Tahqiq dalam Tasawuf

Tahqiq adalah tingkatan dalam sufi dimana kaum sufi yang telah menemukan kesejatian dalam laku kesufian.

Ibadah mereka tidak disifati dengan sifat terpaksa. Ibadah mereka adalah bentuk rasa syukur dengan tidak mengindahkan nilai amal mereka dan hasil-hasilnya. Mereka tak menyuguhkan amal-amal mereka untuk dijadikan sebagai harapan pahala.

Mereka melakukan amalan karena sang Tuan bertitah,”Lakukanlah!” dan mereka segera mengamalkan. Mereka tak pernah mengungkitnya. Terserah apa keinginan sang Tuan: apakah Ia akan menerimanya ataukah akan mencampakkannya. Tak pernah terbersit sedikitpun dalam benak mereka untuk menuntut pahala.

Dikutip dari buku “Biografi Ibn Arabi” hal 313, penerbit Keira Publishing

Leave a comment

Syukur menurut Ibn Arabi

Kerelaan dalam tahapan yang  tinggi adalah ketaatan sebagai rasa syukur.

Syukur akan membentuk ketaatan sebagai kesadaran paling tinggi terhadap wujud para sufi dan Allah Swt yang memberinya wujud. Ia adalah kekuatan dalam diri sufi untuk melenyapkan semua rasa wajib dari sebuah ketaatan.

Artinya, kebanyakan orang melakukan ketaatan sebagai kewajiban memenuhi semua kesadaran mereka atas ibadah kepada Allah Swt. Tetapi kaum sufi dalam kesadaran tinggi tersebut melakukannya dengan suka cita.

Dalam tahapan syukur, kaum sufi akan melakukan ketaatan sebagai suatu kenikmatan.

Syukur adalah kesadaran manusia tertinggi dari seseorang yang beragama. Kesadaran yang menautkan dirinya dengan Allah Swt dalam pertautan yang paling sempurna dan indah.

Dikutip dari buku “Biografi Ibn Arabi” hal 313, penerbit Keira Publishing

Leave a comment

Tasawuf menurut Ibn Arabi

Tasawuf sebagai inti dari Islam merupakan ketaatan yang telah menghadirkan sikap rela terhadap ketaatan itu sendiri.

Ketaatan yang muncul bukan karena terpaksa, takut atau khawatir. Ketaatan itu selalu dilandasi dengan kesadaran yang penuh dari keinginan untuk taat.

Kerelaan ini pada tahap paling sederhana adalah untuk mendapat ridha-Nya. Ridha adalah tujuan ketaatan kepada-Nya. Mesti demikian kerelaan semacam ini telah melampaui bentuk-bentuk kerelaan yang disuguhkan oleh orang-orang pada umunya. Karena kelompok ini mendasarkan kerelaannya pada pahala surga dan semua kenikmatan yang ada didalamnya. Sedangkan kaum sufi hanya menginginkan ridha-Nya. Adapun surga tak lebih dari buah ridha Allah Swt kepadanya.

Dikutip dari buku “Biografi Ibn Arabi” hal 312, penerbit Keira Publishing

Leave a comment

Pembagian Haram

  1. Haram li-dzatih

Yaitu perbuatan yang diharamkan oleh Allah, karena bahaya tersebut terdapat dalam perbuatan itu sendiri. Seperti makan bangkai, minum khamr, berzina, mencuri yang bahayanya berhubungan langsung dengan lima hal yang harus dijaga (ad-Dharuriyat al-Khams), yakni badan, keturunan, harta benda, akal dan agama. Perbuatan yang diharamkan li-dzatih adalah bersentuhan langsung dengan salah satu dari lima hal ini. Sedangkan yang dimaksud dharury ialah sesuatu tidak akan terwujud kecuali dengannya. Misalnya sesuatu yang dapat menghilangkan akal secara dharury langsung bersentuhan dengan akal. Sesuatu yang merusakkan agama secara dharury berhubungan langsung dengan agama dan seterusnya.

  1. Haram li-ghairihi aridhi

Yaitu perbuatan yang dilarang oleh syara’, di mana adanya larangan tersebut bukan terletak pada perbuatan itu sendiri, tetapi perbuatan tersebut dapat menimbulkan haram li-dzatih. Seperti melihat aurat perempuan, dapat menimbulkan perbuatan zina, sedang zina diharamkan karena dzatiyah-nya sendiri. Jual beli barang-barang secara riba diharamkan, karena dapat menimbulkan riba yang diharamkan dzatiyah-nya. Hutang dengan memberikan bunga diharamkan, karena dapat menimbulkan riba yang dimakan oleh orang yang menghutangi, sedang makan barang riba diharamkan dzatiyah-nya Poligami dengan perempuan yang masih ada hubungan mahram dengan isteri adalah haram, karena dapat menimbulkan putusnya hubungan persaudaraan yang dilarang oleh Allah Swt, sedang memutuskan tali persaudaraan diharamkan dzatiyah-nya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw,

Seorang perempuan tidak boleh dinikah bersama bibinya dari bapak atau dari ibu, dan keponakan dari saudara laki-laki atau saudara perempuan. Jika kalian melakukan hal itu, maka kalian memutuskan tali persaudaraan“.

Demikian juga perbuatan-perbuatan lain yang diharamkan karena menimbulkan keharaman pada dzatiyah perbuatan tersebut. Terkadang perbuatan yang diharamkan karena ada sesuatu sebab baru, juga disebut haram li-ghairih. Seperti menjalankan shalat di tempat ghasab (kepunyaan orang lain tanpa izin), jual beli ketika adzan Jum’at. Sebenarnya jual belinya itu sendiri tidak diharamkan, tetapi karena bersamaan dengan waktu yang menyebabkan haram, maka jual beli tersebut diharamkan. Hal itu didasarkan pada firman Allah dalam surat al-Jumu’ah:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat kepada Allah dan tinggalkanlah jual beli”. (QS. al-Jumu’ah : 9)

Contoh lain adalah membeli barang yang telah ditawar orang lain. Sebenarnya jual belinya itu sendiri halal, akan tetapi karena ada sebab baru yang menyebabkan haram, yaitu telah ditawar orang lain, maka jual beli tersebut diharamkan. Demikian juga pernikahan seorang laki-laki dengan wanita yang telah dipinang orang lain, sedang peminang pertama belum meninggalkan atau membatalkan pinangannya, maka akad nikah tersebut disunnahkan, akan tetapi karena ada sebab lain yang menimbulkan hukum haram, maka pernikahan tersebut diharamkan.

Sumber:

Ushul Fiqih” karya Prof. Muhammad Abu Zahrah hal 56-57

Leave a comment

Contoh Perbedaan Hukum di antara Para Mujtahid

Mengenai hukum-hukum yang bersifat implisit (zhanni, memungkinkan banyak makna), dan hukum-hukum yang tidak ditunjukkan oleh nash-nash (baik yang bersifat qath’i maupun zhanni), melainkan digali dengan sarana qiyas atau perangkat penggalian hukum lainnya, maka disinilah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para mujtahid, baik di antara para sahabat, di antara para tabi’in dan yang mengikuti mereka (tabi’ tabi’in), maupun para imam mujtahid setelah generasi mereka. Nah, perbedaan pendapat yang terjadi pada masing-masing jenis ini mempunyai banyak faktor penyebabnya.

Kami akan menjelaskan faktor terkuat (yang paling tampak) dari penyebab tersebut.

Adapun faktor terkuat dari penyebab terjadinya perbedaan pendapat dalam hukum-hukum yang ditunjukkan nash-nash yang bersifat zhanni ad-dilalah, adalah dua hal, yaitu : Nash yang bersifat zhanni ad-dilalah adalah nash yang memungkinkan dua makna atau lebih. Oleh karena kemungkinan ini, akal-akal mujtahid tidak mungkin selaras pada pemahaman satu makna saja. Adapun penyebab adanya kemungkinan dua makna atau lebih ini adalah karena lafazh tersebut memang mempunyai banyak makna dalam bahasa Arab, atau bisa dipahami secara ambigus (mempunyai dua pemahaman atau lebih). Berikut ini adalah contoh-contoh dua kemungkinan tersebut :

Allah SWT berfirman,

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.”(Al-Baqarah : 228)

Menurut Imam Abu Hanifah dan para muridnya, iddah (masa menunggu) bagi wanita yang ditalak adalah tiga kali haid yang diselingi dua kali suci. Sedangkan menurut Imam Asy’Syafi’i dan para muridnya, iddah wanita yang ditalak adalah tiga kali suci yang diselingi dua kali haid. Penyebab perbedaan pendapat ini adalah lafazh al-qur’u dalam bahasa Arab mempunyai dua makna, yaitu masa suci dan masa haid. Karenanya, masing-masing mujtahid tersebut berpendapat dengan didasarkan pada indikator-indikator yang kuat menurut mereka masing-masing yang bisa membantu memahami pendapat yang mereka pegangi itu.

Allah SWT berfirman dalam ayat tentang berwudhu,

“Dan usaplah kepala kalian.” (Al-Maa’idah : 6)

Menurut Imam Malik yang wajib diusap adalah seluruh rambut kepala. Menurut Imam Asy-Syafi’i yang wajib diusap hanya sebagiannya saja. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah yang wajib diusap hanya seperempatnya saja. Adapun penyebab perbedaan pendapat tersebut adalah huruf ‘ba‘yang terdapat pada ayat tersebut ‘bi ru’usikum’ dalam bahasa Arab mempunyai dua arti : al-ilshaq (menempelkan) dan ath-tab’idh (bagian). Menurut mereka yang memahami bahwa huruf ba tersebut bermakna al-ilshaq (menempelkan), mereka mewajibkan mengusap seluruh kepala. Sedangkan mereka yang memahami bahwa huruf ba tersebut bermakna at-tab’idh (bagian), mereka mewajibkan mengusap sebagian kepala. Adapun Hanafiyah mengkhususkan sebagian tersebut dengan seperempat karena ada Sunnah yang bersifat aplikatif (sunnah fi’liyah) yang menunjukkan hal itu.

Allah SWT berfirman,

“Dan janganlah kamu memakan sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah ketika disembelih, karena itu merupakan kefasikan.”(Al-An’am : 121)

Menurut Imam Abu Hanifah dan para muridnya hewan sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah secara sengaja ketika disernbelih, tidak halal dimakan. Sedangkan menurut Imam Asy-Syafi’i dan para muridnya hewan tersebut halal dimakan selagi tidak disebutkan nama selain Allah ketika disembelih. Adapun faktor penyebab perbedaan pendapat ini adalah huruf wau pada ayat ‘wa innahu lafisq‘ bisa bermakna hal (sementara itu, atau keadaan), dan bisa bermakna athaf (menyambung). Menurut Imam Abu Hanifah, huruf wau tersebut bermakna menyambung kalimat pada kalimat yang lain. Maksud ayat tersebut menurut beliau adalah memakannya merupakan perbuatan fasik, yaitu keluar dari koridor yang ditetapkan syariat. Sedangkan menurut Imam Asy-Syafi’i, huruf wau tersebut bermakna hal, dan kalimat ‘wa innahu lafisq‘ merupakan pembatasan dalam larangan itu. Maksud ayat tersebut menurut beliau adalah janganlah kamu memakan sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah, sementara ia adalah kefasikan, karena disembelih dengan menyebutkan nama selain Allah. Sebagaimana beliau menafsirkan “au fisqan uhilla lighairillah bih” dengan ‘atau kefasikan, yaitu disembelih dengan menyebutkan nama selain Allah.’

Sumber:

“Al-Ijtihad fi asy-Syariah al-Islamiyyah” karya Syaikh Abdul Wahhab Khallaf hal 45-47

,

Leave a comment

Mengapa Sunnah tidak ditulis di masa Rasulullah sebagaimana al-Qur’an?

Ketahuilah, bahwa penulisan al-Qur’an di bawah pengawasan Rasulullah Saw. merupakan perintah wahyu yang diturunkan Allah Swt. Karena al-Qur’an merupakan mukjizat, dan membacanya bernilai ibadah di sisi Allah Swt. Sebab itulah maka ia tidak boleh diriwayatkan secara makna. Lafazh otentik al-Qur’an harus benar-benar terpelihara sebagaimana ia diturunkan. Kalau tidak ditulis dan hanya mengandalkan kekuatan memori orang-orang Arab, maka ia menjadi tidak aman dari pengurangan dan penambahan walau hanya satu huruf. Bahkan bisa jadi ada kata atau kalimat yang diganti dan diubah. 

Demikian juga dengan tidak ditulisnya hadits di hadapan Rasulullah Saw., itu juga merupakan perintah wahyu dari Allah Swt. Karena yang diinginkan dari hadits adalah subtansi maknanya bukan lafazhnya, sebab itulah membaca hadits tidak bernilai ibadah, dan susunan kalimatnya pun bukanlah mukjizat sebagaimana al-Qur’an, serta ia boleh diriwayatkan secara makna. 

Jadi, pemeliharaan keotentikan lafazh al-Qur’an merupakan pemeliharaan terhadap syariat, sedangkan pembolehan riwayat hadits secara makna merupakan keringanan dan kemudahan bagi umat ini dalam proses periwayatan dan penyampaiannya. Kalau sekiranya sunnah harus diriwayatkan dan disampaikan persis seperti yang terdengar langsung dari Rasulullah, niscaya akan memberatkan dan menyulitkan umat ini. Sebaliknya, jika al-Qur’an diperbolehkan diriwayatkan secara makna seperti hadits, niscaya jiwa kita tidak akan tenang dalam mempercayai syariat ini, bahkan akan menjadi celah bagi kaum zindiq dan mulhid dalam mencela Islam, di mana mereka akan mengatakan:”sulit bagi kami untuk mempercayainya diturunkan dari AIlah.” 

Dengan demikian, Allah Swt. telah memelihara kemurnian syariat dan di sisi lain juga memberikan keringanan bagi umat. 

Anda tidak perlu khawatir, karena periwayatan hadits secara makna hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang mumpuni di bidang bahasa Arab dan cabang-cabangnya, dan pakar di bidang syariat serta tujuan-tujuannya. Mereka harus benar-benar pakar di dua bidang itu. Disamping itu, hadits yang hendak diriwayatkan secara makna pun tidak boleh yang redaksinya berstatus “jawami’ al-Kalim“, bukan pula yang lafazhnya bernilai ibadah seperti hadits-hadits doa. Jadi jika perawi tidak memiliki pengetahuan tentang gaya bahasa Arab, kurang mumpuni di bidang syariah dan maqashidnya, atau hadits yang dimaksud termasuk kategori jawami al-Kalim, atau juga hadits-hadits doa yang lafazhnya bernilai ibadah, atau memang sudah dihafal dengan baik oleh rawi, maka dalam kondisi-kondisi semacam ini tidak diperbolehkan periwayatan hadits secara makna. 

Jika setelah penjelasan ini, masih ada yang bersikeras bahwa tidak ditulisnya hadits ketika Rasulullah Saw. masih hidup di tengah kaum muslimin, akan melunturkan kepercayaan terhadap hadits tersebut. Maka untuk menjawabnya kami akan sampaikan bahwa, pendapat seperti ini tak ubahnya seperti menuduh Nabi Saw. tidak optimal dalam menyampaikan wahyu Ilahi. Atau dengan kata lain, pendapat semacam ini bermakna bahwa sunnah bukan bagian dari agama. Sungguh, baik yang pertama maupun yang kedua, dari pendapat semacam ini, merupakan bukti nyata kesesatan dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman. 

Sumber:

Buku “The History of Hadith” karya Prof. Muhammad Abu Zahw penerbit Keira Publishing cetakan I hal 184-185

Leave a comment

Hadis Ahad sebagai Hujjah

Kami nukilkan beberapa paragraf yang ada di dalam ar-Risalah, karya al-Imam as-Syafi’i yang bermarga Quraisy dengan judul,”Hujjah dalam Menetapkan Hadits Ahad.”Al-Imam asy-Syafi’i berkata :”Seseorang berkata kepadaku :”Sebutkan hujjah dalam menetapkan hadits ahad dengan teks hadits atau dilalahnya yang di dalamnya terdapat ijma’. Maka aku berkata kepadanya :”Sufyan telah mengabarkan kepada kami dari Abdul Malik bin Umar dari Abdurrahman bin Abdullah lbnu Mas’ud dari bapaknya bahwa Nabi Saw. telah bersabda :”Allah akan memberi cahaya kepada seorang hamba yang mendengar ucapanku kemudian menghafalkan, memahami, dan melaksanakan ucapannya. Berapa banyak orang yang memiliki pemahaman tapi tidak memahaminya dengan baik, dan berapa banyak (pula) orang yang memiliki pemahaman, yang menyampaikan (pemahamannya) kepada orang yang lebih paham. Ada tiga hal, di mana hati seorang Muslim tidak akan hasud kepadanya : ikhlas beramal karena Allah, memberi nasihat kepada orang-orang Islam, dan mengikuti jama’ah mereka, karena do’a-do’a mereka menyertai di belakang mereka.”

Ketika Rasulullah menganjurkan untuk menyimak, menghafal, dan menunaikan ucapannya, maka ia telah memerintahkan untuk melaksanakannya. Dan orang itu sama saja, di mana ia tidak akan memerintahkan sesuatu kecuali apabila ada hujjah atas orang yang melaksanakannya, karena apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang halal yang harus dilaksanakan; sesuatu yang haram yang harus dijauhi; hukum had yang harus ditegakkan;  harta yang harus diambil atau diberikan ; atau nasihat tentang agama dan dunia. Ini juga menunjukan bahwa terkadang orang yang memiliki pemahaman tidak memahaminya dengan baik, ia hafal tentangnya, tetapi tidak memahaminya dengan baik. Oleh karena itu, Rasulullah memerintahkan agar tetap mengikuti jamaah orang-orang Islam terkait dengan hal-hal yang dijadikan hujjah, karena ijma’ orang-orang Islam insyallah adalah sesuatu yang semestinya.

Imam asy-Syafi’i berkata :”Malik telah mengabarkan kepada kami dari AbdulIah bin Dinar, dari Ibnu Umar :”Ketika orang-orang sedang berada di Masjid Quba, tiba-tiba ada seseorang datang, ia berkata : ‘Sesungguhnya Rasulullah adalah orang yang diturunkan kepadanya al-Qur’an dan diperintahkan untuk menghadap Ka’bah ; maka, merekapun menghadapnya. Akan tetapi, wajah-wajah mereka menghadap ke arah Syam, dengan demikian mereka membelakanginya. Penduduk Quba lebih dahulu (masuk Islam) dari orang-orang Anshar, mereka juga memiliki pemahaman. Mereka dahulu diperintahkan menghadap Kiblat yang diwajibkan oleh Allah kepada mereka, di mana mereka tidak menyerukan kewajiban dalam menghadap Kiblat kecuali dengan hujjah yang tegak bagi mereka. Sementara itu, mereka tidak menerima atau mendengar apa yang diturunkan Allah dalam pergantian Kiblat, maka mereka menghadap kiblat dengan kitabullah dan sunnah Nabi-Nya, berdasarkan apa yang mereka dengar langsung dari Rasulullah, tidak berdasarkan hadis yang umum. Kemudian mereka berpindah (haluan) dengan hadits ahad, karena menurut mereka hadits tersebut berasal dari orang yang jujur tentang satu kewajiban yang dahulu ditetapkan kepada mereka, kemudian mereka meninggalkannya berdasarkan riwayat dari Nabi Saw. bahwa beliau telah mengubah arah kiblat mereka. Mereka tidak mungkin melakukannya, insyallah, kecuali karena berdasarkan pengetahuan mereka bahwa hujjah dapat terjadi dengan hal tersebut, apabila berasal dari orang yang jujur. Demikian pula, mereka tidak akan meriwayatkan hal yang penting ini dalam agama mereka kecuali berdasarkan pengetahuan mereka bahwa mereka mengetahui peristiwa-peristiwanya, mereka tidak perlu untuk memberitahu Rasulullah dengan apa yang mereka perbuat darinya. Dan kalau sekiranya hadits ahad yang mereka terima dari RasululLah tersebut, tentang perubahan arah Kiblat – yang merupakan kewajiban – termasuk hal-hal yang tidak diperbolehkan bagi mereka, maka pasti beliau mengatakan kepada mereka :”Kalian telah menghadap kiblat (Ka’bah), kalian tidak boleh berpaling darinya kecuali setelah terdapat hujjah yang kuat yang kalian dengarkan dariku, atau dari hadits yang umum atau dari hadits ahad dariku yang jumlahnya lebih dari satu.'”

Imam asy-Syafi’i berkata :”Malik telah mengabarkan kepada kami dari Ishaq bin Abdullah bin Abi Thalhah dari Anas lbnu Malik, la berkata :”Dahulu aku pernah memberi Abu Thalhah, Abu Ubaidah bi al-Jarrah, dan Ubay bin Ka’ab sebuah minuman yang terbuat dari fadhih dan kurma, kemudian seseorang datang dan berkata :”Sesungguhnya khamr telah diharamkan.”Maka Abu Thalhah berkata :”Wahai Anas bergegaslah menuju kendi itu dan hancurkan. Kemudian aku bergegas menuju mihras kami, lalu aku memukulnya sampai ke bagian bawah sehingga rusak.”Mereka adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan kedudukan di sisi Nabi Saw., mereka juga telah lama bersahabat dengannya, sesuatu yang tidak diingkari lagi oleh siapapun. Minuman yang mereka minum tersebut menurut mereka halal, tapi ketika ada seseorang yang datang dan memberitahukan haramnya khamar, Abu Thalhah-sebagai pemilik kendi-langsung memerintahkan untuk menghancurkan kendi tersebut. Ia atau mereka atau salah satu di antara mereka tidak mengatakan,”Kami akan tetap menganggapnya halal sampai bertemu Rasulullah, karena beliau dekat dengan kami, atau sampai datang kepada kami hadits yang umum.”Hal yang demikian itu, dikarenakan mereka tidak berlebih-lebihan dalam menghalalkan sesuatu, karena mereka bukan orang yang seperti itu. Sebaliknya, mereka tidak meninggalkan hadits-hadits Rasulullah terhadap apa yang mereka lakukan, demikian pula ia tidak membiarkan-sekiranya mereka tidak menerima hadits yang diriwayatkan oleh satu orang yang tidak mereka ketahui-untuk melarang mereka dalam menerima hal yang seperti itu.

Imam asy-Syafi’i berkata :”Rasulullah memerintahkan kepada Anis untuk memberi makan malam kepada istri seseorang yang disinyalir melakukan zina,”Kalau sekiranya ia mengaku, maka rajamlah ia.”Kemudian ia mengakuinya, maka ia pun merajamnya.

Imam asy-Syafi’i berkata :”Rasulullah Saw. mengutus Abu Bakar sebagai amir haji pada tahun kesembilan yang dihadiri oleh para haji dari penduduk yang berasal dari berbagai wilayah dan bangsa yang berbeda. Kemudia ia mengadakan manasik bagi mereka dan memberitahukan kepada mereka dari Rasulullah tentang apa yang boleh dan tidak boleh bagi mereka. Kemudian ia mengutus Ali bin Abi Thalib pada tahun tersebut kemudian ketika mereka berkumpul pada hari raya kurban, ia membacakan kepada mereka beberapa ayat dari surat Bara’ah. Ia membuat perjanjian dengan semua suku dan memberikan bantuan secara sama dan memberikan beberapa larangan kepada mereka. Abu Bakar dan Ali keduanya dikenal baik oleh penduduk Mekkah karena keutamaan, agama, dan kejujuran keduanya. Oleh karena itu, Rasulullah tidak mengutus seseorang, kecuali terdapat hujjah yang kuat melalui haditsnya terhadap orang yang dikirimnya tersebut.

Imam asy-Syafi’i berkata :”Nabi telah membedakan para ‘amil sesuai dengan bidangnya, di mana kami mengetahui nama-nama mereka dan tempat-tempat tugasnya. Setiap orang yang diangkat sebagai pemimpin, telah diperintahkan untuk mengambil keputusan yang telah diwajibkan oleh Allah terhadap orang yang dipimpinnya. Tidak ada seorangpun dari kami yang mengatakan kepada salah seorang yang diunggulkan dalam hal kejujuran : engkau hanya satu orang, karena itu tidak boleh mengambil riwayat dari kami sebelum kami mendengar RasululIah mengatakan bahwa hal tersebut wajib bagi kami. Dan kami tidak mengira bahwa beliau mengutus orang-orang yang terkenal dalam berbagai bidang yang sesuai dengan mereka karena kejujuran mereka, tetapi karena apa yang sudah aku gambarkan, yaitu karena mereka mampu menegakan hujjah pada orang yang karenanya mereka diutus.”

Imam asy-Syafi’i berkata :”Surat-surat Rasulullah masih terus dilaksanakan oleh petugas-petugas beliau, yang berisikan perintah dan larangan dan tidak pernah salah seorang pegawainya tidak melaksanakan perintahnya, dan setiap utusan yang diutus beliau dijamin kejujurannya bagi orang ia diutus dan demikian juga surat-surat para khalifah dan para pegawai setelahnya. Dan apa yang disepakati oleh orang-orang Islam adalah bahwa khalifah, hakim agung, pemimpin, dan imam itu harus satu. Ia berkata :”Orang-orang  yang bertugas di kehakiman dan yang lainnya, mereka menetapkan, melaksanakan hukum, menegakan hudud, dan demikian pula orang-orang yang setelah mereka juga melaksanakan hukum-hukum mereka, karena putusan-putusan hukum mereka dianggap sebagai sumber hukum.

Imam asy-Syafi’i berkata :”Maka apa yang aku gambarkan tentang sunnah dan apa yang disepakati oleh orang-orang Islam, memiliki dilalah tentang perbedaan antara kesaksian, hadits, dan hukum.

Sumber:

Buku “The History of Hadith: Historiografi Hadits Nabi dari Masa ke Masa” karya Prof. Muhammad Abu Zahw. Keira Publishing. Juli 2015. Hal 223-225

Leave a comment