Archive for category Hadis

Hadis Ahad di dalam Fikih menurut Imam Syafi’i

Sesungguhnya telah mengalir deras, terkenal dan datang dari berbagai jalur, bahwa para sahabat saling menyampaikan hukum-hukum syar’i dengan hadis-hadis ahad, padahal Nabi masih ada bersama mereka dan beliau membiarkan penerimaan mereka terhadap hukum-hukum tersebut dengan kabar dari satu orang. Seandainya kabar dari satu orang tidak cukup sebagai dalil untuk mengamalkan hukum, pastilah Nabi SAW menerangkan bahwa tidak pantas bagi mereka untuk mengambil hukum-hukum agama, kecuali yang telah disepakati oleh banyak orang dan itu lebih tejaga dari kedustaan.

Metode penyampaian melalui satu atau dua orang menjadi salah satu cara penyampaian surat-surat beliau kepada penguasa negeri lain. Cara ini juga beliau gunakan untuk menerangkan syariat Islam. Bahkan, Nabi sendiri merasa cukup dalam menyampaikan hukum-hukum Islam hanya dengan mengirim satu orang utusan. Oleh karenanya, seandainya syariat tidak bisa diterima dari satu orang  dan seandainya periwayatan tidak sempurna kecuali diriwayatkan banyak orang, niscaya Nabi tidak akan merasa cukup hanya dengan mengutus satu orang untuk mengabarkan ajaran beliau dan menjelaskan syariat Islam.

Kami akan mengutipkan beberapa fakta pada masa Rasulullah terkait diterimanya kabar meski dibawa oleh satu orang. Imam Syafi’i telah mengemukakan banya fakta itu, diantaranya adalah:

  • Rasulullah adalah orang yang telah diturunkan kepadanya al-Qur’an. Beliau menerima wahyu yang memerintahkannya untuk menghadap ka’bah. Itu terjadi ketika para sahabat sedang menghadap Baitul Maqdis di masjid Quba dalam shalat Subuh, lalu datanglah kepada mereka seorang pembawa berita yang mengabarkan kepada mereka ayat al-Qur’an yang telah turun. Mereka pun berputar untuk menghadap ka’bah. Orang-orang yang shalat di masjid Quba’ pada waktu itu adalah orang-orang terdahulu dari kaum Anshar dan para ahli fikihnya. Mereka tentu tidak akan mengamalkan perintah yang hanya dibawa oleh satu orang, kecuali karena ilmu bahwa riwayat dari satu orang bisa digunakan sebagai hujjah. Rasulullah adalah manusia yang jujur. Seandainya apa yang dilakukan oleh para sahabat waktu itu termasuk perbuatan yang tidak boleh, karena mengamalkan berita yang hanya dibawa oleh satu orang, niscaya Rasulullah akan mengatakan kepada mereka,” Kalian tidak perlu merubah arah kiblat menghadap ka’bah, kecuali setelah adanya ilmu yang disertai hujjah berdasarkan berita yang dibawa oleh orang banyak, lebih dari satu orang.”
  • Imam Syafi’i meriwayatkan dari Anas, bahwa is berkata, “Aku telah memberi minum Abu Thalhah, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Ubai bin Ka’ab minuman yang berasal dari perasan anggur. lalu datanglah kepada mereka seorang pendatang kemudian berkata, ‘Sesungguhnya khamr telah diharamkan.’ Maka Abu Thalhah berkata, ‘Bangunlah wahai Anas dan pecahkanlah guci-guci itu.’ Lalu aku berdiri mengambil palu. Aku memukul guci-guci itu pada bagian bawahnya sampai pecah. Para sahabat yang disebutkan di atas memiliki ilmu dan kedudukan di sisi Nabi. Mereka juga termasuk para sahabat istimewa disisi Nabi yang tidak diingkari oleh seorang ulama pun. Dan sebelumnya, minuman itu halal bagi mereka, lalu datanglah seorang pemberi kabar dan mengabarkan kepada mereka akan keharaman khamr. Kemudian Abu Thalhah memerintahkan untuk menghancurkan guci. Tidak ada ucapan-ucapan yang keluar dari lisan mereka, ‘Kami tetap menghalalkannya hingga kami menemui Rasulullah, karena kedekatan beliau dengan kita, atau sampai kami mendengar berita keharaman khamr ini dari orang banyak.‘ Ini terjadi karena yang mereka tumpahkan bukanlah sesuatu yang halal. Seandainya yang mereka lakukan itu tidak benar, karena hanya berdasarkan kabar yang dibawa satu orang saja, pastilah Nabi akan melarang mereka. Akan tetapi beliau tidak melakukannya.
  • Nabi pernah mengutus Ali bin Abi Thalib untuk pergi ke Mina dan membacakan kepada mereka surat at-Taubah. Rasulullah tidak akan mengutus seseorang untuk membawa urusan, kecuali apa yang dibawa oleh utusan tersebut bisa dijadikan hujjah oleh mereka yang mendengarnya. Dan berita dari Rasulullah yang hanya dibawa oleh seorang utusan saja, itu boleh diterima.
  • Nabi telah membagi-bagi dan menyebarkan para gubernur ke berbagai wilayah. Namun tidak ada seorang pun di masing-masing wilayah yang mendatangi para gubernur itu kemudian mengatakan, “Kamu seorang diri. Dia tidak berhak mengatur kita selama kita tidak mendengar langsung Rasulullah mengatakan bahwa dia berkuasa atas kita, atau datang kepada kita orang banyak yang menyampaikan kabar tentang pengangkatannya sebagai gubernur atau kabar tentang hal itu terkenal atau yang menyampaikannya kepada kita lebih dari satu orang.” Dan perbuatan Nabi adalah hujjah yang tidak ada hujjah lagi di belakangnya.

Ini semua merupakan kabar-kabar yang periwayatannya mengalir deras lagi terkenal. Riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi juga menetapkan (mengakui) kaum Muslimin atas pengambilan kabar mereka dari satu orang, sedangkan beliau di dalam menyampaikannya, cukup hanya dengan mengirim satu orang.

Sumber:

Buku “Biografi Empat Imam Mazhab” karya Abdul Aziz Asy-Syinawi, penerbit Beirut Publishing, hal 590-592.

Leave a comment

Polemik Memendekkan Tsaub Di Atas Mata Kaki

Untuk berhasil memahami as-Sunnah secara benar, kita harus menghimpun semua hadis sahih yang berkaitan dengan suatu tema tertentu. Kemudian mengembalikan kandungannya yang mutasyabih kepada yang muhkam, mengaitkan yang muthlaq dengan yang muqayyad dan menafsirkan yang ‘am dengan yang khash. Dengan cara itu, dapatlah dimengerti maksudnya dengan lebih jelas dan tidak dipertentangkan antara hadis yang satu dengan yang lainnya. Dan sebagaimana telah ditetapkan bersama, bahwa as-Sunnah menafsirkan al-Qur’an dan menjelaskan makna-maknanya; dalam arti bahwa as-Sunnah merinci apa yang dinyatakan oleh al-Qur’an secara garis besarnya saja, menafsirkan bagian-bagian yang kurang jelas, mengkhususkan apa yang disebutnya secara umum dan membatasi apa yang disebutnya secara lepas (muthlaq); maka sudah barang tentu, ketentuan-ketentuan seperti itu harus pula diterapkan antara hadis yang satu dengan yang lainnya. Ambillah sebagai misal, hadis-hadis yang berkenaan dengan larangan “mengenakan sarung sampai di bawah mata kaki”, yang mengandung ancaman cukup keras terhadap pelakunya. Yaitu hadis-hadis yang dijadikan sandaran oleh sejumlah pemuda yang amat bersemangat, untuk menunjukkan kritik yang tajam terhadap siapa-siapa yang tidak memendekkan tsaub (baju gamis)-nya sehingga di atas mata kaki. Sedemikian bersemangatnya mereka, sehingga hampir-hampir menjadikan masalah memendekkan tsaub ini, sebagai syiar Islam terpenting, atau kewajiban yang mahaagung. Dan apabila menyaksikan seorang ‘alim atau da’i Muslim yang tidak memendekkan tsaubnya, seperti yang telah mereka lakukan, maka mereka akan mencibirnya dalam hati atau adakalanya menuduhnya secara terang-terangan sebagai orang yang “kurang beragama”! Padahal, seandainya mereka mau mengkaji sejumlah hadis yang berkenaan dengan masalah ini, lalu menghimpun antara yang satu dengan yang lainnya, sesuai dengan tuntunan agama Islam kepada para pengikutnya dalam soal-soal yang menyangkut kebiasaan hidup sehari-hari, niscaya mereka akan mengetahui apa sebenarnya yanh dimaksud oleh hadis-hadis seperti itu. Dan sebagai akibatnya, mereka akan mengurangi ketegaran sikap mereka dan tidak menyimpang terlalu jauh dari kebenaran, serta tidak akan mempersempit sesuatu yang sebetulnya telah dilapangkan oleh Allah SWT bagi manusia. Perhatikanlah hadis yang dirawikan oleh Muslim dari Abu Dzar r.a. bahwa Nabi saw pernah bersabda: “Tiga jenis manusia, yang kelak, pada hari kiamat, tidak akan diajak bicara oleh Allah: (1) seorang mannan (pemberi) yang tidak memberi sesuatu kecuali untuk diungkit-ungkit; (2) seorang pedagang yang berusaha melariskan barang dagangannya dengan mengucapkan sumpah-sumpah bohong; dan (3) seorang yang membiarkan sarungnya terjulur sampai di bawah kedua mata kakinya.” (HR. Muslim) Dalam riwayat lainnya, juga dari Abu Dzar: “Tiga jenis manusia, yang kelak pada hari kiamat, tidak diajak bicara oleh Allah, tidak dipandang oleh-Nya, tidak ditazkiah oleh-Nya, dan bagi mereka tersedia azab yang pedih.” (Rasulullah saw mengulangi sabda beliau itu tiga kali, sehingga Abu Dzar berkata: ‘Sungguh mereka itu adalah manusia-manusia gagal dan merugi! Siapa mereka itu, ya Rasulullah?’ Maka jawab beliau): “Orang yang membiarkan sarungnya terjulur sampai ke bawah mata kaki; orang yang memberi sesuatu untuk kemudian diungkit-ungkit; dan pedagang yang melariskan barang dagangannya dengan bersumpah bohong.” (HR. Muslim) Kalau begitu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan ungkapan “orang yang menjulurkan sarung sampai ke bawah mata kaki”? Apakah mencakup siapa saja yang memanjangkan sarungnya, walaupun hal itu semata-mata karena kebiasaan yang berlaku di kalangan masyarakat lingkungannya dan tanpa maksud menyombongkan diri? Mungkin saja hal itu didukung oleh hadis yang dirawikan dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Hurairah: “Sarung yang di bawah mata kaki akan berada di neraka.” Yang dimaksud dengan “sarung” dalam hadia itu, ialah “kaki” seseorang yang sarungnya terjulur sampai di bawah mata kakinya. Ia akan dimasukkan ke neraka, sebagai hukuman atas perbuatannya. Akan tetapi, bagi orang yang sempat membaca semua hadis yang berkenaan dengan masalah ini akan mengetahui apa yang ditarjihkan oleh an-Nawawi, Ibnu Hajar dan lain-lainnya, bahwa yang dimaksud di sini adalah sikap sombong yang menjadi motivasi orang yang menjulurkan sarungnya. Itulah yang diancam dengan hukuman yang keras. Untuk itu, mari kita baca hadis-hadis shahih yang dirawikan berkenaan dengan hal ini. Telah dirawikan oleh Bukhari dalam bab “Barangsiapa Menyeret Sarungnya Bukan Karena Sombong”, sebuah hadis riwayat Abdullah bin Umar, dari Nabi saw, katanya: “Barangsiapa menyeret sarungnya (yakni menjulurkannya sampai menyentuh atau hampir menyentuh tanah) karena sombong, maka Allah tidak akan memandang kepadanya pada hari kiamat.” Abu Bakar berkata kepada beliau: “Ya Rasulullah salah satu sisi sarungku selalu terjulur ke bawah, kecuali aku sering-sering membetulkan letaknya.” Nabi saw berkata kepadanya: “Engkau tidak termasuk orang-orang yang melakukannya karena kesombongan.” Al-Bukhari juga merawikan dalam bab yang sama, dari Abu Bakrah, katanya: “Kami sedang bersama Rasulullah ketika terjadi gerhana matahari. Beliau berdiri lalu berjalan menuju masjid sambil menyeret sarungnya karena tergesa-gesa ….” Dan diriwayatkan pula oleh Bukhari dalam bab “Orang yang Menyeret Sarungnya Karena Sombong”, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Allah SWT tidak akan memandang kepada siapa yang menyeret sarungnya karena kesombongan.” Dan dari Abu Hurairah pula, bahwa Nabi saw bersabda: “Seorang laki-laki sedang berjalan dengan berpakaian amat mewah yang membuat dirinya sendiri merasa kagum, sementara rambutnya tersisir rapi, ketika tiba-tiba ia ditelan oleh longsoran tanah. Maka ia pun terus-menerus berteriak ketakutan sampai hari kiamat.” Dan diriwayatkan oleh Ibn Umar dan juga dari Abu Hurairah: “Seorang laki-laki sedang berjalan sambil menyeret sarungnya, ketika tiba-tiba ditelan longsoran tanah, membuatnya terus-menerus berteriak ketakutan didalamnya sampai hari kiamat.” Muslim telah merawikan hadis dari Abu Hurairah ini dan sebelumnya. Dan juga yang bersumber dari Ibn Umar, melalui beberapa jalur, diantaranya: “Barangsiapa menyeret sarungnya, tidak ada maksudnya selain untuk membanggakan diri, maka Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat.” Dari riwayat tersebut, secara jelas Nabi saw menekankan soal “membanggakan diri” sebagai satu-satunya alasan. Dengan demikian, tak ada ruang bagi siapa pun untuk menakwilkannya. An-Nawawi dikenal sebagai seorang tokoh yang tidak suka mempermudah, bahkan ia cenderung memilih penilaian yang lebih ketat dan lebih berhati-hati. Ketika menguraikan hadis tentang “orang yang menjulurkan sarungnya”, ia berkata: “Adapun yang dimaksud dalam sabda Nabi saw sebagai “orang yang menjulurkan sarungnya” adalah orang yang melakukannya sehingga sarungnya itu menyentuh atau hampir menyentuh tanah, sambil menyeretnya dengan sikap sombong. Makna tersebut dapat diketahui dari hadis lainnya yang berbunyi: ‘Allah tidak akan memandang kepada orang yang menyeret tsaubnya dengan maksud menyombongkan diri.’ Adanya keterangan tentang sikap menyombongkan diri, membuat lingkup ancaman keras terhadapnya terbatas hanya apabila hal itu dilakukan demi menunjukkan kesombongan. Buktinya, Rasulullah saw mengizinkannya bagi Abu Bakar dengan ucapan beliau: ‘Engkau tidak termasuk mereka.’ Sebab, kalaupun ia juga ‘menyeret sarungnya’, maka hal itu tidak disertai dengan sikap menyombongkan diri.” Dan telah berkata al-Hafizh Ibn Hajar dalam Syarh-nya atas hadis-hadis riwayat Bukhari yang berisi ancaman terhada orang-orang yang menjulurkan sarung atau menyeret baju gamisnya: “Dalam hadis-hadis ini, ditegaskan bahwa menjulurkan sarung (sampai ke bawah mata kaki) karena ingin menyombong, termasuk dosa besar. Dan jika hal itu bukan karena kesombongan pun, maka tetap saja hal itu haram menurut pengertian zahir hadis-hadis itu. Tetapi mengingat adanya keterangan tambahan tentang sikap sombong dari mereka yang melakukannya, maka dapat disimpulkan bahwa perbuatan menjulurkan sarung atau menyeretnya, tidaklah haram sepanjang tidak disertai sikap menyombong.” Dan telah berkata al-Hafizh al-Faqih Ibn ‘Abd al-Bar: “Yang dapat dipahami dari hadis-hadis tersebut ialah, apabila perbuatan ‘menyeret’ itu bukan karena kesombongan, maka ancaman terhadapnya itu tidak berlaku. Walaupun pada dasarnya perbuatan ‘menyeret’ gamis atau jenis pakaian lainnya, tetap tercela dalam keadaan apapun.” Masih ada lagi yang menguatkan pemahaman seperti ini, yakni membatasi perbuatan ‘menjulurkan sarung’ yang terkena ancaman, hanya apabila dilakukan karena kesombongan semata-mata. Hal itu ialah kenyataan bahwa ancaman dalam hadis-hadis itu merupakan ancaman amat keras. Sampai-sampai menjadikan orang seperti itu, termasuk tiga jenis manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak dipandang dan tidak ditazkiah oleh-Nya serta disediakan azab yang pedih bagi mereka! Dan sampai-sampai Nabi saw mengulangi ancaman itu sebanyak tiga kali, sehingga Abu Dzar merasa ketakutan dan berkata: “Sungguh mereka telah gagal dan sangat merugi! Siapakah mereka ya Rasulullah?” Semua itu menunjukkan bahwa perbuatan mereka itu, termasuk dosa-dosa besar yang sangat terlarang dan mendatangkan kebinasaan. Dan itu tidak akan berlaku kecuali pada hal-hal yang berkaitan dengan “kebutuhan-kebutuhan mendasar” yang dijamin pelaksanaan dan keselamatannya oleh syariat, yakni yang berkenaan dengan urusan agama, jiwa, akal, kehormatan, nasab dan harta; dan itulah tujuan-tujuan pokok syariat Islam. Adapun perbuatan memendekkan sarung atau baju gamis adalah termasuk estetika dan berkaitan dengan kesopanan pergaulan yang dengannya hidup ini menjadi indah, dengan cita rasa yang tinggi dan budi pekerti yang luhur. Sedangkan memanjangkannya atau menjulurkannya — tanpa suatu tujuan yang tercela — paling-paling hanya termasuk hal yang makruh (tak disukai). Karena itu, yang sangat dipentingkan oleh agama mengenai ini dan yang ditujukan kepadanya perhatian terbesar adalah niat serta motivasi yang berada di balik suatu perbuatan lahiriah. Dan yang sangat ingin ditentang di sini olehnya adalah kesombongan, keangkuhan, kepongahan, kebanggaan diri dan sebagainya yang semua itu termasuk penyakit-penyakit hati dan penyimpangan kejiwaan yang tak seorang pun akan masuk surga apabila di dalam dirinya bersemayam perasaan seperti itu walaupun hanya sebesar zarrah. Itulah yang sangat menguatkan perlunya membatasi ancaman keras yang ditujukan terhadap perbuatan menjulurkan sarung semata-mata apabila hal itu bermotivasi kesombongan dan kebanggaan diri saja sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis lainnya. Masih ada lagi hal lain di samping apa yang telah kami kemukakan di atas. Yaitu bahwa urusan pakaian, potongan dan bentuknya berkaitan dengan kebiasaan dan adat istiadat manusia yang seringkali berlainan sesuai dengan perbedaan iklim antara panas dan dingin, juga antara yang kaya dan miskin, yang kuat dan yang lemah, jenis pekerjaan, tingkat kesejahteraan hidup serta pelbagai pengaruh dan latar belakang lainnya. Dalam hal-hal seperti ini, syariat senantiasa bersikap lunak dan tidak ikut campur kecuali dalam batas-batas tertentu, demi mencegah timbulnya penonjolan kemewahan dan kemubaziran dalam kehidupan lahiriah ataupun kehendak menyombongkan diri yang bersemayam di dalam hati seseorang serta dalam beberapa hal seperti itu yang telah diketahui secara rinci. Berkaitan dengan hal ini, al-Bukhari pada bab “Pakaian” dalam Shahihnya telah menyediakan pasal yang khusus tentang firman Allah SWT: “Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya …?” (al-A’raf: 32). Demikian pula Nabi saw telah bersabda: “Silakan kalian makan, minum, berpakaian dan bersedekah, tetapi jangan berlebih-lebihan dan jangan pula demi kesombongan.” Dan telah berkata Ibn Abbas ra: “Makanlah makanan yang kau ingini, kenakanlah pakaian yang kau ingini, selama kau menghindari dua hal: pemborosan dan keangkuhan.” Ibn Hajar mengutip ucapan salah seorang gurunya, al-Hafizh al-‘Iraqi dalam Syarh Tirmidzi: “Pakaian yang sangat panjang sehingga menyentuh tanah adalah termasuk kesombongan dan hukumnya adalah haram. Dan sekiranya dinyatakan tentang haramnya semua pakaian yang dipanjangkan lebih daripada ukuran yang biasa dikenakan orang, maka pernyataan itu tidak jauh dari kebenaran. Akan tetapi manusia di zaman ini telah menciptakan berbagai aturan dalam memanjangkannya. Sehingga setiap kelompok masyarakat mempunyai tanda-tanda khusus yang menunjukkan identitas mereka. Maka apabila hal tersebut dilakukan demi kesombongan tentu hukumnya haram. Tetapi yang hanya mengikuti adat kebiasaan semata-mata tidaklah dianggap haram. Kecuali yang panjangnya sedemikian rupa sehingga menyentuh tanah dan menyebabkan orang berjalan sambil menyeretnya. Al-Qadhi ‘Iyadh mengutip dari sebagian ulama bahwa mereka tidak menyukai pakaian yang panjangnya melebihi kebiasaan, juga kebiasaan berpakaian yang sangat panjang atau sangat lebar. Berdasarkan hal tersebut di atas, apa yang telah menjadi adat kebiasaan harus pula diperhitungkan sebagaimana dinyatakan oleh al-Hafizh al-‘Iraqi. Sebab adakalanya suatu perbuatan yang menyimpang dari kebiasaan umum mungkin justru menjadikan pelakunya makin terkenal. Sedangkan cara berpakaian yang sengaja dimaksudkan untuk tujuan seperti itu adalah tercela pula. Maka yang paling baik adalah sikap yang tengah-tengah. Walaupun demikian, sekiranya ada orang yang memendekkan tsaubnya demi mengikuti as-Sunnah dan menjauhkan diri dari tuduhan hendak menyombong atau demi menghindar dari perbedaan pendapat para ulama ataupun ingin memilih jalan yang lebih selamat maka Insya Allah ia akan beroleh pahala juga. Tetapi dengan syarat, ia tidak boleh memaksa orang lain melakukan seperti dirinya sendiri. Dan juga tidak boleh bertindak keterlaluan dalam mengkritik orang yang tidak melakukannya; yang memercayai pendapat para imam dan ahli tahkik lain yang telah kami sebutkan sebelum ini. Sebab setiap mujtahid akan beroleh bagiannya dan setiap orang akan dinilai sesuai dengan niatnya. Mencukupkan diri dengan pengertian lahiriah (zahir) suatu hadis saja tanpa memperhitungkan hadis-hadis lainnya serta nash-nash lain yang berkaitan dengan topik tertentu; seringkali menjerumuskan orang ke dalam kesalahan dan menjauhkannya dari kebenaran serta maksud sebenarnya dari konteks hadis tersebut. Sumber: Buku “Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw” karangan Dr. Yusuf Qardhawi penerbit Kharisma, 1993 hal. 106-113.

Leave a comment

Pendapat Ibnu Taimiyah tentang Penggunaan Hadis Dha’if untuk Fadhail Amal

Pendapat Ibnu Taimiyah tentang Penggunaan Hadis Dha’if untuk Fadhail Amal Apa yang dikatakan oleh para ulama tentang dibolehkannya menggunakan hadis-hadis dha’if untuk fadhail amal, tidaklah berarti menetapkan disunnahkannya sesuatu berdasarkan hadis yang seharusnya tidak boleh dijadikan hujjah. Sebab, menetapkan disunnahkannya sesuatu adalah termasuk suatu hukum syar’i dan karena itu, tidak berlaku kecuali dengan suatu dalil syar’i pula. Dan siapa saja yang menyatakan bahwa Allah SWT menyukai suatu perbuatan tertentu, tanpa mengemukakan dengan suatu dalil syar’i maka ia telah mensyariatkan sesuatu yang tidak ada izin Allah tentangnya. Sama halnya seandainya ia menghukumkan tentang halal ataupun haramnya sesuatu (tanpa dalil syar’i). Karena itu, para ulama berbeda pendapat dalam selainnya. Bahkan hal itu merupakan dasar agama yang disyariatkan.

Adapun yang dimaksud oleh para ulama mengenai hal itu, adalah dalam kaitannya dengan suatu perbuatan yang memang telah dinyatakan sebagai disukai atau dibenci oleh Allah berdasarkan nash atau ijma‘. Seperti tentang disukainya tilawat Al-Qur’an, membaca tasbih, berdoa, bersedekah, memerdekakan budak dan berbuat kebajikan kepada manusia. Atau tentang tidak disukainya perbuatan berdusta, berkhianat dan sebagainya. Berdasarkan hal itu, apabila diriwayatkan suatu hadis tentang keutamaan beberapa perbuatan yang mustahab serta pahala yang disediakan baginya atau tentang tidak disukainya perbuatan tertentu serta hukuman yang disediakan baginya, sedangkan besarnya pahala dan hukumannya masing-masing, dinyatakan dalam suatu hadis yang tidak kita ketahui bahwa ia adalah maudhu’ maka dalam hal ini, boleh saja meriwayatkannya atau mengamalkannya. Dalam arti, bahwa orang (boleh saja) mengharapkan pahala tersebut atau merasa takut akan hukuman seperti itu. Sama halnya seperti seorang yang sudah mengetahui sebelumnya bahwa perdagangan adalah suatu usaha menguntungkan, tetapi kini ia diberitahu bahwa keuntungannya amat sangat banyak. Maka apabila keterangan tersebut memang benar, ia akan memperoleh manfaat darinya. Tetapi apabila keterangan tersebut ternyata bohong, ia tidak akan rugi karenanya.

Misalnya, berbicara tentang “targhib wa tarhib” dengan menggunakan hadis-hadis Israiliyat, mimpi-mimpi, ucapan para salaf dan ulama, peristiwa-peristiwa yang dialami oleh ulama tertentu dan sebagainya. Semua itu, yang tidak boleh dijadikan dasar bagi penetapan suatu hukum syar’i apapun, baik mustahab ataupun lainnya, tetapi boleh disebutkan dalam rangka targhib dan tarhib (memberikan harapan atau mempertakuti dengan ancaman).

Berdasarkan hal itu, apa saja yang telah diketahui kebaikan atau keburukannya dengan adanya dalil-dalik syariat, maka (hadis-hadis) seperti itu, (bisa saja) membawa manfaat dan tidak mengakibatkan suatu mudharat, baik dalam keadaannya benar-benar sebagai hadis ataupun tidak.

Adapun yang telah jelas diketahui sebagai hadis maudhu‘, maka tidak dibenarkan memberi perhatian kepadanya. Sebab, kebohongan tidak akan membawa manfaat apapun. Selanjutnya, jika telah diketahui dengan pasti bahwa ia adalah hadis shahih, maka ia dapat dijadikan dasar bagi penetapan hukum. Dan jika mengandung kedua kemungkinan (shahih dan maudhu‘) bolehlah diriwayatkan, mengingat adanya kemungkinan kesahihannya, disamping tidak adanya mudharat sekiranya ia adalah hasil kebohongan. Adapun Ahmad bin Hanbal hanyalah mengatakan: “Apabila yang dibicarakan adalah tentang targhib dan tarhib, maka kami akan mempermudah mengenai (persyaratannya) sanadnya.” Artinya, bahwa kami akan merawikannya (tetap) dengan menyebutkan sanadnya, walaupun para perawinya tidak termasuk orang-orang tsiqah (yang dipercayai) dan yang dapat dijadikan hujjah. Demikian pula pernyataan sebagian dari mereka, bahwa hadis-hadis dha’if boleh dijadikan dasar untuk amal-amal kebajikan (fadhail amal); yang dimaksud dengan itu adalah amalan-amalan yang memang dinilai sebagai amal shaleh (berdasarkan dalil-dalil syar’i) seperti tilawat Al-Qur’an dan zikir serta menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan buruk.

Dan apabila hadis-hadis dha’if mengandung keterangan tentang kadar atau batasan tertentu, seperti shalat pada waktu tertentu dan dengan bacaan tertentu atau dalam bentuk tertentu, maka tidak dibenarkan meriwayatkannya. Sebab soal disukainya hal-hal yang ditentukan tersebut tidak berdasarkan dalil syar’i. Lain halnya jika seandainya diriwayatkan seperti ini: “Barang siapa memasuki pasar lalu membaca: ‘La ilaha illallah‘ maka ia akan memperoleh pahala … begini dan begini …” (Hal itu boleh saja) mengingat bahwa yang demikian itu termasuk dzikrullah diantara orang-orang yang lalai”, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang cukup dikenal: “Orang yang berzikir kepada Allah diantara orang-orang yang lalai, seperti pohon yang hijau di antara pohon-pohon yang kering.” Adapun sebutan tentang kadar pahala yang diriwayatkan berkaitan dengannya, maka tidak ada mudharatnya, baik itu memang benar ataupun tidak.

Kesimpulannya, hadis-hadis yang tergolong seperti itu (dha’if) boleh diriwayatkan dan diterapkan dalam targhib dan tarhib, tetapi tidak boleh untuk menetapkan tentang hukum mustahabnya. Kemudian dari itu, keyakinan akan kadar besarnya pahala atau ancaman pada perbuatan-perbuatan tersebut, haruslah berdasarkan dalil syar’i.

Sumber:

Buku “Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw.” karya Dr. Yusuf Qardhawi penerbit Karisma, 1993 hal. 78-80

Leave a comment

Jenis-Jenis Kitab Hadis

Jenis-Jenis Kitab Hadis Kitab-kitab hadis terbagi ke dalam beberapa bentuk dan jenis yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan dan fungsi disusunnya kitab tersebut. Berikut ini jenis-jenis kitab hadis yang digunakan oleh umat Islam.

1. Kitab Jami’

Kitab jami‘ adalah kitab yang menghimpun hadis-hadis berkenaan dengan bidang akidah, hukum, adab, tafsir, tarikh dan sejarah hidup. Kitab hadis Sahih al-Bukhari merupakan salah satu kitab yang digelari kitab jami‘. Sebuah kitab hadis disebut dengan jami’ bila mengandung sekurang-kurangnya 8 bidang yaitu: (1) akidah; (2) hukum; (3) sikap hidup orang-orang saleh; (4) adab; (5) tafsir; (6) tarikh; (7) al-fitan, yaitu fitnah-fitnah yang muncul di akhir zaman dan (8) manakib, yaitu pemaparan tentang biografi dan keistimewaan seseorang, seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, tabiin, Ahlul Bait dan istri-istri Rasulullah saw. Kitab-kitab hadis yang termasuk dalam kategori ini ialah Sahih al-Bukhari, Jami’ at-Tarmizi, Sahih Muslim, Misykat al-Masabih, Jami’ Sufyan as-Sauri, Jami’ Abdur Razzaq bin Hammam as-San’ani, Jami’ ad-Darimi dan lain-lain.

2. Kitab as-Sunan atau al-Ahkam

Kitab sunan adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan sistematika pembahasan fikih yang bermula dari bab thaharah, shalat dan seterusnya. Namun demikian, di dalam kitab sunan sendiri tidak hanya dimuat hukum-hukum normatif tetapi juga persoalan-persoalan lainnya. Contoh kitab-kitab yang termasuk kategori ini ialah Sunan an-Nasa’i, Sunan at-Tirmizi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abi Daud, Sunan ad-Duruqutni dan Sunan Abi Ali bin as-Sakan.

3. Kitab Musnad

Kitab musnad adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkan hadis. Biasanya dimulai dengan nama sahabat yang pertama kali masuk Islam atau disesuaikan dengan urutan abjad. Misalnya Imam Ahmad yang menulis musnad telah mendahulukan hadis-hadis Abu Bakar dari pada sahabat yang lain.

4. Kitab Mu’jam

Istilah mu’jam tidak hanya digunakan dalam ilmu hadis. Istilah ini kadang digunakan untuk disiplin ilmu keislaman lainnya. Secara bahasa, kata mu’jam bermakna kamus dan bukan bermakna penulisan hadis. Ada juga yang menyebut mu’jam itu sebagai kamus geografi yang menjelaskan geografi suatu tempat seperti Mu’jam al-Buldan oleh Yaqut al-Hamawi atau biografi seorang tokoh seperti al-Mu’jam fi Atar Muluk al-‘Ajam. Kitab mu’jam disusun berdasarkan tertib huruf abjad atau mengikuti susunan nama guru-guru mereka, baik nama asli maupun julukan, sesuai dengan tertib huruf abjad. Selain itu, mu’jam hanya mengumpulkan hadis-hadis Nabi saw sebanyak mungkin, tanpa mempertimbangkan kualitasnya. Kitab-kitab hadis yang termasuk dalam kategori ini ialah Mu’jam at-Tabrani, Mu’jam al-Kabir, Mu’jam as-Suyuti dan Mu’jam as-Sagir, Mu’jam Abi Bakar, Mu’jam Ibnu Mubarak dan sebagainya.

5. Kitab Rasail

Kitab rasail adalah kitab yang berisi hadis-hadis yang dikumpulkan berdasarkan suatu perkara atau tema tertentu, seperti Raf’u al-Yadain karya Iman Bukhari. Dalam kitab ini, Imam Bukhari mengemukakan hadis-hadis tentang mengangkat tangan tanpa membahas kedudukannya, apakah ada yang mansukh, syaz, mujmal atau lainnya. Contoh-contoh lainnya adalah kitab Juz an-Niyyah oleh Ibnu Abi ad-Dunya, Juz al-Qira’ah Khalfa al-Imam oleh al-Baihaqi, Juz Fadail Ahl al-Bait oleh Abu al-Husin al-Bazzar, Juz al-Munziri fi Man Gufira Lahu Ma Taqaddama min Zanbihi, Juz Asma’ al-Mudallisin dan Juz A’mal al-Yaum wa al-Lail.

6. Kitab Mustadrak

Kitab mustadrak adalah kitab hadis yang mengumpulkan hadis-hadis yang tidak disebutkan oleh pengarang sebelumnya, baik secara sengaja maupun tidak. Contohnya kitab Mustadrak al-Hakim yang diterbitkan sebanyak 4 jilid. Hadis-hadis dalam kitab ini dihimpun berdasarkan syarat-syarat yang digunakan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Kitab ini tidak boleh dibaca begitu saja, tetapi harus didampingi kitab takhrijnya yang ditulis oleh adz-Dzahabi. Diantara contoh kitab mustadrak yang lain adalah Mustadrak Hafiz Ahmad al-Maliki.

Sumber:

Buku “Mengenal Kitab-Kitab Hadis” karangan Dzulmani penerbit Pustaka Insan Madani, 2008

Leave a comment

Sunnah

Sunnah arti asalnya dalam bahasa adalah jalan, metode dan tradisi yang mencakup tradisi yang baik dan yang tidak baik. Dengan pengertian ini pula kata sunnah digunakan dalam berbagai ayat dan hadis. Sebagai misal dalam sebuah ayat disebutkan:

“…. dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” (Al-Ahzab: 62)

Sunnah dalam ayat ini juga bisa berarti undang-undang atau sistem. Dalam hadis Nabi saw disebutkan:

Siapa yang mentradisikan sebuah tradisi yang baik dalam Islam sehingga setelah wafatnya sunnah tersebut dilakukan oleh masyarakat, maka baginya akan dituliskan pahala seperti orang yang mengamalkannya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka…. ” (Shahih Muslim)

Adapun kata sunnah telah digunakan dalam berbagai cabang ilmu agama dan dalam beragam makna. Sebagai contoh, dalam istilah muhadditsin, sunnah diartikan sama dengan hadis, yang dapat digunakan untuk perkataan, perbuatan, taqrir dan sifat-sifat seorang maksum. Makna sunnah seperti ini juga diterima oleh ulama ushul fikih. Mereka menjadikan sunnah sebagai sumber rujukan kedua setelah Al-Qur’an untuk mendapatkan hukum-hukum Islam.

Sementara dalam istilah fukaha, kata sunnah kadang diposisikan berlawanan dengan bid’ah, dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang mempunyai akar dalam agama dan kadang diposisikan berhadapan dengan faridhah dan dipakai untuk menunjukkan hal-hal yang mustahab.

Sepertinya kata “sunnah” meski digunakan untuk menunjukkan perkataan dan perbuatan maksum, namun dalam penggunaannya kata ini lebih sering dipakai untuk menujukkan perbuatan dan taqrir maksum (daripada untuk menunjukkan perkataan). Sebagaimana yang digunakan oleh Imam Ali dalam masalah khilafah, ketika beliau berkata, “Aku akan berbuat (menjalankan pemerintahan ini) berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasulullah saw.” Maksud beliau adalah mengikuti sirah amali Rasulullah dalam segala urusan, termasuk didalamnya bagaimana Rasul saw melakukan pembagian baitul mal. Makna sunnah ini lebih sedikit cakupannya daripada hadis.
Dengan memperhatikan sumber-sumber dalam sebagian riwayat, makna yang lebih khusus ini diterima dikalangan ulama Islam. Perlu disebutkan, sebagian peneliti memperluas pengertian sunnah sehingga mencakup juga sirah para sahabat nabi, meski pandangan ini tidak benar menurut ulama Syi’ah.

Sumber:
Buku “Sejarah Hadis” hal. 32-34 karangan Dr. Majid Ma’arif penerbit Nurul al-Huda 2012

Leave a comment

Hadis Shahih

Hadis Shahih

Shahih menurut bahasa berarti sehat, kebalikan dari sakit. Sedang menurut istilah ialah hadis yang muttasil (bersambung) sanadnya, diriwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabit, tidak syadz dan tidak pula terdapat illat (cacat) yang merusak.

Implementasi definisi tersebut ialah, bahwa suatu hadis dikatakan shahih apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Mutassil sanadnya

Sanad dari matan hadis itu rawi-rawinya tidak terputus melainkan bersambung dari permulaannya sampai pada akhir sanad. Oleh karena itu, hadis mursal, munqathi’, mu’dhal, dan muallaq tidak termasuk dalam kategori hadis yang muttasil sanadnya.

2. Rawi-rawinya adil

Adil adalah perangai yang senantiasa menunjukkan pribadi yang taqwa dan muru’ah (menjauhkan diri dari sifat atau tingkah laku yang tidak pantas untuk dilakukan). Yang dimaksud adil disini adalah adil dalam hal meriwayatkan hadis yaitu orang Islam yang mukallaf (cakap bertindak hukum) yang selamat dari fasiq dan sifat-sifat yang rendah.
Oleh karena itu, orang kafir, fasiq, gila dan orang yang tidak pernah dikenal, tidak termasuk orang yang adil. Sedangkan orang perempuan,  budak dan anak yang sudah mumayyiz bisa digolongkan orang yang adil apabila memenuhi kriteria tersebut.

3. Rawi-rawinya sempurna kedhabitannya

Yang dimaksud sempurna kedhabitannya ialah kedhabitannya pada tingkat yang tinggi. Dalam hal ini, dhabit ada 2 macam yaitu:

A. Dhabit hati
Seseorang dikatakan dhabit hati apabila dia mampu menghafal setiap hadis yang didengarnya dan sewaktu-waktu dia bisa mengutarakan atau menyampaikannya.

B. Dhabit kitab
Seseorang dikatakan dhabit kitab apabila setiap hadis yang dia riwayatkan tertulis dalam kitabnya yang sudah ditashih (dicek kebenarannya) dan selalu dijaga.

4. Tidak syadz

Yang dimaksud syadz disini ialah hadis yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang terpercaya itu tidak bertentangan denga hadis yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang tingkat dipercayanya lebih tinggi.

5. Tidak terdapat illat

Illat disini ialah cacat yang samar yang mengakibatkan hadis tersebut tidak dapat diterima.

Sumber:
Buku “Ilmu Ushul Hadis” karangan Prof. Dr. Muhammad Alawi al-Maliki hal. 52-53 penerbit Pustaka Pelajar

Leave a comment

Fungsi Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam

Fungsi Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam

Ditinjau dari segi fungsinya, sunnah mempunyai hubungan yang sangat kuat dan erat sekali dengan Al-Qur’an. Sunnah an-Nabawiyah mempunyai fungsi sebagai penafsir Al-Qur’an yang membuka rahasia-rahasia Al-Qur’an dan menjelaskan kehendak-kehendak Allah SWT dalam perintah dan hukum-hukum-Nya. Dan jika ditinjau dari segi dilalahnya (indeksial)nya terhadap hukum-hukum yang dikandung Al-Qur’an, baik secara global maupun rinci, status sunnah dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) macam yaitu:

1. Sebagai pengukuh (ta’kid) terhadap ayat-ayat Al-Qur’an

Sunnah dikaitkan sebagai pengukuh ayat-ayat Al-Qur’an apabila makna yang terkandung didalamnya cocok dengan makna yang terkandung dalam Al-Qur’an. Nabi saw bersabda:

Sesungguhnya Allah SWT memanjangkan kesempatan kepada orang-orang zalim, apabila Allah menghukumnya maka Allah tidak akan melepaskannya.”

Hadis tersebut cocok dengan firman Allah SWT:

Dan begitulah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri yang berbuat zalim.” (Huud: 102)

Hadis yang berfungsi sebagai pengukuh ayat-ayat Al-Qur’an jumlahnya banyak sekali, seperti hadis-hadis yang menunjukkan atas wajibnya shalat, zakat, haji, amal, berbuat baik, memberi maaf dan sebagainya.

2. Sebagai penjelas terhadap maksud ayat-ayat Al-Qur’an

Hadis dalam fungsi ini terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

a. Menjelaskan ayat-ayat mujmal

Hadis dalam fungsi ini diantaranya ialah hadis yang menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah dan hukum-hukumnya, dari segi praktiknya, syarat waktu dan tatacaranya, seperti masalah shalat dimana di dalam Al-Qur’an tidak disebutkan secara rinci tentang bilangan rakaat, waktu, syarat dan sebagainya. Tetapi semua itu dijelaskan oleh sunnah.

b. Membatasi lafadz yang masih muthlaq dari ayat-ayat Al-Qur’an

Hadis yang membatasi kemutlakan lafadz dari ayat Al-Qur’an ini ialah seperti hadis-hadis yang menjelaskan tentang lafadz al-Yad (tangan) yang terdapat dalam ayat Al-Qur’an:

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah kedua tangannya.” (al-Maidah: 38)

Bahwa yang dimaksud memotong tangan dalam ayat tersebut adalah tangan kanan dan pemotongannya adalah sampai pergelangan tangan, tidak sampai siku.

c. Mengkhususkan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum

Hadis dalam kategori ini ialah seperti hadis yang mengkhususkan makna zalim dalam firman Allah SWT:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.” (al-An’am: 82)

Bahwa yang dimaksud zalim pada ayat tersebut adalah menyekutukan Tuhan. Peristiwanya ialah sewaktu ayat tersebut turun, sebagian sahabat mengira bahwa yang dimaksud zalim pada ayat tersebut ialah zalim dalam arti umum, sehingga dia berucap,”Siapakah di antara kita yang tidak zalim? Kemudian Nabi saw menjawab,”Bukan itu yang dimaksud, tetapi yang dimaksud zalim pada ayat itu ialah menyekutukan Tuhan (syirik).”

d. Menjelaskan makna lafadz yang masih kabur

Diantaranya ialah seperti hadis yang menjelaskan makna dua lafadz “al-Khaithu” dalam firman Alah SWT:

Dan makan minumlah kamu hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar.” (al-Baqarah: 187)

Peristiwanya ialah sebagian sahabat ada yang mengira bahwa yang dimaksud benang dalam ayat itu ialah tali yang berwarna hitam dan putih. Kemudian Nabi saw bersabda bahwa yang dimaksud ialah terangnya siang dan gelapnya malam.

3. Menetapkan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an

Contoh sunnah semacam ini banyak sekali seperti hadis-hadis yang menetapkan hukum haram mengawini seorang perempuan beserta bibinya, riba fadhal dan makan daging himar piaraan.

4. Menghapus ketentuan hukum dalam Al-Qur’an, diantaranya ialah seperti hadis:

Tidak boleh berwasiat kepada ahli waris.”

Hadis tersebut menghapus ketentuan hukum dalam Al-Qur’an tentang diperbolehkannya wasiat kepada ahli waris, baik kepada kedua orang tua atau kerabat-kerabat waris lainnya, sebagaimana firman Allah SWT:

Diwajibkan atas kamu apabila seorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapa dan karib kerabatnya secara ma’ruf (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 180)

Dari buku “Ilmu Ushul Hadis” (al-Manhalu al-Lathiifuu fi Ushuuli al-Hadisi al-Syarifi) karangan Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki terbitan Pustaka Pelajar hal. 8-13

Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 622 other followers