Archive for category Tauhid

Iman menurut Abu Hanifah

Iman menurut Abu Hanifah

1. Karena iman adalah keyakinan, pengetahuan, kepercayaan dan pengakuan, berarti iman kita seperti iman malaikat karena kita percaya pada keesaan Rabb; rububiyah dan kuasa-Nya; percaya pada apapun yang disampaikan dari-Nya seperti yang diakui dan dipercayai oleh para malaikat, nabi dan rasul.
Karena itu kita katakan, iman kita seperti iman para malaikat karena kita memercayai semua yang diimani para malaikat, semua tanda-tanda kebesaran Allah yang dilihat oleh para malaikat namun tidak kita lihat.
Keyakinan adalah salah satu tingkatan iman yang tidak terbagi. Karena itu Abu Hanifah membantah pernyataan bahwa kesalahan disebabkan lemahnya keyakinan, karena yakin itu tidak ragu dan ragu adalah kebalikan yakin, keduanya tidak bertemu.

2. Iman bertambah dan berkurang dari sisi amal dan pahala, bukan dari sisi asas keyakinan, karena itu para nabi dan malaikat adalah makhluk yang paling beriman karena mereka paling takut kepada Allah, lebih taat, sehingga pahala mereka lebih besar.
Mereka diberi kelebihan sifat-sifat tertentu yang memberi efek pada amal. Meski asas keyakinan mereka sama, namun tidak harus sama pahalanya, karena Allah memberikan hak kita dari amal yang kita lakukan, sementara Allah melebihi pahala mereka karena karunia yang dia berikan pada siapapun yang Dia kehendaki.

3. Kemaksiatan tidak mengeluarkan orang mukmin dari keimanan menuju kekafiran, seperti yang dikemukakan Khawarij atau mengeluarkan orang mukmin ke satu diantara dua tempat seperti yang dikatakan Mu’tazilah.
Orang yang durhaka tetap disebut mukmin namun beralih ke sifat lain bersamaan dengan iman, dengan demikian disebut mukmin fasik.
Sesuai pendapat ini, yang bersangkutan tidak kekal di neraka seperti yang dikemukakan Khawarij dan Mu’tazilah, tapi disiksa Allah di neraka kemudian dikeluarkan dari sana.
Abu Hanifah menyatakan, barangsiapa membunuh nyawa secara tidak benar, mencuri, merampok, berbuat keji, fasik, berzina, minun khamr dan mabuk-mabukan, dia adalah mukmin yang fasik, bukan kafir, dia disiksa di neraka karena perbuatan yang dilakukan kemudian dikeluarkan karena iman.

Sumber:
Buku “Akidah Islam menurut Empat Madzhab” karangan Prof. Dr. Abul Yazid Abu Zaid al-‘Ajami penerbit Pustaka Al-Kautsar hal. 212-213

Advertisements

Leave a comment

Kesempurnaan Tawakal Ibunda Musa a.s.

Kesempurnaan Tawakal Ibunda Musa a.s.

Percaya secara total dengan keyakinan yang penuh kepada Allah adalah intisari ketawakalan, seperti bola mata yang hitam sebagai salah satu bagian mata yang terindah dan terelok.
Kita dapat mengilustrasikan keyakinan dan ketawakalan sebagai berikut, jika ketawakaan adalah hati, keyakinan adalah pusat hatinya. Jika ketawakalan adalah mata, keyakinan adalah pupilnya. Penyerahan diri adalah inti ketawakalan. Penisbatan penyerahan diri terhadap tawakal sama dengan penisbatan ihsan kepada iman.
Keyakinan merupakan kerelaan seseorang untuk kehilangan sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah swt sekaligus modal untuk meraih keridhaan Allah. Jika dia tidak mampu menggunakan keyakinan ini, dia masih berkesempatan mendapatkan ridha-Nya dengan cara ‘ainul-yaqin atau dengan bersabar.
Oleh karena itu, kita harus melakukan apapun karena Allah dan disertai keyakinan kepada-Nya. Jika kita belum bisa mendapatkannya, kita harus bersabar karena dengan bersabar kita akan memperoleh lebih banyak kebaikan.
Kisah tentang keercayaan penuh ibunda Musa kepada Allah adalah contoh sempurna keyakinan dan ketawakalan seorang hamba kepada Allah. Allah swt berfirman,

Dan Kami ilhamkan kepada ibunda Musa,’Susuilah dia (Musa) dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang rasul.'” (al-Qashash: 7)

Ibnu Qayyim mengatakan bahwa tindakan ibu Musa adalah bukti nyata keteguhan dan keyakinannya kepada Allah swt. Jika bukan karena keteguhan keyakinannya, dia tidak mungkin menghanyutkan Musa di sungai Nil yang deras arusnya dan entah kemana akan membawa Musa pergi.
Allah swt telah mengilhamkan kepada ibunda Musa untuk menghanyutkan anaknya ke dalam sebuah peti di sungai Nil. Dengan kepercayaan penuh kepada perintah Allah, ibunda Musa melaksanakan perintah tersebut. Peti yang ditempati Musa a.s terbawa arus sungai Nil hingga sampai di kerajaab Fir’aun.
Sebelumnya pada saat kelahiran Musa, Fir’aun bermimpi ada seorang bayi laki-laki akan menghancurkan kerajaannya. Khawatir mimpinya menjadi kenyataan, segera saja Fir’aun memerintahkan pasukannya untuk membunuh semua bayi dan anak laki-laki. Sayangnya Allah berkehendak lain, bayi lelaki yang akan menjadi musuh besarnya justru besar dihadapan matanya karena Aisyah–istri Fir’aun–sendiri yang telah memungutnya dari sungai Nil. Aisyah terpikat keelokan bayi Musa a.s yang dikisahkan Allah swt,

“… ¬†Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (Thaha: 39)

Allah juga menanamkan rasa kasih sayang di dalam hati Aisyah. Karena kasih Aisyah kepada Musa, ia berkata kepada Fir’aun sebagaimana yang dikisahkan Allah di dalam firman-Nya,

Dan istri Fir’aun berkata,'(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya …'” (al-Qashash: 9)

Allah menjaga Musa dengan cinta yang menyelimuti kalbu Aisyah karena itu Fir’aun tidak bisa menolak permintaan istrinya. Selain itu, Allah swt juga telah mengharamkan bagi Musa untuk dapat meminum ASI dari wanita lain sehingga ibu Musa dapat menyusui anak kandungnya sendiri. Allah memenuhi janji-Nya kepada ibunda Musa untuk menjaga anaknya dan mengembalikan Musa ke pelukannya secara genap dan sempurna, Allah swt berfirman,

“…. Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikan kepadamu…” (al-Qashash: 7)

Keyakinan ibunda Musa dibayar tunai oleh Allah dengan cara mengembalikan Musa kepadanya. Bahkan Allah juga menganugerahkan risalah kenabian pada anak wanita tangguh ini (Nabi Musa a.s.)

Dari buku “Ensiklopedia Akhlak Muhammad SAW” hal. 282-284

Leave a comment

Nikmat Rezeki

Nikmat Rezeki

Kisah 1

Dikisahkan bahwa suatu ketika Ibrahim bin Adham duduk bersiap menyantap makanannya. Namun tiba-tiba seekor kucing datang dan membawa lari sepotong daging yang hendak dia makan. Ibrahim bin Adham pun mengikuti arah lari kucing itu. Tidak lama kemudian, kucing itu berhenti dan meninggalkan daging yang dibawanya di atas lubang yang dalam dan gelap.

Ibrahim heran ketika melihat seekor ular buta keluar dari lubang itu dan mengambil daging lalu membawanya masuk ke dalam lubangnya. Ibrahim bin Adham pun mengangkat kepalanya ke arah langit seraya berkata,”Mahasuci Engkau ya Allah, Zat yang telah menundukkan makhluk-makhluk yang bermusuhan untuk saling menyampaikan rezeki mereka satu sama lain.”

Kisah 2

Dikisahkan bahwa suatu ketika suaminya keluar karena suatu keperluan. Putrinya semata wayang tengah sakit parah, suhu tubuhnya kian naik. Ia hanya duduk terdiam di samping anaknya yang tertidur. Ia menangis dan merendahkan hatinya dihadapan Allah. Ia berpikir, bagaimana ia dapat memanggil dokter, sedang untuk membelikan makan sang anakpun ia tidak mampu.

Peristiwa ajaib terjadi ketika pada pukul dua dini hari tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya. Iapun terbangun dan melihat siapa yang ada di balik pintu. Ia kaget karena ternyata seorang dokter yang mengetuk pintu rumahnya. Dalam keadaan bingung, ia mempersilakan sang dokter untuk memeriksa keadaan putrinya. Setelah memeriksa dan menuliskan resep untuk anaknya, dokter itu pamit dan menunggu di luar; memberi isyarat sedang menunggu biaya pengobatan.

Ia berdiri termenung dan merasa malu. Dokter itu lalu berkata,”Aku belum dibayar.” Ia mengatakan tidak memiliki uang. Dokter pun berteriak di wajahnya,”Apakah kamu tidak memiliki malu? Bagaimana mungkin kamu meneleponku pada dini hari, kemudian mengaku tidak memiliki uang?” Ia menangis dan mengaku,”Demi Allah, wahai dokter, aku tidak mungkin menghubungimu karena aku tidak memiliki telpon.”

Dokter itu berteriak lagi dengan nada lebih tinggi,”Bukankah ini adalah rumah fulan?”

“Bukan, fulan tinggal di rumah yang ada di sebelah kami,”jawabnya.

Dokter ini amat terkejut lalu menanyakan keadaannya. Ia pun memberitahukan hal sebenarnya. Tidak lama setelah itu, sang dokter datang lagi dengan membawa makanan, obat dan kebutuhan untuk perempuan itu dan anaknya.

Dinukilkan dari buku “Ensiklopedia Akhlak Muhammad SAW” karangan Mahmud al-Mishri dengan penerbit Pena Pundi Aksara hal. 160-161

,

Leave a comment