Archive for category Fikih

‘Urf (Tradisi)

Ini merupakan satu sumber hukum yang diambil oleh mazhab Hanafi dan Maliki, yang berada di luar lingkup nash. ‘Urf adalah bentuk-bentuk muamalah yang telah menjadi adat kebiasaan dan telah berlangsung konsisten di tengah masyarakat. Dan ini tergolong salah satu sumber hukum dari ushul fiqh yang diambil dari intisari sabda Nabi Muhammad Saw:

“Apa yang dipandang baik kaum muslimin, maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang baik.”

Hadis ini, baik dari segi ibarat maupun tujuannya menunjukkan bahwa setiap perkara yang telah mentradisi di kalangan kaum muslim dan dipandang sebagai perkara yang baik, maka perkara tersebut juga dipandang baik dihadapan Allah. Menentang tradisi yang dipandang baik oleh masyarakat akan menimbulkan kesulitan dan kesempitan.

Oleh karena itu, ulama mazhab Hanafi dan Maliki mengatakan bahwa hukum yang ditetapkan berdasarkan ‘urf yang shahih sama dengan yang ditetapkan berdasarkan dalil syar’i. ‘Urf dapat dijadikan dalil dalam istinbath hukum apabila tidak ditemukan nash dalam al-Qur’an dan Sunnah.

Masalah-masalah fiqihiyyah adakalanya ditetapkan berdasarkan nash yang jelas dan adakalanya ditetapkan melalui cara ijtihad. Pada umumnya seorang mujtahid menetapkan hukum berdasarkan ‘urf yang berkembang pada zamannya dan seandainya ia berada di zaman lain dengan ‘urf yang baru, niscaya ia akan mengeluarkan pendapat bahwa seorang mujtahid harus mengenali adat-adat yang berlaku di tengah masyarakat. dapat dimengerti kalau terdapat banyak ketetapan hukum yang berbeda-beda lantaran perbedaan zaman. Dengan kata lain, seandainya suatu diktum hukum tetap dipertahankan seperti sediakala, niscaya akan menimbulkan masyaqqat dan kemudharatan terhadap manusia. Juga bertentangan dengan kaidah-kaidah syari’ah yang didasarkan pada takhfif (meringankan) dan taysir (memudahkan) serta dafu adh-dharar wa al-fasad (menghindarkan/menolak kemudharatan dan kerusakan) demi terciptanya tatanan masyarakat yang baik dan kokoh.

Disarikan dari buku “Ushul Fiqih” karya M. Abu Zahrah hal 442-446, penerbit Pustaka Firdaus

Leave a comment

Pembagian Haram

  1. Haram li-dzatih

Yaitu perbuatan yang diharamkan oleh Allah, karena bahaya tersebut terdapat dalam perbuatan itu sendiri. Seperti makan bangkai, minum khamr, berzina, mencuri yang bahayanya berhubungan langsung dengan lima hal yang harus dijaga (ad-Dharuriyat al-Khams), yakni badan, keturunan, harta benda, akal dan agama. Perbuatan yang diharamkan li-dzatih adalah bersentuhan langsung dengan salah satu dari lima hal ini. Sedangkan yang dimaksud dharury ialah sesuatu tidak akan terwujud kecuali dengannya. Misalnya sesuatu yang dapat menghilangkan akal secara dharury langsung bersentuhan dengan akal. Sesuatu yang merusakkan agama secara dharury berhubungan langsung dengan agama dan seterusnya.

  1. Haram li-ghairihi aridhi

Yaitu perbuatan yang dilarang oleh syara’, di mana adanya larangan tersebut bukan terletak pada perbuatan itu sendiri, tetapi perbuatan tersebut dapat menimbulkan haram li-dzatih. Seperti melihat aurat perempuan, dapat menimbulkan perbuatan zina, sedang zina diharamkan karena dzatiyah-nya sendiri. Jual beli barang-barang secara riba diharamkan, karena dapat menimbulkan riba yang diharamkan dzatiyah-nya. Hutang dengan memberikan bunga diharamkan, karena dapat menimbulkan riba yang dimakan oleh orang yang menghutangi, sedang makan barang riba diharamkan dzatiyah-nya Poligami dengan perempuan yang masih ada hubungan mahram dengan isteri adalah haram, karena dapat menimbulkan putusnya hubungan persaudaraan yang dilarang oleh Allah Swt, sedang memutuskan tali persaudaraan diharamkan dzatiyah-nya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw,

Seorang perempuan tidak boleh dinikah bersama bibinya dari bapak atau dari ibu, dan keponakan dari saudara laki-laki atau saudara perempuan. Jika kalian melakukan hal itu, maka kalian memutuskan tali persaudaraan“.

Demikian juga perbuatan-perbuatan lain yang diharamkan karena menimbulkan keharaman pada dzatiyah perbuatan tersebut. Terkadang perbuatan yang diharamkan karena ada sesuatu sebab baru, juga disebut haram li-ghairih. Seperti menjalankan shalat di tempat ghasab (kepunyaan orang lain tanpa izin), jual beli ketika adzan Jum’at. Sebenarnya jual belinya itu sendiri tidak diharamkan, tetapi karena bersamaan dengan waktu yang menyebabkan haram, maka jual beli tersebut diharamkan. Hal itu didasarkan pada firman Allah dalam surat al-Jumu’ah:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat kepada Allah dan tinggalkanlah jual beli”. (QS. al-Jumu’ah : 9)

Contoh lain adalah membeli barang yang telah ditawar orang lain. Sebenarnya jual belinya itu sendiri halal, akan tetapi karena ada sebab baru yang menyebabkan haram, yaitu telah ditawar orang lain, maka jual beli tersebut diharamkan. Demikian juga pernikahan seorang laki-laki dengan wanita yang telah dipinang orang lain, sedang peminang pertama belum meninggalkan atau membatalkan pinangannya, maka akad nikah tersebut disunnahkan, akan tetapi karena ada sebab lain yang menimbulkan hukum haram, maka pernikahan tersebut diharamkan.

Sumber:

Ushul Fiqih” karya Prof. Muhammad Abu Zahrah hal 56-57

Leave a comment

Contoh Perbedaan Hukum di antara Para Mujtahid

Mengenai hukum-hukum yang bersifat implisit (zhanni, memungkinkan banyak makna), dan hukum-hukum yang tidak ditunjukkan oleh nash-nash (baik yang bersifat qath’i maupun zhanni), melainkan digali dengan sarana qiyas atau perangkat penggalian hukum lainnya, maka disinilah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para mujtahid, baik di antara para sahabat, di antara para tabi’in dan yang mengikuti mereka (tabi’ tabi’in), maupun para imam mujtahid setelah generasi mereka. Nah, perbedaan pendapat yang terjadi pada masing-masing jenis ini mempunyai banyak faktor penyebabnya.

Kami akan menjelaskan faktor terkuat (yang paling tampak) dari penyebab tersebut.

Adapun faktor terkuat dari penyebab terjadinya perbedaan pendapat dalam hukum-hukum yang ditunjukkan nash-nash yang bersifat zhanni ad-dilalah, adalah dua hal, yaitu : Nash yang bersifat zhanni ad-dilalah adalah nash yang memungkinkan dua makna atau lebih. Oleh karena kemungkinan ini, akal-akal mujtahid tidak mungkin selaras pada pemahaman satu makna saja. Adapun penyebab adanya kemungkinan dua makna atau lebih ini adalah karena lafazh tersebut memang mempunyai banyak makna dalam bahasa Arab, atau bisa dipahami secara ambigus (mempunyai dua pemahaman atau lebih). Berikut ini adalah contoh-contoh dua kemungkinan tersebut :

Allah SWT berfirman,

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.”(Al-Baqarah : 228)

Menurut Imam Abu Hanifah dan para muridnya, iddah (masa menunggu) bagi wanita yang ditalak adalah tiga kali haid yang diselingi dua kali suci. Sedangkan menurut Imam Asy’Syafi’i dan para muridnya, iddah wanita yang ditalak adalah tiga kali suci yang diselingi dua kali haid. Penyebab perbedaan pendapat ini adalah lafazh al-qur’u dalam bahasa Arab mempunyai dua makna, yaitu masa suci dan masa haid. Karenanya, masing-masing mujtahid tersebut berpendapat dengan didasarkan pada indikator-indikator yang kuat menurut mereka masing-masing yang bisa membantu memahami pendapat yang mereka pegangi itu.

Allah SWT berfirman dalam ayat tentang berwudhu,

“Dan usaplah kepala kalian.” (Al-Maa’idah : 6)

Menurut Imam Malik yang wajib diusap adalah seluruh rambut kepala. Menurut Imam Asy-Syafi’i yang wajib diusap hanya sebagiannya saja. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah yang wajib diusap hanya seperempatnya saja. Adapun penyebab perbedaan pendapat tersebut adalah huruf ‘ba‘yang terdapat pada ayat tersebut ‘bi ru’usikum’ dalam bahasa Arab mempunyai dua arti : al-ilshaq (menempelkan) dan ath-tab’idh (bagian). Menurut mereka yang memahami bahwa huruf ba tersebut bermakna al-ilshaq (menempelkan), mereka mewajibkan mengusap seluruh kepala. Sedangkan mereka yang memahami bahwa huruf ba tersebut bermakna at-tab’idh (bagian), mereka mewajibkan mengusap sebagian kepala. Adapun Hanafiyah mengkhususkan sebagian tersebut dengan seperempat karena ada Sunnah yang bersifat aplikatif (sunnah fi’liyah) yang menunjukkan hal itu.

Allah SWT berfirman,

“Dan janganlah kamu memakan sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah ketika disembelih, karena itu merupakan kefasikan.”(Al-An’am : 121)

Menurut Imam Abu Hanifah dan para muridnya hewan sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah secara sengaja ketika disernbelih, tidak halal dimakan. Sedangkan menurut Imam Asy-Syafi’i dan para muridnya hewan tersebut halal dimakan selagi tidak disebutkan nama selain Allah ketika disembelih. Adapun faktor penyebab perbedaan pendapat ini adalah huruf wau pada ayat ‘wa innahu lafisq‘ bisa bermakna hal (sementara itu, atau keadaan), dan bisa bermakna athaf (menyambung). Menurut Imam Abu Hanifah, huruf wau tersebut bermakna menyambung kalimat pada kalimat yang lain. Maksud ayat tersebut menurut beliau adalah memakannya merupakan perbuatan fasik, yaitu keluar dari koridor yang ditetapkan syariat. Sedangkan menurut Imam Asy-Syafi’i, huruf wau tersebut bermakna hal, dan kalimat ‘wa innahu lafisq‘ merupakan pembatasan dalam larangan itu. Maksud ayat tersebut menurut beliau adalah janganlah kamu memakan sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah, sementara ia adalah kefasikan, karena disembelih dengan menyebutkan nama selain Allah. Sebagaimana beliau menafsirkan “au fisqan uhilla lighairillah bih” dengan ‘atau kefasikan, yaitu disembelih dengan menyebutkan nama selain Allah.’

Sumber:

“Al-Ijtihad fi asy-Syariah al-Islamiyyah” karya Syaikh Abdul Wahhab Khallaf hal 45-47

,

Leave a comment

Pendapat Ulama tentang Qunut

Imam Syafi’i menyunnahkan qunut dalam shalat subuh dengan mengambil landasan hadis dari Anas bin Malik r, a. Anas r. a. pernah ditanya,”Apakah Nabi saw. berqunut dalam shalat subuh?”Ia (Anas r. a.) menjawab,”Ya. “Ditanya pula,”Sebelum rukuk atau sesudahnya?”Ia menjawab,”Sesudah rukuk” (HR Jamaah, kecuali Tirmidzi, dari ibnu Sirin). Juga Imam Syafi’i berdalil dengan hadis lainnya, dari Anas bin Malik r, a. :”Rasulullah Saw. itu selalu berqunut dalam shalat subuh, hingga meninggalkan dunia”(HR Ahmad, Bazzar, Daruquthni, dan disahihkan oleh Al-Baihaqi dan Al-Hakim). Imam Nawawi dalam kitabnya Adzkaru Al-Nawawiyyah mengomentari, bahwa hadis tersebut sahih.

Hadis dari Al-Barra’bin Azib r. a.:”Bahwa Nabi Saw. dahulu melakukan qunut pada shalat magrib dan subuh”(HR Ahmad, Muslim dan Al-Tirmidzi). Al-Tirmidzi menyahihkan hadis ini. Hadis ini diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dengan tanpa penyebutan shalat magrib. Imam Nawawi dalam Al-Majmu ll/505 mengatakan, Tidaklah mengapa meninggalkan qunut pada shalat magrib karena qunut bukanlah suatu yang wajib atau karena ijma’ulama telah menunjukkan bahwa qunut pada shalat magrib itu sudah mansukh yakni terhapus hukumnya,”

Seorang ulama golongan tabi’in, Imam Hasan Basri, berkata, Aku pernah shalat di belakang dua puluh delapan orang dari pahlawan Badar (Ahlul Badar), mereka semua melakukan qunut subuh sesudah rukuk (Irsyadu Al-Sari Syarh Al-Bukhari juz 3).

Al-Hafizh Al-Iraqi, guru ibnu Hajar, sebagaimana dikutip oleh Al-Qasthalani dalam Irsyadu Al-Sari Syarh Shahih Bukhari menjelaskan, bahwa qunut subuh itu diriwayatkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan ibnu Abbas r. a. Kemudian, beliau (Al-Hafizh) berkomentar,”Telah sah dari mereka (para sahabat) dalil tentang qunut tatkala terjadi pertentangan antara pendapat yang menetapkan dan meniadakan maka didahulukan pendapat yang menetapkan.”

Hadis dari Anas r. a. :”Bahwa Nabi saw. pernah qunut selama satu bulan sambit mendoakan kecelakaan atas mereka kemudian Nabi meninggalkannya. Adapun pada shalat subuh, Nabi senantiasa melakukan qunut hingga beliau meninggal dunia.” Di antara ulama yang mengakui kesahihan hadis ini adalah Hafizh Abu Abdillah Muhammad Ali Al-Bakhi dan Al-Hakim Abu Abdillah pada beberapa tempat di dalam kitabnya serta Imam Baihaqi. Hadis ini juga diriwayatkan pula oleh Daraquthni dari beberapa jalan dengan sanad-sanad yang sahih.

Hadis dari Awam bin Hamzah di mana beliau berkata,”Aku bertanya kepada Utsman tentang qunut pada shalat subuh. Beliau berkata.’Qunut itu sesudah rukuk.’Aku bertanya,’Fatwa siapa?’Beliau menjawab :’Fatwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiallahu’anhum'”(HR Baihaqi dan berkata hadis ini hasan). Baihaqi meriwayatkan hadis ini dari Umar dengan beberapa jalan.

Sumber:
Buku “Membongkar Kejumudan” karya A. Shihabuddin cet. I: Mei 2013 penerbit Noura Books hal. 121-122.

Leave a comment

Sebab-Sebab Terjadinya Ikhtilaf

Dalam menjelaskan tentang sebab-sebab terjadinya ikhtilaf di kalangan ulama, Ibnu Taimiyah menulis sebuah karya yang sangat populer, yang diberi judul Raf’u al-Malam ‘an al-A’immah al-Alam. Dengan mencermati judul yang ditawarkan Ibnu Taimiyah pada karya ini, terlihat dengan jelas adanya unsur upaya pembelaannya terhadap para ulama yang berijtihad dan mungkin saja ijtihad mereka – setidaknya menurut Ibnu Taimiyah – salah atau tidak tepat. Nuansa pembelaan itu semakin tampak ketika pada bagian awal ini ia menegaskan kewajiban setiap muslim untuk menjaga kehormatan dan memberikan loyalitas (al-wala’) kepada para ulama pewaris Nabi setelah memberikannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam karyanya ini, Ibnu Taimiyah memaparkan alasan-alasan mengapa seorang ulama berbeda dengan ulama lainnya. Meskipun alasan-alasan yang diuraikannya nampak sangat personal, namun karena alasan-alasan ini pada praktiknya tidak hanya dialami seorang faqih, maka tidak salah jika alasan-alasan tersebut dapat dikategorikan sebagai sebab-sebab terjadinya ikhtilaf di kalangan para ulama.

Sebab-sebab itu antara lain adalah:

1. Jika sebuah hadis tidak sampai kepada sang alim dan sebagaimana dipahami dalam Islam bahwa seseorang tidak memiliki kewajiban untuk mengamalkan sesuatu sampai ia menemukan dalilnya. Poin ini adalah sebab yang paling mendominasi terjadinya perselisihan. Sebab penguasaan yang menyeluruh terhadap semua hadis Rasulullah tidak mungkin dimiliki oleh siapa pun dari umat ini. Sebagai contoh adalah kisah tentang bagaimana seorang Abu Bakar bisa tidak mengetahui bagian waris seorang nenek, padahal betapa dekatnya ia dengan Rasulullah. Hingga akhirnya merasa perlu untuk bertanya kepada sahabat lain yaitu al-Mughirah bin Syu’bah dan Muhammad bin Maslamah, yaitu seperenam.

2. Jika hadis itu sampai kepada sang ulama, namun hadis itu tidak shahih dalam pandangannya. Umumnya ini disebabkan karena alur periwayatan yang mengantarkan hadis itu sampai kepadanya tidak memenuhi syarat, sementara pada ulama lain hadis itu tiba dengan jalur yang sahih. Kondisi ini menurutnya banyak terjadi pada generasi tabi’in dan para imam sesudahnya.Inilah yang kemudian menyebabkan banyak ulama yang “menggantung” pandangan kefikihannya dengan ungkapan:

“Pendapatku dalam masalah ini adalah demikian, (sebenarnya) ada hadis yang diriwayatkan (menunjukkan) demikian (maksudnya: berbeda dengan pendapatnya). Jika hadis ini memang sahih, maka itu pendapatku.”

3. Jika mujtahid telah mengetahui dalil suatu masalah, namun ia melupakannya. Salah satu contohnya yang paling populer adalah kisah Khalifah Umar bin Khatab ketika ia berkhutbah dan mengatakan: “Tidak seorang pun pria yang melebihkan maharnya lebih dari mahar istri-istri Nabi dan putri-putri beliau melainkan akan aku kembalikan!” Namun tiba-tiba seorang wanita memprotesnya dan mengatakan: “Wahai Amir al-Mukminin! Mengapa Anda mengharamkan sesuatu yang telah dikaruniakan Allah pada kami?” Lalu wanita itu membaca Firman Allah:

“Dan kalian memberikan kepada salah seorang dari mereka (istri) harta yang berlimpah, maka janganlah kalian mengambilnya sedikit pun.” (an-Nisaa’: 20)

Protes itu membuat Umar menarik pandangannya. Padahal sebelumnya ia menghafal ayat itu, namun ternyata ia melupakannya hingga wanita itu mengingatkannya.

4. Jika seorang mujtahid tidak mengetahui makna yang ditunjukkan oleh suatu dalil (dalalah an-nash). Mungkin saja karena lafazh hadis tersebut asing baginya, seperti istilah al-muzabanah, al-mukhabarah, dan al-munabadzah.

5. Jika seorang mujtahid sudah mengetahui makna yang ditunjukkan oleh nash, namun menurutnya dalalah an-nash itu tidak dapat diberlakukan karena alasan-alasan yang terkait dengan pandangannya dalam ranah ushul al-fiqh. Mungkin saja sang mujtahid berpandangan bahwa mafhum tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, lafazh umum yang dilatarbelakangi oleh sabab an-nuzul atau sabab al-wurud tertentu, maka pemberlakuannya hanya terbatas pada sebab tersebut.

Dari uraian sebab-sebab ikhtilaf ini dapat disimpulkan bahwa pandangan Ibnu Taimiyah terkait dengan masalah ini menunjukkan adanya upaya serius darinya untuk memahami mengapa seorang ulama dapat berbeda dengan ulama lain, bahkan mengapa ia dapat menyelisihi sebuah nash atau dalil. Meskipun pada bagian akhir uraiannya tentang ini, ia menegaskan bahwa “keberhakan” seorang untuk mendapatkan satu pahala meskipun ia salah adalah disebabkan upaya kerasnya berijtihad. Tanpa adanya unsur ijtihad, seseorang tidak berhak mendapatkan janji itu. Hal ini menurutnya dapat menjelaskan mengapa dalam kasus “shalat ashar di Bani Quraizhah” dapat dipahami oleh Nabi, sementara dalam kasus orang-orang yang mengfatwakan kepada seorang pria yang kepalanya terluka parah untuk tetap mandi junub – dan bukan bertayammum – beliau justru marah kepada mereka. Beliau mengatakan:

“Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan mereka! Mengapa mereka tidak bertanya jika mereka tidak mengetahui? Sebab obat ketidaktahuan itu adalah bertanya.”

Menurutnya dalam kasus pertama terjadi proses ijtihad, sementara dalam kasus kedua kesalahan itu terjadi tanpa terjadinya proses ijtihad sebab para pelakunya tidak termasuk yang memiliki kredibilitas untuk itu.

Sumber:

Buku “Belajar Toleransi dari Ibnu Taimiyah”, karya Muhammad Ikhsan, penerbit Pustaka Al-Kautsar, hal 138-142

Leave a comment

Bid’ah

Bid’ah

Secara kebahasaan, bid’ah berarti “segala yang diada-adakan, yang belum pemah ada contohnya”. Para ulama mendefinisikannya secara berbeda-beda, pada intinya semua mengacu pada pengertian sama, yaitu hal baru yang tidak ada dalam ajaran Islam yang dibawa Rasulullah SAW, baik akidah maupun syariat, yang aturannya dijelaskan dalam Al-Qur’an dan sunah.

Dilihat dari usul fikih, bid’ah dapat dibedakan atas dua jenis. Pertama, bid’ah meliputi segala sesuatu yang
diada-adakan dalam soal ibadah saja. Bid’ah dalam pengertian ini adalah urusan yang sengaja diada-adakan dalam agama, yang dipandang menyamai syariat sendiri, dan mengerjakannya secara berlebihan dalam soal ibadah kepada Allah SWT. Kedua, bid’ah meliputi segala urusan yang sengaja diada-adakan dalam agama, baik yang berkaitan dengan urusan ibadah maupun dengan urusan adat. Perbuatan bid’ah seakan-akan berkaitan dengan urusan agama, yang dipandang menyamai syariat sendiri, sehingga mengerjakannya sama dengan mengerjakan agama itu sendiri.

Dari segi fikih, bid’ah juga dapat dibedakan atas dua jenis. Pertama, bid’ah adalah perbuatan tercela yang diada-adakan serta bertentangan dengan Al-Qur’an, sunah Rasulullah  SAW, atau ijmak. Inilah bid’ah yang sama sekali tidak diijinkan agama, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik secara tegas maupun isyarat saja. Urusan keduniaan tidak termasuk ke dalam pengertian ini. Kedua bid’ah meliputi segala yang diada-adakan sesudah Nabi SAW, baik berupa kebaikan maupun kejahatan, baik mengenai ibadah maupun adat, yaitu yang berkaitan dengan urusan keduniaan.

Dilihat secara umum, sebenarnya bid’ah ini ada dua macam, yaitu bid’ah hasanah (yang baik), dan bid’ah
qabihah atau sayyi’ah (yang jelek). Bid’ah hasanah dibagi lagi menjadi bid’ah wajibah (yang wajib), bid’ah mandubah (yang sunah atau yang disukai Allah SWT), dan bid’ah mubahah (yang dibolehkan). Adapun bid’ah qabihah dibagi menjadi bid’ah makruhah (yang makruh atau yang tidak disenangi Allah SWT) dan bid’ah muharramah (yang diharamkan).

Bid’ah wajibah adalah pekerjaan yang masuk ke dalam kaidah wajib, dan masuk ke dalam kehendak dalil agama, misalnya mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an dalam satu mushaf (lembaran naskah Al-Qur’an yang bertulis tangan), membukukan ilmu, mempelajarinya dengan jalan memahami Al-Qur’an, dan menetapkan kaidah yang digunakan sebagai alat untuk menggali hukum dari dalilnya. Hal ini dianggap bid’ah karena tidak ada dalam praktek pada masa Rasulullah SAW.

Bid’ah mandubah adalah pekerjaan yang diwujudkan oleh kaidah nadb (sunat) dan dalilnya, misalnya mengerjakan tarawih berjemaah tiap malam bulan puasa dengan dipimpin oleh seorang imam tertentu. Perbuatan ini tidak pemah terjadi pada masa Rasulullah SAW, Abu Bakar RA, dan permulaan masa Umar RA. Setelah melihat jemaah masjid salat sendiri-sendiri, atau berkelompok, Umar RA menyuruh seseorang untuk mengimami salat tarawih tersebut.

Bid’ah mubahah adalah pekerjaan yang diterima dalil, misalnya menggunakan pengeras suara untuk azan.

Bid’ah makruhah adalah pekerjaan yang masuk ke dalam kaidah dan dalil makruh, misalnya menentukan hari utama dengan suatu macam ibadah, menambah-nambah amalan sunat yang telah ada batasnya.

Bid’ah muharramah adalah pekerjaan yang masuk ke dalam kaidah dan dalil haram, misalnya perbuatan yang bertentangan dengan hukum agama, seperti mengangkat orang yang tidak ahli untuk mengendalikan urusan penting atas dasar keturunan dengan mengabaikan keahlian.

Berkaitan dengan bid’ah ini, Rasulullah SAW pernah memperingatkan: “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan (urusan agama) tanpa ada dasar dariku (Nabi), maka amalannya itu sia-sia (ditolak)” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadis lain yang diriwayatkan Muslim ditegaskan bahwa setiap bid’ah itu dianggap sesat, dan nerakalah yang pantas bagi setiap pelaku kesesatan itu.
Menurut Imam Nawawi, yang dimaksud dengan kata-kata “setiap bid`ah itu sesat” adalah pekerjaan yang tergolong ke dalam bid’ah sayyi’ah, yaitu bid’ah muharramah dan bid’ah makruhah. Perbuatan yang dilakukan sesuai dengan tuntutan agama Islam disebut al-‘amal as-sunni. Adapun perbuatan yang pelaksanaannya tidak menurut tuntutan agama disebut aI-‘amal al-bid’i.

Sumber:
Buku “Ensiklopedi Islam”

Leave a comment

3 Prinsip dalam Menilai Peninggalan Ulama Salaf

Pertama:
Menafikan kemaksumam (ishmah) dari setiap individu yang ada dalam umat, kecuali Rasulullah SAW meskipun ia telah mencapai taraf yang tinggi dalam pengetahuan dan kesalehan, semisal para sahabat, tabi’in ataupun ahlul bait. Dan ishmah yang dimiliki Rasulullah itupun hanya berkaitan dengan apa yang disampaikannya dari Tuhan, berupa wahyu yang dibaca yaitu sunnah beliau yang menjelaskan al-Qur’an serta ishmahnya dari perbuatan maksiat terutama yang tergolong dosa besar.

Kedua:
Menimbang apa yang berasal dari salaf, baik itu perkataan, pendapat ataupun tindakan-tindakan mereka dengan timbangan yang tidak mungkin salah yaitu al-Qur’an dan sunnah. Apa yang sesuai dengan keduanya kita ikuti. Dengan bahasa lain, hal ini bisa disebut sebagai syar’iyyah naqd at-turats (legalisasi kritik turats).

Ketiga:
Kita tidak boleh berlebihan dalam memberikan kritikan terhadap pendapat para salaf dalam hal-hal yang masih boleh diperdebatkan, hingga menjatuhkan kedudukan mereka. Akan tetapi kita cukup untuk menyerahkan permasalahan tersebut kepada niat mereka. Bagaimanapun juga mereka telah mengeluarkan jerih payahnya dalam usaha berijtihad.

Sumber:
Buku “Bagaimana Berinteraksi dengan Peninggalan Ulama Salaf” karya Dr. Yusuf al-Qaradhawi, hal. 11-12, penerbit Pustaka al-Kautsar, 2003.

Leave a comment