya dan matanya ….

Untuk mengucapkan kata “cinta” ini bukanlah pekerjaan gampang, ada orang tidak suka menyebutnya, ada yang tidak berani mengatakannya, malahan ada sementara orang telah belajar selama hidup juga tetap tidak tahu cara bagaimana mengucapkannya.

Di dunia ini mungkin tidak ada orang lain yang lebih mahir mengucapkan “cinta” daripada Lim Sian-ji.

Tangan Bu-bing terkepal erat sehingga ruas tulangnya berbunyi keriang-keriut. Namun wajahnya tetap tidak menampilkan emosi apa pun, dia berbalik menjengek, “Hm, apa benar kau tahu? Kau yakin?”

“Jika aku tidak yakin, bila engkau tidak cinta padaku, tentu engkau takkan membunuh orang-orang ini ….”

Bu-bing tidak memotong ucapannya, sebaliknya malah menanti ucapannya lebih lanjut.

“Kau bunuh mereka hanya lantaran kau cemburu,” sambung Sian-ji.

“Cemburu?” Bu-bing menegas.

“Ya, asalkan orang yang pernah menyentuh diriku, bahkan orang yang cuma memandangku, semuanya akan kau bunuh, dan inilah cemburu alias minum cuka. Jika engkau tidak cinta padaku mana bisa cemburu, mana bisa minum cuka?”

Muka Bu-bing tampak pucat, jengeknya, “Hm, aku cuma tahu akan kubunuh dirimu, orang yang hendak kubunuh jangan lagi berharap akan hidup lagi.”

“Jika benar kau ingin membunuhku mengapa engkau sama sekali tidak memandang diriku? Engkau tidak berani?” tanya Sian-ji.

Tangan Bu-bing menggenggam tangkai pedang, di tengah remang cahaya pelita dapat juga terlihat butiran keringat yang menghias dahinya. Keringat dingin.

Sian-ji menatapnya tajam, katanya pula, “Jika sama sekali engkau tidak berani memandang diriku, umpama jadi kau bunuh diriku tentu juga engkau akan menyesal.”

Untuk mencoba pikiran orang, perlahan ia menjulurkan tangannya.

Hing Bu-bing tidak bergerak.

Akhirnya tangan Sian-ji memegang tangan Bu-bing, lalu tubuhnya juga menggelendot di bahunya, tangan pun mulai meraba dadanya, ucapnya dengan lembut, “Jika engkau tak dapat mengambil keputusan, boleh kau bawa diriku untuk menemui dia.”

Jari-jemari Sian-ji bergerak dengan lincah bahkan ia tahu harus berhenti di bagian mana.

Napas dan otot daging sekujur badan Hing Bu-bing sama menegang, ucapnya dengan parau, “Kau … kau ingin menemui siapa?”

“Menemui orang yang menyuruhmu membunuh diriku itu,” kata Sian-ji. “Pasti dapat kubikin dia mengubah pendiriannya ….”

Perlahan ia gigit ujung telinga Hing Bu-bing dan membisikinya pula, “Engkau jangan khawatir, pasti takkan kukecewakan dirimu.”

Hing Bu-bing tetap tidak memandangnya, tapi perlahan berpaling dan memandang ke hutan yang gelap sana.

Bola mata Sian-ji berputar, tanyanya lirih, “Apakah dia … dia berada di dalam hutan?”

Hing Bu-bing tidak menjawab, memang tidak perlu lagi jawabannya.

, ,

Leave a comment

Pendekar Budiman: Bagian 17

Pendekar Budiman: Bagian 17
Oleh Gu Long

“Sudah waktunya, apakah Kwe Ko-yang sudah mulai duel dengan Siangkoan Kim-hong dan Hing Bu-bing? Mati-hidupnya mungkin akan ditentukan dalam sedetik saja, tapi aku malah berbaring di sini dengan adem ayem tanpa berbuat sesuatu baginya?” berpikir sampai di sini, hati Li Sun-hoan serasa mau meledak.

Sekonyong-konyong bergema suara orang naik tangga. Suaranya sangat perlahan, tapi sekali dengar segera Sun-hoan tahu ada dua orang telah datang sekaligus, bahkan Kungfu keduanya tidak lemah.

Menyusul lantas terdengar suara pintu diketuk, “Tok … tok-tok!”

Ling-ling menjadi tegang. Memangnya siapakah yang datang itu? Mungkinkah Siangkoan Kim-hong dan Hing Bu-bing dan hal ini berarti Kwe Ko-yang telah mengalami nasib malang dan sekarang mereka datang untuk mencari Li Sun-hoan.

“Tok … tok-tok!” pintu diketuk lagi, sekali ini terlebih keras.

Butiran keringat sudah merembes keluar di dahi Ling-ling, mendadak ia angkat Sun-hoan sambil celingukan kian kemari, agaknya ingin mencari suatu tempat untuk menyembunyikan Sun-hoan.

“Tok … tok-tok …. Tok … tok-tok!” berulang pintu terketuk lagi, jelas orang di luar itu mulai tidak sabar, kalau tidak segera dibuka bisa jadi mereka akan masuk dengan mendobrak pintu.

Ling-ling menjadi gugup, serunya, “Tunggu sebentar! Ai, kenapa terburu-buru, orang kan harus pakai baju dulu!”

Sembari bicara ia cukit pintu lemari pakaian dengan ujung kaki, Sun-hoan lantas dimasukkan ke dalam lemari, lalu diuruk lagi dengan beberapa potong baju.

Meski Li Sun-hoan tidak ingin main sembunyi, tapi apa daya, satu jari saja tidak dapat bergerak, terpaksa ia pasrah nasib diperlakukan sesukanya oleh Ling-ling.

Sesudah membetulkan bajunya dan rambutnya, Ling-ling mengusap pula keringat yang memenuhi dahi dan hidungnya, lalu pintu lemari ditutup rapat dan dikunci sekalian.

Kemudian dia sengaja menggerutu, “Ai, orang lagi istirahat tidur siang, tahu-tahu datang tamu lagi, dasar nasib!”

Suaranya semakin menjauh, lalu Sun-hoan mendengar suara pintu terbuka.

Sesudah pintu terbuka, suasana menjadi sunyi malah, agaknya Ling-ling jadi terkesima atau kaget, jelas pendatang adalah orang yang belum pernah dilihatnya.

Apakah Siangkoan Kim-hong dan Hing Bu-bing?

Orang yang datang itu juga tidak bersuara, sampai sekian lamanya baru terdengar Ling-ling bertanya, “Kalian ingin mencari siapakah? Jangan-jangan salah alamat?”

Orang di luar pintu tetap tidak bersuara.

Mendadak terdengar suara “blang”, agaknya Ling-ling didorong mereka hingga menumbuk pintu, lalu terdengar suara langkah kaki dua orang masuk ke dalam rumah.

Keadaan di dalam lemari gelap lagi pengap, jika orang lain ditutup di dalam lemari seperti Li Sun-hoan sekarang bisa jadi sudah tegang setengah mati.

Jelas kedatangan kedua orang ini tidak bertujuan baik, kalau tidak, tentu mereka takkan memperlakukan Ling-ling seperti sekarang ini.

Tapi sekarang Li Sun-hoan berbalik bisa menenangkan diri. Menghadapi persoalan rumit begini, selalu ia berusaha mempertahankan ketenangan sendiri, sebab ia tahu biarpun dirinya gelisah setengah mati juga tidak ada gunanya.

Dalam pada itu terdengar Lin-ling lagi berteriak, “Apa maksud kalian ini? Memangnya kalian perampok?”

Diam-diam Sun-hoan tertawa geli. Teringat olehnya waktu kedatangannya tempo hari Ling-ling juga menyangkanya sebagai bandit. Nona ini mungkin tidak punya kepandaian lain, tapi kepandaian berlagak dan berdusta agaknya sudah hampir sama hebatnya dengan Lim Sian-ji.

Namun kedua pendatang itu sama sekali tidak menggubris makian Ling-ling tadi, mereka mengitari kedua ruangan di luar, seperti lagi mencari apa-apa, kemudian mereka masuk ke kamar ini.

Ling-ling ikut menerjang masuk dan berteriak, “Ini kamar pribadi Siocia kami, mana boleh sembarangan kalian masuki?”

Sampai di sini barulah kedua pendatang ini membuka mulut. Seorang di antaranya berkata, “Kedatangan kami memang ingin mencari Siocia kalian.”

Suara ini ternyata sangat halus, sangat enak didengar, bahkan seperti bicara dengan tersenyum.

Yang datang ini ternyata orang perempuan!

Hal ini juga di luar dugaan Li Sun-hoan, tak terpikir olehnya ada orang perempuan bisa datang ke sini, pantas Ling-ling jadi melenggong melihat mereka.

“Jadi kalian ingin mencari Siocia kami? Kalian kenal beliau?” demikian Ling-ling lagi tanya.

“Tentu saja kenal ….” jawab perempuan tadi. “Bukan cuma kenal saja, bahkan sahabat baik.”

“Ah, jika begitu, kenapa tidak kalian katakan sejak tadi, sampai kusangka kalian sebagai perampok,” ujar Ling-ling dengan tertawa.

Perempuan itu juga tertawa, katanya, “Apakah bentuk kami kelihatan serupa perampok?”

“Untuk ini agaknya Anda belum tahu bahwa perampok zaman kini tidak serupa penjahat zaman dulu, penjahat zaman sekarang malahan kelihatan terlebih halus dan sopan daripada Anda berdua, bahkan juga lebih cakap dan terpelajar sehingga orang sukar meraba asal usulnya.”

Anak dara ini sungguh siluman mahacerdik, biarpun memaki orang pun tidak perlu memakai kata kotor.

Belum lagi perempuan tadi bersuara, terdengar suara perempuan yang lain telah menyela, “Ke manakah Siociamu, maukah kau panggil dia keluar?”

Suara orang ini bernada rendah, kedengaran agak parau, tapi juga enak didengar. Malahan Li Sun-hoan merasa orang ini sudah cukup dikenalnya, cuma seketika tidak teringat siapa dia.

Maka terdengar Ling-ling lagi menjawab dengan tertawa, “Wah, kedatangan kalian sungguh tidak kebetulan, Siocia sudah keluar beberapa hari yang lalu, aku yang menjaga rumah sendirian, ada urusan apa boleh kalian beri tahukan kepadaku, kan sama saja.”

“Kapan dia pulang?” tanya perempuan pertama tadi.

“Entah …. Siocia tidak bilang, mana kuberani tanya?” jawab Ling-ling.

Mendadak perempuan yang lain mengejek, “Hm, begitu kami datang, dia lantas keluar, kalau kami tidak datang, setiap hari dia di rumah. Memangnya dia tahu akan kedatangan kami maka sengaja bersembunyi dan tidak berani menemui kami?”

Cara bicaranya tidak halus lagi, nyata kedatangannya memang ingin mencari perkara.

Apakah lantaran suami mereka diketahui sering mengadakan hubungan gelap dengan Lim Sian-ji, maka kedatangan mereka sengaja hendak menangkap basah hubungan zina.

Ling-ling tertawa, katanya, “Jika kalian memang sahabat Siocia, bila beliau tahu akan kedatangan kalian, tentu saja beliau akan kegirangan, mana mungkin main sembunyi malah?”

“Tapi ada sementara orang biasanya berani bertemu dengan siapa pun, hanya sahabat saja tidak berani ditemuinya, coba aneh tidak?” ujar perempuan itu dengan tertawa.

Perempuan lain lantas mendengus, “Hm, bisa jadi hal ini disebabkan dia terlalu banyak berbuat kesalahan terhadap sahabat sendiri.”

“Ah, kalian sungguh pandai bergurau,” ujar Ling-ling dengan tertawa. “Tempat sekecil ini, umpama mau main sembunyi juga tidak ada tempatnya.”

“Masa begitu? ….” kata perempuan pertama tadi. “Meski aku tidak hafal tempat ini, kalau aku mau sembunyi, bisa jadi akan menemukan suatu tempat yang baik.”

“Ya, kecuali nona bersembunyi di dalam lemari pakaian,” ujar Ling-ling dengan mengikik tawa. “Tapi seorang kalau sembunyi di dalam lemari, bukankah bisa sesak napas, wah, rasanya tentu tidak enak.”

Perempuan itu juga tertawa, “Betul, Siociamu kan orang halus dan terhormat, masakah sudi bersembunyi di dalam lemari?”

Kedua orang tertawa riang, seperti apa yang dibicarakan mereka itu sangat lucu.

Sesudah tertawa, lalu perempuan itu menyambung lagi, “Cuma, bilamana Siociamu tidak sudi bersembunyi di dalam lemari, lantas siapakah orang yang berada di dalam situ?”

“Siapa? …. Maksudmu di dalam lemari ada orang? Ah, kenapa aku sama sekali tidak tahu?” kata Ling-ling.

“Jika di dalam lemari tidak ada orang, mengapa sejak mula kau adang di depannya? Memangnya kau takut kami akan mencuri pakaian Siociamu?” ujar perempuan tadi.

“Ah, mana … mana pernah kuadang di depan ….” Ling-ling menjadi gelagapan.

“Adik cilik,” ucap perempuan itu dengan lembut, “meski engkau sangat pintar dan pandai bicara, cuma sayang usiamu masih teramat muda, bila ingin membohongi kami dua siluman tua ini, mungkin perlu kau tunggu beberapa tahun lagi.”

Meski Li Sun-hoan tidak dapat melihat keadaan di luar, tapi dapat dibayangkannya wajah Ling-ling sekarang pasti serbasalah, dengan sendirinya hati Sun-hoan sendiri juga tidak enak.

Seorang lelaki besar diketahui bersembunyi di dalam lemari, betapa pun hal ini tidak menyenangkan, sukar dibayangkannya kedua perempuan itu akan memandangnya sebagai orang macam apa. Tapi ia juga tidak dapat menerka sesungguhnya mereka itu perempuan macam apa?

Cara bicara perempuan itu kedengaran lemah lembut, perangainya seperti sangat halus, tapi setiap katanya seakan-akan berduri, jelas dia seorang perempuan yang sangat lihai.

Perempuan yang lain tidak banyak bicara, tapi bila buka mulut selalu bernada garang, agaknya sangat tidak suka terhadap Lim Sian-ji dan sengaja datang membikin perhitungan dengan dia.

Dari suara langkah mereka tadi, jelas Kungfu mereka tidak lemah dan pasti tidak di bawah Lim Sian-ji.

Sungguh Sun-hoan berharap yang bersembunyi di dalam lemari benar-benar Lim Sian-ji adanya agar kedua perempuan ini dapat memberi hajaran setimpal padanya. Biarpun Sian-ji sangat mahir menundukkan kaum lelaki, terhadap kaum perempuan bisa jadi dia akan mati kutu.

Celakanya yang bersembunyi di dalam lemari sekarang ialah Li Sun-hoan sendiri, lebih celaka lagi dia justru akan dijadikan tumbal bagi Lim Sian-ji.

Tiba-tiba terdengar Ling-ling menjerit tertahan, tahu-tahu pintu lemari telah ditarik orang.

Sun-hoan memejamkan mata dan berharap kedua perempuan ini jangan mengenalinya.

Agaknya perempuan itu juga tidak mengira yang bersembunyi di dalam lemari ialah seorang lelaki, seketika ia pun tercengang. Sejenak kemudian barulah ia mengikik tawa dan berucap, “Hihi, adik cilik, siapa orang ini? Dia tidur di sini?”

“Dia … dia kakak-misanku,” jawab Ling-ling.

“Hihi, sungguh lucu,” perempuan tadi tertawa. “Pada waktu kecil sering juga kusembunyikan pacar di dalam lemari pakaian, suatu kali ketahuan orang, maka aku pun mengakui dia sebagai kakak-misanku.”

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung, “Aneh juga, mengapa anak perempuan umumnya suka bilang pacar sebagai kakak-misan, apakah tidak dapat pakai cara lain.”

“Bagiku ini pertama kali, lain kali aku pasti akan pakai cara lain,” kata Ling-ling.

“Wah, adik cilik ini sungguh kecil-kecil cabai rawit, tampaknya kita pun harus belajar padanya,” ujar perempuan itu dengan tertawa.

Perempuan yang lain termenung saja sejak tadi, tiba-tiba ia berkata, “Jika Lim Sian-ji tidak berada di sini, marilah kita pergi saja.”

“Kenapa terburu-buru?” kata kawannya. “Sudah telanjur datang, apa alangannya berduduk dulu di sini.”

Ketika pintu lemari terbuka tadi segera Sun-hoan mencium bau harum yang sangat memikat, sekarang bau harum ini semakin dekat, agaknya perempuan itu sudah berada di depannya.

Selang sejenak kemudian terdengar ia berkata dengan tertawa, “Wah, adik cilik ini kelihatannya masih kecil, tapi lelaki pilihannya ternyata lumayan.”

“Tidak banyak orang lelaki di tempat pegunungan sini, yang cakap juga sudah diambil Siocia, bagiku terpaksa seadanya,” ujar Ling-ling dengan tertawa.

“Masa engkau tidak puas terhadap lelaki macam begini?” tanya perempuan itu. “Coba kau lihat, dia tidak gemuk, juga tidak kurus, wajahnya juga tidak menjemukan, tampaknya malah cukup berpengalaman terhadap urusan perempuan.”

“Ya, urusan lain dia memang lumayan, cirinya gemar tidur, sekali tidur sukar bangun lagi,” tutur Ling-ling.

“Hihi, hal ini mungkin disebabkan dia terlalu ngoyo bekerja ….” perempuan itu tertawa mengikik. “Ai, bertemu dengan siluman rase cilik seperti dirimu tentu saja dia kehabisan tenaga.”

“Dan usianya juga agak lanjut,” kata Ling-ling.

“Ehm, betul juga, bagimu dia memang agak lebih tua, bagiku rasanya lebih setimpal,” ujar perempuan itu dengan tertawa senang. “Eh, adik cilik, jika dia tidak mencocoki seleramu, boleh kau pindah tangankan dia kepadaku. Selang dua hari lagi pasti kucarikan seorang pemuda untukmu.”

Semula perempuan ini kelihatan lemah lembut, tapi sekali melihat orang lelaki, kontan sifatnya berubah sama sekali, sembari bicara terus saja dia angkat Li Sun-hoan.

Sampai di sini, mau tak mau Li Sun-hoan terpaksa harus membuka mata.

Tapi begitu mata terpentang, seketika ia kaget.

Umur perempuan yang mengangkatnya ini tidak tua, paling-paling baru 26-27 tahun saja, wajahnya tidak jelek, kulit badannya putih, matanya besar, mulutnya kecil, waktu tertawa malah dekik pada pipinya, jika cuma dinilai dari semua yang disebutkan itu, harus diakui dia memang seorang perempuan cantik.

Cuma sayang, dagunya susun tiga, pinggangnya sebesar gentong, daging lebih pada tubuhnya mungkin lebih banyak daripada daging tubuh tiga orang digabungkan menjadi satu. Berada dalam pondongan perempuan itu Li Sun-hoan merasa seperti tidur di dalam gumpalan daging.

Sungguh sukar dibayangkan bahwa perempuan yang bicaranya begitu lembut dan suaranya begitu merdu ternyata seorang perempuan gembrot begini, sungguh terlalu gemuknya.

Sudah banyak macam-macam bentuk orang perempuan telah dilihat Sun-hoan, tapi perempuan gembrot begini sungguh baru sekarang dilihatnya. Seorang lelaki kalau berada dalam rangkulan perempuan gembrot begini, sungguh lebih baik terjun ke sungai saja.

Tapi hal yang lebih mengejutkan Li Sun-hoan adalah perempuan yang lain.

Perempuan ini sangat cantik, sangat memikat, pinggangnya kecil, memakai baju biru yang sangat singsat sehingga garis tubuhnya kelihatan mencolok, tapi lengan bajunya sangat longgar, biarpun berdiri tanpa bergerak juga kelihatan serupa dewi kahyangan.

Perempuan ini tak-lain-tak-bukan ialah Na Kiat-cu, si kalajengking yang pergelangan tangannya dipatahkan Li Sun-hoan itu.

Diam-diam Sun-hoan mengeluh, ia tahu hari ini bisa celaka baginya.

Anehnya, Na Kiat-cu seperti tidak mengenalnya lagi, tidak kelihatan sesuatu perasaan pada wajahnya, bahkan tidak mau memandang lagi kepalanya.

Si perempuan gemuk masih terus tertawa, karena tertawa sehingga daging sekujur badannya ikut bergetar, Li Sun-hoan merasa seperti terjadi gempa bumi.

Ling-ling menjadi gugup, katanya, “Orang ini sangat kotor, sering sampai berbulan-bulan tidak mandi, jangan nona memondongnya, pada tubuhnya selain banyak ketombe juga banyak kutu busuk.”

“Kotor? Siapa hilang dia kotor?” perempuan gemuk itu menegas. “Huh, umpama benar pada tubuhnya banyak ketombe dan kutu busuk juga tidak menjadi soal. Kutu busuk di tubuh orang lelaki pasti juga berbau lelaki.”

Dia tertawa mengekek, lalu menyambung, “Bagiku, setiap barang yang berbau lelaki tentu kusukai.”

“Akan tetapi … akan tetapi selain kotor dan malas, dia juga setan pemabukan,” kata Ling-ling pula.

“Pemabuk tambah baik, lelaki yang kuat minum barulah memiliki kegagahan seorang lelaki,” ujar si perempuan gemuk, tampaknya dia teramat senang sehingga tidak tahan lagi, dirabanya muka Li Sun-hoan sambil tertawa mengikik, lalu berkata lagi, “Jika benar kau gemar minum, tentu akan kutemani minum sepuasnya, ada sementara urusan akan tambah menyenangkan bila dikerjakan sehabis minum arak.”

Betapa pun Ling-ling tidak sanggup tertawa lagi, katanya, “Ada semacam lelaki, biasanya alim, tapi bila melihat orang perempuan, sekujur badan lantas lemas lunglai. Lelaki semacam ini biasanya disebut mata keranjang, dan entah perempuan semacam ini disebut apa?”

Perempuan gemuk itu tidak marah meski tahu Ling-ling bermaksud menyindirnya, dengan tertawa ia menjawab, “Perempuan jenis ini juga disebut mata keranjang. Aku memang setan perempuan mata keranjang tulen, asal melihat lelaki cakap hatiku lantas tertarik.”

“Tapi apakah si lelaki juga tertarik melihatmu?” jengek Ling-ling.

“Kau kira aku terlalu gemuk sehingga tidak menarik?” kata si gemuk. “Padahal, meski aku agak gemuk, tapi lelaki yang berpengalaman sama tahu perempuan gemuk justru lebih lembut dan lebih bergairah, hangat di musim dingin, segar di musim panas, bahkan masih ada kebaikan lain lagi ….”

Dia melirik Sun-hoan dalam pondongannya sekejap, lalu menyambung dengan tertawa genit, “Di mana letak kebaikannya, hihi, sebentar tentu akan kau ketahui.”

Mendadak Ling-ling tertawa mengikik geli sehingga menungging.

Seketika si gemuk mendelik, “Apa yang kau tertawai?”

“Haha, kutertawai dirimu karena menaksir dia,” jawab Ling-ling.

“Mengapa aku tidak boleh menaksir dia?” tanya si gemuk.

“Memangnya kau tahu siapa dia?” tanya Ling-ling.

“Dan apakah kau tahu siapa diriku?” si gemuk balas bertanya.

“Paling tidak engkau tentu bukan adik misannya,” ujar Ling-ling.

“Apakah pernah kau dengar nama si Buddha Perempuan Mahagembira? Aku inilah Ci-cun-po (si mestika mahaagung) anak buahnya, setiap lelaki yang bertemu denganku seluruhnya akan kumakan.”

Hendaknya maklum, Ci-cun-po adalah istilah dalam perjudian Pay-kiu, barang siapa memegang kartu “Ci-cun-po” berarti tak terkalahkan atau semua taruhan akan dimakan semua.

Maka Ling-ling lantas menjawab, “Jika kau berani makan dia, hati-hati bila keselak atau tulangnya mencantol di kerongkongan.”

“Cara kumakan manusia biasanya tanpa menumpahkan tulangnya,” kata si gemuk alias Ci-cun-po. Ia menarik muka dan menyambung pula, “Adik cilik, kuberi nasihat, sebaiknya kau tutup mulut saja. Kalau bukan lantaran aku tidak mau bikin runyam urusan, tentu sejak tadi engkau sudah tutup mulut.”

Ling-ling berkedip-kedip, katanya, “Tapi apakah engkau tidak ingin tahu siapakah dia?”

“Jika kuingin tahu siapa dia kan dapat kutanya dia, tidak perlu kau ikut resah, apalagi … asalkan dia seorang lelaki saja dan sudah cukup bagiku,” Ci-cun-po berpaling dan tertawa kepada Na Kiat-cu, lalu berkata pula, “Tolong kau suka bantu mengenyahkan budak cilik ini dari sini. Kau lihat tempat ini pun lumayan dapat kupinjam pakai sementara, hendaknya engkau jangan mengintip.”

Seluruh tubuh Li Sun-hoan serasa merinding, ingin tumpah tak bisa, ingin mati juga sukar, terpaksa ia berharap Na Kiat-cu akan mencari dan menuntut balas padanya serta lekas membunuhnya.

Konyolnya Na Kiat-cu justru berlagak seperti sama sekali tidak mengenalinya dan tetap berdiri dingin di sana tanpa memandang sekejap, akan tetapi sekarang mendadak ia buka suara, “Aku pun menghendaki lelaki ini!”

Air muka Ci-cun-po berubah hebat, serunya, “Apa? Kau bilang apa?”

Tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan Na Kiat-cu berucap pula sekata demi sekata, “Kubilang aku pun menghendaki lelaki ini?”

Seketika Ci-cun-po mendelik, teriaknya, “Kau berani berebut denganku?”

“Ya, tidak bisa ditawar lagi,” jawab Na Kiat-cu ketus.

Muka Ci-cun-po sebentar pucat sebentar hijau, mendadak ia tertawa dan berkata, “Baiklah, jika kau pun menaksir dia, bagi kita bersaudara kan dapat dirundingkan lebih lanjut.”

“Aku bukan menghendaki orangnya, tapi menghendaki nyawanya,” jengek Na Kiat-cu.

“Ah, itu jadi lebih gampang dibereskan,” seru Ci-cun-po dengan tertawa cerah, “Nanti setelah kupakai dia baru kuserahkan nyawanya kepadamu.”

“Tidak, setelah kucabut nyawanya baru kuserahkan orangnya kepadamu,” kata Na Kiat-cu.

Meski sorot mata Ci-cun-po timbul rasa marah, namun tetap tersenyum dan berkata, “Meski aku sangat menyukai orang lelaki, tapi terhadap orang mati aku tidak berminat.”

“Keadaannya sekarang bukankah tidak banyak berbeda seperti orang mati?” kata Na Kiat-cu.

“Sekarang dia tidak dapat bergerak karena Hiat-to tertutuk, dengan sendirinya aku ada akal untuk membuatnya bergerak,” kata Ci-cun-po dengan tertawa.

“Tapi bilamana dia sudah dapat bergerak, pasti terlambatlah bila nanti aku menghendaki nyawanya.”

Dengan tertawa nyaring Ling-ling menukas, “Betul, bilamana dia dapat bergerak, sekali tangannya bergerak, tentu kalian akan berucap selamat tinggal.”

“Hah, memangnya siapa dia?” melengak juga Ci-cun-po.

“Dia inilah Li si pisau kilat?” kata Ling-ling.

Ci-cun-po melenggong sampai sekian lamanya, kemudian menggeleng perlahan dan berucap, “Tidak, aku tidak percaya. Jika dia benar Li Sun-hoan, mana bisa dia penujui budak cilik macam kau ini.”

“Dia tidak penujui diriku, akulah yang penujui dia,” kata Ling-ling. “Sebab itulah kuharap lekas kalian membunuhnya.”

“Sebab apa?” tanya Ci-cun-po.

“Siocia sering memberitahukan kepadaku, bilamana engkau penujui seorang lelaki, sebaliknya ia menolak kehendakmu, maka lebih baik kau cabut nyawanya daripada dia jatuh lagi ke tangan perempuan lain.”

“Wah, tak tersangka hati budak cilik ini ternyata jauh lebih keji daripadaku,” ucap Ci-cun-po dengan gegetun.

“Nah, apakah sekarang engkau masih tetap menghendaki dia? Engkau benar seberani itu?” tanya Ling-ling.

Ci-cun-po termenung sejenak, katanya kemudian, “Bisa mati di bawah bunga peoni, jadi setan juga tidak penasaran. Kalau dapat menjadi suami-istri dengan lelaki terkenal sebagai Li Sun-hoan, biarpun mati juga tidak perlu menyesal.”

Lalu dia tertawa terhadap Na Kiat-cu dan berkata pula, “Dan kau pun tidak perlu terburu-buru menghendaki dia, sesudah kugunakan orangnya, tetap ada akalku membiarkan nyawanya diberikan padamu.”

Na Kiat-cu tampak bersungut dan tidak bicara.

“Jangan kau lupa, kedatanganku ini adalah untuk membantumu, sedikit banyak kan harus kau beri balas jasa juga kepadaku,” kata Ci-cun-po pula.

Na Kiat-cu termenung sejenak, lalu berkata, “Apabila tangan si lelaki tertebas buntung apakah engkau masih berminat terhadapnya?”

“Tangan buntung sih tidak menjadi soal, asalkan bagian lain tidak buntung,” ujar Ci-cun-po dengan tertawa.

“Jika begitu aku menghendaki sebelah tangannya!” kata si kalajengking biru.

Ci-cun-po berpikir sejenak, “Tangan kanan atau tangan kiri?”

“Dia telah mengutungi tangan kananku, maka haus kutebas juga tangan kanannya,” ucap Na Kiat-cu dengan gemas.

“Baiklah, boleh kau lakukan,” kata Ci-cun-po dengan menyesal. “Tapi hendaknya bekerja secara halus, jangan sampai darah berceceran dan membuat orang muak. Eh, gunakan saja ekor kalajengking itu dan antuplah dia di suatu tempat tubuhnya.”

“Baik, begitu pun boleh,” kata Na Kiat-cu sambil mendekat dengan perlahan, sorot matanya tampak gemerdep.

Cepat Ling-ling berteriak, “Apa betul kalian berani memperlakukan dia cara demikian?”

“Wah, tampaknya hati adik cilik ini yang kesakitan barangkali?” ucap Ci-cun-po dengan lembut.

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong selarik sinar biru menyambar keluar dari lengan baju Na Kiat-cu, secepat kilat menikam ke lengan kanan Li Sun-hoan.

Terdengar suara jeritan ngeri bergema hingga lama, tubuh Li Sun-hoan lantas terbanting ke tanah.

Tapi yang menjerit itu ternyata bukan Li Sun-hoan melainkan Ci-cun-po.

Di tengah jeritan ngeri itu dia telah melemparkan Li Sun-hoan yang dipondongnya dan menerjang Na Kiat-cu dengan kalap.

Namun dengan menggeliat ringan, selicin belut Na Kiat-cu telah menggeser jauh ke sana.

Siapa tahu meski pinggang Ci-cun-po sebesar gentong, gerak-gerik dan reaksinya juga cepat luar biasa, mendadak ia membalik tubuh, sekali raih tangan Na Kiat-cu telah kena dicengkeramnya.

Keruan wajah Na Kiat-cu berubah pucat.

Muka Ci-cun-po sudah berubah menjadi biru hitam, berubah menjadi beringas dan menakutkan, matanya melotot dan berkata dengan menggereget, “Kau … kau berani menyergap diriku, akan kucabut nyawamu!”

Terdengar suara “krek”, tangan Na Kiat-cu telah dibetotnya hingga putus bersama lengan bajunya.

Cepat Na Kiat-cu menggeser beberapa langkah lagi ke samping, tidak terlihat rasa kesakitan sedikit pun pada wajahnya.

Dengan tertawa Na Kiat-cu berkata, “Coba kau lihat apa yang kau pegang itu?”

Waktu Ci-cun-po mengangkat benda yang dipegangnya, tertampak yang terbungkus di balik lengan baju hanya sepotong “ekor kalajengking” yang bercahaya hijau gemerdep.

Kiranya sesudah tangan kanan Na Kiat-cu tertebas putus oleh pisau Li Sun-hoan, sebagai gantinya ia lantas memasang senjata andalan sendiri pada tangan yang buntung itu, lalu ditutup dengan lengan bajunya yang longgar sehingga sukar terlihat dari luar.

“Barang siapa terkena racun ekor kalajengkingku, tidak lebih tujuh langkah berjalan pasti akan mati keracunan,” ucap Na Kiat-cu. “Biarpun badanmu lebih gede daripada orang biasa, bekerjanya racun mungkin lebih lambat, tapi bila engkau mampu berjalan tiga langkah lebih jauh tanpa roboh, untuk itu segera aku akan menyerah padamu.”

Ci-cun-po meraung murka dan menerjang maju lagi. Tapi memang benar, baru dua langkah ia lantas roboh terjungkal.

Na Kiat-cu tidak memandangnya lagi, ia berputar mendekati Li Sun-hoan dan menatapnya dengan dingin, selang sejenak baru bicara dengan perlahan, “Kematian In Gok adalah akibat dia pergi mencari Lim Sian-ji, kedatanganku ke sini sebenarnya bermaksud membikin perhitungan dengan perempuan itu, sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganmu.”

Tiba-tiba Ling-ling menyela, “Jika kau ingin bicara dengan dia, mengapa tidak kau buka dulu Hiat-tonya?”

Na Kiat-cu tidak menghiraukannya, katanya pula, “Meski engkau telah merusak sebelah tanganku, tapi engkau tidak mencabut nyawaku, betapa pun engkau berbudi padaku. Selama hidup aku cukup tegas membedakan budi dan benci, karena sedikit budimu kepadaku itu, terpaksa aku tidak dapat tinggal diam menyaksikan engkau dinodai oleh babi gemuk tadi.”

Diam-diam Li Sun-hoan menghela napas gegetun, sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa Na Kiat-cu ternyata orang macam begini.

Didengarnya Na Kiat-cu mendengus lagi, “Sekarang utangku sudah kubayar lunas padamu, utangmu padaku dengan sendirinya juga harus kau bayar, untuk itu aku cuma menghendaki tangan kananmu, tentunya tidak berlebihan bukan permintaanku?”

Tiba-tiba Sun-hoan tertawa, perlahan ia menjulurkan tangan kanan.

Na Kiat-cu jadi melenggong, Ling-ling juga melengak.

Tangan Li Sun-hoan ternyata sudah dapat bergerak, dan dia tidak menggunakan pisau kilatnya.

Seketika Na Kiat-cu hanya memandangi tangan yang terjulur itu dan tidak sanggup bicara lagi.

Tapi Ling-ling lantas berseru, “Hei, ken … kenapa tanganmu mendadak bisa bergerak?”

“Sejak tadi aku telah mengerahkan tenaga untuk membobol Hiat-to yang tertutuk, cuma belum berhasil menembus rintangan terakhir, siapa tahu bantingan tadi justru telah membantu kesukaranku,” tutur Sun-hoan dengan tersenyum.

“Jika begitu mengapa engkau begitu penurut, dia minta tanganmu lantas kau berikan tanganmu begitu saja, ken … kenapa tidak kau berikan dia pisau saja?” kata Ling-ling.

Sun-hoan menarik muka dan tidak menghiraukannya pula, ucapnya perlahan, “Nona Na, apa yang kau minta memang tidak berlebihan, aku juga tidak menyesal. Nah, silakan!”

Kembali Na Kiat-cu termenung sekian lama, kemudian menghela napas panjang dan bergumam, “Di dunia ini ternyata ada manusia semacam ini ….”

Sampai dua kali dia bergumam begitu, mendadak mengentak kaki terus mau tinggal pergi.

Tapi entah kapan Li Sun-hoan telah melompat bangun dan merintangi perginya sambil berkata, “Harap tunggu sebentar.”

“Tunggu apa lagi?” Na Kiat-cu tersenyum pedih. “Sejak tanganmu terjulur, saat itu juga utangmu sudah terbayar lunas. Meski aku ini seorang perempuan, sedikitnya aku pun tahu arti moral.”

Mendadak Ling-ling menyela pula, “Pembawaan perempuan boleh tidak bicara tentang moral, itulah hak asasi orang perempuan. Pembawaan kaum lelaki lebih kuat daripada kaum perempuan, maka adalah pantas kaum lelaki mengalah beberapa bagian kepada kaum perempuan.”

“Siapa yang bilang demikian,” tanya Na Kiat-cu.

“Dengan sendirinya kudengar dari Siocia kami.”

“Kau percaya kepada ocehannya?”

“Dia kan bicara bagi kaum wanita kita, setiap perempuan harus setuju kepada filsafatnya ini.”

Mendadak Na Kiat-cu mendekati Ling-ling dan memberinya beberapa kali tamparan sehingga anak dara itu melongo bingung.

Lalu Na Kiat-cu menjengek, “Aku juga serupa kalian, bukan perempuan baik. Tapi aku sengaja memukulmu, apakah kau tahu apa sebabnya?”

“Sebab … sebab kau ….” dengan gemas Ling-ling hendak memaki, tapi belum habis ucapannya ia lantas mendekap muka sendiri dan menangis.

“Sebabnya adalah karena di dunia ini ada perempuan semacam kalian ini, makanya perempuan dipandang hina oleh kaum lelaki,” ucap Na Kiat-cu. “Dan karena lelaki memandang hina kaum perempuan, maka aku ingin membalas dendam dan akibatnya telah kulakukan hal-hal begitu.”

Makin lirih suaranya sehingga akhirnya agak tersendat, lalu menyambung pula dengan perlahan, “Pada waktu kulakukan hal-hal begitu, dalam hatiku juga tahu perbuatanku itu bukan cuma menghancurkan orang lain, tapi juga merusak diriku sendiri. Selama hidupku lantas hancur oleh perbuatanku sendiri itu.”

“Apa yang sudah lalu biarkan lalu, engkau masih muda, masih dapat mulai dari awal,” ujar Sun-hoan dengan suara lembut.

Na Kiat-cu menghela napas panjang, “Engkau berpikir demikian, akan tetapi bagaimana orang lain? ….”

“Asalkan kita meraba hati sendiri dan merasa tidak malu, peduli apa dengan orang lain?” ujar Sun-hoan. “Seorang hidup hanya untuk dirinya sendiri dan bukan demi orang lain.”

Na Kiat-cu menengadah dan memandangnya lekat-lekat, lalu bertanya sekata demi sekata, “Apa betul kau hidup hanya bagi dirimu sendiri?”

“Aku ….” Sun-hoan jadi gelagapan.

Tersembul senyuman pedih pada ujung mulut Na Kiat-cu, gumamnya, “Dapat berkenalan dengan orang semacam kau, siapa pun pasti takkan menyesal. Cuma sayang aku tidak kenal dirimu pada sepuluh tahun yang lalu ….”

Sampai di sini, segera ia melayang pergi, terdengar suaranya berkumandang dari jauh, “Mayat Ci-cun-po boleh tinggalkan saja di situ, tentu aku akan kembali untuk membersihkannya, apa yang kulakukan selamanya tidak mau bikin repot orang lain ….”

Semula Ling-ling sedang menangis perlahan, mendadak ia mengangkat kepala dan menjengek, “Huh, sudah jelas berbuat salah, tapi orang lain yang disalahkan. Jelas dirinya sendiri bukan orang baik, justru berlagak gagah kesatria segala. Huh, orang macam begini hanya bikin muak saja.”

“Sebenarnya dia bukan orang semacam yang kau bayangkan,” ucap Sun-hoan dengan menyesal.

Ling-ling mencibir, “Huh, memangnya kau kira aku tidak tahu apa saja yang telah diperbuatnya?”

“Apa pun yang diperbuatnya, pada dasarnya dia tetap berhati baik,” kata Sun-hoan pula. “Seorang asalkan mempunyai dasar yang baik tentu masih dapat diperbaiki.”

Mata Ling-ling menjadi basah lagi, ucapnya dengan menggigit bibir, “Tentu kau anggap pada dasarnya aku ini jahat dan tidak ada obatnya lagi, betul tidak?”

Sun-hoan tertawa, “Ah, engkau masih anak kecil, belum paham apa artinya baik buruk, belum tahu apa yang bajik dan apa yang jahat. Asal saja ada orang mau membimbing dirimu dengan baik, kukira masih keburu.”

“Engkau mau membimbingku?” tanya Ling-ling sambil berkedip-kedip.

“Asal ada kesempatan selanjutnya ….”

“Selanjutnya? Mengapa harus menunggu selanjutnya, kenapa tidak sekarang saja ….”

“Kau tahu sekarang kuharus menyusul Kwe Ko-yang, asalkan aku masih dapat kembali lagi ke sini ….”

“Kutahu, sekali pergi engkau takkan kembali lagi untuk selamanya,” Ling-ling memotong pula. “Ya, kutahu, aku ini cuma seorang anak kecil, tokoh besar semacam dirimu mana bisa kembali ke sini demi seorang anak?”

Ia kucek-kucek matanya dan menyambung pula, “Apalagi, aku memang bukan apa-apamu, kelak aku akan menjadi baik atau buruk pada hakikatnya juga tidak perlu kau pikirkan. Umpama kelak aku akan berubah sepuluh kali lebih jahat daripada Na Kiat-cu juga tidak ada sangkut pautnya denganmu, biarpun aku dibunuh orang di tengah jalan juga mayatku takkan kau kuburkan.”

Di depan seorang nona cilik, hati siapa yang tega?

Terpaksa Sun-hoan cuma menyengir saja, ucapnya, “Aku pasti akan kembali menjengukmu ….”

“Orang sibuk seperti dirimu, bila engkau teringat padaku dan kembali ke sini, bisa jadi sudah lama aku mati atau sudah berubah menjadi seorang nenek ompong dan reyot.”

“Tidak, selekasnya aku akan kembali ke sini ….”

Seketika Ling-ling berhenti menangis dan menegas, “Betul? Selekasnya engkau akan kembali? Kapan? Akan kutunggu!”

Sun-hoan tersenyum pahit, “Asalkan aku masih hidup, setelah bertemu dengan Kwe Ko-yang, pasti kukembali dulu ke sini untuk menjengukmu.”

Serentak Ling-ling berjingkrak kegirangan, ia melompat dan merangkul leher Sun-hoan sambil berseru, “Oo, engkau sungguh orang baik. Demi engkau, aku pasti akan menjadi orang baik. Cuma jangan sekali-kali engkau dusta padaku, kalau tidak, aku pun tak mau belajar menjadi baik.”

*****

Beban pikiran Li Sun-hoan memangnya sudah cukup berat, sekarang jadi tambah berat lagi.

Hidup Ling-ling nanti akan menjadi baik atau buruk sekarang seolah-olah telah berubah menjadi kewajibannya dan sukar ditolak lagi. Ibaratnya memegang ubi bakar, dibuang sayang, tidak dibuang tangan bisa terbakar. Ia sendiri tidak tahu mengapa ubi bakar ini bisa dipegang olehnya. Ia cuma dapat menyengir saja.

Selama hidupnya ubi bakar yang dipegangnya memang juga sudah terlalu banyak. Sungguh ia tidak tahu cara bagaimana mengatur nona cilik ini.

Tapi ia pun tidak sempat lagi untuk memikirkan urusan ini, baginya sekarang cuma ada satu urusan penting. Yaitu, ia berharap Kwe Ko-yang belum lagi bertemu dengan Hing Bu-bing dan Siangkoan Kim-hong. Ia harap kepergiannya ini belum terlalu terlambat. Sungguh kalau punya sayap Sun-hoan ingin segera terbang ke sana.

*****

Daun pohon trembesi tampak rontok memenuhi tanah, agaknya rontok lantaran berhamburnya sinar pedang. Suasana sunyi, kecuali gemeresik daun rontok tidak terdengar suara lain.

Apakah pertarungan sengit sudah berakhir?

Lantas siapa pihak yang menang?

Di dalam hutan tiada bayangan orang, umpama sang bayu dapat bicara juga sukar memberitahukan kabar yang ingin diketahui Sun-hoan. Hanya gemercik air mengalir serupa sedang menangisi orang yang kalah.

Jika Kwe Ko-yang sudah mati dalam pertempuran, lantas di mana mayatnya?

Sun-hoan berdiri di tepi sumber air, mendadak ia terbatuk-batuk lagi.

Sang surya sudah menghilang di balik gunung, tiba-tiba dilihatnya air sumber yang sangat jernih itu sekarang membawa warna merah tipis.

Apakah darah orang yang kalah yang telah membuat air sumber menjadi merah?

Sun-hoan coba menuju ke arah hulu sungai kecil itu, dilihatnya sebuah air terjun dengan tabir airnya yang tertuang dari atas tebing setinggi ratusan tombak sana. Dan di tengah tabir air terjun itu tergantung sesosok tubuh manusia.

Orang ini tergantung dua tiga tombak dari permukaan tanah, gerak air terjun sampai di sini sebenarnya tambah keras, namun orang yang tergantung ini tidak keterjang ke bawah.

Baju orang ini seperti berwarna hitam, pakaiannya sudah tidak keruan tersapu oleh air terjun sehingga potongan kain hitam bertebaran dan terhanyut oleh air.

Namun orang itu masih tetap tergantung lurus di situ tanpa bergerak.

Tak tertahan lagi Sun-hoan berteriak, “Kwe Ko-yang … Kwe-heng ….”

Serentak ia melompat ke atas, pandangan menjadi kabur tertutup oleh kabut air dengan rasa dingin yang merasuk tulang, dirasakan pula daya tolak air terjun yang luar biasa dahsyatnya menerjang dari atas.

Namun dia sempat menerobos ke atas dan meraih tangan orang itu. Tangan yang sudah kaku dan dingin.

Sun-hoan memang tidak salah lihat, orang yang tergantung di tengah tabir air terjun ini memang betul Kwe Ko-yang adanya.

Sekujur badan Kwe Ko-yang sudah dingin, sebelah tangannya masih tetap menggenggam pada tangkai pedangnya, mati pun tak dilepaskannya.

Pedangnya yang terkenal, Ko-yang-thi-kiam, tampak ambles ke dalam dinding tebing sebatas tangkai, jelas sebelum mati dengan segenap sisa tenaganya ia tancapkan pedangnya ke dalam tebing dan dia juga bergelantungan di situ.

Untuk apakah dia berbuat begini?

Baru saja Sun-hoan menurunkan mayat Kwe Ko-yang dan membaringkannya di atas batu di tepi sungai, segera didengarnya ada orang bertanya di belakang, “Kenapa dia berbuat demikian?”

Tanpa menoleh Sun-hoan lantas mengenali suara Ling-ling, nona ini seperti sudah bertekad akan menggodanya, diam-diam dia telah ikut kemari.

Didengarnya Ling-ling berkata pula, “Mengapa dia menggantung diri sendiri di situ? Apakah ia khawatir engkau tidak dapat menemukan dia? Mengapa pada saat ajalnya dia sengaja mencuci diri sendiri sebersih ini?”

Sun-hoan menghela napas panjang, “Manusia dilahirkan dalam keadaan bersih, matinya juga harus pulang dengan bersih. Cuma saja, kecuali ini tentu dia masih mempunyai maksud lain.”

“Maksud apa?” tanya Ling-ling.

“Sebab dia tidak ingin mayatnya dikuburkan orang, juga tidak mau dibawa pergi orang lain.”

“Mengapa begitu? Memangnya dia sengaja menunggumu di sini?”

“Ya, dia justru menunggu kedatanganku,” kata Sun-hoan dengan terharu.

“Dia kan sudah mati, untuk apa pula menunggumu?”

Sun-hoan memandang ke langit dan menjawab, “Sebab ada urusan yang perlu diberitahukannya kepadaku.”

Ling-ling melenggong, “Apa … apa yang hendak diberitahukannya kepadamu? Apakah sekarang engkau sudah tahu? Dia telah memberitahukan padamu?”

“Ya, betul.”

“Tapi … tapi waktu kau tiba di sini dia kan sudah mati?”

Sun-hoan memandang jenazah Kwe Ko-yang sambil menghela napas panjang, “Memang betul, betapa pun kedatanganku tetap terlambat.”

“Jika dia sudah mati lebih dulu, masa dapat memberitahukan sesuatu padamu? Masa orang mati dapat bicara?”

“Ada sementara urusan tidak perlu dibicarakan juga dapat kudengar,” ujar Sun-hoan.

Ling-ling tambah bingung, juga makin takut. Biasanya manusia memang suka merasa ngeri terhadap hal-hal yang sukar dipahami.

Setelah termenung sejenak Sun-hoan berkata pula, “Apakah kau pun ingin tahu apa yang telah dikatakannya kepadaku!”

Ling-ling menggigit bibir dan mengangguk.

“Sebenarnya apa yang diberitahukannya juga dilihat olehmu, soalnya tidak kau perhatikan,” tutur Sun-hoan. “Ketahuilah, sesuatu yang kau terima dari orang mati sering kali sangat berharga, sebab hal ini adalah hasil pengalamannya yang diperoleh dengan jiwanya, bilamana kau dapat belajar cara mendengarkan ucapan orang mati, tentu akan tambah banyak urusan yang kau pahami.”

Bibir Ling-ling tampak pucat, “Namun cara bagaimana dapat kudengar perkataan orang mati?”

“Untuk belajar mendengar perkataan orang mati tentu saja bukan pekerjaan gampang,” kata Sun-hoan. “Tapi jika kau ingin hidup lebih lama, hendaknya berusaha mempelajarinya.”

Dia bicara dengan serius, sedikit pun tidak ada tanda bercanda.

Dengan suara rada gemetar Ling-ling berkata, “Tapi cara … cara bagaimana mempelajarinya? Maukah engkau mengajariku?”

“Coba dengarkan lagi dengan cermat,” kata Sun-hoan.

Nona cilik itu lantas memejamkan mata, dia benar-benar mendengarkan dengan cermat, akan tetapi tiada sesuatu yang terdengar.

“Bukan cuma mendengarkan dengan telinga, juga harus pakai mata,” kata Sun-hoan pula.

Ling-ling lantas membuka mata. Dilihatnya pakaian Kwe Ko-yang yang memang sudah robek tersayat oleh pedang, setelah digerujuk oleh air terjun, sekarang tubuhnya sudah hampir telanjang bulat.

Warna kulit tubuhnya sudah berubah kelabu, sebab darahnya sudah habis, setelah dicuci lagi oleh air terjun, kulit daging pada luka yang tersayat pedang lantas menyingkap ke atas, tapi tidak tertampak noda darah lagi.

Selang sekian lama barulah Sun-hoan bertanya, “Nah, apa yang telah kau dengar? Dan apa pula yang kau lihat?”

“Kulihat … kulihat banyak bekas luka pada tubuhnya, seluruhnya ada … ada 19 tempat.”

“Betul,” kata Sun-hoan.

“Luka ini tampaknya bekas luka pedang seluruhnya, malahan jelas dilukai oleh sejenis pedang yang sangat tipis dan sangat tajam.”

“Apa dasarnya?” tanya Sun-hoan.

“Sebab lukanya sangat ciut, juga tidak terlalu dalam, jelas hanya dirobek oleh ujung sejenis senjata tajam.”

“Dan mengapa kau yakin pasti ujung pedang?”

“Sebab ujung tombak atau ujung golok tentu tidak setajam ini,” setelah tertawa, lalu Ling-ling melanjutkan, “Dari sini terbuktilah orang yang melukai dia ialah Hing Bu-bing, sebab senjata andalan Siangkoan Kim-hong adalah Liong-hong-goan (gelang baja naga dan hong) dan bukan pedang, bisa jadi Siangkoan Kim-hong tidak hadir di sini.”

“Mungkin juga hadir, cuma tidak ikut turun tangan,” sambung Sun-hoan.

Ling-ling mengangguk, tiba-tiba katanya pula, “Luka ini semuanya agak serong, bagian bawah lebih dalam dan bagian atas lebih dangkal.”

“Betul juga,” kata Sun-hoan.

“Ini menandakan setiap pedang lawan dicukit dari bawah ke atas,” kata Ling-ling, “Ilmu pedang begini pasti sangat aneh, sudah sering kudengar orang bilang ilmu pedang Hing Bu-bing sangat aneh dan cepat luar biasa, jarang ada bandingannya di dunia persilatan, tampaknya memang betul.”

“Ya, ilmu pedangnya selain sangat aneh juga selalu mengincar bagian yang sama sekali tak terpikir oleh lawan,” tukas Sun-hoan dengan menghela napas. Lalu ia tuding satu tempat luka di bagian lutut Kwe Ko-yang, “Coba kau lihat luka ini … jelas luka ini pun bagian bawah lebih dalam daripada bagian atas, hal ini menandakan pedangnya juga dicukitkan dari bawah ke atas.”

“Betul,” Ling-ling mengangguk.

“Dari sini dapat diketahui gerak tangan Hing Bu-bing pasti dilakukan dari bawah lutut, dengan mempergunakan tenaga pergelangan tangan,” ujar Sun-hoan. “Jika aku tidak melihat luka demikian, tentu takkan terpikir olehku ada orang mampu menyerang dengan cara begini.”

Ling-ling cuma mengangguk saja.

“Yang kau lihat hanya bagian depannya, padahal pada punggungnya masih ada tujuh tempat luka, dengan kelihaian Kwe Ko-yang, tidak nanti ia pun menyerahkan punggungnya untuk diserang musuh.”

“Ya, sekalipun diriku juga takkan kuhadapi lawan dengan berdiri mungkur,” kata Ling-ling.

“Dari sini pun terbukti luka-luka yang diderita Kwe Ko-yang ini pasti terjadi pada waktu kedua orang pedang bergeser menyilang, dengan begitu terpaksa pedang Hing Bu-bing harus menusuk dari bawah ketiak supaya dapat mencapai sasarannya.”

“Ya, hal ini memang rada aneh,” ucap Ling-ling.

“Ada lagi, jika ilmu pedang Hing Bu-bing seganas itu, mengapa ke-26 luka Kwe Ko-yang ini cuma luka ringan saja, mengapa dalam serangan 26 kali itu Hing Bu-bing tidak membinasakan Kwe Ko-yang saja?”

Ia menghela napas menyesal dan menyambung pula, “Menyerang dari bawah ketiak adalah ilmu pedang yang jarang terlihat, yang paling aneh adalah gerak serangan beberapa kali ini juga mencukit dari bawah ke atas, dari sini dapat diketahui pasti Hing Bu-bing telah berubah gaya memegang pedang pada saat kedua orang bersimpang tempat, waktu berubah cara memegang pedang dan waktu menyerang pasti dilakukan dalam satu rangkaian gerakan yang sama, sebab itulah kecepatannya pasti juga sangat menakutkan.”

Ling-ling tampak terkesima mendengar uraian Li Sun-hoan. Selang agak lama barulah ia menghela napas dan berucap, “Kiranya hal-hal inilah yang ingin diberitahukannya kepadamu.”

“Ya, kalau tidak, dengan kepandaiannya tidak nanti dia menderita luka sebanyak itu,” ucap Sun-hoan dengan sedih. “Coba kau pikir, Ko-yang-thi-kiam sudah termasyhur selama lebih 20 tahun, melulu soal ilmu pedangnya sudah terhitung jago kelas satu atau dua di zaman ini, mana mungkin dalam pertandingan ini dia memperlihatkan titik lemahnya sampai 26 tempat dan berturut-turut kena dilukai lawan 26 kali.”

“Betul, apa sebabnya?”

Sun-hoan menghela napas dengan sedih, lalu berkata, “Sebabnya adalah karena ke-26 titik kelemahan itu memang sengaja diperlihatkan oleh Kwe Ko-yang untuk memancing serangan Hing Bu-bing.”

“Sengaja? ….” Ling-ling jadi melengak. “Masa dia sengaja membiarkan dirinya dilukai Hing Bu-bing?”

“Betul, justru lantaran dia sengaja memperlihatkan titik lemahnya, makanya setiap kali juga dia sempat mengelak sehingga luka yang dideritanya tidak parah.”

Ling-ling tambah tidak mengerti, “Memangnya untuk apakah dia berbuat demikian?”

Kembali Sun-hoan menghela napas menyesal, “Dia berbuat demikian adalah karena dia ingin memberitahukan kepadaku cara bagaimana Hing Bu-bing melancarkan serangannya.”

Ling-ling tidak dapat bicara lagi. Selang sekian lama kembali ia mencucurkan air mata pula, ucapnya dengan menunduk. “Tadinya kusangka di dunia ini tidak terdapat seorang pun orang baik, manusia bersahabat juga cuma untuk saling peralat saja, sebab itulah seorang kalau ingin hidup dengan baik harus belajar dulu cara bagaimana memperalat orang lain, cara bagaimana menipu dan berdusta, sama sekali tidak boleh bicara tentang moral. Kalau tidak, yang rugi pasti dirimu sendiri.”

“Apakah kata-kata ini juga ajaran Lim Sian-ji?” tanya Sun-hoan.

Ling-ling mengangguk, “Ya, tapi sekarang kutahu di dunia ini toh ada juga orang baik, di dunia Kangouw juga terdapat sahabat yang lebih mengutamakan setia kawan daripada mati-hidup sendiri.”

Mendadak ia berlutut di depan mayat Kwe Ko-yang, katanya dengan menangis, “O, Kwe-siansing, meski tidak beruntung engkau telah meninggal, tapi engkau selain telah membantu sahabatmu, engkau juga telah membikin kutahu dalil orang hidup. Semoga di alam baka engkau dapat tidur dengan tenang.”

*****

Menjelang senja di jalan setapak lereng gunung sana dua orang sedang melangkah, cahaya senja menyinari pakaian mereka dan memantulkan semacam cahaya emas yang aneh.

Kedua orang ini sama mengenakan caping yang bertepian lebar sehingga wajah mereka tersembunyi di bawah bayang-bayang caping. Seorang berjalan di depan dan yang lain mengikut kencang di belakangnya.

Langkah mereka tidak cepat juga tidak lambat, kelihatan adem ayem saja, kecuali kakinya yang bergerak, keduanya tidak bicara, juga tidak memperlihatkan gerakan lain.

Tapi dari tubuh mereka seakan-akan timbul semacam hawa membunuh tak berwujud, sebelum mereka memasuki hutan, kawanan gagak sudah terkejut oleh hawa seram sehingga berbunyi dan terbang.

Ada beberapa ekor burung gagak yang kebetulan terbang melintasi kepala mereka, orang yang berjalan di belakang itu mendadak mengangkat tangannya, tertampaklah sinar tajam gemerdep, menyusul terdengar bunyi gagak jatuh terjungkal.

Sama sekali orang itu tidak memandang ke atas, dia tetap melangkah ke depan seperti biasa, tetap mengikut kencang di belakang.

Nyawa, baginya seakan-akan bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.

Betapa pun dia tidak mengizinkan sesuatu makhluk berjiwa mengancam di atas kepalanya.

Di dalam hutan sangat gelap. Sampai di sini, orang yang berjalan di depan mendadak berhenti, hampir pada saat yang sama orang yang mengikut di belakang juga lantas berhenti.

Angin mendesir, daun rontok beterbangan.

Orang yang di depan itu ialah Siangkoan Kim-hong, mendadak ia bertanya, “Bagaimana dengan ilmu pedang Kwe Ko-yang?”

“Bagus!” jawab orang di belakang, ialah Hing Bu-bing.

“Sangat bagus?” Siangkoan Kim-hong menegas.

“Ya, sangat bagus, pasti di atas para pemimpin Jit-toa-kiam-pay (tujuh perguruan besar).”

“Tapi pada waktu kau tempur dia, titik lemah yang diperlihatkannya sampai 26 kali.”

“Malah 29 kali, ada tiga kali tidak kuserang dia,” kata Hing Bu-bing.

Perlahan Siangkoan Kim-hong mengangguk. “Ya, betul, ada tiga kali engkau tidak menyerang. Sebab apa?”

“Sebab kalau kuturun tangan pada ketiga kali itu, seketika dapat kucabut nyawanya. Aku tidak menghendaki dia mati terlalu cepat, sebab perlu kugunakan dia untuk berlatih.”

“Apakah kau tahu sebab apa dia sengaja memperlihatkan titik kelemahannya kepadamu?”

“Tidak tahu, tidak kupikirkan,” kata Bu-bing.

Kecuali ilmu pedang yang harus membunuh itu, apa pun tidak ingin dipikirnya.

“Dia sengaja memperlihatkan ciri kelemahannya, tujuannya adalah hendak mencederaimu,” kata Siangkoan Kim-hong.

“Oo?!” melengak juga Hing Bu-bing.

“Dia menyadari bukan tandingan kita, maka dia berbuat demikian,” kata Siangkoan Kim-hong pula. “Dia sengaja membiarkan Li Sun-hoan melihat luka yang dideritanya, agar Li Sun-hoan dapat mempelajari gerak seranganmu.”

Ia menengadah dan memandang ke balik gunung sana, lalu berkata lagi, “Dari ini dapat diketahui dia pasti sudah tahu Li Sun-hoan tentu akan menyusulnya ke sana, apabila sekarang kita balik lagi ke sana pasti dapat menemukan dia di sana.”

*****

Di tempat A Fei sana Li Sun-hoan mendapatkan sebuah cangkul dan sedang menggali liang Jahat. Mati di situ segera dikubur di situ, inilah tempat berpulang kebanyakan orang Kangouw.

Ling-ling hanya menonton saja di samping, sebab Sun-hoan tidak mau anak dara itu membantunya, ia ingin menggali kuburan itu sendirian, apa yang harus dilakukannya biasanya tidak suka dicampuri orang lain.

“Apakah engkau benar-benar hendak mengubur Kwe-siansing di sini?” tiba-tiba Ling-ling bertanya.

Sun-hoan mengangguk tanpa bersuara.

“Seorang asalkan dapat mati dengan gemilang, dikubur di mana pun sama saja, begitu bukan?” kata Ling-ling pula.

“Ya,” ucap Sun-hoan singkat.

“Jika begitu, tidaklah layak kau kubur dia di sini.”

“Habis dikubur di mana kalau tidak di sini?”

“Mestinya kau gantung dia lagi di tengah air terjun sana.”

Sun-hoan diam saja tanpa menanggapi.

Perlahan Ling-ling menyambung pula, “Tokoh besar semacam Siangkoan Kim-hong dan Hing Bu-bing itu cepat atau lambat pasti juga dapat mengetahui jalan pikiran Kwe-siansing, betul tidak?”

“Ya,” jawab Sun-hoan.

“Dengan sendirinya Hing Bu-bing tidak ingin ciri gerak serangannya diketahui olehmu, maka bila mereka teringat kepada hal ini, mereka pasti akan segera memutar balik lagi kemari.”

“Betul,” kata Sun-hoan.

“Bila mereka putar balik dan melihat jenazah Kwe-siansing sudah tidak berada di tempat semula, mereka pasti akan menduga engkau sudah mendatangi tempat itu.”

Sun-hoan mengangguk.

“Dan bilamana mereka bergebrak denganmu, tentu mereka akan mengubah gerak serangan yang telah kau ketahui, dan jika terjadi demikian, bukankah usaha Kwe-siansing menjadi sia-sia?”

Sun-hoan masih terus mengayun cangkulnya, liang kubur sudah hampir selesai digalinya.

Ling-ling berkata pula, “Jika engkau adalah sahabat baik Kwe-siansing, maka engkau harus menjadikan kematiannya cukup berharga, maka kau pun tidak boleh menguburnya di sini.”

Perlahan Sun-hoan menjawab, “Apa yang kau katakan juga sudah kupikirkan seluruhnya.”

“Jika begitu mengapa tidak kau pindahkan kembali jenazah Kwe-siansing ke tempat semula?”

“Aku tidak dapat berbuat demikian,” ucap Sun-hoan sekata demi sekata, “Dia mati bagiku, aku ….”

Ling-ling memotong ucapannya, “Justru dia mati lantaran dirimu, maka engkau harus bertindak demikian, kalau tidak, kan sia-sia kematiannya? Dapatkah dia tenteram di alam baka?”

Agak lama juga Sun-hoan termenung, katanya kemudian, “Aku berani bertaruh, Siangkoan Kim-hong dan Hing Bu-bing pasti tidak akan kembali lagi ke sini. Apakah kau berani bertaruh denganku?”

*****

Waktu itu Hing Bu-bing sudah memutar badan.

“Kau mau kembali ke sana mencarinya?” tanya Siangkoan Kim-hong.

Hing Bu-bing mengiakan.

“Kutahu sudah lama kau ingin berperang tanding dengan Li si pisau kilat, akan tetapi engkau tidak boleh pergi sekarang.”

“Sebab apa?” tanya Bu-bing.

“Jika kau pergi sekarang, kau pasti kalah!”

“Dari … dari mana kau tahu aku pasti akan kalah?” ucap Bu-bing dengan tangan meraba tangkai pedang, suara pun rada parau.

“Kwe Ko-yang sudah kau bunuh, semangatmu sudah berkurang, sebaliknya saat ini Li Sun-hoan lagi dirangsang kemurkaan, bila kau tempur dia, dalam hal semangat dan nekat engkau sudah kalah tiga bagian.”

Hing Bu-bing bersuara tidak setuju.

“Setelah bertempur, ditambah lagi menempuh perjalanan pergi-datang, betapa tenagamu pasti berkurang, sebaliknya Li Sun-hoan menanti di sana dengan adem ayem, dalam hal tenaga kembali dia menang tiga bagian.”

“Tapi engkau ….”

“Jika kita bergabung tentu saja dapat membinasakan dia,” tukas Siangkoan Kim-hong. “Tapi dari mana kau tahu Li Sun-hoan cuma datang sendirian? Jika dia datang bersama Sun-loji, lantas bagaimana jadinya?”

“Cuma mereka berdua saja juga belum tentu ….”

Kembali Siangkoan Kim-hong memotong ucapannya, “Kan sudah kukatakan kepadamu, setelah tampil kembali di dunia Kangouw, bagiku cuma ada menang dan tidak boleh kalah, kalau tidak mutlak akan menang tidak mau turun tangan.”

Hing Bu-bing diam saja.

“Apalagi,” sambung Siangkoan Kim-hong, “engkau sekarang sudah bukan engkau yang dulu lagi.”

“Aku tetap aku,” jawab Bu-bing.

“Tapi sekarang engkau sudah berperasaan.”

“Berperasaan?” melengak juga Hing Bu-bing.

“Engkau bisa menangkan setiap pertarungan adalah karena engkau tidak berperasaan, sekarang engkau sudah ada perasaan, orang dan pedangnya pasti akan kian hari kian lemah ….”

Tangan Hing Bu-bing yang menggenggam pedang menjadi kendur, agaknya karena isi hatinya kena dibongkar orang.

“Selamanya engkau berkeras hati, mengapa sekarang timbul perasaanmu, siapakah yang menggodakan hatimu?”

Mendadak Hing Bu-bing membalik tubuh dan berucap, “Tidak ada!”

“Bukan maksudku ingin tahu siapa orang itu, aku cuma ingin memberi nasihat, jika kau ingin mengalahkan Li Sun-hoan, maka engkau harus kembali kepada sediakala, dan jika engkau ingin kembali seperti sediakala, lebih dulu harus kau bunuh perempuan yang mengguncangkan perasaanmu itu.”

Bicara sampai di sini dia lantas melangkah masuk ke hutan sana.

Bu-bing termenung sejenak, akhirnya ikut juga ke sana sambil meraba tangkai pedang pula.

*****

Malam sudah larut.

Perasaan Li Sun-hoan sama beratnya seperti langkahnya.

Akhirnya Kwe Ko-yang sudah dikuburnya, pendekar pedang yang termasyhur ini telah berpulang serupa kebanyakan orang, akhirnya cuma berwujud segundukan tanah belaka.

Apakah kematiannya jauh lebih berharga daripada orang lain?

Sun-hoan tampak rawan, ia pun tidak tahu bagaimana jawabnya? Ia cuma tahu mestinya Kwe Ko-yang tidak perlu mati, orang yang mestinya tidak perlu mati ternyata mati, bukankah konyol? Padahal Sun-hoan sendiri bukankah juga konyol?

Ling-ling mengintil di belakangnya, tiba-tiba ia bertanya, “Dari mana kau tahu Siangkoan Kim-hong berdua pasti takkan datang lagi.”

“Biasanya bilamana mereka sudah menggempur sesuatu, berhasil atau tidak mereka segera mengundurkan diri, lalu menunggu lagi kesempatan lain yang lebih menguntungkan, mereka pasti tidak mau melakukan sesuatu yang tidak meyakinkan.”

Ling-ling menunduk dan menghela napas, katanya kemudian, “Berada bersamamu aku telah tambah banyak macam-macam pengetahuan. Cuma sayang, engkau segera akan pergi dan pasti … pasti takkan membawa serta diriku.”

“Tapi paling tidak akan kubawa kau pulang dulu,” ujar Sun-hoan.

“Jika begitu, kenapa kita tidak mengambil jalan di bawah tanah itu, kan jalan itu lebih dekat?”

“Aku bukan tikus, kenapa mesti main terobos di bawah tanah?” Sun-hoan tertawa, lalu menyambung, “Hanya manusia yang suka main sembunyi-sembunyi saja suka berjalan di tempat begitu, seorang kalau tidak dalam keadaan terpaksa sebaiknya jangan memakai jalan di bawah tanah.”

Meski pikiran sendiri tertekan, tapi dia selalu berusaha membuat orang bergembira.

Benarlah, Ling-ling lantas tertawa, katanya, “Baik, kuturut nasihatmu, selanjutnya aku pasti takkan menjadi tikus.”

Lalu dia menyambung. “Terus terang, perutku sekarang terasa lapar sekali, setiba di rumah pekerjaan pertama adalah mengolah beberapa macam santapan enak untuk tangsel perut.”

Belum habis ucapannya, mendadak ia merandek, sebab tiba-tiba tercium olehnya bau sedap santapan dan harum arak, di tanah pegunungan, bau demikian jauh lebih menusuk hidung daripada di tempat lain.

“Ehmm, bau ayam goreng, Ang-sio-bak dan … arak simpanan,” gumam Sun-hoan.

“Kau pun dapat mencium bau sedap itu?” tanya Ling-ling dengan tertawa.

“Orang yang sudah mulai lanjut usia, mungkin telinganya akan berubah agak tuli dan mata pun mulai lamur, tapi hidung akan tetap tajam seperti biasa.”

“Dapatkah kau cium bau sedap ini tersiar dari mana?”

Sun-hoan menggeleng, “Kutahu rumah makan di kota kecil itu tidak tersedia arak sebagus ini, juga tidak mampu mengolah santapan sebaik ini.”

“Apalagi rumah makan itu pasti sudah tutup pintu,” tukas Ling-ling.

“Ya, mungkin ada keluarga suka makan sedang mengadakan jamuan malam.”

Ling-ling menggeleng, “Tidak mungkin, beberapa puluh keluarga penduduk tempat ini kukenal seluruhnya, mereka hidup hemat dan jarang makan enak, umpama ada perjamuan paling-paling juga cuma masak beberapa mangkuk bakmi saja. Apalagi kutahu jelas tiada seorang pun di antara mereka mampu mengolah hidangan sesedap ini, sebab yang mahir masak di sini cuma ada satu orang saja.”

“Siapa?” tanya Sun-hoan.

“Aku,” jawab Ling-ling sambil menuding hidungnya sendiri. Lalu ia menyambung dengan kening bekernyit, “Sebab itulah aku jadi heran, belum lagi aku masuk dapur, dari mana datangnya bau sedap hidangan ini?”

Dalam pada itu mereka sudah keluar dari mulut lembah.

Tiba-tiba Sun-hoan berkata, “Eh, bau sedap makanan ini ternyata teruar dari villa tempat tinggalmu.”

Pada umumnya orang pegunungan tidur sangat dini dan bangun juga sangat dini, kini sudah larut malam, hampir tidak ada pelita yang menyala di rumah penduduk. Tapi dari jauh terlihat villa tempat tinggal Ling-ling itu terang benderang. Bukan saja tercium bau sedap santapan, lamat-lamat terdengar juga suara senda gurau laki perempuan yang ramai.

Ling-ling jadi melenggong.

“Jangan-jangan Siociamu sudah pulang,” ucap Sun-hoan.

“Tidak mungkin,” kata Ling-ling. “Dia bilang sedikitnya tiga atau lima bulan lagi baru akan pulang.”

“Tamu tempatmu memang tidak sedikit, mungkin ada tamu datang dari jauh, karena tuan rumah tidak ada, mereka lantas makan minum sendiri.”

“Biar kunaik dulu untuk melihatnya, engkau ….”

“Tidak, aku saja naik dulu ke sana,” kata Sun-hoan.

“Kenapa? Jika orang-orang ini makan-minum dengan riangnya di situ, jelas mereka tidak berniat jahat, masakah engkau khawatir aku akan menemui bahaya?”

Sun-hoan tertawa, katanya, “Soalnya aku juga sangat lapar.”

Dia lantas mendahului menaiki tangga kecil itu, sangat hati-hati jalannya, seakan-akan sudah dirasakan ada orang telah memasang perangkap di situ dan lagi menanti kedatangannya.

Bau sedap makanan dan harum arak itu memang sengaja hendak memancingnya.

Pintu loteng terbuka, begitu Sun-hoan sampai di depan pintu seketika ia melengak. Selama hidupnya belum pernah melihat perempuan gemuk sebanyak dan sebesar ini.

Perempuan gemuk yang pernah dilihatnya selama hidup kalau ditotal jenderal juga tidak ada setengahnya dari jumlah perempuan gemuk yang berada di villa ini sekarang.

Meski tidak terhitung besar villa ini, tapi juga tidak terlalu kecil, untuk memuat lelaki sebesar Li Sun-hoan, seratus orang saja rasanya takkan berjubel.

Tapi sekarang yang ada di sini cuma likuran orang saja namun seluruh ruangan loteng itu seakan-akan penuh, ingin masuk ke situ saja rasanya sulit bagi Sun-hoan.

Ruangan loteng itu tadinya dipisahkan dengan papan menjadi beberapa kamar, sekarang papan pemisah itu sudah dibongkar semua, semula setiap ruangan ada satu-dua buah meja, sekarang seluruh meja telah dijajarkan menjadi satu dan di atas meja penuh tersedia macam-macam hidangan dan arak.

, ,

Leave a comment

Pendekar Budiman: Bagian 16

Pendekar Budiman: Bagian 16
Oleh Gu Long

Sungguh tak tersangka olehnya bahwa orang yang keluar dari vila ini ialah Kwe Ko-yang.

Terlihat dari balik pintu terjulur sebuah tangan yang putih menarik tangan Kwe Ko-yang dan terdengar bisik-bisik yang mesra, seperti lagi memberi pesan dan berharap semoga berjumpa pula.

Selang sekian lama barulah tangan itu melepaskan pegangannya dan sekian lama lagi baru Kwe Ko-yang turun dari tangga. Dia berjalan dengan sangat perlahan dan terkadang masih menoleh, jelas merasa sangat berat untuk berpisah.

Namun pintu vila itu lantas tertutup ….

Semua ini serupa benar pada waktu Siangkoan Hui keluar dari vila ini, kecuali Siangkoan Hui dan Kwe Ko-yang, masih berapa banyak lagi orang lain yang pernah keluar masuk vila ini?

Sesungguhnya vila ini surga atau neraka?

Li Sun-hoan merasa sangat berduka, tapi juga murka. Dia berduka bagi A Fei, juga murka bagi A Fei. Dia tidak pernah semurka seperti sekarang.

Saking tak tahan tadi hampir saja ia menerjang keluar untuk membongkar rahasia kepalsuan Lim Sian-ji, namun Kwe Ko-yang terhitung juga sahabatnya, bahkan seorang lelaki sejati, ia tidak tega menyinggung perasaannya.

Dilihatnya Kwe Ko-yang lagi menengadah, memandang langit dan menarik napas panjang lalu mulai mempercepat langkahnya.

Tapi baru dua-tiga langkah mendadak ia berhenti dan membentak bengis, “Siapa itu yang sembunyi di sana? Keluar!”

Nyata Ko-yang-thi-kiam memang tidak malu sebagai tokoh top dunia persilatan zaman ini, betapa tinggi kewaspadaan dan betapa cepat reaksinya sungguh sukar ditandingi Siangkoan Hui.

Tak peduli dia baru datang dari mana, kepalanya selalu dingin dan pikiran senantiasa jernih, tapi sama sekali tak tersangka olehnya bahwa orang yang muncul dari balik pohon ini ialah Li Sun-hoan ….

*****

Jarak antara vila ini dengan rumah minum itu tidak jauh, tidak banyak yang mereka percakapkan dalam perjalanan, juga keduanya tidak menguraikan isi hati masing-masing. Namun ada urusan yang akhirnya toh harus dibicarakan juga cepat atau lambat.

Rumah minum itu sudah tutup. Tapi mana ada pintu rumah di dunia ini yang dapat merintangi mereka?

Mereka meninggalkan sepotong uang perak di atas meja, lalu mengambil sebotol arak, kemudian mereka duduk di wuwungan rumah minum itu dan minum arak di situ.

Li Sun-hoan sudah pernah minum arak di tempat apa pun, tapi minum arak di wuwungan rumah baru pertama kali ini. Dirasakannya tempat ini memang sangat santai.

Dengan cepat isi botol sudah habis setengah lebih, banyak jaga Kwe Ko-yang minum, menghadapi teman minum seperti Li Sun-hoan, siapa pun akan minum lebih banyak daripada biasanya. Banyak kata-kata baru akan tercetus bilamana sudah banyak minum arak.

Mendadak Kwe Ko-yang bertanya, “Tentu … tentu kau tahu untuk apa kupergi ke vila itu?”

Sun-hoan tertawa, “Kutahu engkau adalah lelaki.”

“Dengan sendirinya kau pun tahu siapa yang berada di vila itu?”

“Ya.”

“Aku jarang mencari dia, hanya … hanya bila perasaanku kurang enak barulah kucari dia.”

Sun-hoan hanya mengangguk saja. Ia sangat memahami perasaannya, ia pun tahu bagaimana kekesalan seorang yang habis mengalami kalah tempur.

“Aku juga banyak mengenal orang perempuan, tapi dia satu-satunya yang paling menyenangkan diriku.”

Sun-hoan termenung sejenak, katanya kemudian, “Apakah kau tahu dia perempuan macam apa?”

Kwe Ko-yang menenggak araknya, lalu berkata, “Sudah cukup lama kukenal dia.”

“Bagaimana dia terhadapmu?” tanya Sun-hoan..

“Bagaimana dia terhadapku?” Kwe Ko-yang tertawa. “Perempuan semacam ini tiada bedanya terhadap lelaki mana pun. Soalnya cuma lelaki itu apakah berharga untuk diperalat olehnya atau tidak.”

“Oo, kau pun tahu dia hendak memperalat dirimu?”

“Tentu saja kutahu,” sahut Kwe Ko-yang dengan tertawa. “Tapi aku tidak peduli, sebab aku pun lagi memperalat dia, asal dia dapat memberi kesenangan padaku, apa alangannya kubalas sedikit imbalannya.”

Sun-hoan mengangguk perlahan, “Ya, ini memang jual-beli yang adil. Akan tetapi … apabila jual-beli kalian merugikan orang lain, apakah juga tidak kau peduli?”

“Merugikan siapa?” tanya Ko-yang.

“Dengan sendirinya orang yang mencintai dia.”

Kwe Ko-yang menghela napas, “Sungguh terkadang aku tidak paham, mengapa perempuan suka membikin susah orang yang mencintai dia?”

Sun-hoan tertawa, “Ya, mungkin karena dia cuma dapat membikin susah orang yang mencintai dia saja, sebab kalau engkau tidak suka padanya, mana bisa kau rasakan dibikin susah olehnya?”

“Wah, tampaknya engkau sangat paham akan orang perempuan,” ucap Ko-yang dengan tersenyum.

“Tidak ada seorang lelaki pun di dunia ini yang benar-benar memahami orang perempuan,” ujar Sun-hoan dengan menyesal. “Bila ada orang menganggap dirinya paling mengerti akan orang perempuan, maka kesusahan yang akan dirasakannya pasti jauh lebih besar daripada orang lain.”

Sampai sekian lamanya Kwe Ko-yang termenung, katanya kemudian, “Apakah benar A Fei sangat mencintai dia?”

Sun-hoan membenarkan.

“Kutahu dia adalah kawan baik A Fei, aku pun tahu A Fei adalah kawan baikmu.”

Sun-hoan tidak menanggapi.

“Tapi aku tidak kenal A Fei, juga belum pernah berjumpa dengan dia,” sambung Kwe Ko-yang.

“Kukira tidak perlu kau beri penjelasan, aku tidak menyalahkan dirimu,” kata Sun-hoan.

Kembali Kwe Ko-yang termenung agak lama, tanyanya kemudian, “Apakah sekarang A Fei masih berada bersama dia?”

“Ya,” jawab Sun-hoan, ia menghela napas panjang, lalu menyambung, “Cintanya kepada dia meski jauh lebih mendalam daripadamu, tapi hubungan antara A Fei dengan dia jauh daripada mesra serupa hubungan kalian ini.”

Kwe Ko-yang tampak heran, “Masa antara mereka tidak ada ….”

“Ya, orang lain siapa pun boleh, hanya A Fei saja yang tidak,” tutur Sun-hoan dengan tersenyum getir.

“Sebab apa?” tanya Ko-yang.

“Sebab dia menghormatinya dan tidak mau memaksanya, dalam pandangannya si dia adalah gadis suci …. Dengan sendirinya ia pun berharap kesan demikian dapat dipertahankan selamanya.”

Sun-hoan menggeleng dan menyambung pula, “Padahal perempuan memang dilahirkan untuk dicintai orang dan dihormati. Apabila seorang lelaki menghormati seorang perempuan yang pada hakikatnya tidak berharga untuk dihormati, maka yang diperolehnya pasti cuma kemasygulan dan kepedihan.”

“O, jadi segala tindak perbuatannya sama sekali di luar tahu A Fei?”

“Ya, tidak tahu sama sekali.”

“Mengapa tidak kau beri tahukan kepadanya?”

“Biarpun kuberi tahukan padanya juga pasti takkan dipercayainya,” ujar Sun-hoan dengan gegetun. “Seorang lelaki kalau sudah mencintai seorang perempuan kupingnya bisa berubah tuli dan matanya akan berubah buta, seorang pintar akan berubah menjadi tolol.”

Kwe Ko-yang termenung sejenak, lalu katanya, “Apakah kau minta kuberi tahukan kepadanya?”

Sun-hoan menjawab dengan pedih, “Dia seorang pemuda yang baik, juga sahabatku, aku tidak tega menyaksikan dia hancur di tangan perempuan semacam ini.”

Kwe Ko-yang diam saja.

“Selama hidupku tidak pernah kuminta bantuan orang,” kata Sun-hoan, “tapi sekali ini ….”

Mendadak Kwe Ko-yang memotong ucapannya, “Akan tetapi, apakah dia percaya kepada keteranganku?”

“Sedikitnya si dia tidak dapat menyangkal sama sekali hubungannya denganmu,” ucap Sun-hoan.

Serentak Kwe Ko-yang berbangkit dan berkata, “Baik, kupergi bersamamu.”

Sun-hoan menjabat tangannya dengan erat, katanya, “Nyata aku tidak salah memandang dirimu, kupercaya engkau dan A Fei pasti juga akan menjadi sahabat yang baik.”

“Sahabat baik tidak perlu banyak, satu pun sudah cukup,” ujar Kwe Ko-yang. “Dia dapat mengikat persahabatan dengan orang seperti dirimu sudah boleh dikatakan tidak sia-sia hidupnya.”

*****

Di rumah papan itu ternyata tidak ada orang.

Tempat yang dibuat tidur A Fei masih terletak di ruang tamu, di dapur masih berserakan sisa makanan semalam, tapi kuali yang digunakan memasak kuah itu sudah kosong dan sudah tercuci bersih.

Keadaan kamar tidur Lim Sian-ji masih tetap seperti semula, daun pintu yang didobrak Li Sun-hoan masih bergoyang-goyang tertiup angin dan mengeluarkan suara keriang-keriut.

Setiap barang di kamar A Fei juga tidak berubah, mereka tidak membawa sesuatu barang apa pun, sampai baju yang disiapkan di ujung tempat tidur itu pun masih terletak di situ dengan baik.

Namun mereka sudah pergi. Jelas berangkat dengan terburu-buru. A Fei telah pergi lagi tanpa pamit, sungguh Sun-hoan tidak percaya. Ia pandang pintu yang terpentang itu, mendadak ia berjongkok pula dan terbatuk-batuk dengan keras.

Kwe Ko-yang memandangnya dengan mondar-mandir, setelah Li Sun-hoan berhenti batuk barulah ia bertanya, “Kau bilang A Fei adalah sahabat baikmu?”

“Ya,” jawab Sun-hoan.

“Tapi engkau tidak tahu kepergiannya.”

Sun-hoan terdiam, lalu menyengir, katanya, “Bisa jadi dia … dia mengalami sesuatu di luar dugaan, mungkin juga ….”

“Mungkin juga dia lebih suka menuruti permintaan orang perempuan,” tukas Ko-yang dengan hambar. Tanpa menunggu tanggapan Li Sun-hoan, segera ia tanya lagi. “Sudah berapa lama mereka tinggal di sini?”

“Hampir dua tahun.”

“Tapi dua tahun yang lalu dia sudah berkencan denganku di vila kecil itu. Bisa jadi tempat ini adalah sarangnya yang lama.”

“Biasa, sarang kelinci yang licin pasti tidak cuma terbatas satu tempat saja.”

“Tapi sayang aku cuma tahu satu tempat ini,” ucap Kwe Ko-yang dengan menyesal.

Sun-hoan tidak bicara lagi, perlahan ia masuk ke rumah Lim Sian-ji itu.

Di dalam rumah ada sebuah ranjang, sebuah lemari, sebuah meja. Kain kelambu berwarna hijau pupus, selimut bantal tampak kacau, seperti habis dipakai tidur. Tapi semua ini tentu saja melulu untuk diperlihatkan kepada A Fei.

Pakaian di dalam lemari tidak banyak, malahan sangat sederhana. Di atas meja ada kotak rias, tapi isinya juga cuma sekadar pupur saja. Dengan sendirinya tempat ini bukanlah tempat rias Lim Sian-ji selain di vila kecil sana.

Setiap barang di rumah ini diperiksa dengan teliti oleh Sun-hoan, tapi semua ini adalah barang yang sangat umum, apa yang dapat dilihatnya?

“Pada waktu aku keluar, dia masih tinggal di vila sana, sekarang dia ternyata sudah pulang ke sini, bahkan telah membawa pergi A Fei dan sama sekali tidak kita pergoki di tengah jalan ….”

“Dengan sendirinya lantaran jalan yang digunakannya adalah sebuah jalan lain,” ujar Sun-hoan setelah berpikir.

“Jalan lain? Sekeliling tempat ini perbukitan melulu, masakah ada jalan lain?”

“Bisa jadi jalan lain justru terletak di perut bukit,” sembari bicara Sun-hoan terus menyingkap kasur dan membongkar dipan, benar juga di bawah tempat tidur ada sebuah lorong rahasia.

Begitu masuk ke lorong rahasia ini segera Sun-hoan tahu di mana lubang tembusnya.

“Menurut pendapatmu, di mana lubang keluar lorong ini?” tanya Ko-yang.

“Pasti di bawah tempat tidur vila sana,” kata Sun-hoan.

“Ya, aku pun sependapat,” ujar Ko-yang, ia mendengus dan menyambung pula, “Turun dari ranjang sini lantas naik ke ranjang sana, cara kerjanya sungguh tidak membuang waktu.”

“Pekerjaannya sangat sibuk, dengan sendirinya waktu sangat berharga baginya,” ujar Sun-hoan dengan hambar.

Air muka Kwe Ko-yang berubah. Meski dia tahu juga apa pekerjaan Lim Sian-ji, tapi orang lain membicarakannya di depannya, betapa pun dirasakan tidak enak.

Kaum lelaki sering mengejek orang perempuan berjiwa sempit, padahal kaum lelaki sendiri belum tentu berjiwa lebih besar, bahkan jauh lebih egois daripada orang perempuan. Sekalipun seorang lelaki sudah mempunyai seratus orang perempuan tetap diharapkannya seratus orang perempuan ini cuma mempunyai kekasih lelaki dia saja, biarpun dia sudah tidak suka lagi kepada seorang perempuan toh tetap berharap agar perempuan itu selalu suka kepadanya.

Jalan di bawah tanah itu tidak terlalu jauh, dan lubang keluarnya memang betul terletak di bawah ranjang di vila itu.

Ranjang ini jauh lebih indah daripada ranjang di rumah papan sana, kelambunya bersulam, seprainya dan selimutnya semua pilihan. Dengan sendirinya Lim Sian-ji tidak berada di situ, yang masih ada cuma si nona cilik berbaju merah.

Dia sedang menyulam bunga di samping meja rias. Ketika Sun-hoan berdua muncul mendadak dia tidak terkejut. Dia seperti sudah menduga akan kedatangan mereka.

Dia hanya melirik mereka sekejap, lalu berkata dengan tersenyum, “Eh, kiranya kalian sudah kenal.”

Kwe Ko-yang menarik muka, tanyanya dengan bengis, “Di sini cuma tertinggal kau sendiri?”

Nona cilik itu memoncongkan mulutnya dan menjawab, “Kenapa engkau jadi segarang ini? Setiap kali engkau datang kemari, yang memasang seprai bagimu ialah aku, yang melipatkan selimut juga aku, masakah engkau sudah lupa.”

Kwe Ko-yang jadi bungkam.

Dengan matanya yang besar nona cilik itu mengerling lagi sekejap ke arah Li Sun-hoan, lalu bertanya, “Engkau inikah Li-tamhoa?”

Sun-hoan mengiakan.

“Betul engkau ini Li-tamhoa, Li Sun-hoan yang termasyhur itu?”

“Engkau tidak percaya?” jawab Sun-hoan.

“Bukan aku tidak percaya, cuma rada tak terduga saja.”

“Tak terduga bagaimana?” tanya Sun-hoan.

“Orang sama bilang Kungfu Li Sun-hoan sangat tinggi, juga sangat cerdik dan cekatan, sungguh aku tidak menyangka engkau juga dapat ditipu ….” si nona cilik berkedip-kedip dengan tertawa. “Maaf jika sebelum ini telah kutipu dirimu.”

“Tidak menjadi soal,” ujar Sun-hoan dengan tertawa. “Sekali tempo ditipu anak kecil juga kejadian yang menyenangkan. Malahan sejak dibohongi olehmu aku merasa diriku jadi jauh lebih muda.”

Nona cilik itu menatapnya lekat-lekat seperti merasa orang ini sangat menarik. Orang semacam Li Sun-hoan memang tidak dapat sering-sering ditemuinya.

Dengan tersenyum ia berkata pula, “Tapi biarpun engkau tidak tertipu olehku, engkau juga kelihatan sangat muda, bila tertipu lagi beberapa kali olehku, mungkin engkau akan berubah menjadi anak kecil.”

“Selanjutnya aku pasti akan sangat hati-hati,” ujar Sun-hoan. “Anak kecil berusia 40 tahun, bukankah akan dianggap orang sebagai siluman?”

“Jangan khawatir,” ucap si nona cilik, “sebelum ini kubohongimu lantaran engkau masih asing bagiku. Nenek bilang, jangan sekali-kali bicara jujur terhadap orang belum kau kenal, kalau tidak bisa jadi engkau akan diculik.”

“Dan sekarang?” tanya Sun-hoan.

“Sekarang kita sudah saling kenal, dengan sendirinya takkan kubohongimu lagi.”

“Jika demikian, ingin kutanya, apakah tadi kau lihat ada orang keluar dari sini?”

“Tidak ada,” jawab si nona cilik. Ia berkedip-kedip, lalu menambahkan, “Tapi dapat kulihat ada orang masuk dari luar.”

“Siapa?”

“Seorang lelaki, kau tidak kenal dia,” nona itu terkikik dan menyambung, “Kecuali dirimu, tidak banyak lelaki yang kukenal.”

Terpaksa Sun-hoan berlagak tidak mendengar ucapannya ini, tanyanya lagi, “Untuk apa dia datang kemari?”

“Orang itu sangat galak, mukanya penuh berewok, ada codet lagi, begitu masuk kemari lantas tanya padaku apakah kukenal Li Sun-hoan? Apakah Li Sun-hoan datang kemari?”

“Lantas bagaimana jawabmu?”

“Karena aku tidak kenal dia, maka sengaja kubohongi dia, kubilang kukenal dirimu dan segera engkau akan kemari.”

“Lalu apa katanya?”

“Dia lantas menyerahkan sepucuk surat kepadaku agar disampaikan kepadamu, malahan ditegaskannya harus langsung kusampaikan kepadamu.”

“Dan telah kau terima?”

“Tentu saja kuterima ….” kata si nona. “Jika tidak kuterima kan sama dengan membongkar kebohongannya sendiri? Orang itu sangat galak, bila tahu aku membohongi dia, mustahil kepalaku takkan dipukul pecah olehnya.”

Nona cilik ini mempunyai semacam kepandaian khas, yaitu apa yang diuraikan seluruhnya serupa terjadi benar-benar.

Jika orang lain tentu akan tanya padanya, “Lantas ke mana perginya pengantar surat itu? Mengapa surat yang hendak disampaikan padaku diantarkannya ke sini?”

Namun Li Sun-hoan tidak bertanya demikian. Ia juga mempunyai semacam kepandaian, yaitu, apa pun yang diceritakan orang dia seperti percaya penuh. Sebab itulah banyak orang yang mengira dirinya benar-benar dapat menipu dia.

Benar juga nona cilik itu lantas mengeluarkan sepucuk surat, nama si penerima yang tertulis di atas sampul memang nama Li Sun-hoan. Surat itu masih terekat rapat, nyata nona cilik ini tidak pernah mencuri baca.

Isi surat itu berbunyi: “Tuan Li yang terhormat, sudah lama mengagumi nama kebesaranmu dan sangat ingin bisa berjumpa. Pada tanggal satu bulan kesepuluh akan kutunggu di bawah air terjun di pegunungan ini. Anda seorang kesatria, kuyakin takkan mengecewakan harapanku ini.”

Penanda tangan penulis surat ini ialah: Siangkoan Kim-hong.

Surat itu sangat sederhana, nadanya juga ramah tamah, tapi siapa pun bila menerima surat semacam ini, umpama tidak lekas membeli peti mati juga akan kaget setengah mati.

Maklum, bilamana Siangkoan Kim-hong telah menantang duel terhadap seorang, mustahil orang itu dapat hidup lama lagi.

Namun Li Sun-hoan tenang-tenang saja, surat itu dilipat dan dimasukkan kembali ke dalam sampulnya, lalu disimpan di dalam saku dengan tetap mengulum senyum.

Sejak tadi nona cilik itu mengawasi air muka Li Sun-hoan, akhirnya ia bertanya, “Apa yang tertulis di dalam surat itu?”

“Oo, biasa, tidak ada apa-apa,” sahut Sun-hoan tertawa.

“Melihat tertawamu segembira ini, penulis surat itu mungkin seorang perempuan.”

“Ya, betul.”

“Apakah dia mengajak berkencan denganmu?”

“Betul juga.”

Nona itu lantas menggerutu, “Huh, tahu begitu tentu tidak kuserahkan surat ini kepadamu.”

“Bila tidak kau sampaikan surat ini kepadaku, dia pasti sangat berduka.”

Nona cilik itu melototinya sekejap dengan gemas, “Bagaimana bentuknya, cantik atau tidak?”

“Tentu saja cantik,” jawab Sun-hoan, “kalau tidak tentu surat ini sudah kubuang. Perempuan bermuka jelek pada hakikatnya terlebih celaka daripada lelaki yang bodoh.”

“Dia … berapa umurnya?” tanya pula si nona dengan menggigit bibir.

“Dengan sendirinya masih muda.”

“Sedikitnya kan jauh lebih tua daripadaku bukan?” jengek si nona.

“Untung juga dia lebih tua daripadamu, kalau tidak paling-paling cuma dapat kuanggap dia sebagai anak angkat.”

Nona cilik itu berteriak dengan mendongkol, “Jika ada nona secantik itu janji berkencan denganmu, mengapa tidak lekas kau pergi menemuinya, untuk apa berdiam di sini.”

“Eh, mana boleh tuan rumah mengusir tamunya,” ujar Sun-hoan.

“Biarpun tidak kuusir toh engkau akan pergi juga.”

“Jika aku tidak pergi?”

Nona itu mengerling genit, “Jika engkau tidak pergi, terpaksa aku yang menjadi tuan rumah harus berusaha melayanimu.”

“Betul?”

“Tentu saja betul. Sedikitnya aku bukan orang pelit, bila engkau mau tinggal sepuluh hari pula akan kuladenimu. Jika engkau suka tinggal selama hidup di sini, aku juga tidak … tidak bakal mengusirmu.”

Bicara sampai di sini mukanya menjadi merah. Bila muka seorang nona cilik bisa merah, hal ini menandakan sesungguhnya dia tidak cilik lagi.

“Baik, jika begitu aku akan tinggal di sini ….”

Belum habis ucapan Sun-hoan segera nona itu melonjak bangun dan berseru, “Hah, apa betul ucapanmu?

“Tentu saja betul, bertemu dengan tuan rumah sebaik ini mana dapat kupergi begini saja?”

Nona itu tertawa cerah, “Kutahu engkau gemar minum arak, segera akan kusediakan. Barang lain tidak ada di sini, kalau arak sih sangat banyak, untuk mandi pun cukup.”

“Kecuali arak, kuminta disediakan juga beberapa potong kayu, makin keras makin baik.”

Nona cilik itu melengak, “Kayu? Untuk apa potongan kayu? Memangnya kau minum arak bersama kayu? Hebat benar gigimu?”

Sejak tadi Kwe Ko-yang selalu memerhatikan mimik wajah Li Sun-hoan, sekarang mendadak ia pun bicara, “Aku tidak makan kayu, aku makan telur, segala macam telur pun boleh. Telur ayam, telur bebek, telur angsa, telur dadar, telur ceplok, pokoknya asal telur pun jadi, makin banyak makin baik.”

Seketika si nona cilik menarik muka, “Kau pun tinggal di sini?” tanyanya dengan melotot.

“Mendapatkan tuan rumah sebaik seperti dirimu, mana aku dapat pergi sendiri?” jawab Ko-yang tak acuh.

Terpaksa si nona cilik pergi dengan uring-uringan, omelnya, “Huh, banyak juga manusia tak tahu diri di dunia ini. Banyak tempat lain, tapi dia justru sengaja mengacau ….”

*****

Di suatu tempat lain Lim Sian-ji lagi duduk di tempat tidur dan sedang membetulkan kancing baju seorang lelaki, caranya menggunakan jarum nyata tidak sehafal dia menggunakan pedang, terbukti sering jarum mencocok tangan sendiri.

A Fei berdiri di depan jendela, sedang memandangi cuaca malam di luar dan entah apa yang direnungkan.

Selesai menjahit kancing baju, Sian-ji menengadah dan perlahan memijat pinggang yang pegal, lalu berucap sambil menggeleng, “Sungguh aku tidak suka tinggal di hotel, betapa baik kamar hotel rasanya tetap serupa kurungan, begitu masuk ke dalamnya lantas terasa pengap. Orang bilang, sarang emas atau sarang perak tetap tidak lebih enak daripada sarang sendiri.”

“Ehm,” A Fei hanya bersuara tak acuh.

“Kuseret engkau keluar rumah, engkau merasa tidak senang, bukan?”

“Ah, tidak,” sahut A Fei.

Sian-ji menghela napas, “Kutahu Li Sun-hoan adalah sahabatmu, bukan maksudku merintangi persahabatanmu dengan dia, soalnya kita kan sudah bertekad akan melupakan segala apa yang telah lalu dan ingin menjadi manusia baru mulai awal, maka tidak boleh tidak harus kita tinggalkan dia. Orang semacam dia ke mana pun pergi selalu diikuti dengan kesulitan.”

Dengan suara lembut ia menambahkan, “Dan kita sudah bersumpah takkan mencari kesulitan lagi, bukan?”

“Ya,” jawab A Fei.

“Apalagi, meski dia seorang yang sangat setia kawan, tapi dia terlalu banyak minum arak, seorang kalau terlalu banyak minum tentu tak terhindar dari kelemahan, bilamana ciri kelemahannya kumat, mungkin dia sendiri tidak sadar apa yang telah diperbuatnya.”

Ia menghela napas, lalu menyambung lagi perlahan, “Lantaran itulah dia mendobrak pintu kamarku dan hendak berbuat ….”

Mendadak A Fei berpaling dan berucap sekata demi sekata, “Hendaknya jangan kau singgung lagi kejadian itu, mau?”

Sian-ji tersenyum lembut, “Padahal sudah lama kumaafkan perbuatannya, sebab dia kan sahabatmu.”

Sorot mata A Fei menampilkan rasa sedih, ia menunduk dan berucap, “Aku tidak … tidak mempunyai sahabat, aku cuma … cuma mempunyai dirimu.”

Sian-ji berbangkit dan menarik tangan anak muda itu, diseretnya ke samping sendiri, perlahan ia meraba pipinya, ucapnya dengan lembut, “Aku pun cuma mempunyai dirimu.”

Ia berjinjit, menempelkan muka sendiri pada muka A Fei, bisiknya, “Sudah cukup bagiku asalkan mempunyaimu, aku tidak menghendaki apa pun.”

A Fei terus mendekapnya erat-erat.

Sekujur badan Sian-ji melengket di tubuh A Fei, keduanya saling peluk dengan erat. Sampai sekian lamanya, mendadak tubuh Sian-ji bergetar perlahan, tanyanya lirih, “Engkau … engkau ingin lagi? ….”

A Fei memejamkan mata dan mengangguk.

“Sebenarnya aku … aku pun ingin,” ucap Sian-ji. “Memang sudah lama ingin kuserahkan segalanya kepadamu, akan tetapi hal ini tidak dapat … tidak dapat kulakukan, sebab … sebab aku belum lagi menjadi istrimu. Mengapa engkau tidak berani melamar diriku secara terang-terangan supaya umum tahu aku ini istrimu, mengapa engkau tidak berani? Apakah kesalahanku yang lalu tidak dapat kau maafkan? Apakah engkau tidak mencintaiku sungguh-sungguh?”

Air muka A Fei tampak sangat menderita, perlahan ia kendurkan tangannya.

Tapi rangkulan Sian-ji bertambah erat, ucapnya lembut, “Betapa pun aku tetap cinta padamu, kau tahu hatiku sudah lama kuserahkan padamu, dalam hatiku cuma adalah dirimu dan tidak ada orang lain.”

Tubuhnya yang gemetar itu mulai bergeliat merapat di tubuh A Fei ….

A Fei mengeluh tak tahan, keduanya mendadak rebah di ranjang.

“Benarkah engkau sangat ingin? …. Apakah perlu kugunakan ….”

Tidak lama kemudian A Fei rebah terkulai di ranjang, semuanya terasa runtuh. Hatinya penuh rasa gemas dan menyesal, juga penuh derita.

Ia benci diri sendiri, ia tahu tidak pantas berbuat demikian, tapi dia sukar melepaskan diri. Terkadang dia ingin mati saja, tapi merasa berat meninggalkan si dia.

Baginya asalkan dapat merangkulnya dengan perlahan sekali saja dan ia pun sanggup menahan segala siksa derita.

Sian-ji telah berbangkit dan sedang menyisir rambut, mukanya merah berseri.

“Siapa pun boleh, hanya A Fei tidak.”

Ujung mulut Sian-ji menampilkan senyuman manis, tapi juga kejam. Dia suka menyiksa lelaki, ia merasa tidak ada perbuatan lain yang lebih menyenangkan daripada tindakannya ini. Berbuat sadis terhadap lelaki.

Pada saat itulah sekonyong-konyong ada orang menggedor pintu dengan keras. Seorang berteriak di luar, “Buka pintu, buka! Kutahu engkau berada di dalam, sudah kulihat kau!”

Serentak A Fei berbangkit dan membentak, “Siapa itu?”

Belum lenyap suaranya pintu sudah terpentang didobrak orang, seorang terus menerjang masuk.

Usia orang ini masih sangat muda, cakap juga, cuma berbau arak, matanya merah dan melulu menatap Sian-ji seolah-olah tiada orang lain lagi di rumah ini.

Ia tuding Sian-ji dan terkekeh-kekeh, “Hehe, meski kau pura-pura tidak melihatku, tapi telah kulihat kau masuk ke sini? Memangnya dapat kau kelabui aku?”

Sian-ji tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, jengeknya, “Siapa kau? Aku tidak kenal padamu!”

“Tidak kenal? Benar tidak kau kenal diriku? Masakah sudah kau lupakan kejadian tempo hari? ….” pemuda itu tertawa. “Bagus, dengan susah payah telah kuantarkan belasan surat bagimu, tapi sekarang engkau tidak mau kenal lagi padaku.”

Mendadak ia menubruk maju dan bermaksud merangkul Sian-ji, teriaknya dengan parau, “Tapi aku tetap kenal padamu, mati pun takkan kulupakan dikau ….”

Dengan sendirinya Sian-ji tidak dapat dirangkul, perlahan ia mengegos sambil berseru, “Orang ini mabuk, orang sinting!”

“Aku tidak mabuk, aku cukup sadar ….” pemuda itu berteriak. “Masih ingat apa yang kau katakan, kau bilang asalkan kuantarkan semua suratmu itu, sebagai imbalannya engkau akan ….”

Dia hendak menubruk maju lagi, tapi A Fei lantas mengadangnya sambil membentak, “Enyah!”

Pemuda itu berteriak, “Siapa kau? Berdasarkan apa kau usir diriku? Barangkali kau ingin mencari muka? Supaya kau tahu, setiap saat dia akan melupakanmu seperti halnya melupakan diriku.”

Mendadak ia terbahak-bahak, “Hahaha, barang siapa mengira disukai olehnya, maka orang itu pasti orang tolol, dungu …. Ketahuilah, sedikitnya dia sudah pernah naik ranjang bersama ratusan orang.”

Belum habis ucapannya kepalan A Fei sudah bekerja. “Blang”, pemuda itu digenjot hingga terpental dan jatuh telentang di pelataran.

Dengan muka kelam A Fei melototi orang yang sudah menggeletak itu, sampai sekian lama barulah ia berpaling menghadapi Lim Sian-ji.

Mendadak Sian-ji mendekap dan menangis sedih, “O, sesungguhnya apa kesalahanku? Meng … mengapa orang-orang ini selalu membikin susah padaku, memfitnahku ….”

A Fei menghela napas panjang, perlahan ia rangkul Sian-ji, ucapnya dengan lembut, “Selama masih ada aku, apa pun tidak perlu takut.”

Lama-lama tangis Sian-ji mulai reda, ucapnya dengan tersendat, “Syukurlah aku masih memiliki engkau, asalkan engkau memahami aku, apa pun yang diperbuat orang lain terhadapku takkan kupikir lagi.”

Dengan murka A Fei berkata, “Selanjutnya jika ada orang berani lagi menghinamu pasti takkan kuampuni dia.”

“Tak peduli siapa pun?” Sian-ji menegas.

“Ya, tidak peduli siapa pun,” ucap A Fei tegas.

Sian-ji terus mendekap dalam pelukan A Fei dan merangkulnya erat-erat. Tapi matanya justru sedang memandang seorang lain, sama sekali tidak kelihatan rasa duka pada sorot matanya, sebaliknya malah penuh rasa tertawa, tertawa yang menggiurkan.

Di tengah pelataran saat itu justru ada seorang lagi memandangnya.

Orang ini berdiri di samping pemuda yang menggeletak itu, perawakannya tinggi kurus, bajunya seperti berwarna emas mulus, panjangnya sebatas dengkul, pedang bergantung di pinggangnya.

Meski ada cahaya lampu di pelataran, tapi tidak begitu terang, hanya samar-samar kelihatan muka orang itu ada tiga jalur bekas luka, satu di antaranya sangat dalam, juga sangat panjang, dimulai dekat rambutnya hingga ujung mulutnya, membuat wajahnya seperti selalu menampilkan semacam senyuman yang kejam dan misterius, yang membuat orang ngeri.

Tapi yang paling menakutkan adalah matanya. Matanya berwarna pucat kelabu, tidak ada perasaan, tidak ada gairah hidup.

Dia memandang Sian-ji sejenak dengan dingin, lalu mengangguk perlahan terus membalik tubuh dan menuju ke deretan rumah di sebelah selatan sana.

Sebentar lagi baru datang dua orang membawa pergi pemuda yang rebah itu. Kedua orang ini juga berseragam kuning, gerak-geriknya gesit cekatan.

Habis itu suara tangis Sian-ji baru berhenti.

Malam bertambah larut.

Terdengar suara mendengkur A Fei, sangat keras dengkurannya, nyata dia telah tidur dengan sangat lelap.

Sehabis minum secangkir teh yang diberikan Sian-ji segera dia terpulas.

Suasana pelataran sangat sunyi, hanya desir angin yang meniup daun pepohonan dan menimbulkan suara gemeresik.

Kemudian daun pintu lantas terbuka sedikit, seorang menyelinap keluar, pintu dirapatkan kembali, perlahan ia menyusuri pelataran dan menuju deretan rumah di sebelah selatan.

Di balik jendela deretan rumah itu masih ada cahaya lampu.

Dari cahaya lampu guram yang menyorot keluar itu tertampak matanya besar sangat memikat. Dia Lim Sian-ji. Dia mulai mengetuk pintu.

Hanya mengetuk sekali segera dari dalam berkumandang suara serak, “Pintu tidak dipalang!”

Perlahan Sian-ji mendorong, pintu benar lantas terbuka. Orang berbaju warna emas yang berdiri di pelataran tadi sekarang berduduk di sebuah kursi yang menghadap pintu, duduk tanpa bergerak serupa sebuah patung.

Sesudah dekat barulah Sian-ji dapat melihat jelas mata orang. Matanya hampir sukar dibedakan antara bagian yang putih dan bagian hitam, seluruhnya seakan-akan berwarna kelabu.

Mata ini tidak mencorong terang, juga tidak tajam, tapi ada semacam daya pengaruh ajaib, sampai Sian-ji juga merasa ngeri, rasa dingin seolah-olah merasuk tulang sumsum.

Namun wajah Sian-ji tetap menampilkan senyum manis. Semakin menakutkan orang yang dihadapi, semakin menarik senyumnya. Inilah senjatanya yang utama untuk melayani kaum lelaki. Sudah biasa dan hafal sekali dia menggunakan senjatanya ini, senjata yang paling efektif.

“Hing-siansing?” tanyanya dengan senyum lebih manis daripada madu.

Orang itu memang Hing Bu-bing, ia tetap pandang Sian-ji dengan dingin, tidak bicara, juga tidak mengangguk.

Tambah menggiurkan senyum Sian-ji, “Nama kebesaran Hing-siansing sudah lama kudengar.”

Hing Bu-bing tetap menatapnya dengan kaku, dalam pandangannya, perempuan cantik nomor satu di dunia ini pada hakikatnya tiada bedanya serupa sepotong kayu.

Namun Sian-ji tetap tidak kecewa, juga tidak putus asa, dengan tersenyum genit ia berkata pula, “Kapan Hing-siansing sampai di sini? Tadi ….”

Mendadak Hing Bu-bing memotong ucapannya dengan ketus, “Bila bicara di hadapanku hendaknya kau ingat satu hal.”

“Asalkan Hing-siansing mau memberi tahu pasti akan kuingat,” jawab Sian-ji dengan lembut.

“Bagiku cuma ada tanya dan tidak ada jawab, tahu?”

“O, ya, tahu,” jawab Sian-ji.

“Tapi setiap pertanyaanku harus ada jawaban, harus jelas, singkat. Aku tidak suka mendengar ucapan yang bertele-tele. Nah, jelas?”

“Ya,” kata Sian-ji dengan menunduk, tampaknya sangat halus dan menurut.

Inilah senjatanya yang kedua yang biasa digunakan untuk menghadapi kaum lelaki. Ia tahu kebanyakan lelaki suka kepada perempuan yang penurut, ia pun tahu bilamana seorang lelaki sudah mulai menyukai seorang perempuan, maka tanpa sadar ia berbalik akan menurut kepada setiap kehendak si perempuan.

“Kau ini Lim Sian-ji?” tanya Hing Bu-bing.

Sian-ji mengiakan.

“Engkau yang berjanji bertemu dengan kami di sini?”

“Ya,” jawab Sian-ji pula.

“Sudah kau wakilkan kami mengundang Li Sun-hoan.”

“Ya.”

“Untuk apa engkau berbuat demikian?”

“Kutahu sejak lama Siangkoan-pangcu telah mencari Li Sun-hoan, sebab Li Sun-hoan selalu suka merintangi jalan orang lain.”

“Maksudmu hendak membantu kami?”

“Ya.”

Mendadak sorot mata Hing Bu-bing menyempit dan mendadak berubah tajam, tanyanya dengan bengis, “Untuk apa kau bantu kami?”

“Sebab aku benci kepada Li Sun-hoan, aku ingin mencabut nyawanya.”

“Mengapa engkau tidak turun tangan membunuhnya sendiri?”

Sian-ji menghela napas, “Tak dapat kubunuh dia, di depannya, berpikir begitu saja tidak berani, sebab sekali pandang saja dia seperti dapat menembus isi hati orang lain, sekali timpuk pisaunya dapat merenggut nyawa orang.”

“Masa benar dia begitu lihai?”

“Dia malahan jauh lebih lihai daripada apa yang kukatakan,” ujar Sian-ji. “Orang yang ingin membunuhnya kebanyakan sudah mati di tangannya, kecuali Hing-siansing dan Siangkoan-pangcu, kukira di dunia ini tidak ada orang lain lagi yang mampu membunuhnya.”

Ia menengadah dan memandang Hing Bu-bing dengan lembut, “Meski belum pernah kulihat ilmu pedang Hing-siansing, namun dapat kubayangkan.”

“Berdasarkan apa dapat kau bayangkan kehebatan ilmu pedangku?”

“Berdasarkan ketenangan dan kesabaran Hing-siansing ini,” jawab Sian-ji. “Meski aku tidak dapat menggunakan pedang, namun kutahu pertarungan di antara jago kelas tinggi yang paling penting adalah kesabaran dan ketenangannya.”

“Sebab apa?” tanya Hing Bu-bing.

“Sebab setiap gerak perubahan permainan pedang pada hakikatnya tidak banyak berbeda. Bilamana Kungfu seorang sudah terlatih sampai suatu tingkatan tertentu, cepat atau lambatnya juga tidak banyak berbeda lagi. Tatkala mana yang menentukan adalah siapa yang lebih sabar dan tenang, siapa yang dapat menemukan titik lemah lawan dan dialah yang akan menang.”

Ia pandang Hing Bu-bing dengan sorot mata penuh rasa kagum, sambungnya, “Tidak sedikit jago pedang zaman ini yang pernah kulihat, tapi kalau bicara tentang ketenangan dan kesabaran, rasanya tiada seorang pun yang dapat melebihi Hing-siansing.”

Jika ingin mengumpak seseorang, hendaknya cara menyanjung puji itu dilakukan tanpa berlebihan dan tidak membuat orang merinding, tapi harus mengenai bagiannya yang tepat, dengan demikian baru terhitung umpakan yang sempurna.

Dalam hal mengumpak orang nyata Lim Sian-ji sudah cukup sempurna.

Rupanya inilah senjatanya yang ketiga untuk menghadapi kaum lelaki.

Ia tahu lelaki pada umumnya suka diumpak, lebih-lebih disanjung puji oleh orang perempuan. Jika ingin menaklukkan hati seorang lelaki, setiap patah kata umpakan orang perempuan jauh lebih efektif daripada beribu prajurit.

Namun wajah Hing Bu-bing tetap tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ucapnya dengar dingin, “Hari yang kau tentukan adalah tanggal satu bulan kesepuluh?”

“Betul, sebab sudah kuperhitungkan pada hari itu Hing-siansing dan Siangkoan-pangcu pasti dapat hadir tepat pada waktunya.”

“Tapi dari mana kau tahu Li Sun-hoan juga pasti akan hadir?”

“Kuyakin dia pasti menerima surat itu, asalkan surat itu diterimanya, dia pasti akan hadir.”

“Kau yakin?” Hing Bu-bing menegas.

Sian-ji tertawa, “Dia tidak takut mati, sebab dia toh takkan hidup lebih lama lagi.”

Mendadak lenyap tertawanya, katanya dengan lirih, “Justru lantaran dia tahu hidupnya takkan lama lagi, makanya menakutkan. Meski Kungfumu lebih tinggi daripada dia, hendaknya kau pun hati-hati pada waktu bertempur dengan dia. Orang semacam dia bilamana bertempur sering kali menjadi nekat.”

Nadanya dan pandangannya penuh rasa prihatin dan simpati, inilah senjatanya yang keempat terhadap kaum lelaki. Bilamana kau ingin orang lain memerhatikan dirimu, lebih dulu harus kau bikin dia tahu engkau sangat memerhatikan dia.

Apabila seorang perempuan cantik mahir menggunakan keempat macam senjata ini secara tepat, di antara seratus orang lelaki sedikitnya ada 99 orang akan bertekuk lutut padanya.

Cuma sayang pengalaman Lim Sian-ji sekali ini harus dikecualikan. Yang dihadapinya ini ternyata bukan lelaki, pada hakikatnya bukan manusia.

Untung dia masih mempunyai semacam senjata lain yang paling efektif.

Inilah senjatanya yang terakhir, juga senjata kaum perempuan yang paling primitif. Terkadang orang perempuan dapat menaklukkan lelaki justru lantaran mereka memiliki senjata yang ampuh ini.

Tapi apakah senjata ini juga sama efektifnya bila digunakan terhadap Hing Bu-bing? Sian-ji menjadi ragu.

Maklum, bila tidak yakin pasti akan berhasil, tidak nanti dia mau menggunakan senjata terakhir ini secara sembarangan.

Sorot mata Hing Bu-bing mulai membesar lagi tapi perlahan berubah menjadi remang kelabu, tampaknya dia seperti tidak berminat terhadap segala urusan duniawi.

Diam-diam Sian-ji menghela napas gegetun, terhadap lelaki semacam ini sungguh dia mati kutu.

Terdengar Hing Bu-bing berucap dengan perlahan, “Apakah sudah selesai pembicaraanmu?”

“Sudah,” jawab Sian-ji.

Perlahan Hing Bu-bing lantas berbangkit dan mendekati meja dengan membelakangi Lim Sian-ji, perlahan ia menuang secangkir teh dan tidak memandang lagi padanya barang sekejap pun.

Sian-ji menjadi rikuh, “Jika Hing-siansing tidak ada keperluan lain, biarlah kumohon diri saja.”

Hing Bu-bing tetap tidak menghiraukannya, dari sakunya dikeluarkan sebiji pil dan diminum dengan teh.

Sian-ji juga tidak tahu orang lagi berbuat apa, setelah ditunggunya lagi sekian lama dan orang tetap tidak berpaling, ia merasa tiada jalan lain kecuali pergi saja.

Tapi sebelum tiba di pintu, mendadak Hing Bu-bing bersuara, “Kabarnya kau suka memelet orang lelaki, betul tidak?”

Sian-ji melengak.

“Begitu kau masuk ke sini lantas hendak kau pikat diriku, betul tidak?” tanya pula Hing Bu-bing dengan dingin.

Sian-ji mengerling dan menunduk, jawabnya, “Aku suka kepada lelaki yang sabar.”

Mendadak Hing Bu-bing membalik tubuh dan berkata, “Dan mengapa sekarang kau mau pergi?”

Sian-ji menengadah dan terlihat sorot mata orang kembali menyempit dan lagi menatap tubuhnya, pandangan demikian serupa orang sedang melihatnya dalam keadaan telanjang bulat.

Muka Sian-ji menjadi merah, ucapnya dengan menunduk, “Hatimu sekeras baja, aku … aku tidak berani ….”

“Tapi orangnya kan bukan baja?” kata Bu-bing perlahan.

Waktu Sian-ji mengangkat kepala dan memandangnya lagi, sorot mata Hing Bu-bing kelihatan mulai mencorong.

“Hanya ada satu cara jika ingin kau pikat diriku, yaitu cara langsung,” ujar Bu-bing.

“Mengapa tidak kau ajarkan padaku?” jawab Sian-ji dengan muka merah.

Perlahan Hing Bu-bing mendekatinya dan menjengek, “Hm, masakah perlu kuajari dirimu?”

Mendadak tangannya membalik dan menampar muka Sian-ji sehingga terpental dan jatuh di atas ranjang, perlahan Sian-ji merintih, meski mukanya kesakitan sehingga berkerut-kerut, tapi sorot matanya memancarkan cahaya membara ….

Perlahan Hing Bu-bing menyusul ke depan ranjang.

Mendadak Sian-ji melompat bangun dan merangkulnya erat-erat sambil meratap, “Jika mau pukul, silakan pukul saja, pukul mati juga tidak menjadi soal bagiku, kurela mati di tanganmu ….”

Tangan Hing Bu-bing kembali memukul lagi.

Berulang terdengar suara keluhan dan ratapan di dalam rumah, namun kedengaran lebih banyak gembira daripada derita.

Memangnya si dia suka disiksa dan dipukuli orang?

*****

Pada waktu Lim Sian-ji keluar dari rumah ini, sementara itu fajar sudah hampir menyingsing.

Dia kelihatan letih dan lesu, kaki pun tampak lemas dan hampir sukar melangkah, tapi tampaknya juga sangat senang dan puas.

Setiap kali bilamana habis menjangkitkan hawa nafsu A Fei, ia sendiri juga merasa tidak enak seperti dibakar, sebab itulah setiap kali juga dia perlu mencari orang kedua untuk melampiaskan api yang membakar itu.

Dia suka menyiksa orang, tapi juga suka disiksa.

Fajar sudah tiba. Sian-ji memandang ufuk timur yang mulai remang-remang itu, gumamnya, “Hari ini tanggal 25 bulan kesembilan, masih ada lima hari … tinggal lima hari …. Wahai Li Sun-hoan, paling banyak engkau hanya dapat hidup lagi lima hari.”

Saat itu Li Sun-hoan asyik mengukir sepotong kayu.

Nona cilik berbaju merah itu menungguinya di samping dan tiba-tiba bertanya, “Sesungguhnya apa yang kau ukir?”

“Tak dapat kau lihat?” sahut Sun-hoan dengan tersenyum.

“Tampaknya seperti patung orang yang kau ukir. Tapi mengapa selalu tidak kau selesaikan? Sungguh ingin kulihat orang yang kau ukir ini cantik atau tidak?”

Senyum Li Sun-hoan lenyap seketika, dia mulai terbatuk-batuk lagi.

Justru lantaran dia tidak ingin orang lain mengetahui siapa yang diukirnya, maka setiap kali patung yang diukir tidak pernah diselesaikannya. Meski dia dapat mengukir seorang lain, tapi tangan seperti tidak mau menurut perintah lagi, profil ukirannya tetap serupa si dia.

Maklum, betapa pun ia tidak dapat melupakan si dia.

Cuaca di luar sudah mulai kelam lagi.

Si nona cilik menyalakan lampu, katanya tiba-tiba, “Hari ini engkau sama sekali belum minum arak.”

“Ehm,” Sun-hoan bersuara perlahan.

“Engkau tidak ingin minum?”

“Sekali tempo tidak minum kan juga baik.”

“Tapi kukira ada baiknya engkau minum sedikit, satu hari tidak minum arak saja tanganmu lantas bergemetar,” ujar si nona cilik dengan tertawa.

Senyuman Sun-hoan lenyap lagi, perlahan ia angkat tangannya, pisau yang dipegangnya memancarkan cahaya hijau gemerdep di bawah sinar lampu.

“Masa, benar tanganku bergemetar?” tenggelam perasaan Sun-hoan, ia memang khawatir pada suatu hari tangannya bisa gemetar bila tidak minum arak. Dan kalau tangan gemetar lalu cara bagaimana mampu menyambitkan pisau yang mematikan orang?

Ia genggam tangkai pisau sekuatnya sehingga ruas jari sampai berubah putih, namun cahaya hijau pada mata pisau tetap gemerdep.

Mendadak Sun-hoan merasakan tangan sedemikian beratnya, mengangkatnya saja terasa tidak sanggup.

Perlahan ia menurunkan tangannya dan memandang cuaca di luar jendela, ucapnya, “Hari ini tanggal berapa?”

“Tanggal 30,” jawab si nona. “Besok sudah bulan kesepuluh.”

Sun-hoan memejamkan mata, selang sejenak baru membuka mata lagi dan bertanya, “Di mana Kwe-siansing?”

“Dia bilang mau ke kota sebentar,” si nona cilik tersenyum. “Jika engkau ingin minum arak, mengapa mesti menunggu dia, aku kan juga dapat mengiringimu minum.”

“Apakah tidak terlalu dini bagimu untuk minum arak pada usia sekarang?”

“Cepat atau lambat toh harus minum, kan lebih baik sekarang juga kumulai minum.”

Dengan tertawa nyaring seperti bunyi kelintingan ia benar-benar pergi mengambilkan arak.

Sun-hoan memandang pisau yang terpegang di tangannya, mendadak ia mengukir lagi dengan keras. Cepat sekali ukirannya, patung yang hampir jadi itu dengan cepat telah diselesaikannya, segera kelihatan profil yang indah dengan hidung yang mancung, tampaknya masih begitu muda.

Namun manusianya? Manusianya sudah tua.

Manusia yang senantiasa dirundung kesedihan selalu lebih cepat menjadi tua.

Sun-hoan memandangi patung itu dengan termangu-mangu, pandangannya tidak pernah bergeser lagi ke arah lain sebab ia tahu selanjutnya tidak dapat lagi melihat si dia.

Mendadak seorang menegur, “Wah, cantik amat patung ini, siapakah dia? Kekasihmu bukan?”

Kiranya si nona cilik sudah kembali dengan membawa sebuah nampan dan entah sejak kapan telah berdiri di belakangnya.

Sun-hoan tersenyum dan menyimpan patung itu ke dalam lengan baju, sahutnya, “Aku pun tidak tahu siapa dia, mungkin dewi kahyangan ….”

Si nona cilik berkedip dan menggeleng, “Ah, kau bohong, dewi kahyangan semuanya bergembira ria, dia justru kelihatan murung ….”

“Jika di dunia ini ada manusia yang gembira, mengapa di atas langit tidak boleh ada dewi yang murung?”

“Tapi engkau sendiri kan tidak gembira, sebab engkau suka padanya, tapi tidak mendapatkan dia. Betul tidak tebakanku?”

Air muka Sun-hoan berubah, hati pun tenggelam.

“Tidak perlu engkau membohongiku, dari air mukamu dapat kuketahui dugaanku pasti tidak meleset,” kata si nona dengan tertawa.

Sun-hoan menyengir, “Itu kejadian yang sangat lama.”

“Jika kejadian lama, mengapa sampai saat ini belum dapat kau lupakan dia?”

Sun-hoan termangu sejenak, katanya kemudian dengan rawan, “Nanti kalau usiamu sudah sebaya diriku, tentu akan kau ketahui bahwa orang yang ingin kau lupakan juga orang yang paling sukar dilupakan ….”

Nona cilik itu mengangguk perlahan dan coba mencerna arti ucapan Sun-hoan, ia menjadi kesima sehingga nampan yang dibawanya lupa ditaruh.

Sampai sekian lama barulah ia menghela napas dan berucap, “Orang lain sama bilang engkau ini dingin dan tidak berbudi, nyatanya engkau bukanlah manusia demikian.”

“Kau kira aku ini manusia macam apa?”

“Engkau suka murung, perasa, seorang pencinta yang baik, jika engkau benar-benar menyukai seorang perempuan, maka bahagialah perempuan itu.”

“Bisa jadi karena aku belum minum arak, setelah kuminum arak, aku bisa berubah kaku dan tanpa perasaan,” ujar Sun-hoan dengan tertawa.

Si nona juga tertawa, “Jika begitu aku ingin lekas minum arak, aku pun ingin berubah menjadi agak kaku supaya tidak kesal.”

Mendadak ia angkat poci arak yang dibawanya dan menenggaknya beberapa ceguk.

Semakin muda orangnya semakin cepat caranya minum arak. Sebab minum arak memerlukan keberanian. Semakin berani seorang, semakin cepat juga mabuknya.

Muka si nona cilik berubah merah serupa apel, mendadak ia melotot dan bertanya, “Kutahu engkau bernama Li Sun-hoan, tapi apakah kau tahu siapa namaku?”

“Tidak kau katakan, dari mana kutahu?” jawab Sun-hoan.

“Engkau tidak tanya padaku, mengapa perlu kukatakan? Bukan cuma namaku saja, engkau juga tidak tanya siapa diriku, mengapa tinggal sendirian di sini? Ke mana perginya orang lain? …. Apa pun tidak kau tanyakan, apakah lantaran engkau merasa sudah dekat ajal sehingga urusan apa pun tidak ingin tahu!”

“Ah, engkau mabuk, sebaiknya engkau pergi tidur saja,” kata Sun-hoan dengan tertawa.

“Engkau tidak sudi mendengarkan, bukan? Tapi justru ingin kuberi tahukan padamu. Aku tidak punya papa, tidak punya mama, sebab itu juga tidak tahu she sendiri. Lima tahun yang lalu Siocia membeli diriku, maka aku lantas ikut she Lim. Siocia suka memanggilku sebagai Ling-ling, maka namaku menjadi Lim Ling-ling ….”

Ia tertawa mengikik, lalu menyambung lagi, “Lim Ling-ling, coba, bagus tidak namaku! Seperti sebuah kelenengan, bila diguncang orang aku lantas berbunyi kling-kling ….”

Sun-hoan menghela napas, baru diketahuinya sekarang nona cilik ini pun mempunyai kisah hidup yang memilukan dan tidak serupa lahirnya yang selalu kelihatan gembira itu.

“Apakah kau tahu sebab apa aku tinggal sendirian di sini?” ucap si nona pula. “Kukira tidak menjadi soal kuberi tahukan sekalian. Siocia menyuruhku tinggal di sini untuk mengawasi dirimu dan setiap hari harus berusaha memberi minum arak kepadamu, dia bilang, asalkan tanganmu mulai gemetar, maka hidupmu pun takkan lama lagi.”

Dia pandang Li Sun-hoan, seperti lagi menunggu orang mengumbar marah padanya.

Tapi Li Sun-hoan hanya tersenyum hambar saja, katanya, “Belasan tahun yang lalu sudah ada orang bilang selekasnya aku akan mati, tapi aku tetap hidup sampai sekarang, coba aneh tidak?”

Ling-ling melotot, “Kan sudah kukatakan, tujuanku hendak membikin susah padamu, mengapa tidak kau damprat diriku?”

“Mengapa perlu kudamprat dirimu? Engkau tidak lebih kan cuma sebuah kelenengan kecil saja?” Sun-hoan menghela napas, lalu menyambung, “Setiap orang hidup di dunia ini sukar terhindar menjadi kelenengan orang. Aku kan juga begitu. Bukan mustahil orang yang mengguncang kelenengan itu sendiri juga terikat pula oleh orang lain lagi.”

Ling-Ling memandangnya dengan terbelalak, sekian lama barulah ia menghela napas panjang, “Baru sekarang kutahu engkau memang hebat dan sebab apa Siocia sengaja menghendaki kematianmu.”

“Seorang yang selalu menghendaki kematian orang lain, cepat atau lambat ia sendiri juga akan mati,” ujar Sun-hoan dengan tersenyum hambar.

“Tapi ada sementara orang, kematiannya akan membuat gembira orang banyak, ada juga kematiannya akan membuat orang mencucurkan air mata ….” Ling-ling menunduk dan menyambung lagi dengan sedih, “Dan jika engkau mati, bukan mustahil aku pun akan mencucurkan air mata bagimu.”

“Sebab kita sudah menjadi sahabat …. Sedikitnya kita sudah berkenalan sekian hari,” ujar Sun-hoan dengan tertawa.

“Bukan begitu halnya,” kata Ling-ling sambil menggeleng. “Kukenal Kwe-siansing itu lebih lama daripada mengenalmu, jika dia mati, tidak nanti kucucurkan air mata setitik pun.”

Ia tertawa sendiri dan menambahkan, “Sebab kalau aku mati, pasti juga dia takkan menangis bagiku.”

“Kau anggap hatinya sangat keras?”

“Bisa jadi pada hakikatnya dia memang tidak punya hati.”

“Jika benar begitu jalan pikiranmu, maka salahlah kau,” ujar Sun-hoan. “Ada sementara orang lahirnya kelihatan sangat dingin, padahal berdarah panas, sahabat yang berbudi. Orang yang tidak mau sembarangan memperlihatkan perasaannya terkadang justru seorang yang penuh perasaan simpatik.”

Hati Sun-hoan seperti tersentuh sehingga tak diketahuinya Kwe Ko-yang sudah berdiri sekian lamanya di luar pintu.

Dia memang seorang yang tidak sembarangan memperlihatkan perasaannya. Saat ini dia masih tetap berdiri di luar pintu tanpa emosi sedikit pun.

*****

Esoknya, pagi sekali Sun-hoan sudah bangun. Pada hakikatnya dia hampir tidak tidur semalaman.

Fajar belum menyingsing dia sudah membersihkan badan dan berdandan dengan rapi.

Sekarang dia menghadapi sang surya yang baru memancarkan cahayanya yang keemasan, rasanya dia sangat bersemangat.

Seorang kalau rajin dan bersih, semangat tentu akan tambah baik. Sun-hoan harus berdandan rapi dan bersih supaya penuh semangat, sebab hari ini adalah hari yang istimewa baginya.

Pada malam nanti boleh jadi dia tidak hidup lagi di dunia ini. Jika waktu hidupnya rajin dan bersih, waktu mati juga harus mati dengan rajin dan bersih.

Dalam pertandingan ini, kemungkinan menangnya tidak besar, kesempatan hidupnya sangat sedikit, tapi asalkan ada setitik harapan pasti takkan dilepaskannya.

Dia tidak takut mati, tapi juga tidak suka mati di bawah tangan yang kotor.

Cahaya sang surya gilang-gemilang, pepohonan menghijau permai, hidup ini sesungguhnya tidak jelek.

Sun-hoan lagi mengikat rambutnya dengan sepotong kain hijau.

Mendadak seorang berseru, “Rambutmu sekusut itu, mana dapat kau pergi bertemu dengan si cantik? Biar kusisirkan rambutmu.”

Entah sejak kapan Ling-ling sudah muncul, matanya tampak masih merah, agaknya pengaruh arak semalam belum lagi hilang seluruhnya, bisa juga semalam diam-diam ia telah menangis.

Sun-hoan tersenyum dan mengangguk, lalu duduk di kursi dekat jendela, sinar sang surya tepat menyorot pada wajahnya sehingga membuatnya silau, ia memejamkan kelopak mata.

Tiba-tiba seakan-akan terbayang kejadian belasan tahun yang silam.

Hari itu cuaca juga cerah seperti hari ini, bunga seruni mekar semarak di luar jendela, ia duduk di depan jendela vila itu dan seorang sedang menyisir rambutnya.

Sampai sekarang dia seperti masih merasakan kelembutan tangan itu dan kecermatannya.

Hari itu dia akan berangkat ke tempat jauh, sebab itulah si dia menyisir rambutnya dengan lambat-lambat, agaknya dengan kelambatan itu ingin ditahannya supaya Sun-hoan dapat tinggal lebih lama sedikit. Sampai akhirnya tanpa terasa air mata si dia menitik jatuh di atas rambutnya.

Justru pada waktu pulangnya dari perjalanan jauh itu, dia kepergok musuh tangguh dan jiwanya hampir melayang, untunglah Liong Siau-hun telah menolongnya. Hal ini tak pernah dilupakannya.

Tapi dia justru lupa bahwa meski Liong Siau-hun telah menyelamatkan dia satu kali, sebaliknya telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya.

Ada sementara orang mengapa selalu hanya ingat kepada kebaikan orang lain saja?

Dengan mata terpejam Sun-hoan bergumam, “Perjalananku waktu itu akhirnya masih bisa juga pulang ke rumah, sekarang aku pun akan pergi dan dapatkah kukembali lagi dengan hidup? Bilamana kepergianku dahulu tidak pernah pulang lagi, kan semuanya jadi lebih baik? ….”

Ia tidak ingin berpikir lagi, perlahan ia membuka matanya, tiba-tiba dirasakan tangan yang sedang menyisir dengar lambat dan halus.

Tanpa terasa ia menoleh, segera dilihatnya setitik air mata lagi menetes dari pipi Ling-ling dan jatuh di atas rambutnya.

Tangan yang sama halusnya, butiran air mata yang serupa pula.

Sun-hoan merasa seakan-akan berada kembali pada pagi belasan tahun yang lalu, tanpa sadar ia pegang tangan Ling-ling dan bertanya, “Engkau menangis?”

Muka Ling-ling menjadi merah, cepat ia melengos, jawabnya dengan menggigit bibir, “Kutahu janji pertemuanmu adalah hari ini, makanya engkau berdandan serapi ini, betul tidak?”

Sun-hoan tidak bicara, sebab disadarinya tangan ini bukanlah tangan belasan tahun yang lalu itu.

“Karena kepergianmu hendak bertemu dengan si cantik, dengan sendirinya hatiku pilu,” ucap Ling-ling pula dengan hampa.

Perlahan Sun-hoan melepaskan tangan orang, katanya dengan tersenyum, “Engkau masih kecil, bagaimana rasanya pilu, pada hakikatnya sekarang belum dapat kau pahami.”

“Sebelum ini mungkin aku tidak paham, tapi sekarang aku sudah paham. Kemarin mungkin aku tidak paham, tapi hari ini aku sudah paham.”

“Masakah dalam sehari saja engkau sudah dewasa?”

“Tentu saja. Ada orang dalam semalam pun rambutnya berubah menjadi putih semua serupa orang tua, masakah tidak pernah kau dengar cerita ini?”

“Itu disebabkan dia bersedih akan mati dan hidupnya sendiri, tapi apa sebabnya bagimu?”

“Bagiku hal ini disebabkan … apakah kepergianmu ini dapat kembali lagi?” sahut Ling-ling dengan menunduk sedih.

Sun-hoan termenung agak lama, katanya kemudian sambil menghela napas panjang, “Sudah kau ketahui siapa yang akan kutemui nanti?”

Ling-ling mengangguk dengan berat, ia merapikan rambut Sun-hoan dan diikat dengan kain hijau tadi, lalu menjawab, “Kutahu betapa pun engkau pasti akan pergi, siapa pun tidak dapat menahan dirimu.”

“Setelah besar nanti engkau akan tahu bahwa ada sementara urusan tidak boleh tidak harus dikerjakan dan pada hakikatnya tiada pilihan lain,” ucap Sun-hoan dengan lembut.

“Tapi bila aku adalah orang yang kau ukir semalam itu tentu engkau akan tinggal demi diriku, betul tidak?” tanya Ling-ling.

Kembali Sun-hoan terdiam, perlahan wajahnya menampilkan rasa derita, gumamnya, “Aku tidak tinggal demi dia …. Selamanya aku tidak pernah berbuat apa pun baginya, aku ….”

Mendadak ia berbangkit dan memandang jauh ke luar jendela, katanya, “Sudah tiba waktunya aku harus pergi ….”

Belum habis ucapannya, mendadak Kwe Ko-yang muncul sambil berseru, “Aku baru saja pulang dan segera kau mau pergi?”

Dia membawa botol arak, matanya merah, langkahnya sempoyongan, belum masuk ke dalam rumah sudah terendus bau arak yang menusuk hidung.

“Kiranya semalam suntuk Kwe-heng minum arak di kota, kenapa aku tidak diberi tahu.”

“Terkadang dua orang minum bersama lebih baik daripada minum bersama orang banyak,” kata Kwe Ko-yang. Mendadak ia memegang pundak Sun-hoan dan mendesis, “Tentunya kau tahu apa yang kulakukan pada waktu pikiranku lagi kesal.”

Sun-hoan tertawa, “O, kiranya ….”

Belum lanjut ucapan Sun-hoan, tahu-tahu beberapa Hiat-to pentingnya telah ditutuk Kwe Ko-yang secepat kilat. Kontan Sun-hoan roboh terkulai.

Keruan Ling-ling terperanjat, cepat ia memburu maju untuk membangunkan Sun-hoan sambil berteriak, “He, apa yang kau lakukan ini?”

Dalam sekejap itu pengaruh arak Kwe Ko-yang sudah lenyap seluruhnya, mukanya segera berubah lagi menjadi kaku dan dingin, ucapnya dengan kereng, “Setelah siuman nanti boleh kau katakan padanya bahwa kesempatan bertanding dengan Siangkoan Kim-hong tidak selalu ada, maka tidak boleh kusia-siakan kesempatan baik ini.”

“Jadi … jadi hendak kau wakilkan dia ke sana?” tanya Ling-ling.

“Kutahu dia pasti takkan membawaku ke sana, aku juga tidak suka mengiringi dia ke sana, hal ini pun serupa orang minum arak, terkadang harus minum berduaan saja, bila hadir lebih banyak satu orang akan terasa kurang enak.”

Ling-ling tercengang sejenak, mendadak air matanya menitik, ucapnya dengan terharu, “Perkataannya ternyata tidak salah, kiranya engkau juga orang baik.”

Dengan dingin Kwe Ko-yang, berkata pula, “Apakah aku akan mati atau hidup, aku tidak suka melihat orang menangis bagiku, bila melihat air mata orang perempuan rasaku lantas muak. Maka boleh kau simpan air matamu bagi orang lain saja.”

Mendadak ia membalik tubuh dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Meski tidak dapat bergerak dan tak dapat bicara, namun Sun-hoan masih sadar, melihat kepergian Kwe Ko-yang itu, air matanya hampir bercucuran.

Entah selang berapa lama barulah Ling-ling mengusap air mata dan bergumam, “Bilamana selama hidup seorang bisa mengikat seorang sahabat sejati yang setia untuk sehidup dan semati, maka jauh lebih berharga daripada apa pun yang bisa diperolehnya.”

Ia coba memeriksa Li Sun-hoan, tapi tak berdaya, katanya kemudian dengan terharu, “Tentunya kau pun pernah banyak berbuat baik baginya, sebab itulah dia … dia mau berbuat demikian bagimu.”

Sun-hoan memejamkan mata, sukar terperikan perasaannya. Tiba-tiba diketahuinya hubungan perasaan antara manusia dan manusia terkadang sangat sulit dimengerti.

Dia memang pernah banyak berbuat bagi banyak orang, orang-orang itu ada yang telah mengingkari dia, ada yang melupakan dia, bahkan ada yang mengkhianati dan menjual dia.

Rasanya dia tidak pernah berbuat sesuatu bagi Kwe Ko-yang, tapi orang ini ternyata tidak sayang untuk mati baginya.

Inilah “persahabatan” sejati.

Persahabatan semacam ini tidak dapat dibeli, juga tidak dapat ditukar dengan apa pun. Mungkin karena di dunia ini masih terdapat persahabatan semacam ini, maka kejayaan umat manusia tetap abadi.

Di dalam rumah mendadak mulai gelap.

Ling-ling telah menutup pintu dan merapatkan jendela, lalu duduk termenung di samping Li Sun-hoan, memandangnya dengan lembut tanpa bicara.

Suasana sunyi senyap, jarum jatuh pun terdengar.

, ,

Leave a comment