al-Hikam (21)

“Meminta kepada Allah berarti menuduh-Nya. Mencari Allah berarti mengghibah-Nya. Mencari selain Allah pertanda tak punya malu kepada-Nya dan meminta kepada selain Allah pertanda jauh dari-Nya” (Ibnu Atha’illah al-Iskandari)

Penjelasan:

Dalam perjalanannya menuju Allah, seorang murid harus sibuk melakukan amal-amal saleh yang diridhai Tuhannya. Hatinya tidak boleh sibuk mencari sesuatu yang lain karena itu tercela dan bisa memutus jalannya menuju Allah.

Bila kaumeminta kepada Allah agar Dia memberimu rezeki dan makanan yang dapat membantumu berjalan atau agar Dia meluaskan rezekimu, sama dengan menuduh-Nya tidak pernah memberimu rezeki. Jika kaupercaya bahwa Dia Maha Mengetahui kebutuhanmu dan Mahakuasa memberimu tanpa kauminta, tentu kau tidak akan meminta sesuatu pun dari-Nya.

Bila kau mencari-cari Allah agar kaudidekatkan kepada-Nya, dihilangkan hijab antara dirimu dengan-Nya dan dapat melihat-Nya, tindakan ini sama saja dengan melakukan ghibah terhadap-Nya (membicarakan-Nya di belakang) karena Dzat Yang Mahahadir tidak perlu lagi dicari-cari.

Bila kau mencari selain Tuhanmu, baik berupa harta, kedudukan, kehormatan maupun yang lainnya, itu membuktikan sedikitnya rasa malumu kepada-Nya. Jika kau malu kepada-Nya, tentu kau tidak akan mencari selain-Nya.

Bila kau meminta kepada selain-Nya, seperti meminta kepada seorang manusia untuk mengatasi persoalan-persoalanmu dan saat meminta itu kau lupa kepada Tuhanmu, itu menandakan bahwa kau begitu jauh dari-Nya. Jika kau dekat dengan-Nya, pasti kau akan jauh dari selain-Nya. Sekiranya kau menyadari kedekatan-Nya denganmu, niscaya kau akan menghindari makhluk-makhluk-Nya. Namun karena kejauhanmu dengan-Nya, kau merasa butuh kepada selain-Nya untuk kaujadikan tempat berlindung dan meminta.

Bagi kalangan murid, meminta kepada sang Khaliq adalah hal yang lumrah. Bahkan meminta kepada makhluk pun adalah hal yang wajar, kecuali meminta dalam kerangka ibadah, etika, mengikuti perintah atau menyatakan kebutuhan. Sementara itu, orang-orang arif hanya memandang kepada Allah. Permintaan mereka, walaupun secara lahir tampak kepada makhluk, namun sebenarnya kepada sang Khaliq.

Dikutip dari buku “Al-Hikam” karya Ibnu Atha’illah al-Iskandari, hal 37-38, penerbit Turos Pustaka.

Advertisements

Leave a comment

Introspeksi Diri

Allah swt selalu mengawasi segala gerak-gerik hamba-Nya. Allah juga senantiasa menghitung semua amalan yang dilakukan hamba-Nya baik yang miskin maupun yang kaya.

Orang-orang yang cerdas akan memahami bahwa Allah selalu mengawasi gerak-gerik mereka dan sesungguhnya kelak akan diinterogasi tentang pikiran-pikiran dan lintasan-lintasan hati. Mereka menyimpulkan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat menyelamatkannya kecuali terus berintrospeksi diri dalam setiap napas lintasan hati.

Jika kita melakukan introspeksi diri sebelum dihisap kelak, akan semakin ringanlah hisabnya pada hari kiamat. Ia akan selalu dapat memberikan jawaban terhadap setiap pertanyaan dan akan mendapat akhir yang baik. Orang yang enggan instropeksi diri, akan mengalami penyesalan yang tiada akhir. Urusannya akan panjang pada hari perhitungan tersebut dan ia akan diseret pada kehinaan dan murka Tuhan karena kejahatan-kejahatannya.

Oleh karena itu, hendaknya orang yang berakal selalu mengintrospeksi dirinya agar memperoleh budi pekerti yang luhur dan bebas dari budi pekerti yang tercela.

Khalifah Umar bin Khaththab r.a. pernah mengatakan,”Instropeksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah diri (dengan amal saleh) untuk menghadapi hari yang paling agung (hari kiamat) karena sesungguhnya perhitungan amal menjadi ringan bagi orang yang telah melakukan instropeksi diri di dunia.” (HR. Tirmidzi; hadits mauquf)

Dikutip dari buku “Ensiklopedia Akhlak Muhammad SAW” karya Mahmud al-Mishri hal 952-953, penerbit Pena

Leave a comment

Jebakan Istidraj

“Yang dikhawatirkan atas dirimu adalah dosa yang dilakukan secara berantai sehingga menjebakmu dan mengokohkan dirimu di dalamnya. Allah berfirman,’Kami akan menjebak mereka dari arah yang tidak mereka ketahui (al-Qalam: 44).'” (Ibnu ‘Athaillah)

Istidraj atau jebakan Allah kepada pelaku maksiat adalah dengan memberi mereka kesehatan dan kenikmatan yang kemudian mereka pergunakan sebagai sarana untuk semakin banyak melakukan kemaksiatan dan dosa.

Jangan sampai kau lalai dari mengingat Allah sehingga terjerumus dalam kemaksiatan yang terus kaulakukan setiap saat. Jangan sampai engkau melupakan Allah karena Dia terus melimpahimu dengan berbagai karunia-Nya. Ketahuilah, bisa jadi karunia tersebut merupakan istidraj atau jebakan menakutkan yang berakhir pada siksa Allah yang sangat besar.

Orang beriman selalu khawatir ketika pintu-pintu rezeki terbuka untuknya. Ia khawatir itu merupakan jebakan menuju siksa.Karena itu, ia senantiasa bersyukur kepada Allah dengan menjalankan ketaatan dan menunaikan hak-hak harta sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah.

 

Disarikan dari buku “Tajul Arus” karya Ibnu ‘Athaillah hal 144-146, penerbit Zaman

Leave a comment

‘Urf (Tradisi)

Ini merupakan satu sumber hukum yang diambil oleh mazhab Hanafi dan Maliki, yang berada di luar lingkup nash. ‘Urf adalah bentuk-bentuk muamalah yang telah menjadi adat kebiasaan dan telah berlangsung konsisten di tengah masyarakat. Dan ini tergolong salah satu sumber hukum dari ushul fiqh yang diambil dari intisari sabda Nabi Muhammad Saw:

“Apa yang dipandang baik kaum muslimin, maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang baik.”

Hadis ini, baik dari segi ibarat maupun tujuannya menunjukkan bahwa setiap perkara yang telah mentradisi di kalangan kaum muslim dan dipandang sebagai perkara yang baik, maka perkara tersebut juga dipandang baik dihadapan Allah. Menentang tradisi yang dipandang baik oleh masyarakat akan menimbulkan kesulitan dan kesempitan.

Oleh karena itu, ulama mazhab Hanafi dan Maliki mengatakan bahwa hukum yang ditetapkan berdasarkan ‘urf yang shahih sama dengan yang ditetapkan berdasarkan dalil syar’i. ‘Urf dapat dijadikan dalil dalam istinbath hukum apabila tidak ditemukan nash dalam al-Qur’an dan Sunnah.

Masalah-masalah fiqihiyyah adakalanya ditetapkan berdasarkan nash yang jelas dan adakalanya ditetapkan melalui cara ijtihad. Pada umumnya seorang mujtahid menetapkan hukum berdasarkan ‘urf yang berkembang pada zamannya dan seandainya ia berada di zaman lain dengan ‘urf yang baru, niscaya ia akan mengeluarkan pendapat bahwa seorang mujtahid harus mengenali adat-adat yang berlaku di tengah masyarakat. dapat dimengerti kalau terdapat banyak ketetapan hukum yang berbeda-beda lantaran perbedaan zaman. Dengan kata lain, seandainya suatu diktum hukum tetap dipertahankan seperti sediakala, niscaya akan menimbulkan masyaqqat dan kemudharatan terhadap manusia. Juga bertentangan dengan kaidah-kaidah syari’ah yang didasarkan pada takhfif (meringankan) dan taysir (memudahkan) serta dafu adh-dharar wa al-fasad (menghindarkan/menolak kemudharatan dan kerusakan) demi terciptanya tatanan masyarakat yang baik dan kokoh.

Disarikan dari buku “Ushul Fiqih” karya M. Abu Zahrah hal 442-446, penerbit Pustaka Firdaus

Leave a comment

Wahbah az-Zuhaili

Beliau lahir di desa Dir ‘Athiah, Suriah pada tahun 1932. Ia memperoleh ijazah sarjana Syariah dan ijazah Takhassus Pengajaran Bahasa Arab di Al-Azhar pada tahun 1956. Kemudian, ijazah Licence (Lc) bidang hukum diUniversitas ‘Ain Syams pada tahun 1957, Magister Syariah dari Fakultas Hukum Universitas Kairo pada tahun 1959 dan Doktor pada tahun 1963.

Satu catatan penting bahwa, beliau senantiasa menduduki ranking teratas pada semua jenjang pendidikannya. Menurutnya, rahasia kesuksesan dalam belajar terletak pada kesungguhan dalam menekuni pelajaran dan menjauhkan diri dari segala hal yang mengganggu proses belajar.

Moto hidupnya:”Inna sirra an-najah fi al-hayah ihsan ash-shilah billah ‘azza wa jalla” (Sesungguhnya, rahasia kesuksesan dalam hidup, adalah membaikkan hubungan dengan Allah ‘Azza wa Jalla).

Karir Akademis

Setelah memperoleh ijazah Doktor, pekerjaan pertama beliau adalah staf pengajar pada Fakultas Syariah, Universitas Damaskus pada tahun 1963, kemudian asisten dosen pada tahun 1969 dan profesor pada tahun 1975. Sebagai guru besar, ia menjadi dosen tamu pada sejumlah universitas di negara-negara Arab, seperti pada Fakultas Syariah dan Hukum serta Fakultas Adab Pascasarjana Universitas Benghazi, Libya dan Universitas Khurtum, Universitas Ummu Darman, Universitas Afrika yang ketiganya berada di Sudan. Ia juga pernah mengajar pada Universitas Uni Emirat Arab.

Ia sering menghadiri berbagai seminar internasional dan mempresentasikan makalah dalm berbagai forum ilmiah di negara-negara Arab, termasuk di Malaysia dan Indonesia. ia juga menjadi anggota tim redaksi berbagai jurnal dan majalah dan staf ahli pada berbagai lembaga riset fiqih dan peradaban Islam di Suriah, Yordania, Arab Saudi, Sudan, India dan Amerika.

Dikutip dari buku “Ensiklopedia Akhlak Muslim” penerbit Noura Books

Leave a comment

Tahqiq dalam Tasawuf

Tahqiq adalah tingkatan dalam sufi dimana kaum sufi yang telah menemukan kesejatian dalam laku kesufian.

Ibadah mereka tidak disifati dengan sifat terpaksa. Ibadah mereka adalah bentuk rasa syukur dengan tidak mengindahkan nilai amal mereka dan hasil-hasilnya. Mereka tak menyuguhkan amal-amal mereka untuk dijadikan sebagai harapan pahala.

Mereka melakukan amalan karena sang Tuan bertitah,”Lakukanlah!” dan mereka segera mengamalkan. Mereka tak pernah mengungkitnya. Terserah apa keinginan sang Tuan: apakah Ia akan menerimanya ataukah akan mencampakkannya. Tak pernah terbersit sedikitpun dalam benak mereka untuk menuntut pahala.

Dikutip dari buku “Biografi Ibn Arabi” hal 313, penerbit Keira Publishing

Leave a comment

Syukur menurut Ibn Arabi

Kerelaan dalam tahapan yang  tinggi adalah ketaatan sebagai rasa syukur.

Syukur akan membentuk ketaatan sebagai kesadaran paling tinggi terhadap wujud para sufi dan Allah Swt yang memberinya wujud. Ia adalah kekuatan dalam diri sufi untuk melenyapkan semua rasa wajib dari sebuah ketaatan.

Artinya, kebanyakan orang melakukan ketaatan sebagai kewajiban memenuhi semua kesadaran mereka atas ibadah kepada Allah Swt. Tetapi kaum sufi dalam kesadaran tinggi tersebut melakukannya dengan suka cita.

Dalam tahapan syukur, kaum sufi akan melakukan ketaatan sebagai suatu kenikmatan.

Syukur adalah kesadaran manusia tertinggi dari seseorang yang beragama. Kesadaran yang menautkan dirinya dengan Allah Swt dalam pertautan yang paling sempurna dan indah.

Dikutip dari buku “Biografi Ibn Arabi” hal 313, penerbit Keira Publishing

Leave a comment