Archive for category Hadis

Hadis Ahad sebagai Hujjah

Kami nukilkan beberapa paragraf yang ada di dalam ar-Risalah, karya al-Imam as-Syafi’i yang bermarga Quraisy dengan judul,”Hujjah dalam Menetapkan Hadits Ahad.”Al-Imam asy-Syafi’i berkata :”Seseorang berkata kepadaku :”Sebutkan hujjah dalam menetapkan hadits ahad dengan teks hadits atau dilalahnya yang di dalamnya terdapat ijma’. Maka aku berkata kepadanya :”Sufyan telah mengabarkan kepada kami dari Abdul Malik bin Umar dari Abdurrahman bin Abdullah lbnu Mas’ud dari bapaknya bahwa Nabi Saw. telah bersabda :”Allah akan memberi cahaya kepada seorang hamba yang mendengar ucapanku kemudian menghafalkan, memahami, dan melaksanakan ucapannya. Berapa banyak orang yang memiliki pemahaman tapi tidak memahaminya dengan baik, dan berapa banyak (pula) orang yang memiliki pemahaman, yang menyampaikan (pemahamannya) kepada orang yang lebih paham. Ada tiga hal, di mana hati seorang Muslim tidak akan hasud kepadanya : ikhlas beramal karena Allah, memberi nasihat kepada orang-orang Islam, dan mengikuti jama’ah mereka, karena do’a-do’a mereka menyertai di belakang mereka.”

Ketika Rasulullah menganjurkan untuk menyimak, menghafal, dan menunaikan ucapannya, maka ia telah memerintahkan untuk melaksanakannya. Dan orang itu sama saja, di mana ia tidak akan memerintahkan sesuatu kecuali apabila ada hujjah atas orang yang melaksanakannya, karena apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang halal yang harus dilaksanakan; sesuatu yang haram yang harus dijauhi; hukum had yang harus ditegakkan;  harta yang harus diambil atau diberikan ; atau nasihat tentang agama dan dunia. Ini juga menunjukan bahwa terkadang orang yang memiliki pemahaman tidak memahaminya dengan baik, ia hafal tentangnya, tetapi tidak memahaminya dengan baik. Oleh karena itu, Rasulullah memerintahkan agar tetap mengikuti jamaah orang-orang Islam terkait dengan hal-hal yang dijadikan hujjah, karena ijma’ orang-orang Islam insyallah adalah sesuatu yang semestinya.

Imam asy-Syafi’i berkata :”Malik telah mengabarkan kepada kami dari AbdulIah bin Dinar, dari Ibnu Umar :”Ketika orang-orang sedang berada di Masjid Quba, tiba-tiba ada seseorang datang, ia berkata : ‘Sesungguhnya Rasulullah adalah orang yang diturunkan kepadanya al-Qur’an dan diperintahkan untuk menghadap Ka’bah ; maka, merekapun menghadapnya. Akan tetapi, wajah-wajah mereka menghadap ke arah Syam, dengan demikian mereka membelakanginya. Penduduk Quba lebih dahulu (masuk Islam) dari orang-orang Anshar, mereka juga memiliki pemahaman. Mereka dahulu diperintahkan menghadap Kiblat yang diwajibkan oleh Allah kepada mereka, di mana mereka tidak menyerukan kewajiban dalam menghadap Kiblat kecuali dengan hujjah yang tegak bagi mereka. Sementara itu, mereka tidak menerima atau mendengar apa yang diturunkan Allah dalam pergantian Kiblat, maka mereka menghadap kiblat dengan kitabullah dan sunnah Nabi-Nya, berdasarkan apa yang mereka dengar langsung dari Rasulullah, tidak berdasarkan hadis yang umum. Kemudian mereka berpindah (haluan) dengan hadits ahad, karena menurut mereka hadits tersebut berasal dari orang yang jujur tentang satu kewajiban yang dahulu ditetapkan kepada mereka, kemudian mereka meninggalkannya berdasarkan riwayat dari Nabi Saw. bahwa beliau telah mengubah arah kiblat mereka. Mereka tidak mungkin melakukannya, insyallah, kecuali karena berdasarkan pengetahuan mereka bahwa hujjah dapat terjadi dengan hal tersebut, apabila berasal dari orang yang jujur. Demikian pula, mereka tidak akan meriwayatkan hal yang penting ini dalam agama mereka kecuali berdasarkan pengetahuan mereka bahwa mereka mengetahui peristiwa-peristiwanya, mereka tidak perlu untuk memberitahu Rasulullah dengan apa yang mereka perbuat darinya. Dan kalau sekiranya hadits ahad yang mereka terima dari RasululLah tersebut, tentang perubahan arah Kiblat – yang merupakan kewajiban – termasuk hal-hal yang tidak diperbolehkan bagi mereka, maka pasti beliau mengatakan kepada mereka :”Kalian telah menghadap kiblat (Ka’bah), kalian tidak boleh berpaling darinya kecuali setelah terdapat hujjah yang kuat yang kalian dengarkan dariku, atau dari hadits yang umum atau dari hadits ahad dariku yang jumlahnya lebih dari satu.'”

Imam asy-Syafi’i berkata :”Malik telah mengabarkan kepada kami dari Ishaq bin Abdullah bin Abi Thalhah dari Anas lbnu Malik, la berkata :”Dahulu aku pernah memberi Abu Thalhah, Abu Ubaidah bi al-Jarrah, dan Ubay bin Ka’ab sebuah minuman yang terbuat dari fadhih dan kurma, kemudian seseorang datang dan berkata :”Sesungguhnya khamr telah diharamkan.”Maka Abu Thalhah berkata :”Wahai Anas bergegaslah menuju kendi itu dan hancurkan. Kemudian aku bergegas menuju mihras kami, lalu aku memukulnya sampai ke bagian bawah sehingga rusak.”Mereka adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan kedudukan di sisi Nabi Saw., mereka juga telah lama bersahabat dengannya, sesuatu yang tidak diingkari lagi oleh siapapun. Minuman yang mereka minum tersebut menurut mereka halal, tapi ketika ada seseorang yang datang dan memberitahukan haramnya khamar, Abu Thalhah-sebagai pemilik kendi-langsung memerintahkan untuk menghancurkan kendi tersebut. Ia atau mereka atau salah satu di antara mereka tidak mengatakan,”Kami akan tetap menganggapnya halal sampai bertemu Rasulullah, karena beliau dekat dengan kami, atau sampai datang kepada kami hadits yang umum.”Hal yang demikian itu, dikarenakan mereka tidak berlebih-lebihan dalam menghalalkan sesuatu, karena mereka bukan orang yang seperti itu. Sebaliknya, mereka tidak meninggalkan hadits-hadits Rasulullah terhadap apa yang mereka lakukan, demikian pula ia tidak membiarkan-sekiranya mereka tidak menerima hadits yang diriwayatkan oleh satu orang yang tidak mereka ketahui-untuk melarang mereka dalam menerima hal yang seperti itu.

Imam asy-Syafi’i berkata :”Rasulullah memerintahkan kepada Anis untuk memberi makan malam kepada istri seseorang yang disinyalir melakukan zina,”Kalau sekiranya ia mengaku, maka rajamlah ia.”Kemudian ia mengakuinya, maka ia pun merajamnya.

Imam asy-Syafi’i berkata :”Rasulullah Saw. mengutus Abu Bakar sebagai amir haji pada tahun kesembilan yang dihadiri oleh para haji dari penduduk yang berasal dari berbagai wilayah dan bangsa yang berbeda. Kemudia ia mengadakan manasik bagi mereka dan memberitahukan kepada mereka dari Rasulullah tentang apa yang boleh dan tidak boleh bagi mereka. Kemudian ia mengutus Ali bin Abi Thalib pada tahun tersebut kemudian ketika mereka berkumpul pada hari raya kurban, ia membacakan kepada mereka beberapa ayat dari surat Bara’ah. Ia membuat perjanjian dengan semua suku dan memberikan bantuan secara sama dan memberikan beberapa larangan kepada mereka. Abu Bakar dan Ali keduanya dikenal baik oleh penduduk Mekkah karena keutamaan, agama, dan kejujuran keduanya. Oleh karena itu, Rasulullah tidak mengutus seseorang, kecuali terdapat hujjah yang kuat melalui haditsnya terhadap orang yang dikirimnya tersebut.

Imam asy-Syafi’i berkata :”Nabi telah membedakan para ‘amil sesuai dengan bidangnya, di mana kami mengetahui nama-nama mereka dan tempat-tempat tugasnya. Setiap orang yang diangkat sebagai pemimpin, telah diperintahkan untuk mengambil keputusan yang telah diwajibkan oleh Allah terhadap orang yang dipimpinnya. Tidak ada seorangpun dari kami yang mengatakan kepada salah seorang yang diunggulkan dalam hal kejujuran : engkau hanya satu orang, karena itu tidak boleh mengambil riwayat dari kami sebelum kami mendengar RasululIah mengatakan bahwa hal tersebut wajib bagi kami. Dan kami tidak mengira bahwa beliau mengutus orang-orang yang terkenal dalam berbagai bidang yang sesuai dengan mereka karena kejujuran mereka, tetapi karena apa yang sudah aku gambarkan, yaitu karena mereka mampu menegakan hujjah pada orang yang karenanya mereka diutus.”

Imam asy-Syafi’i berkata :”Surat-surat Rasulullah masih terus dilaksanakan oleh petugas-petugas beliau, yang berisikan perintah dan larangan dan tidak pernah salah seorang pegawainya tidak melaksanakan perintahnya, dan setiap utusan yang diutus beliau dijamin kejujurannya bagi orang ia diutus dan demikian juga surat-surat para khalifah dan para pegawai setelahnya. Dan apa yang disepakati oleh orang-orang Islam adalah bahwa khalifah, hakim agung, pemimpin, dan imam itu harus satu. Ia berkata :”Orang-orang  yang bertugas di kehakiman dan yang lainnya, mereka menetapkan, melaksanakan hukum, menegakan hudud, dan demikian pula orang-orang yang setelah mereka juga melaksanakan hukum-hukum mereka, karena putusan-putusan hukum mereka dianggap sebagai sumber hukum.

Imam asy-Syafi’i berkata :”Maka apa yang aku gambarkan tentang sunnah dan apa yang disepakati oleh orang-orang Islam, memiliki dilalah tentang perbedaan antara kesaksian, hadits, dan hukum.

Sumber:

Buku “The History of Hadith: Historiografi Hadits Nabi dari Masa ke Masa” karya Prof. Muhammad Abu Zahw. Keira Publishing. Juli 2015. Hal 223-225

Leave a comment

Keanekaragaman lafazh-lafazh hadits yang masih satu makna

Merupakan suatu kesalahan yang sangat nyata, jika menyandarkan perbedaan Lafah-lafazh hadits yang masih satu makna, terjadi hanya akibat periwayatan secara makna. Akan tetapi hal itu juga kembali kepada faktor banyaknya majelis Rasulullah Saw. di berbagai tempat, waktu, peristiwa dan momen yang berbeda. Di samping itu mereka yang mendengarkan, meminta fatwa, bertikai, meminta keputusan hukum, yang didelegasikan dan utusan yang datang, semuanya adalah orang-orang yang berbeda. Maka ketika beliau menyampaikan di berbagai tempat, waktu, dan pendengar yang berbeda itu, sudah barang tentu lafazh beliau pun berbeda-beda, ada yang ringkas, ada yang panjang lebar, ada yang tersurat dan ada yang tersirat, ada kalimat yang diakhirkan dan adapula yang didahulukan, ada yang ditambah adapula yang dikurangi, sesuai dengan tuntutan kondisi yang beliau hadapi.
Contohnya, ketika ada yang bertanya mengenai amalan yang paling afdhal, maka beliau akan memberikan jawaban yang tidak sama kepada setiap penanya. Atau beliau ditanya tentang jihad yang paling utama, maka beliau akan menjawab kepada orang yang bertanya berdasarkan jenis kebaikan yang dia maksudkan, dan itu akan berbeda dengan jawaban yang diinginkan oleh penanya lainnya. Demikian seterusnya.

Lantas, orang yang tidak memiliki pengetahuan luas dan mendalam tentang hal ini akan mengira bahwa terdapat banyak pertentangan di dalam hadits-hadits Rasul, atau para perawi yang meriwayatkannya tidak memiliki ketepatan dan ketelitian hafalan. Padahal tidak demikian kenyataannya. RasululLah Saw. Adalah sosok yang mengobati setiap jiwa yang haus akan nasihat dan ilmu, karenanya beliau selalu sedia menjawab setiap pertanyaan orang bertanya kepada beliau, apalagi jika terkait dengan manfaat bagi banyak orang.

Sebagai contoh, coba Anda perhatikan lafazh-lafazh azan, iqamah dan tasyahhud serta beberapa zikir dan doa di dalam shalat dan setelah shalat. Para perawi yang meriwayatkannya adalah orang-orang yang adil dan kredibel. Namun bagi mereka yang tidak mengetahui akan mengira bahwa itu merupakan pertentangan di dalam hadits, atau perawinya yang tidak dhabit dalam meriwayatkannya, atau itu disebabkan faktor periwayatan secara makna. Padahal realitanya, semua itu merupakan hasil dari ajaran Rasulullah Saw., adapun keanekaan lafazh yang ada menandakan bahwa semuanya boleh digunakan, itu adalah keringanan dan keleluasaan yang diberikan kepada umat.

Lalu perhatikan pula wasiat-wasiat yang beliau berikan kepada para utusan dan delegasi yang dikirim ke berbagai wilayah untuk mengajarkan Islam. Juga perhatikan surat-surat yang beliau kirimkan kepada para raja dan pemimpin bangsa lainnya. Maka Anda akan mendapatkan bahwa semua yang beliau sampaikan dipenuhi oleh berbagai nasihat dan ajaran, dengan cara penyampaian yang berbeda, sesuai dengan kondisi dan peristiwa yang beliau hadapi, juga sesuai dengan kemampuan orang menerimanya.
Rasulullah Saw. telah menyampaikan khutbah di berbagai kesempatan, ketika hari raya, peperangan dan berbagai peristiwa penting dan besar lainnya. Di dalamnya, beliau memberikan peringatan, kabar gembira, petunjuk, akidah islam, hukum-hukum agama, gambaran tentang surga dan neraka, tanda-tanda kiamat, adzab kubur. Dalam menyampaikan semua itu, tentunya lafazh beliau berbeda-beda sesuai dengan momen yang berlangsung.

Majelis-majelis Rasulullah, baik di kala bepergian atau pun tidak, dipenuhi oleh berbagai penjelasan hukum, mengingatkan akan kesalahan, dan mengajak kepada ketakwaan kepada Allah, mengajak kepada akhlak yang terpuji dan menjauhi perilaku tercela, menceritakan tentang kondisi umat-umat terdahulu untuk dipetik pelajaran dari apa yang telah mereka alami. Ketika menyampaikannya, beliau sangat memperhatikan kondisi para pendengarnya, kadang dengan panjang lebar, terkadang secara ringkas, kadang secara lugas dan kadang dengan bahasa yang tersirat.

Dari semua yang telah kami jelaskan ini, apakah Anda melihat adanya pertentangan di dalam hadits-hadits RasululIah Saw. yang beragam lafazhnya. Ataukah Anda masih mengira bahwa para perawinya yang tidak kredibel, sehingga mereka memudahkan diri dengan hanya meriwayatkan secara makna, sehingga akhirnya terjadi banyak perbedaan dan pertentangan lafazh. Sungguh yang demikian tidak ada sama sekali. Semua perbedaan dan keragamaan lafazh yang ada adalah semata-mata karena metode pengajaran dan kondisi momen yang berbeda.

Untuk mencari perbandingan, silahkan Anda lihat di datam al-Qur’an. Kitab yang terbebas dari segala kebatilan dan penyimpangan. Di dalamnya terdapat kisah tentang seorang Nabi. Namun kisah tersebut disebutkan dalam beberapa surat yang berbeda dan dengan sisi cerita yang beragam. Terkadang diceritakan secara lengkap dan utuh, kadang secara ringkas, dan terkadang hanya dari salah satu sudut cerita, sementara sudut cerita lainnya dimuat dalam surat yang berbeda. Hal ini dapat Anda lihat kisah Nabi Adam, Nuh,Ibrahim, Musa dan lsa alaihim assalam. Lalu meski demikian, apakah Anda menemukan di sana adanya pertentangan dan perselisihan cerita?!, Semua itu merupakan kebenaran yang disampaikan dari sisi Allah, antara satu penggalan kisah dengan yang lainnya saling menguatkan. Penggalan yang global diuraikan oleh penggalan kisah yang lebih terperinci. Ya  semua itu adalah karena perbedaan maqom (tempat) dan kondisi penyampaian. Semuanya berasal dari sisi Tuhan kita.

Sumber:

Buku “The History of Hadith” Historiografi Hadits Nabi dari Masa ke Masa”, karya Prof. Muhammad Abu Zahw, penerbit Keira Publishing, cetakan pertama Juli 2015 hal.169-170

Leave a comment

Bukhari dan Muslim tidak menuliskan keseluruhan Hadits Shahih dalam kitabnya

Para hafidz dan imam hadits menyimpulkan, bahwa al-Bukhari dan Muslim tidak memasukan semua hadits-hadits shahih dalam kitab shahih keduanya. Mereka meriwayatkan dari al-Bukhari, bahwasanya ia pernah mengatakan,”Aku tidak memasukan dalam al-Jami as-Shahih kecuali yang shahih, dan meninggalkan hadis-hadits shahih lainnya karena takut terlalu panjang.”Ia juga mengatakan,”Aku hafal seratus ribu hadits shahih, dan hafal dua ratus ribu hadits yang tidak shahih.”Ia juga mengatakan,”Aku pernah berada di dekat Ishak bin Rahaweih, ketika itu ia berkata : ‘seandainya aku bisa mengumpulkan untuk mereka hadits-hadits Rasulullah Saw.’Ia (al-Bukhari) berkata : ‘Hal tersebut mengena dalam hatiku, maka segera aku mengumpulkan hadits-hadits shahih dalam kitab al-jami’ as-shahih.'”

Mereka juga meriwayatkan dari Muslim, ia pernah berkata :”Tidak semua yang menurutku hadits shahih aku tuliskan di sini. Tapi yang aku tuliskan di sini itu yang disepakati bersama kesahihannya.”

Mereka juga meriwayatkan, bahwasanya Muslim ketika ditegur terkait dengan apa yang dilakukannya dalam mengumpukan hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dan dikatakan kepadanya bahwa hal tersebut memberi jalan bagi para ahli bid’ah untuk mengomentari kami, di mana mereka dapat mengatakan ketika diberikan hujjah berupa hadits :”Ini tidak ada di dalam kitab shahih, ia (Muslim berkata) :”Ketika aku menulis kitab ini, dan itu berupa hadits-hadits shahih, tidak berarti bahwa hadits yang tidak aku tulis dalam kitab ini tidak shahih.”

Dengan demikian, dapat disimpulkan sebagai berikut :

Pertama, tidak ada alasan yang mengharuskan keduanya terkait dengan pencantuman hadits-hadits yang belum dimuat oleh keduanya, meskipun hadits-hadits tersebut memenuhi syarat shahih dari keduanya, seperti ad-Daruquthni, al-Baehaqi, dan lbnu Hibban. Diriwayatkan dari lbnu Hibban bahwa ia pernah berkata :”Al-Bukhari harus ditanya kenapa ia tidak menulis hadits-hadits yang dianggap shahih berdasarkan kriterianya.”Ad-Daruquthni dan yang lainnya juga pernah menyebutkan bahwa sejumlah sahabat meriwayatkan dari RasululIah Saw., kemudian hadits-hadits mereka diriwayatkan dari jalur yang sahih, yang tidak ada cela dalam diri para perawinya, tapi mereka berdua sedikit pun tidak mengambil hadits-hadits mereka, maka ia mewajibkan bagi mereka berdua agar tetap pada madzhab masing-masing. Al-Baehaqi menuturkan, bahwa mereka berdua sepakat atas hadits-hadits yang bersumber dari catatan Humam bin Mambah, tapi keduanya meriwaytkan sendiri-sendiri hadits dari catatannya, meskipun sanad-sanadnya sama.

Ad-Daruquthni dan Ab Dzar al-Harawi juga menyusun sebuah kitab dalam masalah ini yang menuntut keduanya untuk menerapkan ini. Tetapi hal ini sebetulnya tidak harus sebagaimana yang sudah kami sampaikan-untuk memasukan semua hadits yang shahih.

Bahkan sudah jelas, berdasarkan keterangan dari mereka berdua bahwa keduanya tidak memasukan semua hadits shahih, karena tujuannya adalah untuk mengumpulkan sebagian saja dari hadits yang shahih, sebagaimana seorang pengarang dalam masalah fiqih, dia hanya mengumpulkan sebagian masalah-masalahnya saja.

Kedua, seorang perawi yang tidak dicantumkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka, tidak lantas menunjukan kecacatannya, atau kelemahannya ; karena keduanya, sebagaimana tidak memasukan semua hadits shahih, demikian pula tidak memasukkan semua perawi yang memenuhi kriteria penerimaan dan kesahihan. Jumlah mereka sangat banyak, mencapai lebih dari seribu tiga puluh orang. Karena di dalam kitab Tarikh al-Bukhari saja memuat sekitar empat puluh ribu lebih. Sementara itu, kitabnya yang menjelaskan tentang ad-Dhuafa (orang-orang yang lemah hafalannya) di bawah tujuh ratus orang, sedangkan perawi yang ia tulis dalam kitabnya kurang dari dua ribu. Demikian sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hafidz al-Hazimi dalam kriteria-kriteria shahih yang ditentukan oleh imam yang lima.

Sumber:

Buku “The History of Hadith” Historiografi Hadits Nabi dari Masa ke Masa”, karya Prof. Muhammad Abu Zahw, penerbit Keira Publishing, cetakan pertama Juli 2015 hal.318-319

Leave a comment

Mengapa Sunnah tidak ditulis di masa Rasulullah sebagaimana al-Qur’an?

Ketahuilah, bahwa penulisan al-Qur’an di bawah pengawasan Rasulullah Saw. merupakan perintah wahyu yang diturunkan Allah Swt. Karena al-Qur’an merupakan mukjizat, dan membacanya bernilai ibadah di sisi Allah Swt. Sebab itulah maka ia tidak boleh diriwayatkan secara makna. Lafazh otentik al-Qur’an harus benar-benar terpelihara sebagaimana ia diturunkan. Kalau tidak ditulis dan hanya mengandalkan kekuatan memori orang-orang Arab, maka ia menjadi tidak aman dari pengurangan dan penambahan walau hanya satu huruf. Bahkan bisa jadi ada kata atau kalimat yang diganti dan diubah.

Demikian juga dengan tidak ditulisnya hadits di hadapan Rasulullah Saw., itu juga merupakan perintah wahyu dari Allah Swt. Karena yang diinginkan dari hadits adalah subtansi maknanya bukan lafazhnya, sebab itulah membaca hadits tidak bernilai ibadah, dan susunan kalimatnya pun bukanlah mukjizat sebagaimana al-Qur’an, serta ia boleh diriwayatkan secara makna.

Jadi, pemeliharaan keotentikan lafazh al-Qur’an merupakan pemeliharaan terhadap syariat, sedangkan pembolehan riwayat hadits secara makna merupakan keringanan dan kemudahan bagi umat ini dalam proses periwayatan dan penyampaiannya. Kalau sekiranya sunnah harus diriwayatkan dan disampaikan persis seperti yang terdengar langsung dari Rasulullah, niscaya akan memberatkan dan menyulitkan umat ini. Sebaliknya, jika al-Qur’an diperbolehkan diriwayatkan secara makna seperti hadits, niscaya jiwa kita tidak akan tenang dalam mempercayai syariat ini, bahkan akan menjadi celah bagi kaum zindiq dan mulhid dalam mencela Islam, di mana mereka akan mengatakan:”sulit bagi kami untuk mempercayainya diturunkan dari AIlah.”

Dengan demikian, AIlah Swt. telah memelihara kemurnian syariat dan di sisi lain juga memberikan keringanan bagi umat.

Anda tidak perlu khawatir, karena periwayatan hadits secara makna hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang mumpuni di bidang bahasa Arab dan cabang-cabangnya, dan pakar di bidang syariat serta tujuan-tujuannya. Mereka harus benar-benar pakar di dua bidang itu. Disamping itu, hadits yang hendak diriwayatkan secara makna pun tidak boleh yang redaksinya berstatus “jawami’ al-Kalim”, bukan pula yang lafazhnya bernilai ibadah seperti hadits-hadits doa. Jadi jika perawi tidak memiliki pengetahuan tentang gaya bahasa Arab, kurang mumpuni di bidang syariah dan maqashidnya, atau hadits yang dimaksud termasuk kategori jawami al-Kalim, atau juga hadits-hadits doa yang lafazhnya bernilai ibadah, atau memang sudah dihafal dengan baik oleh rawi, maka dalam kondisi-kondisi semacam ini tidak diperbolehkan periwayatan hadits secara makna.

Jika setelah penjelasan ini, masih ada yang bersikeras bahwa tidak ditulisnya hadits ketika Rasulullah Saw. masih hidup di tengah kaum muslimin, akan melunturkan kepercayaan terhadap hadits tersebut. Maka untuk menjawabnya kami akan sampaikan bahwa, pendapat seperti ini tak ubahnya seperti menuduh Nabi Saw. tidak optimal dalam menyampaikan wahyu Ilahi. Atau dengan kata lain, pendapat semacam ini bermakna bahwa sunnah bukan bagian dari agama. Sungguh, baik yang pertama maupun yang kedua, dari pendapat semacam ini, merupakan bukti nyata kesesatan dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman.

Sumber:
Buku “The History of Hadith” karya Prof. Muhammad Abu Zahw penerbit Keira Publishing cetakan I hal 184-185

Leave a comment

Hadis Ahad di dalam Fikih menurut Imam Syafi’i

Sesungguhnya telah mengalir deras, terkenal dan datang dari berbagai jalur, bahwa para sahabat saling menyampaikan hukum-hukum syar’i dengan hadis-hadis ahad, padahal Nabi masih ada bersama mereka dan beliau membiarkan penerimaan mereka terhadap hukum-hukum tersebut dengan kabar dari satu orang. Seandainya kabar dari satu orang tidak cukup sebagai dalil untuk mengamalkan hukum, pastilah Nabi SAW menerangkan bahwa tidak pantas bagi mereka untuk mengambil hukum-hukum agama, kecuali yang telah disepakati oleh banyak orang dan itu lebih tejaga dari kedustaan.

Metode penyampaian melalui satu atau dua orang menjadi salah satu cara penyampaian surat-surat beliau kepada penguasa negeri lain. Cara ini juga beliau gunakan untuk menerangkan syariat Islam. Bahkan, Nabi sendiri merasa cukup dalam menyampaikan hukum-hukum Islam hanya dengan mengirim satu orang utusan. Oleh karenanya, seandainya syariat tidak bisa diterima dari satu orang  dan seandainya periwayatan tidak sempurna kecuali diriwayatkan banyak orang, niscaya Nabi tidak akan merasa cukup hanya dengan mengutus satu orang untuk mengabarkan ajaran beliau dan menjelaskan syariat Islam.

Kami akan mengutipkan beberapa fakta pada masa Rasulullah terkait diterimanya kabar meski dibawa oleh satu orang. Imam Syafi’i telah mengemukakan banya fakta itu, diantaranya adalah:

  • Rasulullah adalah orang yang telah diturunkan kepadanya al-Qur’an. Beliau menerima wahyu yang memerintahkannya untuk menghadap ka’bah. Itu terjadi ketika para sahabat sedang menghadap Baitul Maqdis di masjid Quba dalam shalat Subuh, lalu datanglah kepada mereka seorang pembawa berita yang mengabarkan kepada mereka ayat al-Qur’an yang telah turun. Mereka pun berputar untuk menghadap ka’bah. Orang-orang yang shalat di masjid Quba’ pada waktu itu adalah orang-orang terdahulu dari kaum Anshar dan para ahli fikihnya. Mereka tentu tidak akan mengamalkan perintah yang hanya dibawa oleh satu orang, kecuali karena ilmu bahwa riwayat dari satu orang bisa digunakan sebagai hujjah. Rasulullah adalah manusia yang jujur. Seandainya apa yang dilakukan oleh para sahabat waktu itu termasuk perbuatan yang tidak boleh, karena mengamalkan berita yang hanya dibawa oleh satu orang, niscaya Rasulullah akan mengatakan kepada mereka,” Kalian tidak perlu merubah arah kiblat menghadap ka’bah, kecuali setelah adanya ilmu yang disertai hujjah berdasarkan berita yang dibawa oleh orang banyak, lebih dari satu orang.”
  • Imam Syafi’i meriwayatkan dari Anas, bahwa is berkata, “Aku telah memberi minum Abu Thalhah, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Ubai bin Ka’ab minuman yang berasal dari perasan anggur. lalu datanglah kepada mereka seorang pendatang kemudian berkata, ‘Sesungguhnya khamr telah diharamkan.’ Maka Abu Thalhah berkata, ‘Bangunlah wahai Anas dan pecahkanlah guci-guci itu.’ Lalu aku berdiri mengambil palu. Aku memukul guci-guci itu pada bagian bawahnya sampai pecah. Para sahabat yang disebutkan di atas memiliki ilmu dan kedudukan di sisi Nabi. Mereka juga termasuk para sahabat istimewa disisi Nabi yang tidak diingkari oleh seorang ulama pun. Dan sebelumnya, minuman itu halal bagi mereka, lalu datanglah seorang pemberi kabar dan mengabarkan kepada mereka akan keharaman khamr. Kemudian Abu Thalhah memerintahkan untuk menghancurkan guci. Tidak ada ucapan-ucapan yang keluar dari lisan mereka, ‘Kami tetap menghalalkannya hingga kami menemui Rasulullah, karena kedekatan beliau dengan kita, atau sampai kami mendengar berita keharaman khamr ini dari orang banyak.‘ Ini terjadi karena yang mereka tumpahkan bukanlah sesuatu yang halal. Seandainya yang mereka lakukan itu tidak benar, karena hanya berdasarkan kabar yang dibawa satu orang saja, pastilah Nabi akan melarang mereka. Akan tetapi beliau tidak melakukannya.
  • Nabi pernah mengutus Ali bin Abi Thalib untuk pergi ke Mina dan membacakan kepada mereka surat at-Taubah. Rasulullah tidak akan mengutus seseorang untuk membawa urusan, kecuali apa yang dibawa oleh utusan tersebut bisa dijadikan hujjah oleh mereka yang mendengarnya. Dan berita dari Rasulullah yang hanya dibawa oleh seorang utusan saja, itu boleh diterima.
  • Nabi telah membagi-bagi dan menyebarkan para gubernur ke berbagai wilayah. Namun tidak ada seorang pun di masing-masing wilayah yang mendatangi para gubernur itu kemudian mengatakan, “Kamu seorang diri. Dia tidak berhak mengatur kita selama kita tidak mendengar langsung Rasulullah mengatakan bahwa dia berkuasa atas kita, atau datang kepada kita orang banyak yang menyampaikan kabar tentang pengangkatannya sebagai gubernur atau kabar tentang hal itu terkenal atau yang menyampaikannya kepada kita lebih dari satu orang.” Dan perbuatan Nabi adalah hujjah yang tidak ada hujjah lagi di belakangnya.

Ini semua merupakan kabar-kabar yang periwayatannya mengalir deras lagi terkenal. Riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi juga menetapkan (mengakui) kaum Muslimin atas pengambilan kabar mereka dari satu orang, sedangkan beliau di dalam menyampaikannya, cukup hanya dengan mengirim satu orang.

Sumber:

Buku “Biografi Empat Imam Mazhab” karya Abdul Aziz Asy-Syinawi, penerbit Beirut Publishing, hal 590-592.

Leave a comment

Polemik Memendekkan Tsaub Di Atas Mata Kaki

Untuk berhasil memahami as-Sunnah secara benar, kita harus menghimpun semua hadis sahih yang berkaitan dengan suatu tema tertentu. Kemudian mengembalikan kandungannya yang mutasyabih kepada yang muhkam, mengaitkan yang muthlaq dengan yang muqayyad dan menafsirkan yang ‘am dengan yang khash. Dengan cara itu, dapatlah dimengerti maksudnya dengan lebih jelas dan tidak dipertentangkan antara hadis yang satu dengan yang lainnya. Dan sebagaimana telah ditetapkan bersama, bahwa as-Sunnah menafsirkan al-Qur’an dan menjelaskan makna-maknanya; dalam arti bahwa as-Sunnah merinci apa yang dinyatakan oleh al-Qur’an secara garis besarnya saja, menafsirkan bagian-bagian yang kurang jelas, mengkhususkan apa yang disebutnya secara umum dan membatasi apa yang disebutnya secara lepas (muthlaq); maka sudah barang tentu, ketentuan-ketentuan seperti itu harus pula diterapkan antara hadis yang satu dengan yang lainnya. Ambillah sebagai misal, hadis-hadis yang berkenaan dengan larangan “mengenakan sarung sampai di bawah mata kaki”, yang mengandung ancaman cukup keras terhadap pelakunya. Yaitu hadis-hadis yang dijadikan sandaran oleh sejumlah pemuda yang amat bersemangat, untuk menunjukkan kritik yang tajam terhadap siapa-siapa yang tidak memendekkan tsaub (baju gamis)-nya sehingga di atas mata kaki. Sedemikian bersemangatnya mereka, sehingga hampir-hampir menjadikan masalah memendekkan tsaub ini, sebagai syiar Islam terpenting, atau kewajiban yang mahaagung. Dan apabila menyaksikan seorang ‘alim atau da’i Muslim yang tidak memendekkan tsaubnya, seperti yang telah mereka lakukan, maka mereka akan mencibirnya dalam hati atau adakalanya menuduhnya secara terang-terangan sebagai orang yang “kurang beragama”! Padahal, seandainya mereka mau mengkaji sejumlah hadis yang berkenaan dengan masalah ini, lalu menghimpun antara yang satu dengan yang lainnya, sesuai dengan tuntunan agama Islam kepada para pengikutnya dalam soal-soal yang menyangkut kebiasaan hidup sehari-hari, niscaya mereka akan mengetahui apa sebenarnya yanh dimaksud oleh hadis-hadis seperti itu. Dan sebagai akibatnya, mereka akan mengurangi ketegaran sikap mereka dan tidak menyimpang terlalu jauh dari kebenaran, serta tidak akan mempersempit sesuatu yang sebetulnya telah dilapangkan oleh Allah SWT bagi manusia. Perhatikanlah hadis yang dirawikan oleh Muslim dari Abu Dzar r.a. bahwa Nabi saw pernah bersabda: “Tiga jenis manusia, yang kelak, pada hari kiamat, tidak akan diajak bicara oleh Allah: (1) seorang mannan (pemberi) yang tidak memberi sesuatu kecuali untuk diungkit-ungkit; (2) seorang pedagang yang berusaha melariskan barang dagangannya dengan mengucapkan sumpah-sumpah bohong; dan (3) seorang yang membiarkan sarungnya terjulur sampai di bawah kedua mata kakinya.” (HR. Muslim) Dalam riwayat lainnya, juga dari Abu Dzar: “Tiga jenis manusia, yang kelak pada hari kiamat, tidak diajak bicara oleh Allah, tidak dipandang oleh-Nya, tidak ditazkiah oleh-Nya, dan bagi mereka tersedia azab yang pedih.” (Rasulullah saw mengulangi sabda beliau itu tiga kali, sehingga Abu Dzar berkata: ‘Sungguh mereka itu adalah manusia-manusia gagal dan merugi! Siapa mereka itu, ya Rasulullah?’ Maka jawab beliau): “Orang yang membiarkan sarungnya terjulur sampai ke bawah mata kaki; orang yang memberi sesuatu untuk kemudian diungkit-ungkit; dan pedagang yang melariskan barang dagangannya dengan bersumpah bohong.” (HR. Muslim) Kalau begitu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan ungkapan “orang yang menjulurkan sarung sampai ke bawah mata kaki”? Apakah mencakup siapa saja yang memanjangkan sarungnya, walaupun hal itu semata-mata karena kebiasaan yang berlaku di kalangan masyarakat lingkungannya dan tanpa maksud menyombongkan diri? Mungkin saja hal itu didukung oleh hadis yang dirawikan dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Hurairah: “Sarung yang di bawah mata kaki akan berada di neraka.” Yang dimaksud dengan “sarung” dalam hadia itu, ialah “kaki” seseorang yang sarungnya terjulur sampai di bawah mata kakinya. Ia akan dimasukkan ke neraka, sebagai hukuman atas perbuatannya. Akan tetapi, bagi orang yang sempat membaca semua hadis yang berkenaan dengan masalah ini akan mengetahui apa yang ditarjihkan oleh an-Nawawi, Ibnu Hajar dan lain-lainnya, bahwa yang dimaksud di sini adalah sikap sombong yang menjadi motivasi orang yang menjulurkan sarungnya. Itulah yang diancam dengan hukuman yang keras. Untuk itu, mari kita baca hadis-hadis shahih yang dirawikan berkenaan dengan hal ini. Telah dirawikan oleh Bukhari dalam bab “Barangsiapa Menyeret Sarungnya Bukan Karena Sombong”, sebuah hadis riwayat Abdullah bin Umar, dari Nabi saw, katanya: “Barangsiapa menyeret sarungnya (yakni menjulurkannya sampai menyentuh atau hampir menyentuh tanah) karena sombong, maka Allah tidak akan memandang kepadanya pada hari kiamat.” Abu Bakar berkata kepada beliau: “Ya Rasulullah salah satu sisi sarungku selalu terjulur ke bawah, kecuali aku sering-sering membetulkan letaknya.” Nabi saw berkata kepadanya: “Engkau tidak termasuk orang-orang yang melakukannya karena kesombongan.” Al-Bukhari juga merawikan dalam bab yang sama, dari Abu Bakrah, katanya: “Kami sedang bersama Rasulullah ketika terjadi gerhana matahari. Beliau berdiri lalu berjalan menuju masjid sambil menyeret sarungnya karena tergesa-gesa ….” Dan diriwayatkan pula oleh Bukhari dalam bab “Orang yang Menyeret Sarungnya Karena Sombong”, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Allah SWT tidak akan memandang kepada siapa yang menyeret sarungnya karena kesombongan.” Dan dari Abu Hurairah pula, bahwa Nabi saw bersabda: “Seorang laki-laki sedang berjalan dengan berpakaian amat mewah yang membuat dirinya sendiri merasa kagum, sementara rambutnya tersisir rapi, ketika tiba-tiba ia ditelan oleh longsoran tanah. Maka ia pun terus-menerus berteriak ketakutan sampai hari kiamat.” Dan diriwayatkan oleh Ibn Umar dan juga dari Abu Hurairah: “Seorang laki-laki sedang berjalan sambil menyeret sarungnya, ketika tiba-tiba ditelan longsoran tanah, membuatnya terus-menerus berteriak ketakutan didalamnya sampai hari kiamat.” Muslim telah merawikan hadis dari Abu Hurairah ini dan sebelumnya. Dan juga yang bersumber dari Ibn Umar, melalui beberapa jalur, diantaranya: “Barangsiapa menyeret sarungnya, tidak ada maksudnya selain untuk membanggakan diri, maka Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat.” Dari riwayat tersebut, secara jelas Nabi saw menekankan soal “membanggakan diri” sebagai satu-satunya alasan. Dengan demikian, tak ada ruang bagi siapa pun untuk menakwilkannya. An-Nawawi dikenal sebagai seorang tokoh yang tidak suka mempermudah, bahkan ia cenderung memilih penilaian yang lebih ketat dan lebih berhati-hati. Ketika menguraikan hadis tentang “orang yang menjulurkan sarungnya”, ia berkata: “Adapun yang dimaksud dalam sabda Nabi saw sebagai “orang yang menjulurkan sarungnya” adalah orang yang melakukannya sehingga sarungnya itu menyentuh atau hampir menyentuh tanah, sambil menyeretnya dengan sikap sombong. Makna tersebut dapat diketahui dari hadis lainnya yang berbunyi: ‘Allah tidak akan memandang kepada orang yang menyeret tsaubnya dengan maksud menyombongkan diri.’ Adanya keterangan tentang sikap menyombongkan diri, membuat lingkup ancaman keras terhadapnya terbatas hanya apabila hal itu dilakukan demi menunjukkan kesombongan. Buktinya, Rasulullah saw mengizinkannya bagi Abu Bakar dengan ucapan beliau: ‘Engkau tidak termasuk mereka.’ Sebab, kalaupun ia juga ‘menyeret sarungnya’, maka hal itu tidak disertai dengan sikap menyombongkan diri.” Dan telah berkata al-Hafizh Ibn Hajar dalam Syarh-nya atas hadis-hadis riwayat Bukhari yang berisi ancaman terhada orang-orang yang menjulurkan sarung atau menyeret baju gamisnya: “Dalam hadis-hadis ini, ditegaskan bahwa menjulurkan sarung (sampai ke bawah mata kaki) karena ingin menyombong, termasuk dosa besar. Dan jika hal itu bukan karena kesombongan pun, maka tetap saja hal itu haram menurut pengertian zahir hadis-hadis itu. Tetapi mengingat adanya keterangan tambahan tentang sikap sombong dari mereka yang melakukannya, maka dapat disimpulkan bahwa perbuatan menjulurkan sarung atau menyeretnya, tidaklah haram sepanjang tidak disertai sikap menyombong.” Dan telah berkata al-Hafizh al-Faqih Ibn ‘Abd al-Bar: “Yang dapat dipahami dari hadis-hadis tersebut ialah, apabila perbuatan ‘menyeret’ itu bukan karena kesombongan, maka ancaman terhadapnya itu tidak berlaku. Walaupun pada dasarnya perbuatan ‘menyeret’ gamis atau jenis pakaian lainnya, tetap tercela dalam keadaan apapun.” Masih ada lagi yang menguatkan pemahaman seperti ini, yakni membatasi perbuatan ‘menjulurkan sarung’ yang terkena ancaman, hanya apabila dilakukan karena kesombongan semata-mata. Hal itu ialah kenyataan bahwa ancaman dalam hadis-hadis itu merupakan ancaman amat keras. Sampai-sampai menjadikan orang seperti itu, termasuk tiga jenis manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak dipandang dan tidak ditazkiah oleh-Nya serta disediakan azab yang pedih bagi mereka! Dan sampai-sampai Nabi saw mengulangi ancaman itu sebanyak tiga kali, sehingga Abu Dzar merasa ketakutan dan berkata: “Sungguh mereka telah gagal dan sangat merugi! Siapakah mereka ya Rasulullah?” Semua itu menunjukkan bahwa perbuatan mereka itu, termasuk dosa-dosa besar yang sangat terlarang dan mendatangkan kebinasaan. Dan itu tidak akan berlaku kecuali pada hal-hal yang berkaitan dengan “kebutuhan-kebutuhan mendasar” yang dijamin pelaksanaan dan keselamatannya oleh syariat, yakni yang berkenaan dengan urusan agama, jiwa, akal, kehormatan, nasab dan harta; dan itulah tujuan-tujuan pokok syariat Islam. Adapun perbuatan memendekkan sarung atau baju gamis adalah termasuk estetika dan berkaitan dengan kesopanan pergaulan yang dengannya hidup ini menjadi indah, dengan cita rasa yang tinggi dan budi pekerti yang luhur. Sedangkan memanjangkannya atau menjulurkannya — tanpa suatu tujuan yang tercela — paling-paling hanya termasuk hal yang makruh (tak disukai). Karena itu, yang sangat dipentingkan oleh agama mengenai ini dan yang ditujukan kepadanya perhatian terbesar adalah niat serta motivasi yang berada di balik suatu perbuatan lahiriah. Dan yang sangat ingin ditentang di sini olehnya adalah kesombongan, keangkuhan, kepongahan, kebanggaan diri dan sebagainya yang semua itu termasuk penyakit-penyakit hati dan penyimpangan kejiwaan yang tak seorang pun akan masuk surga apabila di dalam dirinya bersemayam perasaan seperti itu walaupun hanya sebesar zarrah. Itulah yang sangat menguatkan perlunya membatasi ancaman keras yang ditujukan terhadap perbuatan menjulurkan sarung semata-mata apabila hal itu bermotivasi kesombongan dan kebanggaan diri saja sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis lainnya. Masih ada lagi hal lain di samping apa yang telah kami kemukakan di atas. Yaitu bahwa urusan pakaian, potongan dan bentuknya berkaitan dengan kebiasaan dan adat istiadat manusia yang seringkali berlainan sesuai dengan perbedaan iklim antara panas dan dingin, juga antara yang kaya dan miskin, yang kuat dan yang lemah, jenis pekerjaan, tingkat kesejahteraan hidup serta pelbagai pengaruh dan latar belakang lainnya. Dalam hal-hal seperti ini, syariat senantiasa bersikap lunak dan tidak ikut campur kecuali dalam batas-batas tertentu, demi mencegah timbulnya penonjolan kemewahan dan kemubaziran dalam kehidupan lahiriah ataupun kehendak menyombongkan diri yang bersemayam di dalam hati seseorang serta dalam beberapa hal seperti itu yang telah diketahui secara rinci. Berkaitan dengan hal ini, al-Bukhari pada bab “Pakaian” dalam Shahihnya telah menyediakan pasal yang khusus tentang firman Allah SWT: “Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya …?” (al-A’raf: 32). Demikian pula Nabi saw telah bersabda: “Silakan kalian makan, minum, berpakaian dan bersedekah, tetapi jangan berlebih-lebihan dan jangan pula demi kesombongan.” Dan telah berkata Ibn Abbas ra: “Makanlah makanan yang kau ingini, kenakanlah pakaian yang kau ingini, selama kau menghindari dua hal: pemborosan dan keangkuhan.” Ibn Hajar mengutip ucapan salah seorang gurunya, al-Hafizh al-‘Iraqi dalam Syarh Tirmidzi: “Pakaian yang sangat panjang sehingga menyentuh tanah adalah termasuk kesombongan dan hukumnya adalah haram. Dan sekiranya dinyatakan tentang haramnya semua pakaian yang dipanjangkan lebih daripada ukuran yang biasa dikenakan orang, maka pernyataan itu tidak jauh dari kebenaran. Akan tetapi manusia di zaman ini telah menciptakan berbagai aturan dalam memanjangkannya. Sehingga setiap kelompok masyarakat mempunyai tanda-tanda khusus yang menunjukkan identitas mereka. Maka apabila hal tersebut dilakukan demi kesombongan tentu hukumnya haram. Tetapi yang hanya mengikuti adat kebiasaan semata-mata tidaklah dianggap haram. Kecuali yang panjangnya sedemikian rupa sehingga menyentuh tanah dan menyebabkan orang berjalan sambil menyeretnya. Al-Qadhi ‘Iyadh mengutip dari sebagian ulama bahwa mereka tidak menyukai pakaian yang panjangnya melebihi kebiasaan, juga kebiasaan berpakaian yang sangat panjang atau sangat lebar. Berdasarkan hal tersebut di atas, apa yang telah menjadi adat kebiasaan harus pula diperhitungkan sebagaimana dinyatakan oleh al-Hafizh al-‘Iraqi. Sebab adakalanya suatu perbuatan yang menyimpang dari kebiasaan umum mungkin justru menjadikan pelakunya makin terkenal. Sedangkan cara berpakaian yang sengaja dimaksudkan untuk tujuan seperti itu adalah tercela pula. Maka yang paling baik adalah sikap yang tengah-tengah. Walaupun demikian, sekiranya ada orang yang memendekkan tsaubnya demi mengikuti as-Sunnah dan menjauhkan diri dari tuduhan hendak menyombong atau demi menghindar dari perbedaan pendapat para ulama ataupun ingin memilih jalan yang lebih selamat maka Insya Allah ia akan beroleh pahala juga. Tetapi dengan syarat, ia tidak boleh memaksa orang lain melakukan seperti dirinya sendiri. Dan juga tidak boleh bertindak keterlaluan dalam mengkritik orang yang tidak melakukannya; yang memercayai pendapat para imam dan ahli tahkik lain yang telah kami sebutkan sebelum ini. Sebab setiap mujtahid akan beroleh bagiannya dan setiap orang akan dinilai sesuai dengan niatnya. Mencukupkan diri dengan pengertian lahiriah (zahir) suatu hadis saja tanpa memperhitungkan hadis-hadis lainnya serta nash-nash lain yang berkaitan dengan topik tertentu; seringkali menjerumuskan orang ke dalam kesalahan dan menjauhkannya dari kebenaran serta maksud sebenarnya dari konteks hadis tersebut. Sumber: Buku “Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw” karangan Dr. Yusuf Qardhawi penerbit Kharisma, 1993 hal. 106-113.

Leave a comment

Pendapat Ibnu Taimiyah tentang Penggunaan Hadis Dha’if untuk Fadhail Amal

Pendapat Ibnu Taimiyah tentang Penggunaan Hadis Dha’if untuk Fadhail Amal Apa yang dikatakan oleh para ulama tentang dibolehkannya menggunakan hadis-hadis dha’if untuk fadhail amal, tidaklah berarti menetapkan disunnahkannya sesuatu berdasarkan hadis yang seharusnya tidak boleh dijadikan hujjah. Sebab, menetapkan disunnahkannya sesuatu adalah termasuk suatu hukum syar’i dan karena itu, tidak berlaku kecuali dengan suatu dalil syar’i pula. Dan siapa saja yang menyatakan bahwa Allah SWT menyukai suatu perbuatan tertentu, tanpa mengemukakan dengan suatu dalil syar’i maka ia telah mensyariatkan sesuatu yang tidak ada izin Allah tentangnya. Sama halnya seandainya ia menghukumkan tentang halal ataupun haramnya sesuatu (tanpa dalil syar’i). Karena itu, para ulama berbeda pendapat dalam selainnya. Bahkan hal itu merupakan dasar agama yang disyariatkan.

Adapun yang dimaksud oleh para ulama mengenai hal itu, adalah dalam kaitannya dengan suatu perbuatan yang memang telah dinyatakan sebagai disukai atau dibenci oleh Allah berdasarkan nash atau ijma‘. Seperti tentang disukainya tilawat Al-Qur’an, membaca tasbih, berdoa, bersedekah, memerdekakan budak dan berbuat kebajikan kepada manusia. Atau tentang tidak disukainya perbuatan berdusta, berkhianat dan sebagainya. Berdasarkan hal itu, apabila diriwayatkan suatu hadis tentang keutamaan beberapa perbuatan yang mustahab serta pahala yang disediakan baginya atau tentang tidak disukainya perbuatan tertentu serta hukuman yang disediakan baginya, sedangkan besarnya pahala dan hukumannya masing-masing, dinyatakan dalam suatu hadis yang tidak kita ketahui bahwa ia adalah maudhu’ maka dalam hal ini, boleh saja meriwayatkannya atau mengamalkannya. Dalam arti, bahwa orang (boleh saja) mengharapkan pahala tersebut atau merasa takut akan hukuman seperti itu. Sama halnya seperti seorang yang sudah mengetahui sebelumnya bahwa perdagangan adalah suatu usaha menguntungkan, tetapi kini ia diberitahu bahwa keuntungannya amat sangat banyak. Maka apabila keterangan tersebut memang benar, ia akan memperoleh manfaat darinya. Tetapi apabila keterangan tersebut ternyata bohong, ia tidak akan rugi karenanya.

Misalnya, berbicara tentang “targhib wa tarhib” dengan menggunakan hadis-hadis Israiliyat, mimpi-mimpi, ucapan para salaf dan ulama, peristiwa-peristiwa yang dialami oleh ulama tertentu dan sebagainya. Semua itu, yang tidak boleh dijadikan dasar bagi penetapan suatu hukum syar’i apapun, baik mustahab ataupun lainnya, tetapi boleh disebutkan dalam rangka targhib dan tarhib (memberikan harapan atau mempertakuti dengan ancaman).

Berdasarkan hal itu, apa saja yang telah diketahui kebaikan atau keburukannya dengan adanya dalil-dalik syariat, maka (hadis-hadis) seperti itu, (bisa saja) membawa manfaat dan tidak mengakibatkan suatu mudharat, baik dalam keadaannya benar-benar sebagai hadis ataupun tidak.

Adapun yang telah jelas diketahui sebagai hadis maudhu‘, maka tidak dibenarkan memberi perhatian kepadanya. Sebab, kebohongan tidak akan membawa manfaat apapun. Selanjutnya, jika telah diketahui dengan pasti bahwa ia adalah hadis shahih, maka ia dapat dijadikan dasar bagi penetapan hukum. Dan jika mengandung kedua kemungkinan (shahih dan maudhu‘) bolehlah diriwayatkan, mengingat adanya kemungkinan kesahihannya, disamping tidak adanya mudharat sekiranya ia adalah hasil kebohongan. Adapun Ahmad bin Hanbal hanyalah mengatakan: “Apabila yang dibicarakan adalah tentang targhib dan tarhib, maka kami akan mempermudah mengenai (persyaratannya) sanadnya.” Artinya, bahwa kami akan merawikannya (tetap) dengan menyebutkan sanadnya, walaupun para perawinya tidak termasuk orang-orang tsiqah (yang dipercayai) dan yang dapat dijadikan hujjah. Demikian pula pernyataan sebagian dari mereka, bahwa hadis-hadis dha’if boleh dijadikan dasar untuk amal-amal kebajikan (fadhail amal); yang dimaksud dengan itu adalah amalan-amalan yang memang dinilai sebagai amal shaleh (berdasarkan dalil-dalil syar’i) seperti tilawat Al-Qur’an dan zikir serta menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan buruk.

Dan apabila hadis-hadis dha’if mengandung keterangan tentang kadar atau batasan tertentu, seperti shalat pada waktu tertentu dan dengan bacaan tertentu atau dalam bentuk tertentu, maka tidak dibenarkan meriwayatkannya. Sebab soal disukainya hal-hal yang ditentukan tersebut tidak berdasarkan dalil syar’i. Lain halnya jika seandainya diriwayatkan seperti ini: “Barang siapa memasuki pasar lalu membaca: ‘La ilaha illallah‘ maka ia akan memperoleh pahala … begini dan begini …” (Hal itu boleh saja) mengingat bahwa yang demikian itu termasuk dzikrullah diantara orang-orang yang lalai”, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang cukup dikenal: “Orang yang berzikir kepada Allah diantara orang-orang yang lalai, seperti pohon yang hijau di antara pohon-pohon yang kering.” Adapun sebutan tentang kadar pahala yang diriwayatkan berkaitan dengannya, maka tidak ada mudharatnya, baik itu memang benar ataupun tidak.

Kesimpulannya, hadis-hadis yang tergolong seperti itu (dha’if) boleh diriwayatkan dan diterapkan dalam targhib dan tarhib, tetapi tidak boleh untuk menetapkan tentang hukum mustahabnya. Kemudian dari itu, keyakinan akan kadar besarnya pahala atau ancaman pada perbuatan-perbuatan tersebut, haruslah berdasarkan dalil syar’i.

Sumber:

Buku “Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw.” karya Dr. Yusuf Qardhawi penerbit Karisma, 1993 hal. 78-80

Leave a comment