Satu Ayat Banyak Tafsir

Ayat-ayat Al-Qur’an terutama dalam masalah hukum akan terbagi menjadi dua bagian yaitu ayat-ayat yang bersifat qath’i (pasti) dan zhanni (multi tafsir). Dalam hal ini kami beri beberapa contoh mengenai ayat-ayat yang bersifat zhanni dimana akan menghasilkan banyak penafsiran di bidang hukum Islam.

1. “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru“. (Al-Baqarah: 228)

Menurut imam Abu Hanifah dan pengikutnya, iddah (masa menunggu) bagi wanita yang ditalak adalah tiga kali haid yang diselingi dua kali suci. Sedangkan menurut imam Syafi’i dan pengikutnya, iddah wanita yang ditalak adalah tiga kali suci yang diselingi dua kali haid. Penyebab perbedaan pendapat ini adalah lafazh alqur’u yang dalam bahasa arab mempunyai dua makna, yaitu masa suci dan masa haid. Karenanya, masing-masing mujtahid tersebut berpendapat dengan didasarkan indikator-indikator yang kiat menurut mereka masing-masing yang bisa membantu memahami pendapat yang mereka pegangi itu.

2. “Dan usaplah kepala kalian.” (Al-Ma’idah: 6)

Menurut imam Malik yang wajib diusap adalah seluruh rambut kepala. Menurut imam Syafi’i yang wajib diusap hanya sebagiannya saja. Sedangkan menurut imam Abu Hanifah yang wajib diusap hanya seperempatnya saja. Adapun penyebab perbedaan pendapat itu adalah huruf ba‘ yang terdapat pada ayat tersebut ‘bi ru ‘usikum‘ dalam bahasa arab mempunyai dua arti: alilshaq (menempelkan) dan athtab’idh (bagian). Menurut mereka yang memahami bahwa huruf ba‘ tersebut bermakna alilshaq (menempelkan), mereka mewajibkan mengusap seluruh kepala. Sedangkan mereka yang memahami bahwa huruf ba’ tersebut bermakna athtab’idh (bagian), mereka mewajibkan mengusap sebagian kepala.

Sumber:

Buku “Ijtihad dalam Syariat Islam” karya Syaikh Abdul Wahab Khallaf hal. 45-46.

Advertisements

Leave a comment

Toleransi ala Imam Malik

Coba kita lihat bagaimana sikap apresiatif dan toleran Imam Malik ketika khalifah pada masanya memintanya untuk menjadikan kitabnya yang berjudul al-Muwaththa’ sebagai rujukan bagi seluruh umat Islam. Imam Malik mengisahkan bahwa ketika Khalifah al-Manshur berhaji, dia mengundangku ke tempatnya. Aku pun mendatanginya dan berbincang-bincang. Dia berkata, “Saya ingin agar buku yang kau tulis ini –al-Muwaththa’- disalin menjadi banyak naskah dan akan kukirim ke setiap kota kaum muslim, sehingga mereka dapat mempelajari dan mengamalkan serta meninggalkan semua riwayat hadis selain yang ada di buku ini. Sebab, menurutku akar ilmu itu terdapat pada riwayat penduduk Madinah.” Aku berkata kepadanya, ” Ya Amir al-Mukminin, jangan lakukan hal seperti itu. dalam setiap masyarakat sudah berlaku berbagai pendapat. Mereka telah mendengar hadis-hadis. Mereka telah menyampaikan riwayat-riwayat. Setiap kaum telah mengambil dari pendahulunya dan sudah beramal berdasarkan itu. Jika anda mengubahnya dari apa yang mereka ketahui kepada apa yang tidak mereka ketahui, mereka akan menganggapnya sebagai kekafiran. Biarlah setiap negeri berpegang kepada ilmu ini, ambillah untuk dirimu saja. Para sahabat Rasulullah Saw. telah berikhtilaf pada hal-hal yang furu’ dan tersebar di berbagai penjuru. Semuanya benar.” Al-Manshur berkata, “Jika Anda menyetujuinya, sungguh aku akan memerintahkannya.”

Sumber:

Thabaqat al-Kabir, Ibn Sa’ad

Leave a comment

Kebijakan Umar atas Penerapan Hukum Potong Tangan

Salah satu kebijakan khalifah Umar bin Khatab yaitu dihentikan atau ditundanya hukum potong tangan bagi pencuri karena pencurian dilakukan pada saat masyarakat sedang dilanda paceklik (gagal panen). Padahal, Al-Qur’an sebagaimana diketahui dalam ayat 38 surat Al-Ma’idah menegaskan bahwa,”Lelaki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan, dan sebagai bagian dari siksa Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ayat di atas merupakan dasar hukum potong tangan bagi pencuri. Akan tetapi, mengapa Umar bin Khatab menghentikan atau menunda potong tangan bagi pencuri pada musim paceklik? Apakah keputusan itu bertentangan dengan ayat di atas?

Kalau dilihat secara tekstual, keputusan Khalifah Umar bin Khatab bertentangan dengan ayat di atas. Tetapi, jika dilihat secara kontekstual, justru keputusan Khalifah Umart ini sesuai dengan prinsip-prinsip universal Al-Qur’an, yaitu prinsip memelihara dan menyelamatkan jiwa manusia lebih utama daripada memenuhi tuntutan hukum. Sebab, khalifah Umar bukan menentang hukum potong tangan, melainkankan mempertimbangkan secara obyektif kondisi sosio-masyarakat yang tidak kondusif untuk melaksanakanhukum potong tangan tersebut. Argumen Umar didasarkan pada kenyataan bahwa boleh jadi orang yang mencuri itu terdesak oleh keadaan hidup yang teramat sulit sehingga dia terpaksa mencuri untuk mempertahankan hidup dan keluarganya; jika tidak, maka nyawa mereka akan melayang. Kalau kondisi sosialnya semacam ini, apakah Allah Yang Mahabijak itu tega membiarkan hamba-Nya yang mencuri dihukum dengan hukuman potong tangan, padahal mereka mencuri karena kelaparan?

Lebih dari itu, persoalan tangan mana dan batas mana tangan seorang pencuri harus dipotong, juga masih menjadi polemik. hadis Nabi pun tidak ada yang dapat dijadikan acuan tentang batasan jumlah barang curian yang mewajibkan ditegakkannya hukum potong tangan itu. Semua itu mencerminkan dilema-dilema hukum potong tangan itu sendiri. Adapun yang menjadi rujukan dalam soal ini adalah hasil ijtihad para ulama terdahulu belaka. Karena itu, mungkinkah hukum potong tangan ini dapat dipahami secara majazi?

Sumber:

Buku “Kapita Selekta Mozaik Islam: Ijtihad, Tafsir, dan Isu-Isu Kontemporer” karya Prof. Dr. Umar Shihab, hal 56-57, Penerbit Mizan Pustaka, cet. I, Oktober 2014

Leave a comment

Kritik Ibn Araby atas Asy’ariyah dan Mujassimah

Ibn Araby merasa heran kepada dua kelompok besar Asy’ariyah dan Mujassimah, betapa mereka salah dalam mengartikan “lafal polisemi” (lafz musytarak) dalam Al-Qur’an dan hadis dan menyebutnya sebagai pengakuan akan “keserupaan” (tasybih). Padahal, adanya keserupaan hanya terjadi jika terdapat kata “misl” (seperti) atau huruf “kaf penyifatan” di antara dua perkara dalam bahasa Arab, dan hal semacam ini jarang sekali ditemukan dalam ayat Al-Qur’an atau hadis mana pun yang mereka jadikan sebagai dalil akan adanya keserupaan.

Kaum Asy’ariyah mengira bahwa ketika mereka menakwilkan sebuah kata, mereka telah terhindar dari pernyataan adanya keserupaan, padahal sebenarnya mereka belum terlepas darinya. Mereka hanyalah berpindah dari menyerupakan Allah dengan benda-benda jasmani (ajsam) kepada penyerupaan dengan makna-makna baru (al-ma’ani al-muhdasah) yang jelas berbeda dengan sifat-sifat qadim baik dari segi hakikat maupun definisinya. Dengan ini, mereka tidak benar-benar terlepas dari menyerupakan Allah dengan benda-benda baru.

Jika kita mengutip pendapat mereka, kami tidak akan mengubah pengertian kata, misalnya,”duduk di atas” (istiwa‘) dalam firman Allah: “Ar-Rahman duduk (istiwa’) di atas ‘Arsy” (QS. 20:5) dengan arti “menetap” (istiqrar) menjadi “duduk di atas” dengan arti “menguasai” (istila‘) sebagaimana mereka mengubahnya. Apalagi kata ‘Arsy (singgasana) disebutkan berkaitan dengan istiwa‘, maka makna “menguasai” menjadi batal melalui penyebutan “singgasana” (‘Arsy). Sehingga mustahil untuk mengubahnya menjadi makna lain yang menafikan makna “menetap”.

Menurut Ibn Araby, sesungguhnya pengakuan akan keserupaan tidak terjadi pada “apa yang diduduki” yang merupakan benda jasmani. Istiwa‘ adalah sebuah realitas yang dapat dipikirkan dan bersifat maknawi yang dapat dinisbahkan kepada setiap zat sejauh apa yang diberikan oleh hakikat zat tersebut. Tidak perlu bagi kita untuk membebani diri dengan mengubah makna “duduk” dari makna lahiriahnya. Karena hal itu adalah sebuah kesalahan nyata yang jelas-jelas terlihat.

Adapun para pengikut Mujassimah, seharusnya mereka tidak perlu melampaui makna lafal yang telah diturunkan itu kepada salah satu makna ihtimalnya, padahal mereka mengimani dan menyadari adanya firman Allah Swt.: Tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.” (QS. 42:11)

Sumber:

Buku “Al-Futuhat Al-Makkiyyah” karya Ibn al-Arabi jilid I hal. 157-158 terbitan Darul Futuhat, 2017

Leave a comment

Penilaian Hadis antara Ulama Hadis, Fikih dan Tasawuf

Di kalangan ulama hadis dan ahli ushul, pembahasan tentang hadis harus berawal dari sanad. Meskipun matan juga mendapatkan perhatian, perhatian terhadap sanad hadis jauh lebih mendalam, sehingga kajian sanad hadis merupakan hal yang
cukup melelahkan. Pembahasan tentang matan baru dilakukan apabila sanad hadis yang diteliti dinyatakan tidak ada masalah. Dalam hubungan ini, Muhammad ibn Sirin menyatakan,”Sesungguhnya pengetahuan (hadis) ini adalah agama, maka perhatikanlah dari mana kamu mengambil agamamu.

Walaupun begitu, kriteria kesahihan hadis yang dipegang oleh ahli hadis dan ahli ushul sangat berbeda dengan kriteria yang dipegang oleh ulama tasawuf. Karena itulah, dalam kajian agama, suatu hadis sangat populer dan dijadikan rujukan di kalangan ulama tasawuf, tetapi dinyatakan lemah atau bahkan dianggap bukan hadis oleh ulama hadis dan ahli ushul. Sebagaicontoh sejatinya dapat dikemukakan hadis, “Siapa yang mengenal dirinya, ia telah mengenal Tuhannya.

Secara umum, di kalangan ulama fikih dan ulama hadis, hadis ini dinyatakan sebagai hadis yang tidak memiliki dasar yang kuat. Bahkan lbn Taimiyah menyatakan hadis ini mawdhu. Sementara itu, al-Nawawi memberikan penilaian terhadap hadis ini dengan menyatakan laysa bi sabit (tidak kuat). Penilaian yang berbeda dinyatakan oleh ulama tasawuf seperti dikatakan oleh Syaikh Muhyiddin ibn ‘Araby bahwa meskipun hadis ini tidak sahih dilihat dari segi metode periwayatan hadis, tetapi bagi kami hadis ini sahih dilihat dari segi metode kasyf (penyingkapan).

Berdasarkan keterangan di atas, dapat diketahui bahwa dalam menilai kesahihan hadis, ulama fikih dan ulama hadis memulai dari sanad dan periwayatan hadis. Jika sanad dan periwayat hadis bermasalah, maka pembahasan tidak dapat dilanjutkan kepada kajian matan, karena hadis tersebut pasti tidak mencapai tingkatan sahih. Sementara, ulama tasawuf cenderung menfokuskan pada matan hadis, sehingga sebuah hadis yang dinyatakan tidak sahih dari aspek kajian sanad, tidak otomatis dinyatakan sebagai hadis daif, karena kesahihan sebuah hadis juga dapat dilihat dari aspek matan dan kandungan hadis.

Sumber:

Buku “Kapita Selekta Mozaik Islam: Ijtihad, Tafsir dan Isu-Isu Kontemporer” hal. 178-179 karya Prof. Dr. Umar Shihab, 2014

Leave a comment

Awal Keilmuan Imam Abu Hanifah

Di awal perjalanan hidupnya, Abu Hanifah tidak ingin menjadi seorang faqih, apalagi bercita-cita menjadi seorang pendiri mazhab tertentu dalam Islam. Awal perjalanan hidup sang Imam dimulai sebagai pedagang. sampai pada suatu hari, Imam Sya’bi memanggilnya. Sebab, ia melihat ada talenta besar pada diri Abu Hanifah. Imam Sya’bi bertanya,”Dengan siapa saja kau sering berinteraksi”Abu Hanifah menjawab,’Aku sering berinteraksi dengan orang-orang di pasar. ” Imam Sya’bi berkata,”Yang aku maksud bukan kegiatan di pasar, melainkan interaksi dengan para ulama. ” Abu Hanifah menjawab,”Aku jarang berinteraksi dengan ulama.’Sya’bi melanjutkan, “Jangan lupa :: Sering-seringlah belajar dan mengikuti pengajian para ulama. Sebab, aku melihat semangat dalam dirimu begitu tinggi. “Abu Hanifah berkata, “Kata-kata Sya’bi tersebut sangat membekas dalam hati. Setelah itu, aku meninggalkan aktivitas di pasar dan menggantinya dengan aktivitas keilmuan. Sungguh, Allah telah memberikan manfaat padaku melalui perkataannya.

Imam Abu Hanifah lantas memutuskan untuk konsentrasi sepenuhnya terhadap ilmu pengetahuan. Langkah pertama yang ia tempuh adalah menghafal al-Qur’an  qira’at Ashim, mengambil riwayat hadits, mempelajari ilmu bahasa Arab, kemudian mempelajari ilmu kalam (teologi), di mana Baghdad pada waktu itu sebagai pusat perkembangan ilmu ini.

Zufar bin Hudzail bercerita dalam riwayat yang disampaikan oleh al-Khathib al-Baghdadi melalui jalur periwayatan al-Khallal, dia berkata,”Aku mendengar Abu Hanifah berkata,’Aku mempelajari ilmu kalam sampai pada derajat yang sangat mahir. Kami biasanya mengadakan halaqah di dekat halaqah Hamad bin Abu Sulaiman. Suatu hari, ada seorang perempuan mendatangiku, lalu dia bertanya, ‘Seorang laki-laki mempunyai istri seorang budak, dia ingin menalaknya-menceraikannya. Berapa kali dia boleh menalaknya?’ Abu Hanifah berkata, ‘Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Lalu, aku menyuruhnya untuk bertanya ke Hamad. Setelah mendapat jawaban, aku suruh dia kembali lagi menemuiku.’Dia bertanya kepada Hamad. Hamad menjawab,’Suami menalaknya ketika dia sedang suci dari haid dan tidak digauli sebelumnya dengan satu kali talak. Setelah itu, dia meninggalkannya sampai dia mengalami haid dua kali. Jika sudah mandi besar dari haid yang kedua, dia boleh diperistri lagi.’

Setelah selesai, dia kembali kepadaku dan memberitahukan jawabannya. Aku berkata, ‘Aku tidak berkepentingan dengan ilmu kalam, seketika aku ambil sandal dan duduk dalam pengajian Hamad. Aku selalu mendengar masalah-masalah yang diajarkan oleh Hamad terus menghafalnya. Kemudian mengulanginya di esok hari, sehingga aku dapat menghafalnya dan mengoreksi kesalahan murid-murid yang lain. Hamad berkata, ‘Tidak ada yang boleh duduk di depan kecuali Abu Hanifah.’Abu Hanifah berkata, ‘Aku belajar kepadanya selama sepuluh tahun. Setelah itu, muncul keinginan dalam hati untuk meninggalkan halaqah Hamad dan membuat halaqah sendiri. Suatu hari, aku keluar malam-malam dan berniat melakukannya. Ketika masuk masjid, aku melihat Hamad dan muncul perasaan tidak enak dalam hati untuk meninggalkannya. Aku datang dan duduk di majelisnya. Pada malam itu datang berita kematian saudaranya di Bashrah, dia meninggalkan harta dan tidak memiliki ahli waris selain dirinya. Lantas dia memerintahkan, agar aku menggantikan dirinya mengajar. Pada waktu dia pergi, masalah-masalah yang belum pernah aku dengar darinya berdatangan. Aku menjawab dan menulisnya. Dua bulan ia pergi kemudian kembali lagi. Setelah ia datang, aku perlihatkan masalah-masalah yang ada selama ia pergi. Jumlahnya ada sekitar 6o masalah. Ia setuju dengan 4o jawaban dan sisanya ia tidak setuju. Setelah itu, aku bersumpah untuk tidak berpisah dari majelisnya sampai ia wafat.’Imam Abu Hanifah belajar kepada Hamad selama 18 tahun.

Dikutip dari buku “Biografi Imam Bukhari” karya Prof. Dr. Yahya Ismail, hal 221-222, penerbit Keira Publishing

Leave a comment

Periodisasi Kehidupan Imam Syafi’i

Periode pertama. Bermula dari pengajaran yang ia sampaikan di Masjidil Haram, sekembalinya ia dari Baghdad, hingga sembilan tahun setelahnya. Periodisasi seperti ini dilontarkan oleh Imam Abu Zahrah. Dalam periode ini, karya Imam Syafi ‘i yang berjudul ar-Risalah lahir. Kitab ushul fiqih pertama ini, lahir dari permintaan Abdurrahman bin Mahdi ketika dirinya meminta Imam Syafi’i untuk membuat sebuah kitab yang dapat menjelaskan makna al-Qur’an, mengumpulkan fan-fan hadits, legalitas ijmak, dan penjelasan tentang nasikh dan mansukh dalam al-Qur’an dan sunnah.

Periode kedua. Bermula dari kedatangan Imam Syafi’i ke Baghdad untuk kedua kalinya dengan membawa karya ilmiah pertamanya dalam bidang ushul fiqih atas permintaan ulama Baghdad. Imam Syafi’i menilai banyak perubahan yang terjadi dalam masalah furu’dan ushul. Hal ini mendorongnya menyebarkan ilmunya secara luas. Imam al- Karabisi berkata, “Kami tidak mengetahui kitab itu apa, sunnah itu apa, dan ijmak itu apa sampai kami mendengar perkataan Imam Syafi’i, ‘Al-Kitab, as-Sunnah, al-Ijmak‘. Mereka-ulama sebelumnya-sibuk dengan persoalan riwayat dan furu’sehingga mereka tersentak oleh perkataan Imam Syafi’i,’Terkadang Allah menyebutkan redaksi lafazh umum, tetapi yang dikehendaki adalah khusus menyebutkan redaksi khusus, tetapi yang dikehendaki adalah makna umum.’Mereka berkata, ‘Kami tidak mengetahuinya sampai mereka mendengar Imam Syafi’i berkata,’Allah telah berfirman,’Orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu.'(QS. Ali Imran [3] : 173). Yang dimaksud kata ‘orang-orang (an-nasy dalam ayat tersebut bukanlah orang Quraisy
secara keseluruhan, melainkan yang dimaksud adalah Abu Sufyan saja. ” Dalam firman-Nya,”Wahai Nabi Apabila kamu ceraikan istri-istrimu. ” (QS. Ath-Thalaq [65] 1). Redaksi”Wahai Nabi”adalah lafazh khash, tetapi yang dimaksud adalah lafazh’am. Mereka tidak mengetahui hal tersebut sampai Imam Syafi’i datang menjelaskannya. Periode ini dimulai tahun 195 H sebagaimana dikatakan oleh Imam Abu Zahrah- sampai tahun 198 H. pada periode ini, Imam Syafi’i mengetengahkan pendapat para fuqaha pada zamannya, pendapat para sahabat, dan pendapat para tabiin disertai ragam perbedaannya, seperti pendapat Ali bin Abu Thalib, lbnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, dan lain sebagainya. Setelah itu, ia juga mengetengahkan khilafiyah mazhab dalam mazhab Abu Hanifah dan Abu Laila dengan riwayat Abu Yusuf yang terkenal dengan nama perbedaan para ahli fiqih di Irak (lkhtilaf ‘Iraqiyyin)”, dan juga mengemukakan Sirah al-Waqidi, fiqih Auza’i, dan beberapa pendapat lain. Lebih dari itu, ia menerapkan masalah yang ada dengan kaidah dan ushul mazhab yang ia bangun, lalu memilih pendapat mana yang lebih dekat dengan ushul yang ia pakai atau meninggalkannya dan mengambil pendapat yang baru.

Periode ketiga. Dimulai pada tahun 199 H. ketika ia hijrah ke Mesir sampai ia meninggal. Pada periode ini, keilmuan Imam Syafi’i benar-benar sudah matang. Setelah tinggal di Mesir, Imam Syafi’i melihat hal-hal baru yang belum pernah dilihatnya, baik yang berkaitan dengan adat kebiasaan, peradaban, maupun pengaruh ulama tabiin di sana. la merekonstruksi kitab ar-Risalah ; mengurangi dan menambah kontennya, dan melihat kembali hasil-hasil ijtihadnya. Periode ini bagi Imam Syafi’i adalah periode pembaharuan dan penelitian ulang atas pemikirannya sendiri.

Dikutip dari buku “Biografi Imam Bukhari” karya  Prof. Dr. Yahya Ismail, hal. 219-220, penerbit Keira Publishing

Leave a comment