Archive for category Ilmu Agama

Toleransi ala Imam Malik

Coba kita lihat bagaimana sikap apresiatif dan toleran Imam Malik ketika khalifah pada masanya memintanya untuk menjadikan kitabnya yang berjudul al-Muwaththa’ sebagai rujukan bagi seluruh umat Islam. Imam Malik mengisahkan bahwa ketika Khalifah al-Manshur berhaji, dia mengundangku ke tempatnya. Aku pun mendatanginya dan berbincang-bincang. Dia berkata, “Saya ingin agar buku yang kau tulis ini –al-Muwaththa’- disalin menjadi banyak naskah dan akan kukirim ke setiap kota kaum muslim, sehingga mereka dapat mempelajari dan mengamalkan serta meninggalkan semua riwayat hadis selain yang ada di buku ini. Sebab, menurutku akar ilmu itu terdapat pada riwayat penduduk Madinah.” Aku berkata kepadanya, ” Ya Amir al-Mukminin, jangan lakukan hal seperti itu. dalam setiap masyarakat sudah berlaku berbagai pendapat. Mereka telah mendengar hadis-hadis. Mereka telah menyampaikan riwayat-riwayat. Setiap kaum telah mengambil dari pendahulunya dan sudah beramal berdasarkan itu. Jika anda mengubahnya dari apa yang mereka ketahui kepada apa yang tidak mereka ketahui, mereka akan menganggapnya sebagai kekafiran. Biarlah setiap negeri berpegang kepada ilmu ini, ambillah untuk dirimu saja. Para sahabat Rasulullah Saw. telah berikhtilaf pada hal-hal yang furu’ dan tersebar di berbagai penjuru. Semuanya benar.” Al-Manshur berkata, “Jika Anda menyetujuinya, sungguh aku akan memerintahkannya.”

Sumber:

Thabaqat al-Kabir, Ibn Sa’ad

Advertisements

Leave a comment

Kebijakan Umar atas Penerapan Hukum Potong Tangan

Salah satu kebijakan khalifah Umar bin Khatab yaitu dihentikan atau ditundanya hukum potong tangan bagi pencuri karena pencurian dilakukan pada saat masyarakat sedang dilanda paceklik (gagal panen). Padahal, Al-Qur’an sebagaimana diketahui dalam ayat 38 surat Al-Ma’idah menegaskan bahwa,”Lelaki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan, dan sebagai bagian dari siksa Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ayat di atas merupakan dasar hukum potong tangan bagi pencuri. Akan tetapi, mengapa Umar bin Khatab menghentikan atau menunda potong tangan bagi pencuri pada musim paceklik? Apakah keputusan itu bertentangan dengan ayat di atas?

Kalau dilihat secara tekstual, keputusan Khalifah Umar bin Khatab bertentangan dengan ayat di atas. Tetapi, jika dilihat secara kontekstual, justru keputusan Khalifah Umart ini sesuai dengan prinsip-prinsip universal Al-Qur’an, yaitu prinsip memelihara dan menyelamatkan jiwa manusia lebih utama daripada memenuhi tuntutan hukum. Sebab, khalifah Umar bukan menentang hukum potong tangan, melainkankan mempertimbangkan secara obyektif kondisi sosio-masyarakat yang tidak kondusif untuk melaksanakanhukum potong tangan tersebut. Argumen Umar didasarkan pada kenyataan bahwa boleh jadi orang yang mencuri itu terdesak oleh keadaan hidup yang teramat sulit sehingga dia terpaksa mencuri untuk mempertahankan hidup dan keluarganya; jika tidak, maka nyawa mereka akan melayang. Kalau kondisi sosialnya semacam ini, apakah Allah Yang Mahabijak itu tega membiarkan hamba-Nya yang mencuri dihukum dengan hukuman potong tangan, padahal mereka mencuri karena kelaparan?

Lebih dari itu, persoalan tangan mana dan batas mana tangan seorang pencuri harus dipotong, juga masih menjadi polemik. hadis Nabi pun tidak ada yang dapat dijadikan acuan tentang batasan jumlah barang curian yang mewajibkan ditegakkannya hukum potong tangan itu. Semua itu mencerminkan dilema-dilema hukum potong tangan itu sendiri. Adapun yang menjadi rujukan dalam soal ini adalah hasil ijtihad para ulama terdahulu belaka. Karena itu, mungkinkah hukum potong tangan ini dapat dipahami secara majazi?

Sumber:

Buku “Kapita Selekta Mozaik Islam: Ijtihad, Tafsir, dan Isu-Isu Kontemporer” karya Prof. Dr. Umar Shihab, hal 56-57, Penerbit Mizan Pustaka, cet. I, Oktober 2014

Leave a comment

Awal Keilmuan Imam Abu Hanifah

Di awal perjalanan hidupnya, Abu Hanifah tidak ingin menjadi seorang faqih, apalagi bercita-cita menjadi seorang pendiri mazhab tertentu dalam Islam. Awal perjalanan hidup sang Imam dimulai sebagai pedagang. sampai pada suatu hari, Imam Sya’bi memanggilnya. Sebab, ia melihat ada talenta besar pada diri Abu Hanifah. Imam Sya’bi bertanya,”Dengan siapa saja kau sering berinteraksi”Abu Hanifah menjawab,’Aku sering berinteraksi dengan orang-orang di pasar. ” Imam Sya’bi berkata,”Yang aku maksud bukan kegiatan di pasar, melainkan interaksi dengan para ulama. ” Abu Hanifah menjawab,”Aku jarang berinteraksi dengan ulama.’Sya’bi melanjutkan, “Jangan lupa :: Sering-seringlah belajar dan mengikuti pengajian para ulama. Sebab, aku melihat semangat dalam dirimu begitu tinggi. “Abu Hanifah berkata, “Kata-kata Sya’bi tersebut sangat membekas dalam hati. Setelah itu, aku meninggalkan aktivitas di pasar dan menggantinya dengan aktivitas keilmuan. Sungguh, Allah telah memberikan manfaat padaku melalui perkataannya.

Imam Abu Hanifah lantas memutuskan untuk konsentrasi sepenuhnya terhadap ilmu pengetahuan. Langkah pertama yang ia tempuh adalah menghafal al-Qur’an  qira’at Ashim, mengambil riwayat hadits, mempelajari ilmu bahasa Arab, kemudian mempelajari ilmu kalam (teologi), di mana Baghdad pada waktu itu sebagai pusat perkembangan ilmu ini.

Zufar bin Hudzail bercerita dalam riwayat yang disampaikan oleh al-Khathib al-Baghdadi melalui jalur periwayatan al-Khallal, dia berkata,”Aku mendengar Abu Hanifah berkata,’Aku mempelajari ilmu kalam sampai pada derajat yang sangat mahir. Kami biasanya mengadakan halaqah di dekat halaqah Hamad bin Abu Sulaiman. Suatu hari, ada seorang perempuan mendatangiku, lalu dia bertanya, ‘Seorang laki-laki mempunyai istri seorang budak, dia ingin menalaknya-menceraikannya. Berapa kali dia boleh menalaknya?’ Abu Hanifah berkata, ‘Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Lalu, aku menyuruhnya untuk bertanya ke Hamad. Setelah mendapat jawaban, aku suruh dia kembali lagi menemuiku.’Dia bertanya kepada Hamad. Hamad menjawab,’Suami menalaknya ketika dia sedang suci dari haid dan tidak digauli sebelumnya dengan satu kali talak. Setelah itu, dia meninggalkannya sampai dia mengalami haid dua kali. Jika sudah mandi besar dari haid yang kedua, dia boleh diperistri lagi.’

Setelah selesai, dia kembali kepadaku dan memberitahukan jawabannya. Aku berkata, ‘Aku tidak berkepentingan dengan ilmu kalam, seketika aku ambil sandal dan duduk dalam pengajian Hamad. Aku selalu mendengar masalah-masalah yang diajarkan oleh Hamad terus menghafalnya. Kemudian mengulanginya di esok hari, sehingga aku dapat menghafalnya dan mengoreksi kesalahan murid-murid yang lain. Hamad berkata, ‘Tidak ada yang boleh duduk di depan kecuali Abu Hanifah.’Abu Hanifah berkata, ‘Aku belajar kepadanya selama sepuluh tahun. Setelah itu, muncul keinginan dalam hati untuk meninggalkan halaqah Hamad dan membuat halaqah sendiri. Suatu hari, aku keluar malam-malam dan berniat melakukannya. Ketika masuk masjid, aku melihat Hamad dan muncul perasaan tidak enak dalam hati untuk meninggalkannya. Aku datang dan duduk di majelisnya. Pada malam itu datang berita kematian saudaranya di Bashrah, dia meninggalkan harta dan tidak memiliki ahli waris selain dirinya. Lantas dia memerintahkan, agar aku menggantikan dirinya mengajar. Pada waktu dia pergi, masalah-masalah yang belum pernah aku dengar darinya berdatangan. Aku menjawab dan menulisnya. Dua bulan ia pergi kemudian kembali lagi. Setelah ia datang, aku perlihatkan masalah-masalah yang ada selama ia pergi. Jumlahnya ada sekitar 6o masalah. Ia setuju dengan 4o jawaban dan sisanya ia tidak setuju. Setelah itu, aku bersumpah untuk tidak berpisah dari majelisnya sampai ia wafat.’Imam Abu Hanifah belajar kepada Hamad selama 18 tahun.

Dikutip dari buku “Biografi Imam Bukhari” karya Prof. Dr. Yahya Ismail, hal 221-222, penerbit Keira Publishing

Leave a comment

Periodisasi Kehidupan Imam Syafi’i

Periode pertama. Bermula dari pengajaran yang ia sampaikan di Masjidil Haram, sekembalinya ia dari Baghdad, hingga sembilan tahun setelahnya. Periodisasi seperti ini dilontarkan oleh Imam Abu Zahrah. Dalam periode ini, karya Imam Syafi ‘i yang berjudul ar-Risalah lahir. Kitab ushul fiqih pertama ini, lahir dari permintaan Abdurrahman bin Mahdi ketika dirinya meminta Imam Syafi’i untuk membuat sebuah kitab yang dapat menjelaskan makna al-Qur’an, mengumpulkan fan-fan hadits, legalitas ijmak, dan penjelasan tentang nasikh dan mansukh dalam al-Qur’an dan sunnah.

Periode kedua. Bermula dari kedatangan Imam Syafi’i ke Baghdad untuk kedua kalinya dengan membawa karya ilmiah pertamanya dalam bidang ushul fiqih atas permintaan ulama Baghdad. Imam Syafi’i menilai banyak perubahan yang terjadi dalam masalah furu’dan ushul. Hal ini mendorongnya menyebarkan ilmunya secara luas. Imam al- Karabisi berkata, “Kami tidak mengetahui kitab itu apa, sunnah itu apa, dan ijmak itu apa sampai kami mendengar perkataan Imam Syafi’i, ‘Al-Kitab, as-Sunnah, al-Ijmak‘. Mereka-ulama sebelumnya-sibuk dengan persoalan riwayat dan furu’sehingga mereka tersentak oleh perkataan Imam Syafi’i,’Terkadang Allah menyebutkan redaksi lafazh umum, tetapi yang dikehendaki adalah khusus menyebutkan redaksi khusus, tetapi yang dikehendaki adalah makna umum.’Mereka berkata, ‘Kami tidak mengetahuinya sampai mereka mendengar Imam Syafi’i berkata,’Allah telah berfirman,’Orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu.'(QS. Ali Imran [3] : 173). Yang dimaksud kata ‘orang-orang (an-nasy dalam ayat tersebut bukanlah orang Quraisy
secara keseluruhan, melainkan yang dimaksud adalah Abu Sufyan saja. ” Dalam firman-Nya,”Wahai Nabi Apabila kamu ceraikan istri-istrimu. ” (QS. Ath-Thalaq [65] 1). Redaksi”Wahai Nabi”adalah lafazh khash, tetapi yang dimaksud adalah lafazh’am. Mereka tidak mengetahui hal tersebut sampai Imam Syafi’i datang menjelaskannya. Periode ini dimulai tahun 195 H sebagaimana dikatakan oleh Imam Abu Zahrah- sampai tahun 198 H. pada periode ini, Imam Syafi’i mengetengahkan pendapat para fuqaha pada zamannya, pendapat para sahabat, dan pendapat para tabiin disertai ragam perbedaannya, seperti pendapat Ali bin Abu Thalib, lbnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, dan lain sebagainya. Setelah itu, ia juga mengetengahkan khilafiyah mazhab dalam mazhab Abu Hanifah dan Abu Laila dengan riwayat Abu Yusuf yang terkenal dengan nama perbedaan para ahli fiqih di Irak (lkhtilaf ‘Iraqiyyin)”, dan juga mengemukakan Sirah al-Waqidi, fiqih Auza’i, dan beberapa pendapat lain. Lebih dari itu, ia menerapkan masalah yang ada dengan kaidah dan ushul mazhab yang ia bangun, lalu memilih pendapat mana yang lebih dekat dengan ushul yang ia pakai atau meninggalkannya dan mengambil pendapat yang baru.

Periode ketiga. Dimulai pada tahun 199 H. ketika ia hijrah ke Mesir sampai ia meninggal. Pada periode ini, keilmuan Imam Syafi’i benar-benar sudah matang. Setelah tinggal di Mesir, Imam Syafi’i melihat hal-hal baru yang belum pernah dilihatnya, baik yang berkaitan dengan adat kebiasaan, peradaban, maupun pengaruh ulama tabiin di sana. la merekonstruksi kitab ar-Risalah ; mengurangi dan menambah kontennya, dan melihat kembali hasil-hasil ijtihadnya. Periode ini bagi Imam Syafi’i adalah periode pembaharuan dan penelitian ulang atas pemikirannya sendiri.

Dikutip dari buku “Biografi Imam Bukhari” karya  Prof. Dr. Yahya Ismail, hal. 219-220, penerbit Keira Publishing

Leave a comment

al-Hikam (21)

“Meminta kepada Allah berarti menuduh-Nya. Mencari Allah berarti mengghibah-Nya. Mencari selain Allah pertanda tak punya malu kepada-Nya dan meminta kepada selain Allah pertanda jauh dari-Nya” (Ibnu Atha’illah al-Iskandari)

Penjelasan:

Dalam perjalanannya menuju Allah, seorang murid harus sibuk melakukan amal-amal saleh yang diridhai Tuhannya. Hatinya tidak boleh sibuk mencari sesuatu yang lain karena itu tercela dan bisa memutus jalannya menuju Allah.

Bila kaumeminta kepada Allah agar Dia memberimu rezeki dan makanan yang dapat membantumu berjalan atau agar Dia meluaskan rezekimu, sama dengan menuduh-Nya tidak pernah memberimu rezeki. Jika kaupercaya bahwa Dia Maha Mengetahui kebutuhanmu dan Mahakuasa memberimu tanpa kauminta, tentu kau tidak akan meminta sesuatu pun dari-Nya.

Bila kau mencari-cari Allah agar kaudidekatkan kepada-Nya, dihilangkan hijab antara dirimu dengan-Nya dan dapat melihat-Nya, tindakan ini sama saja dengan melakukan ghibah terhadap-Nya (membicarakan-Nya di belakang) karena Dzat Yang Mahahadir tidak perlu lagi dicari-cari.

Bila kau mencari selain Tuhanmu, baik berupa harta, kedudukan, kehormatan maupun yang lainnya, itu membuktikan sedikitnya rasa malumu kepada-Nya. Jika kau malu kepada-Nya, tentu kau tidak akan mencari selain-Nya.

Bila kau meminta kepada selain-Nya, seperti meminta kepada seorang manusia untuk mengatasi persoalan-persoalanmu dan saat meminta itu kau lupa kepada Tuhanmu, itu menandakan bahwa kau begitu jauh dari-Nya. Jika kau dekat dengan-Nya, pasti kau akan jauh dari selain-Nya. Sekiranya kau menyadari kedekatan-Nya denganmu, niscaya kau akan menghindari makhluk-makhluk-Nya. Namun karena kejauhanmu dengan-Nya, kau merasa butuh kepada selain-Nya untuk kaujadikan tempat berlindung dan meminta.

Bagi kalangan murid, meminta kepada sang Khaliq adalah hal yang lumrah. Bahkan meminta kepada makhluk pun adalah hal yang wajar, kecuali meminta dalam kerangka ibadah, etika, mengikuti perintah atau menyatakan kebutuhan. Sementara itu, orang-orang arif hanya memandang kepada Allah. Permintaan mereka, walaupun secara lahir tampak kepada makhluk, namun sebenarnya kepada sang Khaliq.

Dikutip dari buku “Al-Hikam” karya Ibnu Atha’illah al-Iskandari, hal 37-38, penerbit Turos Pustaka.

Leave a comment

Introspeksi Diri

Allah swt selalu mengawasi segala gerak-gerik hamba-Nya. Allah juga senantiasa menghitung semua amalan yang dilakukan hamba-Nya baik yang miskin maupun yang kaya.

Orang-orang yang cerdas akan memahami bahwa Allah selalu mengawasi gerak-gerik mereka dan sesungguhnya kelak akan diinterogasi tentang pikiran-pikiran dan lintasan-lintasan hati. Mereka menyimpulkan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat menyelamatkannya kecuali terus berintrospeksi diri dalam setiap napas lintasan hati.

Jika kita melakukan introspeksi diri sebelum dihisap kelak, akan semakin ringanlah hisabnya pada hari kiamat. Ia akan selalu dapat memberikan jawaban terhadap setiap pertanyaan dan akan mendapat akhir yang baik. Orang yang enggan instropeksi diri, akan mengalami penyesalan yang tiada akhir. Urusannya akan panjang pada hari perhitungan tersebut dan ia akan diseret pada kehinaan dan murka Tuhan karena kejahatan-kejahatannya.

Oleh karena itu, hendaknya orang yang berakal selalu mengintrospeksi dirinya agar memperoleh budi pekerti yang luhur dan bebas dari budi pekerti yang tercela.

Khalifah Umar bin Khaththab r.a. pernah mengatakan,”Instropeksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah diri (dengan amal saleh) untuk menghadapi hari yang paling agung (hari kiamat) karena sesungguhnya perhitungan amal menjadi ringan bagi orang yang telah melakukan instropeksi diri di dunia.” (HR. Tirmidzi; hadits mauquf)

Dikutip dari buku “Ensiklopedia Akhlak Muhammad SAW” karya Mahmud al-Mishri hal 952-953, penerbit Pena

Leave a comment

Jebakan Istidraj

“Yang dikhawatirkan atas dirimu adalah dosa yang dilakukan secara berantai sehingga menjebakmu dan mengokohkan dirimu di dalamnya. Allah berfirman,’Kami akan menjebak mereka dari arah yang tidak mereka ketahui (al-Qalam: 44).'” (Ibnu ‘Athaillah)

Istidraj atau jebakan Allah kepada pelaku maksiat adalah dengan memberi mereka kesehatan dan kenikmatan yang kemudian mereka pergunakan sebagai sarana untuk semakin banyak melakukan kemaksiatan dan dosa.

Jangan sampai kau lalai dari mengingat Allah sehingga terjerumus dalam kemaksiatan yang terus kaulakukan setiap saat. Jangan sampai engkau melupakan Allah karena Dia terus melimpahimu dengan berbagai karunia-Nya. Ketahuilah, bisa jadi karunia tersebut merupakan istidraj atau jebakan menakutkan yang berakhir pada siksa Allah yang sangat besar.

Orang beriman selalu khawatir ketika pintu-pintu rezeki terbuka untuknya. Ia khawatir itu merupakan jebakan menuju siksa.Karena itu, ia senantiasa bersyukur kepada Allah dengan menjalankan ketaatan dan menunaikan hak-hak harta sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah.

 

Disarikan dari buku “Tajul Arus” karya Ibnu ‘Athaillah hal 144-146, penerbit Zaman

Leave a comment